
Jika di tanya hal apa yang paling ditakutkan oleh seorang Shafira Gita Hardjoyo, maka ia akan menjawab penolakan. Keinginan agar kehadirannya diterima oleh orang lain merupakan keinginan paling sederhana namun terasa sulit untuk ia dapatkan. Selama ini Ia terbiasa mendapat pengakuan dari banyak orang. Namun saat permasalahan keluarganya muncul barulah ia sadar kalau ia tidak pernah benar-benar di terima oleh lingkungannya termasuk mungkin oleh keluarganya sendiri. Ingin rasanya seharian ia berdiam diri di kamarnya, seperti seekor siput yang lemah dan mengandalkan cangkangnya untuk menyembunyikan dirinya agar tidak semakin terluka.
Tapi kemudian ia sadar, mengapa ia harus bersembunyi? Toh orang-orang yang menerimanya akan tetap menyambut dengan tangan terbuka dan orang-orang yang tidak bisa menerimanya akan tetap berusaha menyakitinya walau ia bersembunyi di belahan dunia manapun. Lantas apa yang ia takutkan? Bukankah dengan begitu ia bisa melihat siapa orang-orang yang benar-benar peduli dan siapa yang hanya berpura-pura peduli?
Mengenakan dres warna hitam buatan Disa, rambut panjang yang dibiarkan tergerai serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, Shafira memutuskan untuk memberanikan diri melangkah masuk ke gerbang sekolah. Ia sempat merasa ragu namun kemudian ia meyakinkan dirinya sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja karena di dalam sana ada teman-temannya yang sedang menunggu kedatangannya.
Menapaki jalanan yang sudah di rias dengan beragam karangan bunga, Shafira melangkah dengan yakin. Ia tidak memperdulikan para siswa yang saling berbisik saat Shafira melenggang dengan percaya diri di hadapan mereka. Ia tidak ingin membuang energi dengan memikirkan apa yang sedang mereka gunjingan tentang dirinya.
Aula tempat di selenggarakan charity sudah terisi sebagian besar oleh tamu undangan, para orang tua siswa dan tentu saja para donator. Sayangnya tidak ada satupun keluargaanya yang hadir dan memang tidak pernah ada. Melihat para orang tua yang menunggu-nunggu penampilan anak mereka, ada rasa iri yang terselip di hatinya. Kapan ia akan merasakan bahagia karena melihat kedua orang tuanya duduk di salah satu kursi yang di buat cantik dengan beberapa kuntum bunga di belakang sandarannya.
Mungkin hanya akan menjadi harapan yang tidak akan pernah terwujud.
“Fira?” seorang anggota padus berteriak ragu saat melihat kedatangan Shafira di pintu ruangan persiapan.
Sontak anggota lainnya ikut menoleh. “Firaaa….” Mereka berlari menghampiri Shafira kemudian memeluknya.
Shafira tersenyum tipis mendapat sambutan hangat dari teman-temannya. Rasanya keputusan Shafira untuk datang ke sekolah adalah pilihan yang tepat.
“Firaa, gue seneng banget lo datang, huhuhu…” Diana masih tidak melepaskan pelukannya dari Shafira. Ia merasa begitu senang sekaligus terharu karena akhirnya Shafira mau datang untuk tampil.
Andini yang sedang mendandani beberapa anak padus pun ikut mendekat. Ia menatap Shafira dengan lega karena akhirnya gadis kuat ini berani menghadapi ketakutannya dan memilih untuk datang.
“Ibu senang kamu datang fir. Ibu sangat yakin, kita bisa memberikan tampilan yang memukau untuk semua tamu yang hadir.” Sebuah tepukan penuh kebanggan di berikan Andini pada Shafira. Rasa khawatir penampilan tidak berjalan mulus pun sirna sudah.
“Iya bu, saya ingin bernyanyi dengan teman-teman saya dan membuat ibu serta pihak sekolah merasa bangga memiliki kami. Iya kan gais?” Shafira melepas kacamata hitamnya yang di sambut sorakan teman-temannya.
“Iya dong! Tambah semangat nih buat tampil.” Seru salah satu siswa.
“Baguslah. Ibu seneng dengernya. 15 menit lagi kita tampil. Yang belum berdandan, ayok siap-siap dulu. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi. Ibu janji akan ngajak kalian makan malam di sebuah tempat yang asyik.” Seru Andini menyemangati.
“Asyiiikkk makasih bu…” Diana dengan suara lantangnya penuh semangat dan di sambut tawa teman-temannya.
“Eit, jangan teriak-teriak. Simpan suaranya buat nanti.” Andini menjentikkan jarinya di hadapan Diana.
“Heheheh siap bu!” dengan gerakan mengunci mulut Diana mengatupkan mulunya rapat-rapat. Hanya beberapa saat saja sampai akhirnya mereka kembali berisik, heboh mempersiapkan penampilan mereka.
Di ujung sana ada Malvin yang masih merapikan bajunya seraya memandangi Shafira yang asyik berbincang dengan teman-temannya. Merapikan penampilan mereka dan sesekali terdengar berlatih untuk menghilangkan ketegangan. Ia sangat bersyukur karena Shafira telah berhasil melewati salah satu fase tersulit dalam perjalanannya menuju tahap pendewasaan.
“Waaw… Rupanya artis anak padus tetep dateng juga yaa…" Kalimat sinis itu keluar dari mulut Nara yaang melenggang masuk ke ruang persiapan. Shafira dan teman-temannya kompak menoleh dengan wajah kesalnya.
"Kalo gue sih, bakalan malu berdiri di panggung dengan banyak gossip bertebaran.” ia tertawa untuk melengkapi kesinisannya pada Shafira.
Anak-anak paduan suara segera berkumpul dan menatap Nara beserta Ira dan Fia dengan tidak suka. Mereka sangat takut kalau Shafira terpancing dan semuanya gagal.
Andini maju lebih dulu, menghadang Nara yang mendekat. “Nara, tolong jangan ganggu teman-teman kamu. Mereka akan segera tampil. Ibu mohon, beri mereka dukungan. Ya…” Andini dengan wajah memelasnya memohon pada Nara.
Hanya senyuman sinis yang di tunjukkan Nara lantas mengalihkan pandangannya pada Shafira yang masih terdiam.
“Tenang aja bu, saya gak akan ganggu ko. Lagian saya males banget nontonnya. Tadinya sih saya mau nonton tapi pas liat ada, itu tuh. Jadi males.” Nara menunjuk Shafira dengan sudut matanya sementara kedua tangannya tetap tesilang di depan dada dengan angkuh.
“Lo apaan sih ra?!” Diana yang tersulut emosinya lebih dulu, ia masih kesal saat mengingat aksi saling jambaknya dengan Nara. Mata sipitnya sudah menyalak dengan tangan mengepal kuat. Dengan cepat Shafira menahan Diana.
“Jangan lo ladenin di. Urusan di sama gue.” Bisik Shafira, berusaha menenangkan.
“Tapi,” Diana masih belum biasa terima. Jambakan tangan Nara di rambutnya masih terasa perih dan kali ini gadis ini kembali untuk memancing emosinya.
Shafira semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Diana untuk meyakinkan sahabatnya. Tidak ada untungnya meladeni Nara. Walau kesal, akhirnya Diana menurut.
Dengan santai Shafira menghampiri Nara. Ia merapikan rambutnya yang baru di buat curly oleh temannya. Nara menyunggingkan senyum sarkasnya saat melihat Shafira mendekat. Berani sekali, pikirnya.
“Mau apa lo?” sinisnya dengan mata mendelik tajam.
Shafira mengendikkan bahunya, berusaha acuh. Ia berdiri di hadapan Nara dengan jarak yang sangat dekat, seperti tidak takut kalau Nara mungkin akan menyerangnya.
“Nara,” Shafira mengusap bahu Nara lantas menatapnya dengan tajam.
“Gue gak tau, urusan apa yang belum selesai antara gue sama lo.”
“Tapi kali ini gue minta, lo gak usah ganggu kita-kita.”
“Lo boleh benci sama gue, sebel sama gue, nyebarin gossip gue sesuka hati lo atau ngelakuin hal gila lainnya. TER SE RAH! Tapi,”
Shafira semakin mendekat dengan raut wajah yang berubah dingin membuat Nara terhenyak lantas memundurkan langkahnya. Seperti ia sedang berhadapan dengan sosok Shafira yang belum pernah di lihatnya.
“Acara ini, charity untuk korban bencana, para ibu yang kesulitan membeli susu untuk anak-anak mereka dan anak-anak kecil yang menunggu uluran tangan kita. Tahan diri lo sebentar, bukan buat gue tapi buat mereka.” kalimat Shafira terdengar penuh penekanan.
“Lagi pula, lo kan suka hal-hal yang berbau gratis?"
"Jadi, lo nikmati penampilan kami selagi gratis. Karena siapa tahu 1 atau 2 tahun ke depan, lo harus bayar mahal hanya untuk membayar selembar tiket pertunjukkan salah satu di antara kami.” Sebuah seringai sarkas berhasil membungkam mulut Nara.
Shafira yang tersenyum sementara Nara yang mengeram kesal. Tangannya mengepal namun tidak berani ia angkat. Bisa terlihat kemarahan yang menyalak di kedua matanya dan coba di tahan Nara.
“Lo berani yaa ngehina gue. Lo liat, lo liat nanti lo bakal nyesel karena berani merendahkan gue. Gue bales lo fira!” Nara berteriak di hadapan Shafira, namun Shafira dengan santainya menyumpal telinganya dengan telunjuk. Ia tersenyum sinis tanpa menunjukkan wajah takutnya sedikitpun. Suasana mendadak hening, anak-anak padus bersiap mendekat dan melawan jika Nara melakukan hal yang bisa mencelakakan Shafira.
Sejujurnya, Shafira tidak pernah berniat merendahkan Nara tapi sikapnya yang terlalu arogan dan suka membuat onar, membuat Shafira harus bersikap dingin dan menyebalkan sekaligus tidak terbantahkan di hadapan Nara. Mungkin dengan seperti ini, untuk sementara waktu Nara tidak akan menganggunya.
“Aaarrgghh!!” Teriak Nara.
Shafira hanya tersenyum tipis dan beberapa saat kemudian, Nara pergi dengan langkah panjangnya meninggalkan Shafira.
“Sorry ra, sorry kalo gue nyinggung lo.” Gumam Shafira setelah Nara berlalu dari hadapannya.
Nyatanya, membalas ucapan orang lain dengan lebih kasar, tidak lantas membuat hatinya lebih tenang. Semuanya makin terasa gamang dan salah.
****
Acara yang di nanti telah di mulai. Setelah pidato resmi dari beberapa orang penting di sekolah ini, penampilan Shafira dan teman-temannya kembali menyihir para undangan yang hadir.
Lagu Hero mengggema di ruangan disusul beberapa lagu lainnya. Acara donasi di mulai. Beberapa di antara mereka ada yang memberikan donasi langsung berupa barang-barang, ada juga yang berupa uang. Kepala sekolah tersenyum lebar karena sepertinya acara kali ini berjalan dengan sukses.
Shafira berusaha tersenyum, mengabaikan setiap tatapan sinis karena ini penampilan terakhirnya dengan lagu solo yang akan ia bawakan. Ia berusaha untuk menampilkan sesuatu yang spektakuler seperti biasanya walau suasana hatinya tidak terlalu baik. Jantungnya berdebar kencang melihat tatapan orang-orang yang tidak di kenalinya. Hanya beberapa guru dan kepala sekolah yang tersenyum padanya dan tampak tidak sabar menunggu penampilan Shafira.
Ia pun melihat Andini yang tersenyum padanya dan berusaha menyemangatinya. Tidak ada sosok yang ia kenali dan sepertinya perkataan Diana tempo hari tidak akan pernah terjadi.
“Kalau bokap sama nyokap lo liat penampilan lo, mereka pasti bangga banget fir.”
Ya, kalimat itu hanya akan menjadi harapan bagi Shafira yang sudah terlalu lama merasa sendiri.
Shafira menghela nafasnya dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Satu bait puisi harus ia bacakan sebelum menyanyikan lagu milik Melly goeslaw yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah memejamkan matanya dan mengucap do’a, Shafira memulai penampilannya.
“Teruntuk wanita, para ibu yang kami sebut bidadari tak bersayap, lagu ini spesial untukmu.” Kalimat Shafira terdengar mantap sebagai pembuka. Setelah siap dengan dirinya sendiri, ia memulai puisinya.
“Aku pernah membayangkan,
Seperti apa rasanya saat dulu kami masih berada di perutmu.
Berada di tempat paling aman dan nyaman
Dimana detak jantungmu adalah melodi terindah yang kami dengar.
Aku pernah membayangkan,
Seperti apa rasanya berada pada satu aliran darah yang sama
Terikat pada satu emosi yang erat
Dimana, tidak pernah ada ketakutan dan kesendirian
Dan kini aku mulai membayangkan,
Seperti apa hari yang harus kami lalui saat beranjak dewasa
Seperti apa waktu yang harus kamu habiskan saat merindukanmu yang jauh dari pandangan mata
Seperti apa detik yang kami lewati saat kita tidak lagi Bersama
Bunda,
Kami beranjak dewasa namun tak berarti kami telah mampu
Ada saat dimana kami merindukan pelukanmu untuk menguatkan kami
Jika ada hal yang boleh aku minta, tolong jangan pernah lepaskan genggaman tanganku bunda
Aku belum terbiasa. Aku belum sekuat itu.
Berada di dekatmu, hal terindah dalam hidupku."
Shafira mengakhiri puisinya dengan mata berkaca-kaca. Emosi yang semula sangat sulit ia kumpulkan malah mulai menenggelamkannya. Seperti tengah berbicara dengan Liana namun tidak pernah bisa ia utarakan secara langsung.
Kembali ia menghela nafasnya panjang saat suara dentingan piano Malvin memintanya untuk bersiap. Ia memalingkan wajahnya sejenak untuk berdehem, mengusir bongkahan besar yang terasa bercokol di tenggorokannya. Di belakangnya ada tampilan video dokumenter yang di putar dan menampilkan banyak wajah wanita dengan beragam pekerjaannya. Beberapa di antaranya memperlihatkan kemesraan mereka dengan anak-anaknya.
“Ku buka album biru.
Penuh debu dan usang,”
Suara Shafira terdengar sedikit bergetar. Dua kalimat pertama itu telah berhasil meremangkan bulu kuduknya sendiri. Orang-orang tampak menyimak benar lagu yang di nyanyikan Shafira dengan penuh keharuan.
Bait demi bait ia nyanyikan dengan penuh perasaan. Sesekali terdengar ada isakan dan nafas yang kasar di sela nada yang di ambilnya yang menambah sisi emosional lagu tersebut. Matanya sudah sudah merah dan basah. Saat menjelang chorus, air matanya menetes.
Suasana benar-benar hening. Hanya suara Shafira yang terdengar di padu dentingan piano Malvin yang syahdu.
“Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku takkan jadi deritanya.
Tangan halus dan suci, tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup, rela dia berikan.”
Shafira terisak, ia mulai menunduk dan memandangi tangannya sendiri yang gemetaran. Para penikmat penampilan Shafira ikut terlarut dalam emosi yang di bangun Shafira. Beberapa di antara mereka ikut menitikkan air mata dan membiarkannya menetes tanpa perlu di seka.
Atmosfer ruangan pun berubah sendu sekaligus haru. Mungkin masing-masing di antara mereka tengah mengenang masa-masa bersama ibunya, namun tidak bagi Shafira. Ia tidak pernah merasakan kedekatan itu. Ia tidak pernah merasakan peluk hangat Liana, hingga saat ini. Padahal sekali saja ia ingin merasakan apa yang ada dalam isi lagunya. Dan hal ini lah yang membuatnya semakin tenggelam dalam lagu yang dinyanyikannya.
“Kata.. Mereka diriku slalu di manja.
Kata.. mereka.. diriku slalu di timang….”
Shafira benar-benar menangis. Ia tidak bisa menguasai emosinya sendiri. Beberapa penonton tampak tegang dan berusaha menyemangati Shafira.
Dengan sisa kekuatannya, Shafira mengangkat wajahnya dan menebar pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Wajah-wajah yang sendu dan mata-mata yang merah serta basah.
Hingga tanpa sengaja, matanya menangkap sosok yang tidak di duga hadir menyaksikan penampilannya. Ia berusaha tersenyum walau derai air matanya semakin deras. Ia harus menyelesaikan lagunya. Dengan nafas tercekat ia mengubah nada tingginya menjadi soft voice, beruntung Malvin bisa mengimbangi.
“O Ooo bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku….”
Beruntung Shafira berhasil menyelesaikan lagunya. Penonton berdiri dan bertepuk tangan di akhir penampilan Shafira. Ia tertunduk lesu. Bahunya berguncang hebat karena tangisnya yang pecah. Beberapa teman-teman paduan suaranya berlari menghampiri Shafira lantas memeluknya dengan erat.
Mereka berangkulan. Ikut merasakan haru karena akhirnya Shafira bisa menyelesaikan tugasnya. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam perasaan yang sama. Merindukan wanita yang biasa mereka panggil bunda.
*****