Marry The Heir

Marry The Heir
Memikirkan wanita yang sama



Lelahnya hari, berakhir sudah saat Kean telah sampai di rumahnya. Ketika membuka pintu, semuanya sudah sepi tidak ada tanda-tanda kehadiran Disa di rumahnya. Lampu-lampu sudah menyala dan ruangan rapi seperti biasanya.


Bisa menghela nafas lega seraya melonggarkan dasi karena suasana rumah yang rapi ternyata memberi efek ketenangan pada Kean setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang seperti tidak ada ujungnya.


Ia berjalan menuju sofa, menaruh tas kerjanya di sana lalu duduk bersandar, merasakan letih di tubuhnya. Sejak pagi hingga sekarang tenaganya masih tersisa banyak karena semua pekerjaan rasanya berjalan dengan lancar.


Ia melihat ke sekeliling rumahnya lantas memandangi pantulan dirinya di kaca samping. Cahaya lampu taman yang menguning remang-remang, seolah membantu merefleksikan dirinya menjadi lebih jelas. Lantas ia tersenyum pada dirinya sendiri yang menurutnya telah banyak bekerja keras.


“Kriukkk...”


Bunyi bising ususnya terdengar begitu nyaring. Ia memang belum makan malam karena memilih untuk makan malam di rumah, menikmati lauk pauk yang di masak Disa. Pagi, siang dan malam ia menikmati hidangan yang dibuat Disa. Indra pengecepnya sudah terlalu terbiasa menikmati rasa yang menurutnya cocok di mulut dan di perutnya.


Ia melepaskan sepatunya lalu berjalan menuju meja makan dan membuka tudung saji yang menutupi makanannya.


Makanan yang tersaji cukup menggundang salivanya untuk menetes. Warna sayuran yang beragam berdampingan dengan ikan goreng yang sepertinya garing dan enak membuat ia menelan salivanya kasar-kasar.


Tangannya hendak mencomot sebagian makanan namun ia urungkan saat suara bell rumah terdengar nyaring. Sepertinya ia harus menunda keinginannya untuk mencicipi makanan dan membukakan pintu untuk tamu yang datang tiba-tiba.


“Woy bro!” seru Reza saat Kean membukakan pintu untuknya.


“Woy!” sahutnya yang membalas tos Reza kemudian saling berangkulan untuk beberapa saat. “Wah tumben mampir, masuk.” Kean membukakan pintu lebih lebar untuk sahabatnya.


“Iya habis dari kampus kebetulan lewat. Gabut juga kalo langsung ke galery jadi mampir sini lah sekalian nyobain PS baru lo. Lo baru pulang?” memperhatikan penampilan Kean yang masih mengenakan stelan kerjanya.


“Ya beberapa menit lalu.” berjalan di depan Reza, membawanya masuk.


“Wah, rapi banget rumah lo sekarang. Ngomong-ngomong mana pelayan idola lo?” matanya melihat ke sekeliling rumah yang banyak perubahan.


“Udah balik lah. Udah malem gini.” timpal Kean. Ia pergi ke dapur dan mengambil minuman bersoda untuk sahabatnya.


Reza duduk di sofa ruang keluarga, matanya masih memperhatikan ruangan yang mulai terasa seperti rumah. Biasanya berantakan, tidak terawat dan tidak nyaman.


“Gila, ada bunga segala.” cetusnya yang kemudian terkekeh.


“Dia emang cukup apik dan punya jiwa seni yang tinggi.” Kean menyodorkan minuman bersoda pada sahabatnya lalu duduk di sofa kecil samping Reza. “Kayaknya lo ke sini cuma buat ngeliat rumah gue sama nyari pelayan gue. Lo penasaran banget kayaknya?”


“Hahahaha.. Ya gue sedikit penasaran sama pelayan yang berhasil merubah banyak hal di hidup lo.” timpal Reza, sekali lalu meneguk minuman bersoda di tangannya.


Kean hanya tersenyum samar, ia memang harus mengakui kebenaran ucapan Reza.


“Gue mandi dulu, lo pemanasan dulu aja.” beranjak dari tempatnya dan menunjuk stik PS yang ada di dekat televisi berlayar lebar.


“Okey!” beranjak untuk mengambil stik PS dan menyalakan televisi.


Kean pun pergi menuju kamarnya, ia tidak mau air mandinya keburu dingin. Lagi pula, ia merasa tubuhnya sudah sangat lengket, perlu di bersihkan.


Televisi sudah menyala. Reza mendudukan tubuhnya dengan santai. Memilih pemain bola yang akan ia gunakan untuk mengalahkan pasukan Kean nanti. Ia mulai bermain, melakukan pemanasan melawan strategi default dari sistem milik PS sendiri.


Tangannya bergerak lincah menekan tombol stick PS, bibirnya tampak bergumam, “Come on, come on kita cetak skor.” gumamanya dan tak lama, “YES!” serunya saat ia berhasil mengungguli otak komputer.


Satu babak permainan telah ia lewati tapi Kean sepertinya belum selesai mandi. Ia memilih untuk pergi ke dapur, mengecek makanan yang ada di atas meja makan, karena perutnya sedikit lapar.


“Waw!” serunya saat ia melihat menu makanan di atas meja.


Dengan cepat ia mengambil piring dan sendok lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ia duduk dengan tenang, menikmati rasa makanan yang rasanya tidak asing.


“Enak?” tanya Kean yang baru tiba di tangga terakhir rumahnya.


Ia terlihat sudah segar dengan pakaian santai berupa kaos dan celana pendek selutut.


“Hahahah sorry gue duluan. Habis masakan di rumah lo enak.” ujarnya dengan mulut penuh makanan.


“Iya, masakannya emang enak. Padahal gag pernah dia cicipin.” aku Kean. Ia pun ikut mengambil piring dan sendok lalu duduk berhadapan dengan sahabatnya.


“Rasa masakannya pas. Gue sedikit familiar sama rasa tumisannya.” Reza mencoba mengecap rasa tumisan brokoli di mulutnya. Benar-benar familiar.


“Bukannya semua rasa tumisan emang kayak gini?” Satu suapan mulai masuk ke mulut Kean.


“Ya mungkin. Tapi ini persis tumisan bikinan seseorang.” Reza tersenyum di ujung kalimatnya.


“Wah, ketemu perempuan pinter masak di mana lo?” Kean mulai penasaran saat melihat ekspresi wajah Reza yang berubah ceria.


Reza tersenyum kecil saat mengingat sosok gadis yang muncul di pikirannya.


“Cewek yang dikenalin nyokap gue.” akunya.


“Nyokap lo? Tumben dia ngenalin cewek sama anaknya, biasanya lo yang maksa ngenalin cewek sama dia.” Kean di buat makin penasaran dengan ucapan sahabatnya.


“Ya, itu yang aneh.” menaruh sendoknya sejenak lantas meneguk air yang ada di sisi kanannya. “Usahanya gigih banget buat deketin gue sama cewek itu. Tapi giliran gue tanya kenapa dia suka sama cewek itu dia malah nyuruh gue nyari tau sendiri alasannya. Aneh kan?” imbuhnya.


“Terus lo udah tau alesannya?”


Mengendikkan bahunya acuh. “Klasik, dia gadis yang baik dan masakannya enak.” akunya. Reza tersenyum tipis di ujung kalimatnya. Bayangan Disa seolah muncul di pikirannya.


Hal yang sama di rasakan Kean. Ada bayangan Disa yang ikut muncul saat Reza menyebutkan dua sifat tersebut. “Sayangnya, baik dan masakan enak gag bisa jadi jaminan kita tenang menghadapi masa depan. Perlu seseorang yang berada di sisi kita saat kita berada di titik terbawah, tidak pergi untuk alasan apapun dan bisa membuat kita tenang menghadapi hari-hari karena tau dia akan selalu ada di samping kita.” ujarnya dengan ringan.


Reza menoleh sahabatnya yang tampak melamun. Entah gadis mana yang muncul di pikirannya. Dan sejak kapan seorang Kean memiliki bayangan tentang seorang gadis


Kean hanya mengendikkan bahunya. Lamunannya berakhir saat ia menoleh Reza lantas tersenyum. Kembali ia melanjutkan makan malamnya dengan lahap. Entah ia akan bertemu gadis seperti itu atau tidak.


"Inget bro, nobody perpect. Dia mungkin memenuhi salah satu standar lo, tapi mungkin standar lainnya tidak. Karena kita gag bisa nyari yang sempurna, kita cuma nyari yang bisa menyempurnakan kita." tutur Reza kemudian.


"Wiihhh setelah banyak ketemu cewek rupanya perspektif lo berubah ya bro?" ledek Kean pada sang casanova. Reza hanya terkekeh. "Terus di antara sekian banyak cewek yang deket sama lo, masa sih lo gak nemu cewek yang bisa menyempurnakan hidup seperti yang lo bilang tadi?"


"Hahahaha... Gue juga gak tau. Mungkin karena gue sendiri belum tau cewek seperti apa yang bisa menyempurnakan gue."


"Deuh casanova, casanova. Udah banyak megang cewek masih aja belum nemu yang pas." gumam Kean yang masih bisa di dengar oleh Reza.


Reza hanya terkekeh mendengar celoteh sahabatnya.


*****


Disa masih dengan pekerjaannya di ruang linen, menyertika, memilah baju dan memasukkannya ke dalam keranjang. Sudah cukup malam dan ia masih belum menyelesaikan pekerjaannya.


Sepulang dari rumah Kean, ia memang langsung meneruskan peer pekerjaannya yang menumpuk. Walau cucian itu tidak akan mengejarnya kemana-mana tapi tetap ia punya tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“Mba disa, kalo ada tugas bioteknologi kira-kira bikin apa ya?” tanya Shafira yang duduk saling membelakangi dengannya. Ia sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya sebagai seorang siswa.


Setiap ada pekerjaan rumah, Shafira memang pasti mencari Disa dan memintanya untuk menemaninya. Atau seperti saat ini, mereka saling menemani mengerjakan pekerjaan masing-masing.


“Em, apa ada pilihannya?” Disa balik bertanya.


“Ada. Tergantung bidang yang di ambilnya. Mba disa dulu ada tugas gini gak?” Shafira mentautkan alisnya tampak berfikir.


“Ada. Dulu saya bikin roti, karena tergolong paling mudah. Tapi ya, itu juga karena sebagian di bantu oleh tante saya.” akunya seraya mengingat masa-masa SMA beberapa tahun silam.


“Apa bisa?” Shafira memundurkan kursinya agar duduk bersisihan dengan Shafira. Ia terlihat sangat penasaran.


“Bisa. Penekanan bioteknologinya di ragi. Proses fermentasi.” terang Disa singkat.


“Okey, aku coba cari.” Dengan cepat Shafira membuka ponselnya dan mencari kebenaran yang Disa katakan.


Disa tersenyum tipis, anak sekolah sekarang sangat dipermudah, perlu ini itu tinggal googling. Kalau zamannya dulu masih mengandalkan buku di perpustakaan. Atau mungkin karena sekolah Shafira yang bertaraf internasional sehingga perkembangan dunia digital lebih cepat di banding tempat ia bersekolah dulu.


“Wah bener, ternyata bisa.” seru Shafira dengan semangat. “Mba disa emang the best. Serba tau.” pujinya tanpa sungkan.


Disa kembali tersenyum melihat Shafira yang mengacungkan kedua ibu jarinya pada Disa.


“Dulu saya dapet tugasnya kelompok. Non fira di tugaskan masing-masing?” Disa mulai penasaran dengan usaha keras Shafira seorang diri.


Terdengar Shafira menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. Lantas menaruh bukunya di atas paha.


“Kelompok, tapi teman sekelompokku anak bandel semua. Gak bisa di ajak kerjasama.” keluhnya.


“Kok bisa sekelompok dengan anak nakal?” berganti Disa yang penasaran. Biasanya Shafira selektif memilih teman.


“Aku keluar dari kelompokku sebelumnya, buat ngehindarin malvin.” akunya yang tertunduk lesu. “Aku capek mba disa kayak gini. Berusaha ngehindarin malvin tapi aku juga penasaran sama apa yang dia lakuin.” lanjutnya dengan tatapan nanar.


“Kenapa harus di hindari?”


“Ya karena,” Shafira menatap Disa laman. Ia mencoba merangkai kalimat yang ada dikepalanya. “Aku juga gak tau.” lagi ia tertunduk lesu. Wajahnya tertekuk dengan jemari saling memilin. Seperti ada beban berat yang mengganjal di hatinya.


Masih memperhatikan Shafira yang tampak galau. Ia memang belum pernah memiliki pacar atau seseorang yang ingin ia miliki. Pengalamannya masih nihil tentang cinta-cintaan terlebih saat usia remaja. Ia tidak melewati fase itu. Keadaan membuatnya melewati beberapa tahapan kehidupannya hingga ia harus lebih dewasa dan bijak memilih mana yang lebih penting untuk masa depannya.


Dengan pengalaman nihil itu, Disa mencoba berpendapat. Semoga saja ada hal baik yang bisa di ambil nona mudanya.


“Menurut saya, walaupun mungkin malvin membuat non fira kecewa, tapi bukan malvin yang benar-benar membuat non fira kecewa. Hanya keadaannya saja. Selain itu, walaupun non fira tidak menjadi teman istimewanya, tidak ada salahnya tetap berteman seperti non fira berteman dengan yang lainnya.” kalimat Disa terdengar lebih panjang dan membuat Shafira terdiam, berusaha mencerna.


“Apa aku bisa?” pandangan Shafira kini beralih pada Disa yang telah selesai merapikan pakaian dan memasukkannya ke dalam keranjang.


Ia berbalik menghadap Shafira yang tengah menatapnya dengan nanar.


“Bisa, karena non fira gadis yang baik dan tulus. Saya yakin setiap orang bisa merasakan ketulusan non fira.” sahut Disa dengan yakin. Ia pun menatap Shafira dengan lekat seolah meyakinkan nona mudanya bahwa ia mampu.


Shafira tersenyum samar. Terlihat bibirnya yang melengkungkan senyum. “Aku coba, “ lirihnya kemudian.


Disa ikut tersenyum seraya mengangguk. Ia yakin Shafira bisa melewati masalahnya kali ini.


💕💕💕💕💕💕


Hay hay hayy 👋👋👋


Terima kasih yang sampai bab ini masih setia membaca. Maafkan untuk banyak typonya yaaa, semoga tetap bisa dimengerti, xoxo...


Kalau suka dengan novel ini, stay tune terus yaaa,, insya allah akan dipertahankan update harian. Semoga gak tiba-tiba blank 🙈🙈


Happy reading semua, jangan lupa berikan like, komen dan kalau berkenan kasih vote yaa supaya tambah semangat nulisnya, hehe... Makasih sebelumnya.


With 🖤,


Naya_handa