Marry The Heir

Marry The Heir
Karya dan sumber inspirasi



Terbangun di atas tempat tidur yang empuk dengan selimut tebal dan nyala AC yang tidak berhenti selama 24 jam penuh, tidak pernah Disa bayangkan sebelumnya. Apalagi tinggal di dalam hotel ini selama tujuh hari penuh dengan jadwal makan yang teratur dan di sediakan pihak hotel. Ia tidak perlu memikirkan hal domestik semisal mencuci baju karena ada jasa laundry yang siap mengambil pakaian kotornya kapan saja.


Mungkin hal ini yang begitu di cari oleh banyak orang, bahwa sebagian rasa nyaman itu bisa di beli hingga berlomba untuk menumpuk pundi-pundi rupiah agar bisa menikmati kemewahan semacam ini. Tidak munafik, Disa pun menikmati hal seperti ini. Penghargaan terhadap dirinya terasa meningkat dan hal seperti ini di perlukan oleh setiap orang agar motivasi hidupnya bertambah. Walau kenyamanan yang di dapat dari segi kekayaan tidak selalu menjamin kebahagiaan.


Tinggal di kamar tipe Junior suite memberi kesan tersendiri bagi Disa. Memang bukan kamar paling mewah yang ia tempati, namun tinggal di sini tanpa harus memikirkan biaya sedikitpun tentu merupakan keberuntungan tersendiri. Terlebih hal ini ia dapatkan atas kerja kerasnya selama ini.


Mungkin bagi kalangan jetset, hal seperti ini biasa. Tapi percayalah, batas kebahagiaan dan kebanggan setiap orang itu berbeda. Ada kalangan yang menganggap hal ini remeh karena mereka terbiasa dengan kelas kamar yang lebih mahal dan fasilitas kenyamanan yang lebih lengkap banyak juga yang sudah sangat bersyukur dengan menginap di kamar seperti ini terlebih di hotel bintang 5. Disa salah satunya.


Saat membuka mata, yang pertama Disa lihat adalah nyala lampu yang terang. Semalam saking mengantuknya ia sampai tertidur tanpa mematikan lampu utama. Coklat hangat yang semalam ia seduhpun sudah dingin, ya sangat dingin padahal rencananya akan ia nikmati sambil merapikan desainnya. Tapi mata tidak bisa di ajak kompromi, menutup begitu saja setelah beberapa kali menguap.


Melihat keberadaan cangkir itu di samping tempat tidurnya, entah kenapa ia jadi tersenyum sendiri, bayangan wajah orang yang memberikannya langsung terbayang jelas seperti memberinya senyum semangat di pagi hari. Untuk beberapa saat ia memiringkan tubuhnya menghadap cangkir, mengusap permukaan keramik yang halus dengan lembut. Apa salah kalau ia masih memikirkan dia?


Sudah hampir setengah 6 pagi dan Disa baru sadar kalau ia belum menunaikan kewajibannya. Karena terlalu nikmat dengan apa yang ia dapatkan saat ini, nyaris lupa pada Dia yang memberi kenikmatan ini. Segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu sholat di sisi tempat tidurnya. Beruntung Damar membantu mengemasi barang pribadinya dengan lengkap, hingga tidak ada yang terlupakan.


Dalam do'anya, tidak banyak yang ia minta pada sang pencipta, ia terlalu malu, selalu banyak meminta padahal yang ia dapatkan lebih dari cukup.  Alhasil, ia hanya mengucap syukur berulang kali seraya berharap tuhan mengampuni segala dosa lalainya.


Di penghujung do'a, terdengar suara pesan masuk ke ponselnya. Disa mengeceknya dan ternyata dari panitia lomba.


“Selamat pagi mba disa. Pagi ini, tolong di list daftar kebutuhan untuk desainnya ya.."


"Pihak panitia akan mengirimkan barang keperluan mba disa untuk membuat baju yang kemarin di desain.”


“Kami harap, list-nya bisa kami terima sebelum jam 10 pagi ini ya. Terima kasih.”


Begitu isi pesan yang membuat bibir Disa melengkungkan senyum. Ia mendekap ponselnya dengan ucapan syukur atas segala kemudahan yang ia dapatkan.


Segera ia menuju ruang tamu yang hanya tersekat oleh partisi yang memisahkan tempat tidurnya dengan ruang kerjanya ini. Ia duduk di sofa dan mulai membuat daftar kebutuhan untuk ia membuat baju dari desainnya. Beruntung sekali ada ipad yang dibelikan Shafira, ini sangat membantu dalam pekerjaannya.


Membuat daftar kebutuhan dengan selengkap mungkin. Mulai dari jenis benang yang akan ia gunakan, kain yang akan ia pakai, hingga alat pembatik untuk melukis sayap Clara nantinya semua ia catat dengan teliti. Lebih dari 100 item barang yang ia buat dan langsung ia kirimkan pada panitia. Semakin cepat ia mengirimkan list-nya, kalau ada kendala akan semakin cepat ia dihubungi, begitu pikir Disa.


Satu deringan telpon mengalihkan Disa dari keseriusannya. Sebuah panggilan video dari nona mudanya di waktu sepagi ini.


“Pagi mba disaa…..” sapanya dengan ceria. Ia sudah mengenakan pakaian seragam lengkap, seperti baru akan berangkat sekolah.


“Asslamu a’alaikum non fira..” sahut Disa tidak kalah semangat.


“Hehehe.. Wa’alaikum salam mba disa.” Shafira mengubah jawabannya.


“Non fira mau berangkat sekolah?”


“Iya mba disa, hari ini aku ujian hari pertama. Aaahhh gak kerasa aku udah mau lulus SMA aja.” Ia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, membuat kameranya berada tepat di atas wajahnya.


Sekilas terlihat kecemasan di wajahnya namun berhasil ia tutupi dengan senyumnya yang ceria.


“Iyaa.. Semangat yaa ujiannya. Semoga diberi kelancaran.” Disa ikut menyemangati.


“Iya aamiin.. Makasih mba disa.”


"Oh iya, nanti selesai ujian, aku main ya ke tempat mba disa. Pengen liat progress karyanya. Boleh kan?" mukanya langsung penuh harap.


"Boleh. Tapi sekarang nonn fira fokus dulu ya sama ujiannya, supaya hasilnya memuaskan."


"Iyaa dong pasti. Pokoknya nanti aku bakal bikin mba disa kaget dengan nilai-nilaiku yang sempurna!" seru Shafira dengan semangat.


"Tentu, saya menunggu kabar baik itu."


"Siapa takut!" serunya dengan tawa di ujung kalimatnya.


"Ya udah, aku turun dulu ya. Nanti berkabar lagi sama mba disa. Gak pa-pa kan kalo aku sering telpon kayak biasanya?"


"Tidak masalah non fira. Lagi pula, saya merasa sepi sendirian di sini."


"Hahahaha.. Okey mba disa, see you.. Muach!" tandas Shafira seraya melambaikan tangannya.


Disa membalas lambaian tangan itu dan tidak lama panggilanpun terputus.


Shafira, seperti penyemangat baru untuk Disa. Pembawaannya yang lebih ceria, membuat Disa ikut merasakan keceriannya. Belakangan jarang sekali ia terlihat murung dan itu sesuatu yang patut Disa syukuri.


Disa masih memandangi layar ponselnya seraya tersenyum. Semakin lama nona mudanya semakin manis sikapnya. Mungkin inilah kepribadian Shafira yang sebenarnya.


Sudah cukup siang, saat Disa selesai merapikan kamarnya. Walau ada petugas hotel yang akan merapikan kamarnya rutin setiap hari, Disa lebih memilih merapikan sendiri terutama barang-barang pribadi. Seminggu ia akan tinggal di sini maka semuanya harus di tata senyaman mungkin. Hanya seprei dan selimut yang sengaja ia buat berantakan, kata Tina ini sengaja dilakukan agar petugas hotel mengggantinya. Kita coba saja. Memberantakan tempt tidur, memberi kesenangan tersendiri bagi Disa.


Waktunya sarapan dan Disa turun ke resto. Tamu hotel yang lain sudah meniikmati sarapannya di meja-meja yang berbentuk bulat. Sebagian ada yang memilih di dalam ruangan namun tidak sedikit yang memilih di luar resto karena pemandangannya yang lebih menarik.


Serius dengan ipadnya sampai ia tidak menyadari seseorang menghampirinya dan menaruh segelas jus di sampingnya.


“Saya tidak pe-“ kalimatnya terjeda saat ia melihat seseorang yang berdiri di sampingnya tersenyum ramah.


“Tuan?” masih tidak percaya kalau yang ada di hadapannya adalah Marcel.


“Selamat pagi.” Sapa Marcel yang kemudian duduk di hadapan Disa. Di tangannya ia menaruh sepiring sarapan berupa baked egg avocado. Sementara gelas jusnya ia sodorkan pada Disa.


“Pagi tuan.” Laki-laki ini benar-benar Marcel.


Ia tersenyum melihat wajah Disa yang bingung. Ya pasti sangat bingung karena tiba-tiba mereka sarapan bersama di tempat yang sama padahal Jakarta ini sangat luas dan banyak hotel bagus lainnya. Kenapa harus disini?


“Jus untukmu. Minumlah, tidak saya tambahkan apapun kok.” Ujarnya ringan, seraya menyendok alpukat di hadapannya.


“Terima kasih tuan.” Disa hanya tersenyum, lantas meneruskan sarapannya dengan perasaan tidak tenang. Marcel melihat benar gestur Disa yang terlihat tidak nyaman.


Ia menaruh sendok dan pisaunya lantas menangkup kedua tangannya seperti sedang berfikir tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa.


“Kamu brilian.” Pujinya tiba-tiba. Bukan tanpa alasan kalimat itu ia ucapkan. Ia masih mengingat setiap kata yang dilontarkan Disa untuk mendeskkripsikan karyanya.


Mata Disa tampak membulat, ia segera menelan makanannya yang baru ia kunyah beberapa kali.


“Terima kasih tuan.” Hanya sahutan itu yang ia berikan.


Melanjutkan sarapannya seraya tersenyum melihat sikap canggung Disa.


“Bagaimana kamu bisa begitu mengenal Claire padahal kalian tidak terlalu akrab bukan?” rasa penasaran yang ia simpan semalaman akhirnya bisa ia tanyakan.


Marcel sadar, bukan perkara mudah untuk akrab dengan Clara apalagi mengetahui seperti apa kepribadiannya. Bekal rasa profesionalisme saja tidak akan cukup untuk menerima setiap perlakuan Clara yang unik. Tapi Disa seperti dengan mudah melewati itu semua. Ia berhasil menebak sisi baik Clara dan menuangkannya dalam sebuah karya. Kebaikan yang kadang Marcel sendiripun luput.


“Em, saya tidak benar-benar mengenal mba clara. Saya hanya mengenalnya sepintas.” Sahut Disa apa adanya.


Disa memang hanya menyimpulkan dari apa yang ia dengar dan lihat tentang Clara, terutama saat ia berbincang di resto. Fokus pada itu saja, karena dari sudut itupun Clara adalah seorang yang menarik untuk di tuangkan dalam sebuah karya.


“Mengingat sikap Claire terhadap kamu yang sedikit kasar, apa kamu tidak berniat memberi tanduk gitu untuk aksesoris di kepalanya?” pertanyaan macam apa yang di lontarkan Marcel namun sukses membuat Disa tersenyum.


“Em tidak tuan." Syukurlah pertanyaan ini membuat rasa canggung Disa berkurang.


"Terlepas dari seperti apa sikap mba clara pada saya, beliau adalah pribadi yang baik dan hanya itu yang saya lihat.” Tegas Disa.


Ya Disa memang hanya melihat itu, bukan tepatnya hanya ingin melihat itu. Seperti prinsipnya, jangan melihat kekurangan atau keburukan orang lain karena itu bukan bagian yang harus ia pikirkan. Melihat kebaikan dan keburukan seseorang hanya masalah sudut pandang dan pilihan, jangan memilih yang membebani pikiran kita semisal dengan memikirkan kekurangan orang lain.


Marcel terangguk-angguk saja di tempatnya.


“Mendengar pemaparan kamu kemarin, saya sedikit terkejut. Saya baru sadar kalau claire seindah itu. Padahal claire memiliki kekurangan yang terkadang cukup sulit saya terima. Kenapa kamu tidak menunjukkan sisi itu?”


Marcel menyudahi sarapannya. Baginya, lebih menarik berbincang seperti ini dengan Disa.


“Em, karena karya dan sumber inspirasi itu dua hal yang berbeda.” Disa masih tampak berfikir tapi jawabannya terdengar meyakinkan.


“Maksudnya?” menyilangkan tangan di atas meja dan menyimak kalimat Disa dengan seksama.


“Maksud saya, karya saya dan sumber inspirasi saya yaitu mba clara, adalah dua hal yang berbeda.”


“Sebuah karya, di tuntut untuk dibuat sesempurna mungkin tanpa menyisakan kekurangan agar bisa di terima orang lain.”


“Sementara seorang manusia, sesekali harus menunjukkan kekurangannya agar terlihat, siapa yang bisa menerima dia seutuhnya dan tidak.” Terang Disa dengan penuh keyakinan. Mudah saja kalimat itu diucapkan Disa tanpa ada beban sedikitpun. Padahal setiap orang lebih mudah melihat kekurangan di banding kebaikan orang lain.


Marcel tercenung sejenak, mencerna kalimat Disa barusan. Setelah beberapa lama, barulah ia tersenyum lantas meneguk air mineral yang ada di gelas.


“I see.” Ujarnya. Hal seperti ini sederhana namun terkadang luput dari pemikirannya.


Selama ini, ia membayangkan Clara adalah seorang wanita sempurna yang memiliki banyak talenta dan di puja banyak orang. Hal ini yang selalu membuat Marcel bangga untuk berada di samping wanitanya. Bisa membuat banyak laki-laki lain iri, itu sebuah pencapaian dari ego seorang laki-laki.


Hingga tanpa ia sadari, Wanita yang ia puja itu juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. Jika ia benar-benar mencintainya, maka seharusnya ia tidak pernah beranjak dari sisi Clara hanya karena kekurangannya. Toh semua orang memang memiliki kekurangan hanya bentuknya saja yang berbeda.


Dan jika ia benar-benar mencintai Clara, bukankah ia harus menerima segala kekurangan gadis itu tanpa mengurangi rasa cintanya?


******