Marry The Heir

Marry The Heir
Sarapan bersama



Hari libur adalah waktunya untuk bersantai dan bermalas-malasan. Berada di atas tempat tidur seharian, menghabiskan waktu dengan melakukan apa yang disukai adalah pilihan yang cukup tepat.


Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi Kean.


Alih-alih bangun siang, ia malah bangun sangat pagi. Saat mengerjapkan matanya, sayup-sayup ia mendengar suara adzan subuh. Suara langka yang bisa ia dengar sepagi ini. Ternyata seperti ini suara muadzin di Town house-nya yang memberi tanda agar umat muslim bergegas bangun dan menunaikan kewajibannya.


Masih terbaring di tempat tidurnya dengan terlentang, Kean kembali menutup matanya meresapi suara lembut yang menggetarkan hatinya hingga rasanya merinding. Sejak ia pulang ke Indonesia, baru kali ini ia mendengar suara adzan tanpa mengabaikannya.


Biasanya, ia melewatkan suara adzan pagi dan di siang hari. Ia mengabaikan karena banyaknya aktivitas yang ia lakukan. Kemana saja ia hingga baru sadar kalau suara ini sangat indah?


Kean beranjak dari tempat tidurnya, ia harus turun untuk mengambil air minum. Satu per satu anak tangga ia tapaki dan melihat ke sekeliling dapur yang masih sepi. Tidak ada bayangan Disa di sana padahal ia yakin semalam Disa menginap.


“DISA!” serunya seraya menarik kursi di hadapan meja makan. Ia memang bisa mengambil air minumnya sendiri tapi rasanya ia terlalu terbiasa memanggil nama itu untuk mengambil apa yang ia butuhkan.


“DISA!” ia kembali memanggil. Tidak ada sahutan “YA SAYA!” seperti biasanya.


Ia beralih menuju kamar Disa, mengetuk pintunya karena mungkin saja Disa kesiangan. Beberapa ketukan ia lakukan dan tanpa sengaja pintu kamarnya terdorong hingga pintunya sedikit terbuka.


Terlihat Disa yang tengah bersujud menghadap kiblat, rupanya ia sedang menunaikan kewajiban muslimnya.


Kean beranjak dari tempatnya untuk mengambil sendiri air minum dan meneguknya hingga tandas.


Masih terlalu pagi dan ia kembai ke kamarnya. Entah apa yang akan ia lakukan, kita lihat nanti.


Menengok ke kiri dan kanan seraya mengucap salam dan Disa langsung mengusap wajahnya. Do’a sapu jagat ia bacakan untuk memohon ampun, bersyukur dan mengharap perlindungan sebelum ia memulai harinya.


Dengan cepat ia melipat mukenanya lalu merapikan penampilannya. Bajunya ia ganti dengan segera, mengenakan baju pelayan yang biasa ia kenakan.


Kalau tidak salah dengar, ia mendengar suara Kean memanggilnya, maka ia segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar Kean.


“Tok tok tok.”


Mengetuk pintu kamar Kean perlahan. Ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan serta menyunggingkan senyum agar tone suaranya terdengar netral.


“Permisi tuan, apakah anda memanggil saya?” begitu kalimat yang Disa ucapkan.


Disa menunggu di tempatnya, tidak ada sahutan yang terdengar dari balik pintu. Ia menoleh jam yang menempel di dinding, masih jam 5 kurang.


“Tuan muda masih tidur kayaknya, apa mungkin tadi cuma perasaan aku aja ya?” Disa bertanya pada dirinya sendiri.


Karena terlalu sering mendengar panggilan Kean, membuatnya merasa di hantui panggilan itu bahkan saat tertidur. Dan tadi, mungkin memang hanya perasaannya saja.


Masih ada waktu satu jam sebelum ia benar-benar membangunkan Kean dan ia harus bergegas mengerjakan satu per satu pekerjaannya. Banyak peer yang harus ia selesaikan sebelum membangunkan tuan mudanya.


“Ya udah, ke pasar dulu aja.” Gumamnya seraya berbalik.


Namun di waktu yang bersamaan terdengar suara pintu berderet. Disa segera berbalik dan wajahnya tampak kaget saat melihat sosok di hadapannya.


Ada Kean yang masih sarungan dan mengenakan peci. Ia hampir tidak mengenali sosok laki-laki yang rasanya ketampanannya meningkat berkali lipat.


“DISA!” panggil Kean saat melihat Disa malah terpaku menatapnya.


“YA SAYA!” cepat juga dia sadar. “Ma-maaf tuan,..” suaranya terdengar lemah dan mulai menunduk. Mungkin ia baru sadar kalau tadi suaranya sangat keras.


“Buatkan saya kopi. Saya mau sarapan roti isi dan makan siang dengan udang saus tiram dan kerang.” Barisan kalimat perintah itu ia lontarkan dengan tegas untuk mengusir kecanggungan pagi ini.


“Ba-baik tuan.” Ia mengangguk patuh. “Saya permisi.” Imbuhnya sebelum ia berbalik dan pergi.


Kean hanya menghela nafas dalam. Ia kembali menutup pintu kamarnya untuk berganti baju dengan pakaian olahraga. Mungkin berolahraga di gym town house akan menyenangkan di hari libur seperti ini.


Disa segera menuju dapur dan membuatkan kopi untuk Kean. Tidak lupa ia pun menyiapkan segelas air putih, minuman wajib bagi tuan mudanya. Sambil menunggu ia mulai mencuci beras yang akan ia masak untuk makan siang.


Dalam beberapa menit, Kean turun lengkap dengan pakaian olahraganya. Celana pendek se lutut dan kaos olahraga yang masih memperontonkan lekukan otot tubuhnya kemudian jaket yang ia biarkan terbuka tanpa di resletingkan. “Siapkan minum di tumbler, saya mau berolah raga di gym town house.” Titahnya sekali lalu menyesap wangi kopi lalu menyeruputnya.


Tiga seruputan ia lakukan untuk membasahi tenggorokannya dengan cairan hitam tersebut.


“Baik tuan.” Disa mengambil tumbler dari dalam kitchen set dan mengisinya dengan air. Lantas ia menaruhnya di atas meja. “Silakan tuan.”


“Hem.” Hanya itu jawaban Kean. Ia mengambil tumblernya lalu menuju sofa untuk memakai sepatu olah raganya.


“Tuan, saya izin ke pasar dulu. Mungkin sekitar satu jam.” Kalimat itu terdengar dari mulut Disa.


Kean melihat smartwatch di tangannya, perhitungan waktu Disa memang cukup baik.


“Buatkan saya sarapan setelah kamu pulang dari pasar.”


“Baik tuan.”


Kean beranjak dari tempatnya. Mengambil handuk kecil yang ia bawa dari kamar, serta tumbler lantas mulai memakai earphone yang terhubung dengan ponselnya. Langkah kakinya terlihat santai keluar dari rumah dan saat tiba di halaman ia mulai berlari kecil menuju Gym yang berjarak beberapa meter saja dari rumah Kean.


Disa masih di tempatnya, memandangi tuan mudanya hingga ia benar-benar menghilang dan tidak terlihat lagi.


“Okey, saatnya ke pasar disa.” Gumamnya saat bayangan Kean sudah tidak terlihat lagi. Ia mengambil tote bagnya, lalu membuka pintu dan kembali menutupnya. Walau masih pagi ia tetap menggunakan sepedanya menuju pasar tradisional.


*****


Area town house tempat Kean tinggal memang tergolong lengkap. Selain ada taman, di sini juga terdapat fasilitas umum seperti gym, kolam renang, area bermain anak dan minimarket yang cukup lengkap. Tidak hanya ia yang menikmati liburannya, orang-orang pun mulai keluar rumah untuk berolahraga.


Walau masih sangat pagi, nyatanya sudah banyak orang yang masuk ke gym dan mulai berolahraga.


Kean tidak melakukan lagi latihan kardio karena ia sudah memulai olahraganya dengan berlari dari rumah menuju gym. Pemanasannya sudah cukup. Ia memilih tempat yang nyaman untuk melatih fleksibilitas tubuhnya agar otot-ototnya siap untuk tahapan olahraga yang lebih berat.


Beberapa set latihan fleksibilitas ia lakukan, berikutnya adalah latihan bench press dengan mengambil barbel kecil yang ia gunakan untuk melatih otot-otot tangannya. Setelah cukup pemanasan ia beralih pada alat bench press yang lebih besar. Membaringkan tubuhnya terlentang dengan beban terpasang di atas dadanya. Tangan kekarnya mencengkram sisi kiri dan kanan untuk ia naik dan turunkan.


Sekitar 15 menit ia melakukan latihan itu dan tubuhnya sudah sangat berkeringat.


Beberapa gadis yang juga tengah berolahraga dan melintas di hadapannya tampak melirik sambil berbisik dan tersenyum melihat tubuh Kean yang tampak seksi berbalut keringat. Namun seperti biasa, ia acuh saja. Tidak terganggu sedikit pun dengan tingkah para wanita yang terpesona dengan sosoknya dan mencoba menarik perhatiannya.


Ia sudah terlalu terbiasa menjadi pusat perhatian para gadis.


Selepas itu Ia segera mengambil tumblernya, menghidrasi tenggorokannya yang mulai terasa kering. Meneguk minuman hingga hampir tandas setengahnya dan terlihat jakunnya yang naik turun dengan keringat yang menetes di sekitar lehernya.


“Aaahh…” begitu suara yang terdengar di ujung dahaganya.


Olahraga yang selanjutnya adalah deadlift dan olah otot lainnya yang ia lakukan beruntun. Terlihat jelas otot-otot tangan menegang dan abs-nya yang tampak kencang. Kean begitu menikmati rangkaian olahraga yang selama ini tidak di lakukan dengan teratur.


“Fuhh…” helaan nafas panjang ia hembuskan saat selesai mengangkat beban dan meletakkannya di depan kedua kakinya.


Rasanya olah raganya sudah cukup. Ia duduk di salah satu bangku dengan tiang kaca yang merefleksikan tubuhnya. Ia meneguk kembali air minumnya hingga tandas dan dahaganya terbayar sudah.


Handuk kecil yang ia simpan sejak tadi digunakan untu melap keringatnya. Ia menunggu release sebentar sebelum bersiap pulang.


Tepat jam tujuh suara pintu samping terdengar berderet, rupanya Kean sudah pulang. Ia melempar handuknya ke atas sofa dan disusul dengan menjatuhkan tubuhnya di sana.


“Apakah anda akan sarapan sekarang tuan?” suara Disa terdengar dari arah dapur.


Kean menoleh sejenak dan terlihat Disa yang berdiri di dekat meja makan dan tengah membuat sarapan.


“Hem,.” Hanya itu sahutan Kean.


Ia segera melepaskan sepatunya dan bergegas menuju meja makan. Perutnya memang sudah keroncongan karena olah raganya sangat menguras tenaga.


“Silakan tuan.” Menyodorkan sepiring roti isi dengan segelas juice buah dan sayur. Entah apa isinya yang jelas ada lembaran seledri di tepian gelas, mungkin sebagai pemanis penampilan.


Kean mulai mengambil garpu dan pisau makannya. Ia memotong sedikit roti isinya dan terlihat isi rotinya adalah alpukat, tuna, beberapa sayuran dilengkapi mayonnaise. Ia masukan satu potongan roti isi ke mulutnya, mengunyahnya sebentar lalu berhenti.


Disa yang tengah memperhatikan tampak sedikit gusar saat melihat Kean menghentikan kunyahannya. Apa mungkin ada yang salah?


Sebenarnya lidahnya sedang memproses rasa dari roti isi yang menurutnya cukup enak. Disa bisa Kembali menghela nafas lega dan tersenyum tipis saat Kean melanjutkan sarapannya.


“Kamu tidak makan?” tanyanya tiba-tiba.


Disa hanya terpaku, membuat Kean mengangkat wajahnya dan menatap Disa.


“Duduk dan makanlah.” Titahnya kemudian.


“Terima kasih tuan, saya akan,”


“Bisakah kamu tidak membantah perintah saya?” tatapannya dingin dan tajam hingga begitu terasa menusuk.


“Ba-baik tuan.” Sudahlah Disa, menurut saja.


Dengan canggung Disa duduk berhadapan dengan Kean. Ini pertama kalinya ia duduk sejajar dengan majikannya, sangat mendebarkan. Jika Kinar tahu, apa jadinya?


Sudahlah lebih baik Ia membuat roti yang sama dengan sisa isian yang masih ada di mangkuk. Kean tidak lagi memperhatikannya dan kembali fokus pada sarapan yang tengah ia nikmati.


Sesekali ia meminum jusnya dan sepertinya ia menyukainya karena tidak protes sedikitpun.


“Kamu memakai baju itu ke pasar?” bertanya tanpa menatap Disa. Ia lebih asyik memotong roti isinya sebelum ia makan.


Dengan cepat Disa menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan Kean. “Iya tuan.”


“Saya tidak suka bau amis dan bau lainnya yang menempel di baju itu. Lain kali pakai baju lain saat akan pergi ke luar. Gunakan baju itu hanya di dalam rumah.” Begitu titahnya seraya melirik tajam pada Disa.


“Baik tuan.” Menjawab dengan cepat namun kemudian ia mengendus sendiri bau baju yang dipakainya.


Iya sih sedikit bau amis tapi bagaimana bisa hidung Kean begitu tajam hingga bisa mencium bau amis di baju Disa?


“Jam 10 nanti buatkan saya kopi dan makanan manis, antarkan ke ruang kerja.” Titahnya kemudian.


Disa hanya mengangguk karena mulutnya terisi makanan. Kean menolehnya dan menatapnya beberapa detik seraya menunjuk sudut bibirnya sendiri sebagai isyarat. Mata Disa tampak membelalak, ia mengusap mulutnya, khawatir ada sesuatu di sana.


“Kamu bukan anak kecil lagi.” Melempar serbet yang ia gunakan pada Disa, benar sepertinya ada sesuatu di area mulutnya.


Mengambil serbet yang diberikan Kean lalu mengusapkannya pada mulutnya. Ia pun segera menelan makanannya.


“Maaf tuan.”


Kean tidak menjawab, ia lebih memilih beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.


“Haahh…” Disa menghela nafasnya lega dan bahunya melorot, bersandar pada sandaran kursi.


Hanya beberapa menit saja ia berada di tempat yang sama dengan Kean tapi rasanya seperti seumur hidup berada di tengah ketegangan. Ia melihat kembali serbet yang ada dihadapannya lalu tersenyum tipis.


“ASTAGA!” dengusnya saat ia menyadari sesuatu. Raut wajahnya berubah dengan cepat. “Gimana bisa aku pake serbetnya tuan muda?” ia bertanya pada dirinya sendiri.


Sementara di ruang kerjanya Kean sedang tersenyum sendiri melihat ekspresi Disa yang sepertinya baru sadar atas apa yang dilakukannya. Semua terlihat jelas di CCTV rumah yang tengah ia putar.


Lihat saja Disa yang menghentak-hentakan kakinya karena kesal seraya menggaruk kepalanya merutuki kebodohannya sendiri. Dan ekspresi wajahnya, sungguh Kean ingin tertawa. Ternyata semua refleks pelayannya sangat polos dan cukup menghibur.


*****