
Suara dentingan piano yang masih sumbang terdengar mengalun dari gallery seni milik Reza. Seorang gadis kecil tengah terduduk di bangku, bersisihan dengan Reza yang tengah mengajarkannya cara memainkan tuts hitam dan putih agar terdengar mengeluarkan melodi yang indah.
Kaki kecilnya bahkan tidak sampai ke lantai tapi semangatnya tidak putus walau sesekali Ellen menertawakan nada sumbang yang ia ciptakan.
Sudah seminggu ini setiap hari sepulang sekolah Ghea datang ke gallery atau ke kampus untuk menemui Reza. Ia bersikukuh ingin belajar piano di banding belajar balet yang menurutnya mulai tidak menarik. Ya seperti itu lah Ghea, saat ada hobi baru yang ia sukai ia akan setengah mati memaksakan kehendaknya agar keinginannya di turuti Ellen. Sama halnya saat ia memaksa untuk ikut les ballet setelah melihat penampilan balerina favoritnya di drama musical yang di gelar di salah satu taman bermain.
“Salah ghe…” ini protes Ellen kesekian kalinya saat mendengar nada Ghea yang tidak enak di dengar.
“Ish, bundaa!! Berisik tau. Aku kan jadi gak fokus.” Dengus Ghea yang akhirnya memukul kasar barisan tuts karena frustasi.
Sedari tadi, entah sudah berapa kali Ellen protes dan itu membuat Ghea kesal. Bibirnya tampak mengerucut dengan kesal.
“Ya bunda kan cuma ngasih tau. Maksudnya ghea ikutin yang om reza ajarin biar cepet bisa.” Ellen berkilah dengan diplomatis.
Reza hanya tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak di hadapannya. Ia mengusap punggung Ghea dengan lembut untuk menenangkan perasaan gadis berkucir dua ini.
“Gak pa-pa, ghea masih belajar. Tapi supaya lebih fokus, coba ghea tarik nafas dulu terus bayangin tangan ghea menari di atas tuts ini. Pasti nanti suaranya lebih enak di dengar.” Terang Reza menengahi.
“Tuh kan bun, aku tuh masih belajar.” Protes Ghea seraya menatap Ellen dengan kesal.
“Oh okey silakan lanjutkan. Bunda gak protes lagi.” Akhirnya Ellen mengalah.
Ia memilih untuk beranjak dari tempatnya, melihat ke sekeliling gallery yang memajang banyak lukisan. Sesekali ia menoleh Ghea dan Reza, lantas tersenyum. Ia pun menyempatkan untuk mengambil beberapa foto dan video Ghea saat tengah belajar piano. Ia tidak pernah menyangka kalau Ghea bisa cepat dekat dengan orang lain di luar dirinya dan pengasuh. Lalu Reza, ia masih tidak menyangka kalau laki-laki ini memiliki kesabaran yang extra menghadapi putrinya.
Dari kejauhan ia menyimak nada yang kembali Reza contohkan. Meski perhatiannya tetap pada lukisan yang ia lihat.
Sebuah ruangan menjadi tempat yang cukup membuat Ellen penasaran. Ia masuk ke ruangan dimana ada sebuah piano dan beberapa easel dengan lukisan yang belum selesai, bertengger di atasnya. Ia memperhatikan dengan seksama dan masih menebak, lukisan apa yang akan di buat oleh sang pelukis.
“Apa ada yang menarik?” suara Reza membuat Ellen tersentak.
Ia mengarahkan pandangannya ke pintu masuk.
“Oh maaf, saya gak minta izin terlebih dahulu untuk masuk ke ruangan ini.” Ujar Ellen yang terlihat cukup terkejut.
“Tidak masalah.” Reza menyodorkan segelas minuman pada wanita yang berdiri di hadapannya lalu duduk di kursi menghadap lukisan.
“Saya baru tahu kalau pak reza juga suka melukis.” Cetus Ellen yang duduk di samping Reza dan ikut memandangi lukisan yang belum selesai itu.
Reza menggeleng dengan segaris senyum di bibirnya. “Ini lukisan milik seseorang. Saya tidak bisa melukis.” Akunya seraya mengusap kanvas yang baru setengahnya di warnai.
“Oh ya? Milik siapa? Pacar pak reza?” pancing Ellen yang tampak penasaran. Ia merasa seseorang yang tengah di bicarakan Reza memiliki kesan yang cukup mendalam untuk laki-laki ini.
“Disa. Lukisan ini milik seorang paradisa sandhya.” Akunya tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan. Kembali ia meneguk minuman di gelasnya dengan tenang.
Ellen mengangguk paham. Terang saja, gadis itu memiliki kesan yang mendalam bagi Reza. Hal itu terlihat jelas dari cara Reza menyebut namanya dengan penuh perasaan.
“Dia salah satu mahasiswi di kampus kita tapi cita-citanya harus berakhir karena ia terpaksa harus bekerja.” Lanjut Reza dengan helaan nafas yang terdengar berat. Seperti tengah menyayangkan kenyataan yang dialami gadis itu.
“Melihat dari lukisannya, sepertinya dia gadis yang berbakat. Lukisan apa yang akan ia buat ini?” Ellen ikut fokus memandangi lukisan di hadapan Reza.
“Iya. Dia sudah melukis sejak masih kecil. Katanya melukis adalah hidupnya. Tapi kemudian ia berfikir, kalau ia tidak bisa mendapatkan uang yang banyak dari hanya sekedar melukis. Konyol.” Reza tersenyum simpul di tengah kalimatnya. Ia mengingat benar saat Disa begitu antusias menceritakan kecintaannya pada melukis.
“Untuk itulah ia memilih jurusan fashion desain di kampus kita. Tapi lagi, langkahnya harus terhenti karena keadaan.” Ungkap Reza sekali lalu menandaskan minuman di gelasnya. Dahaganya tiba-tiba bertambah saat bayangan wajah Disa yang polos melintas di pikirannya.
“Tapi hal itu tidak berlaku untuk ghea.” Tiba-tiba saja Reza menyebut nama putri semata wayang Ellen.
Ellen sedikit mengernyitkan dahinya mendengar kalimat Reza. Laki-laki tampan itu menolehnya dengan segaris senyum.
“Ghea memiliki banyak kesempatan untuk mencoba menjadi apa yang dia mau. Dia gadis yang beruntung karena dibesarkan oleh tangan seorang ibu yang hebat. Bu ellen hanya perlu mendukungnya dan bersabar menemaninya.” Tandas Reza.
Ellen tersenyum kelu. Ia meneguk minumannya kemudian tertunduk seraya memainkan gelas di tangannya. Ucapan Reza seolah mengingatkan ia pada kenyataan kalau ia memang sangat mudah terpancing saat menghadapi Ghea.
“Saya bukan ibu yang baik untuk ghea.” Akunya dengan rasa gamang yang tergambar jelas. Di tatapnya wajah Reza yang sedang memandanginya.
Seiring berjalannya waktu dan intensitas bertemu yang lebih sering, Ellen mulai terbuka. Ia lebih banyak bicara dan tidak terlalu kaku.
“Saya membuang banyak kesempatan untuk ghea merasakan keluarga yang utuh. Saya bermain-main dengan sebuah perasaan yang disebut cinta hingga ia hadir di waktu yang tidak tepat dan dari orang tua yang tidak seharusnya. Ghea hadir karena kesalahan saya.” terdengar helaan nafas dalam sesaat setelah Ellen menyelesaikan kalimatnya.
“Kalau saja saat itu saya tidak terbuai oleh bujukan seorang laki-laki beristri, mungkin ghea akan memiliki orang tua yang utuh. Dan kalau saja saya lebih banyak menggunakan logika di banding perasaan, mungkin saya bisa lebih fokus membahagiakan ghea di banding sibuk menyelesaikan masalah yang sebelumnya saya buat.” Ellen beranjak dari tempatnya. Ia berdiri di hadapan kaca besar yang mengarah ke taman sekali lalu meneguk minumannya yang ia rasakan manis melewati tenggorokannya.
Harus ia akui, masalah hidupnya terlalu banyak. Mulai dari mengurus hak asuh anak, perceraian dengan sang suami yang belum selesai. Terror dari istri pertama yang seperti ingin melenyapkan dan mengubur perasaan suaminya dan tentu saja tuntutan sebagai seorang single mother yang bersiap menyambutnya di depan mata.
Sepertinya alasan kisahnya dengan sang suami sudah selesai masih belum di percayai oleh istri pertama suaminya. Selama sang suami masih terhubung dengannya, maka masalahnya tidak akan pernah selesai. Padahal, ia hanya ingin agar Ghea tetap merasa memiliki orang tua yang lengkap.
Di tempatnya, Reza hanya bisa memandangi sosok Ellen yang mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangan. Kata orang, dalam ilmu kejiwaan itu di sebut teknik butterfly. Berusaha menenangkan diri sendiri dan menganggap semuanya akan baik-baik saja. Ellen memang wanita yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Satu deringan di ponsel menyadarkan Ellen dari pikirannya yang menerawang jauh. Ia segera mengeceknya, dan wajahnya berubah pucat saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
“Halo.” Ujarnya seraya memberi isyarat Reza untuk permisi. Reza hanya mengangguk. Di taruhnya gelas kosong di atas meja.
Ellen berjalan menjauh dari Reza. Sepertinya ia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraannya dengan lawan bicaranya.
“Rupanya benar kalau kamu sudah memiliki laki-laki lain tapi masih mencari perhatian saya.” ujar suara besar di sebrang sana.
Tentu saja Ellen mengenal suara besar milik mantan suaminya.
“Maksud mas apa? Aku gak ngerti.” Timpal Ellen yang masih berusaha tenang.
“Jangan banyak alasan kamu. Sebelumnya marisa melihat kamu bersama seorang laki-laki dan kali ini, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau seharian ini kamu berada di rumah laki-laki. Apa yang kamu lakukan hah? Kamu sedang menjual diri kamu lagi?” gertak Darwin hingga Ellen terperanjat.
“Mas, kamu salah paham. Ini gak seperti yang kamu kira.” Ellen berusaha mengelak. Yang ia lakukan memang tidak sesuai dengan yang di tuduhkan mantan suaminya.
“Hah! Kamu banyak alasan! Melihat kelakuan kamu, saya pastikan hak asuh ghea akan jatuh ke tangan saya!” Darwin terdengar semakin murka.
“Mas, tunggu dulu!” akhirnya Ellen berteriak karena panik mendengar perkataan Darwin. Tapi sayangnya panggilan sudah terputus. Ia mencoba menghubungi ulang Darwin, dan tidak di jawab.
“Shit!” dengus Ellen.
“Ada apa bu ellen?” Reza menghampiri Ellen yang kelihatan bingung.
“Saya harus pulang pak reza.” Ujarnya seraya mengambil tas tangannya lalu menghampiri Ghea. “Kita pulang nak.” Ujarnya, menarik paksa tangan Ghea.
“AWH! Sakit bunda!” seru Ghea yang meringis kesakitan.
“Ayo pulang..” alih-alih mendengar protesan Ghea, Ellen lebih memili pergi.
“Bu ellen tunggu!” panggil Reza yang mengejar Ellen.
“Iya baik, bu ellen boleh pulang. Saya tidak akan melarang. Tapi saya antar.”
“Tidak usah, saya bisa pulang sendiri.” Ellen membuka pintu mobilnya dan menarik tangan Ghea.
“Bunda!! Aku gak mau pulang!!!” seru Ghea seraya terisak. Ia menolak untuk masuk dan berpegangan pada pintu mobil. Sepertinya ia begitu ketakutan melihat Ellen yang tiba-tiba kasar.
“Ghea, kalo kamu gak pulang ayah kamu bakal jemput kamu dan ngambil kamu dari bunda!” seru Ellen yang tanpa sadar meninggikan suaranya pada Ghea. Terlihat bulir air mata yang menetes dari panggal sudut kedua matanya.
“Aku gak mau pulang!” seru gadis itu seraya mengibaskan tangan Ellen dan berlari untuk berlindung di belakang tubuh Reza.
“Ghea, bunda mohon…” lirih Ellen. Ia seperti putus asa kehabisan cara untuk membujuk putrinya.
Reza menatap Ellen dan Ghea bergantian. Ellen yang tampak panik dan Ghea yang ketakutan terus berpegangan pada baju Reza. Rasanya ia mulai mengerti apa yang terjadi di antara Ellen dan putrinya. Maka ia memutuskan untuk menengahi keduanya.
“Ghea, sayang….” Lirih Reza.
Ia menarik tangan Ghea perlahan untuk keluar dari persembunyiannya lantas berjongkok untuk mengimbangi tinggi gadis kecil itu.
“Ghea mau dengerin om?” tanya Reza dengan suara lirih. Ia menyentuh kedua pundak Ghea lantas mengusapnya dengan lembut.
Gadis kecil itu terangguk walau tangisnya masih belum reda. Reza menyusut air mata di kedua pipi Ghea seraya tersenyum tipis.
“Ghea tau tempat terbaik untuk seorang anak cantik seperti ghea?” tanya Reza tanpa mengalihkan paandangannya dari mata hazel milik Ghea. Ia hanya menggeleng. Reza tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia pun menoleh Ellen yang berdiri di belakangnya dan tengah mengguyar rambutnya dengan kasar. Sepertinya ia sangat frustasi namun tetap berusaha terlihat tenang.
“Tempat terbaik untuk gadis kecil yang manis seperti ghea adalah di dekat bunda. Di rumah, saling berpelukan dan menjaga satu sama lain.” Lirih Reza seraya mengusap rambut Ghea dengan sayang.
“Tapi ghea takut. Bunda galak sama ghea.” Gadis kecil itu melirik takut-takut pada ibunya yang tersedu dengan rasa sesal karena bersikap kasar pada putrinya.
“Bunda ghea gak bermaksud seperti itu. Dia hanya,” Reza kembali menoleh Ellen yang sepertinya memang butuh pembelaan. “Ingin melindungi ghea dan tidak mau kehilangan ghea.” Reza melanjutkan kalimatnya dengan segaris senyum yang ia tujukan pada Ellen.
Kali ini pandangan Reza beralih pada Ghea. Gadis itu masih tersedu namun wajahnya tidak terlalu ketakutan.
“Ghea pulang ya sama bunda. Lain kali ghea boleh kok main lagi ke sini, belajar piano atau berlarian di taman samping. Ghea mau?” bujuk Reza.
Gadis cantik itu mengangguk dengan cepat. Garis senyumnya tampak melengkung. Sepertinya ia setuju dengan tawaran Reza.
“Anak pinter. Ghea memang anak bunda yang baik.” Reza memeluk Ghea lantas mengusap pucuk kepalanya.
Ellen yang melihat interaksi Reza dan Ghea, hanya bisa menyusut air mata yang menetes di sudut matanya. Ada ketenangan saat melihat Ghea yang tampaknya begitu percaya dan nyaman di dekat Reza.
“Om reza anterin ghea sama bunda ya… Ghea takut…” rajuk anak manis itu seraya mengeratkan pelukannya pada Reza.
“Tentu. Yuk om anter.” Akhirnya Reza menyanggupi. Ia menggendong Ghea yang masih enggan melepas pelukannya. Membawanya masuk ke mobil dan mendudukannya di jok belakang pengemudi. “Boleh saya pinjam kuncinya bu?” Reza mengulurkan tangannya terbuka pada Ellen.
Walau ragu dan perasaannya tidak enak, Ellen tetap memberikan kunci mobilnya. Mungkin kali ini ia harus mempercayai Reza.
Ya, ia harus belajar mempercayai laki-laki lain setelah semua kepercayaannya di hancurkan oleh mantan suaminya.
******
Ponsel Kean masih terus berdering saat ia tengah mengadakan rapat dengan jajaran manajemen. Beberapa kali kalimatnya terjeda hanya untuk sekedar mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Maaf, saya matikan dulu.” Ujarnya yang selintas melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
“Rahmat?” gumamnya. Security rumah yang menghubunginya beberapa kali dan pantang menyerah sebelum ia jawab.
“Roy, kamu lanjutkan dulu. Saya terima telpon sebentar.” Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan Rahmat yang menurutnya cukup aneh, beberapa kali dan dalam selang waktu yang berdekatan, sepertinya ada yang penting dan mendesak.
Kean sedikit menjauh, keluar dari ruang rapat dan menerima panggilan Rahmat.
“Ya!” jawab Kean saat menerima panggilan Rahmat.
“Ma-maaf tuan saya mengganggu waktu tuan. Tapi ada yang harus saya sampaikan.” Suara Rahmat terdengar tergesa-gesa.
“Ya, kenapa?” Kembali Kean menoleh ke ruang rapat dan Roy tampak mulai melanjutkan pekerjaannya. Ia bisa sedikit tenang.
“Ada orang bule dateng tuan. Saya gak ngerti dia ngomong apa. Tapi kayaknya dia nyari tuan, soalnya dia nunjukin foto dia sama tuan.” Tutur Rahmat yang lagi tergesa-gesa.
“Bule? Seperti apa ciri-cirinya?” Kean cukup terkejut dengan penuturan Rahmat.
“Orangnya tinggi gede, kayak yang main di pelem balapan mobil. Rambutnya pirang sama matanya biru tuan.” Cerocos Rahmat.
Mendengar ciri-ciri laki-laki itu rasanya ia tahu siapa yang datang.
“Terus dimana dia sekarang? Kasih hp kamu ke dia, saya mau bicara.”
“Dia udah ada di pintu tuan, lagi bicara sama disa.”
“Disa?” Kean meninggikan suaranya. Ia bisa membayangkan bagaimana Disa kalau bertemu dengan sahabatnya Adam.
“Iya tuan. Tadi…” Rahmat terus berbicara sementara Kean memilih pergi ke ruang kerjanya untuk mengecek CCTV rumah.
Langkahnya panjang dan cepat. Ia segera masuk ke dalam lift khusus miliknya. Beruntung ia sudah bisa menggunakan lift sehingga ia tidak perlu berlari menaiki tangga darurat.
Tiba di ruangannya Ia segera menyalakan ipadnya dan mengecek CCTV.
Benar saja, ada Adam di sana yang sedang berbicara dengan Disa dengan jarak yang sangat dekat. Ia tahu persis siapa Adam dan bagaimana kebiasaannya memperlakukan Wanita. Entah apa yang akan ia lakukan pada Disa dan Kean mulai merasa khawatir.
“Saya tutup dulu telponnya.” Ia menyudahi untuk mendengarkan cerita Rahmat.
Ia berusaha menghubungi Reza namun beberapa kali panggilan tidak juga di jawab. Sepertinya harus ia sendiri yang pulang untuk memastikan Disa baik-baik saja.
“Roy, lanjutkan rapatnya sesuai bahasan kita. Saya harus segera pulang. Tolong tangani rapatnya dan laporkan pada saya.” Kean langsung memberikan perintah yang panjang pada orang kepercayaannya melalui telpon.
“Ba-baik tuan.” Sahut Roy yang sepertinya sedikit bingung.
Tanpa menungu lama, Kean segera turun ke parkiran. Ia harus secepatnya sampai di rumah sebelum hal tidak terduga terjadi pada Disa.
*****
Hah, Adam.. Kenapa harus bertamu sekarang?