Marry The Heir

Marry The Heir
Kunjungan tidak diharapkan



Hampir satu jam berlalu dan mereka terlarut dalam keheningan. Hanya suara pensil yang bergesekkan dengan kertas yang bisa di dengar. Helaan nafas Disa menjadi pertanda kalau gambarnya sudah selesai di buat.


“Selesai?” Naomi dengan mata membulat mengintip hasil karya Disa.


Disa terangguk dan menunjukkan desainnya pada Naomi.


“Waw!!! Beautiful!” serunya dengan wajah senang. “Thanks disa, kamu penyelamatku.” Ia memeluk Disa dengan erat.


Yang dipeluk hanya tersenyum dengan helaan nafas lega.


Naomi terlihat sangat senang, tidak terkecuali Adela. Mereka mulai asyik membahas kain yang akan di gunakan serta beberapa aksesoris yang akan membuat Naomi stunning saat menghadiri acaranya nanti. Ia pun mulai meminta seorang penjahit yang bekerja di butiknya untuk membuat baju sesuai yang Disa desain.


Cukup lelah juga konsentrasi penuh membuat desain dalam kondisi penuh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Menunggu Adela dan Naomi selesai memikirkan material dan aksesoris, Disa memilih berkeliling butik. Di salah satu ruangan ia mendapati banyaknya kain yang biasa Adela gunakan untuk membuat baju-baju.


Kain warna merah muda berhasil menarik perhatian Disa dan membuatnya mendekat. Ia menyentuhnya perlahan, sangat lembut saat kain itu bersentuhan dengan kulitnya. Ia kembali teringat rencananya untuk membuatkan baju untuk nona mudanya.


“Kamu bisa memilikinya kalau kamu mau.” Begitu suara yang terdengar dari arah pintu.


“Tante,..” lirih Disa saat ia menoleh dan ada Adela di sana.


Wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik itu segera mendekat.


“Mata kamu memang jeli. Kain itu tante dapet waktu ke paris beberapa waktu lalu. Kamu boleh memilikinya kalau kamu mau.” Ikut menyentuh kain berwarna merah muda di hadapannya.


“Tapi ini pasti sangat mahal tante.” Disa dengan rasa ragunya menurunkan tangannya.


“Tidak ada yang lebih mahal dari sebuah kepercayaan dan tante percaya sama kamu. Tante yakin, kain ini akan bernilai lebih saat kamu sudah memberinya desain yang cantik.” Menepuk bahu Disa beberapa kali. Ia memberikan seluruh kepercayaannya pada Disa.


Disa hanya tersenyum, ia kembali memandangi kain di hadapannya. Ia bisa membayangkan betapa cantiknya sang nona muda saat mengenakan baju yang ia rancang kelak.


******


Ruangan kerja Kean terdengar sangat sepi dengan beberapa berkas yang terserak di atas meja. Sang empunya tampaknya masih sangat kesal karena paginya di mulai dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.


Ia melonggarkan dasinya dengan kacamata yang bertengger di atas hidungnya yang bangir. Ia masih merancang konsep kerja sama yang akan ia ajukan pada kliennya dari luar negeri.


“Anda mau kopi tuan?” tawar Roy yang melihat wajah tidak menyenangkan Kean sedari pagi. Sepertinya ia butuh sedikit cafein untuk melemaskan saraf-saraf di kepalanya.


“Pastikan kopi yang kamu buat tidak membuat perut saya sakit.” Timpalnya dengan sinis.


Sejak datang ke kantor, Kean memang sangat rewel dan lebih mengesalkan dari biasanya. Di mulai dari meminta banyak menu sarapan tapi hanya sepotong roti yang ujung-ujungnya ia makan. Itu pun tidak habis.


Jam 10 seperti biasa ia meminta cemilan dan segelas teh dengan menu yang sudah ia tentukan tapi hingga saat ini menu cemilan itu masih memenuhi meja. Tidak ada yang ia makan karena tidak ada yang sesuai dengan seleranya.


Dan makan siang tadi, hanya satu sendok yang ia makan padahal mereka jauh-jauh pergi makan makan ke resto yang biasa Kean sambangi.


Mood-nya benar-benar berantakan.


“Baik tuan.” Hanya itu sahutan Roy sebelum undur diri.


Siang ini, ia sendiri yang pergi ke pantri dan membuat teh. Sambil menunggu air matang, ia browsing cara membuat teh yang enak. Berbagai resep teh ia cari hingga trik dan tips-nya. Dan akhirnya, cara membuat teh hijau yang ia pakai untuk menyuguhkan teh untuk tuan mudanya.


Satu cangkir teh, saja cukup menguras pikiran dan tenaga serta emosi Roy. Berdo’a saja semoga tuan mudanya mau meminumnya.


“Silakan tuan,..” ujar Roy yang menaruh cangkir di dekat Kean.


Kean tidak menimpali, masih asyik dengan pekerjaan di tempatnya. Perhatiannya hanya beralih saat ada suara ketukan di pintu.


Roy yang beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu.


“Selamat siang tuan.” Sapa Roy yang berusaha menyembunyikan wajah terkejutnya saat seseorang yang tidak di duga datang ke perusahaan ini.


“Siang.” Sahutnya dengan senyuman angkuh yang biasa ia tunjukkan. Ia melangkah dengan penuh rasa percaya diri masuk ke ruangan kerja Kean.


Adalah Marcel yang tengah melihat ke sekeliling ruangan dengan segaris senyum di bibirnya. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku dan tangan lainnya mengusap dagunya yang di tumbuhi rambut tipis. Sesekali terdengar decakan dari mulutnya, entah sebuah kekaguman atau sebuah ejekan.


“Wah, sepertinya penerus hardjoyo group sedang berusaha keras.” Duduk di sofa meski tanpa permisi.


Ia menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya dengan tangan tersilang di depan dada. Sangat angkuh dan percaya diri, menjadi ciri khas keluarga Hardjoyo tidak terkecuali Marcel.


Setelah menahan diri, akhirnya Kean menoleh saat mendengar kalimat sindiran itu.


“Tentu. Seharusnya tidak ada orang yang makan gaji buta di jam sibuk seperti ini.” Timpal Kean yang menyambut genderang perang pamannya.


Marcel terkekeh lantas beranjak dari tempatnya. “Setiap orang memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya. Terlihat santai bekerja, bukan berarti tidak bekerja bukan. Hanya saja, orang-orang hebat, (menunjuk dirinya sendiri) memiliki cara yang cerdas untuk bekerja. Bukan lagi kerja mengandalkan otot tapi mengandalkan otak.” Menunjuk kepalanya sendiri.


Kean mulai terpancing, ia berdiri dari tempatnya dengan kedua tangan yang mengepal.


Marcel beranjak dari tempatnya, berjalan perlahan menghampiri Kean, lantas menarik kursi penghadap di depan Kean dan duduk santai dengan kaki yang kembali tersilang.


“Duduklah, aku akan mengajarkanmu bekerja dengan otak.” Tunjuknya pada kursi Kean.


Kean memalingkan wajahnya yang terlihat sangat kesal namun tetap akhirnya ia duduk berhadapan dengan Marcel.


“Apa yang sebenarnya mau paman sampaikan?!” menatap Marcel dengan tajam tapi yang di tatap malah tersenyum seraya mengusap dagunya santai.


“Kamu tau kean, lahir dengan sendok emas itu tidak selamanya menyenangkan bukan?” tersenyum di ujung kalimatnya lantas mengambil cangkir dan meneguk teh dengan nikmat tanpa permisi.


Kean masih berusaha bersabar, menunggu kalimat berikutnya dari sang paman yang hanya terpaut usia beberapa tahun saja darinya.


“Aku memiliki penawaran menarik untukmu. Aku yakin kamu akan menyukainya.” Menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya lantas sikutnya bertumpu pada meja.


"Oh ya? Katakan." timpal Kean yang ikut menegakkan tubuhnya, bersiap menyambut umpan Marcel.


“Ajukan penggabungan anak perusahaan dan turunlah dari kursi itu.” Lanjutnya dengan tatapan tajam pada Kean. Terlihat seringai sarkas dari bibirnya.


Kean menyandarkan tubuhnya, sebenarnya ia sudah menduga apa yang akan ditawarkan oleh Marcel, hanya saja ia tidak menyangka kalau sang paman akan seterbuka ini.


“Tawaran yang bagus.” Sahut Kean yang membuat Marcel tersenyum senang.


“Tentu! Walaupun kita gak akur, tapi aku mengharapkan keponakanku bahagia dan hidup dengan tenang tanpa kekurangan satu apa pun."


"Kamu bisa kembali seperti dulu, bermain-main di amerika, hidup sesukamu dan menghabiskan uang hingga tidak terbatas.” Marcel tampak sangat antusias. Sepertinya negosiasinya akan berhasil.


Kean hanya tersenyum dan tak lama ia tertawa. “Paman terlihat sangat ingin melihat aku bahagia. Aku sungguh sangat beruntung memiliki seorang paman yang peduli pada hiddupku." pujinya yang membuat Marcel tersenyum lebar dengan wajah ceria.


Kean kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Marcel. Tatapannya begitu tajam, menatap laki-laki di hadapannya. "Tapi sayangnya, aku tidak tertarik.” Ujarnya setengah berbisik namun penuh penekanan.


“Aku bukan pengecut dan tidak ingin di anggap lagi pengecut.” Tegasnya dengan tatapan tajam yang tidak ia turunkan sedikit pun pada Marcel.


Marcel beranjak dari tempatnya. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku. Ia pun melonggarkan dasi yang membuat ia merasa kegerahan.


“Jadi kamu memilih untuk berperang melawanku?” tanyanya.


“Kenapa tidak?” Mengendikkan bahunya dengan acuh.


Kembali menghampiri Kean dan mencondongkan tubuhnya pada ke arah Kean. Matanya tampak menyalak seolah menunjukkan banyak kekesalan.


“Kamu harus tahu, kamu akan kalah kean. Dan aku yakin, suatu hari kamu akan datang dan memohon belas kasihan dariku.” ancamnya dengan penuh ketegasan.


“Oh ya?” bersikap tenang dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Tapi yang aku lihat sekarang, paman seperti ketakutan. Apa paman mulai ragu dengan kemampuan paman sendiri atau mulai menyadari kalau aku cukup mampu untuk menyaingi paman?” timpalnya tanpa ada keraguan sedikit pun.


“BRAK!!!!” Marcel menggebrak meja di hadapannya. Terlihat jelas kemarahan yang muncul dari kedua matanya.


Ia tidak lagi berkata-kata. Hanya memandang Kean dengan tajam dan memberinya segaris senyum sarkas. Dengan langkah panjang dan tegasnya, lantas ia berlalu pergi dan menutup pintu dengan kasar.


“SHIT!!!” dengus Kean dengan kasar. Berganti ia yang menggebrak meja dan mengacak semua dokumen yang ada di hadapannya.


Ia mengguyar rambutnya kasar dengan nafas terengah yang meluap setelah beberapa saat lalu ia menahan kekesalannya.


Dalam pikirannya saat ini, ia tidak ingin masuk ke dalam permainan yang di buat Marcel dengan menjadikannya pecundang dan memposisikan Marcel sebagai pahlawan. Namun dalam waktu yang bersamaan, ia merasa telah menjebak dirinya sendiri dalam neraka yang seharusnya ia tinggalkan.


Kepalanya berdenyut pusing. Bagaimana bisa ia terjebak dalam permainannya sendiri?


“AARRGGGHHH!!!!” teriaknya meluapkan semua kekesalan.


Namun tetap, dadanya terasa sakit dan sesak. Terjebak dan di remehkan dalam waktu bersamaan. Ini yang paling ia benci dan ini yang paling ingin ia tinggalkan. Sayang, ia justru masuk semakin dalam.


*****


Masih bergelut dengan kemacetan, Reza mengarahkan mobilnya keluar pintu tol dan menuju jalanan yang lebih lenggang. Namanya Jakarta, sekecil apa pun jalan yang di lewati tidak pernah selenggang yang diharapkan.


Suara deringan telepon menyadarkan Disa dari keterpakuannya perjalanan menghabiskan waktu bersama laki-laki yang ada di sampingnya. Tidak ada yang mereka bicarakan namun tetap membuat Disa tersenyum.


Panggilan itu pun segera Disa jawab.


“Mba, kamu di mana?” sebuah suara manja yang khas dan sudah sangat ia hafal, menyapanya.


“Saya sedang di jalan nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya tanpa ragu.


“Mba, kamu pulang jam berapa?”


“Em saya, “ melirik jam tangannya sebentar sebelum ia menjawab. “Saya dalam perjalanan pulang.” Lanjutnya.


Tidak ada lagi tempat yang harus ia tuju di hari yang mulai sore.


“Terus mba disa sekarang di mana?” Shafira memang sangat hobi bertanya.


“Di jalan,..” melihat ke sekeliling jalan mencari papan reklame atau sebagainya.


“Kemuning raya,..” Reza yang menjawab.


“Kemuning raya.” Mengulang kalimat Reza seraya mengangguk.


Reza hanya tersenyum dan Kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Oh kemuning raya. Jangan dulu pulang mba, kita ketemu di café yang waktu itu.”


“Tapi saya lupa jalannya.” Disa menggaruk kepalanya sendiri.


“Ya udah, aku sms-in. Nanti kamu naik taksi buat ke tempat itu ya.”


“Baik, saya akan ke sana.”


Disa hanya bisa patuh pada perintah Shafira.


“Ada yang menunggumu?” tanya Reza sesaat setelah Disa mengakhiri panggilannya. Ia melihat ekspresi gusar Disa.


“I-Iya kak, majikan saya.” Sahutnya lemah.


“Di mana tempatnya?”


“Oh tidak usah, saya akan turun di depan saja.” Dengan cepat Disa menyahuti.


“Jangan sungkan denganku disa. Aku bisa mengantarmu. Hanya saja, bisakah kita sedikit lebih santai? Ya anggap saja aku kakakmu dan kamu adikku.” Ungkap Reza yang membuat Disa menatap sejenak wajah tampan di sampingnya.


Sungguh jantungnya kembali berdebar kencang.


“Terima kasih kak.” Timpalnya.


“Sama-sama.” Reza terangguk dan tersenyum, senyuman yang selalu bisa membuat Disa terbang ke alam mimpi. “Jadi di mana alamatnya?” suara Reza menyadarkan Disa dari keterpakuannya.


“Oh iya. *Meet up *Café, jalan melati nomor 8.”


“Okey, kita akan berputar di depan dan sekitar 30 menit kita akan sampai di sana.”


“Terima kasih, maaf merepotkan.” Disa masih dengan rasa sungkannya.


“Hey, santai saja.” Lagi senyuman Reza yang Disa lihat. “O iya, boleh aku tau kamu akan menemui siapa?”


“Oh, majikan saya. Nona muda. Masih SMA.” Jawab Disa dengan cepat.


Reza hanya terangguk. Mereka kembali dalam keheningan melalui perjalanan yang cukup panjang.


Kenapa ia harus peduli Disa akan bertemu dengan siapa?


*******