
Lagu Who Says milik John Mayer menjadi pengisi suara di sebuah aula hotel yang di sulap menjadi tempat pesta. Pesta perayaan ulang tahun perusahaan milik Brata yang di hadiri banyak pengusaha sukses dan menjadi tempat yang pas untuk Kean. Sebuah band menyanyikan lagu tersebut dari atas panggung dengan suara manly dari vokalisnya.
Dari arah pintu, Kean berjalan bersisihan dengan Disa. Tidak ada acara gandengan tangan seperti yang dilakukannya dengan Reza, berjalan masing-masing penuh dengan rasa canggung yang belum hilang.
Mungkin hanya Disa saja yang merasakannya karena ia merasa tempat ini bukan tempat yang seharusnya ia datangi bersama Kean. Menarik nafas beberapa kali agar ia bisa tetap tersenyum walau berada di tempat yang asing.
“Disa!” panggil Kean, terdengar jelas walau tidak terlalu keras.
“Ya saya.” Disa sedikit mendekat pada Kean walau tetap menjaga jaraknya.
“Berhati-hatilah saat berinteraksi dengan orang yang tidak kamu kenal, terlebih itu laki-laki.” Bisik Kean sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Ia melihat beberapa pasang mata yang tertuju padanya dan Disa.
Disa masih termangu, ia tidak bisa membedakan seperti apa orang yang boleh dan tidak boleh ia ladeni saat mereka menyapanya.
“Seperti laki-laki botak itu.” Kean menunjuk dengan sudut matanya pada laki-laki botak yang tengah memainkan wine di gelasnya sambil memandangi Disa dari kejauhan. Seperti tengah mengutarakan kekagumannya pada wanita ber-dress hitam tersebut.
“Ada apa dengan orang itu tuan?” Disa penasaran. Baginya tidak ada bedanya laki-laki itu dengan yang lainnya.
“Jangan membalas tatapannya apa lagi tersenyum.” Gertak Kean pelan. Seperti tidak rela kalau laki-laki itu terus memandangi Disa.
Disa langsung mengubah mode wajahnya dari senyum menjadi datar. Lebih tepatnya muka kaget.
“Ba-baik tuan.” Ia segera memalingkan wajahnya dari laki-laki yang kali ini tersenyum padanya. Bikin merinding saja.
“Jangan juga berbicara dengan laki-laki yang memandangi kamu dari atas hingga ke bawah. Terlebih parfumnya menyengat. Mereka pemburu kenikmatan ranjang.”
“Apa?” kali ini Disa sedikit kaget. Menakuti Disa dengan cara yang efektif membuat mata gadis itu membulat. Mengerikan sekali istilah yang digunakan Kean. Apa benar ada tipe-tipe laki-laki yang disebutkan Kean? Mengapa mereka terlihat sama saja di mata Disa.
Sudut mata Kean beralih pada laki-laki muda yang tengah berbincang dengan seorang wanita dan tangannya asyik mengulas punggung wanita itu dengan sensual.
“Kamu tidak percaya?” Kean membawa Disa ke salah satu sudut lantas mengambil minuman dari baki pelayan.
“Bagaimana cara saya membedakannya tuan. Mereka terlihat sama saja.” Bingung sendiri, tidak ada penanda khusus dari tampilan laki-laki di ruangan ini.
“Ya kalau kamu tidak tau bedanya, berarti kamu jangan jauh-jauh dari saya. Duduklah.” Titahnya, menarikkan kursi untuk Disa.
“Baik tuan.” Seperti bocah yang di takut-takuti zombie, Disa menurut saja dengan wajah yang terlihat takut.
Menenangkan perasaannya sendiri walau matanya masih berkeliling memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Disa mengambil segelas air dari baki yang di sodorkan pelayan, namun saat ia akan meminumnya, “Jangan di minum!” seru Kean.
Apa lagi ini miskah? Hampir saja air digelasnya tumpah.
“Kenapa tuan?” padahal sudah dari tadi Disa menahan haus.
“Itu minuman beralkohol.” Tegas Kean yang menaruh gelas Disa dengan kasar.
Bibir Disa membulat, baru paham.
“Ikut saya. saya harus menemui seseorang.” Kean menarik tangan Disa, membuat Disa memandangi tangannya yang di genggam Kean tiba-tiba.
Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Kean, di pesta ini banyak Wanita cantik, mana mungkin ada laki-laki yang meliriknya. Para pengusaha ini pasti memiliki standar yang tingga terhadap wanita yang akan di dekatinya.
Dibawanya Disa menemui seorang laki-laki paruh baya yang ramah menyambut Kean.
“Kean, terima kasih sudah datang. Om merasa sangat terhormat.” Brata menyambut Kean dengan rangkulan.
“Sama-sama om. Saya juga merasa terhormat bisa hadir di sini.” Timpal Kean tersenyum diplomatis.
“Kamu datang dengan siapa?” Brata memperhatikan Disa yang berdiri di belakang Kean.
“Oh, ini disa. Disa, ini om brata, papahnya Claire.” Akhirnya Kean memperkenalkan satu sama lain.
“Wah, kamu juga mengenal Claire? Teman Claire waktu dimana?” Brata mengulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Disa.
“Em saya,” membalas uluran tangan Brata dengan ragu. Ia melirik Kean yang hanya terdiam di tempatnya. Apa ia harus mengatakan kalau ia pelayan tuan mudanya?
“Kami ketemu di rumah kean pah.” Sahut suara milik Clara yang terdengar tiba-tiba.
Gadis itu terlihat cantik dengan gaun berwarna maroon yang terlihat kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Kalau ada nyamuk yang hinggap, pasti kepeleset. Memang berbeda aura seorang model.
Disa hanya tersenyum, syukurlah Clara menyelamatkannya dari mempermalukan Kean.
“Gue kira lo gak bakalan dateng.” Menatap Kean dengan sinis, ia pikir dengan permintaan Kean untuk menolak perjodohan mereka, Kean akan mulai menjaga jarak dari keluarganya.
“Ini undangan langsung dari papah kamu, tidak mungkin saya tidak datang.” Kean berusaha terlihat formal saat berbicara dengan Clara. Bagaimanapun ia harus menghormati orang tua sahabatnya.
“Ya udah, kalian ngobrol dulu, papah nyapa tamu yang lain.” Brata tersenyum hangat, sepertinya ia sangat senang dengan kedatangan Kean.
Kean hanya mengangguk saat Brata menepuk bahunya.
Sepeninggal Brata, ekspresi wajah Clara kembali pada mode dingin. Ia memperhatikan Disa dengan tatapan sinis yang biasa ia tunjukkan. “Lo gak salah bawa dia?” terang-terangan ia menyatakan ketidaksukaannya karena Kean memilih untuk membawa Clara.
“Kenapa? Terserah gue dong mau bawa siapa.” Timpal Kean acuh. Baginya ia hanya akan membawa Disa atau tidak sama sekali.
“Gila, lo bandingin gue sama dia. Yang bener aja lo.” Sengit Clara yang tidak terima di saingkan dengan Disa.
“Bodo!” Kean enggan untuk berdebat. Ia lebih memilih menarik tangan Disa menjauh dari Clara.
Seperti barang yang di bawa ke sana kemari, Disa hanya mengikuti saja tanpa bisa protes.
Saat mereka tengah berjalan, tiba-tiba lampu dimatikan. Hanya cahaya remang-remang dari beberapa lampu yang menyala di sudut ruangan, membuat suasana terasa romantis. Alunan musik merambat pelan, dari lagu up beat berubah menjadi alunan musik dansa.
“Baik, untuk memeriahkan acara ini, mari kita mulai dengan berdansa. Silakan dekati pasangan masing-masing, ajak wanita paling cantik di dekat anda untuk berdansa.” Ujar sang MC yang menggema dengan pengeras suara.
Para tamu yang hadir segera menepi, begitupun dengan Kean dan Disa. Ada sepasang tamu yang maju lebih dulu ke tengah-tengah mereka dan mulai berdansa mengikuti alunan musik.
Semakin lama, semakin banyak orang-orang yang maju dan ikut berdansa. Saling merapatkan tubuhnya dengan pasangan masing-masing dan bergerak dengan perlahan. Sangat indah, saat warna warni gaun menghiasi lantai dansa.
“Mau mencobanya?” tawar Kean tiba-tiba.
“Em, tidak tuan. Terima kasih.” Disa menarik tangannya yang ternyata sejak tadi di pegang Kean. Mana mungkin ia berdansa, kalau di suruh langkah tegap, baru bisa.
Tidak ingin mendapat penolakan, Kean malah menarik kembali tangan Disa, hingga mendekat padanya. Tubuh Disa tersentak dan nyaris menubruk tubuh Kean. Matanya membulat, masih sangat kaget dengan tarikan tangan Kean yang tiba-tiba.
“Tidak tuan, saya tidak bisa.” Tolak Disa, mendorong tubuh Kean menjauh.
Namun Kean tidak melepaskan genggaman tangannya. “Kamu sudah berjanji menemani saya, maka penuhi janji kamu sampai benar-benar selesai.” Pintar sekali alasan Kean agar Disa tidak menolaknya.
“Tapi, saya,” benar-benar tidak ingin mempermalukan diri sendiri, ia harus menolak permintaan Kean.
“Cukup ikuti gerakan saya, saya akan bergerak perlahan.” Ujar Kean yang lebih terdengar seperti bisikan hangat di telinga Disa.
“Tapi saya akan membuat tuan malu kalau sampai saya jatuh.” Lirih Disa seraya mengigit bibirnya kelu.
Kean tersenyum tipis, dengan tatapan yang tertuju pada kedua manik coklat yang terlihat ragu. “Apa salahnya sekali-kali terlihat memalukan?” Kean menarik tangan kiri Disa untuk ia topang dengan tangannya lalu mentautkan jari mereka yang kemudian ia genggam dengan erat. Tangan kanan Disa ia tempatkan di dada kirinya sementara tangan kirinya melingkar di pinggang Disa.
Jarak yang sangat dekat antara ia dengan Kean membuatnya gelagapan. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, seperti tengah menyelami pikiran masing-masing.
Kean mulai melangkahkan kakinya, di ikuti Disa. Satu dua langkah kaki bergantian mereka lakukan. Ternyata Disa belajar dengan cepat. Entah refleksnya yang bagus mengikuti alunan musik yang terdengar romantis.
“Kamu menyukainya?” bisik Kean yang semakin mendekatkan tubuhnya pada Disa.
Disa hanya terpaku lantas menundukkan kepalanya. Rasanya tidak karuan terus menerus menetap mata Kean yang semakin lama semakin laman.
3 menit berlalu, mereka tenggelam dalam dimensi yang mereka ciptakan sendiri. Seperti hanya ada mereka berdua di tengah-tengah lantai dansa yang luas dengan nyala lampu yang redup. Aroma bunga yang memenuhi ruangan berpadu dengan hembusan angin yang menghantarkan wangi angin yang meniup rambut Disa hingga perlahan ikut berayun.
Tidak terasa adanya orang lain yang ikut menikmati suasana syahdu yang tidak pernah ingin Kean akhiri.
Nafas Kean berhembus pelan dengan tatapan yang tidak pernah ia alihkan dari mata, bibir, hidung dan seluruh wajah Disa. Pipi Disa terlihat memerah, membuat Kean tersenyum tipis dengan jantung yang terasa berdebar sangat kencang.
Rasanya ini adalah waktu paling indah yang pernah ia lewati dari banyaknya malam-malam yang selalu membuatnya merasa sepi dan sendirian.
Lagu berganti dan dansapun berlanjut. Kean sedikit membungkuk dan mengalungkan tangan Disa di lehernya sementara kedua tangannya melingkari pinggang Disa. Kakinya tetap bergerak ke kiri dan kanan seirma musik. Jarak mereka semakin tipis, seperti tengah berbagi udara yang berhembus di antara keduanya. Hangat dan menghangatkan.
Semakin lama, semakin menyenangkan melihat wajah Disa yang merah merona dan nafasnya yang tidak beraturan. Sesekali ia menghela nafas dalam saat rasa gugup hinggap di hatinya, begitupun dengan Kean. Namun lebih dari itu mereka terlihat menikmati masa-masa yang mungkin tidak akan bisa mereka ulang.
*****
Berdiri di depan cermin toilet dengan hela nafas yang coba Disa atur. Ia memandangi wajahnya yang masih memerah bahkan setelah beberapa kali minum air putih. Ia menopang tubuhnya dengan berpegangan pada wastafel, seperti akan tumbang karena terlalu lama menahan nafas saat jaraknya dengan Kean terlalu dekat.
Tanpa ia sadari, hela nafasnya ia coba atur agar tidak merusak suasana yang terlajur tercipta. Bukankah ia tidak menginginkan kedekatan ini? Bukankah ia tahu batasan dirinya denagn Kean? Lantas mengapa tubuhnya tidak bisa menolak?
Mencintai sebuah proses terkadang bisa dengan mudah membawanya tenggelam.
Disa memejamkan matanya namun yang terlihat adalah bayangan wajah Kean yang sangat nyata di pelupuk matanya. Senyumnya, sorot matanya tidak lantas hilang saat Disa menggelengkan kepala untuk mengusir semua perasaan yang terasa membuncah. Apa yang terjadi jantungnya yang berdebar kencang saat ingatan wangi tubuh Kean terasa memanjakan penciumannya.
Nafasnya yang hangat dan bercampur wangi mint, memberi sensasi yang berbeda saat menerpa wajahnya. Apa-apaan ini? Ia benar-benar tenggelam dalam pikiran yang di ciptakan oleh suasana yang terlalu nyaman.
“Disa, jangan berpikir macam-macam. Ini hanya bagian dari tugas kamu untuk menemani tuan muda. Setelah ini, semuanya selesai.” Disa menggumamkan kata-kata itu di kepalanya. Menyadarkan dirinya sendiri dari situasi yang tidak seharusnya masuk ke alam bawah sadarnya. Tapi mengapa bulu kuduknya masih harus meremang saat ia mengingat Kean melingkarkan tangannya di pinggangnya?
“Cukup disa! CUKUP!!!” Membentak otaknya sendiri yang tidak berhenti berfikir. Sekali saja ia ingin otaknya berhenti berfikir dan membiarkan yang terjadi hanya terjadi tanpa memiliki arti.
Setelah menghela nafas dalam beberapa kali, rasanya ia mulai bisa mengendalikan dirinya.
Keluar dari toilet dengan perasaan lebih baik. Ia kembali bisa tersenyum tanpa beban. Di ambilnya segelas orange juice yang di tawarkan pelayan padanya lantas duduk di tempat yang tadi di pilihkan Kean.
Ia mencoba menikmati rasa orange juice di tangannya. Rasa manis dan sedikit asam segar, membuat pikirannya mulai jernih. Dari kejauhan ia melihat Kean yang sedang berbincang dengan beberapa orang, mungkin sama-sama pengusaha. Sikap Kean terlihat lebih ramah di banding biasanya ia berinterkasi dengan orang lain. Entahlah, mungkin perasaannya sedang nyaman.
“Nona paradisa?” sapa seorang pelayan yang menghampiri Disa.
“Iya saya sendiri, ada apa ya?” Disa cukup terkejut saat laki-laki itu memberinya selembar tissue.
“Untuk anda.” Ujarnya yang kemudian pergi setelah Disa menerima tissue itu.
Tissue putih yang terlipat dengan rapi, perlahan Disa membukanya. Ada sebuah tulisan di dalamnya.
“Kamar 9012. Atau orang-orang akan tahu, siapa gadis yang di bawa kean ke pesta ini.” Tulisan tangan yang jelas bernada ancaman ini seketika membuat Disa terpaku.
Ia melihat ke sekelilingnya, berusaha mencari kira-kira siapa yang mengiriminya tulisan ini. Ia melihat laki-laki botak yang tadi di tunjukkan Kean, tapi laki-laki itu sedang asyik bercengkrama dengan seorang wanita muda. Mereka saling melempar tawa. Rasanya tidak mungkin kalau laki-laki itu yang mengiriminya.
Lalu laki-laki muda dengan tampilan rapi dan hobi menelusuri garis tubuh wanita, juga ada di sudut lain. Ia sedang berbicara dengan seorang laki-laki paruh baya, sangat akrab seperti mereka berkenalan baik. Dia pun tidak mungkin.
Lalu Clara? Ah mana mungkin gadis yang sedang bermanja di lengan ayahnya itu mengirimi Disa surat semacam ini.
Pelayan tadi kembali lewat di belakang Disa. Menaruh lagi selembar tissue dan dengan cepat dia pergi.
“Mas!” panggil Disa, tapi laki-laki itu dengan cepat menghilang di antara kerumunan orang-orang. Sial! Disa tidak bisa menanyainya.
“9012. Waktu saya tidak banyak.” Lagi, tulisan bernada ancaman itu di terima Disa.
Sepertinya tidak ada pilihan. Disa meremas tissue itu denagn kesal. Entah siapa yang sedang mempermainkannya. Ia beranjak dari tempatnya, keluar dari aula lalu mencari lift yang bisa mengantarnya ke kamar 9012. Ia harus menemui orang ini sebelum mempermalukan Kean di hadapan banyak orang.
Hah, siapa sebenarnya orang ini?!
****