Marry The Heir

Marry The Heir
Maaf



“Disa,”


Kean masih menunggu kalimat Reza yang terjeda oleh sebuah tarikan nafas berat. Ia mencengkram botol di tangannya dengan kuat seperti tengah menyalurkan perasaan kecewanya.


“Nolak gue.” Nafasnya tercekat.


Seperti ada sekumpulan harapan yang ikut pergi setelah kalimat itu bulat diucapkan Reza.


Kean masih termangu, ia tidak salah dengar bukan? Disa menolak Reza, apa tidak salah?


Bukankah ia sangat menyukai Reza sejak awal pertama mereka bertemu? Apa yang merubah keputusannya?


Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Di satu sisi, Kean ikut merasakan kekecewaan Reza saat membayangkan merpati yang hampir di tangkapnya terbang jauh dan tidak kembali.


Di sisi lain, perasaan macam apa ini? Apa tepat kalau ia merasa tenang di waktu yang bersamaan? Apa terlalu jahat kalau sudut hatinya sedikit lega saat tahu kalau Disa bukanlah milik Reza.


Lantas, kebahagiaan yang Kean tanyakan pada Disa semalam, apa benar gadis itu merasakannya?


Kean mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada kata-kata manis yang ia ucapkan untuk menghibur sahabatnya. Penolakan bagi Reza yang seorang superior masalah menarik hati perempuan, bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah ia terima. Mungkin hatinya terluka lebih dalam dan mungkin kekecewaannya lebih besar dari yang dibayangkan Kean.


Mungkin saat ini Reza pun merasakan kesakitan yang semalam ia rasakan.


Belum 24 jam tapi keadaan berbalik dengan cepat. Semalam Kean yang di buat menangis dan kali ini mata Reza yang tampak berkaca-kaca. Satu hal yang Kean sadari, Disa seorang Wanita yang sangat berhati-hati dengan perasaannya. Pertimbangannya kuat untuk memutuskan ia harus berada di dekat siapa dan siapa yang ia pilih untuk menempati tempat terindah di hatinya.


Dari banyak kisah kandas hubungan sang Casanova, Kean tidak pernah melihat Reza terpukul seperti ini. Ia masih bisa menghadapi orang-orang di sekitar, masih bisa tertawa walau setengah jam lalu baru memutuskan pacarnya dan masih bisa berbicara gamblang tentang apa yang ia rasakan. Tapi kali ini, ia terpuruk.


Apa mungkin ia sudah jatuh terlalu dalam, menambatkan hatinya pada Disa?


Seperti mendapat benturan hebat saat di hati dan kepalanya saat kalimat tidak terduga itu di ucapkan Disa. Sebuah penolakan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


Disa yang selalu tersipu saat ia menatapnya.


Disa yang selalu salah tingkah saat ia menggodanya.


Disa yang selalu menunjukkan tempat yang nyaman untuk siapapun yang ada di dekatnya, ternyata tidak semudah itu ia dapatkan.


Entah apa yang ada di hati dan pikirannya hingga ia tidak yakin meneruskan perasaannya pada sebuah komitmen yang lebih serius.


Apa yang kurang dari Mahreza Adjie? Bukankah Wanita manapun bisa ia dapatkan hanya dengan satu kedipan mata dan satu senyuman menawan? Mengapa Disa begitu berbeda? Ia tidak lantas yakin untuk menerima Reza hanya karena dengan dua hal memabukkan itu.


Mungkin selama ini Reza terlalu percaya diri kalau Disa akan menerimanya hingga akhirnya ia sangat kecewa.


“Apa yang kurang dari gue sampe disa nolak gue?” pertanyaan itu Reza tujukan pada Kean yang termangu di sampingnya, seperti ikut berfikir.


“Gue pikir, gue cukup mengenal disa. Gue bisa mengukur sedalam apa perasaan disa sama gue. Tapi gue lengah. Gue terlalu naif dan percaya diri atas keyakinan gue. Disa bukan gadis yang bisa gue bujuk hanya dengan hal-hal manis. Gue,”


Reza tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Terlalu sakit kalau ia mengingat kembali penolakan Disa. Ia tersedu. Baru kali ini ia menangis karena seorang wanita.


Di tempatnya, Kean tidak bergeming. Tidak terlintas di pikirannya penghiburan macam apa yang bisa ia berikan untuk sahabatnya. Ternyata perasaan itu rumit. Tidak bisa di selami dengan mudah seperti palung mariana. Disa memiliki misteri sendiri yang tidak semua orang bisa lihat.


“Disa, apa yang kamu pikirkan?” batin Kean.


*****


Flash back


POV Disa:


Aku seperti berdiri di ujung jurang, melepaskan tali pengikat jembatan yang selama ini membawa perasaanku pada Kak Reza.


Jujur, Laki-laki tampan dengan senyum menawan itu memberi keindahan dalam beberapa waktu yang aku lewati.


Seperti mendapat penghiburan di tengah kekalutan dan keindahan di tengah kerunyaman, laki-laki itu hadir memberi perasaan yang berbeda.


Jatuh cinta pada pandangaan pertama, seperti sebuah lagu, perasaan itu memang indah. Memberi sensasi yang berbeda pada setiap saat kita memikirkannya. Dopamine meningkat dan membuat kita seharian merasa bahagia.


Sore ini, kak Reza tiba-tiba datang ke rumah. Seperti biasa, ada bu Nita yang ikut serta. Berulangnya kejadian seperti ini membuat aku yakin Kak Reza ingin mengajakku pergi. Maka ibunyalah yang menggantikanku menjaga nyonya besar.


Aku selalu merasa dikejutkan dengan kedatangan mereka yang tanpa pemberitahuan. Jujur aku tidak terlalu suka dengan kejutan karena itu membuat jantungku kempis kembung tidak karuan.


Mungkin bagi sebagaian orang, harusnya aku bersyukur karena ada laki-laki tampan yang aku sukai mendekat dan dengan sukarela ibunya meringankan pekerjaanku. Tapi sayangnya, aku tidak merasa seperti itu.


Bukan aku tidak mensyukuri kebaikan bu Nita, hanya saja aku selalu merasa digiring untuk mengikuti keinginan mereka tanpa mempertimbangkan pendapatku. Aku merasa di paksa untuk meninggalkan kewajibanku menjaga nyonya besar yang sangat aku hormati. Aku memang tidak pernah melihat wajah tidak suka dari nyonya besar saat aku pergi dengan kak Reza atau asyik dengan obrolan kami sendiri.


Bukan. Ini bukan tanggapan orang lain terhadap sikapku. Tapi ini tentang tanggapanku pada sikapku sendiri yang terkesan menggampangkan dan meninggalkan kewajiban. Beranjak dari itu, aku mulai berfikir mungkin saja Kak Reza mendekatiku karena perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Perasaan di giring, bukan karena keinginannya sendiri.


Percaya atau tidak, moment itu perlu di ciptakan tapi bukan di paksakan. Aku suka pada proses yang mengalir tanpa paksaan. Aku harus memiliki alasan yang jelas untuk melakukan segala sesuatu agar kelak aku bisa mempertanggung jawabkan pilihanku.


Cara kami didekatkan, membuatku tidak bisa mengukur perasaanku dan perasaan kak Reza hingga akhirnya aku merasa ragu.


“Sa, aku punya sesuatu yang mau aku tunjukkan. Kamu bisa ikut ke gallery?” tanya Kak Reza mengawali kepergian kami.


“Iya, reza punya kejutan untuk kamu. Kamu pergilah dengan reza, saya yang akan menjaga arini.” Sambung bu Nita dengan antusias.


Kalimat seperti inilah yang membuatku gamang. Antara benar ini niat kak Reza atau keinginan Bu Nita. Dan lagi, mereka tidak bertanya apakah aku mau atau tidak. Pendapatku bukan hal penting bagi mereka.


Dan bodohnya, aku selalu kehilangan kata-kata untuk menolaknya. Padahal aku tahu, penting memberi tahu mereka apa yang aku pikirkan.


Malam itu juga, aku pergi ke gallery bersama kak Reza. Suasana gallery yang terasa romantis di malam hari, di tambah nyala lampu yang sedikit redup, tidak aku pungkiri kalau itu membuat rasa menggelitik di hatiku hadir.


“Kemarilah.” Kak Reza mengulurkan tangannya padaku seperti sang pangeran yang meminta tuan putrinya turut serta.


Ia membawaku untuk duduk di hadapan piano kesayangannya lantas memberiku senyumannya yang sangat tampan.


“Aku punya lagu untuk kamu sa. Lagu yang aku tulis sendiri dan aku harap kamu suka.” Ujar Kak Reza dengan penuh harap.


“Oh ya?”


Aku cukup terkejut. Ini kejutan pertama yang aku terima dan menurutku ini sangat manis.


“Hem. Kamu mau dengar?”


“Iya kak.” Penasaran juga seperti apa lagu yang di buat Kak Reza untukku.


Tangan Kak Reza mulai menari di atas barisan tuts. Jalinan melodi mulai terdengar hangat di telingaku. Ku perhatikan tangannya yang lincah bergerak dari satu bar ke bar lain dengan matanya yang terpejam. Melodinya terdengar hangat, cukup menyentuh jika ini di sebut sebuah lagu cinta.


Ku lihat partiture lagu yang saat ini dimainkan kak Reza. Ku lihat juga lirik lagu yang ia tulis.


“Rasanya nyaman saat bersamamu, bisa menghapus semua rasa sepi ratusan malam yang pernah aku lewati.


Kamu terlalu indah, mengisi hidupku yang kosong lagi hampa.


Adakah masa jika kelak kita bersama selamanya.”


Begitu penggalan lirik yang aku baca pada lagu yang kak Reza buat. Sangat menyetuh untuk sebuah lagu cinta dan membuatku termangu. Benarkah lagu cinta ini untukku? Apa ini perasaan kak Reza yang sebenarnya atau hanya mengejar rima yang indah di akhir kalimatnya?


Aku menoleh Kak Reza yang begitu menikmati permainan pianonya. Aku menyukainya, hanya saja tidak ada rasa istimewa yang masuk ke relung hatiku. Ada apa denganku?


Aku menarik nafas perlahan. Ini aneh. Biasanya dadaku langsung berdebar kencang saat mendengar kalimat manis yang kak Reza ucapkan. Lirik lagunya yang mendalam harusnya bisa membuat hatiku meleleh. Tapi mengapa aku merasa biasa saja?


“Kamu suka?” tanyanya di ujung permainannya.


Aku terangguk lantas tersenyum. Aku menikmati lagu yang dimainkan kak Reza murni sebagai sebuah lagu. Tapi tidak menikmatinya sebagai ungkapan cinta yang ia utarakan.


Ya tuhan, apa yang terjadi denganku? Bukankah seharusnya aku merasa sangat bahagia mendapat ungkapan cinta dari laki-laki yang aku sukai sejak pertama kali kami bertemu?


Aku bisa melihat kalau kak Reza tampak senang melihat responku. Ia menghentikan permainan pianonya. Tangannya tergerak seperti ia berusaha menyentuh tanganku. Namun dengan cepat tanganku terangkat, menyelipkan helaian rambut di telingaku.


Ia terlihat cukup terkejut namun tetap tersenyum padaku.


Tubuhku kenapa? Dia seperti otomatis menghindar.


“Belum kak.” Sahutku jujur.


“Heheheh.. Iya pasti belum ya. Aku ngajak kamu pergi dari sore, mana sempat kamu makan malam.” Ia tersenyum kaku seperti menertawakan pertanyaannya sendiri.


Aku hanya tersenyum, perbincangan kami memang banyak “Stuck-nya.” Tidak alami karena kami memang tidak terbiasa berbincang hal kecil dan enteng. Apalagi berkualitas dan mendekatkan.


“Kita makan yuk, aku udah nyiapin makan malam buat kita.” Ajakan ini terasa benar kalau ia mengatakannya dengan penuh kesungguhan.


“Iya kak.” Aku memang sudah sangat lapar maka tidak ada alasan untuk menolak.


“Yuk!” dia beranjak lebih dulu.


Aku mengikutinya di belakang menuju ruang makan yang hanya terpisah oleh sebuah partisi.


Aku cukup terkejut karena ku lihat meja makan yang di tata dengan rapi. Ada lilin yang menyala di sisi kiri dan kanan dengan aneka makanan yang terlihat mengundang selera. Rupanya makan malam ini pun sudah kak Reza siapkan. Masuk ke dalam kejutan kedua yang seharusnya membuatku semakin tersentuh. Apa kak Reza yang menyiapkannya? Atau ada inisiatif orang lain?


“Duduklah.” Kak Reza menarikkan kursi untukku. Ini seperti makan malam romantis yang biasanya aku lihat di film drama percintaan.


“Makasih kak.” Sahutku ringan.


“Makanlah, aku harap kamu suka.” Kami duduk berhadapan. Di hadapan kami ada berbagai menu makanan yang semuanya adalah makanan kesukaanku.


Aku cukup terkesan sampai akhirnya aku sadar, hanya ada satu orang yang tahu makanan kesukaanku selengkap ini. Tumisan yang mengandung buncis yang di iris tipis, bukan memanjang. Capcay tanpa brokoli, yang aku sukai karena brokoli bukanlah makanan kesukaanku. Tumis daging yang di cincang lalu di bentuk seperti perkedel dan bukan di potong tipis.


Ya, hanya satu orang yang tahu makanan kesukaanku seperti ini. Entah ini benar-benar usaha kak Reza atau usaha orang lain untuk membuatku terkesan.


“Kak reza tahu semua makanan favoritku. Bagaimana bisa?” tanyaku iseng. Terlalu mengganjal kalau tidak aku tanyakan.


“Hem, mamah bilang makanan seperti ini yang kamu sukai. Apakah benar? Aku cukup terkejut kalau kamu tidak suka brokoli.” Jawab kak Reza ringan.


Aku hanya tersenyum samar, benar bukan, ini orang lain yang menyiapkannya. Padahal bagiku, untuk membuatku terkesan, bukan dengan menyediakan makanan yang aku sukai. Jika ini langkah pendekatan, berikan makanan biasa tanpa mempertimbangkan aku suka atau tidak. Bukankah ia perlu melihat sendiri apa yang aku suka dan tidak?


Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi bagiku itu langkah bagi kami untuk saling mengenal dan melihat apa kami bisa beradaptasi satu sama lain atau tidak.


“Karena brokoli gak berasa.” Sahutku dengan seutas senyum.


Kak Reza mengangguk dengan mulut membulat. Langkah ini yang harusnya menjadi awal langkah kami yang terjadi secara alami untuk saling mengenal. Tapi mengapa malah terasa terlewat?


Kami mulai menikmati makan malam. Suasana hening tanpa ada perbincangan yang berarti. Makanannya enak seperti biasa dan bisa masuk ke dalam perutku yang juga sudah sangat terbiasa.


Sebuah deringan telpon menjeda makan malam romantis kami. Ponsel milik kak Reza yang berdering nyaring. Ia melihat ponselnya yang berada di saku kemeja dan raut wajahnya berubah.


“Aku jawab sebentar ya sa.” Dia meminta izin.


“Silakan kak.” Sahutku ringan.


Dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Menjauh dariku baru menjawab telponnya. Ku pikir ia akan menerima panggilannya di depanku.


“Iya len? Gimana ghea?” sayup-sayup ku dengar pertanyaan itu.


Rasanya aku tahu alasan dia pergi meninggalkanku, lagi. Ada hal yang lebih penting yang sedang ia tunggu kabarnya dengan cemas. Bukan cemburu, hanya saja menyadarkanku kalau masih ada hal penting yang tidak seutuhnya perlu aku tahu. Padahal kalau ia menjawab telponnya di hadapanku, aku lebih bisa menerimanya.


Bukankah pendekatan di mulai dari saling terbuka siapa orang-orang yang ada di sekitar kita dan apa kita bisa menerimanya satu sama lain?


Aku menghabiskan makan malamku dengan gusar. Hingga suapan terakhir, kak Reza belum kembali dan ia masih bertelpon di taman belakang.


Seusai makan malam, aku memilih menunggu kak Reza di ruang seni, memandangi lukisan yang belum selesai aku buat. Ku ambil kuas dan paleteku lantas mengisinya dengan cat warna warni. Aku ingin menyelesaikan lukisan pantai yang pernah aku mulai.


Melengkapi lukisan dengan sudut pandangku saat mengingat tempat ini. Aku pun menambahkan jejak langkah dua orang di lukisan ini. Nyaris selesai, namun seperti ada yang kurang. Sedikit berfikir, apa kurangnya dari lukisan ini. Mungkin aku perlu sedikit menghirup udara segar agar pikiranku bisa kembali fokus.


Ku hampiri jendela ruang seni yang menghadap ke taman. Lampu taman yang menyala indah dengan semilir angin malam yang lembut membuatku bisa menghirup wangi bunga yang ikut di terbangkan angin dan memberi rasa segar pada pikiranku yang buntu.


Aku tersenyum sendiri saat aku tahu, apa yang kurang dari lukisanku.


Ku tutup jendela ini dan memutuskan untuk menyelesaikan lukisanku.


Tanganku bergerak dengan cepat. Mengkombinasikan warna yang membuat lukisanku menjadi hidup dan memiliki arti. Aku tahu yang kurang itu apa, ialah perasaanku saat melihat jejak kaki di pasir pantai. Maka aku melukiskannya dengan warna jingga sebagai pancaran dari cahaya matahari yang mulai meredup. Jejak kaki ku buat lebih panjang dengan sosok dua orang yang semakin menjauh dari pandangan hingga terlihat samar. Mungkin hari di sore itu akan berakhir dan jejak kaki akan menghilang keesokan harinya. Namun setiap titik kenangan, aku simpan di lukisan ini.


“Sa,” panggil suara kak Reza di belakangku.


Aku melihat pantulan bayangannya dari kaca jendela di hadapanku.


“Iya kak.” Aku segera menoleh.


“Maaf, bikin kamu nunggu lama.” Ujarnya seraya berjalan mendekat menghampiriku. Tangannya ia taruh di belakang tubuhnya seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku.


“Gak pa-pa kak. Yang penting itu harus di dahulukan.” Sahutku dengan senyuman samar. Tentu jika panggilan telpon tadi lebih penting, maka itu yang bisa kak Reza dahulukan.


Dia hanya tersenyum lantas berdiri di sampingku, ikut memandangi lukisanku untuk beberapa saat sampai akhirnya ia memutar kursiku menghadapnya.


“Ada hal yang harus aku katakan.” Ujarnya tiba-tiba. Wajahnya terlihat serius, berbeda dari biasanya.


“Iya, gimana kak?” aku selalu sabar menanti apa yang mau dia tunjukkan dan apa yang mau ia tahu dariku.


Tanpa di duga, ia berlutut di hadapanku. Menunjukkan sebucket bunga yang sebelumnya ia simpan di balik tubuhnya.


Aku benar-benar terkejut. Apa maksud kak Reza saat ini. Ia menatapku laman dan aku hanya bisa termangu.


“Maaf jika ini begitu tiba-tiba.” Ia mengawali kalimatnya yang terdengar berat. Entah ada keraguan atau rasa gugup yang ia coba tahan. Aku hanya fokus pada matanya. Katanya, ekspresi mata tidak pernah berbohong.


“Aku suka sama kamu. Aku mengagumi kamu dan aku ingin menghabiskan waktu untuk bisa lebih dekat dan mengenal kamu.” seperti hantaman pertama yang menembus dinding dadaku.


“Maaf kalau mungkin caraku ini tidak romantis. Hanya saja, aku ingin kamu tahu kalau kamu adalah salah satu orang terpenting dalam hidupku yang ingin aku jaga dan menempatkan kamu pada posisi terdekat di hatiku.”


“Aku cinta kamu sa.” Ujar kak Reza yang bersusah payah menyelesaikan kalimatnya. “Apa kamu mau menerimaku sebagai seseorang yang mengisi hatimu dan menempatkanku pada posisi terdekat di hati kamu?”


Akhirnya aku mendengar kalimat itu. Kalimat ungkapan cinta yang kerap membuat perasaan wanita berbunga-bunga. Terlebih yang menyatakannya adalah seseorang yang kita sukai sejak lama.


Aku hanya termangu, berusaha memahami apa yang aku rasakan.


Satu hal yang tidak terduga telah terjadi. Kenapa aku kehilangan debaran itu? Kenapa aku tidak merasakan desiran yang biasanya aku rasakan saat aku melihat kak Reza? Kenapa aku tidak merasakan lagi perasaan itu?


Tidak ada kejutan yang membuat perasaanku membuncah dengan ribuan rasa di cintai seperti yang aku bayangkan jika suatu saat kak Reza mengungkapkan perasaannya.


Saat mendengar ungkapan cinta itu, aku merasa itu tidak lagi istimewa karena yang aku butuhkan bukan ungkapan cinta yang manis melainkan seseorang untuk berbagi cerita.


Anggap saja cerita remeh temeh tentang tidak mendapatkan parkir, lupa menyalakan pemanas air setelah mengganti galon, cerita bagaimana hari yang kami lewati, cerita remeh temeh lain yang membuat kita tertawa atau hal menyebalkan yang membuat kita menangis sekalipun.


Kami tidak pernah bertemu dalam kondisi itu. Jarak kami terlampau jauh untuk disebut saling mengenal setelah beberapa lama kami menjalin kedekatan. Aku merasa, kalau perasaanku pada kak Reza hanya sebatas kekaguman.


Dan aku tidak bisa bertaruh untuk sebuah hubungan yang hanya berdasar pada perasaan yang semu. Debaran itu sudah hilang, aku tidak lagi merasakannya.


Sejak kapan?


Entahlah.


Yang jelas, saat aku melihat kedekatan kak Reza dengan kak Ellen, aku tidak merasakan cemburu. Saat melihat mereka asyik berbincang, aku tidak merasa kalau kami berada pada satu frekuensi yang sama. Dan aku tidak lagi gelisah atau menunggu kesempatan untuk kami bisa bertemu. Ini bukan tentang sikapnya yang tidak bisa aku terima tapi tentang perasaanku yang tidak lagi sama.


Semua hilang begitu saja. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjawab, “Maaf, aku gak bisa kak.” Lirihku.


Ekspresi Kak Reza langsung berubah. Aku bisa melihat kekecewaan yang tergambar di wajahnya.


Untuk beberapa saat kami saling terdiam. Kak Reza masih mencerna jawabanku dan aku makin yakin dengan jawabanku. Lagi, aku tidak bisa bertaruh untuk sebuah hubungan yang hanya berdasar pada perasaan yang semu. Maka seharusnya aku tidak memulai ikatan yang tidak lagi memberikan debaran kencang di dadaku dan desiran halus di aliran darahku.


Aku tidak bisa menjanjikan jika kelak aku bisa kembali merasakan perasaan itu. Maka, aku tidak akan mengikat kak Reza untuk alasan apapun.


“Maaf,..”


*****