
“Sudah selesai?” tanya sebuah suara yang cukup familiar untuk Disa.
“Sudah mas.” Adalah Roy yang saat ini berdiri di hadapan Disa. Ia mempersilakan Disa keluar dan menutup pintu ruangan bos-nya.
“Mas roy sudah makan?” Disa mulai berbasa-basi. Terlebih ia tidak pernah melihat laki-laki ini makan bersama dengan tuan mudanya.
“Sudah, tadi di cafetaria. Apa tuan muda sudah mulai bekerja lagi?”
“Iya. Sepertinya beliau sangat sibuk.”
“Ya sudah, mari saya antar untuk turun.”
“Em tidak usah mas roy, saya mau ke mushola dulu, belum sholat dzuhur. Kalo boleh tau, musholanya ada di sebelah mana ya?”
“Mari saya antar, saya juga belum sholat.”
“Oh iya, terima kasih.”
Disa dan Roy berjalan menuruni anak tangga menuju lantai 1. Di lantai satu ini memang hanya ada receptionist, sebuah ruangan tunggu, cafetaria dan mushola ada di samping cafetaria.
Rasa penasaran kembali menggelitik Disa dan sepertinya ia bisa bertanya pada Roy.
“Mas roy, saya mau bertanya, apa boleh?”
“Silakan, akan saya jawab kalau bisa.” Roy tersenyum simpul membuat Disa ikut tersenyum.
“Ruangan seorang direktur biasanya ada di lantai paling atas tapi kenapa ruangan direktur kantor ini ada di lantai 2?” Disa memulai pencarian jawaban atas rasa penasarannya.
“Em, itu permintaan tuan muda sendiri karena beliau tidak suka naik lift.” Roy memelankan suaranya di ujung kalimat.
“Tidak suka naik lift?” Disa mengulang sepenggal kalimat Roy menjadi pertanyaan.
“Heem.” Disertai anggukan. “Beliau trauma ruang tertutup” begitu lanjut Roy.
Disa mulai terangguk-angguk. “Tapi bukannya bahaya juga kalo ruang direktur ada di bawah? Kalo nanti ada demo, bisa langsung nyerang direkturnya dong.” Disa bergidik sendiri membayangkan isi kalimatnya.
“Iya, betul. Makanya di sini banyak banget petugas keamanan.” Roy menunjuk orang-orang berpakaian hitam dan rapi yang berdiri di sekitar mereka.
Selintas mereka tidak seperti petugas keamanan dengan pakaian hitam putih yang bertuliskan security, seperti pak Wahyu dan pak Rahmat namun dari stelannya dan earphone yang tersambung ke telinganya, Disa percaya mereka adalah orang-orang yang menjaga keamanan perusahaan ini.
“Kenapa tidak pakai lift yang pake kaca itu loh.” Disa masih dengan rasa penasarannya. Seperti anak kecil yang belum mendapatkan jawaban yang bisa ia terima.
“Em, jujurly kondisi keuangan perusahaan ini sedang tidak baik-baik saja. Jangankan untuk pembangunan ini itu, untuk gaji pegawai saja tuan muda harus berfikir keras.” Roy setengah berbisik agar tidak di dengar karyawan lain.
Mulut Disa membulat tanpa suara, mungkin itu alasan mengapa dahi Kean selalu berkerut dengan pekerjaan yang seolah tidak pernah ada habisnya.
“Yuk, ini musholanya.”
Roy menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan yang cukup besar dan di beri nama mushola.
“Oh iya.” Disa ikut menghentikan langkahnya.
Menaruh kotak makanan, duduk dibangku yang bersisihan dengan Roy untuk melepas sepatunya, lalu beranjak untuk mengambil wudhu.
“Jamaah ya..” seru Roy sebelum Disa masuk ke tempat wudhu khusus wanita.
“Iya mas.” Sahutnya.
Masing-masing mulai mencuci wajahnya, merasakan segar yang meresap masuk ke seluruh tubuhnya. Mencuci bagian tubuh yang harus ia basuh dan selesai.
Disa mengambil mukena yang ada di rak lalu memakainya. Wanginya enak, membuat Disa menciumnya beberapa kali.
Roy yang menjadi imam dan Disa mengikuti di belakang. Gerakan solat yang tertib hingga mereka selesai dalam 4 raka’at dan di akhiri salam.
Baru beberapa saat, ponsel Roy sudah berdering dan ia segera menjawabnya.
“Ya tuan, saya sedang di mushola.” Begitu sahutnya yang buru-buru mengenakan sepatunya. “Baik, saya segera ke atas.” Lanjutnya lagi.
Mengakhiri panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Disa, saya duluan ya.” Ujarnya dengan tergesa-gesa.
Disa mengangguk paham, sepertinya Roy memang sudah sangat di tunggu.
Ia pun memakai sepatunya sambil sedikit melamun. Pikirannya yang kadang terlalu berlebih membuat Disa berfikir di luar normal.
Ia kembali mengingat kalimat Roy saat mengatakan kalau perusahaan ini tidak baik-baik saja. Muncul dalam benaknya kalau untuk mempertahankan sebuah posisi ternyata lebih sulit daripada meraihnya, seperti yang dialami Kean saat ini.
Mungkin ini yang membuat Kean harus bekerja keras hingga sabtu minggu pun ia lembur. Berangkat pagi dan pulang malam dengan wajah lelah demi mempertahankan perusahaan yang ia pimpin.
Sangat mengerikan, ketika Disa hanya perlu berfikir cara mengisi perutnya dengan jalan yang halal, di sisi lain tuan mudanya bekerja keras agar orang-orang yang bekerja di tempatnya tetap mendapatkan haknya atas keringat dan loyalitas yang mereka berikan.
Lebih tinggi posisi, lebih banyak masalah yang harus di hadapi dan lebih besar pula resikonya. Tidak hanya bagi seorang pemimpin tapi bagi orang-orang yang berada di bawahnya. Itu yang dapat Disa simpulkan saat ini.
"Bertahanlah tuan, banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada anda." batin Disa yang entah dari mana asal kalimat itu terucap begitu saja.
Ia hanya sedang mengeluarkan isi pikirannya saja.
*****
Teriknya matahari, membuat Disa mengernyitkan dahinya dengan tangan kanan yang ia gunakan untuk memayungi ubun-ubunnya. Ia berjalan menuju halte bis terdekat, bukan untuk menunggu bis melainkan menunggu taksi yang akan ia gunakan untuk pulang.
Entah kemana perginya para pengemudi taksi, biasanya mereka berseliweran tapi kali ini belum ada satu pun yang lewat.
Disa duduk dengan gusar, memandangi sepasang kakinya yang cukup lelah karena berjalan lumayan jauh. Ia pun merasa tenggorokannya kering dan bodohnya ia lupa untuk membawa tote bag miliknya. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya di tiang halte, mungkin menunggu beberapa menit dulu sebelum ia memutuskan untuk pulang naik bis kota saja.
“Disa!” sebuah suara membuyarkan fokus Disa.
Disa segera menegakkan tubuhnya dan dari kejauhan terlihat sebuah motor yang kembali mundur dan berhenti di hadapannya.
Disa memincingkan matanya berusaha mengenali dua orang laki-laki yang masih memakai kaca mata hitam dan helm.
Semakin lama semakin jelas.
“Kak damar?” gumamnya yang segera menghampiri Damar dan Eko.
“Lo ngapain di sini?” tanya Damar seraya melepas kacamata hitamnya. Ia memperhatikan penampilan Disa dan kotak makanan yang ada di tangannya.
“Lagi nunggu taksi kak. Kalian mau kemana?”
“Nih nganter eko beli onderdil.” Menyikut temannya yang duduk di boncengan.
“Hay sa,.. tambah cakep aja sih. Mau aku temenin gag nunggu taksinya? Ato mau aku anter pulang?” tawar Eko dengan senyum menggoda, memperhatikan Disa dengan seksama.
Sikutan Damar yang menjadi hadiah untuk kelakuan isengnya.
“Awwhh!! Sakit bro! Dasar lo kakak sepupu jahat.” Protes Eko yang mengaduh kesakitan.
Tapi sepertinya Damar tidak peduli. “Mau gue pesenin taksi online?” tawarnya dengan wajah cemas.
“Gag usah, paling bentar lagi juga ada yang lewat. Kalian terusin aja perjalanannya kalo masih ada urusan.”
Damar turun dari motornya dan mendorong Eko untuk sedikit mundur. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggung yang ia pakai untuk menutupi dadanya. Kebiasaannya tidak berubah, menggunakan tas punggung di depan dada, untuk melindungi tubuhnya dari masuk angin. Itu kebiasaan Damar sejak SMP.
“Pake topi, panas banget.” Ujarnya, seraya memakaikan topi di kepala Disa.
Disa tampak tercengang melihat sikap tiba-tiba Damar. Sejak kapan Damongnya Kembali?
“Cieeee,,, EKHEM!!!” goda Eko yang membuat Disa dan Damar tersadar dari saling tatap beberapa detik.
“DISA!!!!”
“YA SAYA!!”
Hah, siapa itu?
*****
POV Kean:
Sebuah panggilan telpon masuk ke ponselku dari salah satu investor dari singapura. Aku segera menjawabnya dan ternyata mereka meminta untuk bertemu. Aku langsung menghubungi Roy, yang sudah terlambat 5 menit dari waktu seharusnya ia tiba di ruanganku.
Di mushola katanya, sejak kapan dia rajin sholat? Pikirku.
Tidak, lebih tepatnya, kapan terakhir aku sholat? Sambil menggenggam benda pipih di tanganku, aku masih memikirkannya.
Tidak lama waktu yang dibutuhkan Roy untuk sampai di ruanganku. Dia datang dengan nafas terrengah, mungkin berlari dan menaiki tangga dari lantai 1.
“Ya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, masih berusaha mengatur nafas.
“Siapkan untuk pertemuan dengan investor dari singapure sore ini. Kita berangkat lebih awal agar bisa menyiapkan semuanya. Bawa berkas kerjasama yang akan kita perbaharui.” Aku langsung memberinya perintah karena waktu kami tidak banyak.
“Baik tuan.” Sahutan yakin yang aku terima seperti biasanya.
“Kamu ada pertimbangan tempat untuk meeting kita dengan mereka?”
“Raffles hotel.”
“Baik tuan.”
Seperti biasa Roy bekerja dengan cepat, ia membuka laptopnya, mencari tempat yang nyaman dan mengabari asisten dari investorku mengenai tempat dimana kami akan bertemu
“Apa anda sudah siap tuan?”
Dia sudah membawa tas kerjanya lengkap dengan laptop dan beberapa berkas.
“Hem.” Aku segera mengenakan jasku, mengambil ponsel dan memberikan satu berkas yang masih harus ia bawa.
Kami keluar dari perusahaan dengan langkah cepat. Seperti biasa Roy selain dia asistenku, dia juga yang menjadi sopirku sekarang, itu pun setelah terlibat debat cukup panjang dengan papah dan Marwan.
HAH!! Masalah sopir saja harus mereka yang mengatur padahal aku sudah bukan anak kecil. Aku masih mengingat kekesalanku saat itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari perusahaan. Aku mulai disibukkan dengan ipad di tanganku yang menjadi benda penting selanjutnya setelah ponsel.
Belum lama melaju, tiba-tiba Roy menginjak rem hingga membuat ipadku nyaris terjatuh.
“Ada apa?!” suaraku sedikit keras karena kesal dia menginjak rem tiba-tiba.
“Anu tuan, itu disa di ganggu siapa ya?” ujarnya yang melihat ke lajur kiri.
“Menepi dulu, kamu mau kita mati tertabrak kendaraan lain?!”
“Maaf tuan.”
Roy melajukan mobil sedikit maju ke depan, lalu berhenti. Aku menurunkan kaca jendelaku dan ku lihat benar saja, ada 2 laki-laki yang sedang berbincang dengan pelayan itu.
Tapi, apa peduliku, kenapa aku harus ikut memikirkannya?
Roy turun lebih dulu, sepertinya dia sedang menunjukkan jiwa heroiknya dengan dada membusung.
Argh! Buang-buang waktu saja, dengusku.
Aku hanya memperhatikan dari dalam mobil. Roy berjalan menghampiri mereka, ayolah Roy kamu bukan kakaknya atau walinya sampai harus ikut campur.
Tapi jika ku perhatikan, salah satu laki-laki itu mulai turun dari motor. Menghampiri pelayanku lalu menyentuh kedua pundaknya. Sial, wanita itu hanya terdiam, kenapa dia bodoh sekali malah mematung seperti manequeen.
Apa mungkin dia di hipnotis?
Tunggu, aku harus turun. Ini cukup berbahaya, mengingat dia juga masih bawahanku.
Aku segera turun dari mobil dan membanting pintu dengan kasar. Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, jangan-jangan senjata tajam atau semacamnya.
“DISA!!!!” teriakku dengan keras.
“YA SAYA!!”
Dengar, dia menjawab panggilanku seraya menoleh. Harus aku akui refleksnya memaang sangat bagus.
Dan lihat, sepertinya ia mulai tersadar dari pengaruh hipnotis.
Lalu benda yang dikeluarkan itu,
HAH, topi?
Sial, aku pikir senjata tajam atau pistol tapi nyatanya hanya sebuah topi yang kemudian di pakaikan oleh laki-laki di hadapannya.
Aku mendekat, mengampirinya dan memandang wajah polosnya yang tampak melongo.
“Tuan muda?” ujarnya seraya melepas topi yang dipakaikan laki-laki itu.
Kenapa Roy menghentikan langkahnya, membuatku seolah menjadi tokoh utama dikejadian ini.
“Sedang apa kamu?” terpaksa aku bertanya.
“Sa-saya sedang menunggu taksi.” Akunya dengan tergagap.
Kenapa sih dia harus tergagap setiap kali aku bertanya? Dan kenapa dia selalu menunjukkan wajahnya yang cengo dan membuatku gemas sendiri?
Hah, gemas?
Aku melirik laki-laki di hadapan Disa yang tampak menatapku dengan tidak suka.
“Oh, perkenalkan tuan, ini kakak sepupu saya.” Dengan cepat dia memperkenalkan laki-laki itu. Sepertinya ia ingin segera mengklarifikasi hubungan mereka. Untuk apa, toh aku tidak peduli.
Laki-laki di hadapan Disa mengulurkan tangannya. Aku menatapnya sejenak, walau malas kami tetap berjabat tangan singkat.
“Kalau belum dapat taksi, naik ke mobil sekarang.” Perintahku.
“Ta-tapi tuan,..” dengar dia gagap lagi. Tapi dia tidak melanjutkan kalimatnya dan jika ku lirik, sepertinya Roy sedang memberinya kode.
“Baik tuan, terima kasih atas kebaikan tuan.” Dia mengganti kalimatnya. Aku yakin, tadi dia tidak bermaksud mengatakan itu.
Aku tidak menyahuti, aku segera berbalik dan kembali menuju mobil. Sumpah, matahari Jakarta terlalu panas menyengat ubun-ubun kepalaku.
“Kak, gue pergi dulu ya. Kak eko, sampe jumpa. Salam buat tante meri sama ibu kak eko.”
Sayup-sayup aku mendengar suaranya dan sepertinya benar kalau laki-laki yang menatapku dengan tidak suka itu adalah kakak sepupunya.
“Hem, hati-hati di jalan.” Begitu timpal laki-laki itu.
“DISA!!” lagi aku berteriak.
“YA SAYA!!” dan lagi, dia menyahuti dengan cepat dan keras, membuatku sedikit tersenyum.
“Bye!” dia melambaikan tangannya pada kedua laki-laki itu.
Aku masih bisa melihatnya dari spion kiri saat dia setengah berlari menuju mobil di susul Roy yang ikut berlari kecil di belakangnya membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya duduk di sampingnya.
“Maaf membuat anda menunggu, tuan.” Begitu ujarnya saat ia sudah masuk dan menengok padaku yang duduk di belakang Roy.
Aku tidak menyahuti, lebih penting bagiku untuk melanjutkan pekerjaanku.
Roy mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang sering padat merayap dan membuat kepalaku berdenyut pusing.
Aku yang sedang fokus dengan pekerjaanku, mendadak teralihkan saat mendengar bisik-bisik Disa dan Roy.
“Mas roy, ini mau kemana? Emang kita lewat rumah tuan muda?” begitu isi pertanyaan yang dia bisikkan pada Roy.
Jangan bodoh, aku masih mendengarnya. Dan melihat mereka yang saling berbisik, justru membuat daun telingaku semakin meruncing siaga dan terbuka.
Tunggu, sejak kapan mereka akrab?
“Kami lewat jalan menuju town house kok.” Bisik Roy yang diangguki Disa. Dia bahkan tersenyum.
“Nanti saya turun di pangkalan ojek dekat situ saja, supaya gampang ya mas. Maaf merepotkan.”
“EHM!” aku berdehem keras dan keduanya segera menjauhkan tubuh masing-masing tanpa berani menolehku. Namun tetap saja Roy mengangguk mengiyakan permintaan Disa.
Hah, konsentrasiku bubar jalan.
“DISA!”
“YA SAYA!” dia langsung duduk siap.
“Nanti malam saya mau makan pasta dan siapkan air mandi.”
Aku mengulang perintahku se jam lalu. Sebenarnya aku tidak perlu mengulang kalimat itu, hanya saja aku tidak suka melihat mereka saling mendekat dan berbisik.
“Baik tuan.” Mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Di depan, Roy menghentikan laju mobil. “Udah nyampe sa,” dengar mereka semakin akrab.
“Makasih mas roy.” Bisiknya seraya tersenyum.
Roy mengangguk lalu memberi kode untuk menolehku dan aku pura-pura tidak peduli dengan mengusap dahiku, acuh. Kenapa juga aku harus seperti ini?
“Tuan muda, terima kasih atas tumpangannya. Saya turun lebih dulu. Selamat bekerja kembali. Semangat!!!” Lagi, kalimat sesuai KBBBI yang dia lontarkan.
Eh tunggu, ujungnya apa tadi? Lihat, dia juga tersenyum dan mengepalkan tangannya memberiku semangat. Apa coba maksudnya?
“Hem,” aku menjawabnya seperti itu. Dan jawabanku yang seperti itu cukup membuatnya senang.
Dia segera membuka pintu mobil dan turun. Setelah menutup pintu, dia mengangguk sopan dan baru melanjutkan langkahnya setelah mobil kami mulai melaju.
Hah, ada-ada saja.
*****