
“PLAK!!!!” sebuah tamparan keras menyambut Shafira setibanya di mulut pintu.
“Mas!” teriak Liana seraya memegangi tangan Sigit.
Tangannya yang kokoh dan mengepal kuat, masih melayang di udara hendak menghantamkan tamparan berikutnya. Shafira jatuh terhuyung di lantai, dengan kepala yang terasa pusing dan telinga yang berdengung nyaring.
Ia memegangi pipi kirinya yang berdenyut nyeri, dengan rembesan darah di sudut bibirnya.
“Belum puas kamu mempermalukan keluarga ini hah?!” teriak Sigit dengan mata menyalak.
Sepertinya ia siap menelan kembali putrinya yang telah mengecewakannya.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Berbuat seenaknya, berteman dengan orang-orang yang salah dan sekarang apa, narkoba? Itu yang kamu lakukan sekarang hah?”
Sigit membungkuk, menarik rambut Shafira membuat wajahnya mendongak menatap wajah Sigit. Ia meringis menahan sakit perih di kepalanya. Seperti rambutnya akan rontoh seluruhnya karena tarikan tangan Sigit.
“Mas, cukup! Berhenti!” Liana kembali berteriak. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Sigit dari rambut putrinya yang tampak meringis kesakitan.
“Diam kamu! Kamu juga sama! Kamu tidak bisa mendidik anak kamu dengan benar!” kali ini Liana yang menerima murkanya Sigit.
“Iya mas, aku memang bukan ibu yang baik, tapi aku mohon jangan perlakukan fira seperti ini.” isak Liana yang bersimpuh di kaki Sigit.
Ia masih memegangi tangan kiri Sigit agar melepaskan cengkramannya tangan kanannya dari rambut Shafira.
“Awh!” lirih Shafira saat Sigit mengibaskan tangannya dengan kasar.
“Sayang, kamu gag apa-apa kan?” Liana segera menghampiri Shafira dan berusaha memeluknya.
Shafira menghindar. Ia lebih memilih berdiri dan mengabaikan ibunya.
“Sejak kapan kalian peduli sama aku? Sejak kapan kalian peduli aku bertemu dengan siapa, berteman dengan siapa, apa yang aku lakukan dan apa yang aku rasakan? Sejak kapan?”
Matanya bulatnya memandangi Sigit dan Liana bergantian. Terlihat kekecewaan yang tergambar dari sorot matanya.
“Hehehe...” Shafira terkekeh, namun air matanya masih mengalir dan ia usap dengan kasar. Kakinya bahkan tidak terlalu ajeg saat menopang tubuhnya yang sedikit sempoyongan karena rasa pusing di kepala yang belum hilang.
“Aku salah. Yang kalian pedulikan bukan aku berteman dengan siapa, apa yang aku lakukan dan apa yang aku rasakan. Kalian tidak pernah peduli apa aku mendapatkan yang aku butuhkan atau tidak. Kalian hanya menuntut bahwa aku harus selalu menjadi anak yang kalian inginkan. Seperti yang kalian lakukan terhadap bang kean. Iya kan?!” suara Shafira meninggi di ujung kalimatnya.
“Buat kalian, aku dan bang kean hanya boneka yang tidak memiliki perasaan. Kami harus melakukan apa yang kalian inginkan tanpa peduli kami suka atau tidak. Iya kan tuan dan nyonya hardjoyo?! Dan itu juga yang bikin bang kean keluar dari rumah ini!”
“PLAK!” tamparan kedua menjadi respon Sigit berikutnya.
“Mas!!!” bersahutan dengan teriakan Liana yang berikutnya.
Shafira masih bertahan pada kedua kakinya yang hampir rubuh. Helaian rambut menutup sebagian wajahnya yang menyeringai sarkas.
“Apa ucapan aku benar, hingga membuat dady marah karena teringat sesuatu?” lirih Shafira dengan terbata.
“Fira, cukup sayang.” Liana menahan tubuh Shafira agar tidak mendekati ayahnya.
Shafira kembali mengibaskan tangan Liana. Ia lebih memilih berjalan mendekat pada Sigit.
“Masuk ke kamar.” suara Sigit terdengar dalam dan berat. Masih menyimpan kemarahan dan kekesalan.
“Ya itu yang biasa dady lakukan. Menyuruh pergi seperti saat dady memaksa bang kean untuk pergi ke luar negri. Anda sangat hebat tuan besar.” mencondongkan tubuh mengangguk takzim.
“MASUK!!!!” teriak Sigit seraya menunjuk ke arah kamar Shafira.
Shafira hanya mendenguskan nafasnya kasar. Ia berlalu dari hadapan Sigit dan Liana. Berlari secepat yang ia bisa, menaiki anak tangga. Dan “BRAK!!!” pintu kamarnya dibanting dengan kasar membuat siapa pun yang mendengar ikut terperanjat.
“Kamu keterlaluan mas!” protes Liana.
Sigit hanya mematung dan membiarkan Liana pergi dari hadapannya.
"Pergi kalian semua, PERGI!!!!" teriak Sigit dengan nafas terengah karena emosi yang membuncah.
Suasana benar-benar panas dan hening. Hanya helaan nafas kasar miliknya yang bisa di dengar Sigit saat ini.
*****
Kumpulan para pelayan yang tengah mencuri dengar, bubar seketika saat melihat kedatangan Liana ke dapur. Mereka berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mulai dari merapikan meja, mengelap kompor yang sebenarnya sudah mengkilat atau pura-pura mengelap piring dan melipat kain.
“Nyonya ada yang bisa saya bantu?” Kinar sama terkejutnya melihat kedatangan Liana.
“Saya minta es dan waslap.” matanya masih merah dan basah.
“Baik nyonya.” Kinar segera menoleh Tina yang berada di dekatnya.
Dengan cekatan Tina mengambil es batu dari dalam kulkas dan menempatkannya di dalam mangkuk besar.
“Ini waslapnya.” bisik Disa pada Tina.
Tina hanya mengangguk dan memberikan dua benda tersebut pada Kinar.
“Mari nyonya, saya bantu kompres.”
“Tidak usah, saya akan melakukannya sendiri.” Mengambil mangkuk es dan waslap dari tangan Kinar. Ia berjalan dengan cepat menuju kamar Shafira.
“Fir, sayang...” lirih Liana saat berdiri di depan pintu kamar Shafira. Shafira tidak menimpali. “Mamih masuk ya sayang.” lanjutnya.
Masih tanpa sahutan. Dengan tangan gemetar Liana membuka sendiri pintu kamar putrinya yang tidak terkunci.
Di ruangan yang gelap ini, hanya cahaya lampu tidur yang menerangi sosok Shafira yang terduduk di lantai seraya memeluk kedua kakinya yang ia tekuk. Punggungnya bersandar pada pinggiran tempat tidur dan matanya yang basah tampak terpejam dengan wajah menengadah ke atas. Ia membentur-benturkan perlahan kepalanya ke pinggiran tempat tidur.
Ragu, namun Liana tetap menghampiri putrinya. Ia duduk di hadapan Shafira dan menaruh es batu serta waslap di tangannya.
“Sayang,..” lirihnya dengan gemetaran menahan tangis.
Ia mengusap pipi putrinya yang membiru dengan sisa darah di sudut bibirnya.
Hatinya ikut meringis, merasakan sakit yang dirasakan putrinya. Ia menghela nafas dalam, ada tangis yang ikut terdengar dan berubah menjadi isakan lirih.
“Mamih kompres ya sayang..” suaranya bergetar dan parau.
Ia mengambil dua butir es batu dan memasukkannya ke dalam waslap lalu perlahan menempelkannya di pipi kiri Shafira.
Shafira menahan tangan Liana. Matanya terbuka dan menatap Liana dengan penuh kekecewaan. “Kenapa mamih gag dateng?” berat dan parau, suara Shafira terasa mengiris relung hati Liana.
“Apa ini juga yang mamih lakukan sama bang kean selama bertahun-tahun? Tidak peduli bahkan tidak bertanya kabarnya.” lanjutnya dengan tangis tertahan.
Rasanya ia tahu, alasan Kean begitu membenci wanita di hadapannya.
Liana hanya menggeleng, dengan tangis yang mulai pecah. Namun lagi, ia tidak bisa menjawab pertanyaaan putrinya.
“Mamih kompres ya nak...” kembali menempelkan waslap di pipi Shafira.
“JAWAB AKU!!!” teriak Shafira seraya menggenggam tangan Liana dengan kasar.
“Maafkan mamih fira,...” Liana tersedu dan tertunduk di hadapan Shafira.
“17 tahun aku melihat foto yang sama di dinding yang sama. Kata bu kinar, itu kakakku. Kean malik hardjoyo. Tapi tidak sekalipun dady atau mamih bercerita tentang dia. Aku bahkan gag tau kalau dia masih hidup dan tinggal di amerika. Dimana, los angles, washington , Chicago, new york atau san francisco? Aku bahkan gag tau.”
“Tiba-tiba dia pulang dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian, bukan cuma sama mamih dan dady tapi sama aku juga. Aku senang, saat tahu aku mempunyai seseorang yang bisa aku panggil kakak. Tapi kalian membuat kami seperti dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.”
“Dan sekarang, mamih dan dady juga masih mengabaikanku. Mengabaikan perasaanku dan mengabaikan kalau aku membutuhkan kalian. Sebenarnya apa salahku dan bang kean? Kenapa kalian begitu rumit seperti teka-teki hidup yang tidak bisa aku pecahkan? Kenapa mih?”
Mengibaskan tangan Liana dengan kasar.
“Maafin mamih sayang, maaf....” Liana hanya bisa terisak namun tidak bisa mengatakan kalimat lain selain permintaan maaf.
“Maaf, selalu itu yang mamih katakan. Aku bahkan gag tau, bagian mana yang harus aku maafkan dan apa aku bisa memaafkannya. Pergilah, aku lebih membutuhkan bu kinar di banding mamih.”
Shafira memalingkan wajahnya, ia sudah sangat muak dengan semua yang dilihatnya.
Dan Liana, ia menaruh waslap di atas mangkuk es. Tangannya terangkat hendak menyentuh Shafira, namun ia urungkan. Putrinya bahkan sudah tidak ingin melihat wajahnya.
Beranjak dari tempatnya tanpa bisa menjawab satu pun pertanyaan Shafira. Mungkin sebaiknya ia memang harus pergi dan memberi waktu untuk dirinya dan Shafira.
Sepeninggal Liana, Shafira terdiam sendirian di kamarnya. Tidak hanya bingung dengan masalah keluarganya, ia pun bingung dengan masalah sahabatnya.
Alih-alih mengompres wajahnya, ia lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meraih selimut tebal untuk membungkus tubuhnya yang terasa sangat kedinginan lalu memeluk tedy bear, hadiah dari sahabatnya saat ia berulang tahun yang ke 16.
Ponselnya pun menyala, ia membuka chat groupnya. Perbincangan berkualitas mereka adalah sebulan lalu dan chat nya terakhir adalah beberapa jam lalu saat bertanya dress code.
Ia memandangi foto yang dijadikan icon group virtualnya. Ira, Nara dan Fia, bagaimana bisa mereka melakukan hal ini?
“Kenapa kalian sejahat ini sama gue. Gua salah apa hem?” Shafira berbicara pada layar ponsel yang membiaskan cahaya di wajah bengkaknya. Ia sudah sangat senang bisa bertemu dengan ketiga sahabatnya tapi sepertinya hanya ia saja yang merasa senang.
Menelungkupkan ponselnya lalu memejamkan mata, itu yang Shafira lakukan sekarang. Ia butuh menyegarkan pikirannya. Mungkin dengan tertidur, perasaannya bisa lebih baik.
*****
Sudah hampir tengah malam dan galery Reza masih sangat ramai. Suara musik masih terdengar mengalun dari dentingan piano yang dimainkan Reza. Mereka menyanyikan lagu terakhir sebelum semuanya pulang ke rumah masing-masing.
“Kemesraan ini,... Janganlah cepat berlalu... Kemesraan ini,... Inginku kenang selalu.” suara Berlian terdengar paling dominan di antara suara lainnya.
Ibu satu anak ini memang sangat suka menyanyi walau suaranya masih tergolong standar. Fals sedikit masih bisa dimaafkan karena ia memang terlalu semangat menyanyi.
Satu lagu di akhiri dengan manis saat Reza menekan tuts bernada do. Mereka bertepuk tangan dengan riang dan tertawa lepas layaknya ABG yang menghabiskan malam minggu bersama. Sepertinya mereka lupa, berapa umur mereka saat ini.
“Pak reza emang hebat banget. Nyanyi di iringin pak reza berasa jadi mariah carey yang lagi konser amal.” cetus Berlian yang terkekeh di ujung kalimatnya.
“Hahahha.. Saya juga merasa terhormat bisa mengiringi bu berlian menyanyi.”
“Bebe, panggil saya bebe.” selanya pada Reza.
“Oh iya, bu bebe.” Reza berusaha mengakrabkan diri. Menyenangkan punya teman yang ramah dan sefrekuensi di lingkungan kerja. Begitu pikir Reza.
“Pak reza suka nginep di sini apa pulang ke rumah?” Berlian kembali bersuara.
Melihat ke sekeliling galery. “Saya sering nginep sini bu.”
“Wah kalo gitu harus cepet nyari nyonya rumah pak, biar gag sepi. Masa tiap malem ngelonin piano aja...”
“Iya pak reza, biar suasana galery semakin hidup.” Hilman ikut menimpali.
“Hahahha.. Iya pak.” menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur, memiliki istri memang sudah menjadi rencana Reza, namun entah kapan bisa diwujudkan.
“Wah, suami saya udah di depan. Saya pamit duluan ya,...” Berlian mengecek ponselnya yang membunyikan notifikasi pesan singkat.
“Iya bu, hati-hati di jalan.” timpal Reza seraya terangguk.
Kepulangan Berlian di susul oleh dosen lainnya dan hanya menyisakan Hilman yang baru memesan taksi online.
“Bapak mau saya antar saja?” tawar Reza saat melihat Hilman yang masih mengotak-atik ponselnya.
“Gag usah pak reza, saya udah pesan taksi. Nunggu di depan saja.”
“Baik, mari saya temani.”
Mereka berjalan beriringan menuju halaman. Namun di perjalanan langkah Hilman terhenti saat melihat sebuah lukisan. Ia baru sadar kalau ada beberapa lukisan yang sepertinya familiar. Ia mendekati salah satu lukisan, memincingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
“Ini lukisan disa?” tanyanya saat melihat inisial dan tanggal di pojok kanan bawah lukisan.
“Bapak kenal?” Reza ikut mendekat.
“Oh iya,.. Saya dosen kemahasiswaan sekaligus pembimbing akademiknya. Kok pak reza kenal?” berganti Hilman yang penasaran.
“Iya pak, saya kenal secara tidak sengaja. Dulu dia sering melukis di galery ini sebelum saya pulang ke indonesia. Dia berteman akrab dengan ibu saya.”
“Ohh,.. pantesan.” Hilman mengangguk-angguk saja, seraya memandangi lukisan Disa. “Dia tuh anak yang pinter, lukisannya juga bagus dan nilainya selalu sangat baik. Sayang kuliahnya harus berhenti.”
Reza masih menyimak kalimat Hilman.
“Kalau bukan karena masalah biaya, mungkin dia bisa lulus dengan cepat.” mengalihkan pandangannya pada Reza bersamaan dengan senyum prihatin. Kembali beralih pada lukisan, “Di ruang seni kita juga banyak memajang karya dia. Sangat di sayangkan bakatnya harus di kubur begitu saja.”
“Duh kok jadi ngelantur saya.” Hilman menyadarkan dirinya sendiri.
Reza membalasnya dengan senyuman samar. Ia akui, karya Disa memang sangat baik untuk seorang pelukis muda. Dari lukisannya, ia bisa merasakan pesan apa yang ingin di sampaikan gadis tersebut.
Tak lama terlihat sebuah taksi masuk ke halaman, taksi yang dipesan Hilman.
“Saya pulang dulu pak reza, sampai ketemu lusa.”
“Baik pak, hati-hati di jalan.”
Hilman menepuk bahu Reza dengan akrab sebelum akhirnya pergi dengan taksi yang ia pesan.
Menutup pintu galery dan hening mulai mengambil alih suasana. Keadaan yang semula ramai dengan suara tawa, obrolan dan musik yang mengalun, berganti sepi yang menemani Reza seorang diri.
Reza kembali duduk di depan pianonya. Tangannya mulai menekan barisan tuts dengan pandangan yang tertuju pada sebuah lukisan abstrak yang di buat Disa.
Cukup rumit pesan yang harus ia tangkap hanya saja ia sangat suka memandangi lukisan tersebut. Itulah alasan mengapa ia menempatkan lukisan itu di sana. Bisa melihatnya secara langsung dan seolah memberinya inspirasi.
Kalimat Hilman kembali terngiang di telinganya bersamaan wajah Disa yang muncul tiba-tiba. Ia beralih menuju gudang tempat penyimpanan kanvas yang baru sebagian di lukis Disa. Entah apa yang hendak di lukis gadis itu.
Menyalakan lampu, bersandar pada dinding dengan tangan tersilang di depan dada, ia memperhatikan kanvas yang baru berisi coretan tinta merah dan hitam.
“Kamu mau menggambar apa?” tanyanya penasaran. Tidak tertebak apa yang akan Disa lukis.
Mungkin sesekali ia harus mengundang Disa ke sini, untuk melanjutkan lukisannya agar ia tahu, gambar apa yang ingin dibuat Disa.
“Selamat malam.” lirihnya seraya mematikan lampu dan menutup pintu gudang. Entah pada lukisan entah pada pemiliknya, hanya Reza yang tahu.
*****