Marry The Heir

Marry The Heir
Permintaan maaf



Kean masih senyum-senyum memandangi wajah Disa yang berada tepat di hadapannya dan hanya berjarak beberapa senti saja. Sesekali ia iseng menggoda Disa dengan mencondongkan tubuhnya mendekat pada istrinya yang tengah memasangkan dasinya. Lihat, istrinya tersipu.


Semakin lama di pandangi, wajah Disa semakin cantik membuat Kean enggan untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Keisengannya bertambah dengan mendekatkan wajahnya berusaha mencium bibir Disa yang sedikit merah, namun Disa segera menghindar dan mengulum tersenyum.


“A, nanti kita terlambat lagi. Kita kan ada meeting jam 9 ini, sementara aku belum nyiapin apapun.” Ujar Disa berusaha memberi pemahaman. Satu kecupan yang dilakukan Kean, bisa di jamin akan diikuti dengan aktivitas lainnya yang membuat Disa tidak bisa menolak. Kean seperti memahami benar cara menyentuh sang istri agar terlarut dalam rengkuhannya. Maka selagi bisa lebih baik ia menghindar.


“Haisshh!” Kean mendengus kesal, kalau bukan karena pekerjaan yang menunggu mereka, ia sudah mengulang beberapa kali pergulatannya pagi ini dengan Disa.


“Aku masih pengen sayang,” Kean kembali mendekat, berusaha mencium Disa. Kali ini Disa tidak terlalu menghindar. Membiarkan Kean mencium bibirnya lalu lehernya yang membuat bulu kuduknya meremang.


“Mulai besok, kita malem aja yaa jangan pagi-pagi biar gak riweuh.” Pinta Disa dengan nafas tersengau-sengau dan mata terpejam menikmati sentuhan bibir Kean yang menelusur garis lehernya.


“Kasih bonus pagi dong, aku janji satu kali aja.” Bisik Kean yang di akhiri dengan gigitan lembut di daun telinga Disa.


Disa menggeliat geli, “Aa susah banget di ajak komprominya.” Disa tersenyum samar, mengusap pipi suaminya lantas sedikit menjauh.


“Loh, mau kemana?” cepat sekali bola bekel ini berpindah padahal Kean masih menikmati menyesap wangi tubuh istrinya.


“Dasi aa udah rapi, jasnya pake sendiri yaa.. Aku keringin dulu rambut bentar, okey papa?” Disa mengedipkan mata kanannya pada Kean lantas beralih menuju meja rias. Mengambil pengering rambut dan mulai menyalakannya.


Di tempatnya Kean berkacak pinggang seraya memandangi wajah Disa dari pantulan kaca dengan segaris senyum.


Beberapa hari ini, hampir 24 jam mereka bersama-sama. Kean yang sedang membantu Disa mengatur manajemen butiknya, juga mencari rekanan untuk vendor penjahitan baju, membuat mereka selalu bersama. Hanya sekali-kali ia ke kantornya untuk mengecek pekerjaan, sisanya ia mengerjakan pekerjaan di butik Disa.


Tapi sepertinya, waktu 24 jam tidak selalu cukup untuk pasangan yang selalu dimabuk cinta.


“Loh, kok ngeliatin akunya gitu banget sih?” Disa jadi memperhatikan Kean yang menatapnya di cermin. Laki-laki itu tersenyum lantas mendekat. Duduk di samping Disa, mepet-mepetan di bangku yang Disa duduki.


“Kamu mantrain aku pake apa sih? Kok aku pengen deket kamu terus ya?” rengek Kean yang memeluk Disa dari samping dan menempatkan kepalanya di bahu Disa.


“Hahhahaa… Mana ada aku mantrain aa.” Kilah Disa. Sudahlah sepertinya ia tidak bisa mengeringkan rambutnya karena suaminya sedang benar-benar nempel.


Menaruh kembali pengering rambutnya dan hanya menyisirnya saja. Biarkan saja rambutnya kering alami, paling Shafira yang menggodanya.


“Tapi iya sih, aku memang mantrain aa, 5 kali sehari malah. Wah manjur banget ya mantra aku?” ujar Disa dengan bersungguh-sungguh.


“Oh ya? Gimana mantranya?” balas menatap Disa lekat, penuh penasaran.


“Bener nih aa mau denger?”


Kean terangguk manja sambil mengulum senyum. Penasaran juga seperti apa Disa memantrainya.


Tanpa ragu Disa menengadahkan tangannya seraya memejamkan mata. “Ya allah, aku mencintai hambamu yang engkau takdirkan sebagai suamiku. Aku bersyukur atas segala anugrah kasih sayang di antara kami. Tautkan selalu hati kami ya allah, selamanya sehidup sesurga. Aamiin…” Disa mengusap wajahnya dengan kedua tangan lantas kembali memandangi Kean.


“Aaminn…” Kean ikut mengamini sambil tersenyum. "That's all?" tanyanya. Disa terangguk yakin.


“Pantes aku cinta banget sama kamu, mantra kamu kamu ucap langsung di hadapan allah.” Kean menatap kagum wanita yang selalu menjaga kewajiban muslimahnya ini.


“Iya lah a, kan hanya allah yang maha membolak balikkan hati manusia. Jadi mintanya sama yang punyanya langsung.”


“I see.” Kean mulai menegakkan tubuhnya. “Meeting hari ini, kamu gak usah ikut ya?” imbuhnya kemudian. Mengambil sisir dari meja rias dan menyisirkannya ke rambut Disa. Sangat hati-hati.


“Kenapa a? Aku kurang cepat tanggep ya sama materi rapat?” pikiran Disa mulai kemana-mana. Ia akui, ia memang masih belajar soal bisnis, kadang perlu penjelasan lebih dari Kean di belakang layar.


“Bukan. Aku gak suka aja cara rekanan kita natap kamu. Pengen aku colok matanya.” Gerutu Kean, tidak suka.


“Hahhahaha… Maksudnya aa cemburu?” ledek Disa, membuat suaminya menggeram kesal.


“Ya, bukan gitu. Maksud aku gak pantes aja lagi rapat terus pas kamu presentasi dia senyum-senyum gak jelas. Kalo gak inget kita udah tanda tangan kontrak, aku hajar juga itu laki-laki.” Tangan Kean sampai mengepal, sepertinya ia benar-benar kesal pada laki-laki bernama James itu.


“Okey, aku akan nurut. Tapi, aa minta mas roy ngajak kak mila ikut yaa, soalnya biar nanti dia yang ngejelasin ke aku. Atau kalau boleh di rekam, jadi aku paham apa yang kalian bicarain.”


Baru kali ini suaminya mengungkapkan kecemburuannya. Beberapa kali bertemu dengan James, laki-laki itu memang memberi perhatian lebih. Mulai menjamu makan siang dengan menu makanan yang katanya dia tahu sebagai makanan favorit Disa, menghadiahi cindramata perkenalan dengan barang mewah. Walau bukan kategori suap untuk meloloskan kerjasama mereka tapi sikap James memang berlebihan.


“Tapi, satu hal yang harus aa ingat.” Disa meraih tangan Kean yang kemudian ia genggam. “Aku memang gak bisa mengendalikan sikap atau pikiran orang lain terhadap Aku, tapi aku tahu cara memberi batasan pada laki-laki lain walau tidak dalam pengawasan suamiku.”


“Begitupun dengan aa, aa bisa bertemu wanita manapun, bekerja sama dengan banyak pengusaha wanita. Dan aku tau banyak wanita yang mengagumi aa, tapi aku yakin aa pun bisa memberi batasan pada wanita lain, tanpa perlu aku pinta. Hem?” Tegas Disa dengan penuh keyakinan.


Kean tercenung di tempatnya. Ia jadi teringat pada Ester, calon rekanan yang kemudian gagal. Sikapnya sangat agresif terhadap Kean walau Kean sudah mengatakan bahwa Disa adalah istrinya. Saat itu Disa bersikap biasa saja melihat tingkah Ester. Ia hanya tersenyum pada Kean dengan tatapan laman. Ia tahu, tanpa berkata-kata Disa telah mengisyaratkan ketidaksukaannya pada sikap Ester, maka ia bener-benar membuat batas dengan wanita tersebut. Mungkin inilah yang Disa maksudkan.


“Hem, I know sa.” Di bawanya Disa ke dalam pelukannya, lantas ia dekap dengan erat. “Hanya kamu yang akan selalu menjadi satu-satunya buat aku sayang.” Tegas Kean sekali lalu mengecup pucuk kepala Disa dengan lembut.


Untuk beberapa saat mereka berpelukan, menikmati debaran jantung satu sama lain yang saling memanggil namanya.


“Mama,, papa…” suara ketukan di pintu dan suara Naka terdengar bersamaan.


“Yes honey,.. Come in..” seru Disa. Ia pun melepaskan pelukannya dari Kean. Benar bukan, hanya Naka yang bisa mengambil alih perhatian istrinya.


Pintu kamar terbuka dan Naka yang sudah berpakaian rapipun berlari masuk.


“Hay baby…” Disa menggendong sang putra dan menciuminya.


“Mama, papa let's have breakfast.” Ajaknya. Berusaha menghindar saat Disa menciuminya.


“Okey, let’s go.” Disa hendak mengambil tas tangan miliknya namun lebih dulu Kean mengambilkan dan membawanya. “Thanks papa…” satu kecupan dihadiahkan Disa di pipi sang suami.


“You’re welcome.” Ia membalasnya dengan mencium dahi Disa dan pucuk kepala Naka.


“Have you taken a bath naka?” tanya Kean pada sang putra.


“Yaps papa. Grandma help me to take a bath.” Terang Naka yang tersenyum ceria.


“Okey, good boy!” diacaknya rambut Naka dengan gemas. Anak kecil ini seperti semangat kedua bagi Kean untuk memulai dan menyelesaikan harinya dengan cepat.


Tiba di ruang makan, Naka langsung minta turun. “Good morning grandma, grandpa. Where’s Aunt Fila?” Panggilan kesayangannya pada Shafira. Ia memandangi kursi Shafira yang kosong, tidak biasanya.


“Morning naka. Maybe aunty fila-nya masih siap-siap.” Timpal Arini.


“Iya kok tumben ya? Dia baik-baik aja kan?” tanya Disa pada Arini.


"Sampe malem mamah gak ketemu fira, sepertinya pulangnya larut banget." jelas Arini.


“Kenapa kamu gak ngasih tau saya kinar?” tanya Arini.


“Em, saya.” Kinar bingung harus menjawabnya seperti apa. “Nona muda meminta saya untuk tidak mengganggunya. Sepertinya beliau sedang sedih.”


Disa jadi memandangi kursi tempat biasa Shafira duduk. Gadis itu tidak berbicara apapun sebelumnya tapi tiba-tiba saja mengurung diri seperti ini.


"Semalam dia pergi dengan teman laki-lakinya. Firasat papah udah gak enak sejak dia izin mau pergi." Sigit ikut berkomentar. Semalaman ia memang tidak tenang mengingat Shafira pergi dengan laki-laki asing.


“Aku cek bentar ya,” Disa beranjak dari tempatnya.


“Iya sayang,” sahut Arini.


“Selamat pagi, om, tante.” Baru Disa akan berlalu, sudah terdengar lebih dulu suara Reza yang menyapa.


“Reza, pagi. Ayo sini gabung sarapan.” Tawar Arini dengan ramah.


“Oh iya tante, makasih. Aku sebenarnya ada perlu sama disa dan kean.”


“Sarapan dulu kak, nanti kita bicara.” Disa jadi mengurungkan niatnya untuk menemui Shafira. Ikut duduk untuk sarapan dan memandangi Kean seolah bertanya ada apa.


Kean hanya mengendikkan bahunya.


“Makasih sa.” Reza tidak terlihat sesemangat biasanya. Ada apa sebenarnya?


****


“Lo emang, **!!! ” dengus Kean, setelah mendengar penjelasan dari Reza tentang kejadian semalam.


Ia sampai berdiri dari tempatnya setelah mendengar semuanya dan, “Bruk!” di tendangnya kursi taman yang semula ia duduki hingga terjungkal.


Kepulangan Shafira semalam yang sambil menangis dengan tangan terperban ternyata karena perdebatannya dengan Reza, sahabat yang ia harapkan bisa menjaga adiknya.


“Bro, gue tau gue salah. Gue minta maaf. Gue gak nyangka kalo shafira bakal berpikir lain tentang gue, lebih dari abangnya.” Tegas Reza dengan penuh sesal.


Kean mengguyar rambutnya kasar. “Lo tau kan, gue ngasih izin shafira pergi ke inggris karena lo bilang lo bakalan jagain dia di sana. Makanya gue juga berani ngomong ke bokap supaya dia izinin fira pergi. Tapi sekarang, malah ada buntutnya.”


“Gue gak ambil pusing lo mau main-main sama perempuan mana pun tapi kenapa sih lo harus main-main sama adek gue? Brengsek!” Kean masih memperlihatkan kekesalannya.


Masih jelas teringat, saat Reza memanfaatkan perselisihan ia dengan Disa dan berniat masuk ke dalam hubungan mereka. Saat itu, Kean memutuskan untuk tidak ingin mengenal Reza lagi.


Namun saat Reza datang padanya, meminta maaf dengan penuh kesungguhan dan meminta satu kesempatan untuk ia memperbaiki semuanya, salah satunya dengan menjaga Shafira saat berada di inggris. Tapi yang terjadi saat ini malah kesalah pahaman yang tidak seharusnya.


Reza tertunduk penuh sesal mendapati kemarahan Kean.


“A,” Disa mencoba menenangkan, membawa kembali Kean duduk di sampingnya.


“Kak reza datang ke sini dengan niat baik untuk memperbaiki semuanya, aku mohon jangan seperti ini. Sebaiknya saat ini kita lebih memikirkan fira.” Ujar Disa.


Sedikit banyak Disa mengerti apa yang Shafira rasakan. Reza yang pandai membuat nyaman, memang bisa dengan mudah membuat hati wanita luluh. Sayangnya, ia tidak pernah melihat dan menyadari kalau hati seorang wanita kemudian bisa sakit karena menyalahartikan perhatiannya.


“Aku akan menemui fira, melihat keadaannya. Kalian bicara pelan-pelan, aku mohon jangan bertengkar.” Pesan Disa setelah melihat suaminya mau duduk.


“Makasih sa.” Lirih Reza seraya tersenyum.


Kean melirik Reza, “Berhenti lo senyum-senyum sama bini gue!” lagi Kean menggebrak meja di hadapannya membuat Reza tersentak dan salah tingkah. Ia sudah benar-benar di blacklist oleh Kean.


“A,..” Sikap Kean membuatnya ragu untuk pergi tapi diam di sini juga akan membuat suasana semakin canggung dan tidak nyaman.


“Tolong jangan menarik perhatian papah sama mamah. Aa gak mau masalah ini melebar bukan?”


Untuk beberapa saat Kean menatap istrinya. Benar juga yang Disa katakan, kalau sigit sampai tahu masalah ini akan semakin repot saja. Terlebih ia harus mempertimbangkan Kesehatan ayahnya.


Akhirnya Kean terangguk setuju. “Aku percaya sama aa.” Ujarnya sekali lalu mengusap kepala Kean lalu mengecupnya sebelum ia pergi.


Sepeninggal Disa, Kean memandangi Reza dengan kesal. “Lo gak ngelakuin apapun sama fira kan?” pertanyaan itu di anggap penting oleh Kean.


Reza menggeleng. “Gue gak pernah berniat ngelakuin hal buruk sama fira. Seperti yang lo minta, gue ngejaga dia layaknya seorang adik perempuan. Memastikan dia mendapatkan apapun yang dia mau, melindunginya dari laki-laki yang akan mengganggunya. Mastiin kalo dia makan dengan benar dan tepat waktu, dengerin cerita dia. Nemenin dia jalan dan hal lainnya yang dilakukan seorang kakak terhadap adiknya. Walau gue gak tau gue ngelakuinnya dengan cara yang tepat atau nggak.” Terang Reza dengan sejujurnya.


“Dengan kondisi sekarang, lo pikir yang lo lakuin udah tepat?” Kean balik bertanya. Ia sadar ia bukan seorang kakak yang baik dalam memperlakukan Shafira. Tapi mendengar apa yang diterangkan Reza, sepertinya cara yang dilakukan sahabatnya bukan cara yang tepat.


Reza hanya menggeleng lantas mengusap wajahnya kasar. “Gue gak yakin.” Sahutnya lirih.


“Lo harus tau bro, gue sayang sama fira walau kadang gue sadar kalau cara yang gue lakuin bukan layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Tapi, gue menikmati moment itu. Setiap moment fira ada di dekat gue dan menjadikan gue sandaran buat dia.”


“Kadang gue berharap selama gue ada di dekat fira, gue akan selalu menjadi orang pertama yang di cari fira untuk hal apapun. Hingga tanpa gue sadari, gue nempatin dia di posisi sebagai seorang wanita, bukan seorang adik.”


“Astaga, gue rasa gue bener-bener salah.” Lirih Reza seraya mengusap wajahnya kasar lantas menatap Kean nanar.


“LO!!” tiba-tiba emosi Kean memuncak. Ia mencengkram kerah baju Reza, mengangkatnya hingga berdiri dan tangannya mengepal siap ia tinjukan ke wajah Reza.


“LO, BRENGSEK!!” tegas Kean penuh penekanan. Andai saja ia tidak ingat kalau Reza adalah sahabat satu-satunya sejak kecil dan Disa sudah berpesan agar Kean tidak melakukan hal yang memancing Sigit, mungkin ia sudah menghantamkan tinjunya ke wajah Reza beberapa kali untuk membuat laki-laki ini sadar.


“Lo boleh pukul gue, karena gue memang pantas buat di hajar.” Ujar Reza, pasrah.


Tangan Kean sudah membulat, mengepal kuat. Terdengar geretakan giginya menahan marah.


“SHIT!!!” Kean mendorong Reza menjauh hingga terjungkal jatuh di rumput. Ia urung memukul Reza.


“ARRRGGHHH!!!!” geramnya. Jujur ia sangat ingin menghajar Reza dan kemarahan sebesar ini membuat dadanya terasa panas dan emosinya yang sudah di ubun-ubun membuat adrenalinnya meningkat.


Sayang ia harus menahannya.


“Gue minta maaf. Gue gak pernah bermaksud nyakitin fira dan ngecewain lo yan.” Reza bersimpuh di hadapan Kean. Penyesalannya saat ini mungkin tidak bisa mengobati rasa sakit Shafira. Tapi paling tidak, Kean bisa mendengar kalau ia bersungguh-sungguh untuk meminta maaf.


Kean masih terpaku di tempatnya. Membelakangi Reza dengan tangan yang masih mengepal. Ia harus masih menenangkan dirinya atau Reza akan menerima pukulan yang belum tentu bisa ia hentikan.


******