
Sebuah café dengan desain modern sudah ada di depan mata. Disa tiba bersama Kean sementara Adam sudah lebih dulu tiba di café karena di jemput wanita pemilik café bernama Jesica. Saat tiba di café, mereka di sambut oleh seorang waitress yang tersenyum ramah.
“Sudah reservasi kak?” tanya wanita tersebut.
Ternyata harus reservasi dulu untuk masuk ke café yang memang terkesan exclusive ini. Di pelataran parkirnya saja berderet mobil-mobil mewah dan hampir semua kursi sudah penuh terisi.
“Kami di undang jesica.” Jawab Kean singkat.
“Oh silakan. Kak jes nunggu di lantai 2 kak.” Terang wanita yang menunjuk ke arah tangga.
Kean tidak lagi menimpali. Ia cukup risih dengan tatapan pelayan tersebut pada dirinya. Ternyata memakai topi tidak lantas menyembunyikan aura seorang Kean.
“Makasih mba.” Disa yang mengatakan dua kata tersebut.
Wanita itu hanya terpaku, rupanya belum selesai rasa terpesona pada sosok tuan muda yang berjalan di depan Disa.
Mereka berjalan beriringan menaiki anak tangga. Lantai dua memang tidak seluas lantai satu tapi kesannya sangat eksklusif. Hanya ada beberapa meja billiard dengan 4 set sofa berukuran besar. Di salah satu sudut ada mini bar, dengan sepasang kekasih yang sedang,
Oow… Disa langsung berbalik saat melihat Adam yang sedang asyik ***** bibir seorang gadis. Mungkin itu lah wanita yang bernama Jesica. Tangannya bahkan sudah bergeriliya kemana-mana, seolah tidak peduli jika orang-orang melihat mereka.
“Bro!” panggil seorang laki-laki yang tidak lain adalah Reza. Ia sudah duduk di salah satu sudut sofa bersama sang model Clara Davina.
Kean berjalan santai menghampiri sahabatnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia sadar kalau Disa tidak berada di belakangnya. Dengan cepat ia menoleh dan tampak Disa yang masih memunggunginya seraya memejamkan mata.
“Disa!” panggilnya mengimbangi suara musik yang menghangatkan suasana café.
“Ya saya!” refleksnya memang masih bagus. Ia segera berbalik dengan kedua mata yang ragu untuk ia buka.
Kean hanya menggeleng. Ia menghampiri Disa lalu meraih tangannya untuk ia Tarik.
“Kamu bukan anak di bawah umur kan?” tanya Kean tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia tahu Disa tidak terbiasa dengan hal yang di lihatnya.
“Tidak tuan. Saya sudah punya KTP.” Jawabnya polos.
Kean hanya tersenyum geli mendengar jawaban Disa. “Kalau begitu, buka matamu. Anggap kamu tidak melihat apa yang adam lakukan.” Kean melepaskan genggaman tangannya dari Disa.
“Baik tuan.” Saat membuka mata, ternyata jarak Disa sudah jauh dari Adam dan Jesica.
Di hadapannya pun sudah ada Reza yang tersenyum ke arahnya dengan Clara di sampingnya. Clara tampak asyik menyesap asap dari sebatang rokok. Wangi mentolnya benar-benar tercium, rupanya ia seorang perokok juga.
“Gue kira adam gagal ngajak lo sama disa.” Ujar Reza seraya mengangkat tangannya mengajak Kean tos.
“Lo tau gimana cara adam ngebujuk orang kan?” Timpal Kean yang menyambut tos Reza lantas merangkulnya.
“Hahaha iya lah, udah kebayang. Hay sa,” Reza mengulurkan tangannya pada Disa.
“Hay kak.” Membalas uluran tangan Reza dan untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan. Malam ini Disa memang terlihat manis mengenakan celana jeans biru dengan atasan berwarna orange.
Kean melihat tangan Disa yang di genggam erat oleh Reza. Entah mengapa dadanya terasa sedikit sesak.
“Kalian mau berdiri aja?” ujar Clara yang mematikan sebatang rokoknya dan menaruhnya di asbak.
“Oh, ya duduklah.” Dengan cepat Reza tersadar. Ia melepaskan genggaman tangannya lantas menarikkan kursi untuk Disa. “Duduk sa.” Imbuhnya.
“Makasih kak.” Disa duduk di kursi yang di tarikkan Reza dan Reza duduk di sampingnya. Sementara itu Kean duduk bersisihan dengan Clara.
“Gimana, tadi macet gak?” tanya Reza berbasa-basi.
“Lumayan. Mungkin karena menjelang weekend.” Sahut Disa yang tersipu.
“Pasti pegel banget yaa di jalan kalo macet gitu.”
Kean yang mendengar pertanyaan sahabatnya hanya berdecak.
“Gue yang pegel. Lo gak nanya gue?” cetusnya kemudian.
“Hahahhaa.. O iya, lo yang bawa mobil pasti lo yang pegel. Mau gue pijitin?” ledek Reza pada sahabatnya.
Kean hanya mengendikan bahunya malas.
“Lo mau minum apa?” tanya Clara yang sudah bosan melihat basa basi sahabatnya pada Disa. “Inget ya, di sini gak ada orange juice.”
Hampir saja Disa memesan menu itu tapi Clara sudah mengingatkannya lebih dulu.
“Es teh manis mungkin?” berganti Reza yang bertanya.
“Kalo mau es teh manis, lo ajak aja dia ke warteg.” Timpal Clara seraya melempar koreknya pada Reza.
“Hahahahha… Lucu lo Claire.” Reza malah terbahak.
Clara mengangkat tangannya memanggil pelayan. Tak lama seorang pelayan laki-laki menghampirinya.
“Mau pesen kak?”
“Hem. Minuman non alcohol yang recomended buat adek kecil ini.” Clara menunjuk Disa. Adik kecil katanya. Tapi sayangnya Disa tidak bisa protes. “Lo minum apa?” berganti ia bertanya pada Kean.
“Non alcohol juga. Yang recommended.” Timpalnya santai.
“Mau yang couple kak?” tawar pelayan cafe.
“Ada yang kayak gitu juga?” Reza yang bertanya.
“Iya kak. Ada paket couple lengkap dengan snack food, kentang goreng dan sausage.” Terang laki-laki tersebut.
“Ya udah, itu aja.” Timpal Kean tanpa meminta persetujuan Disa.
Makanan couple, ada-ada saja pikirnya. Tapi lucu juga.
Setelah memesan, pelayan itu pun segera pergi. Meninggalkan tiga sahabat yang kembali berbincang dengan santai.
“Terus kita ke sini cuma buat ngeliat si cungkuk ngeluarin jurus kamasutranya?” tanya Clara yang mengarahkan pandangannya pada Adam yang masih asyik dengan Jesica.
Disa tidak berani menoleh sama sekali. Ia bisa membayangkan apa yang tengah di lakukan Adam dengan pacarnya.
“Nggak lah, sambil nunggu makanan couple lo, main yuk!” ajak Reza pada Kean.
“Siapa takut. Lo udah siap nangis?” timpal Kean yang beranjak dari tempatnya.
“Gue siap bantai lo!” sahutnya seraya mengambil stik billiard yang ia lumuri ujungnya dengan kapur.
Mereka memilih meja billiard yang terdekat. Dalam beberapa saat permainan pun di mulai.
“Lo kayaknya makin akrab sama disa. Gimana anaknya?” Reza yang bertanya lebih dulu saat ia sudah melakukan sodokan pertama yang membubarkan cue ball yang semula berkumpul di tengah meja.
“Maksud lo gimana apanya?” Kean masih menunggu giliran karena satu bola masuk ke lubangnya.
“Ya maksud gue gimana sifat anaknya. Gue pengen tau lebih banyak soal dia.” Reza menyatakan maksud sejujurnya.
Bagi Kean rasanya menyebalkan membahas seorang gadis yang ia kenal dengan sang Casanova.
“Kenapa, lo suka sama dia?” Kean mengambil gilirannya untuk menyodok bola.
Reza tampak tersenyum sendiri. “Kalo lo sendiri?” ia malah balik bertanya.
“CTAK!!” satu sodokan langsung membuat tiga bola masuk ke dalam lubangnya. Ia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Reza. Lagi pula, ia belum memikirkan seperti apa perasaannya pada Disa.
“Kalo lo suka, lo deketin lah. Jangan di bikin baper udah gitu lo sibuk sama yang laen.” Hanya itu jawaban Kean.
Reza terkekeh mendengar jawaban sahabatnya.
“Nyokap terus nanyain perkembangan hubungan gue sama disa. Kayaknya dia mengharapkan yang lebih.” Kalimat Reza terdengar cukup serius hingga membuat Kean menghentikan sejenak fokusnya pada cue ball.
Rasanya ada yang tidak nyaman saat ia mendengar kalimat Reza.
Selama Kean berfikir, Reza bersandar pada meja billiard. Ia memandangi Disa yang tengah berbincang dengan Clara dan tampak sedikit tidak nyaman.
“Menurut lo gimana kalo gue seriusin disa?” pertanyaan itu meluncur dengan sempurna dari muluut Reza dan membuat mood Kean untuk main hilang begitu saja.
“Gue gak berani bertaruh apa-apa. Gue tau lo.” Timpalnya seraya menembak tepat bola putih hingga mendorong bola lain masuk ke lubangnya.
Reza hanya tersenyum samar. *Track record-*nya dalam mendekati wanita memang tidak terlalu baik. Banyak anak gadis yang di buat patah hati karena ia belum bisa serius. Tapi saat melihat Disa\, benarkah ia bisa serius dengan gadis muda yang terpaut usia hampir 9 tahun ini?
Reza kembali berbalik dan melanjutkan permainnya. Hanya beberapa bola yang di sisakan Kean.
*****
“Lo ngeroko?” Clara menyodorkan rokoknya pada Disa.
“Em nggak mba, makasih.” Menggeleng lantas memilik menguyah kentang goreng yang ada di tangannya. Katanya ini kentang goreng couple tapi hanya ia sendiri yang menikmatinya.
Disa menoleh Kean yang tampak asyik bermain bersama Reza. Beberapa kali Reza mendengus kesal karena kehabisan kesempatan untuk menumbangkan sahabatnya. Tapi kekesalan Reza justru membuat Disa tersenyum sendiri, gemas melihat ekspresi Reza.
“Udah berapa lama lo kerja di rumah kean?” Clara melanjutkan rasa penasarannya. Seperti seorang detektif yang mengintrogasi pelaku kejahatan yang ia tatap dengan sinis.
Disa segera mengalihkan pandangannya dan fokus pada Clara.
“Em, hampir 4 bulan mba.” Timpal Disa yang masih berusaha mengingat.
“Gue gak suka lo manggil gue mba, gue bukan mba lo. Mending lo panggil gue Claire atau clara.” Protesnya yang kembali menyalakan rokok di tangannya.
Rupanya model cantik ini kecanduan merokok.
“Oh maaf mba. Eh maksud saya Claire.” Dengan takut-takut Disa menyebut nama Clara.
Clara hanya berdecak kesal. Ia memang tidak terlalu nyaman berinteraksi dengan Disa. Ia mengingat benar siapa Disa dan siapa dirinya. Jarak mereka terlampau jauh. Tapi saat Disa memanggilnya mba, hal itu seolah mengingatkan Clara pada pelayan yang juga bekerja di rumahnya. Setiap pagi ia berteriak memanggil pelayan dengan panggilan itu.
Sebuah deringan telpon menjeda perbincangan Clara dan Disa.
“Iya mih?” ujarnya setelah menjawab telponnya. “Aku masih di luar, emang kenapa?”
“Hem, aku pulang sekarang.” Imbuhnya yang sekali lalu memutus panggilannya.
“Gue pulang duluan. Lo abisin makanannya.” Cetus wanita cantik itu seraya mengambil tas tangannya lantas beranjak.
“I-iya Claire, hati-hati di jalan.” Sahut Disa.
Clara hanya tersenyum samar dan melanjutkan langkahnya.
“Mau kemana Claire?” tanya Reza saat melihat Clara menghampirinya.
“Bokap nyuruh pulang. Ada yang penting katanya.”
“Mau gue anter?”
“Iya lah! Kan lo yang bawa gue ke sini.” Sengitnya dengan ganas.
“Galak banget lo sama gue!” Reza terkekeh geli seraya mengusap kepala Clara.
Disa yang melihat di tempatnya, ikut mengusap rambutnya. Rasanya, usapan di kepalanya oleh Reza, tidak lagi special karena laki-laki itu tidak hanya melakukannya pada dirinya. Mungkin Clara yang lebih sering mendapatkan usapan lembut itu. Entah mengapa hati Disa mencelos saat membayangkan hal tersebut. Seperti kecewa tapi tidak tahu untuk alasan apa.
“Sa, duluan ya!” seru Reza dari kejauhan.
Disa yang terperanjat hanya mengangguk. Tak lama, Reza pun pergi seraya merangkul pundak Clara di sampingnya. Kenapa ada rasa kecewa yang muncul di dadanya?
“Disa!” panggil Kean yang sudah ada di samping Disa. Sejak tadi Disa melamun, memandangi arah berlalunya Reza yang pergi bersama Clara hingga ia tidak menyadari kalau tuan mudanya sudah ada di sampingnya.
“Ya saya!” sahutnya dengan mata membulat karena kaget.
Kean bisa melihat raut wajah Disa yang kecewa melihat Reza pergi bersama Clara.
“Mereka berteman baik sejak kecil. Clara sudah seperti adik untuk reza.” Terang Kean tanpa di minta. Ia seperti bisa membaca pikiran Disa yang menerawang tanpa tentu arah.
“Kak reza begitu melindungi clara.” Gumamnya dengan segaris senyum. Namun Kean yakin itu bukan senyum kebahagiaan.
“Semua perempuan buat dia adalah seorang adik.” Gumam Kean yang masih bisa di dengar Disa.
“Iya?” Disa ingin memperjelas pendengarannya.
“Hah?” berganti Kean yang kaget karena ternyata Disa mendengar gumamannya. “Maksud saya, apa kamu mau main billiard?” ia berusaha mengalihkan fokus Disa dengan menunjukkan stik billiard pada Disa.
Disa tersenyum tipis. Laki-laki bertopi itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Baik. Kita anggap saja saya tidak mendengar yang tuan katakan.” Batin Disa seraya tersenyum pada Kean.
“Saya tidak bisa main billiard tuan.” Aku Disa dengan sebenarnya.
“Cobalah dulu.” Ujarnya seraya menarik tanan Disa. Entah sejak kapan ia mulai sering menarik tangan Disa dan Disa tidak menolaknya.
Mereka berada di depan meja billiard. Cue ball sudah di rapikan oleh Kean menggunakan rak billiard. Bola-bola sudah tersusun rapi membentuk segitiga yang satu sama lainnya saling menempel dengan rapat.
“Cobalah!” Kean memberikan stik yang di pegangnya pada Disa.
Dengan ragu Disa mengambilnya. Memang tidak ada salahnya ia mencoba. Toh ini bukan sebuah pertandingan dan tidak ada orang lain di lantai ini selain ia dan Kean. Dan Adam? Entahlah, entah kemana pasangan yang sedang di mabuk cinta itu pergi.
“Pegang tongkat dengan menggunakan tangan yang dominan. Kalau tangan dominan kamu yang kanan, maka pegang tongkat dengan tangan kanan.” Kean mulai memberi instruksi pada Disa seraya menghampirinya. Disa mengikuti apa yang di instruksikan Kean dan menggenggam stiknya dengan erat.
“Genggam tongkat dengan jempol dan keempat jari lainnya sebagai penopangnya. Ingatlah bahwa kontrol tembakan sangat bergantung pada posisi tangan kamu.” Kean memposisikan stik di antara ibu jari dan jari telunjuk yang bertumpuk dengan jari tengah.
“Pegang tongkat dengan santai. Jangan tegang.“ Kean menepuk bahu Disa yang tampak tegang, membuat Disa refleks menghembuskan nafasnya pelan.
“Pegang tongkat tepat di sebelah pinggul.” Menarik tangan kanan Disa dan menempatkannya di sisi panggul kanan.
Kali ini Kean berpindah ke belakang tubuh Disa, sedikit membungkukan bahu Disa hingga tubuh jangkuknya melengkung di atas tubuh Disa. “Posisikan tangan sekitar 10 hingga 12 cm dari ujung tongkat agar genggaman kuat sempurna.” Bisiknya yang tanpa Disa sadari kepala Kean sudah berada di atas bahu kanannya. Dengan jelas ia mendengar suara Kean di telinganya berikut hembusan nafasnya yang terasa hangat menyibak rambutnya yang terurai.
“Buka tangan lainnya dan letakkan di ujung tongkat di atas meja. Buat bridge terbuka dengan merentangkan jari-jari. Bentuk huruf V dengan jempol dan keempat jari lainnya. Jepit ujung tongkat diantara jempol dan jari telunjuk. Pastikan posisi ujung tongkat tetap kuat.” Kean lah yang memindah-mindahkan posisi tongkat dan jari Disa dengan telaten. Semakin lama rasanya tubuh Kean semakin melengkung di atas tubuhnya.
“Sesuaikan ketinggian tongkat dengan menaikkan dan menurunkan ujung tongkat yang digenggam tangan kanan.” Ia pun mengenggam tangan kanan Disa agar tongkat melekat sempurna.
“Perhatikan sudut bola yang akan ditembak dengan sedikit membungkukkan badan.” Menoleh Disa lantas menatapnya laman.
Bisa terlihat wajah Disa yang memerah dengan titik-titik keringat di dahi dan pipinya. Tercium wangi rambut Disa yang nyaris menempel di ujung hidungnya. Entahlah, Kean sangat menyukai wangi rambut Disa.
“Pastikan tangan tidak tegang ketika memegang tongkat, terutama saat akan menembak karena akan membuat sudut tembakan jadi meleset.” Kean masih berbicara seraya menatap wajah Disa dari dekat. Ia melihat bibir Disa yang terkulum, sepertinya gadis ini sangat tegang.
Jika di lihat dari belakang, sosok Disa tertutup seluruhnya oleh tubuh Kean. Orang-orang yang melihat tidak akan menyangka kalau ada seorang gadis yang tengah di kungkung Kean.
“Ketika bola telah dipukul, jangan tegangkan tanganmu. Tetap rilekskan tangan yang memegang tongkat sambil tetap fokus melihat jalannya bola.” Ini instruksi terakhhir Kean yang masih menikmati wangi rambut Disa. Jika di dengar lebih seksama, suaranya semakin serak dan terdengar seksi hingga bulu kuduk Disa meremang di waktu yang bersamaan.
“Lakukan!” seru Kean.
Refleks Disa menyodok bola di hadapannya karena seperti ada hentakan dari suara Kean yang membuatnya mendorong stik cukup kuat.
“CTAK!” bola putih bergulir, mengenai bola berwarna kuning, lalu mereka berpencar dan “Trang!” satu bola warna ungu masuk ke lubang outlet.
“YES!!!” seru Disa seraya melonjak.
“Awwhh!!!” Kean mengaduh karena tanpa sadar Disa telah menyikut perutnya.
“Hah, maaf tuan saya tidak sengaja.” Ujar Disa yang segera berbalik.
Namun tanpa ia tahu, jarak Kean dan dirinya terlampau dekat. Hingga saat berbalik wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi saja. Itu pun karena tinggi tubuh Disa yang berada di bawah Kean. Jika saja tinggi mereka sama, mungkin hidung keduanya akan bersinggungan.
“Perut saya sakit.” Keluh Kean seraya menarik tangan Disa dan menempatkannya di perutnya yang rata.
“Sa-saya minta maaf tuan.” Ujar Disa dengan terbata. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat gugup melihat netra pekat milik Kean yang seolah mengunci pandangannya.
Kean hanya terdiam dan masih memegangi tangan Disa. Suasana ruangan terasa begitu panas dengan jantung yang berloncatan seperti akan terlepas dari tempatnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas Disa yang menerpa wajahnya. Dalam beberapa saat keduanya saling terdiam. Semakin lama jarak wajah keduanya semakin dekat. Muncul keinginan dalam hati Kean untuk mengecup bibir Disa yang berwarna merah muda.
“Kenapa sangat menggoda?” batin Kean dengan gairah yang nyaris tidak bisa ia tahan.
Disa memejamkan matanya dengan takut-takut. Nafasnya seperti berhenti berhembus karena Kean semakin mendekat.
Namun, sesuatu berbisik dalam hati Kean. “Ingat, kamu menghormatinya.” Bisik malaikat di samping Kean.
“Shit!” umpat Kean dalam hati. Ia segera memalingkan wajahnya dan menarik tubuhnya dari Disa. Ia pun melepaskan genggaman tangan Disa yang semula sangat erat.
Tidak, ini harus di akhiri. Ya, harus di akhiri.
****