Marry The Heir

Marry The Heir
Saat wanita harus membuat keputusan



Banyak hal yang harus di perbaiki oleh Reza atas perlakuannya terhadap Ellen dan Ghea beberapa waktu lalu. Kejadian kemarin seperti trigger yang menyadarkannya kalau Ghea mungkin menyimpan trauma yang cukup dalam di alam bawah sadarnya. Semalaman Ghea terus mengigau, meracau tidak jelas dan sesekali menangis. Hal ini membuat Reza mengurungkan niatnya untuk pulang dan meninggalkan dua orang ini.


Apa yang akan terjadi nanti, tidak lagi Reza pikirkan. Ia hanya peduli pada masa ini, masa dimana ia harus memberi dukungan penuh untuk Ghea dan Ellen. Katakan saja apa yang ia lakukan dulu adalah sebuah kesalahan, mengabaikan Ellen dan Ghea serta menganggap mereka tidak ada. Tapi kali ini hatinya berubah. Ia tidak setega itu membiarkan dua orang ini berjuang sendiri menghadapi rasa takutnya.


Seperti hari ini, Reza mengajak Ellen untuk membawa Ghea ke psikolog anak. Tahap pertama, mereka membiarkan Ghea berbincang dengan seorang psikolog wanita di dalam suatu ruangan sementara keduanya menunggu di ruang tunggu.


Masih merasa canggung satu sama lain dan belum terpikirkan akan membicarakan apa. Sampai seorang perawat memberi mereka buku yang tadi di sarankan psikolog untuk mereka baca.


“Untuk menghadapi seseorang yang trauma, kalian pun harus menyiapkan mental yang kuat agar tidak menyerah di tengah jalan. Mengobati trauma itu tidak seperti mengobati demam, yang sekali di beri paracetamol bisa langsung sembuh.”


“Sebuah trauma sangat mungkin menyisakan sesuatu di alam bawah sadar yang bisa kembali muncul saat dia dewasa. Dan perlu penanganan yang tepat dari para pendampingnya.”


Begitu tutur psikolog yang saat ini berada di dalam sana. Mereka di beri buku parenting, menghadapi trauma, layaknya mereka adalah sepasang orang tua yang sedang bersama-sama menyelesaikan masalah putri mereka.


“Ghea perlu di libatkan dalam sebuah kelompok, agar dia tidak merasa sendiri. Kira-kira kegiatan kelompok apa yang akan dia sukai?” Reza bertanya pada Ellen, yang masih memperhatikannya di sampingnya.


Ia masih tidak menyangka kalau Reza akan menemaninya sampai saat ini.


“Ellen,” Reza mengibas-ibaskan tangannya di depan mata Ellen agar wanita ini tersadar.


“Oh sorry.” Ujarnya gelagapan.


“Gimana tadi?” ia mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada pembicaraan dengan Reza.


Reza hanya tersenyum, ia tahu pikiran Ellen sedang sangat berat saat ini.


“Apa punggungmu masih sakit?” ia mengganti pertanyaannya. Baginya, tidak hanya kondisi Ghea yang penting tapi kondisi ibunya pun sama pentingnya.


“Em, sudah membaik. Semalam aku memasanginya dengan koyo cabe.” Aku Ellen yang tersenyum mengingat banyaknya koyo cabe di punggungnya hingga saat ini. Jujur jika saja ia bisa menangis, mungkin ingin menangis karena rasa ngilu yang teramat di punggungnya.


“Apa tidak sebaiknya kita ke dokter? Kamu juga harus memperhatikan kondisi kamu.” Reza masih mengingat luka memar di lengan dan leher Ellen, bekas pukulan dan hantaman Darwin.


“Em, aku baik-baik aja za. Semuanya akan sembuh dengan cepat. Aku udah biasa kok kayak gini.” Miris, terbiasa katanya.


Reza memandangi Ellen lekat membuat wanita itu memalingkan wajahnya dari Reza. Ia tidak mau perasaannya kembali bergemuruh. Cukup ada Reza di sampingnya sebagai temannya melewati masa sulit ini dan tidak perlu ada perasaan ikutan yang menyertainya.


“Aku minta maaf ya.” Tiba-tiba saja Reza mengatakan hal itu. Sebuah permintaan maaf yang sangat mahal untuk di dengar.


Ellen mengangguk pelan dengan segaris senyum tipis yang ia tunjukkan. “Aku juga minta maaf karena banyak merepotkan kamu. Lebih dari itu, terima kasih untuk semuanya.” Ungkap Ellen dengan sungguh-sungguh.


Reza membalas senyuman Ellen. Untuk beberapa saat mereka saling terpaku dan memandangi satu sama lain. Ada perasaan hangat yang mengaliri aliran darah keduanya. Sejauh apapun langkah mereka, nyatanya mereka saling memperdulikan. Dan Reza menikmati masa seperti ini. Masa di mana ia bisa melihat Ellen baik-baik saja dan berharap semakin baik.


“Kamu bener-bener nyimpen video mas darwin?” tanya Ellen, untuk mengalihkan pikiraannya. Tatapan Reza terlalu menyesakkan untuknya dan ia perlu jeda untuk menghela nafas.


Reza hanya tersenyum lantas menggelengkan kepala.


“Kamu berbohong?” seru Ellen tidak percaya dengan tawa tertahan.


Kali ini Reza mengangguk seraya terkekeh.


“Gimana bisa kamu kepikiran semacam itu?” tanya Ellen penuh selidik.


“Em, saat seseorang melakukan kesalahan dan menyadarinya, pikirannya pasti kalut dan sibuk memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Aku hanya memainkan hal itu pada darwin dan siapa sangka berhasil.” Aku Reza dengan penuh kelegaan.


“Lalu CCTV yang kamu pasang?” jadi ingat ada delapan buah CCTV yang tadi pagi di pasang Reza di banyak sudut.


“Aku takut dia kembali dan melakukan hal yang buruk pada kalian saat aku tidak ada. Aku menyalakan mode perekaman jadi, kamu bisa menakut-nakuti laki-laki itu dengan CCTV kalau dia datang lagi. Tapi aku mohon, mulai sekarang, jangan pernah takut. Hadapi laki-laki itu dengan berani. Ingat, kamu tidak pantas di rendahkan.” Tanpa sadar Reza menggenggam tangan Ellen yang tengah memegangi buku.


Ellen terangguk, bukan hanya karena setuju dengan ucapan Reza tapi ia mengakui kalau debaran itu masih ada.


Bisakah ia tetap menyimpannya diam-diam?


*****


“Apa? Menikah?!” respon yang sama di tunjukkan oleh Kean dan Disa, lengkap dengan ekpsresi kaget yang hampir mirip.


“Weis kompak banget sih?” Shafira refleks berkomentar, membuat Kean melotot kesal kepadanya. “Ups, sorry.” Imbuhnya yang kemudian memalingkan wajah tanpa beranjak dari tempat duduknya di samping Arini.


Malam ini tiba-tiba saja Arini, Kean dan Shafira datang ke hotel dan menemui Disa. Disa baru tahu kalau ada gossip tidak menyenangkan tentang dirinya dan Kean gara-gara wartawan memergoki kedatangan Kean datang dini hari tadi.


Ia masih tidak percaya karena rasanya ia tidak melihat siapapun di lorong hotel saat ia membukakan pintu kamar untuk Kean.


Kebiasaannya yang berdiam diri di kamar sepanjang hari, makan pun di kamar, membuat ia awam terhadap gossip yang beredar. Kalau Arini, Kean dan Shafira tidak datang, mungkin ia tidak akan tahu kalau ia sedang jadi bahan pergunjingan senatero negeri.


Lalu menikah? Benarkah mereka harus melakukan hal ini demi menghindari tudingan publik?


“Kenapa kami harus menikah nyonya? Saya dan tuan mda tidak melakukan apapun. Lagi pula tuan muda tidur di sofa dan saya meneruskan menjahit. Tidak terjadi apa-apa.” Disa mencoba memberi penjelasan. Ia memang salah karena telah membawa laki-laki masuk ke kamarnya tapi tidak melakukan apapun. Lagi pula, tidak mungkin ia membiarkan tuan mudanya di luar kamar sendiri.


“Ya, saya percaya. Tapi bagaimana dengan pendapat orang-orang?”


“Apa yang akan mereka pikirkan kalau seorang wanita membawa seorang laki-laki masuk ke kamarnya di dini hari dan keluar di pagi hari. Menurut kalian apa?” Arini balik bertanya, membuat Disa ternganga tidak bisa menimpali.


“Ya, di kira enak-enakan lah.” Cetus Shafira.


“Diam kamu!” Kean meradang. Ia mulai kesal dengan celetukan Shafira.


“Ini masalah orang dewasa, kamu sebaiknya keluar dan tidak perlu ikut campur.” Imbuhnya masih dengan kesal. Menurutnya Shafira tidak perlu turut campur dalam perbincangan ini.


“Orang dewasa apanya, kalo gak mau bertanggung jawab ya bukan orang dewasa lah. Pengecut namanya.” Sahut Shafira sambil melengos.


Mata Kean membulat, seperti ingin menelan Shafira bulat-bulat. Mulutnya ringan sekali menyahuti dan entah sejak kapan juga ibunya jadi dekat dengan anak ini. Kemanapun Arini pergi, ia ikut.


“Okey, aku diam.” Ia beranjak dari tempatnya, memberi isyarat mengunci mulut lalu membuang kuncinya lantas berpindah ke kasur Disa. Berusaha duduk tenang di sana agar tidak terus di omeli Kean. Jangan salah, telinganya tetap siaga satu.


“Ya tapi mah, kan mamah gak perlu bilang kalau kami akan menikah juga. Kami tidak akan menikah mah dan mamah udah bohongin banyak orang.” Protes Kean yang tidak terima.


“Terus sekarang mamah yang salah?” Arini balik marah. Tangannya sudah gemetaran menahan kesal dan kecewa di waktu yang bersamaan. Matanya tampak berkaca-kaca, seperti tidak terima dengan kemarahan putranya.


“Mamah hanya berusaha melindungi nama baik disa. Kamu tau, disa ini sedang ikut kompetisi. Selain dia harus menunjukkan kemampuannya, dia juga harus menunjukkan kalau dia memiliki citra yang baik di hadapan banyak orang."


"Penilaian dia tergantung pada vote penonton dan juri, apa jadinya kalau gara-gara masalah ini langkah disa jadi terhenti di tengah jalan. Apa kamu akan tega?” nada bicara Arini sedikit naik membuat Kean menatap wanita itu dengan sesal. Ia tidak menyangka Arini akan semarah ini.


“Lagian abang ngapain sih nyamperin mba disa subuh-subuh? Kalo lagi suntuk kan bisa check in sendiri. Ngapain ngamar sama mba disa. Gimana kalau mba disa jadi di nilai sebagai perempuan gak baik gara-gara abang?” lagi Shafira ikut angkat bicara.


“Heh! Siapa yang nyuruh kamu ikut bicara hah?!” suara Kean di buat lebih lantang membuat Shafira segera masuk ke dalam selimut, melungker seperti ular.


Sementara Disa hanya terpaku, entah seperti apa ia harus merespon masalah ini. Semuanya begitu tiba-tiba dan tidak terduga. Hal yang ia anggap kecil ternyata berbuah masalah besar dan nyaris menghentikaan langkahnya.


“Bukan gitu maksud kean mah.” Kean beralih menghampiri Arini dan duduk di sampingnya. “Kenapa mamah gak nanya dulu sama kean, kan bisa nelpon atau gimana gitu. Jangan langsung jawab kalau kean bakal nikah sama disa.” Kean meraih tangan Arini. Ia memang selalu luluh kalau Arini sudah seperti ini.


“Kamu pikir mamah harus jawab apa? Apa ada jawaban lain yang lebih pas saat mendapati laki-laki dan perempuan di satu kamar hotel? Ini bukan amerika kean, di sini ada etika yang harus di jaga.”


“Di rumah kita, kita sudah banyak menyulitkan disa dan sekarang, di sini, apa kita akan menyulitkan disa juga? Dia salah apa sama kita hah?” Air mata Arini tiba-tiba saja menetes. Ia menatap Disa dengan nanar. Rasanya begitu sedih saat lagi-lagi mereka membuat Disa dalam kondisi terpojok.


Kean menatap Arini dan Disa bergantian. Wajah polos yang tampak kebingungan itu membuatnya semakin merasa bersalah dan serba salah.


Ada satu perkataan Shafira yang harus ia benarkan, kalau saja ia tidak masuk ke kamar Disa, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini.


“Lagi pula, apa susahnya sih kamu nikah aja sama disa. Toh kalian juga punya perasaan kan satu sama lain?” tembak Arini dengan ringan, membuat Disa dan Kean tidak bisa berkata-kata.


“Iya nikah aja, aku mau kok punya kakak mba disa.” Dari dalam selimut suara itu terdengar, tanpa berani menunjukkan wajahnya.


Kean mendengus kesal, pikirannya buntu dan perkataan Arini juga shafira memang ada benarnya.


“Kean gak bisa nikahin disa.” Kalimat itu tiba-tiba saja dengan lugas ia katakan.


“Hah? Kenapa?” Shafira langsung keluar dari dalam selimut. Tapi begitu melihat Kean melotot, ia tidak lagi bersuara.


“Kenapa?” berganti Arini yang bertanya.


Kean tampak kebingungan, sedikit menoleh Disa dan tidak berani terlalu lama.


“Maaf, kean benar-benar gak bisa mah.” Ia memalingkan wajahnya dari Arini, sungguh ia memang tidak bisa melakukannya.


Melihat Kean yang terang-terangan menolak, hati Disa seperti berdesir ngilu. Mungkin selama ini pikirannya salah. Kean hanya bercanda selama ini, ia harusnya tertawa bukan malah tertawan. Dan dadanya, kenapa jadi sesak begini?


“Iya nyonya, kami tidak seharusnya menikah.” Kalimat Kean di amini Disa membuat tiga pasang mata itu tertuju padanya.


“Kita jangan memaksakan hal yang seharusnya tidak dilakukan, terlebih ini tentang pernikahan. Karena saya, hanya ingin menikah sekali dan tidak mau mengikat seorang lelaki dengan sebuah pernikahan yang penuh paksaan.” Lanjut Disa yang berusaha tenang.


Jangan tanya soal gejolak perasaannya. Baginya, ini bukan hanya kesalahan Kean tapi juga kesalahannya karena membiarkan Kean masuk ke kamarnya. Jika ternyata ada konsekuensinya, tentu ia harus menanggungnya.


Kean masih memandangi Disa dengan tidak percaya. Ia pikir, Disa akan ikut memaksanya karena hal ini akan menyulitkannya. Tapi ia malah mencoba berlapang dada dan bersiap menerima apa yang mungkin akan terjadi.


Astaga, kenapa jadi seperti ini?


“Dulu mamah berfikir, kalau selalu ada pengecualian bagi banyak hal termasuk tentang laki-laki.”


“Mamah pernah dikecewakan oleh seorang laki-laki dan itu menyakitkan. Hingga suatu hari mamah bersumpah, kalau mamah tidak bisa menemukan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab dengan segala apa yang ia perbuat, maka laki-laki itu harus lahir dari rahim mamah.”


“Tapi sepertinya, tuhan tidak bisa mengabulkan satu pun keinginan mamah.”


Arini terisak. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Sedih rasanya mendapati kenyataan tidak ada hal baik yang bisa ia dapatkan padahal ia hanya ingin memperbaiki semuanya.


“Mah,” Kean mendekatkan tubuhnya pada Arini tapi Arini malah memalingkan wajahnya dan menarik tubuhnya menjauh dari Kean. Serba salah jadinya kalau sudah seperti ini.


“Mah, kean mohon jangan seperti ini. Kean gak bermaksud mengecewakan mamah. Oke anggap ceritanya kean akan menikah dengan disa agar disa bisa melewati masa sulit ini. Tapi, kami tidak akan benar-benar menikah. Ini hanya agar disa bisa melanjutkan kompetisinya tanpa harus terhalang masalah ini. Ya mah?” Kean merajuk, mengharapkan persetujuan Arini.


“Tidak perlu tuan.” Disa yang menimpali. Ia berusaha tersenyum walau hatinya perih.


“Selain tidak boleh memaksakan pernikahan, saya juga tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai permainan. Tuan tidak perlu memikirkan saya karena ini bukan kesalahan tuan sendiri. Saya akan menghadapinya.” Tegas Disa.


Ia memang harus mengambil konsekusensi dari tindakan yang dilakukannya tanpa harus memaksa orang lain terlibat dalam masalahnya.


“Kamu dengar itu?” Arini balik menatap Kean dengan penuh kecewa.


“Mamah sudah tidak ingin berbohong lagi pada wartawan. Mamah mengatakan kalau kalian akan menikah dalam waktu dekat. Mereka sudah mencari info kesana kemari termasuk kapan dan dimana kalian akan menikah.”


“Tapi disa benar, mamah tidak bisa memaksa kamu. Mamah juga tidak bisa memaksa disa menikah dengan laki-laki yang hanya main-main dengannya.”


“Mah!” Kean kembali meradang. Ia mengguyar rambutnya kasar, entah mengapa semuanya menjadi sulit.


Kali ini ia di uji apa ia harus mempertahankan sumpahnya atau ada cara lain.


“Okey, kean akan menikahi disa. Tapi belum tentu disa mau menikah dengan kean." Satu kalimat itu diucapkan dengan lantang.


"Kean banyak kekurangan. Selalu menyulitkan disa dan mungkin akan menjadi beban disa seumur hidup. Dan kali ini, bukan kean yang harus mengambil keputusan.” Di pandanginya Disa yang duduk dengan tegang di hadapannya.


Beberapa saat lalu, Kean yang dipaksa menikahinya tapi kali ini, seolah ia yang harus membuat keputusan.


“Sa, gimana? Kamu mau kan menikah dengan kean? Kamu cinta kan sama dia?” tanya Arini penuh harap.


Disa hanya terpaku. Pikirannya kosong. Ia hanya bisa meremas pinggiran bajunya untuk menyalurkan rasa gugupnya.


Keputusan apa yang sebenarnya harus ia ambil? Mengiyakan atau menolaknya?


*****