
POV Disa
Dulu aku pikir, kalau tawa itu hanya milik orang kaya sementara tangis hanya menjadi milik rakyat jelata. Pemahaman itu tertanam benar di kepalaku mengingat banyaknya pengalaman menyedihkan yang aku alami sedari kecil.
Salah satunya yang ku ingat adalah saat aku berada di taman bermain dan menjadi badut penghibur. Aku yang berada di dalam kostum Winnie the pooh hanya terbiasa meringis menahan lelah dan peluh yang bercucuran dan sesekali menangis saat ternyata setelah bekerja seharian dengan seluruh tenaga, aku tidak pernah mendapat hasil yang sepadan dengan usahaku.
Sementara mereka yang memiliki kekayaan berlimpah, mereka bisa bebas tertawa dan membeli kebahagiaan dengan uang mereka tanpa perlu memikirkan apa yang akan terjadi besok atau seperti apa hari esok harus mereka lewati.
Teori banyaknya kekayaan sepadan dengan kebahagiaan seseorang, menjadi moto yang cukup tidak adil untukku. Harusnya, banyaknya usahalah yang sepadan dengan kebahagiaan.
Tapi detik ini, sepertinya aku harus mengubah cara pandangku. Melihat apa yang terjadi sekarang, aku baru sadar kalau pikiranku kala itu sangatlah dangkal. Kebahagiaan bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang di miliki. Seberapa banyak barang yang bisa kita punya atau seberapa mampu mewujudkan setiap mimpi dengan uang kita. Jauh dari itu, rasanya aku mulai percaya, walau banyak hal bisa di beli dengan uang, tapi tidak berlaku untuk membeli sebuah kebahagiaan.
Kebahagiaan hanya datang saat kita bisa bersyukur atas apa yang kita miliki termasuk karena memiliki bahu yang kuat untuk menahan semua beban masalah kita.
Hah, aku menghela nafasku dengan gusar.
Walau malam sudah menjelang larut, aku masih di sini, di sebuah café yang sudah tutup dan hanya cahaya remang-remang yang menerangi ruangan yang di tata dengan aesthetic ini. Di pangkuanku ada seorang gadis cantik yang sedang tertidur setelah beberapa jam lalu menangis tanpa henti.
Non Shafira,
Ia masih memegang tangan kiriku sementara tangan kananku mengusap rambutnya perlahan. Entah apa yang terjadi dengan gadis ini hingga ia begitu terpuruk. Ia bahkan tidak berselera untuk mencicipi sedikit pun makanan yang di sajikan oleh temannya, Malvin. Sepertinya sangat enggan.
Beberapa jam lalu di kediaman Hardjoyo, kami sibuk mencari nona muda. Gurunya di sekolah menelpon Bu Kinar kalau non Fira pulang lebih awal setelah jam istirahat. Tapi hingga kumandang adzan isya terdengar, belum ada seorang pun yang menemukan keberadaan non Fira.
Suasana rumah yang tenang berubah ricuh. Tuan besar pulang lebih awal ia bahkan menelpon polisi karena putrinya masih belum di temukan. Kami semua sibuk mencari ke rumah teman-teman non fira atau ke tempat yang biasa ia datangi termasuk beberapa mall.
Nihil, kami tidak menemukannya.
Baru sore tadi aku melihat Nyonya Liana menangis. Ia memaki semua orang rumah termasuk polisi yang belum bisa melakukan pencarian karena belum 1x24 jam.
Hah, kalau melihat kejadian tadi rasanyaa jantungku ikut berloncatan dan berkeringat dingin. Nona muda yang selalu pulang tepat waktu dan berdiam diri di kamar, tiba-tiba menghilang, menjadi ketakutan tersendiri.
Bagaimana kalau ada kemalangan yang menimpanya? Bagaimana kalau ia kecelakaan atau bagaimana kalau ia ada yang menculik?
Aarrrghhhh! Aku benci dengan overthinking ku sendiri. Dalam keadaan seperti ini aku selalu tidak bisa berfikir jernih. Terlebih saat aku telpon ponsel non Fira mati, bertambahlah kekalutan kami.
Hingga tiba-tiba aku mengingat sebuah tempat. Tempat yang biasa di datangi non fira saat ingin menghibur dirinya sendiri atau sekedar melepas kejenuhan. Ya, pasti tempat inilah yang ia datangi.
Bodoh! Harusnya sedari tadi aku memikirkan tempat ini. Saat merasa kalut, entah mengapa begitu sukar berfikir jernih.
Sekitar 30 menit lalu, non Fira mulai terlihat tenang. Ia berhenti menangis lantas memelukku dengan erat.
“Maaf, aku udah bikin mba disa panik.” Lirihnya dengan suara yang terbata-bata.
Aku tahu, perasaannya belum sepenuhnya lega walau seharian menangis.
Ku usap punggungnya dengan lembut dan ia semakin mengeratkan pelukannya padaku. Aku pernah merasakan perasaan seperti ini, sendirian, ketakutan, panik dan tersisih.
Sejak kecil aku merasakannya dan mungkin saat ini pun sesekali aku masih merasakan hal yang sama.
“Bagi saya, yang terpenting adalah non fira baik-baik saja, hem…” aku berusaha menangkan non Fira. Bukan saatnya aku bertanya apalagi mengintrogasi perasaan non Fira. Ia masih butuh waktu dan aku yakin, saat mulai merasa tenang ia akan bercerita dengan sendirinya.
Hingga saat ini, sudah satu jam berlalu dan non Fira masih terbaring di sofa dengan kedua pangkal kakiku yang ia jadikan bantalan.
Walau pun genggaman tangannya sudah mulai longgar, tapi saat aku bergerak, dengan segera ia menarik tanganku.
“Nona, saya tidak tidak akan meninggalkan non fira. Hanya saja, tangan saya keringetan karena terus di pegangi dan akan membuat non fira tidak nyaman.” Rasanya aku ingin mengatakan hal itu. Tapi ku urungkan, karena saat ini non Fira sedang tidak ingin di tinggalkan. Mungkin itulah alasan yang membuat genggaman tangannya kembali erat.
Malam semakin larut dan ku lihat Malvin sudah selesai dengan tugas terakhirnya di café sebelum pulang. Gelas-gelas sudah di tata rapi di atas meja dan penutup piano sudah di rapikan. Hanya lampu saja yang belum di matikan, karena non Fira tidak terbiasa dengan lingkungan yang gelap.
Anak laki-laki tampan itu menghampiriku membawa segelas minuman hangat di tangannya.
“Kak, kalo fira mau nginep di sini, di atas ada kamar. Memang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk sekedar beristirahat. Saya juga sudah minta izin bos saya untuk meminjam ruangan tersebut.” Laki-laki di hadapanku memang sangat manis dan perhatian. Sepertinya bukan non Fira yang banyak mengenal Malvin, tapi malvin lah yang cukup mengenal non Fira hingga tahu kebutuhan sahabatnya.
“Makasih vin. Tapi sepertinya saya akan membawa non fira pulang. Kasian orang rumah pasti cemas nungguin no fira.” Aku menolaknya dengan halus. Walau niatan Malvin baik, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengiyakan tawarannya.
“Mau aku antar kak? Atau mau aku panggilkan taksi?” dengan sigap ia berdiri.
“Tidak usah, saya sudah meminta bantuan seseorang untuk menjemput kami pulang.”
“Baiklah.” Malvin ikut memandangi wajah non fira yang terlelap. Aku melihat kecemasan di wajahnya. “Dua hari lagi, kami akan tampil untuk sebuah acara amal dalam rangka memperingati hari kartini. Semoga Shafira bisa gabung. Karena kami sudah berlatih sangat keras.”
Aku mendengar anak itu berharap dengan sungguh-sungguh. Tatapannya pun terlihat laman memandangi wajah gadis yang rambutnya sedang aku belai.
“Semoga ya vin. Non fira gadis yang kuat, saya yakin beliau bisa melewati semuanya dengan baik.” Ku perhatikan sudut mata non fira yang sedikit basah dengan air mata. Ku usap perlahan kelopak matanya yang sedikit bengkak dan sembab.
“Iya kak.” Sahut Malvin yang berusaha tersenyum.
Rencana tampil mereka mengingatkanku pada undangan non Fira beberapa waktu lalu. Ia mengundangku untuk hadir dan berjanji akan mengenakan baju yang aku buat. Tapi melihat kondisinya saat ini, aku takut kalau mungkin Malvin dan teman-temannya akan kecewa. Aku tahu, bukan hal mudah tampil di hadapan orang-orang yang menatapnya dengan sinis apalagi menggunjingkan masalahnya.
Di luar café terdengar suara mesin mobil yang baru berhenti. Aku dan Malvin kompak menoleh dan tidak lama ku lihat seseorang masuk dengan langkah tegasnya.
Adalah tuan muda yang berdiri di mulut pintu café. Tatapannya yang tajam terarah kepadaku lalu Malvin dan tentu saja non Fira. Meski wajahnya terlihat dingin, aku melihat ada helaan nafas lega karena melihat kami baik-baik saja.
“Selamat malam tuan.” Sapaku dengan segaris senyum.
Tuan muda tidak menimpali, ia berjalan menghampiri kami lalu menatap non Fira untuk beberapa saat.
“Kamu apain dia?” pertanyaan itu tertuju pada Malvin yang di buat terkejut. Sepertinya pertemuan pertama mereka memberi kesan kurang baik bagi tuan muda.
“Ma, maaf kak. Tadi fira tiba-tiba pulang dari sekolah. Oh iya, saya malvin teman sekelas fira.” Malvin mengulurkan tangannya setelah berusaha menjelaskan pada tuan muda.
Tuan muda melirik non Fira yang masih memejamkan matanya rapat dan aku tahu sepertinya ia sudah terbangun hanya saja tidak berani membuka mata.
“Kean.” Hanya itu jawaban singkat tuan muda dengan ketus pula. Aku yakin malvin sudah keringat dingin melihat ekspresi tuan muda yang tidak bersahabat.
Malvin mengangguk pelan, sepertinya ia mulai tahu siapa yang duduk di hadapannya.
“Tadi fira nangis di sekolah. Mungkin karena teman-teman,” Malvin tidak berani melanjutkan kalimatnya saat tuan muda menolehnya dan menatapnya dengan tajam.
“Memangnya apa yang kalian lakukan di sekolah selain belajar?” mendengar pertanyaan tuan muda, aku berfikir, ia seperti orang tua yang kolot saja dan tidak pernah merasakan sekolah di SMA.
Tapi tunggu, sekolah kami dan sekolah tuan muda memang berbeda. Mungkin di luar negri tidak ada kenakalan sejenis seperti yang dilakukan teman-teman non Fira di sekolahnya.
Malvin tidak berani menjawab. Ia hanya menyodorkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu yang membuat tuan muda terlihat semakin kesal.
“Mereka ngebahasnya di group.” Lirih Malvin seraya menatap non Fira dengan tidak tega.
Aku merasakan tangan non fira yang mengeratkan genggamannya, sepertinya ia ketakutan atau malu.
“Pulang!” seru tuan muda seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Hah?” refleks ku sungguh spontan saat mendengar perintah tuan muda.
“Kamu tidak dengar?!” tanyanya lagi padaku.
Hanya sebentar ia menatapku sebelum akhirnya berjalan lebih dulu di hadapan kami.
“Abang tunggu!” tiba-tiba saja Non Fira bangun dan berdiri. Masih sempoyongan tapi ia bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. Aku dan Malvin masih sama-sama kaget melihat gerakan non Fira yang tiba-tiba.
“Fira mau bicara sama abang.” Lanjutnya dengan suara bergetar. Sepertinya tangisnya siap kembali pecah.
Ku lihat tangannya yang mengepal, seperti tengah menguatkan dirinya sendiri. Nafasnya terdengar berat namun ia tetap melangkah menghampiri tuan muda.
“Abang mau kan bicara sebentar sama fira?” suaranya parau, aku yakin matanya sudah basah.
Walau terlihat kuat, Non Fira bukan anak yang benar-benar keras. Ada kelembutan hati yang tersembunyi di balik sikapnya yang acuh.
“Pulang!” suara tuan muda terdengar lebih tegas. Aku langsung berdiri, bersiap jika sesuatu yang buruk terjadi di hadapanku.
“Abang sampe kapan sih mau ngehindar terus dari fira?”
“Abang benci banget kayaknya sama fira sampe gak mau ngeliat muka fira apalagi ngomong sama fira.”
“Fira cuma mau,”
“Kamu mau membicarakannya di sini? Di hadapan mereka?!” tuan muda menatap kami bergantian.
Ku telan salivaku kasar-kasar ternyata sangat menakutkan saat mata bulat tuan muda menyalak menatap kami.
Non Fira kemudian hanya tertunduk lesu. Ia bahkan tidak berani menoleh padaku dan Malvin.
Tidak mendengar jawaban dari non Fira, tuan muda meneruskan langkahnya. Langkahnya yang panjang membuatku dengan segera mengambil tas nona Fira dan mengejarnya setengah berlari.
“Vin, kami pulang dulu ya.” Pamitku pada remaja yang juga mematung kaget.
“Iya kak. Hati-hati di jalan.” Timpalnya.
Aku hanya tersenyum, sebelum ku raih tangan non Fira dan mengajaknya pulang. Memang benar adanya kalau tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbicara masalah keluarga. Semoga saja ada waktu dan tempat yang nyaman untuk mereka berbicara sebagai kakak beradik.
*****