
Di balik gaun pengantin berwarna putih dengan desain simple elegant, ada seorang gadis yang tengah berjalan dengan perasaan berdebar yang tidak bisa di bayangkan saat menghampiri seorang laki-laki yang berdiri di ujung jalan dan menunggunya dengan nafas sesak tertahan.
Ada buliran air mata yang perlahan pecah di pipi Kean saat melihat wanita paling cantik hari ini menghampirinya seusai mengucap ijab qobul pernikahan mereka.
Disa, wanita yang ia cintai dan selalu membuatnya resah siang dan malam. Seperti menemukan pelabuhannya saat gadis itu berjalan dengan anggun menghampirinya dan senyum tipis yang terkembang. Hatinya berdesir, seperti semua rasa gundahnya selama ini sirna begitu saja.
Cantik, satu kata itu yang menggambarkan semua hal tentang wanita yang hari ini resmi menjadi miliknya. Wanita yang harus ia jaga setiap saat dalam kondisi apa pun.
Disa melangkah dengan yakin menghampiri Kean yang sedang menunggunya. Jangan tanyakan lagi soal keraguan yang semalam menghantuinya. Ia sudah selesai berdebat dengan hatinya karena baginya tujuan pernikahan bukan hanya tentang memiliki keturunan melainkan tentang memilih hidup bersama seseorang yang ia cinta dalam suka dan duka hingga ujung usia.
Jika pun suatu hari Tuhan memberinya keturunan, maka itu anugerah yang akan ia terima dengan senang hati. Dan jika anugerah itu tidak bisa hadir dalam keluarga kecilnya kelak maka itu bukan alasan ia harus meninggalkan Kean.
Hidup berdua dengan suami yang menghormati dan menyayanginya dengan tulus, itu sudah lebih dari cukup. Dan baginya saat ini, sekecil dan sebesar apa pun kekurangan suaminya, ia sudah bisa menerimanya sejak kata “SAH!” itu di ucapkan di akhir akad.
Walau ia hanya melihatnya melalui layar televisi yang terpasang di ruang tunggu pengantin, namun ia bisa merasakan gejolak perasaan Kean dan keyakinan yang penuh terhadap janjinya.
Ada banyak perasaan yang dirasakan oleh orang-orang yang saat ini menghadiri janji sehidup semati sepasang kekasih ini. Suasana haru adalah yang paling terasa. Kalaupun ada yang masih merasa tidak rela melihat pasangan ini bersatu, mereka masih bisa menyimpannya dalam hati dan perlahan akan terbiasa untuk tidak lagi berharap.
Ini sebuah kenyataan. Ini pilihan orang yang mereka cintai dan harus mereka terima.
Di ujung jalan, Kean mengulurkan tangannya saat jarak Disa hanya beberapa senti lagi berdiri di hadapannya.
“Hay, istriku.” sapanya yang membuat pipi Disa merona.
“Hay suami. Assalamu ‘alaikum...” balas Disa. Meraih tangan Kean kemudian ia kecup dengan lembut.
“Wa’alaikum salam.” untuk beberapa saat Kean mengecup dahi Disa dengan penuh perasaan membuat suasana ruangan riuh oleh suara tepuk tangan.
Mereka saling melempar senyum saat sudah bisa menegakkan tubuh masing-masing.
Aliran do’a mengalir dari mereka yang memberi restu walau sebagian orang yang di harapkan hadir tidak bisa berada di tengah-tengah mereka.
Disa yang yatim piatu, hanya di temani keluarga kecil dari neneknya dan Kean di temani oleh keluarga besar serta kolega yang di undang hadir.
“Wah romantis sekali ya... “
“Saya ucapkan selamat untuk kedua mempelai. Saya sampai merinding melihat romantisme mereka. Jiwa jomblo saya meronta-ronta.” ujar seorang MC yang baru tersadar dari lamunannya.
Para tamu undangan ikut tertawa mendengar ujaran MC.
Pernikahan yang rencananya akan di adakan secara sederhana, ternyata tidak benar-benar sederhana. Dilangsungkan di sebuah hotel mewah dengan dekorasi yang megah, Kean dan Disa jadi raja dan ratu sehari di hari bahagia mereka.
Mereka tersenyum bahagia saat melewati para tamu undangan menuju pelaminan yang disiapkan. Sebuah kue pernikahan bertingkat mereka lewati berdampingan gelas Cocktail yang tersusun piramid. Tidak bisa di sangkal kalau ini sebuah perayaan besar untuk pernikahan penerus dari pemilik Hardjoyo group.
Dekorasi serba putih dengan gemerlap lampu berwarna kekuningan membuat suasana terasa hangat. Di tengah-tengah ruangan ada lampu besar yang menggantung dan menerangi ruangan dengan cahaya kekuningan.
Arini memang mengonsep pernikahan putranya dengan sempurna walau kata sempurna itu memang tidak pernah ada batasannya. Baginya ini harus menjadi pesta yang berkesan tidak hanya bagi putra dan menantunya tapi juga bagi semua tamu yang hadir.
“Hadirin sekalian, di hadapan kita sudah hadir raja dan ratu pernikahan megah ini. Kami ucapkan selamat untuk kedua mempelai semoga kebahagiaan senantiasa memenuhi keluarga kecil yang akan mereka jajaki.” ujar sang MC menyambut Kean dan Disa yang sudah ada di pelaminan.
Kean menggenggam tangan Disa dengan erat seolah keduanya tidak bisa di pisahkan. Senyum bahagia bercampur haru tergambar jelas di wajah mereka.
“Bagi hadirin yang akan memberikan ucapan selamat, kami persilakan. Dan untuk memeriahkan pesta ini, kita akan di temani oleh persembahan dari adik mempelai laki-laki bersama sahabatnya. Kita sambut, Mooie Stem!!”
Suara dentingan piano langsung terdengar saat lampu di spot musik mulai menyala indah. Banyak pasang mata langsung tertuju pada suara indah alunan tuts yang di mainkan seorang remaja putra yang terlihat rapi dengan wedding zoot suit modern yang dikenakannya.
Tidak lama di susul suara cantik Shafira pun mulai terdengar,
“When your legs don't work like they used to before.
And I can't sweep you off of your feet.”
Mendengar bait awal lagu, orang-orang langsung mengenali lagu milik Ed Sheeran tersebut. Suasana ballroom tempat resepsi pun terasa semakin romantis. Para tamu mulai berjalan dengan rapi di atas karpet yang sisi kiri dan kanannya di beri bunga dan lampu kecil untuk menerangi langkah kaki. Mereka menuju pelaminan untuk memberikan selamat pada dua orang yang sedang berbahagia.
“Selamat bro, gue turut berbahagia.”
Tiba saat Reza memberi selamat. Ia yang lebih dulu memeluk sahabatnya.
Melihat Kean yang dengan lancar mengucap ijab qobul, seperti tidak ada keraguan sedikit pun di hatinya kalau ia akan menjaga Disa dengan seluruh jiwa dan raganya.
Maka ia pun sebaiknya tidak lagi ragu untuk melepaskan Disa dan membiarkannya bahagia dengan laki-laki pilihannya.
“Thanks bro, semoga lo cepet nyusul.” sahut Kean menepuk bahu sahabatnya.
Reza tersenyum penuh arti mendengar ucapan Reza. Memang benar adanya kalau usianya sudah tidak muda lagi untuk hidup menyendiri.
“Ya, semoga gue cepet nyusul.”
Kean menepuk bahu sahabatnya, memberi semangat.
Diliriknya Disa yang tampak serasi berdiri di samping Kean. Wajah cantik yang biasanya polos itu kali ini di poles make up yang soft dan natural membuat auranya jelas terpancar. Hatinya masih berdesir saat melihat senyuman itu. Hanya saja, yang berbeda adalah binar matanya tidak lagi sama seperti saat pertama mereka bertemu. Hanya ada Kean dalam pandangannya.
“Selamat sa, semoga jadi keluarga sakinah, mawadah dan warrohmah.” ungkap Reza dengan tulus.
“Makasih kak. Kak reza bawa kado apa buat aku?” Disa mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.
“Astaga, aku sampai lupa." mengusap tengkuknya canggung.
"Kalian mau kado apa? Perjalanan bulan madu mungkin?” goda Reza.
Jujur ia memang tidak sempat berpikir akan memberi kado apa.
“Apa aku bisa meminta kak reza memainkan satu lagu untuk aku dan aa?” pinta Disa kemudian.
Reza menatap Disa laman, lantas menoleh sahabatnya yang enggan melepaskan genggaman tangannya dari Disa.
“Mau lagu apa?”
“Terserah lo.” tiimpal Kean.
Reza tampak berfikir, memperhatikan Shafira yang baru akan menyelesaikan lagunya.
Beberapa foto di ambil dan akan Reza abadikan sebagai bentuk perpisahan dengan perasaannya terhadap Disa. Dengan foto ini ia akan mengingatkan dirinya kalau Disa sudah resmi menjadi milik sahabatnya.
Selesai berfoto, Reza menghampiri Shafira dan band-nya. Duduk di tempat Malvin setelah memutuskan lagu apa yang akan ia nyanyikan bersama Shafira.
Dari tempatnya, Disa dan Kean sama-sama memandangi penampilan Reza dan Shafira. Dentingan piano dengan gaya khas Reza yang kalem dan penuh kharisma telah menyihir banyak pasang mata. Lampu sedikit meredup dan lampu sorot tampak dominan menerangi Reza dan Shafira.
Lagu milik Christian bautista dan BCL yang kemudian dinyanyikan duet oleh Reza dan Shafira.
“If you love me like you tell me, please be careful with my heart.
You can take it, just don't break it or my world will fall apart.
You are my first romance and I'm willing to take a chance.
That 'til life is through, I'll still be loving you.
I will be true to you, just a promise from you will do.
From the very start please be careful with my heart.”
Usai satu bait itu, Reza memandangi Disa dari kejauhan yang duduk di pelaminan bersama Kean. Ia tersenyum penuh perasaan, anggap ini senyuman terakhir yang ia berikan untuk Disa.
“I love you and you know, I do there'll be no one else for me.
Promise I'll be always true for the world and all to see.
Love has heard some lies softly spoken.
And I have had my heart badly broken.
I've been burned and I've been hurt before.”
Part tersebut dinyanyikan Shafira dengan penuh perasaan. Matanya terpejam seolah menikmati syair yang mengalun indah dari bibirnya yang mungil.
Bait demi bait dinyanyikan bergantian oleh Reza dan Shafira, seolah panggung ini adalah milik mereka berdua. Beberapa orang bahkan naik ke lantai dansa dan berdansa dengan pasangannya, sangat romantis.
“Suara fira bagus ya a. Katanya dia mau jadi penyanyi.” ungkap Disa dengan penuh haru.
Dulu Shafira hanya bisa menyanyi sendirian di kamarnya tanpa ada yang tahu indahnya suara Shafira tapi saat ini, gadis cantik ini bernyanyi di hadapan banyak orang dan membuat mereka terlena. Di salah satu sudut, Liana bahkan tampak tercengang melihat penampilan putrinya.
“Kamu tahu lebih banyak tentang dia di banding aku.” Kean ikut memandangi adik sambung yang sudah beranjak dewasa dengan penampilannya yang memesona.
“Kenapa, aa iri?” ledek Disa, seraya menatap laki-laki di sampingnya.
Kean hanya tersenyum. Mungkin ia memang patut iri dengan kedekatan Disa dan Shafira.
“Aa masih punya banyak waktu buat mengenal fira. Seperti perlahan mulai menerima keberadaanku, aa juga bisa belajar menerima keberadaan mamah fira dan fira di waktu bersamaan.”
Kean termangu sendiri mendengar ujaran Disa. Di tautkannya jari tangannya di sela jemari Disa yang kemudian ia genggam dengan erat. Sangat menenangkan.
“Hem, aku akan berusaha.” lirihnya.
“Sekarang, apa kamu mau berdansa?”
Merasa terpancing oleh lagu yang dimainkan Reza berikutnya bersama Shafira, lebih romantis dari sebelumnya.
“Nggak, aku gak mau bikin aa malu di hari spesial kita.” Melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kean.
“Kenapa harus malu? Sebelumnya kamu bisa berdansa dengan baik. Sekarang, ayo kita lakukan lagi.” Kean tetap memaksa.
“Iya tapi pelan ya, sepatuku terlalu tinggi.” Disa menunjukkan hak sepatunya yang setinggi 7 cm.
“Tentu, ayo..”
Mengajak Disa berdiri lalu berjalan menuju lantai dansa. Mereka berdiri berhadapan dan Kean mulai melingkarkan tangannya di pinggang Disa. Satu tangannya ia tautkan jemarinya dengan jemari Disa. Lantas ia bergerak perlahan menikmati alunan musik.
Sangat dekat, membuat jantung keduanya berpacu cepat dengan detakan yang terasa mengguncang dadanya.
Apa yang Kean dan Disa lakukan rupanya mengundang para tamu untuk ikut serta. Lantai dansa semakin penuh dengan pasangan yang berdansa menikmati ritme lagu yang merambat pelan. Rasanya sangat romantis hingga tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
“Aa ngerasa gak kalau fira sama kak reza kok cocok ya?” Disa sedikit melirik Reza dan Shafira yang menikmati duet mereka.
Shafira berdiri di sebelah piano Reza dan sesekali duduk di sampingnya. Interaksi yang apik antara keduanya memberi kesan tersendiri.
“Reza udah deket sama cewek, temennya waktu jadi dosen.” kilah Kean.
“Fira juga punya gebetan, malvin. Remaja yang mukanya tenang itu.” melirik Malvin yang duduk di pojokan dan memperhatikan Shafira.
“Tapi kasian kayaknya dia sedih liat fira asyik duet sama kak reza.”
“Kenapa jadi membahas mereka? Kamu mau jadi biro jodoh?” gemas juga melihat Disa yang memperhatikan lingkungan sekitarnya.
“Hehehe, nggak juga. Iseng aja. Habis gugup rasanya kalau,” kalimat Disa terhenti saat kedua matanya bertemu pandang dengan Kean yang ada di hadapannya. Hanya beberapa senti saja.
“Kalau apa?” Kean semakin mendekatkan wajahnya. Menempelkan dahinya di dahi Disa lantas memejamkan matanya. Ia begitu menikmati waktu yang ia habiskan bersama Disa.
“Nggak pa-pa. Nggak jadi.” Disa tidak berani meneruskan kalimatnya. Mungkin benar adanya kalau romantisme bisa saja hanya terjadi di atas panggung, setelah selesai, semuanya berakhir.
Kean hanya tersenyum, sedikit menyentuhkan hidungnya pada hidung Disa. "Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain." bisik Kean dengan hembusan nafas yang menerpa wajah Disa, sangat hangat.
“A, orang-orang ngeliatin kita.” Disa sedikit menarik wajahnya.
"Tidak perlu kamu pedulikan." Kean seperti tidak peduli. Yang dilakukannya kemudian adalah mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Disa membuat Disa tersentak tanpa bisa menolak. Dipeluknya Disa dengan erat, seperti tidak ingin memberi celah untuk yang lain.
Akhirnya, Disa ikut memejamkan matanya. Tidak siap melihat tatapan mata yang terpesona pada apa yang dilakukan Kean terhadapnya.
Lihat saja wajah-wajah yang gemas sendiri dari para tamu undangan. Ahhh rasanya belum mau membuka mata sebelum mereka pergi atau paling tidak memalingkan wajahnya ke arah lain. Terlalu malu dan mendebarkan.
******