Marry The Heir

Marry The Heir
Meet up



Berkeliling mall dari satu toko ke toko yang lainnya cukup melelahkan bagi Disa dan Shafira. Shafira sudah tampil berbeda dengan rambut barunya yang di buat berwarna coklat dan di beri poni di bagian depannya. Terlihat lebih manis dan segar.


Di kedua tangan mereka sudah banyak paper bag yang di tenteng Disa dan nona mudanya sepertinya mulai kelelahan.


Ia melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah cukup sore.


“Ke café dulu yuk, kita makan bentar. Kamu harus kembali ke rumah bang’ke kan?” ujarnya kemudian.


Rupanya ia memperhatikan perkataan Kinar kalau Disa harus Kembali ke rumah tuan mudanya sebelum magrib. Tapi mendengar panggilan Shafira pada abangnya, Disa selalu ingin tersenyum walau hanya bisa ia tahan. Panggilannya terlalu unik.


“Baik nona.” Keduanya menuju lobby mall dan menunggu pak Daan yang baru keluar dari tempat parkir.


Hanya sekitar 5 menit, mereka menunggu mobil dan tak lama Pak Daan membunyikan klakson serta memberi lampu pada Shafira dan Disa.


“Mari nona.” Disa membukakan pintu untuk Shafira sementara pak Daan memasukkan belanjaan Shafira ke bagasi.


“Pak, kita ke café Meet up ya, gag jauh dari sini jadi jangan terlalu cepet.” Petunjuk diberikan Shafira saat Pak Daan sudah Kembali berada di belakang kemudinya.


“Baik nona.” Sahutnya dengan sigap lantas mulai melajukan mobilnya.


“Kita harus makan dulu mba, sebelum kamu ketemu bang’ke. Dia pasti banyak maunya kan, kayak dady?”


Disa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Shafira. Kata panggilan itu yang membuat ia tersenyum.


Jarak mall dengan café memang tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit saja dan mereka sudah tiba di sebuah café yang cantik. Sejak turun dari mobil, banyak spot foto yang terlihat di area café. Beberapa remaja juga sedang asyik berfoto selfie dengan berbagai pose.


Masuk ke area café yang tidak terlalu ramai, mata Disa di buat terpesona. Dindingnya di isi dengan karikatur tokoh nyata dan kartun. Kursinya mini sofa dengan meja bundar di tengah-tengahnya. Di atas setiap meja ada lampu gantung dengan lilin menyala yang ada di tengah meja. Sangat cantik, sepertinya pemiliknya memiliki selera seni yang tinggi.


Melihat jam yang sudah setengah lima sore, Disa segera tersadar akan kewajibannya.


“Nona, saya tinggal ke belakang sebentar, saya belum sholat ashar.” Izin Disa pada Shafira.


“Hem, pergilah.”


Disa segera menemui seorang pelayan dan menanyakan keberadaan mushola. Beruntung café ini memiliki mushola jadi Disa bisa sholat dengan tenang. Sudah bisa di duga, mereka akan sampai sore sehingga Disa memutuskan untuk membawa serta mukena parasitnya agar tidak terlalu memakan tempat dan muat di tote bagnya.


Sepeninggal Disa, Shafira mengangkat tangannya untuk memanggil seorang waiter.


Seorang laki-laki mendekat, “Selamat sore kak, mau pesan apa?” sebuah suara yang familiar membuat Shafira yang tengah memilih menu menengadah dengan cepat.


“Vin?” ujarnya dengan tidak percaya.


“Sore fira.” Begitu sahut Malvin, sang ketua kelas. Bersikap ramah, sangat berbeda dari biasanya.


Shafira masih tidak percaya, kalau yang dilihatnya adalah Malvin, laki-laki yang ia sukai dan selalu bersikap dingin.


Tapi kali ini laki-laki di hadapannya tersenyum, untuk pertama kali Shafira melihatnya secara langsung.


“Lo kerja di sini? Kok gue baru tau ya? Padahal gue sering ke sini.” Cerocos Shafira tanpa rem.


“Mohon maaf, saya sedang bekerja. Mau pesan apa?” timpal Malvin yang berbisik di sebagian kalimatnya.


Bibir Shafira membulat, membentuk huruf O. Dalam bekerja pun Malvin tetap menjaga etikanya, benar-benar Malvin yang ia kenal.


“Chicken mozarela dan chicken cordon bleu. Minumnya orange juice 2.” Pesan Shafira tanpa mengalihkan pandangannya dari Malvin yang sedang mencatat menu.


“Pake nasi atau kentang?”


“Kentang.”


“Baik, di tunggu ya kak.” Timpal Malvin sebelum berlalu pergi dengan segaris senyum.


Shafira masih memandangi Malvin yang berjalan ke sana-kemari. Tangannya ia jadikan topangan untuk dagunya. Memperhatikan Malvin, bahunya yang sandar-able dan ternyata senyumnya yang manis, mengapa ia baru tahu sekarang?


Di salah satu sudut café, ada sebuah piano. Mungkin Malvin biasa duduk di sana dan memainkannya. Ia bisa membayangkan saat sosok gagah Malvin memainkan sebuah melodi lagu romantic di bawah lampu sorot tunggal, dengan gerakan jemari yang elok berpindah dari satu tuts ke tuts yang lainnya. Dan andai saja lagu romantic itu di berikan Malvin padanya.


“Akkhhh shafiraa jangaan ngayal!”


Shafira berusaha mengingatkan dirinya sendiri.


Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir harapan romantisme yang tidak seharusnya ada di kepalanya.


Satu moment penting Shafira ketahui dari seorang Malvin dan ia ingin mengabadikannya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto Malvin saat sedang bekerja. Tangan kekarnya begitu cekatan hingga membuat Shafira tersenyum sendiri.


Melihat hasil tangkapan lensanya, Shafira mulai tersadar akan suatu hal. Ekspresi dingin yang di tunjukkan Malvin saat ia mengomeli salah satu pelayannya. Mungkin saat itu Malvin tersinggung dan Shafira benar-benar bodoh, mengatakan kalimat yang mungkin saja menyinggung Malvin.


“Pesanannya kak, Chicken mozarela dan chicken cordon bleu. Minumnya orange juice 2.” Begitu ujar seorang waiter dan kali ini bukan Malvin.


“Malvinnya kemana mas?” ada rasa kecewa yang dirasakan Shafira karena bukan Malvin yang mengantar pesanannya.


“Sedang mencatat pesanan dari pelanggan lain. Permisi kak.” Begitu timpalan waiter tersebut.


Tentu saja, pelanggan di café ini bukan hanya dia.


Shafira menghembuskan nafasnya perlahan, bibirnya tampak mengerucut dengan tatapan yang tertuju pada makanan di hadapannya.


Kecewa, itu yang ia rasakan saat ini.


Beruntung Disa sudah Kembali sehingga cukup mengalihkan kekecewaan Shafira. “Non fira,..”


“Hay, ayo makan.” sahut Shafira yang tidak lagi terlihat bersemangat seperti tadi.


“Iya nona.”


“Aku memesankan menu itu, semoga kamu suka.”


“Iya nona, terima kasih. Saya sangat menyukainya.”


Disa mulai menikmati makanannya. Jujur, berkeliling mall membuat perutnya lapar. Satu, dua suapan masuk ke mulut Disa dengan cepat. Sementara nona mudanya terlihat tidak terlalu bersemangat.


“Mba, “


Shafira memanggil Disa dengan ragu.


“Iya nona.” Segera menelan makanannya bulat-bulat, sepertinya nona mudanya akan mengajaknya berbincang.


“Apa kamu pernah punya seseorang yang sekali waktu terasa begitu dekat dan di waktu lainnya terasa begitu jauh?”


Shafira memulai pertanyaannya dengan tetap memainkan kentang goreng di ujung garpunya. Mencocolnya ke saus lalu ke mayonaise tapi tidak ia makan, hanya di pandangi.


“Pernah. Bahkan masih.” Timpal Disa. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Damar.


“Oh ya? Terus bagaimana hubungan kalian sekarang?” fokus Shafira kali ini beralih pada Disa.


“Em,,.. saat ini saya merasa hubungan kami membaik walau entah dengan alasan apa. Yang jelas saya hanya berfikir, mungkin ada kesalahan saya yang sudah dia maafkan dan saya pun mencoba memperbaiki semuanya, walau saya sendiri tidak tahu dimana letak kesalahan saya."


"Saya hanya berfikir ini sebagai hubungan sebab akibat.” Tutur Disa.


Shafira tampak termenung. Ia Kembali mengalihkan pandangannya pada Malvin. Laki-laki itu tengah sibuk menerima orderan dan memesankannya pada temannya yang ada di pantry.


Shafira sadari, Malvin orang yang dingin. Saat mereka di paduan suara, mereka bisa berbincang dengan santai, membahas nada dan notasi namun di luar itu, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Sepertinya Malvin menerapkan profesionalisme dalam lingkungan pertemanan di kelompok paduan suaranya.


“Apa kamu pernah merasa kecewa dengan sikap seperti itu?” Shafira berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Malvin. Bola matanya bergerak ke sana kemari seiring pergerakan Malvin.


Sepertinya Disa tahu, siapa orang yang dimaksud Shafira.


“Pernah. Tapi kemudian saya sadar, bahwa setiap orang berhak bersikap sesuai apa yang mereka inginkan tanpa perlu saya pertanyakan. Yang terpenting, saya tetap berusaha bersikap baik.”


Kembali terdengar helaan nafas dalam dari mulut Shafira diikuti senyuman samar. “Ya, kamu benar mba, aku harus berusaha bersikap baik.” Timpal Shafira kemudian. Ia Kembali menggigit chicken mozarela-nya tapi sepertinya kejunya sudah dingin.


“Oh iya, aku punya sesuatu.” Ekspresi wajah Shafira berubah dengan cepat. Ia mengambil sebuah papper bag yang cukup tebal dan menunjukkannya pada Disa.


“Buat kamu. Makasih udah jadi temen kenackalanku hari ini.” Imbuhnya seraya menyodorkan paper bag itu pada Disa.


“Nona ini?”


“Hem, bukalah. Dan jangan menolaknya.” Paksa Shafira dengan sesungguhnya.


Disa memperhatikan paper bag yang di berikan Shafira. Sebuah kotak cukup lebar dengan label apel tergigit di luarnya. Saat di buka, ternyata isinya sebuah ipad.


“Nona, ini terlalu…”


“Udah, jangan nolak. Ingat, aku gag suka di tolak. Lagi pula, kamu suka desain. Dari pada gambar di buku gambar, mending di sini. Lebih jelas dan lebih gampang. Iya kan?”


Disa tidak mampu berkata-kata. Bibirnya mengulum senyum namun matanya tampak berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka Shafira akan memberikan hadiah mahal ini.


Dengan segera Disa memeluk nona mudanya dengan erat. “Terima kasih nona. Terima kasih banyak.” Ungkap Disa dengan penuh kesungguhan.


Yang di peluk tampak cukup terkejut. Ia belum pernah mendapat pelukan seperti ini dari ibunya sekalipun. Sejenak, ada perasaan hangat bercampur bahagia saat melihat ekspresi Disa. Ternyata seperti ini rasa yang ia dapatkan saat membuat orang lain bahagia. Hangat dan, entahlah Shafira bahkan tidak bisa menggambarkannya.


“Sama-sama. Pergunakan dengan baik. Dan lain kali, aku akan memintamu untuk mendesainkan baju untukku.”


Menepuk punggung Disa dengan kaku.


“Iya nona, saya akan menggunakannya dengan baik.”


Melepas pelukannya, Disa kembali memandangi benda pipih berukuran 11 inci ini. Warnanya hitam dan sangat cantik. Untuk mendapatkan benda ini dengan uangnya sendiri, mungkin ia harus menunggu 5x gajian baru bisa membelinya.


Shafira benar-benar tidak bisa di tebak dan Disa sangat bersyukur. Selalu ada kebaikan yang terselip di hati setiap orang. Hanya kita tidak tahu saja.


*****


“Bagaimana nanti kamu pulang mba?” tanya Shafira saat Disa meminta pak Daan berbelok masuk ke dalam town house elit.


“Saya bisa naik taksi nona.” Begitu sahutan Disa untuk menenangkan nona mudanya.


“Jam berapa kamu pulang?”


“Setelah selesai menyiapkan makan malam, mungkin setengah 7. Rumah putih itu pak.” tunjuk Disa pada Pak Daan.


“Baik mba disa.” Sahut Pak Daan. Ia segera menepi dan menghentikan laju mobilnya.


“Ya sudah, kabari kalau tidak ada taksi, nanti pak daan akan menjemputmu.”


“Baik nona, terima kasih.”


Sejak hari ini, Shafira mulai overprotective. Mungkin ia merasa cemas dengan Disa yang mulai di anggapnya sebagai teman.


Hanya anggukan kecil yang menjadi sahutan Shafira.


Kaca jendela mulai dinaikkan oleh pak Daan. Shafira masih memperhatikan Disa dari kejauhan hingga tidak terlihat lagi.


Shafira masih di tempatnya, memandani bangunan kokoh di hadapannya yang di dominasi oleh kaca. Di sini rupanya sang kakak tinggal dan baru kali ini Shafira tahu.


Berbicara dengan Disa, membuat Shafira mulai sedikit tahu tentang kakaknya. Walau jawaban Disa selalu diplomatis, paling tidak ada sedikit celah untuk ia mengenal Kean. Tapi hingga saat ini, Shafira masih belum berani mendekat apalagi menghampiri kakaknya dan bertanya, apa alasan tatapan Kean yang terlihat begitu membencinya.


“Kita pulang pak.” Titah Shafira kemudian. Ia sudah cukup puas memandangi bangunan tersebut.


“Baik nona.”


Kembali memutar stirnya dan melaju meninggalkan kediaman Kean. Shafira hanya bisa memandangi tepian jalan yang rapi dengan bunga yang tertata di hampir setiap balik pagar rumah yang berderet. Kapan ia bisa kembali ke tempat ini dan menyapa sang kakak tanpa rasa canggung. Semoga saja suatu hari nanti.


Disa masuk ke rumah dengan di antar pak Rahmat. Katanya ia ingin menunjukkan sesuatu.


“Tuan muda belum pulang, tapi beliau meminta saya untuk membeli bangku kecil.” Ujar Pak Rahmat yang membukakan pintu untuk Disa. “Tuh, bangkunya di sana.” Imbuhnya pada sebuah bangku kecil yang berada di hadapan kitchen set.


“Itu buat apa pak?” Disa mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Saya juga kurang tahu, tuan muda hanya meminta saya untuk membeli bangku kecil dengan tinggi 30 cm. itu aja mba.” Terang Rahmat yang menggaruk kepalanya walau tidak gatal.


“Oh ya udah, makasih pak.”


“Iya mba, sama-sama.”


Rahmat pun berlalu sementara Disa segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dan merapikan rambut.


Pekerjaannya di mulai, namun sebelumnya Disa memperhatikan bangku kecil yang di ceritakan Pak Rahmat tadi.


Ia mencoba mendudukinya tapi tidak muat lalu mencoba berdiri di atasnya, Oh ternyata bangku ini dimaksudkan agar Disa bisa meraih kitchen set yang paling atas tempat ia menyimpan mangkuk dan cangkir. Bagaimana bisa tuan mudanya tahu kalau ia tidak bisa meraih kitchen set tertinggi?


Setelah kemarin tiba-tiba Pak Rahmat memberikan tangga kali ini bangku kecil ini yang datang.


Disa melihat ke sekeliling ruangan, apa mungkin ada CCTV atau sejenisnya. Tapi tidak ada kamera


CCTV yang terlihat. Sudahlah, sebaiknya ia masak sebelum tuan mudanya pulang.


*****