Marry The Heir

Marry The Heir
Doktrin paradisa



Seperti mayat hidup, Shafira masuk ke dalam rumah dengan langkah kakinya yang gontai. Ada 2 orang yang setia menunggunya dengan wajah cemas di mulut pintu, Marwan dan Kinar. Sayangnya bukan kedua orang itu yang ingin di lihat Shafira. Mereka memang selalu ada tapi bukan mereka yang ia butuhkan.


“Nona muda.” Seru Kinar yang segera menghampiri Shafira. “Apa anda baik-baik saja?”


Wanita paruh baya ini terlihat cemas melihat penampilan Shafira yang berantakan dengan wajah pucatnya. Ia meraih lengan Shafira namun Shafira menepisnya. Ia lebih memilih meneruskan langkahnya menuju undakan anak tangga menuju lantai 2 tempat kamarnya berada.


Di ujung anak tangga terakhir Shafira berdiri. Ia memandangi ruangan luas yang hanya ada satu set sofa. Di sisi kiri kanannya ada beberapa kamar yang saling berdekatan. Kamar Liana, kamar miliknya, Kean dan tentu saja di ujung sana adalah kamar Arini.


Masing-masing sudah mengunci pintunya rapat-rapat, tanpa ada suara yang bisa di dengar Shafira dari luar. Tenyata, dua orang yang ia harapkan peduli padanya bahkan tidak menunggunya apalagi memiliki niatan menemuinya. Harapannya hancur begitu saja, tidak ada tempat yang menyambutnya dengan baik, semua orang seperti tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Dengan langkah lemah Shafira masuk ke kamarnya, lantas mengunci pintu rapat-rapat.


Ia bersandar pada daun pintu, menangkup wajahnya lantas mengguyar rambutnya yang berantakan. rasanya begitu berat hari yang ia lewati dengan banyak kejutan yang tidak terduga dan tidak pernah ia sangka. Beberapa kali ia menghela nafas, masih ingin menangis tapi rasanya air matanya sudah kering. Tenggorokannya pun perih tapi perasaan mengganjal di dadanya masih berjogol kuat.


Apa yang terjadi di rumah ini tidak bisa di cerna dengan mudah oleh nalarnya. Mencoba mengerti apa yang saat ini terjadi ternyata malah membuat pikirannya buntu. Ingin mengacuhkannya pun terasa begitu sulit. Kenapa semua sangat runyam?


Shafira melangkahkan kakinya menuju sofa di samping jendela kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya meringkuk seraya memainkan bulu-bulu halus dari bantal yang ia peluk. Pikirannya kembali menerawang meski tidak ada clue yang muncul di benaknya. Mungkin untuk beberapa saat ia ingin seperti ini. Tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa ada yang mengusik. Biarkan otak kecilnya lelah dengan sendirinya, hingga akhirnya ia bisa terlelap di peluk malam.


****


Sebuah deringan ponsel terdengar pelan di ujung telinga Disa. Baru beberapa saat Disa memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Tapi suara itu sudah lebih dulu mengusiknya dan semakin menghilangkan rasa kantuknya yang susah payah ia kumpulkan.


Mencoba untuk tidak terlibat dalam urusan pribadi keluarga ini ternyata cukup sulit. Semakin ia mencoba mengabaikan, semakin jauh ia tertarik pada pusaran masalah di keluarga ini. Ia mencoba untuk tidak peduli tapi, mengabaikan keadaan bukan lah hal yang mudah untuk ia lakukan. Sudut hatinya ikut merasakan dan otaknya ikut berfikir.


Mungkin harusnya, ia tidak pernah masuk ke dalam rumah ini karena ternyata, ia tidak bisa bersikap tak acuh dengan keadaan di rumah ini.


Diraihnya ponsel yang ia taruh di atas meja. Ada sebuah pesan masuk dan saat di lihat pengirimnya Disa terhenyak hingga segera terbangun dan menegakkan tubuhnya.


“Bawakan saya minuman hangat.” Tulis pesan yang di kirim Kean.


Jam berapa ini, Disa melihat jam di dinding kamarnya, sudah jam 11 malam dan tuan mudanya masih terjaga. Mungkin tuan mudanya juga mengalami insomnia malam ini.


“Kamu sudah tidur?” pesan kedua di kirim Kean dan membuat Disa segera membalasnya.


“Mohon tunggu sebentar tuan, akan saya buatkan.” Balas Disa dengan cepat.


Ia segera mengikat rambutnya serapi mungkin lantas mengganti baju dasternya dengan seragam pelayan. Ia begitu tergesa-gesa keluar dari kamarnya hingga sandalnya malah tertendang.


“Haish! Ceroboh banget sih!” Disa merutuki dirinya sendiri yang saat terburu-buru malah ada saja hal yang membuat pekerjaannya menjadi lebih lama.


Disa lantas masuk ke dapur untuk membuat minuman. Beberapa rempah dan rimpang di rebusnya. Tidak lupa menambahkan gula batu setelah itu di saring dan menempatkannya ke dalam sebuah gelas. Ia pun mencari cemilan untuk menemani minuman yang di buatnya. Waktunya tidaklah banyak dan sebelum Kean kembali mengiriminya pesan, ia harus bergegas pergi.


“Tuan, saya disa.”  Ujar Disa saat berada di depan pintu kamar Kean.


“Masuk.”


Disa menghela nafasnya beberapa saat sebelum membuat lengkungan senyum di bibirnya. Ia harus bersiap sebelum menemui Kean yang mungkin mood-nya sedang kurang baik. “Selamat malam tuan. Saya membawakan minuman hangat untuk anda.”


Masuk ke kamar Kean yang tampak masih terang benderang. Kean terduduk di atas tempat tidurnya dengan laptop yang masih menyala di sebelahnya.


“Taruh di sana.” Menunjuk sebuah meja yang berada di dekat jendela.


Dari tempatnya, Kean masih memperhatikan Disa yang bergerak ke sana kemari lantas menaruh minuman hangat berikut cemilan di meja. Minuman yang sebenarnya hanya menjadi alasan agar Ia bisa kembali bertemu Disa.


“Disa!”


“Ya Saya!” Disa segera berbalik saat tuan mudanya memanggilnya. Ada senyuman samar yang coba di sembunyikan Kean saat melihat wajah Disa yang ada di hadapannya. Responnya selalu cepat dan jawabannya selalu terngiang di telinga Kean, membuat ia ingin mendengarnya lagi.  “Ada lagi yang anda perlukan tuan?” melihat Kean yang hanya terdiam dan hanya menatapnya.


Sejujurnya Kean hanya ingin menyebut nama itu tapi ternyata harus berbuntut panjang dengan harus mencari topik pembicaraan atau mencari alasan yang masuk akal.


Ia beranjak dari tempatnya, menghampiri Disa lantas mengambil segelas minuman hangat yang dibuatkan Disa. Satu tegukan ia nikmati dengan perlahan. Wangi jahe yang berpadu dengan rempah lainnya membuat jalan nafasnya terasa lega dan tenggorokannya terasa hangat.


“Sepertinya kamu cukup dekat dengan anak itu?” di ujung tegukannya Kean memulai pertanyaan.


“Anak itu?” Disa mengulang sepenggal kalimat Kean seraya mengernyitkan dahi.


“Nona mudamu. Begitu kan kamu memanggilnya.” Kean memperjelas pertanyaannya. Sejak di café tadi, ia sangat ingin menanyakan hal ini pada Disa dan yang di tanya malah tersenyum.


“Non fira. Begitu saya memanggilnya tuan.” Ulas Disa dengan segaris senyum.


Kenapa Disa begitu mudah tersenyum padahal tidak semua hal itu menyenangkan?


“Terserahlah. Saya tidak peduli panggilan apa yang kamu gunakan pada anak cengeng itu.” Kean mendudukan tubuhnya di sofa sekali lalu meneguk minuman yang terasa nyaman di tenggorokannya.


“Sayangnya beliau selalu merasa kesepian tuan.” Membalas tatapan Kean dengan rautnya yang berubah sendu. Seperti ada pesan yang tengah ia coba sampaikan pada Kean.


Untuk beberapa saat Kean menatap Disa sebelum kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


“Tidak ada urusannya denganku.” Kean berdecak dalam hati. Ternyata niatnya untuk berbasa basi malah menjadi panjang. Senang dan kesal di waktu bersamaan. senang karena Disa lebih lama di dekatnya dan kesal karena sepertinya ia salah memilih topik pembicaraan.


“Tentu ada tuan.” Disa berujar dengan yakin. Ia menatap Kean yang memilih untuk memainkan gelas di tangannya. “Setiap saat nona muda selalu berusaha mendekat pada orang-orang di sekitarnya. Pada nyonya besar, tuan besar, pada kami para pelayan dan tentu saja pada anda.”


“Hanya saja, tidak semua orang melihat usahanya yang sungguh-sungguh terlebih memberinya kesempatan.” Disa tampak sedikit melamun saat mengingat usaha Shafira yang berusaha mendekat pada keluarganya namun tidak pernah membuahkan hasil. Semua selalu pada tempatnya dan tidak bisa di raih.


“Jangan bercanda disa, tidak ada hal seperti itu di keluarga kami.” Kean mulai terpancing. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman sarkas. Ia merasa kalau Disa seperti tengah mengejeknya.


“Kenapa begitu sulit bagi anda untuk mengakui kalau anda peduli tuan?”


“Bukankah memiliki keluarga dan mengenal lebih dekat siapa keluarga kita adalah sebuah keberuntungan? Tidak semua orang memiliki kesempatan itu.” Disa terdengar semakin bersemangat.


“Cukup disa!” Kean menaruh gelasnya dengan kasar membuat Disa terhenyak di tempatnya.


Laki-laki itu beranjak dari tempatnya lantas menatap Disa dengan tajam.


“Jangan pernah menyimpulkan hanya dari apa yang kamu lihat. Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini.” Kean dengan intonasi suaranya yang mulai naik. Mungkin baginya Disa mulai melewati batas.


“Ma-maafkan kelancangan saya tuan.” Disa terlihat gugup dan memilih untuk menunduk menghindari tatapan Kean. “Saya tidak bermaksud menyinggung tuan, hanya saja, tolong terima niat baik non fira untuk mendekat pada anda. Sekali saja. Karena saya tau sebenarnya anda pun peduli pada non fira.” Suara Disa terdengar gemetar dengan tangan yang memilin apron. Harusnya ia tidak memulai pembicaraan sensitif ini karena jika diteruskan akan membuat tidak nyaman namun jika di akhiri akan semakin membuat salah paham.


“CK!” Kean berdecik sebal. Disa seperti tengah menyuruhnya untuk melakukan hal yang mustahil. Membiarkan Shafira mendekat? Mana mungkin.


“Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini. Lagi pula, atas dasar apa kamu berfikir saya peduli dengan anak itu? Jika alasan kamu karena saya mau menjemput anak itu, jangan terlalu percaya diri, saya bisa melakukan hal itu pada siapapun.” Ujar Kean dengan sinis. Ia ingin menyudahi pikiran Disa yang terlalu berbaik sangka dan memperkenalkannya pada realita yang ada. Ya, seperti itulah keluarganya.


Disa tampak menggeleng dan kembali menatap Kean. Ia belum menyerah untuk berdebat. Dengan sisa keberaniannya ia menatap sepasang mata yang sedang menyalak padanya.


“Tuan tidak mengatakan hal buruk apapun yang bisa saja tuan sampaikan untuk menyakiti non fira. Tapi sekuat itu tuan menahannya. Jika bukan karena peduli, saya yakin tuan tidak akan melakukannya. Dan tuan tahu, kalau semuanya ini bukan kesalahan non fira.”


“DIAM KAMU!” gertak Kean hingga Disa terperanjat.


Ia sangat kesal dengan apa yang Disa katakan sejak awal. Ia selalu berusaha meyakinkan Kean kalau Kean peduli pada Shafira. Dan kemarahannya kali ini, bukan karena Disa terdengar terus membela Shafira tapi karena yang dikatakan Disa mungkin benar adanya. Dan ia benci untuk mengakuinya.


“Sa-saya minta maaf tuan atas kelancangan saya.” suara Disa terbata-bata dengan perasaan gugup yang sangat ketara. Ia tidak menyangka kalau tuan mudanya akan semarah ini.


Kean tidak lantas menimpali. Ia berjalan mendekat pada Disa dan membuat gadis itu mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh dinding. Langkahnya terhenti namun Kean semakin mendekat. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Dengan matanya yang berkaca-kaca, Disa membalas tatapan Kean yang tajam padanya.


Kean mendekatkan wajahnya membuat Disa menutup matanya seraya membuang pandangan ke arah lain. Ia pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan nafas tertahan.


“Jangan pernah meminta saya untuk membiarkan anak kecil itu masuk ke dalam hidup saya. Atau, kamu harus bertanggung jawab kalau sesuatu hal buruk terjadi pada anak kecl itu.” Bisik Kean dengan penuh penekanan.


Mengangguk dengan cepat, “Ba-baik tuan.” Disa menyahuti dengan nafas tertahan. Sepertinya ia sangat takut pada kemarahan Kean.


Sementara Kean masih pada posisinya memandangi wajah Disa dengan jarak yang sangat dekat. Ia bisa mencium wangi rambut Disa yang sangat ia sukai, ia pun bisa melihat gerakan dada Disa yang naik turun lebih cepat karena ketakutan. Nafanya pun terdengar menderu. Entah mengapa ada perasaan tidak biasa yang dirasakan Kean saat jarak mereka terlampau dekat.


“Shit!” dengus Kean seraya menarik tubuhnya menjauh dari Disa. Walau ia menolak namun otaknya malah terus memikirkan kalimat Disa beberapa saat lalu.


Melihat Kean yang menjauh, akhirnya Disa bisa menghela nafasnya lega. Ia mengusap dadanya yang berdebar sangat kencang seraya menelan salivanya kasar-kasar. Saat kean berada di dekatnya, ia bahkan tidak berani untuk bernafas dan mengerakkan tenggorokannya untuk menelan saliva. Ia begitu takut karena ia tahu ia telah membuat sang singa murka.


“Keluar!” seru Kean tanpa memandang Disa. Semakin lama Disa ada di dekatnya semakin banyak pikiran dan perasaan yang berkecambuk di dadanya.


“Baik tuan. Saya pemisi.” Ujarnya seraya pergi meninggalkan Kean yang masih  berdebat antara pikiran dan perasaannya.


Sepeninggal disa, Kean kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Ia memijat kepalanya yang terasa pening. Semakin lama, semakin banyak prinsip hidupnya yang mulai di geser oleh Disa hanya karena kalimat-kalimat polos yang terlontar dari mulutnya.


Kenapa gadis ini begitu mudah mendoktrin pikirannya? Kenapa ia membuat Kean harus memikirkan kalimatnya yang sederhana namun membuat pikirannya menjadi rumit?


Arrrgghhh! Rasanya ia sangat kesal.


****