
Senin yang penat, tergambar jelas di wajah Reza. Banyak pekerjaan yang menunggunya sejak pagi menjelang hingga siang hari. Saat ini, ia masih berdiskusi dengan pengacara yang di sewanya untuk menghadapi tuntutan Darwin. Tuduhan perselingkuhan menjadi point yang di tujukan pada Reza dan Ellen.
Di ruang tunggu Ellen masih menunggu dengan resah. Ia memperhatikan ekspresi Reza yang serius bercampur kesal saat berbicara dengan pengacaranya. Berjalan mondar-mandir sambil mengigiti telunjuknya di lakukan Ellen untuk mengusir rasa tegangnya. Terang saja kalau Reza merasa kesal. Tuduhan ini tidak hanya berbuntut hukum tapi membuat penilaian orang-orang terhadap citra Reza menjadi buruk.
Orang-orang mulai menggunjingkan dirinya dan Reza. Bahkan mulai ada group virtual dosen yang tanpa ia dan Reza. Terdengar kekanak-kanakan tapi di era sekarang hal seperti itu sangat lumrah terjadi.
Kali ini, rasa bersalah terhadap Reza terus berkecambuk di dadanya saat menyadari bahwa posisi sulit Reza saat ini karena dirinya. Mulai dari ancaman yang di tujukan Darwin padanya juga Reza, teror pesan-pesan akan menyebarkan foto Ellen jaman dulu hingga sebuah tuntutan yang dengan berani di layangkan Darwin pada Reza.
Ada apa dengan lelaki itu? Setelah perselingkuhan mereka di ketahui oleh istrinya, sikap Darwin langsung berubah 180 derajat. Darwin yang lembut, pelukannya yang hangat dan semua kebaikannya dulu berganti malapetaka untuk Ellen dan putrinya. Ellen memang tidak bisa di bandingkan dengan istri Darwin yang merupakan putri dari salah satu konglomerat di negara ini, namun mengapa harus sepelik ini akhir cerita yang akan mereka buat?
Benarkah ini ulah Darwin ataukah pembalasan dendam dari istrinya yang merasa terkhianati?
Mengapa sesulit ini masalah yang ia hadapi sekarang?
Katakan saja ia memang telah salah menjadi selingkuhan Darwin walau ia tidak tahu kalau Darwin telah berkeluarga. Tapi bukankah perselingkuhan itu dilakukan oleh dua orang? Tidak hanya dirinya saja?
“Tolong kabari saya secepatnya. Saya tidak mau masalah ini berlarut-larut.” Reza menjabat tangan pengacaranya sesaat setelah permintaan itu ia ucapkan.
Mereka keluar dari ruangan pengacara dan menjeda lamunan Ellen.
“Pasti pak reza. Saya akan mengabari secepatnya."” laki-laki itu balas menjabat tangan Reza dengan erat seolah tengah memberi kepastian.
“Gimana za?” Ellen dengan segera menghampiri setelah pengacara itu pergi. Ia masih belum mengerti sepenuhnya butir pembelaan yang di bahas oleh Reza dan pengacaranya.
Reza menggeleng. Ia menatap Ellen untuk beberapa saat kemudian memalingkan wajahnya seraya membuang nafas kasar. Seperti membuang beban yang selama ini bertumpuk di bahunya.
“Seperti yang aku duga, ini akan sulit.” Aku Reza. Ia terduduk di kursi tunggu seraya menangkup wajahnya kemudian meramas rambutnya kasar. Kepalanya terasa berdenyut pusing. Entah mengapa semua masalah datang secara bersamaan.
Dekan kampusnya terus menghubungi, agar Reza segera menyelesaikan masalahnya. Sebenarnya tidak masalah kalau Reza harus mengundurkan diri dari kampus hanya saja, ia tidak ingin pergi dengan meninggalkan citra buruk di tempat kerjanya. Bagaimana pun ia seorang dosen. Ia tidak hanya memiliki kewajiban untuk menyampaikan ilmu pada mahasiswanya tapi perlu menunjukkan sikap yang baik sebagai teladan bagi mahasiswanya.
“Maaf kalau aku bikin kamu jadi susah. Tidak seharusnya kamu memiliki masalah ini walau kita saling mengenal.” Ellen tertunduk lesu dengan rasa bersalahnya.
Anggapan awal ia bisa berteman dan percaya pada orang lain ternyata malah menimbulkan masalah.
“Yah, mau gimana lagi. Nasi udah jadi bubur udah gak ada yang bisa di perbaiki.” Wajah Reza mulai terlihat kesal.
Jika di awal mendapat masalah ini ia terlihat biasa saja, tapi belakangan ini rupanya masalah ini mulai mempengaruhi pikirannya.
Banyak hal yang ia rasa menjadi akibat dari kedekatannya dengan Ellen. Mulai dari tuntutan Darwin, kemarahan Nita dan tentu saja yang baru terpikirkan sekarang adalah penolakan Disa.
Benar yang Kean katakan, ia terlalu banyak mengurus masalah orang lain hingga akhirnya ia sendiri terjebak dan kehilangan seseorang yang saat itu seharusnya menjadi prioritasnya. Menyesal, ya ia sangat menyesal. Ia terlalu percaya diri dengan sikap Disa yang ramah dan ketertarikan Disa terhadapnya.
Tanpa ia sadari, keterarikan di awal bisa mudah hilang kalau tidak di pupuk. Ia sering meninggalkan Disa untuk urusannya dengan Ellen. Jika kali ini perasaan Disa berbalik, maka tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.
“Za, aku bener-bener minta maaf. Aku,”
“Udah len, cukup!” tiba-tiba saja Reza berbicara dengan suara tinggi membuat Ellen langsung terdiam.
Tatapan Reza berganti kemarahan dan kekecewaan, tidak seteduh biasanya. Sangat menyakitkan bagi Ellen.
“Mungkin seharusnya sejak awal kita membuat batasan yang jelas untuk hubungan kita.” Tegas Reza kemudian.
Ia memalingkan wajahnya dari Ellen yang mulai berkaca-kaca. Ellen sadar ini kesalahannya karena terlalu banyak merepotkan Reza untuk segala masalahnya.
“Aku,..” Ellen terlihat gemetaran. Satu tetes air matanya menetes sudah. Rasa sesak di dadanya kembali bertambah. Bekas luka yang di tinggalkan Darwin, mulai mengering seiring kehadiran reza di hidupnya. Melihat sikap Reza saat ini, seperti ada luka baru yang terasa lebih menyakitkan.
Mungkin benar yang di katakan Nita beberapa waktu lalu kalau kehadiran Ellen hanya akan menjadi masalah untuk Reza. Dan kali ini Reza pun mulai menyadarinya. Karena Ellen, Reza melewatkan banyak hal dan Ellen tidak seharusnya muncul dalam hidup Reza.
“Aku akan menyelesaikan masalahku. Aku akan berusaha untuk tidak merepotkan kamu lagi.” Suara Ellen terdengar parau.
Sejak awal, tidak seharusnya ia masuk ke dalam hidup Reza. Menjadikan laki-laki itu seolah pelindung untuk rasa takutnya menghadapi Darwin dan menempatkannya dalam bahaya.
Reza beranjak dari tempatnya. Termangu untuk beberapa saat. “Ya, sebaiknya kita selesaikan urusan kita masing-masing.” Sahutnya.
Ia melirik Ellen sejenak. Wanita itu menangis walau berusaha ia tutupi dengan menundukkan kepalanya. Tapi tetesan air matanya berjatuhan di atas tangannya yang saling mencengkram.
Di satu sisi ia merasa kasihan pada Ellen tapi di sisi lain, ia menyadari kalau masalah ini tidak seharusnya ia hadapi. Andai saja ia tidak memutuskan untuk mendekat pada Ellen.
Kali ini, ia butuh waktu untuk mencerna masalahnya.
“Aku pergi,” mungkin ini yang terbaik.
Ellen hanya terangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.
Terdengar langkah kaki Reza yang pergi meninggalkannya. Semakin lama semakin jauh. Setelah beberapa saat Ellen baru berani mengangkat wajahnya. Memandangi bahu Reza yang semakin samar dalam pandangannya dan terhapus oleh air mata yang menghalangi pandanannya.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Ia mulai tersedu dengan air mata yang menetes semakin rapat. Ia menangis sendirian seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Pada akhirnya, siapapun akan pergi dari sisinya. Dan pada akhirnya, ia hanya akan selalu sendirian.
******
Di tempat lain, seseorang menutup hari seninnya dengan indah. Berkas yang bertumpuk di atas meja satu per satu selesai ia periksa. Rapat-rapat penting pun ia hadiri dengan lancar hingga tanpa terasa seninnya sudah berujung di senja.
Satu berkas terakhir ia tutup dengan senyum lebar yang kerap terkembang dari bibir Kean. Melihat jam yang melingkar di tangannya, satu jam lagi ia bisa pulang dan pekerjaannya sudah selesai seluruhnya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia buat berputar searah jarum jam. Hatinya tengah merasa bahagia saat mengingat hari-hari yang ia lewati bersama Disa.
Ia menyalakan ponselnya, memandangi wallpaper mural buatan Disa. Lantas ia membuka galeri ponselnya dan tampaklah beberapa foto Disa yang ia ambil dari rekaman CCTV.
Senyumnya kembali mengembang saat melihat satu per satu ekspresi wajah Disa yang ia capture. Disa yang ia kenal, saat di hadapannya, ia menjadi seorang wanita yang tenang, memperlakukannya dengan rasa hormat.
Tapi belakangan, Disa seolah tidak ragu untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Gadis yang riang dengan tawanya yang renyah dan sedikit banyak bicara. Tingkah Disa ini lah yang perlahan masuk ke hatinya dan menempati satu sudut yang terasa istimewa. Sudut hati yang selama ini kosong telah benar-benar di isi oleh Disa, membuat perasaannya hangat dan tidak lagi sepi.
Hah, rasanya ia ingin segera pulang. Tidak ingin menunggu lagi untuk bertemu dengan gadis yang kerap membuat jantungnya berdebar kencang.
Beranjak dari tempatnya, ia mengambil jasnya yang tersampir lantas memakainya. Kunci mobil segera ia sambar dan melangkah panjang meninggalkan ruang kerjanya. Ia ingin segera tiba di rumah.
“Anda akan pulang sekarang tuan?” sambut Roy yang menunggunya di meja sekretaris. Ia cukup terkejut melihat tuan mudanya sudah rapi sesore ini.
“Hem. Tidak perlu mengantar, saya akan pulang sendiri.” Sangat percaya diri dengan aura wajah bahagia.
“Baik tuan. Hati-hati di jalan.”
“Ya! Kamu juga pulanglah. Masih ada hari esok untuk melaanjutkan pekerjaan.”
Tumben sekali tuannya begitu baik. Biasanya ia akan memaksa setiap pekerjaan selesai di hari itu. Jatuh cinta memang selalu membuat hati setiap orang melunak tidak terkecuali seorang Kean.
Meninggalkan perusahaan dengan rasa tenang karena tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Belajar untuk membagi fokus, seperti yang Disa katakan. Kantor tempat bekerja dan rumah adalah tempat beristirahat. Jangan membawa pekerjaan ke rumah yang akan membuat pikirannya tidak tenang.
Ya, itu yang Kean coba lakukan sekarang. Ipad yang biasanya berisi pekerjaan ia matikan begitu pun dengan laptop. Ia tidak ingin mengingat apapun tentang pekerjaan saat di rumah nanti.
Seperti sudah sangat terbiasa, Disa begitu mengenali suara mesin yang menderu kemudian berhenti di halaman rumah. Ia segera mencuci tangan, sangat yakin kalau yang datang adalah tuan mudanya.
“Bingo!” tebakannya benar. Baru Kean akan membuka pintu, Disa sudah menyambut lebih dulu.
“Selamat sore tuan? Bagaimana hari anda di senin ini?” segera meraih tas tangan milik Kean dengan senyumnya yang manis.
Kean membalas senyuman itu. “I like monday as much as i like you!” bisiknya seraya mencondongkan tubuhnya pada Disa. Lebih dari sekedar penegasan kalau hari seninnya sangat menyenangkan. Wajahnya begitu cerah, seolah semua beban pekerjaan yang menguras otaknya tidak meninggalkan rasa lelah.
“Syukurlah.” Menarik tubuhnya dari Kean, ia perlu ruang untuk bernafas bebas.
“Em, saya sedang menyiapkan makan malam. Sekitar setengah jam lagi makanannya siap. Tuan akan mandi sekarang?”
“Tentu!” Kean meraih tangan Disa, mencoba menggenggamnya. Disa menoleh tangannya yang bersentuhan dengan Kean, lantas ia tersenyum.
Seperti mendapat persetujuan dari Disa, tanpa sungkan Kean pun menggenggam tangan Disa. Rasanya sangat hangat dan menggetarkan. Memberikan aliran listrik yang merambat melalui pemuluh darahnya dan mendegupkan jantungnya lebih cepat.
Mereka berjalan menuju kamar Kean dengan langkah ringan.
“Saya siapkan dulu air mandinya.” Berusaha melepaskan tangan Kean yang mencengkramnya kuat.
“Apa harus sekarang?” masih enggan melepaskan tangan Disa.
Terlalu sayang kalau harus melewatkan satu detik saja waktu mereka. Ia menarik tangan Disa hingga mendekat padanya.
“Tentu. Kalau terlalu sore, tuan bisa masuk angin.” Sedikit mendorong tubuh Kean agar tidak terlalu dekat. Terlalu kuat debarannya, Disa memerlukan sedikit ruang.
Kean hanya tersenyum seraya melepaskan genggaman tangannya. Ia memperhatikan kemana arah gerak Disa yang salah tingkah.
Di tepi tempat tidurnya ia terduduk. Melonggarkan dari, melepas jas dan sepatu. Sementara Disa menyiapkan air mandi untuknya.
“Nyonya besar mengabari, kalau beliau masih akan menginap sekitar 2 malam lagi tuan. Katanya temannya yang dari Malaysia juga datang.” suara Disa terdengar lantang dari kamar mandi.
“Beliau juga bercerita kalau semalam nyonya dan bu nita memesan pizza dan nyonya bisa menelannya dengan sempurna. Tanpa rasa sakit di tenggorokan.”
Ia masih mengingat bagaimana nyonya besarnya begitu antusias menceritakan pengalamannya bersama Nita.
“Baguslah. Itu baik untuk kesehatan mental mamah. Oh iya, apa mamah minum obatnya dengan teratur?”
Bertanya sekedar untuk mendengar cerita Disa karena sebenarnya Arini pun menceritakan hal yang sama pada Kean.
“Iya tuan, tidak ada obat yang terlewat. Nyonya juga mengatakan kalau bu nita membantu nyonya untuk belajar berjalan. Nyonya mengirimkan videonya pada saya.”
“Wah sepertinya mamah sangat menikmati harinya. Bagaimana hari seninmu?” Kean menghampiri Disa dan berdiri di mulut pintu kamar mandi.
“Ba-ik, tuan.”
Wajahnya berubah tegang. Ia segera mengalihkan pandangannya karena saat ia menoleh ternyata tuan mudanya hanya mengenakan celana pendek selutut dan bertelanjang dada.
Astaga, matanya melihat lagi keindahan tubuh tuan mudanya, dosa sekali. Disa bergumam tidak jelas, mungkin beristigfar.
Kean hanya tersenyum melihat tingkah Disa. Sangat lucu menurutnya.
“Masih mau menceritakannya? Waktu saya luang.” Goda Kean yang berjalan masuk ke kamar mandi dan mendekat pada Disa.
Lihat wajahnya yang langsung memerah dan tertunduk menghindari kontak mata dengan Kean.
“Nanti saja tuan. Silakan tuan mandi dulu.” cepat-cepat ia keluar dari kamar mandi dan membiarkan tuan mudanya menikmati waktunya.
“Kamar mandi ini cukup luas kalau kamu mau sambil bercerita di dalam.” Panggil Kean dengan kekehan yang ia coba redam. Gemas sekali menggoda Disa.
“Tidak tuan. Saya permisi, ada pekerjaan yang menunggu saya.” serunya seraya berlari keluar dari kamar Kean dan berdiam diri di dapur.
“Astaga, apa yang baru saja aku lihat?” masih terengah sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. Bayangan tubuh Kean yang melintas di pikirannya membuat Disa menggelengkan kepalanya mengusir pikiran yang tidak-tidak itu.
Ia harus memfokuskan diri, berhenti memikirkan hal-hal seperti itu seperti sebelumnya. Dulu pun ia pernah melihat tubuh atas tuan mudanya tanpa sehelai benang pun dan otaknya masih berjalan normal. Tapi kali ini, Disa harus menghela nafas beberapa kali untuk mengusir bayangan Kean dari pikirannya.
Ada apa dengan otaknya? Apa sedikit bergeser?
Disa mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan wajah bingung.
*****