Marry The Heir

Marry The Heir
One step closer



“One step closer.” Bisik Mila saat giliran James yang menandatangani kontrak kerjasama produksi baju yang Disa desain.


Disa hanya tersenyum tipis. Selama beberapa saat jantungnya berdebar kencang dengan rasa syukur yang terus ia ucapkan dalam hatinya.


Hingga saat ini, Ia masih tidak percaya kalau ia benar-benar sampai di tahap ini. Dimana baju yang ia desain akan di produksi secara besar-besaran memenuhi permintaan konsumen yang sudah bersedia menunggu dengan mengikuti pre order.


“Alhamdulillah..” gumam Disa yang masih bisa di dengar Mila dan membuat wanita bertubuh tambun itu ikut tersenyum senang.


Tanda tangan sudah di bubuhkan, pena pun di taruh di tempatnya. James mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Disa, “Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik.” Ujarnya.


“Terima kasih. Saya pun mengharapkan hal yang sama.” Disa membalas jabatan tangan James beberapa saat.


Hanya beberapa detik tangan mereka bertemu dan Disa segera melepaskannya. Ia sadar, suaminya memperhatikannya. Jangan sampai taring dan tanduknya keburu muncul.


“Terima kasih tuan Kean, atas kepercayaan anda memilih kami sebagai partner dari butik nona paradisa.” Berganti James mengulurkan tangannya pada Kean.


“Tentu. Saya berharap kita bisa menjalin kerja sama yang professional dan dalam jangka waktu yang panjang.” Menegaskan satu kata di tengah kalimatnya. Ia masih tidak suka melihat cara James yang tersenyum dan menatap Disa seperti tengah terpesona pada istrinya. Maka kata profesional itu menjadi sindiran yang ia berikan pada James.


“I hope so. Well, bisakah saya mendapat kesempatan untuk mengundang anda berdua makan malam?” tawar James mencoba ramah.


“Dengan senang hati. Anda bisa menyampaikan kapan waktunya pada assistant kami, kami bersedia hadir.” Melirik Roy yang berdiri di belakangnya.


James tersenyum lebar, dengan sedikit kecewa. Ternyata Kean memang benar-benar memisahkan hubungan professional dengan kehidupan pribadi. Benar yang dikatakan orang kepercayaannya kalau Kean adalah orang yang tertutup tentang masalah pribadinya. Seperti hal ini adalah suatu kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun oleh keluarga Hardjoyo.


“Baik, saya akan menginformasikannya kemudian. Terima kasih.” Tegas James.


“Oh iya, besok kami akan mulai produksi. Apabila berkenan, nona paradisa bisa datang ke pabrik untuk melihat proses produksi kami.” Pandangannya beralih pada Disa.


“Tentu, akan saya sempatkan untuk mampir ke pabrik. Saya dan suami saya juga sangat penasaran dengan proses produksinya.” Jawaban Disa terdengar diplomatis dan mematahkan harapan James untuk bertemu secara pribadi dengan Disa.


Kean mengangguk sepakat. Ia menghampiri Disa, sengaja melingkarkan satu tangannya di pinggang Disa. Seperti ingin menegaskan kalau wanita ini adalah miliknya.


“Kami pasti akan mampir. Namun untuk sekarang, kami harus permisi lebih dulu. Anda bisa menghubungi assistant kami apabila ada hal penting lainnya.” Timpal Kean.


James terangguk paham.


Merasa telah selesai dengan urusannya, Kean dan Disa pun pergi, meninggalkan James yang masih terpaku memandangi punggung pasangan suami istri yang berjalan menjauh sambil bergandengan tangan. Bibirnya mengulum senyum mengingat bagaimana Kean membuatnya tidak punya kesempatan untuk mendekat pada istrinya yang begitu menarik menurutnya.


Ya, mungkin ia memang tidak perlu memikirkan cara lebih lanjut untuk mendekat pada Disa karena yang akan ia hadapi kemudian adalah seorang Hardjoyo.


Menuju butik dengan mobil terpisah. Kean mengajak Disa naik mobilnya, sementara kedua assistant dengan mobil yang berbeda.


“Kamu seneng banget sayang..” Kean memperhatikan istrinya yang tidak berhenti tersenyum, terlihat sangat bahagia.


“Banget a. Ini tuh like dream come true. No, aku bahkan gak pernah bermimpi sedikitpun ada di tahap ini.” Ungkap Disa dengan mata berbinar-binar.


“Makasih banyak ya, aa udah ngasih kepercayaan sebesar ini sama aku. Aku bener-bener gak tau harus mengungkapannya seperti apa.” Lanjut Disa sekali lalu mengecupi satu tangan suaminya yang ia genggam dengan erat.


“Sama-sama sayang. Aku cukup terkejut karena kamu belajar dengan sangat cepat. Dan semangat kamu yang menyala-nyala ini membuat aku percaya kalau kamu memang layak berada pada posisi sekarang. Wow! you're so amazing.” Kean balas memuji.


Ia masih mengingat bagaimana usaha keras Disa untuk memahami isi kontrak yang ia buat dengan rekanannya. Cara bernegosiasi dan cara berbicara dengan tegas di hadapan rekan bisnisnya. Dan Kean adalah guru yang baik. Ia tidak pelit ilmu untuk mengajari istrinya cara berbisnis. Walau prosesnya di lalui dengan banyak berpikir keras dan serius namun jujur, keadaan seperti ini semakin mendekatkan keduanya.


Ternyata dua orang yang saling mencintai tidak hanya bisa bekerja sama dalam kehidupan keluarganya melainkan juga dalam hal bisnis.


Kean mengajak Disa untuk tos dan Disa dengan senang hati membalasnya. Euphoria itu berujung pada Disa yang kemudian terdiam di tempatnya sambil memandangi jalanan ramai di depannya. Kean mengusap kepala istrinya dengan lembut, sedikit mengacak rambutnya dengan gemas membuat Disa terkekeh.


Disa menarik satu tangan Kean, menggenggam lalu mendekapnya. “Aku pegangin satu tangan aa kayak gini, gak ganggu aa nyetir kan?” tanya Disa, menatap sejenak wajah tampan suaminya yang terlihat berseri.


“Nggak lah. Sambil ngelakuin hal lain juga bisa.” Membalik tangannya dan meremas sesuatu yang membuat Disa menahan tangannya kuat-kuat.


“Ish! Aa iseng banget sih!” protes Disa.


“Habis kamu mancing banget, sengaja naro tangan aku di perut kamu gini. Ini kan banyak daerah yang bisa aku jangkau.” Balas Kean yang ikut tertawa. Menoleh beberapa saat untuk melihat wajah istrinya yang merona.


“Kan maksudnya pengen pegangan tangan terus sama aa. Tangan loh ya, bukan yang lain!” Disa menegaskan dengan matanya yang membulat.


“Hahahaha… Iya-iyaa… Tapi nanti malam boleh pegang yang lain kan?” goda Kean.


“Tumben minta izin. Biasanya juga langsung grap, aja.”


“Ya ini kan tubuh kamu, kamu berhak untuk menolak kalo kamu gak nyaman. Lagi pula, sebenarnya aku selalu minta izin loh. Kamunya aja yang gak nyadar.” Tuan muda ini mulai tidak mau kalah.


“Hem, minta izin? Kapan? Perasaan aku gak pernah denger aa minta izin dulu deh.”


“Kamu suka amnesia gitu. Kalo aku udah nyium sana sini, itu artinya minta izin. Nah kalo muka kamu udah mulai merah-merah gemesin gimana gitu, berarti kamu udah ngasih izin. Itu namanya intimate language. Gak perlu dikatakan tapi kita saling paham.” Bisa saja Kean beralasan.


“Aku kok baru denger ya intimate language? Kalo love language sih aku pernah denger.” Disa mulai berpikir keras.


“Masa sih? Coba buka lagi kamusnya. Kelewat baca kali.” Jadi gemas melihat Disa yang serius memikirkan candaannya. Sepertinya keisengannya berhasil.


“Emang iya ya?” Disa kembali bertanya.


Kean mengangguk-angguk yakin dengan pandangan yang fokus ke depan dan sesekali melirik Disa. Ada kesenangan tersendiri saat ia berhasil mengerjai Disa.


“Ngomong-ngomong a, kita belum lapor sama papah kalo kerjasama kita udah deal.” Disa jadi teringat pada janjinya untuk mengabari Sigit tentang proses kerjasama ini. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mencari nama Sigit.


“Udah, nanti aja sayang. Lagian papah juga udah yakin kok kalo kita bakal dapet rekanan yang bagus. Ini waktu buat kita berdua. No phone between us.” Diambilnya ponsel dari tangan Disa lalu ia masukkan ke dalam sakunya.


“Yaa aa, aku kan pengen cepet-cepet ngabarin papah.” Disa merengut kesal.


“Nanti aja di butik. Aku lagi ingin menikmati perjalanan ini sama kamu.” Pinta Kean dengan sungguh-sungguh.


“Baiklah.” Disapun patuh. Ia melingkarkan tangannya di lengan Kean lantas menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Kean.


“Aku bahagia a, sangat bahagia. Makasih ya sayang, aa udah ngasih aku kehidupan yang sempurna.” Dikecupnya pipi Kean singkat namun penuh perasaan. Lantas kembali menempatkan kepalanya bersandar di lengan Kean.


“Aku juga bahagia sa.” Ia balas mengecup pucuk kepala Disa. “Asalkan ada kamu dan naka, semuanya terasa sempurna. Apalagi kalau di tambah adiknya naka.” Imbuhnya hati-hati.


Mendengar kalimat akhir Kean, Disa tersenyum tipis. “Aku pertimbangkan.” Sahutnya.


Ya, memang harus ia pertimbangkan untuk memberi Naka seorang adik.


*****


Niat memberi kejutan, ternyata malah Disa dan Kean yang dikejutkan.


“Mamaaa!!!” seru Naka yang berlari menghampiri Disa saat melihat ibunya turun dari mobil.


“Baby…” balas Disa yang merentangkan tangan menyambut Naka. Di peluknya Naka dengan erat dan ia ciumi hingga puas.


“I miss you mama..” lirih anak kecil itu.


“Miss you more baby.” Tidak biasanya Naka mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Kepribadiannya yang mirip Kean, tidak pandai mengungkapkan perasaan membuat hal semacam ini terdengar mahal.


“What about papa, don’t you miss me?” Kean tidak mau kalah. Ia ikut memeluk Disa dan Naka, lalu menciumnya bergantian.


“Just a little.” Timpalnya dengan ekspresi menggemaskan.


“Ooww I’m so jealous.” Serta merta Kean menggendong tubuh Naka lalu mengangkatnya ke udara.


“Hahhaaha.. Papa!!” Naka tertawa girang. Jantungnya berdesiran, takut tapi seru.


Disa ikut tertawa melihat kelakuan anak dan suaminya ini.


Kean mendudukan Naka di pundaknya. “Get ready captain! The plane will be taking off soon! Siiuuwww…” Kean membawa Naka berlari sambil merentangkan tangannya. Seolah Naka sedang terbang di atas pundaknya.


“Hahahahaha… Faster papa!” seru Naka yang kegirangan. Bukannya takut, Naka malah sangat antusias bermain seperti ini dengan Kean. Adrenalinnya seperti terpacu.


Kean pun asyik membawa Naka berlari ke sana Kemari membuat putra kesayangannya tertawa terbahak-bahak. Disa memandangi dari tempatnya sambil tertawa kecil. Hal sederhana ini akan menjadi kenangan yang mahal untuk keluarganya nanti.


Membiarkan Kean dan Naka bermain, Disa menghampiri Sigit dan Arini yang menunggunya.


“Mah, pah..” salim pada Arini dan Sigit.


“Gimana acaranya, lancar?” Sigit sangat penasaran dengan kabar yang Disa bawa.


“Alhamdulillah pah. Kami udah sepakat dan akan mulai produksi besok.” Ujar Disa dengan mata berbinar-binar.


“Wah, selamat ya sa… Mamah ikut seneng.” Arini merangkul Disa dengan erat.


“Makasih mah. Ini juga berkat dukungan dan do’a dari mamah papah. Aku yang seharusnya berterima kasih.” Disa melepaskan pelukannya, memandangi Arini dengan penuh rasa sayang.


Arini mengusap pipi Disa dengan lembut dan senyumnya yang tidak henti terkembang.


“Jadi, kamu memakai nama itu sebagai brand kamu?” tanya Sigit.


“Iya pah. Aku juga udah bikin logonya. Nanti aku tunjukin ke papah.”


Sigit terangguk bangga dengan progress yang di capai Disa.


“Oh iya mah, ngomong-ngomong fira mana? Dia gak ikut?” jadi teringat pada adiknya yang sedang bersedih karena patah hati.


“Ikut kok. Tadi bilangnya mau nunggu di ruangan kamu.”


“Oh. Ya udah, disa liat bentar ya. Mamah sama papah ayo masuk, nanti disa bikinin minuman yang segar.”


“Kamu duluan. Papah masih ingin melihat naka.” Memandangi Naka yang asyik berguling di rumput dengan Kean.


“Ya udah, nanti disa bawain ke sini yaa minumannya. Disa tinggal dulu.”


Arini dan Sigit kompak mengangguk.


Beberapa gelas minuman dibuat Disa. Minuman kombinasi probiotik dengan sirup leci ini sedang in saat ini karena rasanya yang segar cocok diminum di siang yang terik seperti sekarang. Disa memberinya beberapa potong es batu untuk menambah sensasi dingin.


4 gelas ia hidangkan untuk yang sedang berada di luar dan dua gelas untuknya dan Shafira.


Di ruangan Disa, terlihat Shafira yang serius dengan laptopnya. “Dek,” panggil Disa.


“Teh,” gadis itu terkejut, berusaha tersenyum walau belum bisa menghapuskan kesedihannya.


“Lagi sibuk?” menaruh segelas minuman di dekat Shafira lalu duduk di kursi penghadap.


“Nggak juga. Aku nitip beberapa file ya di laptop teteh. Aku lagi ngereset hp aku.” Terangnya.


“Di reset? Emangnya kenapa? Hp ade rusak?” Disa jadi penasaran.


“Em nggak. Hanya saja aku mau ngehapus banyak hal dari hp ini. Terutama hal-hal yang mengingatkan aku sama kak reza.”


Ada helaan nafas dalam yang diambil Shafira lalu menghembuskannya perlahan. Seolah ia tengah mengusir kegundahan dari hatinya.


Disa terangguk paham. Salah satu cara untuk move on dari seseorang adalah dengan menghapus hal-hal yang bisa mengingatkan kita pada orang tersebut. Entah itu foto kebersamaan, pesan-pesan yang dikirim atau hal lain yang sifatnya emosional.


“Teteh setuju kalo fira menghapus semua hal yang mengingatkan kamu sama kak reza. Satu hal yang harus fira ingat, kamu mungkin bisa menghapus fotonya, mengabaikan pesannya atau menghapus nomor ponselnya. Tapi, menghapus semua kenangan di pikiran kita, itu bagian tersulit.” kalimat Disa terdengar serius.


“Tapi percayalah, tidak ada yang tidak mungkin kalo fira udah berniat untuk move on. Hanya saja, teteh sarankan jangan terlalu keras sama diri sendiri, memaksa otak kamu untuk melupakan kak reza. Karena biasanya itu akan membuat fira makin ingat sama kak reza.”


“Biarin aja ingatan itu tetap ada. Yang perlu fira lakukan sekarang adalah, menganggap semua kenangan itu sebagai hal yang biasa.” Terang Disa dengan tatapan laman pada adiknya.


Shafira tercenung mendengar ujaran Disa. Benar adanya, beberapa hari ini ia berusah melupakan Reza tapi setiap kali ia berusaha melupakannya, bayangan Reza malah semakin nyata. Senyumnya, cara bicaranya bahkan kadang suara Reza menggaung di telinganya. Ia sampai putus asa dan rasanya ingin menyerah.


“Aku mesti gimana teh? Aku gak mau ingat lagi sama kak reza..” Shafira mengguyar rambutnya frustasi. Sungguh, ia telah sangat berusaha.


“Anggap itu sebagai hal biasa.”


“Fira punya abang, ya walaupun abang jarang nanya kabar fira, ngingetin fira makan, tapi anggaplah pesan itu seperti fira terima dari abang. Tanpa perlu fira pikirkan gimana ekspresi kak reza saat mengirimnya atau apa maksud kak reza bertanya.”


“Fira hanya perlu ingat kalau pesan itu di kirim hanya untuk bertanya karena dia peduli sama fira sebagai seorang adik, bukan hal lain. Atau singkatnya, jangan libatkan perasaan terlalu dalam.”


“Pelan-pelan aja, teteh yakin fira akan menjadikan hal itu sebagai hal yang biasa dan gak bikin fira baper.” Tutur Disa.


Apa yang ia katakan, adalah apa yang ia lakukan saat ia berusaha melupakan Reza. Harus Disa akui, Reza memang seorang sweetboy. Sangat wajar kalau wanita yang mendapatkan perhatiannya merasa terbuai dengan perlakuannya yang spesial, begitupun Shafira. Tapi, ia harus menyadarkan Shafira pada realita bahwa Reza tidak pernah memiliki perasaan lebih selain menganggapnya sebagai seorang adik. Maka Shafira pun harus melakukan hal yang sama. Tidak menganggap Reza lebih dari seorang kakak.


Shafira termangu, menatap ribuan pesan yang sedang ia hapus. Baru sekitar 52% dan masih memerlukan waktu hingga 18 menit lagi agar semua hal tentang Reza hilang dari ponselnya.


Ia berpikir, mungkin ia bisa mengingat kembali semua tentang Reza selama 18 menit itu sebagai bentuk perpisahan. Melatih perasaannya untuk tidak terbawa dan menganggap semuanya sebagai hal yang biasa.


Ya, hal biasa.


*****