Marry The Heir

Marry The Heir
Psyche and Cupid



Suara tawa terdengar dari sebuah ruangan yang ditempati oleh para model. Ada Clara, Corry, Marisa, Lestari dan Angela beserta beberapa orang panitia dan founder acara yang sedang berbincang santai seraya menikmati secangkir kopi. Selebrasi kecil ini yang mereka lakukan setelah acara selesai di gelar.


Masih mengenakan kostum yang di rancang oleh para finalis, mereka asyik memberi komentar satu sama lain. Sesekali terdengar pujian namun tidak jarang ada kritik yang mereka sampaikan.


“Gue sih milih yang formal looks aja yang paling gue suka, yang ini malah nggak banget.” Ujar Lestari seraya menunjukkan baju yang dikenakannya.


“Kenapa, lo seksi lagi pake baju itu.” timpal Marisa yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran.


“Lo gak tau aja sebelumnya baju ini kayak gimana.” Lestari menaruh gelasnya dengan kesal saat mengingat bagaimana ia dan desainernya akhirnya memutuskan untuk merubah konsep.


“Emang gimana? Bukannya temanya emang sexiest ya?” dengan jemari berderai Corry bereskpresi.


“UUhhh…. Mantap gak tuh, sexiest and hot! Hahaha…” Angela sampai terbahak mendengar ujaran sahabatnya.


“Konsepnya sih iya sexy and elegant tapi jadinya, gue malah kaya perempuan penggoda di banding model. Bisa di hujat gue sama netizen. Kalo judulnya bukan kompetisi, ya masuk lah tapi ini kompetisi gila. Ya kali gue keliatan kayak perempuan liar gak punya norma. Jatohnya kayak penari striptis. Ogah lah gue.” Cerocos Lestari tidak suka.


“Hahahhahaha…” Mereka kompak tertawa.


“Sorry ne, itu yang bikin gue gak vote desainer lo. Gue lebih milih desainernya Claire. Pengen deh gue pake bajunya.” Marisa dengan semangat menanggapi.


“Itu sih gue juga mau. Gue ada rencana gala dinner salah satu brand parfum, kayaknya gue pake jasa desainer lo deh Claire. Lumayan kan, gue bisa dapet harga miring dan dia dapet promo, bajunya gue pake.” Sahut Corry menimpali.


“Ah elo sih emang maunya yang harga miring mulu. Gak modal lo!” Marisa berdecik. Ia sudah hafal benar bagaimana karakter satu temannya ini.


“Lo anak baru harusnya di dukung, bukan malah lo matiin.” Tiba-tiba Clara bersuara dengan sinis.


“Siapa yang mau matiin anak baru. Gue Cuma,”


“Ya itu! Yang ada di otak lo itu udah niatan matiin langkah pertama desainer baru.” Clara langsung memotong kalimat Corry yang sudah bisa ia tebak isinya.


“Gak masalah lo minta harga miring sama tuh anak tapi, jangan di biasain kayak yang udah-udah. Lo kebiasaan soalnya minta barang bagus tapi gak modal, lo pikir itu anak ngedesain gak mikir apa?” cerocos Clara. Entah dari mana asalnya rasa kesal yang muncul saat mendengar ujaran Corry.


“Ish lo kok nyolot sih?” Corry tidak terima.


“Eh udah dong, masalah gini doang gak usah pake ribut.” Marisa mencoba menengahi. Ia mengenal benar bagaimana Clara pun Corry. Dua orang yang kalau sudah berdebat akan sangat melebar jauh.


“Ya habis gue gak suka sama cara claire. Mentang-mentang dia dibikinin baju sama tuh anak, gak mau kesaingin banget kayaknya. Elo tuh yang pikirannya sempit, bikin orang gak berkembang. Posesif lo!” Corry melempar tissue yang sedari tadi di pegangnya pada Clara.


“Eh, elo ya,” Clara mulai terpancing, namun baru ia akan beranjak, sudah ada Marcel yang menahan tangannya.


“Dateng juga pawangnya. Bawa tuh cewek lo. Resek!” sinis Corry seraya menyilangkan tangan dengan angkuh di depan dada.


Baru Clara akan menimpali, Marcel sudah lebih dulu menarik tangannya. “Jangan di ladenin, bukan level kamu. Mana ada psyche saingan sama model biasa.” Bisik Marcel mengingatkan Clara. Ia tahu benar cara mengendalikan kekasihnya.


Clara mendenguskan nafasnya kasar, kesal sebenarnya dan masih ingin menimpali Corry tapi Marcel benar, tidak ada gunanya berdebat dengan Corry, hanya buang-buang energi.


“Gue pergi!” mengambil tas tangan yang berada di atas meja lantas berlalu pergi setelah mengacungkan jari tengahnya pada Corry. Ia melenggang dengan santai di samping Marcel yang menggenggam tangannya.


“Posesif lo b***tch!” seru Corry, namun Clara tidak menimpali. Lebih memilih merangkul kekasihnya dari samping dan menikmati waktu berdua.


Untuk menenangkan Clara, Marcel membawa gadisnya ke sebuah café. Wanita cantik itu sudah berganti baju namun beberapa orang tetap mengenalinya dan memintanya berfoto. Pemandangan yang sudah sangat biasa di lihat Marcel.


Membiarkan beberapa saat Clara dengan para fansnya, Marcel pergi ke luar dan menyalakan sebatang rokok. Dari kejauhan ia memandangi Clara yang terlihat lebih baik. Ekspresi wajahnya mulai alami dengan senyum yang ringan dan apa adanya. Padahal biasanya wanitanya ini sangat sulit tersenyum saat bertemu dengan para fans. Baginya fans hanya pengganggu privasinya.


Marcel cukup penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Clara. Kata assistennya emosi Clara juga mulai terkendali dan tidak meledak-ledak seperti dulu. Ini tentu suatu perkembangan yang baik. Wanitanya mulai beranjak dewasa.


Satu batang rokok telah selesai Marcel hisap. Ia kembali ke dalam Café dan terlihat Clara sedang memandangi gelang yang melingkar di tangannya. Satu-satunya aksesoris yang tidak ia lepas.


“Kamu sangat menyukainya?” tanya Marcel yang mengambil tempat di samping Clara.


“Not bad.” Sahutnya ringan.


“Tidak lumayan kalau kamu sampai tidak mau melepasnya. Apa itu aksesoris yang di kasih sama disa?”


Clara hanya mengendikan bahunya lantas menyeruput minuman dingin di hadapannya.


“Tania juga dapet, wini juga.” Akunya.


“Nggak special dong, padahal pacar aku suka yang special.” Mencubit sedikit dagu Clara dengan gemas, bagian dari wajah cantik yang disukai Marcel setelah bibirnya yang sensual.


“Ya sedikit berbeda.” Clara mengambil ponsel dari dalam tas dan menghimpit tangannya di sela paha. “Aku mau ngasih liat sesuatu.” Bisiknya gemas sendiri.


“Oh ya? Di sini? Apa tidak salah?” Marcel langsung mendekat. Sinyal gairahnya langsung timbul.


“Jangan mesum!” sikut Clara dengan kesal.


“Ya habis pake bisik-bisik segala, mau ngasih liat apa sih?” semakin penasaran dibuatnya.


“Tutup gelang ini pake tangan kamu, tapi sisain dikit celah buat flash light-nya.”


“I see..” Marcel menurut saja pada permintaan kekasihnya.


Keduanya mengerumuni gelang yang di tutupi tangan Marcel. Lantas Clara menyalakan *f*lash light dari ponselnya lalu terkekeh gemas.


“Keliatan? Itu inisialku.” Ujarnya bangga. “Ini yang bikin beda dari gelang lainnya.”


“Wow? She made this for you?”


“Hem.” Menahan senyum yang nyaris mengembang.


Marcel menatap tidak percaya. Ia melepaskan tangkupan tangannya dan menarik tangan Clara agar bisa melihatnya dari jarak lebih dekat.


“She’s amazing.” Puji Marcel dengan sungguh.


Mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Marcel, wajah Clara langsung berubah kesal. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Marcel. Marcel menyadari benar, kekesalan Clara.


“Sampai kapan kamu masih mau mengagumi dia?” nada suaranya mulai bergetar, mau menangis rupanya.


“Hey, aku memang mengaguminya. Sama seperti aku mengagumi Aristoteles, Mozart atau siapapun itu. Tapi bukan berarti dia menempati hatiku.” Ini bujukan paling serius yang pernah Marcel katakan.


“Kamu tau, dia bilang kamu itu psyche, I do, I agree with her.” Perlahan mulai menarik tubuh Clara agar bersandar di bahunya, lantas menepuk-nepuk lembut lengan wanitanya.


“Psyche itu bukan hanya kupu-kupu dia seorang wanita yang lebih cantik dari afrodite hingga membuat afrodite marah dan ingin menghancurkannya." Marcel mulai serius bercerita.


"Karena kemarahannya, dia menyuruh putranya, eros untuk memberikan psyche sebuah ramuan yang membuat tidak ada laki-laki yang menginginkannya. Psyche pun berhasil terkena ramuan ini sehingga tidak ada seorang pria pun yang menginginkannya meski dia amat sangat cantik.”


“Orang tua psyche tidak dapat menemukan pria untuk menikahi putri mereka yang cantik. Sampai suatu waktu, oracle memberitahu orang tua psyche tentang mahluk yang tinggal di atas gunung yang akan menjadi suaminya. Psyche mengemasi barang-barangnya dan pergi menemui takdirnya yang dia anggap mengerikan.”


“Ketika dia semakin dekat dengan gunung, Psyche dibawa ke puncak oleh Zephyr. Meskipun dia hanya bertemu dengannya di malam hari, suami psyche adalah kekasih yang luar biasa, tetapi dia tidak pernah mengizinkan istrinya untuk melihat wajahnya, dan berjanji untuk tidak mengintip.”


“Keberuntungan membuat psyche tau kalau ternyata suami diam-diam psyche itu adalah eros. Agar sang dewi menghilangkan kutukan itu, psyche di beri tugas dan eros dengan setia menemaninya menyelesaikan satu per satu tugas itu.”


“Perlahan, mereka benar-benar jatuh cinta satu sama lain. Hingga kutukan itu hilang dan psyche menjadi satu-satunya untuk eros.”


“Disa benar, kalau dia bilang kamu itu psyche, dan aku adalah eros. Cupid yang cinta mati pada satu-satunya wanita tercantik, seperti aku yang benar-benar cinta sama kamu Claire. Don't doubt me, I really really love you claire. Hem?” lirih Marcel dengan penuh kesungguhan.


Clara termangu di tempatnya. Selama ini, ia hanya tahu kalau Marcel adalah laki-laki yang menunjukkan cintanya dengan kontak fisik. Ia tidak pernah menyangka kalau Marcel pun bisa mengungkapkan perasaannya dengan cara yang teramat manis.


Dada clara jadi terasa sesak dan hangat di waktu yang bersamaan. Ingin menangis karena terharu sekaligus kesal.


“Kamu tau cel, aku pernah merasa sangat benci sama disa.” Aku Clara dengan suara gemetar menahan tangis.


“Dia mengambil perhatian kamu, membuat kean terang-terangan menolakku, padahal aku kurang apa?”


“Dan hari ini aku melihat dia dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, sementara aku hanya sendiri di atas panggung, tersenyum pada kamera seperti orang bodoh.”


“Aku kesal, karena saat melihat tante arini tersenyum pada disa, membuatku teringat pada mamih yang dulu selalu duduk di kursi VVIP, menyemangatiku saat aku melenggang di atas catwalk. Aku juga teringat pada papih yang dulu menjadikanku prioritasnya tapi sekarang, mengurus perusahaan adalah hal yang utama baginya.”


“Disa mendapatkan banyak hal yang justru malah menjauh dariku. Wretched me. Kenapa aku begitu tidak beruntung?” rutuk Clara dengan tangis yang mulai pecah.


“SSttt… Claire…” Marcel memeluk Clara dengan erat seraya mengusap punggungnya dengan lembut.


“Kamu tau, jika tentang keberuntungan, kamu sangat beruntung."


"Kamu sempat merasakan kasih sayang seorang ibu, perhatian seorang ayah dan pujian dari banyak fans.”


“But she’s alone. Dia tidak mengenal ibunya, tidak memiliki waktu yang lama bersama ayahnya. Ia bahkan kerap mendapatkan hinaan dari banyak orang. Tapi dia bertahan, hingga dia bisa membuatmu merasa iri.”


“Tapi percayalah, kamu wanita tercantik dan terhebat milikku. Tidak ada yang perlu di perbandingkan antara kamu dan disa, kamu special dengan caramu sendiri dan aku mencintai setiap yang ada pada diri kamu. Bukankah itu yang terpenting?” ujar Marcel dengan penuh kesungguhan. Ini ungkapan cinta terdalam yang pernah ia katakan pada seorang wanita dan itu Clara.


“Aku pun pernah merasa iri pada mas sigit. Setiap waktu aku memikirkan apa yang selalu membuatnya satu langkah di depanku sementara aku tidak pernah ada yang melirik, sekalipun itu papah. Berbagai cara aku lakukan untuk membuat mas sigit jatuh tapi, malah aku yang kelelahan.”


“But now, I’m fine. Aku sudah melewati masa itu. Aku sudah merasa special paling tidak bagi diriku sendiri. Aku bisa melakukan hal yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh mas sigit, semisal tersenyum manis pada wanita, merayu wanita hingga membuat wanita tercantik di dunia ini jatuh di pelukanku. Bukankah aku sangat beruntung?


"Jadi kenapa aku masih harus merasa tertinggal dari mas sigit? Kita special dengan cara kita sendiri.”


“Jadi, berhenti merasa tidak lebih beruntung dari siapapun karena buatku kamu sangat berarti claire. You mean a lot for me, okey?”


Di kecupnya dahi Clara dengan penuh perasaan. Menyesap wangi rambut yang selalu membuat indra penciumannya betah berlama-lama menyesap wangi itu.


Baru kali ini Marcel merasa cukup, cukup dengan menjadi dirinya sendiri dan berada di samping Wanita yang ia cinta. Sementara Clara, matanya sudah basah dengan air mata yang berlinang. Di tatapnya Marcel dengan penuh rasa syukur. Sedalam itukah perasaan Marcel untuknya?


****


Di tempat yang berbeda, ada Kean yang sedang di buat terpesona oleh seorang gadis yang asyik bercerita sedari tadi.


Disa menceritakan bagaimana perasaannya yang sangat gugup saat harus berjalan di atas catwalk. Seperti berjalan di atas salju yang bisa membuatnya tergelincir kapan saja. Bersusah payah ia menjaga keseimbangan hingga bisa berdiri di samping Clara, modelnya.


“Anda tau tuan, kaki saya sampai lemas seperti tidak memiliki tulang. Astaga, rasanya saya tidak ingin mengulangnya.” Disa tersenyum sendiri mengingat kebodohannya.


Sementara Kean hanya termangu, menyimak cerita Disa dan masuk ke dalam pikiran gadis itu. Dagunya tertopang di atas lengan dengan senyum yang selalu terbit. Ia begitu menikmati saat melihat bibir Disa yang bergerak terus menerus dengan suara yang melekat kuat di alam bawah sadarnya.


“Tuan, apa anda mendengarkan saya?” bingung sendiri karena sedari tadi Kean hanya tersenyum.


“Hem, lanjutkan ceritanya.” Pancingnya. Ia hanya ingin mendengar cerita Disa lagi dan lagi.


“Ceritanya sudah habis tuan. Kan sudah sampai saya mendapat bucket bunga dari tuan.” Bibir Disa mengerucut kesal karena sepertinya Kean tidak menyimak ceritanya.


“Oh ya? Padahal saya masih ingin mendengar cerita lainnya.” ia menelusur garis hidung Disa hingga ke bibirnya seraya mendekat.


“Em, tuan ini..” Disa melirik kiri kanan khawatir ada yang melihat mereka.


“Atau kita buat cerita yang lain?” suara Kean terdengar setengah berbisik dengan alis tertaut menunggu jawaban. Jantung Disa berdebar semakin kencang, tidak bisa ia kendalikan.


Ia menggigit lembut bibirnya yang membuat Kean merasa terpancing untuk semakin mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut, lima centi, empat, tiga, dua dan,


“Disa!” panggil sebuah suara dari pintu.


“Ya!” sahutnya dengan terkejut. Kean Refleks menarik tubuhnya menjauh, berdehem untuk menetralisir perasaannya yang tadi sempat membuncah.


Yang hampir terjadi tidak benar-benar terjadi.


“Oh, maaf tante kira,” adalah Mery yang sekarang salah tingkah saat sadar ia telah merusak suasana.


“Em, tidak apa-apa tante.” Disa segera beranjak dari tempatnya, menghampiri Mery yang masih terkejut. Sambil berjalan, Disa masih berfikir, apa yang harus ia katakan pada tantenya jika ia bertanya? Bukankah akan jadi sangat canggung?


*****