Marry The Heir

Marry The Heir
Pagi yang gamang



Gemuruh resah tidak selalu lantas luluh hanya karena keinginan yang sungguh. Ada banyak rasa pahit yang ikut terlarut dalam sebuah pengharapan yang terasa sulit.


Itu yang Disa rasakan saat ini.


Di hadapannya, ada Kean yang duduk di sebrangnya dan tengah menikmati sarapan mereka pagi ini. Tidak ada perbincangan yang berarti di atas meja makan, semua fokus pada menu sarapan lezat yang malah terasa hambar.


Pun Arini, ia hanya memainkan sendoknya di atas semangkuk oat yang di buat Disa sebagai menu sarapan paginya. Di pikirannya, ia masih menerka apakah Disa mendengar perdebatannya dengan Sigit. Disa masih dengan wajah tenangnya, senyum yang selalu terbit dengan tulus walau binar matanya tiak secerah biasanya, membuat isi kepala Arini terus menerka-nerka.


Ketenangan Disa itu yang membuat perasaan Arini tidak nyaman alih-alih merasakan ketenangan. Sangat ingin bertanya pada Disa namun Ia tidak tahu harus memulai pertanyaannya dari mana, karena belum tentu Disa mendengar perdebatan mereka atau justru mendengar secara keseluruhan.


Sepertinya, benar yang dikatakan Kinar. Kalau ia telah melakukan kesalahan dengan meminta Disa mengantarnya dan menunggunya di depan pintu ruang kerja Sigit. Terlalu ceroboh pikirnya. Hanya saja ia tidak menyangka kalau yang akan diperdebatkan Sigit adalah tentang Kean dan gadis di hadapannya.


“Jusnya tuan.” Suara Disa baru terdengar saat gadis itu mendekatkan segelas jus sayur dan buah pada Kean. Putranya baru mengakhiri sesi sarapan yang tidak terlalu bisa ia nikmati. Seperti makanan ini hanya untuk mencukupi kebutuhan perutnya. Selama ia sarapan, hanya Disa yang di pandanginya diam-diam.


“Hem.” Sahutan pendek itu yang kemudian terdengar.


“Nyonya, anda mau makan siang apa hari ini? Mau yang berkuah atau tidak?” pertanyaan santai itu sengaja di buat Disa untuk mencairkan suasana.


Walau pikiran nyonya besar dan tuan mudanya sedang tidak karuan namun ia perlu mengalihkannya sejenak agar kedua orang di hadapannya tidak terus terpuruk.


Arini menatap Disa lantas tersenyum. Gadis cantik ini masih bisa memasang wajah tenangnya demi membuat suasana tidak semakin runyam.


“Mungkin yang berkuah lebih enak dan lebih mudah di telan.” Sahutnya.


“Kalau saya buatkan soto, bagaimana nyonya?” semakin ceria mimik wajah yang ia buat membuat Arini bisa menghela nafas lega karena melihat Disa baik-baik saja.


“Boleh. Sudah lama saya tidak makan soto.” Arini tidak kalah semangat. Paling tidak, obrolan tentang soto bisa sedikit mengalihkan pikirannya.


“Baik. Saya akan memeriksa dulu bahan makanan kita.” Disa langsung beranjak, meninggalkan nyonya besar dan tuan mudanya untuk mengecek bahan makanan di kulkas.


Kean dan Arini hanya saling tatap. Harus mereka akui usaha Disa untuk membuat suasana kembali normal cukup keras. Pembawaannya yang ceria telah merubah atmosfer ruangan yang semula sendu menjadi sedikit berwarna.


Kean memperhatikan arah gerak Disa, melihat gadis itu termangu di depan kulkas sambil memeriksa bahan masakan, terlihat cukup lucu. Dahinya yang sedikit mengernyit saat sedang berfikir, menjadi pemandangan menarik untuk Kean.


“Aku juga makan di rumah. Buatkan perkedel jagung ya.” pintanya tanpa ragu.


“Baik tuan.” Lihat, dia mulai bisa tersenyum lebih lebar, membuat orang-orang yang melihatnya ikut tersenyum.


Diambilnya beberapa bahan makanan yang sudah ia pilih ke atas meja dapur. Ia memilah dan membersihkannya lalu menaruhnya dalam wadah.


“Kamu akan memasak sekarang?” Arini ikut memperhatikan Disa yang menurutnya terlalu bersemangat.


“Iya nyonya, supaya bumbunya lebih meresap.” ada saja alasannya.


Jujur, ini cara Disa mengalihkan pikirannya. Ia tidak ingin memberi jeda pada waktunya yang membuat ia harus memikirkan hal yang tidak seharusnya. Lebih baik mengalihkan pikirannya pada pekerjaan, agar waktu lebih cepat berlalu. Tunggu, memang apa yang sedang ia kejar? Ketenangan atau hanya pengalihan?


Arini tidak lagi menyela, membiarkan Disa melakukan apa yang ia mau.


“Mamah udah minum obat?” perhatian Kean mulai beralih pada Arini. Wanita di hadapannya terlihat sedikit pucat dan ada kantung mata yang terlihat jelas. Seperti ia tidak cukup tidur semalam.


“Nanti mamah minum obat. Jangan khawatir, Disa selalu memberi mamah obat di waktu yang tepat.” Ia meraih tangan sang putra dan menggenggamnya dengan erat.


Kean hanya tersenyum, seorang ibu memang tidak pernah memberi celah pada putranya untuk merasakan kecemasan.


“Kean berangkat ya.”


“Hem.”


Kean segera mengambil jas yang tersampir di kursinya. Memakainya seperti biasa hingga membuat penampilannya terlihat rapi dan gagah.


Sebuah deringan telpon mengalihkan perhatian mereka. Ponsel milik Disa yang menyala di atas kulkas.


“Astaga, maaf nyonya.” Dengan segera ia mencuci tangannya dan mengambil benda pipih itu. Ponsel yang menyala di jam kerja, salah satu pantangan kecuali majikannya yang menelponnya.


Di lihat nama di layar ponselnya, adalah Damar.


“Kenapa sa? Jawab aja dulu.” Arini memperhatikan wajah Disa yang berubah cemas. Ia menggigit bibirnya sendiri kelu, seperti sedang menyalurkan kegundahannya. Tidak biasanya Damar menelpon sepagi ini.


Ia hanya menoleh Arini, penuh keraguan.


“Tidak apa-apa, jawab saja.” Lagi Arini memberi persetujuan.


Disa pun menoleh Kean dan laki-laki itu hanya mengangguk kecil.


“Assalamu ‘alaikum mong.” Sapanya pelan.


Terdengar sahutan dari Damar dengan tergesa-gesa. “Kapan?” wajah Disa berubah cemas.


“Aku, harus minta izin dulu. Tapi kirim aja dulu alamatnya.” Suara Disa di buat pelan seolah ia tengah membisikkan sesuatu.


“Iya mong, wa’alaikum salam.” Tutupnya.


Ia menaruh kembali ponselnya di atas kulkas dan menatap wajah kedua majikannya yang saat ini sedang memandangi Disa.


Ia berpegangan pada kulkas yang tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya, sedikit gemetaran.


“Kamu kenapa sa? Ada apa?” Arini menangkap ekspresi tidak biasa dari Disa.


“Em, anu nyonya.” Ia masih terlihat ragu apa harus mengatakannya atau tidak.


“Tidak apa-apa, bilang aja. Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Disa mengangguk pelan. Kedua tangannya saling memilin memberi kekuatan satu sama lain.


“Tante saya, pingsan dan di larikan ke rumah sakit. Bolehkah saya,”


“Pergilah.” Arini langsung menyahuti. Ia bisa melihat kecemasan Disa dan pasti bukan hal kecil yang bisa merubah raut wajah itu dengan begitu cepat.


Masih tidak percaya dengan yang didengarnya. Tapi kemudian ia sadar untuk tidak terpaku.


“Baik nyonya. Saya, akan pergi setelah ini.” sahutnya dengan cepat.


Perasaannya yang tidak menentu membuat Ia gelagapan sendiri, bingung apa yang harus ia lakukan. Ia berjanji memasak soto namun di waktu bersamaan tantenya membutuhkannya.


“Taruh saja. Jangan pikirkan makan siang. Kamu pergilah dengan Kean.” Arini melirik putranya yang hanya mematung.


“Ti-tidak usah nyonya. Saya akan berangkat sendiri setelah pekerjaan saya selesai.” Ia masih berusaha menutupi rasa cemasnya. Ingatan untuk bekerja secara profesional, terus berdengung di kepalanya.


Tatapannya yang tajam pada Disa, membuat gadis itu tanpa sadar menjatuhkan pisau di tangannya di atas sayuran. Otaknya seperti kosong, bingung memilah apa yang harus ia lakukan lebih dulu.


“Ganti bajumu. Saya tunggu 10 menit.” Perintah Kean terdengar tegas. Terkadang ia memang perlu melakukan cara ini agar Disa tidak kebingungan sendiri.


Disa menoleh Arini dan nyonya besarnya hanya mengangguk.


“Terima kasih tuan, nyonya.” Dengan semangat ia berseru. Ia berlari menuju kamarnya, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkahnya yang cepat.


Meri, Wanita yang kuat dan bisa menghadapi banyak masalah. Jika saat ini wanita itu terbaring tidak berdaya di blankar rumah sakit, tentu bukan karena hal biasa. Maka Disa harus bergegas.


****


Perjalanan menuju rumah sakit di lalui dengan sangat cepat. Disa duduk di samping tuan mudanya dengan tangan yang menggenggam seatbelt yang melingkar ditubuhnya. Wajahnya masih terlihat cemas saat membaca balasan pesan yang di kirim damar.


“Ibu mau di CT scan dulu, katanya tangan kirinya sedikit lemah, khawatir kena stroke.” Begitu balasan pesan yang di kirim Damar dan membuat perasaan Disa semakin tidak menentu.


Ia menghela nafasnya kasar, wajahnya terlihat cemas. Ia mencoba memalingkan pandangannya keluar jendela mobil dan melihat kendaraan lain yang tertinggal disalip Kean. Alih-alih tenang, pikirannya malah semakin berloncatan. Belum benar-benar tenang sebelum ia melihat sendiri keadaan Meri.


Ia masih berfikir, bagaimana kalau Meri sakit parah? Siapa yang akan mengurusnya sementara ia hanya memiliki satu orang anak laki-laki.


“Apa semua baik-baik saja?” Kean menyela pikiran Disa yang mulai melantur. Gadisnya menggigit bibirnya kelu, sudah pasti hatinya menyimpan banyak kecemasan.


Di raihnya tangan Disa untuk ia genggam. Ia berusaha menguatkan Disa yang tampak sedang rapuh. Disa memperhatikan tangannya yang di genggam Kean. Sangat hangat dan erat, seperti memberi ribuan arus semangat yang menjalar hingga ke jantungnya.


“Harus baik-baik saja. Karena sebelumnya pun baik-baik saja.” Timpal Disa seraya memandangi Kean.


Laki-laki itu tersenyum tipis, sedikit menoleh Disa. “Tentu, dia pasti baik-baik saja.”


Bisa ia bayangkan bagaimana perasaaan Disa yang diliputi kekalutan. Jawaban itu lebih terdengar sebagai pengingkaran kekalutannya di banding sebagai sebuah harapan.


Sepanjang perjalanan tangan keduanya saling menggenggam. Begini lebih baik, karena Disa memang sedang butuh dikuatkan.


Tiba di rumah sakit, Disa langsung menuju IGD. Namun tidak ada tanda-tanda kalau Damar berada di sana. Ia menyalakan ponselnya untuk menghubungi Damar dan tidak lama sebuah pesan masuk.


“Ibu udah di pindahin ke ruang rawat. Kamar 406, ruang kenanga.”


Tidak menunggu lama, Disa langsung bertanya keberadaan ruangan yang ternyata tidak jauh dari tempatnya berada.


Di luar ruangan Damar sedang terduduk sendirian. Memandangi layar ponselnya yang masih menyala. Mungkin ia menunggu balasan pesan Disa.


“Mong!” Disa segera menghampiri, membuat laki-laki itu segera berdiri menyambutnya.


“Lo terbang ke sini?” masih bisa-bisanya ia bertanya seperti itu. Mungkin karena kedatangan Disa terlalu cepat, tidak ia bayangkan sebelumnya.


“Lo gak liat kalo sayap gue baru nutup?” timpalnya berusaha santai. Wajah Damar yang terlihat tegang dan cemas, butuh sedikit pengalihan. Dan buktinya laki-laki itu tersenyum.


“Gimana tante? Gue boleh masuk?” mengintip sedikit dari kaca di bagian pintu ruangan.


“Lagi tidur habis di kasih obat sama dokter. Lo masuk aja kalo mau liat.”


“Hem.” Disa mendorong pintu perlahan. Ia sudah tidak sabar untuk melihat langsung kondisi Meri.


Wanita bertubuh tambun itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang infusan tertancap di tangan kirinya sementara di hidungnya di sumbat nasal canula yang memberikan suplai oksigen untuknya bernafas.


Di sisi kirinya ada sebuah monitor yang menyala dan menggambarkan kondisi jantung dan paru-parunya.


“Tekanan darahnya udah mulai turun, tadi pagi sempet 200/160.” Bisik Damar.


Jantung Disa seperti mencelos melihat kondisi Meri. Wanita yang biasanya bawel ini, kali ini hanya terdiam saja menahan kesakitannya. Disa duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Meri. Meraih tangannya yang dingin dan lemah.


Ada perasaan tidak biasa saat melihat wanita yang biasanya energik ini malah diam saja. Rasanya, ia memilih Meri mengomelinya daripada terdiam seperti ini. Entah apa yang dirasakan Meri saat ini namun ia tahu tantenya tidak baik-baik saja.


Melihat Meri seperti ini, nafas Disa terasa berat. Air mata sudah berkumpul di sudut matanya saat mengingat kebaikan Meri selama ini. Wanita ini dengan kedua tangannya mengurus Disa walau hubungan kekeluargaan mereka sudah lama terputus setelah Sugih meninggal.


Terkadang Meri memang melontarkan kata-kata yang kurang menyenangkan namun ia paham, itu ekspresi dari kesedihannya.


Hanya beberapa saat saja Disa duduk di samping Meri. Ia segera mengusap air matanya yang menetes dan meninggalkan Meri sendirian. Tantenya perlu istirahat dan ia perlu menenangkan diri.


Menutup kembali pintu dengan perlahan dan terlihat Damar yang terduduk di tempatnya. Mereka saling melempar senyum yang penuh kekalutan. Disa duduk di samping Damar dan dengan segera Damar memasukkan ponselnya.


“Gimana awalnya tante bisa sampe gini?” Disa memulai rasa penasarannya. Ia masih belum menyangka kalau kondisi Meri akan seperti ini.


Terdengar helaan nafas dalam dari mulut Damar. Tatapannya yang nanar tertuju pada satu titik dihadapannya.


“Semalem, sekitar jam 9an, ibu manggil gue. Dia minta gue bangun subuh-subuh karena harus belanja ke pasar. Katanya ada orang yang mesen sarapan untuk 200 orang. Orang itu juga langsung ngirim DP 25%.”


“Ibu seneng banget. Dia mulai menulis menu apa aja yang mau dia bikin dan daftar belanjaan yang harus ia beli. Baru kali itu gue liat ibu seneng banget sampe gak berhenti ngucap syukur.” Damar tersenyum samar di ujung kalimatnya.


“Pagi-pagi, ibu udah selesai sama pesenannya. Dia ngepak semua makanan sendirian dan gue cuma bantu masukin kerupuk udang ke dalemnya, katanya takut tangan gue kotor.” Damar memandangi tangannya yang tadi di tepuk Meri saat akan membantunya. Masih teringat jelas matanya yang melotot sambil ngomel.


“Tapi, sampe waktu yang dijanjikan, orang itu gak ada datang ke rumah. Ibu coba ngehubungin orang itu, tapi nomor ibu malah di blokir dan pas gue coba, gak bisa dihubungi sama sekali.”


“Astaga, gue masih inget banget wajah bingung ibu. Antara sedih dan kecewa, dia ngusap-ngusap tutup kotak nasinya.” Damar mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghapus ingatan yang begitu menyedihkan dan membekas di benaknya.


“Ibu sampe bilang, apa salah ibu sampe orang itu malah nipu dan buang keringet ibu sia-sia?” nafas Damar tercekat. Linangan air mata Meri seperti telah menamparnya.


“Ibu cuma bisa nangis dan gue gak bisa ngapa-ngapain. Sampe akhirnya pas ibu mau ke kamar, ibu jatuh. Pingsan di depan gue dan gue cuma bisa teriak-teriak manggil ibu. Tapi ibu diem aja, gak bergerak sama sekali."


"Astaga, kenapa dada gue sakit banget sa?” Damar menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak dengan kepalan tangan kanan.


“Mong,..” Disa meraih tangan sahabatnya, berusaha menghentikan apa yang Damar lakukan.


Mata laki-laki itu sudah terlihat merah dan basah. Ia menekan sudut matanya yang hampir meneteskan air mata.


“Sa, gue gak bisa kehilangan ibu. Gue tau gue bandel, sering bohongin ibu, sering gak nurut. Tapi gue sayang sama ibu. Cuma dia satu-satunya yang gue punya.” Nafas Damar tercekat. Ia tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan berusaha menyembunyikan air matanya dari Disa.


Disa termangu di tempatnya. Memandangi Damar yang menangis tanpa isakan. Hatinya ikut sedih, ikut merasakan sakit yang Damar rasakan.


Diusapnya punggung Damar perlahan dan ia menyandarkan kepalanya di bahu Damar. Seperti ini untuk beberapa saat, mungkin lebih baik.


*****