
Sepeninggal Kean, memang tidak ada yang dilakukan Disa. Kamar sudah ia rapikan mulai dari mengganti sprei dan sarung bantal, membersihkan debu, mengeringkan lantai kamar mandi dan pekerjaan lainnya. Seingat Disa, Kean memang tidak suka ada orang lain masuk ke kamarnya selain Kinar maka kali ini tugasnya untuk membuat kamar ini terasa selalu nyaman.
Belum ada komitmen mereka akan tinggal di mana namun melihat Kean yang tidak menolak tinggal di rumah utama atau mengajaknya pulang ke town house, sepertinya suaminya masih menikmati kondisi mereka saat ini. Bukan perkara tinggal di mana tapi dengan siapa, itu yang terpenting.
Di salah satu sudut dinding, ia melihat sebuah foto besar Kean kecil dengan Arini. Mungkin usia Kean saat itu sekitar lima atau enam tahun. Kean yang terlihat gagah sejak ia kecil, memang sangat menarik untuk di perhatikan.
Disa memandangi foto itu dan membayangkan seperti apa kedekatan Arini dengan putranya dulu.
Namun dari sekian banyak foto Kean, tidak pernah Disa melihat foto Kean dengan Sigit. Tidak di town house tidak pula di rumah utama. Foto keluarga yang terpajangpun banyaknya foto keluarga Sigit saat ini yaitu dengan Liana dan Shafira.
Rumah ini besar, tapi terasa kosong. Tidak ada kenangan bersama yang mereka abadikan atau memang kenangan itu memang tidak pernah ada.
Beralih merapikan lemari kecil di samping jendela. Seperti halnya di town house, lemari ini di isi oleh action figure favorit Kean. Bisa Disa bayangkan masa kecil Kean yang hanya di penuhi mainan mahal tanpa ada teman untuk memainkannya. Padahal, masa terbaik anak bermain adalah bukan dengan mainan edukatif mahal melainkan bermain Bersama kedua orang tuanya agar ia merasa diperhatikan.
Kean tidak mendapat kesempatan itu. begitupun dengan Disa. Mereka sama-sama tumbuh tanpa kenangan manis di masa kecil.
Tidak sengaja membuka laci, Disa menemukan sebuah foto. Anak kecil dengan seorang laki-laki yang sama-sama mengenakan pakaian koboy. Lucu sekali, mereka memasang wajah dingin namun terlihat keren. Sigit dan Kean adalah dua orang yang ada di foto ini.
Disa memperhatikan sekeliling tempat Kean dan Sigit berada. Seperti sebuah peternakan dengan pemandangan hijau dan seekor kuda yang ada di tengah-tengah mereka.
Mungkin ini satu-satunya kenangan yang Kean punya bersama Sigit dan ia simpan baik-baik.
“Aku salah, aa pernah punya kenangan itu walau hanya sedikit. Bisakah kita membuat kenangan dengan papah sebelum beliau benar-benar pergi?”
Disa berbicara pada foto yang ada di tangannya. Mengusap wajah mungil Kean perlahan dengan telunjuknya. Lantas ia tersenyum, membayangkan seperti apa suaminya di masa kecil. Aahh, andai ia bisa Kembali ke masa lalu dan melihat seperti apa Kean dulu hingga Sekarang seperti menyimpan banyak bekas luka.
Suara roda terdengar melewati kamar Disa. Disa menaruh Kembali fotonya di dalam laci dan segera keluar kamar. Terlihat seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Sigit dengan mendorong sebuah trolley bertingkat.
Disa segera menyusul.
“Selamat pagi nona.” Sapa perawat yang mengangguk sopan.
“Selamat pagi. Suster mau ngapain?” penasaran dengan apa yang akan dilakukan perawat bernama Gina di nametag-nya.
“Oh, ini nona. Ini waktunya tuan besar untuk makan.” Terang Gina.
Disa mendekat, memperhatikan barang-barang yang di bawa Gina.
“Bagaimana papah makan? Apa papah bisa menelannya?” tidak terbayang bagaimana makanan itu akan masuk ke dalam perut Sigit.
“Makanannya sudah saya haluskan dan di buat encer. Selain itu, ada juga susu khusus. Makanannya akan saya masukkan melalui selang yang di hidung.”
“Apa papah tidak akan merasa sesak kalau makanan masuk ke hidung?” membayangkan dia keselek saja sudah sakit rasanya.
Gina tersenyum tipis, “Tentu tidak nona. Selang ini terhubung langsung dengan lambung, bukan paru-paru.”
“Oh ya?” Disa semakin penasaran. Ia pikir semua selang yang masuk ke hidung masuk ke jalan nafas, ternyata bukan.
“Benar nona. Tuan besar sudah tidak mengenakan selang oksigen karena pernafasannya bagus.”
“Keliatannya dari mana sus? Apa karena papah tidak terlihat sesak?” seperti anak kecil dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Dari monitor ini.” Tunjuk Gina pada monitor di samping Sigit.
“Ini angka yang menunjukkan frekuensi nafas normal, frekuensinya 12-20 kali permenit. Lalu ini angka yang menunjukkan kecukupan oksigen, batasnya 95 – 100% dan alatnya yang di jepitkan di telunjuk ini.”
“Untuk angka yang ini adalah tekanan darah pasien. Semuanya dalam batas normal.”
Disa dengan serius menyimak.
“Lalu, kalau kita ngobrol kayak gini, apa papah dengar sus?” Disa memperhatikan mata Sigit yang sedikit terbuka.
“Tuan mendengarnya nona. Hanya saja, karena fungsi kognitifnya yang terganggu, tuan kesulitan memahami dan merespon kita. Namun, bukan berarti tidak ada yang masuk ke pikirannya. Untuk itu, keluarga selalu di minta untuk mendekat pada pasien seperti tuan, berbicara dengannya, memutar lagu kesukaannya, mengingatkan kenangan bersama keluarga atau cerita-cerita yang menyenangkan.” Terang Gina Panjang lebar.
Disa tercenung, memandangi Sigit dengan perasaan tidak menentu. Laki-laki ini memerlukan semua perhatian orang rumah namun ia lebih sering sendirian. Rasanya tidak tega.
“Sus, seharian papah di apain aja?”
Gina mengambil sebuah buku catatan dan menunjukkannya pada Disa. Baru nona muda ini yang bertanya keseharian pasiennya.
“Saya membuat jadwal untuk tuan besar. Dari pagi sampai malam.”
Disa mengambil buku yang di tunjukkan Gina, membacanya dengan seksama.
“Ada exercise juga sus?” tidak percaya dengan apa yang di bacanya.
“Benar. Jadi setiap beberapa jam sekali, pasien harus berubah posisi, supaya tidak ada permukaan kulit yang tertekan dan menyebabkan luka. Selain itu, saya juga melatih alat gerak tuan, semisal di gerakkan seperti ini supaya otot tubuhnya tidak kaku dan mengecil.”
Lagi Disa mengangguk paham. “Boleh saya belajar cara memberi papah makan?”
“Tentu nona.”
Gina mendekatkan trolley ke samping Sigit. Membuka penutup selang yang ujungnya sedikit ia lipat lalu memasangkan spuit dengan ukuran besar. Lantas ia memasukkan susu ke dalam spuit itu dan membuka lipatan yang ia tekuk.
Cairan berwarna putih itu pun mengaliri selang dan masuk ke dalam tubuh Sigit.
“Seperti ini kurang lebih caranya. Harus di pastikan kalau kepala taun besar sedikit tinggi di banding tubuhnya agar tidak tersedak.”
Disa mulai memahami yang di ajarkan Gina. Saat memberi air minum, Disa mencoba melakukannya di bawah perhatian Gina.
“Pah, minum yaa… Supaya papah segar dan perutnya nyaman.”
“Ini disa masukin vitamin dan obat, kata suster gina nggak pait kok, soalnya langsung ke lambung.” Disa berceloteh sambil melakukan apa yang di ajarkan Gina.
Gina hanya tersenyum melihat Disa asyik melakukan apa yang ia ajarkan. Ia sangat bersyukur ada anggota keluarga yang mau terlibat langsung memperhatikan kondisi sigit.
“Sa,” sebuah suara terdengar dari mulut pintu.
“Pah, ada mamah, mau ketemu papah.” Ia berbicara dengan Sigit yang terbaring. Wajah Disa yang ceria menyambutnya dan memberitahu Sigit malah membuat hati Arini tiba-tiba bergetar.
Di hampirinya Sigit yang terbaring. Wajah laki-laki itu semakin tirus membuat hatinya mencelos. Ia jadi teringat perkataan dokter tentang Sigit.
“Kita tidak tahu, kapan pasien akan terbangun bisa sebentar, bisa sangat lama.”
“Lalu bagaimana kalau suami saya tidak juga bangun?” ketakutan itu yang kemudian muncul di pikiran Arini.
Dokter menghela nafas dalam, seperti berat untuk menyampaikan apa yang ada dipikirannya.
“Di negara berkembang, kondisi seperti ini diakhiri dengan tindakan euthanasia sebagai cara untuk mengakhiri penderitaan pasien. Namun di negara kita tidak dilegalkan.”
“Semuanya dikembalikan lagi kepada keluarga.”
Jawaban yang menakutkan bagi Arini dan jujur ia buntu. Tidak mungkin ia melakukan suntik mati pada suaminya. Maka ia memutuskan untuk menunggu dan berharap Sigit akan bangun.
“Papah baru selesai makan mah. Udah minum obat juga.” Suara Disa membuat Arini terhenyak dari lamunannya.
Ia tersenyum kelu dan memandangi wajah Sigit yang kemudian ia usap.
“Kamu dengar, itu disa mas, menantumu.” Lirih Arini. Suasana mendadak mellow membuat Disa berpikir mungkin ia telah salah bicara.
“Dia gadis yang baik dan aku menyayanginya. Kamu dengar semangatnya tadi?” Arini meraih tangan Disa yang kemudian ia tumpukan pada tangan Sigit.
“Tangan ini dengan tulus merawatku disaat orang-orang meneriakiku karena takut. Dan kali ini tangan ini mengasihi kamu. Kita beruntung mas.” Air mata Arini pecah. Di usapnya wajah Disa penuh sayang lantas mengecup pipinya dengan lembut.
“Terima kasih nak, sudah mau menemui papah.” Ujarnya penuh haru.
Saat mendengar Kean mengatakan kalau Disa ingin menemui Sigit, jujur Arini tidak menyangka. Ia pikir, Disa pasti akan sangat membenci ayah mertuanya yang selalu merendahkan dan menghinanya. Namun ternyata tidak.
“Sama-sama mah. Sekarang, mamah dan papah adalah orang tua disa dan disa akan menjaga kalian sebaik-baik menjaga orang tua sendiri.” Disa meyakini ucapannya dalam hati. Inilah yang ingin ia lakukan sekarang.
“Terima kasih nak.” Arini memeluknya dengan erat. Suasana kamar yang semula sepi dan dingin terasa mulai hangat. Seperti ada nyala lilin yang di bawa Disa dan menerangi ruangan yang gelap lagi sepi.
Memang seperti ini harusnya sebuah keluarga, saling menyayangi dan peduli.
*****
Arini mengajak Disa ke kamarnya. Sesuai janji, ada yang ingin ia berikan pada Disa.
Sebuah kotak berwarna merah muda yang di bungkus oleh kain berrenda.
“Apa ini mah?” Disa menatap bingung kotak yang di benamkan Arini di tangannya.
“Bukalah,” pinta Arini dengan penuh keyakinan.
Perlahan Disa membuka kotak itu. Sebuah benda berkiluan di dalamnya yang tidak lain adalah sebuah kunci.
“Mah, ini?” Disa menatap bingung benda bergerigi di tangannya.
Arini mengambil kunci itu dan membenamkannya di tangan Disa yang ia genggam dengan erat.
“Dulu, saat kamu keluar dari rumah ini, mamah sangat takut kalau kamu tidak akan pernah kembali. Mamah tahu, sebesar apa keluarga ini menyakiti dan menyulitkan kamu.”
“Mamah berharap, saat kamu keluar dari rumah kami, kamu akan di sambut dengan banyak kebahagiaan. Ya, kamu menemukan itu. Mamah senang kamu memenangkan sebuah kompetisi yang akan membuat kamu pada pintu besar dengan banyak kesempatan di depan mata.”
“Tapi lagi, mamah egois. Melihat kean yang seperti kehilangan sebagian hidupnya saat kamu pergi, hati mamah menangis. Mamah mulai melakukan banyak hal untuk membawa kamu masuk ke rumah ini dan menjadi seseorang yang tidak bisa di tolak kehadirannya termasuk oleh papahnya kean.”
“Mungkin mamah jahat karena menempatkan kamu dalam kondisi yang sulit. Dimana kamu akan di hadapkan pada kenyataan untuk meneruskan mimpi kamu dan meninggalkan Kean untuk sementara, maafkan mamah.”
Arini tersedu di hadapan Disa, ia tahu terkadang sebagai seorang ibu yang ingin membahagiakan anaknya, ia bertindak lebih egois.
“Mah, tolong jangan seperti ini.” Disa merangkul Arini dan memeluknya dengan erat. Tidak tega rasanya melihat Wanita ini menangis sesegukan.
“Mamah tidak pernah memaksa. Disa bisa saja menolak untuk menikah dengan aa. Terlepas disa menang kompetisi atau tidak, disa sadar jika ada rejekinya mungkin akan ada jalannya.”
“Disa mau menikah dengan aa, karena disa memang mencintainya. Hanya itu alasannya. Jadi tolong jangan merasa bersalah.” Lirih Disa yang mengusap punggung Arini dengan lembut.
Arini sesegukan namun ia masih bisa menahan tangisnya agar tidak semakin pecah.
“Terima kasih nak, terima kasih. Kamu telah membawa kebahagiaan tidak hanya di hidup kean tapi juga di hidup mamah.” Arini melepaskan pelukannya dan menatap Disa dengan lekat.
“Hadiah ini, mungkin tidak sebanding dengan kebaikan kamu. Tapi mamah harap, kamu mau menerimanya.” Menyusut air mata yang membawahi wajah dan hidungnya.
“Ada sebuah butik, yang mamah siapkan tidak jauh dari sini. Tempatnya memiliki halaman belakang yang cukup luas dan ada gazebo yang bisa kamu gunakan sebagai tempat melukis.”
“Jaraknya hanya sekitar 15 menit saja dari sini dan tidak terlalu jauh juga dari town house. Mamah harap, kamu mau menerimanya nak.” Terang Arini penuh harap.
Disa membuka genggaman tangannya dan menatap kunci yang ada di tangannya. “Terima kasih mah. Tapi, ini terlalu berlebihan untuk disa.”
“Jangan berkata seperti itu, ini tidak berarti apa-apa di banding apa yang sudah kamu lakukan pada keluarga kami.”
“Anggap ini hadiah kecil dari mamah sekaligus kebebasan yang mamah berikan untuk kamu. Hem?”
Disa menatap Arini tidak percaya. Entah apa yang harus ia katakan, separti semua kosakatanya hilang untuk menggambarkan rasa syukur dan terima kasihnya pada Arini.
“Terima kasih mah.” Disa berhambur memeluk Arini.
“Disa janji, disa akan menjaga butik ini dengan baik. Membuat karya yang bagus mah.”
“Iya nak, lakukan apa yang kamu sukai. Entah itu melukis atau mendesain. Bahagialah selalu nak.” Pekik Arini.
Disa tidak mampu berkata-kata. Ia hanya ingin memeluk Arini seerat mungkin. Baginya, mitos kalau semua mertua itu jahat, sudah terpatahkan. Pada kenyataannya tidak pernah ada orang yang benar-benar jahat ataupun benar-benar baik. Setiap orang dengan kekurangan daan kelebihannya.
*****