
Di tinggalkan berdua di rumah, ternyata membuat keduanya salah tingkah. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi mereka tinggal berdua dirumah. Tapi kali ini semuanya terasa berbeda.
Setelah memberikan cemilan sore pada Pak Wahyu, Disa segera kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan makan malam. Setelah ini ia ingin segera mandi karena tubuhnya sudah sangat berkeringat.
Di amanati untuk beristirahat ternyata tidak bisa dengan patuh ia turuti. Semakin ia diam, semakin banyak pekerjaan yang tiba-tiba jadi terlihat. Baiklah, ini memang tugasnya. Semakin cepat di kerjakan, semakin cepat selesainya.
Memasak sudah. Mencuci beres. Merapikan rumah kelar. Fiuh, akhirnya Disa bisa menghela nafas lega. List yang bertumpuk setelah di kerjakan tidak sebanyak itu. Sudah tidak sabar pergi ke kamar untuk mandi. Suasana rumah yang hening tanpa ada suara sedikit pun sepertinya cocok untuk mengistirahatkan badan. Tidak terdengar pula suara tuan mudanya dimana pun. Mungkin ia sedang beristirahat.
“Aaaa…” Disa menguap sangat lebar sampai matanya berair. Nikmat sekali saat bisa merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan tulang pungung yang lurus di atas tempat tidur. Menggeliat itu memang kenikmatan yang hakiki.
Disa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Di waktu yang nyaris bersamaan ada sebuah pesan masuk. Beberapa file foto di terimanya dengan pengirim, Damar.
“Bagus gak sa?” begitu kalimat tanya yang menutup foto-foto kiriman Damar.
Tembokan dengan graffiti yang di foto dari berbagai sudut membuat Disa tersenyum senang. Rupanya Damar sudah memulai pekerjaannya.
“Bagus mong. Ini di daerah mana?” penasaran juga tempat graffiti ini berada. Sepertinya sangat cocok untuk berfoto di sana.
“Daerah Sudirman. Tar gue ajak lo ke sini.” Begitu balas Damar.
“Okey! Habis itu ngegambar dimana lagi?” seru juga membayangkan semangat Damar yang menggebu mengerjakan proyeknya. Wajahnya yang serius sekaligus bahagia saat melakukan hobinya menjadi kenangan tersendiri bagi Disa.
“Masih rahasia. Nanti gue kabarin lagi.”
“Ish! Masih aja main rahasia-rahasiaan.” Gerutu Disa. Kebiasaan Damar seperti ini. Membuat kesal dan penasaran. Bisa terbayang ekspresi puasnya karena berhasil membuat Disa kesal.
“DISA!” nah, kan ada yang panjang umur.
“YA SAYA!” Disa langusng bangkit dari tempat tidurnya. Berkaca sebentar untuk melihat penampilannya agar tidak berantakan.
Eh tuan mudanya langsung buka pintu. “Turun sebentar, ada yang harus kamu periksa.” Tegas sekali perintahnya. Tidak memberi jeda untuk menolak.
Hal penting apa yang harus segera ia periksa.
Tunggu, Disa tidak lupa mematikan kompor kan? Atau lupa menutup kran air?
“Baik tuan!” Disa segera menyusul langkah Kean yang cepat. Menuruni anak tangga dan laki-laki itu menghalanginya di depan Disa.
“Periksalah!” menunjuk beberapa kaleng kecil beraneka warna.
“Apa itu tuan?” banyak sekali kaleng kecil yang Kean taruh di dekat sofa.
Kean tidak menjawab, Ia lebih memilih mendekat pada kaleng - kaleng itu. Membukanya satu per satu dan mata Disa langsung membulat.
“Tuan, ini?!” nyaris tidak percaya saat melihat begitu banyaknya cat akrilik dan Varnish. Kuas berbagai ukuran juga ada.
“Untuk apa ini tuan?” seperti melihat harta karun saat melihat banyaknya alat lukis di depan mata. Bau catnya saja sudah membuat imajinasi Disa melayang.
Kean duduk santai di sofa dengan kaki kanan tersilang di atas kaki kiri dan kedua tangan tersilang di depan dada. Pura-pura acuh pada kegirangan Disa.
“Kamu tidak perlu ke gallery reza hanya untuk melukis. Gambari saja dinding yang ada di sini.” Timpalnya ringan. Penekanannya bukan pada melukisnya tapi pada tidak perlu ke gallery.
Yang benar saja. Ini mau nyuruh ngelukis apa ngecat rumah?
“Tapi ini sangat banyak tuan. Harganya juga pasti mahal. Belum tentu juga bu kinar memberi saja izin mencorat-coret dinding rumah.” Cerocos Disa seraya memeriksa satu per satu penutup cat. Kualitas cat terbaik yang hanya bisa di beli oleh orang-orang berkantong tebal.
Kean mengernyitkan dahinya mendengar cerocosan Disa. “Apa hubungannya dengan bu kinar? Ini rumah saya. terserah saya mau di apakan.” Protes Kean.
Salah ngomong kan?
“Eh, maksud saya bukan seperti itu tuan.” Menutup kembali cat yang ia intip. Sepertinya ia salah bicara.
“Lalu?” Kean menatapnya laman. Butuh penjelasan.
“Em, Maksud saya,” kalimat Disa terjeda. Ia memperhatikan gelagat tuan mudanya yang tiba-tiba mengambil kuas, mencelupkannya pada cat warna hijau dan, “Prat!” dengan sengaja mencipratkan catnya pada Disa.
“Astaga! Tuan?!” terkejut dan ingin tertawa di waktu bersamaan.
Wajah dan baju Disa terkena cat yang di cipratkan Kean. “Kenapa? Tidak terima? Mau membalas? ” tantang Kean dengan senyum tengilnya.
Ekpresi wajah Disa berubah dengan cepat. Ia tertunduk lesu. “Tentu saja tidak tuan.” Lirihnya seraya memandangi cat warna hijau di hadapannya.
“Tidak mungkin saya diam saja!” Disa langsung mencelupkan tangannya ke dalam cat dan mengarahkannya pada Kean dengan geram. Kean pikir Disa akan diam saja tapi rupanya terpancing juga.
“Astaga Disa!” seru Kean yang segera berlari menghindari Disa.
“Jangan kabur tuan!”
Disa berlari berkejaran dengan Kean. Mengelilingi sofa, meja makan, ke halaman dan kembali ke dalam rumah. Tidak menyerah sebelum ia berhasil membalas. Keduanya layaknya anak kecil yang kembali ke masa-masa indah dimana yang menjadi masalah hanya karena gagal membalas keisengan temannya.
Noda cat berceceran di mana-mana tidak ia pedulikan. Disa hanya tertawa-tawa melihat Kean yang ketakutan menghindari gapaian tangannya.
Sampai akhirnya tanpa sengaja Kean menendang kaleng cat dan membuatnya terjungkal ke sofa.
"BRUK!!!"
Disa menyusul menendang kaleng dan terjatuh di atas tubuh Kean.
Tidak berpikir panjang,
“Sret!” noda cat itu dileletkan ke wajah Kean, membuat sebagian besar pipi kiri dan dahinya terkena cat berwarna hijau.
Kean dan Disa sama-sama terpaku. Terkejut dengan ulah sendiri. Mereka jatuh bertumpukan.
“Hahahahhaa…” tapi kemudian keduanya tertawa bersamaan.
“Pembalasan selalu lebih kejam tuan.” Lirih Disa, menambahkan usapan sisa cat di pipi kanan Kean. Masih belum puas rasanya, mumpung tuan mudanya pasrah.
“Astaga Disa,,,” Kean hanya bisa protes tanpa bisa beranjak dari tempatnya. Tubuhnya masih terhimpit tubuh Disa.
Setelah puas membiarkan Disa melumuri wajahnya, Kean menahan tangan Disa. “Ingat, saya juga bisa membalas kamu lebih kejam.” Ancamnya dengan tatapan tajam pada Disa.
“Oh ya?”
“Apa tuan sejahat itu juga pada perempuan?” mengibaskan tangannya dan mendelik pada Kean.
Sangat lemas sekaligus gerah merasakan debaran jantung yang berpacu sangat cepat. Jarak mereka sedekat itu dan membuat Kean senyum-senyum gemas.
Dari tempatnya, Kean memandangi Disa yang berdiri di depan diding. “Kamu boleh menggambarinya di sana.” Seru Kean. Ia ingin memberi sedikit kebahagiaan bagi Disa. Anggap saja hari ini ia milik Disa dan ia akan menuruti apa saja keinginan Disa.
“Hah? Milik Disa? Gimana? Gimana?”
Kean menghampiri Disa dengan dua apron di tangannya. Ia membalik tubuh Disa agar menghadapnya lalu memasangkan apron itu di tubuh Disa. Kembali jarak mereka sangat dekat. Kedua tangan Kean melingkari tubuh Disa saat ia mengikatkan tali apron di belakang leher.
Ia menikmati masa-masa seperti ini. Masa di mana jarak mereka sangat tipis hingga Kean bisa mencium wangi tubuh Disa. Disa tidak menghindar, seperti tidak masalah dengan jarak yang di buat Kean.
“Pasangkan untuk saya.” berganti ia menyodorkan apron pada Disa. Gadis itu masih terpaku dengan wajah memerah di kedua pipinya. Rasanya Kean ingin menggigit pipi yang mirip buat tomat matang itu.
“Baik tuan.” Disa mengambil apron dari tangan Kean. Sedikit berjinjit untuk mengimbangi tubuh jangkung Kean. Kean malah ikut berjinjit membuat Disa tertawa kesal.
“Apa anda bisa sedikit menunduk?” pintanya kemudian.
“Seperti ini?” dengan cepat Kean menunduk, mengagetkan Disa saat wajah mereka saling berdekatan.
Mata Disa yang bulat tampak menyalak, terdiam beberapa detik tanpa berkedip, syok rupanya. Setelah beberapa saat baru ia tersadar, bola matanya kembali bergerak ke kiri dan kanan berusaha menghindar dari tatapan Kean.
Kean memasang senyum di wajahnya. Ia sangat suka saat hembusan nafas Disa menerpa wajahnya. Hangat dan lembut.
Mengalungkan tangannya di leher Kean dan laki-laki itu semakin mendekat. Disa berusaha menahan senyum dan nafasnya. Jantungnya seperti berhenti berdetak karena lelah berpacu cepat.
“Tuan, anda bisa mundur sedikit.” Suaranya terdengar gemetar, menggairahkan bagi Kean.
“Bukankah seperti ini lebih memudahkanmu?” bisiknya, tidak mau kalah.
Disa hanya tersenyum seraya menahan gejolak perasaan di dadanya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar ia bisa bernafas bebas. Sementara Kean terlalu menikmati moment ini. Moment di mana waktu terasa lamban berputar dan membawanya pada rasa nyaman yag belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya ingin sekali ia melingkarkan tangannya di pinggang Disa dan memeluknya dengan erat tanpa ada rasa khawatir seperti sebelumnya.
“Sudah tuan.” Sayang, semua harus berakhir. Disa menarik tubuhnya menjauh dan mengalihkan pandangannya dari Kean. Ia pun mengusap rambutnya canggung, salah tingkah.
“Dindingnya mau di lukis seperti apa tuan?” berusaha mengalihkan pembicaraan agar bunga Sakura dalam imajinasinya berhenti berguguran.
“Terserah kamu. Saya jadi asisten saja.” Timpal Kean pasrah.
“Baiklah, kita mulai.” Disa mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menggulungnya. Ia pun meremas jemarinya, membunyikannya lalu merenggangkan otot-otot di tangannya. Lehernya ia miringkan ke kiri dan kanan, di akhiri dengan hembusan nafas kasar pelepas gundah.
Ide sudah berkumpul di kepalanya. Ia mengambil kuas dan mulai mencelupkannya ke dalam cat. Ia siap untuk melukiskan warna-warni cat yang kemungkinan di dominasi oleh warna jingga dan coklat.
Disa mulai asyik melukis sementara Kean terduduk di lantai memperhatikan Disa. Cantik sekali Wanita ini saat sedang melukis. Ia terlihat begitu bahagia seperti tengah menemukan hidupnya yang sebenarnya. Kean menikmati pemandangan itu. Wajah yang berseri dan sesekali terlihat serius, mata yang berbinar, semakin menyala indah saat mendapat pantulan warna jingga dari dinding.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam. Hanya terjeda oleh sholat atau ke toilet. Sempat menyiapkan makan malam, namun Kean tidak terlalu berselera. Ia lebih senang menjadi asisten yang menggoreskan cat di dinding berulang dengan arah yang sama. Sementara matanya tidak berpaling dari wajah Disa.
“Kamu sangat cantik.” Batin Kean.
*****
Menjelang tengah malam, Kean baru selesai mandi. Saat turun ia dikejutkan oleh lukisan Disa yang hampir selesai. Sebuah mural musim gugur yang terlihat begitu nyata. Di salah satu sudut ada empat ekor singa yang digambar Disa.
Ekspresinya sangat hidup seolah keempat singa itu sedang bercengraman menikmati daun yang berguguran di terpa angin. Beberapa jatuh di atas tubuh mereka membuat salah satu anak singa berekspresi riang.
“WOW!” seru Kean dengan mulut dan mata yang sama-sama membulat. Ia duduk di lengan sofa, memandangi mural Disa yang nyaris selesai.
“Besok saya tambahkan varnish-nya supaya gambarnya awet dan lebih hidup.” Terang Disa. Gerakan tangannya terhenti, karyanya sudah rambung di buat.
Ia berdiri dengan perasaan bahagia, seperti ia habis melewati sebuah putaran waktu yang sangat bermakna. Rasa pegal di kakinya tidak di rasa. Saat ia bermain dengan imajinasinya dan membayangkan jika ia berada di tepat ini. Berlarian ke sana kemari, bermain dengan dedaunan yang ia lempar ke atas dan berjatuhan di atas kepalanya. Pasti sangat menyenangkan.
“Kemarilah.” Kean menarik tubuh Disa untuk terduduk di sampingnya. “Ini sempurna disa.” Imbuhnya, menatap kagum pada mural yang di buat Disa.
Ia masih tidak habis pikir, bagaimana tangannya yang mungil bisa membuat karya yang begitu besar? Sangat indah, membuat Kean ikut terbawa dalam suasana hangat dari lukisan yang di buat Disa.
“Tunggu sebentar tuan.” Disa bernajak dari samping Kean. Berjalan menuju saklar dan mematikan beberapa lampu.
“WOW!!” lagi kean berseru kagum saat matanya hanya fokus pada mural yang di buat Disa. Gadis ini bahkan membayangkan hingga ke titik ini, sangat luar biasa.
Saat fikiran Kean gundah, mungkin ia tidak perlu pergi kemana pun. Cukup terduduk di sini dan menikmati mural buatan Disa.
Siapa sangka, niat ia untuk memberi Disa sedikit kesenangan, ternyata malah membuatnya jauh lebih bersenang-senang. Seperti namanya, kehadiran Disa memberi keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Puas memandangi mural, perhatian Kean teralih pada gadis yang berdiri di dekat saklar. Disa langsung mengalihkan pandangannya saat ternyata Kean balik menatapnya. Wajahnya di penuhi cat di beberapa bagian, membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Jangan di tanya tangannya yang sedari tadi sudah tidak terlihat warna kulit aslinya.
Ia berjalan dengan ragu menghampiri Kean dan Kean menepuk tempat di sampingnya. Mereka duduk bersisihan membayangkan jika ada hembusan angin yang ikut masuk dalam imajinasi mereka.
“Terima kasih.” Ungkap Kean tiba-tiba. Ia menatap Disa dengan laman.
“Kamu telah membuat bangunan ini terasa seperti rumah.” Imbuhnya dengan segaris senyum.
Selama ini, Kean tidak merasa memiliki rumah seperti hal yang orang-orang yang kerap berusaha pulang cepat dari tempat kerjanya hanya demi mengejar waktu pulang. Tapi kali ini ia merasa memilikinya. Tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah yang akan ia tuju saat ingin mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang dicarinya.
Jika selama ini ia berfikir, bersenang-senang itu cukup dengan uang dan mengajak orang-orang yang bisa menemaninya menghabiskan waktu dalam suasana euphoria tapi kali ini pemahamannya bergeser. Di tempat itu mungkin ia bersenang-senang tapi tidak menemukan ketenangan seperti di tempat ini.
Disa hanya tersenyum simpul. Masih tidak menyangka kalau ia pun bisa menyelesaikan muralnya dalam hitungan jam.
Kean mengambil tissue yang ada di atas meja sofa. Membalik tubuhnya menghadap Disa. Disa menolehnya dan hanya terpaku saat sapuan tissue menyentuh wajahnya dengan lembut. Mereka sama-sama melempar senyum dengan tatapan yang semakin lama semakin dalam. Seperti menemukan ketenangan saat memandangi wajah satu sama lain.
"Bisakah suatu hari kita pergi ke tempat itu, berjalan di antara barisan pepohonan sambil," Kean menggerakkan jemarinya mendekat ke jari Disa, dan kelingkingnya menyentuh kelingking Disa.
"Berpegangan tangan?"
Sejenak Disa terdiam seperti mencerna pertanyaan Kean. Perlahan ia mengangguk dengan garis senyum tipis yang membuatnya terlihat sangat manis.
Kean bisa menghela nafas lega saat rasanya ia mulai tahu seperti apa perasaan Disa.
“Jangan takut. Semua akan baik-baik saja.” Lirih Kean yang masih mengunci pandangan Disa.
Disa hanya terangguk. Ia membiarkan Kean membersihkan wajahnya dengan tissue. Sesekali mereka saling melempar senyum saat mereka merasakan memiliki alasan untuk tersenyum pada satu sama lain.
Selamat malam keluarga singa.
*****