
Ini kali pertama Disa menemui seseorang yang terbaring di atas tempat tidur dan tidak bisa melakukan apa pun. Tidak bisa di hindari, walau ragu ia tetap harus melakukannya. Setelah beberapa jam lalu menerima lamaran Kean sebagai calon istrinya, ia menemui Sigit di rumah sakit.
Sigit di tempatkan di ruangan khusus yang di jaga oleh seorang petugas medis yang rutin memeriksa kondisinya secara berkala. Bukan ruang ICU namun ruangan khusus yang di minta Marwan agar tuan besarnya tetap merasa nyaman namun terpantau.
Beberapa alat bantu di tubuhnya sudah di lepas. Tidak ada selang oksigen atau semacamnya karena Sigit bisa bernafas dengan normal. Hanya sebuah selang infus yang masih tertancap di punggung tangan kirinya untuk membantu memberi cairan ke dalam tubuhnya juga obat-obatan yang di suntikan di sana, selang makan yang dimasukkan melalui hidung dan monitor yang memantau kondisi Sigit selama 24 jam penuh.
Tanda-tanda vital Sigit dalam kondisi baik, layaknya orang normal pada umumnya hanya saja ia tidak bisa bangun. Kondisi vegetatif itu sudah berjalan sekian lama dan Sigit masih dalam kondisi yang sama terbaring tidak berdaya entah sampai kapan.
Sedikit ragu untuk mendekat, Disa khawatir jika kemudian ia mendekat lalu tiba-tiba monitor di samping Sigit menunjukkan perubahan yang tidak di inginkan seperti di film-film, apa yang harus ia lakukan? Ia tahu benar bagaimana tuan besar sekaligus calon ayah mertuanya ini membencinya. Bukan tidak mungkin jika alam bawah sadarnya pun menolak kehadiran Disa.
Tapi, hal itu tidak bisa di jadikan alasan untuk Disa tidak mendekat pada Sigit. Saat kelak ia menikah dengan Kean, maka laki-laki ini pun akan resmi menjadi bagian dari hidupnya dari keluarganya yang harus ia jaga hubungannya agar tetap baik. Karena sejatinya, pernikahannya kelak itu bukan hanya menikahi satu orang Kean, melainkan ikut menerima keluarganya meski Sigit belum bisa menerimanya.
Di dekatinya Sigit dan di tatap lekat wajah laki-laki yang masih memejamkan matanya. Wajahnya lebih tirus dari sebelumnya dengan jemari tangan yang kurus. Beberapa hari dalam kondisi ini ternyata telah memberi banyak perubahan pada Sigit walau kharismanya sebagai tuan besar tidak pernah pudar.
“Assalamu ‘alaikum tuan,..” sapa Disa yang berdiri di samping Sigit.
Di raihnya tangan kanan Sigit yang tidak terpasang infus lalu di kecupnya dengan lembut.
Selama ini Disa hanya mendengar kondisi Sigit dari Shafira, sementara Kean cenderung lebih tidak suka membahasnya. Ia bahkan seperti enggan mengingat kalau Sigit masih ada di tengah-tengah mereka. Semua keputusan ia ambil sendiri tanpa melibatkan siapa pun. Hanya Arini yang ia ajak bicara untuk semua keputusan yang akan ia ambil.
Mungkin ini yang berbeda antara anak perempuan dan laki-laki. Saat dewasa, anak laki-laki cenderung lebih mudah mengambil sikap terlebih saat merasa sudah di abaikan sekian lama sementara anak perempuan, ia masih selalu memerlukan orang tuanya seperti yang di alami Disa dan Shafira.
Tidak ada respon, Sigit masih terdiam tidak memberi respon apa pun.
Duduk di kursi samping tempat tidur Sigit, Disa menatap lekat wajah di hadapannya. Baru kali ini ia berani menatap Sigit, setelah sekian kali bertemu ia hanya bisa menunduk dengan perasaan takut.
“Bagaimana kabar tuan hari ini?” pertanyaan itu yang kemudian ia tanyakan.
Dengan Sigit diam saja, tentu laki-laki ini tidak baik-baik saja. Namun dengan bertanya, ia berharap kalau Sigit merasakan bahwa masih ada orang-orang yang memikirkan dan mencemaskannya.
“Tuan,” Disa menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, ada hal yang menyesakkan yang harus di tahannya.
“Kemarin, saya menerima lamaran aa.”
“Em, aa itu panggilan baru saya untuk tuan muda.” sedikit menerangkan sambil mengingat bagaimana ekspresi senang Kean saat ia memanggilnya dengan panggilan itu.
“Saya memutuskan untuk menjadi bagian dari keluarga tuan walau tuan selalu bilang saya tidak pernah layak menjadi bagian dari keluarga besar ini.” sesak ini yang harus di tahan Disa agar tidak menangis. Nafasnya sedikit tercekat namun ia masih baik-baik saja.
“Saat saya menerima lamaran aa, saya tidak melihat beliau sebagai seorang kean malik hardjoyo seorang pewaris dari sebuah group perusahaan besar."
"Saya hanya melihatnya sebagai laki-laki dingin namun terkadang manis, serta laki-laki bertanggung jawab yang saya cintai. Hanya itu tuan.”
“Saya tidak pernah berfikir kalau saya beruntung karena akan menikah dan menjadi nona muda di keluarga ini. Tapi saya merasa sangat beruntung karena saya akan menghabiskan hidup saya dengan laki-laki yang saya pilih dan menerima segala kekurangan saya.”
“Saya mencintai aa, hanya itu alasan saya menerimanya.” tegas Disa dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan takut saya mengambil apa yang tidak seharusnya saya ambil. Saya sudah terbiasa berdiri di atas kaki saya sendiri walau apa yang saya capai tidak setara dengan apa yang aa punya.”
“Saya pasti menyayangi anda sebagai ayah dari suami saya dan saya harap, perlahan tuan bisa menerima saya sebagai istri dari putra anda. Bisakah tuan?” Disa berusaha tersenyum walau kemudian air matanya menetes pelan.
Ia tahu, bagian tersulit dari perjalanannya bersama Kean adalah menghadapi Sigit. Walau laki-laki ini terbaring tidak berdaya, namun apa yang pernah dikatakan dan dilakukan Sigit tetap memberi pengaruh pada ketenangan Disa dalam menjalani kehidupan barunya kelak.
Sigit tetaplah Sigit yang saat ini tidak berdaya sama sekali. Setengah kelopak matanya terbuka seperti tidurnya tidak benar-benar lelap. Satu hal yang ia tahu kalau otak Sigit tidak bisa merespon apa pun yang terjadi di sekitarnya namun mungkin saja hatinya mengerti. Maka tidak ada salahnya jika ia tetap berusaha memberi perhatian lebih.
“Teh,” panggil Shafira dari pintu ruangan.
Disa segera menyusut air matanya dan menoleh gadis itu yang ragu untuk masuk.
“Sini,” panggilnya dengan segaris senyum.
Shafira mendekat dan memperhatikan mata Disa yang sembab.
“Abang nyariin teteh, katanya jangan lama-lama sama dady.” lirih Shafira yang menatap Sigit takut-takut.
Ia tidak seberani Disa duduk di samping Sigit dan berbicara walau entah apa yang mereka bicarakan. Lihat, jarak mereka sejauh itu walau darah Sigit adalah bagian dari jantung Shafira yang berdegub kencang. Satu sama lain terlalu asing tidak seperti ayah dan anak.
Dan Kean, masih saja mencemaskannya walau ia tahu Sigit tidak mungkin melukainya.
“Iya, nanti teteh keluar. Fira duduk di sini ya dan coba ngobrol sama dady. Mungkin beliau kangen sama fira.” menarik tangan Shafira untuk duduk di sampingnya.
“Fira ngobrol apa sama dady? Dady kan gak ngerti juga kan apa yang fira omongin.” memandangi Sigit dengan ragu.
Disa hanya tersenyum lantas meraih tangan Shafira untuk ia sentuhkan dengan tangan Sigit.
“Fira bisa ngomong apa aja, walau otak dady tidak merespon apa pun, tapi teteh yakin dady bisa merasakan perhatian fira. Coba saja.” bujuk Disa.
Shafira tampak ragu, ia menyentuh tangan Sigit dan perlahan menggenggamnya. “Dady,” lirihnya dengan tangis tertahan.
Disa mengusap bahu Shafira dan berusaha menguatkannya. Walau Shafira terlihat acuh tapi ia yakin, Shafira sangat peduli pada ayahnya.
“Nikmati waktu fira bersama dady yang sebelumnya hanya jadi harapan. Ini kesempatan yang baik, bicaralah yang banyak. Ceritakan semua yang mau fira ceritakan, walau tidak merespon, paling tidak dady mendengarkan. Sesuatu yang selama bertahun-tahun fira inginkan bukan?”
Shafira hanya terangguk. Seketika bayangan waktu yang ia lewati tanpa Sigit berputar di ingatannya. Disa benar, selama ini ia tidak pernah berbicara dengan Sigit layaknya seorang ayah dan anak. Mereka terlalu asing satu sama lain dan hanya bisa saling menyalahkan atas masalah yang terjadi di rumah ini.
Lalu, benarkah ini kesempatan yang baik?
"Dady," lagi Shafira memanggil Sigit dengan suara tercekat.
Disa tersenyum melihat usaha yang baru di mulai Shafira. Mungkin sebaiknya ia menemui calon suaminya yang sedang cemas dan membiarkan Shafira memiliki lebih banyak waktu dengan Sigit. Anggap saja ini untuk membalas waktu mereka yang sekian lama tidak mereka lalui bersama.
********