Marry The Heir

Marry The Heir
jam 6



Masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap karena malam sudah sangat larut. Disa masuk melalui pintu belakang dan langsung menuju kamarnya. Suasana sudah sangat hening karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hanya ada suara kipas AC yang mengeluarkan suara menderu.


“Dimarahin gag?!”


“ASTAGA!!!” seru Disa yang terhenyak mendengar suara tiba-tiba tersebut.


Ia memegangi dadanya yang berdebar kencang karena kaget dengan nafas terengah. Ia berbalik dan ternyata Shafira yang tadi berdiri di belakangnya, tengah menyilangkan tangannya di depan dada seraya bersandar pada tiang.


“Nona muda, selamat malam.” Disa masih dengan usahanya mengatur nafas dan mengurut dada.


“Apa bang’ke marah?” Shafira lebih fokus pada pertanyaannya yang belum di jawab Disa.


“Tidak nona, tuan muda tidak marah.”


“Syukurlah, aku pikir kamu akan di maki mba sama bang’ke.” Bisa terlihat raut cemas yang di tunjukkan Shafira dan membuat Disa merasa terharu.


“Tidak non fira, tuan muda hanya minta saya membereskan rumah sehingga pulang lebih larut.” Bagaimana pun Disa tidak boleh membuat nona mudanya berfikir kalau kakaknya jahat.


“Syukurlah.” Ungkapnya lagi.


“Non fira belum tidur?” Disa memperhatikan wajah lelah Shafira dan rambutnya yang masih basah.


“Belum bisa tidur. Boleh aku masuk?” menunjuk pintu kamar Disa yang masih tertutup.


“Oh boleh, sebentar.” Disa membukakan pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilakan Shafira masuk. Ia pun mengambil kursi kecil dan mempersilakan nona mudanya duduk. “Silakan nona.”


“Aku lebih suka duduk di sini, boleh kan?” menunjuk tempat tidur Disa yang rapi.


“Oh boleh nona, silakan.”


“Hem terima kasih. Kamu mau bersih-bersih pergilah, aku akan menunggu di sini.” Mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur Disa lalu menyandar pada pinggiran tempat tidur.


“Baik nona, saya tinggal sebentar.”


Mengambil baju ganti dan handuk lalu cus, pergi ke kamar mandi. Tidak banyak waktu yang Disa habiskan di kamar mandi, ia khawatir nona mudanya memerlukan sesuatu hingga terlalu lama menunggunya.


Saat kembali ke kamar, Shafira masih duduk di tempatnya. Memainkan benda pipih di tangannya dengan anteng. Disa menaruh handuk di raknya, lalu menyisir rambut yang seharian ia kepang.


“Rambutmu ternyata Panjang.” Shafira memperhatikan rambut Disa yang panjang sepunggung.


Rambut Disa memang bagus. Berwarna kecoklatan alami dan sedikit bergelombang di bagian bawah. Jenar bilang, mirip dengan ibunya.


“Iya nona, saya jarang memotong rambut.” Aku Disa.


“Hem, aku juga. Hanya moment tertentu saja aku memotong rambutku.”


“Misalnya?”


Shafira tersenyum mendengar Disa mulai kepo. Biasanya ia hanya menjadi pendengar setia.


“Kalau aku sangat marah sama orang di sekitarku atau saat aku ingin mengakhiri kemarahan.” Akunya.


Pantas saja ia memotong rambutnya saat ke salon beberapa hari lalu.


“Setiap orang punya cara sendiri menghadapi emosinya.” Disa mengakui apa yang Shafira katakan.


“Kalau kamu, apa yang biasanya kamu lakukan saat marah?” berganti Shafira yang penasaran.


“Em,.. saat saya marah biasanya saya mencoret-coret kanvas atau buku gambar. Sebenarnya saat senang atau sedih pun pelampiasan saya adalah kanvas dan cat air serta kuas.”


Disa tersenyum di ujung kalimatnya. Ia cukup merindukan saat dimana ia bisa bebas menggambar mengekspresikan perasaannya.


“Emosi kamu menghasilkan karya yaa mba.” Shafira terkekeh mendengar jawaban Disa.


“Mungkin. Saya hanya berfikir kalau saat emosi, tenaga kita terkuras banyak. Dan melukis bisa membuat saya menjadi lebih tenang.”


Shafira tersenyum tipis mendengar ucapan Disa. “Hem, kalau aja aku bisa ngelukis kayak mba disa, mungkin sudah banyak lukisan yang aku buat karena emosiku meluap-luap.” Aku Shafira dengan tawa renyahnya.


“Sebagai gantinya, nona bisa melakukan hal yang nona sukai saat sedang emosi. Semisal, nona bisa bernyanyi seperti yang biasa nona lakukan.”


Ingatan Disa membawanya saat sayup-sayup mendengar suara Shafira di kamarnya. Sangat merdu, enak untuk di dengar.


“Kamu mendengarnya?"


Disa mengangguk pasti.


"Asal kamu tau mba, aku hanya bisa bernyanyi di sekolah.” Shafira memandangi langit-langit kamar Disa dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.


“Karena saat di sekolah, orang-orang akan bertepuk tangan mengapresiasi suaraku dan nyanyianku. Tapi saat di sini, tidak ada orang lain yang menikmatinya selain aku. Tidak ada yang peduli.” Beralih wajah Disa yang di tatap Shafira dengan segaris senyum. Senyum pilu yang membuat hati Disa ikut mencelos.


Entah seperti apa Disa harus menimpali yang jelas ia ikut merasakan perasaan sepi Shafira.


“Sekali waktu, beri saya kehormatan untuk untuk mendengarkan suara non fira.” Ungkap Disa dengan penuh kesungguhan.


Shafira hanya tersenyum dan terangguk, helaan nafas dalam membawanya pada rasa syukur dalam hati bisa bertemu dengan Disa.


“Aku boleh nginep di sini mba?” pintanya tiba-tiba.


Disa sedikit tercengang mendengar pertanyaan Shafira.


“Aku janji aku gag ngorok.” menunjukkan isyarat peace di sertai wajah yang merajuk pada Disa.


Disa terangguk pelan mendengar permintaan nona mudanya. Tentu saja, mana mungkin ia berani mengusir Shafira.


“Rambut non fira masih basah, saya bantu keringkan supaya gag sakit kepala.”


“Hem,” membaringkan tubuhnya dengan kepala yang ia tempatkan di atas paha Disa. Disa segera meraih handuk dari raknya dan mulai mengeringkan rambut Shafira.


Untuk beberapa saat Shafira memandangi Disa dengan segaris senyum. "Aku boleh cerita mba?"


"Silakan,.." sahutnya yang balas tersenyum.


“Kalo kata psikologku, sepertinya kamu memiliki kepribadian Steadiness.” Berbicara sambil memandangi Disa yang berada di atas wajahnya.


“Oh ya? Apakah itu buruk?”


Shafira menggeleng. “Sangat menyenangkan. Supel, asyik di ajak ngobrol, tenang, pendengar yang baik, sabar.”


“Wow.” Disa kagum sendiri dengan penuturan nona mudanya.


“Tapi agak lambat, soalnya sangat teliti.” ia terkekeh


"Lalu, apakah bisa di ubah?" Disa mulai tertarik dengan bahan obrolan mereka.


"Tidak ada yang perlu di ubah dari diri kamu mba. Cukup menjadi diri sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa di terima oleh orang-orang disekitar kita." timpal Shafira yang terdengar gamang.


Tatapan matanya kembali tertuju pada daun pintu yang berwarna putih. Sejujurnya, ia hanya sedang mengingatkan dirinya sendiri, yang selalu berusaha menjadi orang yang menyenangkan bagi banyak orang. Tapi nyatanya, usahanya hanya sia-sia dan ia semakin kehilangan dirinya sendiri.


Sekali lalu pandangan Shafira kembali beralih menatap Disa. Mereka saling melempar senyum.


Pada bagian ini banyak hal yang mereka bahas tentang kepribadian yang Shafira pelajari dari psikolog-nya. Untuk beberapa hal keduanya tertawa bersamaan. Mereka menghabiskan malam bersama menunggu rasa kantuk menjemput. Shafira asyik menceritakan tipe-tipe kepribadian dan Disa asyik menyimak.


Menyenangkan, karena seperti mendapat teman baru.


*****


POV Kean :


“Tok tok tok” suara ketukan di pintu kembali terdengar.


Sudah pasti, adalah Disa yang mengetuk pintu kamar ku dengan perlahan.


“Hem,“ aku akan menyahutinya seperti itu.


“Selamat pagi tuan muda. Sudah jam 6 sudah waktunya berolah raga.” Suara itu yang aku dengar kemudian.


Sebenarnya aku sudah bangun beberapa saat lalu hanya saja aku masih menunggu Disa membangunkanku.


Jangan geer, bukan karena ingin mendengar suaranya, aku hanya ingin memastikan apakah dia konsisten dan patuh atau tidak dengan tugas yang aku berikan.


Beberapa hari dengan rutinitas yang sama dan suara yang sama, aku mulai terbiasa. Sesekali aku mencibir kalimatnya yang baku dengan bibir manya menye gayaku.


“Saya sudah bangun.” Begitu teriakku untuk memberi tanda padanya agar berhenti mengetuk pintu dan silakan lanjutkan pekerjaan lainnya.


Aku segera bangun, terduduk di atas tempat tidur lalu menggeliat merenggangkan persendian tubuhku yang terasa segar. Sudah beberapa malam aku mendapatkan deep sleep ku dan saat bangun, seperti beribu energi yang bangkit dari dalam diriku. Mungkin berkat kamarku yang sangat rapi.


Leherku tidak lagi terasa sakit dan kepalaku terasa enteng. Ternyata mandi air hangat sebelum tidur di tambah makan kenyang, menjadi obat mujarab untuk mengobati rasa lelah setelah bekerja.


Ku ambil celana pendekku dan mengenakan kaos tipis untuk berolah raga. Aku membuka jendela kamarku dan rasanya sangat segar saat udara pagi masuk dan menyapu wajahku yang masih muka bantal.


Aku pergi ke kamar mandi sebentar untuk cuci muka dan menggosok gigi. Kebiasaan rutin yang pasti aku lakukan.


Menuruni anak tangga sambil berlari menjadi pemanasan awal untuk ku.


“Selamat pagi tuan muda, hari ini anda ingin sarapan apa?” sudah pasti kalimat itu yang aku dengar saat aku tiba di meja makan dan meminum air putihkku hingga tandas.


“Terserah.” Adalah jawaban ninjaku. Dia hanya akan mengangguk dan tersenyum, sepertinya dia tahu apa yang akan menjadi jawabanku.


“Untuk makan siang, anda ingin dimasakan apa tuan?”


“Terserah.” Jawaban ninja keduaku.


Toh tanpa menjawab pun, dia akan memasak menu yang berbeda dan pasti aku habiskan.


Lagi-lagi dia mengangguk dan tersenyum, terlalu membosankan. Sesekali aku ingin mendengarnya protes karena selalu mendapat jawaban “Terserah” dariku.  Tapi sepertinya stok kesabarannya masih banyak, maklum baru beberapa hari. Atau mungkin dia belum bertemu periode mensnya jadi emosinya masih stabil.


Aku tidak sabar menunggunya marah dengan mata menyalak atau sesekali mumbling seperti saat pertama kami bertemu.


Aku mengambil skipingku yang sudah dia siapkan di atas meja sebelah televisi. Aku berlari kecil dan mataku iseng masih memperhatikan dia memasak.


Sekali lalu aku melihat dia mengambil barang dari kitcen set bagian atas dan horeee tangannya sampai. Mungkin karena bantuan bangku yang aku beli.


Harusnya dia berterima kasih karena aku majikan yang sangat pengertian dan perhatian.


Melakukan olahraga di taman, aku memulainya dengan skiping 100 kali, lalu push up dan pull up di tutup dengan lari keliling taman. Olahraga ini yang aku lakukan setiap pagi. Cukup berhasil untuk mengembalikan otot-otot tubuhku yang mulai mengendur dan sekarang kembali ke tempatnya semula.


Keringatku bercucuran, membasahi seluruh tubuh. Saat masuk ke rumah dan melewati dapur, dia pasti langsung memalingkan wajahnya atau menunduk.


Tidak sopan! Apa aku sejelek itu saat sedang berkeringat?


Bagian ini yang membuatku kesal dengan kelakuannya.


Aku meneguk kembali segelas air yang sudah ia isi ulang. Tanpa berkata-kata aku kembali ke kamar untuk mandi dan berganti baju.


Stelan kerjaku sudah ada di atas tempat tidur. Lengkap dengan jam tangan, belt dan sepasang sepatu tersemir rapi di lantai. Aku selalu suka cara dia memadupadankan baju yang aku kenakan. Terlihat berwibawa dan gagah namun tidak terkesan tua.


Ralat, aku memang sudah berwibawa dan gagah sejak aku lahir.


Mandi dulu lah, sekitar 10 menit lalu berpakaian dan mengeringkan rambutku. Aku mulai tidak suka menggunakan pomade, lebih terbiasa mengeringkan rambutku secara alami dan hanya menyisirnya dengan rapi. Kepala tidak terasa berat dan pusing.


Mematut diri di depan cermin, merapikan baju dan dasi lalu,


“DISA!!!” teriakku


“YA SAYA!”


Dengar, dia sudah terbiasa menjawab panggilanku seperti itu dan aku sudah terbiasa berteriak seperti itu untuk memanggilnya menghampiriku.


5,6,7,8,9,10, taraaaa… Dia tiba di hadapanku. Merapikan anak rambutnya dan mengatur nafasnya sebelum mendekat padaku.


Aku akan menendang bangku kecil untuk tempatnya naik agar sejajar dengan tubuhku. Badannya yang lebih pendek dariku membuatnya memerlukan alat bantu untuk mensejajari tubuhku saat memasangkan dasi.


Aku memang bisa memakai dasi sendiri tapi dasi yang dia pasangkan, lebih rapi dan tidak sesak serta mudah di lepas. Entah seperti apa cara dia membuat simpul.


Selama mengikatkan dasi kami hanya saling terdiam. Dia fokus membuat simpul, mengencangkannya lalu mengusap dadaku untuk merapikan kemeja baru memakaikan jas. Sementara aku, harus berusaha menahan nafas dan rasa gerah yang terkadang datang tiba-tiba.


Kali ini bahkan aku baru tahu kalau ada tahi lalat di pelipis kanannya dan bekas luka di dahi yang mulai memudar. Sepertinya luka itu dia dapat saat masih kecil.


Hey, ayolah! Aku tidak perlu seteliti ini pada wanita di hadapanku.


“Sarapannya sudah siap tuan, apa tuan akan turun sekarang?” kalimat itu yang aku dengar berikutnya setelah dia turun dari bangku dan selesai merapikan penampilanku.


“Hem,” itu sahutan manjurku yang langsung dia mengerti.


Dia mengambil tas kerjaku, meresletingkannya dan bertanya, “Apa tidak ada yang tertinggal tuan?”


“Tidak. Bawa ke bawah dan masukkan ke dalam mobil.” Begitu titahku selanjutnya.


Dia baru membuka mulutnya, langsung aku jawab, “Kunci garasinya ada di laci.” Menunjuk tempat aku menyimpan kunci garasi.


“Baik tuan.”


Dia turun lebih dulu setelah mengambil kunci garasi. Aku mengambil ponselku yang baru selesai di charge baru menyusulnya.


Saat aku turun, dia tidak ada di meja makan. Aku melihat pintu garasi terbuka dan dia sedang mematung di dekat pintu.


“Sedang apa kamu?” sinisku.


Dia sedikit terkejut.


“Tuan, ini..” menunjuk cat yang mengelupas karena kejadian tempo hari.


“Ya, teman saya dari australia pulang hari ini jadi saya baru akan membawanya ke bengkel miliknya.” Sahutku santai.


Tapi bagi dia sepertinya tidak santai. Dia masih memandangi cat itu dengan wajah yang terlihat merasa bersalah.


“Apa harus sekolah ke australia untuk memperbaiki cat mobil seperti ini?” suaranya terdengar parau.


Aku berdecik, entah dia memang naif atau hanya pura-pura naif. Bagaimana bisa dia berfikir harus sekolah ke Australia untuk belajar memperbaiki cat mobil. Ingin sekali aku tertawa.


Tapi tunggu, aku ingin mengerjainya.


“Kamu fikir memperbaiki cat mobil itu gampang? Apalagi mobil seperti ini.”


Lihat, dia mulai menoleh dan tampak semakin berkerut hingga tidak berani menimpali.


“Siapkan sarapan, saya sudah kesiangan.”


Langsung membuka pintu mobil, menyimpan tas kerjaku di jok kiri lalu menutupnya perlahan. Sangat hati-hati. Aku sangat ingin tertawa melihat tingkahnya, dia pikir mobilku agar-agar sampai harus lemah lembut begitu?


Dia langsung menuju meja makan, menyiapkan sarapan di atas piring lengkap dengan sendok dan garpu di sisi kiri dan kanan.


Duduk di tempatku dan mulai menikmati sarapan sementara dia masih menunduk di tempatnya. Aku meliriknya dengan sudut mata, jarinya saling memilin memainkan renda apronnya. Ciri khas bagi seseorang yang gugup atau takut.


“Saya minta maaf.” Suaranya parau, nyaris tidak terdengar.


“Untuk?” aku tetap melanjutkan kunyahan nasi gorengku sambil menyimak kalimatnya.


“Saat kita bertabrakan, saya pikir saya adalah orang paling malang di dunia ini karena harus kehilangan bahan kue yang kami beli dengan susah payah. Tapi ternyata, kesulitan tuan jauh lebih besar."


"Biaya yang harus dikeluarkan pun jauh lebih besar dari yang saya keluarkan. Saya minta maaf tuan, saya benar-benar menyesal.”


Sekilas aku lihat dia yang masih menunduk dan sesekali mengangguk mengekspresikan permintaan maafnya.


Seperti ada pasir di antara nasi goreng yang aku nikmati. Dia terlihat sangat merasa bersalah dan sial, aku malah mengerjainya. Harusnya tadi aku menghentikan keisenganku.


Aku mengambil air minumku lalu meneguknya hingga tandas.


“Kalau kamu menyesal, bekerjalah dengan benar.” Aku hanya bisa menimpali seperti itu. Dalam artian, cukup rasa bersalahnya, aku hanya bercanda.


“Apa ada sikap saya yang kurang berkenan atau pekerjaan saya yang kurang baik tuan? Saya akan memperbaikinya.”


Eh, dia baper. Dia benar-benar memasukkannya ke dalam hati.


Dia menatapku lekat-lekat dengan sorot mata bimbangnya.


“Sudah cukup baik, pertahankan bahkan kalau bisa tingkatkan.” Sahutku, persis seorang guru yang sedang menulis ulasan di raport. Aku ingin tertawa mendengar kalimat absurdku sendiri.


“Baik tuan.” Dia langsung sigap dan tersenyum.


Sudah, jangan pasang muka seperti itu, membuatku merasa bersalah saja karena mengerjainya. Ada baiknya aku segera menyelesaikan sarapanku dan berangkat ke kantor. Sudah cukup drama pagi ini.


*******