
Disa melonjak kegirangan saat melihat banyaknya barang yang diantar langsung ke kamar hotelnya. Mulai dari tiga buah manekin, kain-kain beraneka warna dan jenis, mesin jahit, hingga barang-barang kecil seperti benang dan jarum juga manik-manik. Tidak lupa satu set alat membatik untuk melukis sayap.
Seperti mimpi, melihat benda-benda ini ada di hadapannya dalam waktu bersamaan. Rasanya ada ibu peri yang tiba-tiba saja datang dan mengabulkan semua permintaannya dalam satu kejapan mata. Dulu ia hanya bisa membayangkan memiliki barang-barang seperti ini tapi saat ini semua nyata, bisa ia lihat dan sentuh langsung.
Dengan semangat Disa menata barang-barangnya agar lebih mudah ia cari dan gunakan. Ada lemari kecil juga yang ia fungsikan untuk menyimpan perintilan kecil agar tidak terserak dan hilang.
Mengusap manekin dengan penuh perasaan dan memandangi barang-barangnya dengan rasa haru. Semangat yang semula redup kini kembali menyala.
“Tekadkan hati kamu dengan kuat dan nikmati setiap perjalanan yang akan kamu hadapi.” Kalimat itu terngiang begitu saja di telinga Disa. Kalimat yang diucapkan Sugih saat ia menunjukkan bukti pendaftaran kuliah dan memutuskan kelak akan menjadi seorang desainer, alih-alih meneruskan melukis.
Laki-laki itu dengan penuh kebanggan pengusap bahu Disa, seolah memberi keyakinan pada Disa bahwa ia telah mengambil keputusan yang tepat , bisa melewati semuanya dan mendapatkan apa yang ia mau.
Tapi siapa sangka, di waktu yang bersamaan Disa melakukan keduanya. Melukis dan mendesain bahkan membuat baju untuk model idolanya. Jadi teringat pada kebaikan Sugih dan Meri yang memberinya kesempatan untuk mengenal dunia desain.
Walau langkahnya harus terhenti di tengah jalan, tapi tidak sedikit ilmu yang ia dapatkan. Mengenal banyak tokoh fashion dunia dari buku-buku yang ia baca, memberi ia banyak pencerahan. Walau ilmu tidak melulu ia dapatkan dari bangku sekolah, ia tetap berharap jika kelak ada kesempatan lagi, ia bertekad untuk meningkatkan ilmu dan kemampuannya.
Mengingat hal itu, membuat tujuannya semula berubah. Ia tidak memikirkan lagi harus menjadi juara satu dalam kompetisi ini. Ia hanya ingin menghasilkan karya terbaik dan mengeluarkan segala kemampuannya. Juara satu, dua atau tiga, hanya bonus yang kelak ia dapat. Ya, nikmati saja prosesnya.
“Tring!”
Sebuah pesan masuk daan terlihat pengirimnyaa adalah Damar.
“Sa, liat vlog gue.” Tulisnya.
Damar mengirimkan sebuah link dan Disa segera membukanya.
Wah kejutan apa ini, Damar benar-benar melakukannya. Sebuah vlog yang di awali dengan menampilkan perkenalan Damar lewat sebuah graffiti. Di lanjut dengan memamerkan cara ia membuat tulisan artistic itu di dinding polos dan di akhiri dengan tawaran yang membuat penasaran yaitu tips dan trick yang akan ia ajarkan pada penonton setia channelnya. Next part katanya.
Sepanjang pemutaran video Disa tersenyum sendiri melihat cara Damar bicara dan menerangkan, ternyata sangat lucu. Sepertinya script kata-katanya di buatkan oleh Eko karena terdengar sedikit janggal, bukan cara bicara Damar sama sekali. Tapi paling tidak, ada usaha keras dari sahabatnya yang jarang berbicara ini. Keberadaan Eko membuat cara berkomunikasi Damar sedikit membaik.
Di video ini pula Damar menunjukkan sisi maskulinnya sebagai seorang laki-laki. Rambut gondrongnya ia biarkan tergerai dan baru ia ikat saat mulai menggambar. Cara mengikatnya itu yang membuat Disa terkekeh sendiri. Pasti, ini pun settingan Eko karena sengaja di buat sangat dramatis dengan slow motion.
Tidak bisa di bantah, sosok Damar yang tampan dan maskulin memang menjadi magnet tersendiri untuk menarik minat terutama kaum hawa. Hal ini juga yang membuat vlog-nya lebih cepat trending. Di dunia semacam ini, looks yang menarik memang di perlukan selain harus memiliki konsep yang menarik.
Fokus Disa beralih pada kolom komentar. Baru semalam video ini di upload, ternyata penontonnya sudah banyak dan didominasi oleh kaum hawa. Tidak salah lagi, pasti ini pengikut Damar di akun instagramnya yang sudah mencapai puluhan ribu.
“Keren mong! Damong gue emang hebat.” Puji Disa dalam kolom komentar.
Dalam hitungan detik komentarnya disukai creator, rupanya Damar pun sedang memutar videonya.
“Ngomong gue masih belibet sa. Si eko gak jelas ngasih script-nya, mana pake di coret sebagian lagi. Terus tulisannya jelek banget, empet mata gue.” Balas Damar panjang lebar.
Astaga polos sekali, dia membuka kartunya di kolom komentar. Disa jadi meringis geli membaca tulisan Damar.
“Kak damar, kok gak balas komen aku? Kak Disa ini pacarnya kak damar ya?” reply seorang netizen membalas komentar Damar.
Kenapa sih kalau melihat kedekatan dua orang di dunia maya selalu di anggap ada hubungan asmara? Masih jadi pertanyaan misterius sampai saat ini. Apa dengan berbalas pesan bisa dianggap dua orang memiliki hubungan percintaan? Bukankah ada bentuk hubungan lain yang sebenarnya lebih berarti?
“Sobat gue ini. Calon desainer.” Balas Damar dengan bangga.
Disa jadi tertawa sendiri melihat aksi saling balas Damar dengan penggemarnya. Alhasil kolom komentar Disa di serbu banyak penggemar Damar yang bertanya tentang hal pribadi lainnya. Ada sebagain yang di jawab dan banyaknya di abaikan. Ya begitulah Damar. Tidak di dunia nyata ataupun dunia maya, ia tidak terlalu pandai berkomunikasi dengan orang lain apalagi kalau di anggap tidak dekat. Circle-nya cukup sempit tapi dengan adanya vlog yang ia buat paling tidak bisa menambah pertemanan Damar walau hanya secara virtual.
“Nanti ya, gue bikin vlog sama sobat gue. Lo semua wajib nonton. Awas kalo kagak like, komen, share sama subscribe.” Balas Damar akhirnya.
Astaga, Damar main menebar janji aja sebelum bikin kesepakatan. Beginilah kebiasaan para lelaki menebar janji dengan mudah, eh ups!
Tapi paling tidak Disa bisa menghela nafas lega, Damar benar-benar memulai langkahnya. Dan kali ini ia pun sama, harus memulai langkahnya.
Di pandanginya kembali manekuin di hadapannya. Di usapnya perlahan, tidak pernah menyangka kalau ia akan memiliki manekin sendiri. Tidak perlu lagi membuatnya dari koran yang sekali senggol saja hancuur. Kali ini ia seperti benar-benar menjadi seorang desainer.
Tugas ia selanjutnya adalah, menghubungi asisten Clara. Menanyakan ukuran tubuh Clara dan mengukur beberapa bagian yang biasanya krusial. Semoga saja Clara bisa di ajak kerjasama. Ya, semoga saja.
******
Pertempuran besar sedang dihadapi Kean. Seorang pimpinan anak perusahaan menolak untuk di ganti padahal hasil voting manajemen sudah di setujui ia akan di turunkan dari jabatannya. Walau bisa dibilang kesalahannya cukup besar, Kean masih memberinya satu kesempatan lagi dengan tidak langsung memecatnya.
Tapi karena merasa masa kerja yang lama, rasa loyalitas yang tinggi serta merasa telah berkontribusi besar terhadap perusahaan menjadi alasan ia tidak mau diturunkan dari jabatannya dan perdebatan alot ini cukup membuat suasana ruangan memanas.
“Saya tidak pernah mengambil uang perusahaan. Tidak sedikitpun. Saya hanya mengambil kesempatan untuk membuat rekanan kita tetap loyal dan tidak ada salahnya bukan? Toh perusahaan tidak di rugikan juga.” Kilahnya saat Kean melihat banyaknya barang produksi yang kerap di timbun.
“Hey, kalian mengenal saya. Kalian tahu bagaimana kedekatan saya dengan sigit. Kalian juga tahu kan kalau sigit tidak akan mempermasalahkan ini selama perusahaan berjalan dengan baik?” ia mulai menyerang sisi pribadi jajaran manajemen, membuat mereka bisik-bisik satu sama lain.
Kean hanya terdiam, mendengarkan laki-laki ini berkoar-koar. Masih memberi ia kesempatan sampai akhirnya ia harus diam dan menerima keputusannya.
Kean mengguyar rambutnya kasar, merapikan jasnya lalu menegakkan tubuhnya. Ia menatap tajam laki-laki yang mengingkari tudingan Kean.
“Loyalitas rekanan bukan didapatkan dengan anda sering mengajaknya makan bersama.”
“Anda memang tidak mengambil uang perusahaan tapi menimbun barang produksi secara berlebih padahal barang-barang itu bisa digunakan untuk menyuplai kebutuhan dari tawaran rekanan lain, itu menghambat perkembangan perusahaan.”
“Dan untuk menutupi banyaknya barang produksi yang anda buat, anda tidak menghitung jam lembur karyawan apalagi membayarkannya. Apa anda pikir itu tidak merusak kepercayaan para buruh terhadap perusahaan kita?” tantang Kean kemudian.
Laki-laki itu tampak gelagapan. Ia tidak menyangka Kean akan mengetahui kartunya. Ia melihat sekelilingnya dan terlihat orang-orang berbisik memperbincangkannya. Kean hanya tersenyum dingin memandangi laki-laki yang tampak sedang mencari alasan.
“Saya tidak pernah melakukan itu. Buktinya tidak ada karyawan yang protes bukan?”
"Saya hanya berusaha menyiapkan stok yang nantinya,”
“Bisa anda jual secara terpisah pada pihak yang tidak ada dalam daftar rekanan kita!” seru Kean memotong kalimat laki-laki paruh baya itu. Ia bisa memperkirakan persis apa yang ada di kepala laki-laki ini.
Ia mulai beranjak dari tempat duduknya dan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Cukup sudah kesabarannya menanggapi kicauan tidak jelas laki-laki ini. Kesempatan yang ia berikan sudah habis. .
“Anda pikir saya tidak melihat absensi karyawan yang overtime tapi tidak ada pembayaran lembur?” satu berkas Kean lempar ke hadapan laki-laki itu.
“Lalu anda pikir saya tidak melihat biaya maintenance alat dan bangunan serta pembayaran listrik dan sebagainya yang melebihi ambang batas tapi tidak sesuai dengan perhitungan hasil produksi?” lagi ia melempar berkas kedua ke hadapan laki-laki itu.
“Apa anda pikir hal semacam ini masih di anggap layak dilakukan oleh seorang pimpinan anak perusahaan di hardjoyo group?” tandasnya seraya menatap laki-laki itu dengan tajam.
Laki-laki itu tidak bisa menjawab. Ia melihat kesekelilingnya yang ikut memandanginya dengan tajam. Memberi penghakiman atas apa yang ia lakukan.
“Saya, saya minta maaf tuan.” Ujar laki-laki itu akhirnya.
Ia tertunduk lesu, merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa Kean menemukan kejanggalan ini. Padahal sudah belasan tahun ia aman melakukan semua ini. Ternyata seorang Kean bukan orang sembarangan. Ia pikir, ia bisa membodohi tuan mudanya dengan alasan yang ia buat. Nyatanya, Kean tidak seperti yang ia bayangkan.
Berganti Kean yang tersenyum sarkas. “Apa masih ada yang ingin di bahas dari rapat ini? Saya kira keputusan kita sudah benar bukan?” ujarnya memedarkan pandangannya pada seisi ruangan.
“Sudah tuan, kami setuju dengan putusan anda.” Sahut salah satu perwakilan manajemen.
Kean tersenyum tipis seraya memainkan ballpoint di tangannya. Ia menatap laki-laki itu yang terlihat menyimpan kekesalan padanya.
“Lalu, apalagi yang anda tunggu? Diturunkan dari jabatan tanpa di proses hukum apakah tidak cukup membuat anda bersyukur?” tanya Kean pada laki-laki di hadapannya.
Alih-alih mengiyakan perkataan tuan mudanya, laki-laki itu malah menatap Kean dengan wajah menantang.
“Like father like son, sikap kalian sama-sama arogan.” Ujarnya dengan mata menyalak pada Kean. Kean tahu, yang di maksudkan laki-laki ini adalah ia dan ayahnya.
“Anda seperti anak singa yang baru bisa mencabik mangsa hingga anda tidak menggunakan otak anda untuk memikirkan cara berburu yang lebih cerdas. Anda sibuk menunjukkan taring anda pada lawan demi terlihat layak menjadi raja selanjutnya.”
“Ingan tuan muda, mengasah taring saja tidak cukup selama anda masih bersembunyi di ketiak raja hutan yang sesungguhnya. Jangan terlalu percaya diri dengan berhasil menyingkirkan saya! Anda bukan apa-apa.” Seru laki-laki itu.
“BRENG SEK!!!” teriak Kean. Digebraknya meja hingga seisi ruangan terperanjat.
Ia tidak terima ada seseorang yang merendahkannya di hadapan banyak orang. Ia berdiri menantang laki-laki itu dengan tangan mengepal dan kilatan mata penuh kemarahan.
“Jangan anda pikir apa yang anda katakan akan menjatuhkan saya! Anda hanya pecundang dan saya yang berkuasa penuh saat ini!” serunya membuat suasana hening seketika.
Kean sedang menunjukkan otoritasnya pada jajaran manajemen. Ia tidak mau lagi di anggap lemah karena terlihat hanya berlindung di bawah nama Sigit sebagai seorang pewaris Hardjoyo group. Usahanya untuk menunjukkan kemampuannya memimpin perusahaan masih di anggap keberutungan maka ia tidak bisa menerima penghinaan ini.
“Sepertinya kebaikanku membuatmu lebih lancang. Kamu ingin melihat siapa singa yang sebenarnya?” nafasnya terengah menahan emosi yang memuncak di dadanya.
Roy segera mendekat, khawatir tuan mudanya melewati batas.
Diambilnya satu berkas yang ia simpan dan semula tidak berniat ia tunjukkan. Namun laki-laki ini memaksanya untuk berbuat lebih dari kebaikan yang coba ia berikan. Membuka dokumen itu dan Kean membubuhkan tanda tangannya.
“Proses dia secara hukum!” tandasnya seraya melempar berkasnya ke hadapan Roy.
Laki-laki itu tercengang. Ia menatap Kean tidak percaya. Ia pikir, berbekal kedekatannya dengan Sigit, tidak akan membuat Kean seberani ini. Tapi sepertinya ia salah. Kean sedang menunjukkan siapa rajanya di sini dan tidak bisa ia bantah.
“Tuan, saya..” laki-laki itu mendekat. Wajahnya telihat panik.
“KELUAR!!!!” seru Kean menggema di ruang rapat.
Satu seruan itu membuat laki-laki paruh baya itu langsung gemetaran. Ia bahkan kehilangan kata-kata untuk ia sampaikan pada Kean. Sepertinya ia salah, ia telah membangunkan siapa raja yang sebenarnya.
*****