
Pekerjaan Disa masih sangat banyak dan mulai ia kerjakan di kamar tamu rumahnya. Hari ini ia sengaja tidak ke butik karena butuh konsentrasi tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Kertas-kertas pola yang sudah di gambari dan tentu saja sisa kain yang selesai ia potong terserak di lantai. Dua buah gaun harus selesai hari ini karena besok pagi rencananya Disa akan berangkat ke singapura dengan Clara.
“Gue setuju, yang abu aja.” Begitu bunyi balasan pesan yang di terima Disa.
Disa menghela nafas lega, akhirnya desainnya di setujui Clara. Lalu baju untuknya? Akh kita lihat saja nanti. Lagi pula ia tidak berniat untuk mengenakan gaun malam saat Clara perform, tampil elegan dengan dress simple yang pernah di sketsanya mungkin akan lebih membuatnya nyaman.
“Syukurlah, tinggal aku jahit. Dduhh...” Disa menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Persetujuan Clara terhadap rencangan yang di buatnya dalam waktu yang mepet seperti memberi angin segar.
Seharian ini ia hanya mengurus gambar dan kain, tidak mengurus dirinya sendiri dan tidak memperhatikan penampilannya yang tidak serapih biasanya. Ia hanya mengenakan hot pants dan kaos oblong kebesaran yang membuatnya lebih nyaman dan leluasa. Rambut panjangnya ia cepol dengan helaian anak rambut yang sesekali ia sibak karena menghalangi pandangannya.
Beruntung Kean berangkat kerja jadi ia bisa tampil apa adanya untuk beberapa saat.
Suara dering telpon memanggilnya dan membuyarkan konsentrasi Disa yang sedang menata potongan kain pada manekin di hadapannya. Menguncinya dengan jarum pentul dan menempelkan jarum pentul terakhir yang ia gigit sebelum menjawab panggilan Mila.
“Ya kak.” Sahut disa setelah menekan mode loude speaker ponselnya.
“De, sory ganggu. Ini ada tamu mau bikin janji minta bikinin baju buat acara pernikahan bulan depan. Gimana mau di terima gak?”
“Em,” Disa tampak berpikir. Menjadi dilema, entah ia harus menerimanya atau tidak, mengingat daftar tunggu pesanan baju buatannya cukup mengantri.
“Tanya dulu kak konsep acaranya gimana? In door atau out door, sama tanggal pelaksanaannya kapan. Nanti aku konfirm ulang bisa atau nggaknya.”
“Tapi dia agak maksa de. Katanya cuma buat dia sama adik iparnya aja. Acaranya in door.”
Disa terdiam sejenak, merasakan kepalanya yang mulai pusing karena seharian memikirkan konsep dan cara mengatur banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
“Ya udah, bilang aja nanti aku konfirm ulang, takutnya malah gak bisa. Kalo waktunya cocok, nanti aku hubungin lagi.”
“Sama tolong kakak kirimin permintaan desain sama baju konsumen yang belum aku selesein. Aku mau liat peer aku masih banyak apa nggak.”
“Bilangin juga sorry, aku gak maksud ngecewain dia.” Tidak enak sebenarnya menolak permintaan dan kepercayaan konsumen padanya. Tapi tidak ada pilihan lain, ia tidak mau karena asal terima saja hasil yang ia buat tidak maksimal.
“Ya udah, nanti aku bilangin. Aku kirimin juga daftar permintaan konsumen.“
“Ngomong-ngomong kamu udah makan belum?” tanya Mila tiba-tiba.
Disa berusaha mengingat. “Belum,” sahutnya lemah. Yang ia ingat ia baru sarapan saja dengan suaminya tadi pagi, sebelum check out dari hotel.
“Jam berapa ini? Kebiasaan deh. Makan dulu lah bentar.” Kekesalan Mila mulai terdengar. Wanita ini memang overprotective dengan caranya sendiri.
“Iya, bentar lagi aku makan. Kakak tenang aja, aku bukan anak kecil. Kalau laper juga aku makan.” Masalahnya ia tidak selera makan melihat pekerjaan sebanyak ini.
“Mau aku pesenin nasi padang gak?” Mila tahu makanan ini pasti berhasil memaksa Disa untuk makan.
“Em, gak usah kak. Kalau mau nanti aku beli sendiri.”
“Ya udah, kalau perlu apa-apa kamu hubungi aku. Dan satu lagi, jangan lupa minum.”
“Iya kak..” seru Disa. Kadang ia berpikir Mila itu cocok untuk jadi brand ambassador penyuluh Kesehatan ginjal karena hobinya mengingatkan minum.
“Ya udah, semangat nona muda!!!!” seru Mila dari sebrang sana.
“Hhahahaa.. Makasih kak.” Sahut Disa sebelum panggilan terputus.
Terputusnya suara Mila membuat suasana kamar kembali sunyi. Hanya suara jam dan detak jantung Disa yang kemudian terdengar. Ia memandangi manekinnya untuk beberapa saat, satu langkah terakhir yaitu menjahit bagian-bagian kecil dari baju dan memberi detail agar semua pekerjaannya selesai. Percayalah yang tersulit itu adalah finishing, karena detailnya banyak.
“Tok tok tok!” suara ketukan di pintu menyadarkan Disa dari lamunannya.
“Aa?” suatu kejutan saat menoleh dan Kean pulang sesiang ini.
Laki-laki itu tersenyum senang lantas menghampiri Disa.
“Aa, kok aku gak denger suara aa pulang? Emang kerjaan aa di kantor udah selesai?” menyalimi suaminya dan mendapat hadiah kecupan di dahi dari Kean.
“Kerjaan aku di rumah lebih penting. Kata mila kamu belum makan?” memandangi Disa dengan penampilannya yang berbeda. Sangat menarik menurutnya.
“Hehehehe… Bentar lagi aku makan kok.”
“Kamu giliran sama aku aja bawel ngingetin makan tapi sendirinya lupa makan.” Mengusap pipi Disa yang ia tangkup dengan tangan kanannya. Wajahnya terlihat lelah, membuat Kean khawatir saja.
“Iya maaf. Ternyata bener, ngebawelin orang lebih gampang daripada ngelakuinnya sendiri.” Cetus Disa yang terkekeh di ujung kalimatnya.
“Dasar, anak nakal.” Kean mencubit pipi Disa dengan gemas.
“Aku bawa makanan, kamu makan dulu ya.”
“Oh ya? Aa bawa apa?” tidak menyangka kalau tuan muda satu ini berniat mengurusi masalah makannya.
“Kamu tunggu di sini, aku ambil dulu.”
“SIAP!” Disa melakukan hormat singkat pada suaminya.
Kean pun pergi mengambilkan makanan, sementara Disa Kembali ke meja jahitnya. Tidak berselang lama, Kean datang dengan sebuah piring, sendok dan ada wangi yang Disa kenal.
“Itu nasi padang a?” konsentrasinya langsung bubar jalan saat mencium wangi nasi padang.
“Iya, mila bilang kalau kamu lagi males makan, cukup beliin nasi padang. Aku malah gak tau kamu suka nasi padang.” Menaruh barang-barang yang di bawanya di hadapan Disa.
“Kan sekarang udah tau. Makasihh suamiku…” dengan senang hati ia membuka nasi padang dalam kertas nasi. Kean meminta kotak nasi agar lebih rapi tapi katanya hanya seperti ini saja cara mengemasnya.
Mata Disa langsung berbinar-binar melihat nasi putih dengan sambal ijo, daging rendang, kuah sayur dan lalapan yang menyatu.
“Ini tuh enak banget a. Sini aa makan sama aku.” Disa menarik tangan Kean untuk duduk di sampingnya.
“Makasih, tapi aku nggak sayang.” Ia tidak terlalu suka dengan penampilan cara mengemasnya. Namun tetap saja ia duduk di samping Disa untuk menemani istrinya makan.
“Ya udah, aku makan dulu yaa… Bismilahirrohmanirrohim.” selera makannya langsung muncul dan Disa tidak ingin menundanya lagi.
“Hem, selamat makan.” Sahut Kean.
Menemani Disa makan, Kean memandangi dua buah manekin di hadapan mereka. Satu baju sudah hampir jadi, yang Kean yakin untuk istrinya sementara satu lagi setengah jadi. Istrinya benar-benar berusaha keras.
Pagi tadi, saat ia masih ingin tertidur di hotel, Disa sudah mengajaknya pulang. Katanya mau menggambar dan belanja kain.
“Apa gak bisa di tunda sayang, bentar lagi aja. Aku masih pengen meluk kamu.” Rengek Kean yang enggan melepaskan pelukannya.
“A, pelukannya nanti lagi yaa… Ini aku mumpung punya ide. Plisss…” Disa sampai memohon membuat Kean tidak tega.
Dan sekarang, jadilah karya yang baru selesai setengahnya namun sudah sangat menarik.
Puas memandangi karya buatan Disa, perhatian Kean teralih pada buku sketsa yang ada di hadapannya.
Ada tulisan “Dream sketch” di atasnya yang di tulis dengan tulisan tangan rapi khas istrinya.
“Ini buku sketsa kamu sayang?” tanya Kean penasaran.
“Hem!” mulut Disa masih penuh makanan.
“Boleh aku liat?” Disa menjawabnya dengan anggukan.
Suatu kehormatan bagi Kean bisa melihat buku sketsa milik Disa. Seperti dugaan Kean, banyak desain yang Disa buat. Yang menarik perhatiannya adalah desain baju anak kecil.
Disa menelan bulat-bulat makanan di mulutnya. “Oh, itu candy.” Sahutnya setelah makanan melewati tenggorokannya.
“Candy?” belum pernah Kean mendengar nama itu sebelumnya.
“Iya, jadi dia itu anak kecil yang suka jadi badut pengibur di ancol kayak aku dulu.”
Tanpa sengaja Disa menyuapkan makanan ke mulut Kean dan ternyata suaminya tidak menolak. Sepertinya Kean juga tidak sadar karena tersihir suara dan gerakan bibir istrinya yang sedikit berminyak, menarik perhatiannya.
“Dia tinggal di panti terus sepulang sekolah dia biasanya minta-minta di jalan, di lampu merah gitu atau nyamperin kerumunan dan minta-minta sama orang-orang.” Bayangan anak kecil itu langsung muncul di kepala Disa. Candy dengan matanya yang sendu dan mengundang iba.
“Aku coba ngajakin dia jadi badut penghibur, aku bilang ini lebih baik dari pada meminta-minta. Karena dua tangan ini fungsinya untuk bekerja, bukan meminta-minta. Dan dia mau.”
“Aku sering mengajaknya ke acara yang ramai, banyak anak kecil atau atraksi menarik di ancol dan dufan. Ngehadirin acara ulang tahun dan acara lainnya yang menyenangkan.”
“Dia bilang, suatu hari dia mau ulang tahunnya di rayain. Pake baju yang bagus dan tiup lilin. Aku sedih ngedengernya. Karena walaupun kami senang melihat orang lain yang berbahagia di hari special mereka, hati kecil kami juga mengharapkan hal yang sama.”
“Tampil dengan special dan dikelilingi orang-orang tersayang.”
“Ya akhirnya aku berpikir, suatu hari aku ingin membuatkan baju untuk anak-anak seperti candy. Aku ingin sekali saja mereka mendapat kesempatan untuk berulang tahun dengan memakai baju ulang tahun seperti anak lainnya, bukan berkostum badut seperti yang kami kenakan. Tapi sayangnya aku belum bisa mewujudkan keinginan itu. aku harap suatu hari nanti akan bisa.” Tandas Disa dengan senyum tipis di ujung kalimatnya.
Kean jadi termangu di tempatnya. Memandangi wajah sang istri dan kembali membuka mulut untuk menerima suapan dari Disa. Nasi padangnya memiliki rasa ketir, seperti bayangan perasaan Disa saat itu.
“Suatu hari, kamu akan bisa mewujudkan itu sayang.” Kean berusaha membesarkan hati Disa.
“Amminn.. Makasih a.” timpal Disa.
Kean hanya terangguk lantas mengalihkan pandangannya dari Disa. Tidak tega rasanya melihat wajah sendu itu dan ia harus mengalihkan pembicaraan.
“Lalu, ini siapa?” tunjuk Kean pada sebuah sketsa laki-laki tanpa wajah.
“Oh, hahahha… Itu aa.” ujarnya yang tertawa riang.
Antara lega dan gemas karena ia yang digambar Disa. Pantas saja ia mengenali postur sempurna ini.
“Itu aku bikin waktu aku pertama kali masuk ke rumah ini.” Terang Disa.
“Loh, kamu kan gak tau kalo aku yang ada di rumah ini?” jadi penasaran bagaimana Disa menggambarkan dirinya.
“Aku denger dari temen-temen pelayan. Mereka nyebutin ciri-ciri aa jadi ya aku gambar.”
“Oh, jadi dulu kamu sering gunjingin aku sama temen-temen kamu?” Kean lebih penasaran pada hal itu. Ia mendekati Disa dan merangkulnya dari samping.
“Hahhahaa.. Bukan gunjingin a. Aku cuma mau tau, majikan aku dulu seperti apa? Soalnya kan aku harus nyiapin baju kerja buat aa, takutnya gak cocok.” Disa berkilah dan memang sebagian besar benar.
“Oh ya?” Kean menatap tidak percaya.
“Ish beneran tau!” Disa mencubit gemas perut suaminya.
“Adududuh sayang, kamu yaa…” Mengusap perutnya yang terasa pedas karena cubitan Disa. Kean membalasnya dengan gigitan di pipi Disa.
“IIhhh aa, bekas makan nasi padang!” protesnya sambil mengusap pipinya yang pasti bau bumbu rendang.
“Hahahahha…” Kean malah tertawa terbahak-bahak. Semua yang ia lakukan memang refleks ingin menggoda Disa.
“Kalo gitu ini aja, kan wanginya sama.” Serta merta Kean meraih dagu Disa lalu mengecup dan mengigit bibirnya dengan sensual.
“Aa!!!” seru Disa kesal.
“Hahhahahaa… Ternyata benar, nasi padang itu enak. Rasanya kenyal dan ada manis-manisnya gitu.” Ledek Kean yang membuat bibir Disa langsung mengerucut kesal.
“Okey sorry, back to topic deh, aku gak ngerjain kamu lagi.” Kean mengusap pucuk kepala Disa dengan sayang.
“Apalagi yang mau aa denger? Aku gak pernah gunjingin aa kok. Kalo temen-temen sih iya ngomongin aa tapi itu juga cuma sebatas ungkapan kekaguman aja.” Cerocos Disa yang masih kesal. Tuh kan keceplosan.
“Oohhh, jadi aku bahan halu kalian?” jeda Kean dengan tatapan laman menggoda pada Disa. Bibirnya menahan senyum sendiri.
“Em, nggak!” Disa langsung mengalihkan pandangannya.
“Nggak apa? Nggak salah?” Kean berusaha melihat wajah Disa yang merona.
“Yaa wajar sih kalo banyak yang ngehaluin aku. Asal mereka tetap sadar kalau apa yang ada di pikiran mereka gak semuanya bisa jadi milik mereka. Halu boleh, ngarep jangan!” Tegas Kean.
“Kalau kamu sendiri, dulu mengagumi aku nggak?” pertanyaan ini penting untuk ia tanyakan.
“NGGAK! Aku gak suka mengagumi sesuatu yang bukan milik aku. Aku lebih suka mensyukuri apa yang sudah menjadi milikku. Aa kali yang mengagumi aku? Eh, dulu kan aa kesel ya sama aku? Makanya sering ngerjain aku.” Disa jadi teringat saat-saat pertama mereka bertemu. Kean pasti sangat kesal padanya.
“Nggak kok.” Kean melingkarkan tangannya di pinggang Disa dan menariknya agar mendekat.
“Sejak pertama kamu masuk ke rumah ini, aku sangat terkesan."
"Ada seseorang yang selalu meninggalkan catatan kecil dengan tulisannya yang rapi, di tempat-tempat yang biasa aku hampiri. Seperti dia bisa membaca apa yang biasa aku lakukan di rumah ini."
"Aku sangat penasaran saat membayangkan bagaimana seseorang yang belum pernah bertemu denganku begitu mengetahui semua tentang aku? Cara aku berpakaian, kebiasaan aku yang berantakan dan tentu saja makanan yang cocok di lidahku.”
“Aku pikir kamu penyihir, karena melakukan semuanya dengan sangat sempurna. Saking penasarannya, aku sampe pasang CCTV di rumah ini.” Aku Kean pada kelakuan isengnya dulu.
“Oh ya? Dimana CCTV nya?Kok aku gak liat?" protes Disa.
"Ada dong di tempat-tempat tersembunyi. Cuma aku yang tau." aku Kean jumawa.
"Hah, beneran ada? Kalo ada CCTV berarti waktu kita anu di kursi kerekam dong? Ih aa,.. malu tau!” Disa menutup wajahnya sendiri karena malu. Tidak terbayangkan kalau adegan panas mereka dilihat orang lain melalui CCTV.
Ya, adegan panas di sofa, di dapur yang tidak author kasih tahu sama kalian, supaya gak travelling. Piisss… ;p
“Hahhahaa… tenang sayang, yang bisa liat rekaman CCTV nya cuma aku. Yang lain gak bisa.”
“Huft, syukurlah…” dengus Disa.
“Tapi CCTV nya di lepas aja a. Aku takut kalo suatu waktu bocor, kan kita gak pernah tau.” Lagi Disa menyuapi Kean dengan nasi padang dan suaminya membuka mulut dengan sukarela.
“Iya sih, nanti aku lepas.” Ada benarnya pikiran Disa. Mereka harus menjaga privasi karena tidak tahu apakah benar-benar aman atau tidak. Teknologi semakin canggih dan orang-orang semakin pintar memanfaatkannya jadi ia tidak mau mengambil resiko.
“Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu.” Kean mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
“Apa a?” ia melihat Kean menekan icon aplikasi chat dan mencari nama seseorang.
“Semalem kamu ngigau nyebut nama nenek terus. Aku pikir kamu pasti kangen. Kita video call ya, nanya kabar mereka?”
“Eem, iyaaa… Tadinya aku mau pulang sabtu ini tapi malah harus ke singapura.” Wajah Disa langsung mengkerut sedih. Cepat sekali matanya merah dan berkaca-kaca.
“Iyaa, setelah kamu pulang dari singapura kita liburan ke bandung atau bisa juga kita jemput nenek dan bi imas ke sini, biar mereka nginep beberapa hari di sini.” Imbuh Kean.
Disa hanya terangguk dengan perasaan haru. Ia tidak menyangka kalau suaminya begitu perhatian padanya.
Beberapa detik kemudian, panggilan video tersambung dengan bi Imas, dengar teriakannya yang sangat riuh. Syukurlah sejenak Disa bisa menghela nafas lega karena bisa melihat wajah nenek dan bibinya untuk melepas rindu.
******