Marry The Heir

Marry The Heir
Pesan bi Imas



POV Disa:


Arrghh! Aku masih sangat kesal saat mengingat kejadian beberapa menit lalu. Saat aku membuka mata dan aku lihat wajah tampan laki-laki yang aku kenal begitu lekat menatapku. Senyumnya yang tipis membuatku merasa seperti terbang ke atas awan dan melayang-layang di udara.


Aku pikir itu hanya mimpi sampai tiba-tiba aku merasa ada usapan lembut yang mengusap pipiku, menyisir leherku dan membuat bulu kudukku meremang, merinding seluruh badan. Sapuan tangannya yang lembut dan tatapannya yang hangat membuatku tidak bisa berpaling, seperti mengunci pendanganku untuk tidak beralih.


Di detik berikutnya, aku sadar itu adalah sebuah kebodohan. Bodoh karena aku malah merasa nyaman alih-alih melawan. Seperti ada sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Darahku mengalir deras dengan perasaan membuncah dan penuh di rongga dada hingga nafasku tercekal.


Dan lebih bodoh lagi, aku hanya bisa terdiam. Membiarkan dia mendekat dan,


Astaga, dia menciumku.


Apa yang harus aku lakukan? Tubuhku seperti kaku tidak bisa bergerak dan pikiranku kosong. Hanya jantungku yang berdebar sangat kencang sebagai penanda kalau aku masih hidup.


Aku masih hidup kan? Ini bukan angan-angan surgawi seperti dalam cerita-cerita romantis kan? Hah, kenapa aku jadi linglung begini?


Tadi, Aku mempercepat langkahku begitu turun dari mobil. Aku harus menghindar sebelum semuanya semakin salah. Tapi langkah kaki tuan muda yang panjang selalu berhasil menyusulku.


Dia bilang dia ingin ikut denganku. Masuk ke rumah yang sudah sangat lama tidak aku masuki. Apa yang harus aku jelaskan kalau keluargaku bertanya siapa laki-laki yang aku bawa? Aku tidak akan tiba-tiba di minta menikah kan?


Haish! Pikiran seperti ini yang aku benci. Pikiran dan perasaanku sama-sama bergejolak dan sulit aku tata kembali.


Dia terus merengek meminta ikut bahkan meminta untuk di buatkan teh, “Tuan kan sudah berjanji untuk tidak merepotkan saya.” aduh, tuh kan judesnya aku langsung keluar. Aku sadar dia majikanku tapi sifat liarku malah kembali muncul, tidak bisa aku kendalikan.


Jujur aku bingung, kenapa agenda pulang untuk mengunjungi nenek malah jadi ajang perkenalan? Bagaimana kalau nenek melihat gelagatku yang sering terlihat bodoh kalau di depan tuan muda? Bagaimana kalau nenek melihat bekas ciuman tadi? Hah, apa terlihat ya?


“Memangnya itu merepotkan?” dia masih bertanya, membuatku bingung antara berbicara dengan pikiranku sendiri atau dengan laki-laki yang terus mengikuti kemana aku melangkah.


“Issh! tau akh!” dengan berani aku berdecik di hadapan tuan mudaku. Ini memang kebiasaanku kalau sudah kesal dan kehabisan kata-kata.


Kalau aku urai lagi, sebenarnya aku tidak merasa kalau tuan muda sangat lancang hanya saja, aku belum siap. Bukan moment seperti ini yang aku tunggu. Harusnya, saat ciuman pertama itu suasananya tenang. Aku terlihat cantik, wangi dan mempesona. Bukan muka bangun tidur seperti tadi. Itu sangat memalukan karena aku tahu saat bangun tidur, aku tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku. Pasti terlihat bodoh sehingga tuan muda mendekat dan, Aarrgghh!!!


Aku kok malah jadi ingat lagi waktu kami bertukar oksigen dalam sepersekian detik tapi terasa seperti satu putaran penuh bumi? Kenapa susah sekali melupakannya?


Dan bibirku, apa menebal? Tadi kan di gigit? Apa benar-benar menebal atau hanya sensasinya saja yang masih tertinggal?


Tuhan, aku harus bagaimana? Aku tidak pernah ingin menjadi cinderela tapi aku malah mulai merasa kalau tuan muda memperlakukanku seperti ratu. Di luar dugaanku.


"Sa, disa tunggu!" lagi, tuan muda memanggilku.


Dan aku tidak punya keberanian untuk berbalik menolehnya. Saat melihat wajahnya seperti seluruh wajahnya menempel lekat  dengan wajahku. Hidungnya menyinggung hidungku membuatku masih merasakan wangi mint dari nafasnya.


Aku sesak, Aku tidak bisa bernafas bebas.


Aku takut, aku malu. Astagaaa!!!


“Kamu akan tetap seperti ini? Mengabaikan saya?” tiba-tiba saja dia sudah ada di hadapanku.


Aku hanya tertunduk, menutupi wajahku dengan helaian rambut. Bisa aku lihat wajahnya yang merasa bersalah.


“Saya benar-benar minta maaf, kalau tadi,”


“Jangan di bahas!” jedaku dengan cepat. “Kalau tuan mau ikut dan mau saya buatkan teh, jangan bahas lagi yang tadi. Kapanpun, dimanapun apalagi di depan siapapun.” Aku harus menunjukkan ketegasanku agar tuan muda tidak dengan mudah melakukan hal itu.


Aku bukan nona amerika yang kalau suka bisa langsung melakukan hal seperti itu. Aku masih merasakan banyak ketabuan dan tidak ingin orang lain melihatnya.


“Baik. Tapi sekali lagi saya minta maaf.” Wajahnya terlihat menyesal, kok aku jadi kasian ya.


Ku pikir lagi, kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan tuan muda. Aku bisa saja menolaknya, mendorong tubuhnya atau menampar wajahnya tapi, aku memilih untuk tidak melakukannya. Ya, aku lah yang berhak memilih bagaimana merespon sikap tuan muda. Dan aku juga yang bersalah karena membiarkan semuanya terjadi. Sekarang, aku seperti merasa kehilangan sesuatu.


Tapi masih saja aku mengiyakan permintaan tuan muda. Membawanya masuk ke rumah dan entah apa yang akan terjadi nanti. Antisipasi saja dengan menjaga jarak dan pura-pura acuh. Kalau tidak mau tuan muda membahas masalah ini lagi, maka aku pun harus menganggap masalah ini selesai. Jangan di ingat lagi. Tidak ada gunanya.


"Kamu bisa disa!"


*****


Melewati jembatan kecil dan tidak jauh dari sana tampak sebuah rumah mungil dengan pekarangannya yang tidak terlalu luas. Di samping kiri dan kanannya ada rumah lain yang di batasi jalan kecil dan pagar dari bambu.


Cahaya lampu pijar yang kekuningan menerangi rumah yang masih terdengar suara obrolan dari dalam rumah. Di halaman rumah banyak bunga-bunga yang di tanam langsung di atas tanah, tidak ada pot atau tempat khusus untuk menatanya. Tapi semuanya terlihat rapi.


Disa langsung bisa mencium wangi bunga melati yang berjejer rapi di selingi bunga Bugenvil di tiap sudut. Ia merindukan wangi ini. Wangi bunga-bunga yang di tanam bibinya sejak dulu.


Letak pohon mangga masih di tempatnya, di dalam pagar dan memayungi teras rumah sebagai peneduh. Angkrek bulan berwarna putih dengan corak kuning dan merah masih ada di pohon mangga itu. Imas pasti merawatnya dengan baik karena kelopak bunganya yang terlihat segar.


“Ini rumah saya tuan.” Disa berbalik, menatap tuan mudanya sebentar dengan segaris senyum.


“Tidak terlalu luas tapi di dalamnya ada orang-orang yang saya sayangi. Bibi saya dan nenek.” Pada kalimat ini seperti ada yang mengganjal di tenggorokan Disa hingga terdengar sedikit serak.


Menatap Kean dengan laman dan matanya tampak berkaca-kaca. Begitu membuncah rasa rindunya karena sudah cukup lama tidak pulang.


“Boleh saya ikut masuk?” baru melihat ekspresi Disa yang seperti ini. Antara rasa haru, bahagia mungkin juga sedih.


“Tentu. Sesuai janji, saya akan membuatkan anda teh.” Sahutnya dengan semangat.


Mendadak kemarahannya hilang setelah tiba di halaman rumah.


Dengan perasaan berdebar Disa membuka pintu pagar. Suara deritan besi coba ia tahan agar tidak terlalu berisik. Pagar ini yang di buat ayahnya saat Disa kecil dulu. Katanya supaya Disa tidak sembarangan lari keluar rumah.


Mungkin karena dulu Disa sangat aktif. Ia sangat suka bermain dengan teman-teman sebayanya yang di dominasi laki-laki.


“Assalamu ‘alaikum..” suara Disa terdengar bergetar. Ada tangis yang coba di tahannya.


Dengan tidak sabar ia menunggu sahutan dari dalam.


“Wa’alaikum salam..” satu sahutan yang sangat di kenal Disa, ya milik Bibinya.


Pintu kayu berwarna coklat itu pun terbuka. Tampaklah seorang wanita berdaster dengan kain samping yang ia lilitkan di pinggang. Rambutnya tersanggul acak dan sedikit berantakan, seperti habis baringan.


“Ya allah eneng! Ini beneran neng disa!” seru wanita itu menatap Disa tidak percaya.


“Iya bi, ini disa.” Seru Disa yang segera meraih tangan Imas untuk ia cium.


“Ya allah, alhamdulillah kamu bisa pulang. Majikan kamu gak marah kan pulang malem-malem gini, hah?” Imas langsung memeluk Disa dengan erat. Walau bibirnya tersenyum tapi ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.


“Nggak bi, majikan disa baik. Dia ngizinin disa pulang.” Aku Disa. Kalau imas tidak bertanya, mungkin ia akan lupa kalau tuan mudanya ada di belakangnya.


Di belakang sana, Kean memperhatikan interaksi Disa dengan bibinya. Pertemuan keduanya seolah memperlihatkan bagaimana Disa begitu di nanti.


Ada rasa bersalah yang saat ini Kean rasakan. Ingatan saat ia menjanjikan Disa libur saat hari raya tapi tidak dapat libur bulanan mulai di rasa salah. Baru kali ini ia merasa begitu egois. Demi mengerjai gadis itu, demi membalas kekesalannya pada pertemuan pertama mereka dan demi membuat Disa patuh, Kean membuat perjanjian itu.


Siapa sangka, ternyata kepulangan Disa sangat di nanti. Kalau tahu akan seperti ini, harusnya tiap bulan ia memberi Disa izin pulang barang sehari atau dua hari. Toh itu tidak akan merugikannya.


“Ari itu siapa meni kasep?” tanya Imas saat melihat keberadaan Kean di belakang Disa.


“Oh ini,” Disa terlihat ragu menatap Kean. “Beliau majikan disa bi.” canggung melirik Kean yang tampak tenang saja.


Disa menggangguk mengiyakan.


“Ya allah, aden… Hatur nuhun udah nganterin si eneng pulang segala. Mana meni kasep deuih.” Sambut Imas yang segera menghampiri Kean.


“Saya kean.” Kean mengulurkan tangannya pada Imas.


“Ish meni sopan pisan! Jangan gitu atuh, harusnya bibi yang ngenalin diri.” Imas mencengkram tangan Kean dan sedikit merundukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan.


Kean yang kebingungan, hanya bisa memandangi Disa dengan wajah bingungnya. Disa membalasnya dengan senyum terkulum, kaget pasti tuan mudanya.


“Ayo atuh masuk. Maaf ya rumahnya seadanya.” Imas langsung menarik tangan Kean untuk masuk.


“Iya bu terima kasih.”


“Jangan manggil ibu, panggil aja bi imas, sama kayak si eneng kalau manggil bibi.” Ini yang Kean sukai dari wanita paruh baya ini, cepat sekali mengakrabkan diri.


Dan Kean baru tahu kalau “Neng” adalah panggilan kesayangan keluarganya pada Disa. Manis juga.


Disa sudah lebih dulu masuk ke rumah, sementara Kean masih harus merunduk saat melewati pintu yang tidak lebih tinggi dari tinggi tubuhnya.


Benar yang Disa katakan, rumahnya tidak terlalu besar tapi suasananya hangat. Ada banyak lukisan yang di pajang di dinding yang didominasi lukisan pemandangan, pasti buatan Disa atau ayahnya.


Di salah satu sudut ada lukisan seorang anak kecil sedang bermain sepeda yang di Lukis dari arah belakang. Mungkin itulah Disa kecil yang hobi bermain sepeda.


Kean duduk di salah satu sudut kursi yang terbuat dari kayu. Hanya bagian atasnya yang di lapisi busa. Sangat sederhana.


“Nek, disa pulang.” Terlihat Disa yang masuk ke dalam sebuah kamar tanpa pintu. Hanya selembar kain gorden berwarna jingga yang menutupinya.


Suaranya yang terdengar gemetar, membuat Kean ikut merasakan tangis yang coba di tahan Disa.


“Itu suara neng disa?” suara serak khas orang tua yang menyahutinya.


Tidak lama bayangan Disa menghilang di balik gorden, berganti suara tangis seorang wanita tua. Mungkin itu tangis neneknya Disa.


Suasana pun berubah semakin haru. Imas ikut masuk dan menghampiri Disa serta Jenar.


“Apa imas bilang mak, si eneng pasti pulang. Makanya emak harus cepet sembuh biar kalau si eneng pulang, emak masih bisa masakin sayur oyong kesukaan si eneng.” Suara Imas yang dominan terdengar di antara suara isakan.


Ruangan yang tidak terlalu luas, membuat Kean bebas mendengarkan perbincangan mereka.


“Iya, kan ini juga emak udah nurut buat minum obat, makan yang banyak."


"Kamu lagi imas, malah bilang kalo emak jatuh. Jadi si eneng maksain pulang malem-malem. Gimana kalo ada apa-apa di jalan?!” Suara Jenar terdengar lebih jelas.


“Ya gimana da imas bingung, masa gak ngasih tau si eneng kalo emak kenapa-napa. Nanti imas di salahin lagi.” Imas mencoba membela diri.


“Nenek mana yang sakit. Coba disa liat.”


“Ini doang, kebentur tembok. Gara-garanya pas mau ke kamar mandi, ene malah nginjek kain samping. Jadi weh kepeleset.” terang Jenar dengan logat sundanya yang khas.


Mereka berbincang banyak melepas kerinduan.


Kean hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Ia beranjak keluar rumah, menikmati udara malam kota bandung yang dingin. Di pandanginya cahaya rembulan di atas sana. Suasana yang tenang, damai seolah menjadi alasan kenapa ia selalu merasa tenang kalau melihat Disa. Mungkin memang pembawaannya yang menenangkan.


Dari perbincangan yang di dengarnya, Kean merasa seperti inilah harusnya sebuah keluarga. Saling menyayangi, saling mencemaskan dan saling memperdulikan. Tidak perlu memiliki harta yang melimpah agar merasa cukup, berada di antara orang-orang yang menyayangi kita, sudah lebih dari cukup.


Itulah mengapa tidak semua kebahagiaan itu bisa di beli dengan uang.


“Aden, geuning di luar. Dingin.” Suara Imas mengusik lamunan Kean.


“Tidak apa-apa bi, udaranya segar.” Kilah Kean. Padahal ia masih ingin memberi Disa ruang untuk melepas rindu dengan keluarganya.


“Ya jangan atuh. Ini mah bukan seger tapi malah bikin masuk angin."


"Sok masuk dulu, mau minum apa?” bertemu dengan wanita ini serasa bertemu dengan keluarga. Padahal baru pertama bertemu tapi pembawaannya sangat ramah dan akrab.


“Tidak usah bi, nanti malah merepotkan.” Benar saja, kalimat itu tanpa sengaja keluar sendiri dari mulut Kean.


“Ngerepotin apanya? Ya namanya tamu mah harus di jamu atuh. Belum tentu juga aden dateng ke sini lagi. Rumahnya kecil, sempit, bau lagi. Bau nenek-nenek. Hehehehe..” Masih sempat Imas terkekeh dengan kalimatnya sendiri.


Ia mulai membuatkan Kean segelas teh. Rumah yang tidak tersekat antara satu ruangan dengan ruangan lain, membuat kean bisa melihat dengan leluasa setiap sudut rumah Disa. Tidak ada namanya ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan atau dapur yang di buat tersekat. Hanya beberapa kamar saja yang memiliki pintu juga sebuah kamar mandi.


“Sok di minum dulu, si eneng mah paling masih manja-manjaan sama neneknya. Maklum udah lama gak ketemu.” Imas menemani Kean duduk-duduk di kursi.


“Terima kasih bi.” Segelas teh yang masih mengepulkan asapnya sepertinya sangat nikmat untuk di seruput.


Imas tampak memperhatikan Kean. Laki-laki tampan dengan postur tinggi. “Ari aden artis?” pertanyaan nyeleneh itu meluncur begitu saja dari mulut Imas.


Hampir saja Kean tersedak mendengar pertanyaan Imas.


“Em, bukan bi, saya bukan artis.” Teh yang panas bertemu dengan bibirnya yang dingin sedikit membuat mati rasa.


“Oh kirain artis soalnya kasep pisan. Hehehehe...” Imas kagum sendiri dengan sosok rupawan di hadapannya.


“Tapi da neng disa juga cantik yaaa. Gak mirip sama bibi. Dia mah miripnya sama ibunya. Keturunan menado.” Tanpa di minta, Imas langsung bercerita tentang keponakan kesayangannya. Semudah itu berbagi cerita dengan Imas. Sepertinya akan banyak hal yang Kean tahu tentang Disa dan ini sebuah keberuntungan karena bisa mengenal Disa lebih banyak.


“Katanya ketemu sama bapaknya si eneng waktu bapak si eneng ada panggilan ngelukis keluar kota. Mereka ketemu di bis. Siga di pilem-pilem gitu.” Wanita itu tersipu sendiri membayangkan adegan pertemuan orang tua Disa di bis.


“Eh ibunya si eneng malah ikut ke sini. Terus kata bibi teh, kalo serius mah udah aja atuh nikah. Nggak di sangka, mereka nurut.”


“Sebulan nikah, langsung hamil neng disa. Tapi kasian, pas ngelahirin malah meninggal. Inget bibi juga, itu teh waktu malem tahun baru.”


Wajah Imas berubah muram dengan cepat. Dari bercerita jenaka, mengkhayal indah pertemuan ayah Disa dan ibunya hingga matanya berkaca-kaca mengingat kemalangan keponakannya.


“Makanya, kalo malem tahun baru teh, bibi suka sedih. Duh gusti, kasian neng disa mah. Gak pernah ketemu pisan sama ibunya. Cuma liat lukisannya we, bikinan bapaknya.” Imas terlihat semakin sedih.


Kean yakin, Disa mendengar cerita bibinya. Dan mungkin di dalam sana Disa sedang merasakan kesedihan yang sama. Kehilangan pondasi di usia yang masih sangat membutuhkan kehadiran orang tua, pasti bukan sesuatu yang mudah.


“Neng disa cuma punya bibi sama neneknya. Ada sih tante tiri sama kakak sepupu tiri cuma ya kalo om nya udah meninggal mah, ya udah bukan sodara lagi. Makanya kalau bisa, bibi nitip neng disa selama di Jakarta. Bisi ada yang gangguin, ada yang jahatin.”


“Kalau dia sedih dan ada masalah, bibi juga gak tau dia minta tolong sama siapa. Paling sendirian, ngurung diri di kamar atau malah pura-pura nggak sedih. Senyum-senyum we kayak gak ada masalah. Padahal mah, duh kasian lah kalo di certain mah.” Imas berganti menatap Kean dengan segaris senyum.


“Aden mah kayaknya orang baik, boleh kan kalau bibi sedikit minta bantuan?”


Cepat sekali Imas percaya pada seseorang yang baru di kenalnya. Bisa saja ia percaya pada orang yang salah tapi tatapannya yang penuh harap, membuat Kean akhirnya mengiyakan permintaannya.


Kean tahu, bukan hal mudah mempercayakan seorang gadis pada orang asing terlebih itu seorang laki-laki. Dan kepercayaan keluarga Disa bukan sesuatu yang ringan, ada amanat besar di dalamnya.


“Disa, sesulit itu kah kehidupan kamu selama ini?”


*****