
Hari-hari baru di jalani Disa dengan penuh semangat. Bangun pagi ia mengurusi dirinya agar lebih siap melayani suaminya. Mandi, membereskan kamar dan sedikit berdandan agar tampil menarik di hadapan suaminya.
Rutinitas saat di town house ia terapkan di rumah ini. Selesai dengan dirinya sendiri, ia mulai mengurusi Kean. Menyiapkan air mandi, pakaian Kean dan tentu saja sarapan yang ia buat. Hal rutin yang selalu ia lakukan karena Kean sudah sangat terbiasa mengisi perutnya dengan menu sarapan yang ia buat.
Setelah memastikan Kean berangkat kerja, barulah Disa beralih ke kamar Sigit.
Ia mengikuti jadwal yang di buatkan Gina, mulai dari melihat cara Gina membersihkan tubuh Sigit, memberinya lotion pada bagian tubuh yang sering tertekan, mengubah posisi tidurnya, memberi makan hingga exercise. Yang berbeda, Disa ikut melakukannya sambil berbicara.
Banyak hal random yang ia ceritakan pada laki-laki yang hanya terdiam dengan mata setengah terbuka. Tidak memberi respon tidak berarti ia berhenti berbicara.
“Pah, aa katanya mau buka pabrik di luar kota. Dia semangat banget dan mungkin akan sering pulang malem jadi belum bisa menemuin papah.”
“Tapi, disa certain keseharian papah dan aa juga seneng karena kondisi papah semakin membaik.”
Sambil menekuk-nekuk tangan Sigit, Disa terus bercerita.
“Fira minggu ini mengumuman kelulusan. Katanya dia takut nilainya gak terlalu bagus, soalnya gak yakin sama ujiannya.”
“Tapi disa yakin, fira akan lulus dengan nilai bagus. Soalnya dia gak beda jauh dari aa, sangat cerdas.”
Gina ikut tersenyum mendengar Disa yang bercerita seperti pendongeng yang sering siaran di radio-radio. Pita kasetnya tidak pernah habis dan selalu ada cerita baru yang diceritakan Disa pada ayah mertuanya.
Beberapa kali Disa sendiri yang memberi Sigit makan juga obat-obatan. Gadis ini semakin piawai. Banyak hal yang ia kerjakan layaknya perawat yang merawat Sigit dengan sepenuh hati.
Memasangkan stetoscope di telinganya, lantas ia memeriksa paru-paru Sigit seperti yang dilakukan Gina.
“Nafas papah bagus, tidak ada reak.” Ujarnya persis yang biasa Gina katakan.
Beralih pada dada kirinya, Disa mendengarkan bunyi jantung Sigit yang berirama normal.
“Jantung papah juga normal, wah ini sih bakalan cepet sembuh. Papah hebat.” Disa memuji Sigit, untuk menyemangatinya. Entah ini masuk ke pikiran Sigit atau tidak, ia hanya ingin melakukan interaksi sebanyak mungkin.
“Tunggu, kok perut papah agak lepet?” Disa memeriksa perut Sigit yang memang datar.
“Nanti siang disa temenin makan siang ya, papah harus makan yang banyak.”
“Disa mau ke butik dulu, nanti balik lagi ke sini saat papah makan siang.” Sambungnya seraya melepas stetoscope yang melingkar di lehernya.
Setelah selesai dengan urusan Sigit, Disa pergi ke Butik. Memulai pekerjaan barunya di sana. Barang-barang yang di belikan Kean sudah ia tata dan mengisi ruangan. Ada dua orang gadis yang ia pekerjakan di tempatnya. Mereka adalah mahasiswi desain yang kuliah sambil bekerja. Kalau secara usia mereka lebih tua dari Disa karena sudah hampir lulus, hanya satu tahun lagi.
Banyak hal yang Disa lakukan di Butik. Mulai dari membuat desain, mempola bahan hingga menjahitnya menjadi beberapa baju.
Hal ini yang yang menjadi rutinitas harian Disa beberapa hari ini.
Harinya akan ia tutup dengan berbincang santai di balkon atau tempat tidur bersama Kean.
Seperti yang ia lakukan sekarang. Membawakan Kean segelas susu dan air putih sebelum suaminya tidur. Kean tampak kelelahan namun ia masih menyalakan laptop yang di taruh di atas pangkuannya.
“Kerjaan aa masih banyak?”
Disa mendudukan tubuhnya di samping Kean.
“Lumayan. Ada rencana pembukaan pabrik yang sebelumnya kena masalah, harus aku bikin ulang telaahannya.” Terang Kean yang asyik dengan laptop di hadapannya.
Disa terangguk paham. Saat sedang bekerja Kean memang tidak bisa di ganggu.
Disa menegakkan tubuhnya lantas mendekat pada kaki Kean. “Aku pijitin ya a, aa pasti capek seharian pergi ke sana ke sini.” Ujar Disa.
Perhatian Kean teralih pada tangan sang istri yang mulai memijiti kakinya.
“Gak usah sa, kamu juga capek kan. Istirahat aja.”
“Gak pa-pa. Aku sih kerjanya nyantai, kalo capek tinggal tiduran." tersenyum samar.
"O iya, tempat tidur yang aa beliin ternyata ngebantu banget. Kalo punggung aku pegel, bisa langsung tiduran di sana, hehehe...” Jadi menyesal pernah menolak permintaan Kean yang satu ini.
Kean hanya tersenyum. Ia melihat jam di layar laptopnya, sudah hampir jam 10 malam.
Hari ini ia pulang agak terlambat, beberapa saat sebelum makan malam. Lalu dari jam 8 ia tidak henti memandangi layar laptopnya untuk membuat telaahan. Tapi saat melihat Disa mendekat, ia jadi merasa tidak adil. Waktu yang seharusnya ia habiskan berdua dengan Disa, malah ia gunakan untuk bekerja. Meski tidak protes, ia tahu Disa tidak suka Kean membawa pekerjaannya ke rumah.
Saat ini mungkin ia harus lebih peka. Ia mengakhiri pekerjaannya dan menutup laptopnya yang kemudian ia taruh di samping tempat tidur.
“Aa kerjaannya udah selesai?”
“Hem, saat ini sudah selesai. Oh iya, gimana di butik?” berganti Kean yang memberi perhatian. Kebiasaan yang memancing istrinya bersiap mengeluarkan banyak kalimat dengan penuh antusias.
“Em, hari ini aku dapet satu pelanggan. Bukan pelanggan baru sih, tapi tante nita.” Disa tersenyum di ujung kalimatnya. Senang rasanya mendapat satu orang yang mulai memakai jasanya.
“Tante nita ke butik? Untuk apa?” hal itu perlu di tanyakan Kean mengingat Nita memiliki sepupu yang sama-sama memiliki butik. Untuk apa menemui Disa.
“Dia minta di bikinin gaun untuk acara ulang tahun kakaknya. Katanya, tante adela gak bisa buatin soalnya desainer yang kerja sama dia lagi cuti.”
“Beliau juga ngajakin aku Kerjasama sama butiknya tante adela. Tapi aku belum menyetujuinya, takutnya aku gak bisa fokus sama butikku sendiri.”
Kean tampak berfikir. Selalu ada ketakutan saat mendengar Nita mendekat kembali pada Disa. Seperti halnya Arini, Nita pun berusaha keras mendekatkan Disa dengan putranya.
“Sama siapa tante nita ke butik?” pertanyaan ini rasanya penting untuk ia tanyakan.
“Sendiri, di antar supir doang. Dia juga cerita kalau kak reza udah resign dari kampus dan kemungkinan akan lanjut study di inggris.”
Semakin takut kalau Nita sudah bercerita tentang Reza pada Disa. Walau Disa sudah memutuskan untuk menikah dengannya namun ia tahu, istrinya masih peduli pada Reza karena sikapnya yang peduli pada semua orang.
“Berangkat kapan?” penasaran jadinya.
Bukankah semakin baik kalau Reza berangkat lebih cepat. Akh, entah mengapa Kean masih selalu merasa kalau Reza adalah saingannya.
“Aku gak nanya. Mungkin aa bisa nanya langsung.” Tutup Disa.
Ia bisa membaca perubahan ekspresi Kean yang tidak nyaman saat memperbincangkan Reza dalam obrolan mereka.
“O iya, hari ini papah bisa minum susu lebih banyak loh a. Kata suster gina, itu perkembangan yang baik karena papah gak kembung.” Disa mengganti topik pembicaraan.
Setiap malam ia membicarakan tentang Sigit pada Kean, berharap suaminya mulai peduli pada sang ayah.
“Sa, aku kan udah bilang, kamu gak perlu mengurusi yang tidak perlu kamu urusi. Jangan tambah beban kamu sendiri. Toh papah juga udah ada perawat yang ngurus.”
Kean selalu tidak suka saat Disa membahas ayahnya. Baginya cukup ia memberi perawatan yang terbaik untuk sang ayah, sebagai bentuk kewajiban dan tidak bisa lebih.
“A, aku gak ngerasa ini beban kok. Aku seneng ngerawat papah.”
“Coba besok aa liat, papah semakin seger. Kadang tangannya bergerak sendiri dan kata suster gina itu bagus.”
Kean tidak menanggapi, terlalu enggan untuk melihat Sigit apalagi mendekat. Hatinya selalu sakit saat mengingat apa yang Sigit lakukan terhadapnya.
Kean mengambil bantalnya lantas membaringkan tubuhnya. Ia ingin menutup perbincangannya tentang Sigit.
Disa mengerti benar apa yang dilakukan Kean. Seperti biasa ia tidak akan protes. Lakukan secara perlahan, mulai dari menceritakan kondisi Sigit setiap hari agar suaminya tahu bagaimana kondisi papahnya selain itu agar Kean terbiasa dengan mendengar kabar papahnya.
Ikut membaringkan tubuhnya di samping Kean dengan menyamping. Sementara suaminya masih terlentang memandangi langit-langit kamar dengan pikiran yang tidak bisa ia urai.
“Bisakah malam ini kita tidur saja, aku capek.” Ujar Kean tanpa menoleh Disa.
“Hem, tentu. Kita perlu istirahat. Selamat malam a.” lirih Disa dengan senyum tipis yang ia tunjukkan pada Kean.
Ia sadari, ada perubahan yang terjadi pada diri Kean setelah mereka pergi beberapa hari lalu ke rumah Nasep. Entah apa yang ada di pikirannya. Atau mungkin Kean hanya benar-benar lelah saja.
Disa memejamkan matanya, dan perlahan menghela nafasnya dengan dalam untuk menjemput rasa kantuk. Tidak perlu menunggu lama karena ia siap untuk masuk ke alam mimpi.
Kean mulai menoleh dan memandangi Disa yang memejamkan mata di sampingnya. “Maafin aku sa,” batin Kean dengan penuh sesal.
Maghrib tadi, Disa sudah mulai solat, mereka solat berjamaah. Sesuatu yang baru dalam keluarga kecil mereka. Tapi sayangnya, saat ini Kean tidak melakukan apapun. Ia hanya bisa memandangi Disa dengan perasaan tidak menentu.
“Aku mencintaimu tapi aku malah menyakitimu sa.” Batinnya dengan perasaan yang bergemuruh.
Di tatapnya wajah Disa dengan lekat. Jemarinya mengusap wajah Disa yang halus, sangat lembut. Ia mencoba mengurai perasaannya tapi yang ia rasakan hanya sesal, untuk banyak hal.
“Selamat malam, istriku.” Gumamnya yang ia tutup dengan sebuah kecupan di pipi Disa. Ia tersenyum namun hatinya meringis.
“Maaf, maaf…” batinnya seraya memejamkan mata, membawa rasa bersalah itu dalam tidurnya.
*****