Marry The Heir

Marry The Heir
Saya tidak mencuri dan kamu tidak menolak



POV Kean:


Aku masih menunggunya di dalam mobil menunggu Disa mengambil barang-barang yang akan ia bawa pulang ke Bandung. Ya, setelah mendapat kabar kalau neneknya jatuh, Disa terus terlihat sedih. Aku juga merasa kalau ia sedang menahan perasaannya agar tidak ia tunjukkan di hadapanku. Katanya sekarang neneknya sudah sadar tapi menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Beliau hanya ingin di rumah dan menunggu Disa. Aku kasihan mendengarnya.


Walau berusaha terlihat baik-baik saja tapi aku tahu, dia tidak benar-benar baik-baik saja. Disa tidak sepandai itu menutupi kepanikannya. Kepanikannya membuat gadis itu beberapa kali lupa akan barang-barang yang seharusnya di bawa. Pertama, ia lupa membawa dompetnya lalu sekarang, ia lupa membawa ponselnya yang katanya malah ia simpan di atas tempat tidur.


Kasian sekali, karena terlalu panik ia jadi gelagapan sendiri.


Dari apa yang aku lihat sekarang, aku mulai mengerti seperti apa hubungan Disa dan neneknya. Saat terjadi sesuatu pada mamah, aku pun mengalami hal yang sama. Tidak jelas apa yang harus aku lakukan dan harus aku sentuh. Sampai akhirnya aku hanya terpaku dengan pikiran kosong. Ia memang tidak banyak bercerita tentang keluarganya mungkin itu bagian privasi yang tidak biasa dia umbar dan aku menghormatinya karena tidak semua orang terbiasa membicarakan tentang keluarganya seperti aku dulu.


Syukurlah ia sudah turun lagi. Ia menunjukkan ponselnya ke arah ku dan berjalan dengan cepat.


“Tenanglah, saya tidak akan meninggalkanmu.” Aku bukakan pintu otomatis agar ia lebih mudah.


“Terima kasih tuan.” Ia terlihat lega walau wajahnya masih terlihat sedih. Duduk di sampingku dan mengenakan seat belt-nya tanpa perlu aku suruh.


“Sudah siap?”


“Ya tuan.”


Terlihat tidak sabaran, aku tahu dia cemas. Aku segera menyalakan mesin mobil sambil tetap memperhatikannya.


Aku perhatikan tas ransel yang ia bawa, tidak terlalu penuh. “Apa barang pentingmu hanya segitu?” aku iseng bertanya. Biasanya orang yang akan pulang kampung bawaannya banyak. Tapi dia sangat sedikit.


“Iya tuan. Seperti yang tuan katakan, bawa barang penting saja. Dan yang terpenting sekarang, saya sampai dengan selamat di rumah agar bisa melihat nenek saya.” lagi wajahnya terlihat sendu walau ia berusaha tersenyum. Aku tidak terlalu suka saat dia tersenyum seperti ini karena aku bisa melihat dengan jelas kesedihan yang dia sembunyikan.


Aku baru tahu kalau seperti itu saat Disa menangis. Ekspresinya tidak berlebih, hanya terdiam lalu air matanya menetes begitu saja. Tapi dari itu aku tahu, kesedihannya yang sangat dalam sampai ia tidak punya tenaga untuk mengekspresikan lebih.


“Tenanglah, kamu akan sampai dengan cepat. Weekday seperti ini jarang orang yang bepergian, jalanan juga pasti lenggang.” Aku sedikit menghiburnya, paling tidak ia bisa merasa lega.


“Iya tuan. Saya sudah memesan kursi ke travel yang biasa saya pakai. Bisa tolong tuan turunkan saya di pool travel ini?” ia sudah mempersiapkan semuanya. Ditunjukkan layar ponselnya kepadaku dan ku lihat pool travel ini tidak terlalu jauh dari rumah.


“Hem.” Aku sahuti ringan dan ia langsung tersenyum. Lega sekali sepertinya.


Kami memulai perjalanan. Walau perjalanan menuju pool tergolong pendek tapi aku lihat dia cukup gelisah. Aku percepat laju mobilku dan ku lihat ia memegangi seat belt dengan erat tanpa protes. Keinginannya sangat kuat untuk segera sampai padahal masih ada setengah jam lagi sebelum mobil travel-nya berangkat.


“Kira-kira jam berapa kamu akan tiba di bandung?” aku bertanya untuk mencairkan suasana. Sejak mendengar neneknya sakit, Disa jadi begitu serius seperti fokusnya hanya sang nenek dan kesedihannya.


“Em, mungkin tengah malam tuan. Lagi pula, ini masih cukup sore.” Dia melihat jam di dashboard, bersamaan dengannku. Jam setengah 8 malam, ya belum terlalu malam.


Aku tahu, resiko naik travel adalah mereka akan mengantar ke jarak terdekat dulu baru jarak terjauh. Kecuali dia memutuskan turun di pool dan mencari kendaraan lain. Kalau jarak penumpang itu yang terjauh, bisa jadi dia di antar terakhir.


Tunggu, kok aku jadi tidak tega membayangkan dia turun di pool malam-malam seorang diri? Apa tidak akan ada yang mengganggunya? Apa dia akan baik-baik saja? Kenapa aku jadi cemas?


“Di depan sana tuan, saya turun di sana saja.” Ia menunjuk pintu masuk menuju pool. Dimana ada beberapa calon penumpang lain yang terduduk di bangku dan mengigil kedinginan.


Aku membayangkan dia duduk di sana, dengan wajah sedih tanpa mengatakan apapun. Aku tidak mau melihat dia seperti itu. Maka, aku memilih mengabaikan permintaannya.


“Tuan, tolong berhenti di sini. Di depan sudah akan masuk pintu tol. Tuan tidak akan bisa putar balik.” Dia panik melihatku yang tidak berhenti.


“Tuan, tolong berhenti! Saya harus pulang!” akhirnya dia kesal.


Matanya menyalak dan tangannya mengepal. Aku menolehnya dan dia menatapku dengan dingin.


“Kenapa anda tidak mendengarkan saya?” Dia marah. Seperti putus asa dan aku masih berfikir sampai akhirnya aku memutuskan,


“Saya yang akan mengantarmu.” Ucapku lirih.


Disa langsung terdiam, menatapku tidak mengerti.


“Bisakah tuan tidak sebaik ini pada saya?” kenapa dia masih marah. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku yang akan mengantarnya?


Aku tidak menimpali. Aku tepikan dulu mobilku agar bisa berbicara baik-baik.


“Saya yang akan mengantarmu, apa masalahnya?” terkadang aku tidak mengerti dengan pikiran Disa. Tinggal bilang ya tapi kenapa susah sekali? Padahal aku berusaha memperingan urusannya.


“Karena tidak seharusnya tuan mengantar saya.” dia menjawab dengan cepat. Masih marah sepertinya.


Tapi kemudian ia seperti tersadar. “Maaf, tidak seharusnya saya berbicara seperti itu.” Menyandarkan bahunya pada jok kemudian menarik nafasnya perlahan seperti tengah menenangkan dirinya sendiri.


“Tuan jangan terlalu baik pada saya karena saya akan kesulitan membalas kebaikan tuan."


"Lagi pula, rumah saya bukan tempat yang bisa tuan datangi. Mungkin tuan akan merasa tidak nyaman. Tidak ada AC, rumahnya kecil, sempit dan kami tidak bisa menjamu anda. Saya,”


“Hey disa!” aku langsung meraih tangannya yang gemetaran. Ternyata saat marah, ia jadi gemetaran dan dingin.


Ia terpaku menatapku, menarik nafasnya dalam seraya menengadahkan kepala seperti menahan air mata.


“Saya mengantarmu, bukan untuk menunjukkan seberapa baiknya saya dan seberapa besar kamu harus membayar kebaikan saya.” Aku mencoba membuat ketegasan dan dia hanya terpaku menatapku dengan ekspresi yang sulit aku mengerti.


“Saya hanya tidak bisa membiarkan seseorang yang penting untuk saya pergi sendirian, melewati masa sulitnya.”


“Saya mungkin tidak banyak membantu di sana tapi saya janji saya tidak akan merepotkan. Saya tidak akan meminta kamu untuk melayani saya seperti saat berada di rumah.”


“Saya tidak akan memanggil-manggil nama kamu dan memaksa kamu harus datang dengan cepat.”


“Saya hanya ingin menemani kamu. Melihat kamu baik-baik saja sampai di sana. Dan itu sudah lebih dari cukup.”


Itu penegasanku. Aku hanya ingin melihat kalau dia baik-baik saja. Aku tidak bisa tidak berada di sisinya sementara ia selalu ada di sisiku di saat aku harus melewati masa tersulitku.


“Jadi kali ini, jangan cemaskan saya. Cukup cemaskan keluargamu, hem.” Aku berusaha kembali meyakinkannya.


Aku melihat tatapannya yang laman dan perlahan ia mengangguk. Satu dua tetes air mata menetes di pipinya dan ia usap dengan kasar, aku semakin tidak tega. Aku usap perlahan sisa air matanya dan ku remas pelan bahunya untuk menguatkannya.


“Menangislah kalau masih mau menangis, jangan di tahan. Tapi jangan lepas seat belt-nya karena kita akan memulai perjalanan kita, hem?”


Dia mengangguk dan berusaha tersenyum. Perasaannya seperti sudah lebih baik dan aku bisa memulai perjalananku. Aku tidak peduli hanya memakai celana selutut dan kaos oblong, yang pasti aku harus tiba di Bandung dengan cepat agar Disa tidak merasakan kecemasan yang bekepanjangan.


“Tuan, bisakah tuan menyalakan pemutar musiknya?” tiba-tiba saja dia bertanya hal random.


“Tentu, lagu apa yang mau kamu dengar.” Lucu juga, saat menangis dia minta backsound. Seperti ABG di film-film drama. Hah, dia memang masih sangat muda dan harus menanggung beban sebesar ini. Kenapa aku malah semakin mengkhawatirkannya?


“Apa saja, yang penting tuan tidak mendengar suara tangisan saya.” jawabannya membuatku bingung.


“Hah? Apa salahnya dengan mendengar kamu menangis? Apa kamu suka mengupat dan teriak-teriak tidak jelas?” aku masih tidak habis pikir. Apa yang dia coba sembunyikan?


“Tidak tuan.” Dia merengek manja, satu hal baru yang aku tahu kalau ternyata ia pun bisa melakukan hal itu. Dia wanita normal yang bisa bermanja dan aku gemas melihatnya. Saat sedihpun dia terlihat lucu.


“Tuan harus fokus menyetir dan mungkin suara tangisan saya mengganggu.” Dia mencoba memberi alasan.


Okey, aku coba mengerti maunya. “Baiklah. Saya putar lagu yang tidak terlalu slow yaa supaya kamu tidak tambah sedih.” Aku turuti saja. Aku anggap saat menangis pun ia memerlukan privasi.


“Terima kasih tuan.” Masih sempat-sempatnya dia berterima kasih.


Kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Hari yang menjelang malam membuat jalanan cukup lenggang. Aku bisa memacu mobilku dengan kecepatan maksimal dan tetap waspada dengan di temani lagu milik Mr Brightside – The Killers. Lagunya yang upbeat membuat adrenalinku meningkat dan fokusku bertambah.


Sementara Disa masih menangis, tanpa ragu. Sepertinya musik memang bisa membantunya menyamarkan suara tangisnya. Sesekali aku melihatnya sesegukan, tidak tega juga. Aku tahu dia pasti sangat sedih. Tapi aku yakin, dia bisa melewati masa ini, karena dia wanita yang kuat.


******


Kean kembali menyetel ulang aplikasi map nya. Sudah dua kali di setel ulang tapi sepertinya masih menunjukkan arah yang salah. Dimana rumah Disa, kenapa begitu sulit menemukannya.


Di liriknya lagi gadis cantik yang terlelap. Rasanya tidak tega untuk membangunkannya. Hampir sepanjang perjalanan Disa menangis, beberapa lembar tissue ia habiskan dan wajahnya masih sembab dengan hidung kemerahan. Sekarang dia tertidur entah sejak kapan dan Kean hanya bisa memandanginya.


Mobil Kean kembali melaju, kali ini dengan kecepatan pelan. 2 kilo meter kemudian yang ia temukan adalah sebuah hotel berbintang. Daripada kebingungan, akhirnya ia memutuskan turun dan bertanya pada seorang supir taksi yang sedang mangkal di depan hotel. Entah baru menurunkan penumpang atau baru akan menjemput, yang jelas malam sudah cukup larut.


“Malem pak. Sorry mau nanya,”


Laki-laki yang sedang meneguk kopi panas itu pun segera menoleh. “Iya gimana mas?”


“Tau alamat ini gak?” menunjukkan sebuah alamat yang di kirimkan Kinar padanya.


“Oh, ini sih bentar lagi. Mas maju sekitar 500 meter, terus nanti belok kanan, nyebrang jembatan kecil gitu. Tapi kayaknya mobil mas gak bisa lewat deh. Jalannya gak terlalu bagus. Mending di titip di kantor kelurahan aja mobilnya.” Laki-laki itu memperhatikan mobil Kean yang diyakini tidak akan bisa melewati jalan.


“Em, dari kelurahan masih jauh lagi gak?” yang di pikirkan Kean bukan bagaimana mobilnya tapi bagaimana ia dan Disa menuju rumahnya.


“Ya paling 300 meteran lah, jalan kaki juga bisa. Suka ada ojek yang manggal sih. Tapi kalo semalem ini, saya gak yakin juga.” Kali ini laki-laki di hadapan Kean memperhatikannya. Ia yakin Kean bukan orang sembarangan.


“Oh ya udah, makasih ya pak.”


“Iya sama-sama. Mas tenang aja. Orang bandung mah balalageur, gak usah khawatir kalo mobilnya di titip di kantor kelurahan. Di jamin aman. Paling di ajak foto-foto doang.” Laki-laki itu terkekeh sendiri.


“Iya pak, makasih ya. Saya permisi.”


Kembali ke dalam mobil dan Disa masih terlelap. Kean mengenakan lagi sabuk pengamannya dan melajukan mobil menuju arah yang di tunjukan supir taksi tadi. Menyebrangi jalan dan tidak jauh dari tempatnya ia melihat sebuah bangunan kelurahan yang dihiasi lampu kerlap kerlip. Beberapa bangunan di sampingnya menampilkan dinding yang di penuhi mural. Sepertinya memang benar Disa berasal dari tempat ini.


Setelah menghentikan mobilnya, Kean memandangi lagi Disa yang masih terlelap. Kepalanya sedari tadi miring ke sebelah kanan. Pasti sangat pegal. Serba salah, kalau di bangunkan Kean tidak tega tapi kalau tidak di bangunkan mungkin Disa ingin segera bertemu dengan keluarganya.


Akhirnya setelah puas memandangi wajah Disa, Kean membangunkannya.


“Sa,,, saa, disa..” ia menepuk bahu Disa perlahan tapi gadis itu masih belum membuka matanya.


Kean mendekatkan tubuhnya, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah Disa. Kembali ia pandangi wajah polos yang terlihat cantik saat sedang tidur. Bibirnya yang sedikit terbuka membuat Kean tersenyum sendiri.


“Sa, bangun..” ini panggilan paling lembut yang bisa ia lakukan. Di usapnya pipi Disa yang ternyata dingin. Mungkin karena sepanjang perjalanan mereka memakai AC.


Disa tidak bergeming, membuat Kean semakin mendekat. Tangannya tergerak untuk terus mengusap pipi dan baru terhenti saat hampir menyentuh bibirnya. Bibir yang mulai menjadi fokus baru Kean saat menatap Disa.


“Fiuh!” Kean membuang nafasnya kasar seraya menjauh dari Disa. Gejolak perasaan yang asing dan pikiran aneh karena rasa ketertarikan terhadap seorang wanita kembali muncul. Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan melihat ke sekelilingnya dan sepi, tidak ada siapapun. Lagi, Kean memandangi Disa. Antara gemas, penasaran dan tidak ada bosan melihat wajah ini.


“Hey, bangunlah.” Bisiknya yang semakin mendekat. Ia mengusap lagi pipi Disa beberapa kali hingga gadis itu mengerjapkan matanya pelan seperti ruhnya baru masuk ke dalam tubuhnya.


“Tuan,” lirihnya antara sadar dan tidak sadar.


“Iya saya. Kita udah nyampe. Kamu mau turun sekarang?” mencoba menyadarkan Disa dengan sangat hati-hati agar kepalanya tidak pusing.


Gadis itu mengangguk dan menunjukkan puppy eyes-nya. Kenapa lucu sekali padahal baru bangun tidur. Ekspresi Disa membuat sesuatu yang ia tahan sedari tadi, terasa mendorongnya untuk mendekat pada Disa. Sepasang bibir itu kenapa begitu menggodanya?


“Masih ngantuk?” di usapnya lagi rambut Disa dengan lembut.


Disa hanya menggerakkan kelopak matanya, menutup lalu membuka. Ternyata belum sadar benar. Kean hanya tersenyum dan semakin mendekat pada Disa.


Di raihnya tengkuk Disa mendekat ke wajahnya hingga beberapa saat kemudian ia memberikan sebuah kecupan hangat di bibir Disa. Katanya, putri tidur harus di bangunkan dengan sebuah ciuman. Kita lihat, apa berhasil?


Mata Disa terbuka dengan cepat. Mengerjap beberapa kali dan tubuhnya menegang begitu saja. Pikirannya kosong dan rasanya ia tidak bisa menolak apa yang tuan mudanya lakukan.


“Apa ini?” batin Disa saat ia merasakan gigitan lembut Kean. Untuk beberapa saat ia terpaku, berusaha mengumpulkan kesadarannya sampai benar-benar lengkap.


Kean melepaskan sejenak kecupannya, menatap Disa dengan hangat. Setelah mencium Disa, kenapa perasaannya semakin bergemuruh? Dan lihat, lucu sekali wajahnya yang memerah dan tegang.


“Sudah cukup sadar?” bisik Kean, menggoda.


“Su-sudah tuan.” Disa segera memalingkan wajahnya. Ia menutupi wajahnya dengan tangan kiri berusaha menghindar dari tatapan Kean sementara bibirnya ia gigit kuat-kuat.


“Awh!” dengusnya pelan. Ternyata saat di gigit sendiri rasanya lebih sakit. Tapi kesadarannya langsung penuh.


Kean ikut tersenyum melihat tingkah Disa. Gadis itu membuka ikatan rambutnya untuk menutupi wajahnya. Rupanya ia salah tingkah.


“Mau turun sekarang?” tawar Kean yang berusaha terlihat santai, tidak ingin membuat Disa merasa terbebani.


“Iya tuan.” Langsung mendorong pintu yang masih di kunci Kean. “Tuaan..” ia merengek dengan menggemaskan saat ternyata tuan mudanya memainkan kunci otomatis mobilnya.


“Okey, kita turun.” Kasian juga kalau terus di kerjai.


Disa turun lebih dulu dan berjalan dengan cepat. Entah ia memang ingin segera sampai atau hanya untuk menghindar dari Kean. Kean masih memperhatikan dari dalam mobil dengan senyum tertahan. Ia mengusap dadanya yang semakin lama semakin bergemuruh. Kenapa Disa mulai membuatnya tidak tenang? Ada gairah yang selalu muncul saat mereka berdekatan. Apakah ini normal? Sungguh ia tidak ingin terlihat mesum tapi perasaannya begitu sulit di tahan. Apa karena ini untuk pertama kalinya ia jatuh cinta?


Memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan cepat menyusul Disa. “Hey, ikat rambutmu. Orang-orang akan takut melihatmu datang dengan tampilan seperti itu.” Seru Kean.


Disa hanya menoleh dan mengabaikan Kean.


“Kamu marah?” Kean mempercepat langkahnya untuk menyusul Disa hingga mereka berjalan sejajar.


Disa tidak menjawab, masih mengigiti bibirnya dengan kelu.


“Saya minta maaf.” Kean berjalan mendahului Disa dan berdiri di hadapan gadis itu. Disa segera memalingkan wajahnya, tidak mau menatap kean.


“Disa, saya benar-benar minta maaf. Saya tau saya lancang. Tapi,” ia tidak punya alasan. Masa harus bilang kalau Disa menggodanya daan ia tidak bisa menahannya.


“Kenapa tuan mengikuti saya? Sebaiknya tuan menginap di hotel. Rumah saya tidak layak untuk tuan.” Terdengar sedikit ketus, rupanya benar-benar kesal.


“Apa seperti ini cara kamu berterima kasih pada orang yang mengantarmu? Kamu bahkan belum menawari minum, padahal saya sangat haus.” Baru kali ini Kean berakting untuk membujuk seorang gadis. Lumayan juga.


“Apa seperti tadi cara tuan mengambil balas jasa dari saya?” wah benar-benar marah sepertinya.


“Eh tunggu, bukan seperti itu disa. Saya,” tuh kan tidak ada alasan lagi, megap-megap tidak jelas.


Disa seperti tidak mau mendengar. Ia melewati Kean yang menghadangnya. Antara malu dan kesal dengan tingkah tuan mudanya tadi. “Tuan sudah mengambil balas jasa sendiri, jadi saya hanya akan menawari minum. Setelah itu kita impas.” Langkahnya tergesa-gesa.


“Kenapa di sebut impas? Saya tidak mencuri dan kamu juga tidak menolak.” Masih tidak mau kalah. Ternyata seperti ini berdebat dengan Disa, kukuh.


“Iisshh tuan! Jangan di bahas lagi!” mata Disa menyalak karena kesal tapi bagi Kean ini sangat menghibur.


“Okey, saya diam. Tapi sampai rumah buat kan saya teh.” Kean mencoba bernegosiasi.


“Tuan kan sudah berjanji untuk tidak merepotkan saya.”


“Memangnya itu merepotkan?”


“Issh ! tau akh!” akhirnya Disa berlari meninggalkan Kean.


Dan Kean hanya terkekeh di tempatnya dengan rasa gemas. Paling tidak, ia tidak hanya melihat ekspresi sedih Disa yang membuatnya tersiksa. Ada ekspresi lucu juga yang bisa membuatnya merasa lebih tenang.


Langkah Kean di buat cepat menyusul Disa. Ia tidak bisa di tinggalkan sendiri di tengah-tengah gelap seperti ini. Dan baru sadar kalau ternyata jalan setapak ini hanya diterangi nyala lampu jalan yang di topang bamboo melengkung. Tradisional sekali dan sedikit berbahaya.


"Sa, disa tunggu!" seru Kean.


"Tumben dia tidak jawab, "Ya saya!"


*****