Marry The Heir

Marry The Heir
Rencana tidak terduga



Dari kejauhan Reza memperhatikan saat seorang laki-laki turun dari sebuah mobil sedan dan masuk ke rumah Ellen dengan tergesa-gesa. Ia mengenal benar laki-laki tinggi kurus yang melangkah dengan cepat dan menekan bell rumah Ellen dengan tidak sabar.


Benar yang Ghea katakan kalau ayahnya masih sering datang.


Pintu rumah terbuka dan laki-laki itu langsung mendorongnya hingga terbuka lebar dan membentur dinding. Tidak lama terdengar suara teriakan anak kecil yang membuat Reza segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah.


“Ayo kamu ikut ayah ghea, ikut sekarang!” teriak Darwin seraya menarik tangan Ghea dengan kasar.


“Nggak! Aku gak mau ayah!” pekik gadis kecil itu seraya berpegangan pada Ellen. Wanita itu sekuat tenaga memegangi Ghea.


“Mas, kamu mau apain ghea?! Jangan bawa dia.” Teriak Ellen.


“DIAM KAMU!!" Gertak Darwin dengan mata menyalak.


“Bunda, sakit bunda.” Isak Ghea yang kesakitan saat tubuhnya di Tarik ke sana kemari.


“Maafin bunda ghea.” Terpaksa Ellen melepas genggaman tangannya agar Ghea tidak semakin kesakitan.


Darwin tertawa puas melihat Ellen melepaskan genggaman tangannya. “Mulai sekarang, ghea akan tinggal denganku. Dia akan menjadi anakku dan marisa. Kamu tidak perlu menemuinya lagi.” Tutur Darwin dengan lantang. Mudah sekali kalimat itu di lontarkan Darwin setelah sebelumnya ia mengatakan tidak ingin lagi ada hubungan apa-apa dengan Ellen dan Ghea. Mengapa ia berubah pikiran?


“Jangan mas! Jangan bawa ghea!” seru Ellen yang kembali menghampiri Darwin. Memegangi kakinya agar tidak beranjak kemanapun.


“Bunda, aku takut…” Tangis Ghea semakin pecah membuat suasana semakin panik.


“LEPAS! LEPAS ELLEN!!!” seru Darwin seraya mengibas-ibaskan kakinya.


Satu tendangan kuat membuat Ellen terpelanting hingga membentur dinding. Ellen meringis, bisa ia rasakan tulang punggungnya yang ngilu dan sakit di waktu bersamaan.


“Kamu perempuan tidak berguna dan aku tidak akan membiarkan ghea tumbuh dengan perempuan seperti kamu.”


“Mas aku mohon jangan.” Ellen merangkak menghampiri Darwin, memegangi kaki laki-laki itu tanpa segan, meski mungkin Darwin akan kembali menendangnya. “Ghea satu-satunya yang aku miliki, jangan ambil dia. Lagipula mas mengatakan kalau sudah tidak ingin berhubungan lagi denganku dan ghea.”


“Aku mohon mas. Aku akan pergi sejauh yang aku bisa dan tidak akan muncul lagi di hadapan mas dan marisa.” Ellen terisak di kaki Darwin.


Ia bisa merelakan segalanya. Nama baiknya, kehormatannya sebagai perempuan, keluarga yang sedari dulu meninggalkannya tapi, ia tidak akan membiarkan Darwin mengambil putrinya.


“Hah, bisa apa kamu! Ghea akan lebih baik tinggal bersamaku.” Ujarnya remeh.


Satu tendangaan lagi ia berikan pada Ellen hingga wanita itu terpelanting. Beruntung Reza datang di waktu yang tepat, menahan tubuh Ellen agar tidak membentur dinding.


“Reza?” lirih Ellen saat melihat tangan kokoh Reza menahan tubuhnya.


“Hentikan. Jangan perlakukan mereka seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik.” Fokus Reza lebih pada gadis kecil yang ketakutan dan kesakitan.


“Om reza, ghea takut…” isaknya membuat hati Ellen semakin sakit.


“OH, ini dia pasangan selingkuh kamu. Dasar perempuan murahan. Berapa laki-laki yang kamu jerat dan kamu ajak tidur hah?”


“BUK!” satu pukulan mendarat di mulut lancang Darwin. Laki-laki kurus itu terhuyung, mundur beberapa langkah saat mendapat hantaman tinju dari Reza.


“Jaga mulut anda!” seru Reza tidak terima.


“Selama ini saya diam, karena masih menghargai anda sebagai ayah dari ghea. Tapi, perlakuan anda terhadap mereka sudah melewati batas.” Seru Reza dengan garang.


“Oh, kamu mau ikut campur hah? Belum kapok rupanya hampir di bui karena jadi selingkuhan wanita ini!” Darwin dengan mata menyalak menunjuk Ellen yang berdiri di samping Reza. Tatapannya seperti ia sangat jijik pada wanita yang telah memberinya satu anak.


“Mas! Cukup kamu ngehina aku. Selama ini aku diam tapi bukan berarti kamu bisa terus menghinaku terutama di depan ghea.”


“Sejahat-jahatnya kamu, aku gak pernah menjelek-jelekan kamu di hadapan ghea. Tapi mulut kamu begitu ringan menghinaku seperti aku hanya sampah. Kamu pikir aku gak punya perasaan hah?!”


Ellen ikut menyalak. Air matanya pecah saat lagi-lagi Darwin menghinanya.


“Kamu berani menyalak di hadapanku hah?! Brengsek!” tangan Darwin melayang hendak menampar Ellen namun dengan cepat Reza menahannya. Ia mencengkram tangan Darwin yang masih melayang di udara, dengan sangat erat hingga laki-laki itu mendengus kesakitan.


“Oh kamu mau jadi pelindung wanita ini? Aku peringatkan, kamu akan menyesal. Kita sama-sama laki-laki dan kita tahu harga dari wanita murahan seperti ini.” Darwin tidak berhenti menjatuhkan mental Ellen, membuat kesabaran Reza habis.


Di tepisnya tangan Darwin sebelum kemudian, “BUG!” satu lagi pukulan keras mendarat di wajah Darwin hingga membuat laki-laki itu terjungkal.


Pukulan ketiga di layangkan Reza, keempat dan kelima hingga wajah laki-laki itu memar dan menetesan darah di sudut bibirnya. Tidak sia-sia selama ini ia berlatih di sasana Nasep. Darwin kepayahan, nafasnya terengah, ia tidak bisa mengimbangi tenaga Reza yang memuncak saat ini.


“Reza! Aku mohon berhenti!” Ellen segera menahan tangan Reza yang bersiap melayangkan pukulan berikutnya ke arah Darwin. Laki-laki itu menciut, menghalangi kepalanya dengan lengannya.


“Kamu lihat, wanita yang sering kamu hina ini, masih membelamu. Apa kamu tidak malu hah?!” teriak Reza. Baru kali ini ia lepas kendali hingga menghajar habis lawannya.


“Ya kamu benar, kita memang sama-sama laki-laki. Tapi kita memiliki pandangan yang berbeda terhadap wanita ini. Kalau kamu pikir wanita ini rendahan, aku berfikir hal yang berbeda.”


“Dia wanita kuat, mandiri, cerdas, berani, baik dan saya menghormatinya. Satu kerugian bagi kamu melepaskan wanita seperti Ellen dan satu keberuntungan bagi Ellen bisa terlepas dari laki-laki brengsek seperti kamu.” reza merepet dengan lancar.


Ellen menatap tidak percaya mendengar apa yang di katakan Reza. Selama ini, ia berfikir kalau Reza pun membencinya, menganggapnya rendah dan sumber masalah bagi hidupnya yang damai. Tapi yang barusan Reza katakan, seperti oase di tengah gurun yang kering. Tidak pernah ada yang membelanya seberani ini, bahkan keluarganya sekalipun. Selama ini ia sendiri. Menanggung kesulitan dan rasa malunya seorang diri.


“Mulai sekarang, berhenti mengganggu mereka atau saya akan menyerahkan rekaman bukti perlakuan kamu terhadap ghea dan ellen pada polisi.” Reza menunjukkan ponselnya pada Darwin membuat laki-laki itu gentar.


“Jangan kamu pikir kemarin saya diam karena saya tidak berani menghadapi kamu. Hari ini, detik ini, kalau kamu akan melaporkan apa yang saya lakukan terhadap kamu, silakan. Dan kamu akan menerima konsekuensi lebih besar dari apa yang kamu lakukan. Paham?!” gertak Reza di ujung kalimatnya.


Darwin tidak menimpali. Rasa nyeri di wajah dan dadanya masih sangat sakit. Sambil terhuyung ia mencoba bangkit. Ellen berusaha membantunya, namun dengan cepat Darwin mengibaskannya.


Saat sudah berdiri tegak, Darwin mendengus kesal seraya menatap Reza dengan senyuman sarkas tertahan. Ia menunjuk Reza tapi tidak mengatakan apapun. Mungkin mulutnya terlalu sakit untuk sekedar mengumpat. Tidak lama, Darwinpun pergi meninggalkan mereka dan hanya bersisa asap knalpot dari mobilnya.


“Hey, are you okey?” Reza segera menghampiri Ghea yang bersembunyi di kolong meja. Menutup kedua telingannya dengan tangan dan tampak gemetaran.


Gadis itu menatap Reza dengan takut-takut, melihat perkelahian Reza dengan ayahnya membuat ia merasa tidak ada yang bisa di percaya.


“It’s okey ghea, ayo sama bunda nak.”


Dengan tangis tertahan Ellen mencoba membujuk putrinya. Takut-takut Ghea keluar dari kolong meja dan langsung berhambur memeluk Ellen. Gadis itu menangis sejadinya, meluapkan rasa takut yang hinggap di hatinya.


Hati ibu mana yang tidak sakit melihat putrinya ketakutan seperti ini. Ellen mengeratkan pelukannya, “Maafin bunda sayang, maafin bunda…” lirih Ellen seraya mengusap punggung putrinya dan mengecup dalam pucuk kepalanya. Ghea hanya menangis tanpa mengucapkan apapun. Ia masih terlalu shock setelah mengalami kejadian tadi.


Ellen menggendong Ghea ke kamarnya agar pikirannya sedikit teralih sementara Reza hanya memandanginya dari pintu.


Di dudukannya Ghea dengan hati-hati setelah gadis kecil itu sedikit lebih tenang. “It’s okey sayang, ada bunda sama om reza di sini. Om reza tidak bermaksud kasar, dia hanya mencoba melindungi kita.”


Ellen mengecupi tangan Ghea dan kembali memeluknya. Tangis gadis itu mulai mereda namun masih terlihat ketakutan. Di liriknya Reza yang berdiri di pintu kamar dan menghampiri mereka.


Menarik kursi belajar Ghea lantas duduk di dekat gadis kecil itu.


“Ghea takut sama om reza, om reza galak.” Ia menarik tangannya dari genggaman Reza.


Reza jadi salah tingkah, rasa bersalahnya muncul saat melihat respon Ghea. Harusnya tadi ia tidak terpancing.


“Hey, om reza bukan galak sayang.” Ellen mencoba menenangkan putrinya.


“Kamu ingat spiderman?” Ellen menyebutkan nama tokoh jagoan favorit putrinya.


Ghea terangguk pelan.


“Spiderman juga memukul lawannya karena dia mau melindungi banyak orang, tapi niatnya bukan untuk menyakiti orang lain. Dia hanya mencoba bertahan, tidak di tindas oleh lawannya, seperti om reza.” Mencoba membuat perbandingan yang mudah bagi putrinya.


“Apa ayah orang jahat sampai om reza harus memukulnya?” berganti Ghea yang bertanya, pertanyaan yang cukup sulit untuk di jawab oleh Ellen.


Ellen dan Reza saling melirik, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk putrinya.


“Ayahmu orang yang baik, hanya saja saat ini sedang merasa kesal dengan keadaan. Mungkin di tempat kerjanya ayah terlalu lelah atau ada masalah lain.” Ellen mencoba beralasan, entah ini bisa di terima atau tidak oleh Ghea.


Satu hal yang membuat Reza mengagumi Ellen adalah, ia memang tidak pernah menjelekkan Darwin di hadapan putrinya. Seperti yang pernah ia katakan, ia tidak ingin membuat putrinya trauma dengan laki-laki. Ia ingin menjaga kenangan baik Ghea tentang ayahnya yang hanya sedikit.


“Tapi ayah menarik tangan ghea seperti ini. Tangan ghea sakit. Ayah juga nendang bunda, mukul bunda. Ghea benci sama ayah.” Bibir gadis kecil itu mengerucut kesal seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Matanya kembali berkaca-kaca saat mengingat kejadian tadi.


“Sayang… Itu ayah nggak sengaja.”


Ellen yang kebingungan hanya bisa berbohong. Ia sadar, Ghea sudah cukup besar dan mengerti apa yang terjadi di depan matanya. Memberi satu alasan apapun tidak akan dengan mudah di terima olehnya. Namun, tidak ada cara lain selain ia harus melakukan hal ini. Bisakah ini di sebut berbohong untuk kebaikan?


“Ghea.” Reza meraih tangan mungil yang mengepal kuat menyimpan kemarahan. “Apapun yang ghea lihat hari ini dan apapun yang terjadi pada ghea dan bunda, adalah untuk yang terakhir kalinya. Mulai hari ini, ayah kamu tidak akan menganggu kamu dan bunda lagi. Om janji.” Bagi Reza hanya ini cara satu-satunya agar gadis kecil ini merasa tenang.


Ghea menatap Reza dengan lekat. Ia memang melihat bagaimana usaha Reza saat menolongnya dan Ellen. Seperti yang Ellen katakan, Reza adalah superheronya.


Gadis itu berhambur memeluk Reza, membenamkan wajahnya di dada Reza.


“Om reza akan selalu lindungin ghea dan bunda kan? Om reza gak akan ninggalin kami kan?” pertanyaan itu lirih di lontarkan Ghea dengan penuh kesedihan.


Ellen ikut menoleh Reza yang tampak tenang menghadapi Ghea. Mengusap kepala putrinya dengan penuh sayang. Entah apa yang akan menjadi jawaban Reza, namun Ellen sangsi.


“Tentu ghea, om akan selalu ada untuk kalian.” Lirihnya seraya mengecup pucuk kepala Ghea.


Nafas Ellen seperti tercekat mendengar jawaban Reza. Bagaimana laki-laki ini bisa dengan mudah berjanji di hadapan putrinya? Sadarkah ia kalau janjinya ini sesuatu yang sulit? Mengapa kalimat-kalimat Reza selalu memberi ketenangan namun di waktu yang bersamaan, sikapnya berkebalikan.


Di pandanginya Reza dengan penuh rasa penasaran sementara Reza seperti begitu menikmati moment-nya dengan Ghea.


“Tolong, Jangan membuatku bingung za,..”


*****


Sebuah permasalahan baru Kean dapatkan saat ia datang ke salah satu pabrik di wilayah Jakarta. Seorang pimpinan perusahaan di dapati telah membuat perjanjian dengan sebuah factory brand lokal untuk penjualan kain tanpa sepegetahuan Kean.


Hal ini tentu saja di larang mengingat dalam perjanjian mereka saat sebuah perusahaan sudah bekerja sama dengan buyer yang akan membeli produk mereka maka mereka dilarang menjual hasil produksi yang sama pada konsumen lokal terlebih di bawah tangan.


Kean jadi meradang saat laki-laki di hadapannya hanya bisa tertunduk malu tanpa bisa menimpali.


“Kamu tahu kan akibat dari yang kamu lakukan saat ini?” tanya Kean dengan kemarahan yang tidak ia sembunyikan.


“Saya mohon maaf tuan, saya tidak bermaksud merugikan perusahaan apalai membuat citra perusahaan buruk.” Jawab laki-laki itu


Kean hanya mendengus, mendengar jawaban klise seperti ini. Setiap kali salah satu pucuk pimpinan membuat kesalahan, pasti mereka beralasan demi kebaikan perusahaan dan ini membuatnya muak. Memang benar, dengan seperti ini keuntungan perusahaan bertambah hanya saja jika di ketahui oleh rekanan mereka, ini akan berdampak buruk bagi citra perusahaannya. Alih-alih untung malah buntung. Mungkin alasan ini juga yang selalu digunakan Sigit mengapa ia selalu menjaga citra baik perusahaan.


Baru akan melanjutkan kemarahannya tiba-tiba saja Roy menghampirinya. “Permisi tuan, ada yang harus anda lihat.” Bisiknya seraya menyodorkan ipad di tangannya.


Wajahnya terlihat tegang, membuat kemarahan Kean teralihkan pada ekspresi Roy.


Roy membawa Kean sedikit menjauh dari orang di hadapannya barulah ia menunjukan sebuah artikel berita online yang di rilis beberapa jam lalu.


“Seorang finalis lomba desain di ketahui ngamar dengan seorang laki-laki di sebuah hotel.” Judul berita itu langsung membuat mata Kean membulat.


Ia menatap tidak percaya isi berita yang provokatif dan menyebutkan inisial nama Disa di dalamnya. Tidak hanya itu, berita ini pun jelas membagikan foto saat Kean masuk dan keluar dari kamar Disa.


“Apa-apan ini?!” Kean meradang. Ia sangat yakin kalau dini hari tadi tidak ada yang menyadari kedatangannya ke kamar Disa tapi berita ini?


Mungkin hal sepele masalah masuk kamar Disa tapi yang menjadikan berita ini seperti bola panas karena mereka membawa nama kompetisi yang sedang diikuti Disa.


“Wartawan sudah menunggu di loby kantor, menunggu klarifikasi kebenaran pernyataan yang disampaikan nyonya besar, tuan.” Lanjut Roy yang membuat Kean semakin melotot tidak percaya.


“Mamah? Apa hubungaannya dengan mamah?”


Roy tidak menjawab, ia lebih dahulu menujukkan artikel berita yang memuat pernyataan Arini. “Sepertinya wartawan datang ke rumah sakit dan tiba-tiba mewawancarai nyonya.”


Kean menatap Roy tidak percaya dan Roy hanya menggeleng, entah harus seperti apa responnya.


Di artikel kali ini memuat pernyataan Arini, lengkap dengan video Arini saat memberikan jawaban.


“Benarkah putra anda menemui finalis lomba desain di hotel? Bagaimana tanggapan anda?” pertanyaan menjebak itu yang di lontarkan wartawan dan membuat wajah Arini tampak tegang. Seperti ia tidak siap untuk memberikan jawaban namun di paksa untuk berkomentar.


“Maksud kalian menemui disa?” Arini balik bertanya. Wajahnya terlihat bingung.


“Benar. Apa mereka memiliki hubungan atau ada maksud lain? Bukankah para finalis saat ini sedang di karantina?” pertanyaan pewarta semakin mendesak.


“Em, mereka,” Arini menggantung kalimatnya, melihat satu per satu kamera yang merekam pernyataannya.


“Mereka memang memiliki hubungan dan rencananya akan segera menikah.” Sahut Arini yang seperti menjadi pancingan untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya.


“Apa-apaan ini?!” seru Kean tidak terkontrol hingga membuat banyak pasang mata memandanginya.


“Kita di sana tuan,” Roy yang menyadari tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya, segera membawa Kean ke tempat yang lebih hening, jauh dari orang-orang yang berlalu lalang. Pernyataan demi pernyataan di sampaikan Arini dan membuat Kean semakin ternganga tidak percaya. Sejak kapan ibunya jadi pandai berbohong?


“Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah kompetisi disa berakhir. Hah, saya tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Sekarangpun kami sedang mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan mereka.” Tutur Arini dengan nafas memburu seperti menahan gugup.


“WHAT!” hanya komentar itu yang kemudian keluar dari mulut Kean yang menganga tidak percaya.


Sejak kapan mereka akan menikah?


*****