Marry The Heir

Marry The Heir
Negosiasi



"AAAAAAAAAAA!!!!!” sebuah teriakan terdengar jelas dari kamar Arini di pagi hari.


Kean yang baru terbangun segera meloncat dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar Arini. Begitu pun dengan Kinar, ia berlari secepat yang ia bisa menuju asal suara.


“ADA APA?!” seru Kean saat tiba di kamar Arini.


Wati masih berdiri di mulut pintu dengan wajah kaget syok bergitu pun dengan Arini. Ia baru akan beranjak dari tempat tidurnya dan berpindah ke kursi roda saat tiba-tiba Wati membuka pintu kamarnya lantas berteriak saat melihat Arini.


“Minggir kamu!” Kean menyenggol tubuh Wati yang masih terpaku saat melihat wajah Arini yang membuatnya ketakutan.


Karena tidak memakai masker membuat Wati bisa melihat dengan jelas wajah Arini yang pucat dengan beberapa bekas luka bakar di wajahnya.


“Mamah gak pa-pa?” Kean segera memeluk Arini yang tampak terkejut.


Arini hanya menggeleng lantas menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kean. Di cengkramnya kemeja kaos yang melekat pada tubuh Kean, dengan dada berdebar kencang.


“Mamah membuatnya takut dengan wajah buruk rupa mamah nak.” Ujar Arini dengan parau. Tubuhnya terasa gemetaran dengan tangis yang ia coba tahan.


“Bodoh! Keluar kamu!” seru Kean pada Wati. Matanya tampak menyalak karena kesal melihat tatapan Wati pada ibunya.


“Ma, maafkan saya nyonya.” Wati baru tersadar dari rasa terkejutnya. Ia membekap mulutnya sendiri yang lancang berteriak.


“Ada apa tuan?” Kinar yang baru tiba segera menghampiri.


“Bawa pelayan bodoh ini keluar! Jangan biarkan dia masuk lagi ke kamar ini.” Tegas Kean seraya menunjuk Wati. Terlihat jelas kilatan kemarahan dari mata Kean.


Kinar menoleh Wati yang masih dengan wajah kagetnya. Ia tidak percaya kalau yang membuat kegaduhan di rumah ini adalah Wati. Ia mengambil baki berisi air minum untuk Arini lantas menatapnya dengan mata membulat kesal. Sepertinya tidak hanya Kean saja yang marah pada Wati.


“Pergi!” titah Kinar dengan tatapan mata yang tajam.


“Ba-baik bu. Saya benar-benar minta maaf nyonya.” Ungkap Wati seraya membungkukkan tubuhnya.


Kinar tidak menimpali, ia memilih berlalu untuk menemui Arini.


“Silakan minum nyonya.” Kinar menyodorkan segelas air pada Arini. Ia memang menyuruh Wati untuk mengantarkan air minum ke kamar Arini namun ia tidak menyangka kalau Wati tiba-tiba masuk tanpa permisi.


Dengan tangan gemetar Arini meraih gelas tersebut kemudian perlahan meminumnya.


“Pelayan itu tidak bersalah. Mamah yang salah, karena telah mengagetkannya.” Ungkap Arini seraya menyentuh wajahnya yang mungkin sangat menakutkan bagi sebagian orang.


“Tidak nyonya, ini kesalahan saya karena telah membiarkan sembarangan orang masuk ke kamar nyonya. Saya mohon maaf nyonya.” Kinar berujar dengan penuh sesal. Andai saja tadi ia sendiri yang mengantarkan minum, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


“Mamah tenanglah, akan ada orang yang merawat mamah dengan baik.” Tutur Kean seraya mendekap Arini dengan erat. Di usapnya punggung Arini untuk menenangkan wanita ini. Ia sangat takut kalau sikap pelayan tadi membuat kondisi mental ibunya down.


Arini hanya terangguk dengan rasa sedih yang tiba-tiba mengisi hatinya. Sebegitu takut pelayan itu melihat wajahnya hingga ia berteriak. Maka pantas, banyak orang yang memilih menghindar dari sisinya bahkan tidak ingin mendekat hanya sekedar untuk bertanya kabar.


Hati Arini sedih sendiri dengan rasa terabaikan yang ia rasakan.


****


Di ruang makan, suasana sarapan kali ini terasa begitu tegang. Hanya ada Liana dan Shafira yang duduk mengitari meja besar dengan 8 kursi di sekitar mereka. Masing-masing menatap nanar makanan di atas piring namun pikirannya entah berada di mana.


Pagi ini, Sigit memilih sarapan di kamarnya sementara Kean menemani ibunya makan di kamar Arini. Meski banyak orang di rumah ini, tetap saja terasa sangat sepi. Hanya ada suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu yang menemani sarapan mereka.


Sesekali terdengar helaan nafas berat dari mulut Liana membuat putri cantik di hadapannya menatapnya sejenak. Tapi hingga saat ini, sepertinya Liana masih belum memiliki niatan untuk mengatakan apapun pada Shafira yang sedang menunggu penjelasan.


“Selamat pagi.” Sebuah sapaan membuat Liana dan Shafira mengalihkan pandangannya.


Rupanya ada Marcel yang sudah terlihat rapi dan menghampiri  mereka di meja makan.


“Hay cantik!” Marcel mengusap kepala Shafira membuat sang empunya cukup terkejut. Ia menoleh Marcel yang kemudian duduk di sampingnya dengan garis senyum yang tidak pernah hilang. Sudah cukup lama Marcel jadi lebih sering main ke rumah utama untuk sarapan atau sesekali makan malam bersama. Walau kedatangannya tidak selalu mendapat sambutan yang baik dari tuan rumahnya, namun tidak lantas membuat Marcel berhenti untuk berkunjung.


Shafira mengigit sendoknya sendiri melihat sikap tenang Marcel. Padahal keadaan canggung semalam adalah buah dari perbuatan yang ia lakukan. Shafira masih mencoba menerka apa isi pikiran laki-laki di sampingnya.


“Pagi kakak ipar. Mas sigit belum turun?” pandangannya beralih pada Liana yang tengah di sapanya.


Liana hanya menggeleng dengan kunyahan makanan yang perlahan melambat. Ia menaruh sendoknya, selera makannya tiba-tiba hilang melihat sikap Marcel yang begitu santai seolah ia tengah bersuka cita di area pertempuran yang semalam ia ciptakan. Mungkin hanya Marcel yang tidak merasakan aura penuh ketegangan di rumah ini.


“Ayo di makan. Gak perlu diet-diet, zaman sekarang perlu makan yang sehat dan banyak untuk melawan berbagai macam penyakit.” Cetusnya seraya mengambil sepotong roti yang kemudian ia beri selai, di lipat lalu hap, masuk ke mulutnya.


Ia masih bisa tersenyum melihat wajah kedua wanita di hadapannya yang tengah menatapnya dengan dingin.


“Fira sekarang kelas berapa?” ujarnya berbasa-basi.


“Kelas dua belas.” Timpal Shafira dengan malas. Ia kembali melanjutkan sarapannya. Tidak ada minat untuk berbincang lebih panjang dengan sang trouble maker.


“Nanti kuliahnya ngambil manajemen bisnis aja biar bisa jadi penerus bisnis dady. Gak perlu juga kuliah di luar negri, mending di Indonesia aja jadi fira gak perlu jauh-jauh sama mamih dan dady. Om tau kok rasanya jadi anak bungsu, perlu banyak perhatian. Iya kan?” Marcel menatap Shafira dengan laman namun Shafira malah memalingkan wajahnya.


Sudah muak rasanya makan satu meja dengan orang yang datang hanya untuk membuat onar tanpa merasa bersalah ini. Bisa Shafira perkirakan, setiap Marcel datang ke rumah ini, suasana selalu lebih tidak menyenangkan. Banyak kemarahan yang coba di sembunyikan Sigit lewat sikap dinginnya saat berhadapan dengan Marcel.


“Maksud om apa?” dan ya, Shafira mengambil umpan yang di tebar Marcel.


“Oh, kakak ipar belum cerita rupanya soal mba arini? Apa jangan-jangan kalian belum bertemu dan bertegur sapa?” lagi Marcel menebar umpannya.


“EHM!” Liana berdehem sebagai isyarat agar Marcel menghentikan kalimatnya.


“Okey sorry. Lagi pula, kamu harus dengar langsung dari yang punya cerita. Om hanya penonton setia saja.” Lagi kalimat Marcel terdengar ringan namun sangat menyebalkan bagi Liana.


Shafira menatap Marcel dan Liana bergantian. Ia membutuhkan jawaban. “Siapa sebenarnya yang mau ngejelasin semua ini sama aku?” ujar Shafira yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Marcel hanya tersenyum mendengar pertanyaan Shafira dan ikut menatap Liana menunggu jawaban. Ia sedang menanti seperti apa cara wanita di hadapannya memberi penjelasan pada Shafira.


Liana mengambil air minum di hadapannya lalu sedikit meneguknya. “Sebaiknya kamu bersiap untuk berangkat sekolah.” Timpalnya tanpa menatap Shafira.


“MOM!” gertak Shafira. Ia tidak terima karena rasa penasarannya di abaikan begitu saja oleh Liana. Ia bukan anak kecil lagi yang bisa terima saat di minta untuk menunggu tanpa kejelasan.


Liana tidak bergeming. Ia lebih memilih beranjak dari tempatnya dengan sebaris kalimat sebelum ia benar-benar pergi. “Mas sigit menunggu kamu di ruang kerjanya.” Ujarnya pada Marcel.


“Baik kakak ipar.” Sahut Marcel dengan ceria. “Kamu belajar yang rajin yaa. Ingat, kita akan bekerja sama mengelola perusahaan milik keluarga Hardjoyo.” Imbuhnya seraya menepuk bahu Shafira dan berlalu menyusul Liana.


“SHIT!!” dengus Shafira. Kesabarannya sudah benar-benar habis menunggu jawaban dari Liana.


Menuju ke lantai 2 tempat ruangan Sigit berada, tanpa sengaja Marcel dan Liana berpapasan dengan Kean. Hanya ekspresi dingin yang di perlihatkan Kean pada dua orang di hadapannya.


“Wah, ternyata sangat menyenangkan ya kalau sebuah keluarga kembali berkumpul. Kalo nyari gampang, rumah juga jadi gak sepi. Apa sebaiknya aku juga ikut tinggal di sini aja?” Sindir Marcel yang sengaja bersuara lantang agar di dengar Kean.


Kean hanya melirik sebentar, ia tidak tertarik untuk menimpali sindiran pamannya. Ia memilih berlalu sebelum akhirnya Marcel menahan lengan Kean.


“Ingat, seekor anjing pun masih tau rasa terima kasih pada siapa pun yang memberinya makan.” Bisiknya dengan penuh penekanan.


Ia tidak menunggu Kean menimpali kalimatnya. Baginya lebih baik ia berlalu dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil memantik kekesalan keponakannya. Itu cara Marcel menyerang mental keponakannya.


Dan satu langkah lagi, apa yang ia inginkan akan ia dapatkan.


******


“Apa sebenarnya yang kamu rencanakan?” suara Sigit terdengar lantang saat berdiri di hadapan Marcel.


Ia menatap sang adik dengan tidak suka namun Marcel masih bisa tersenyum saat menghadapi Sigit.


“Waahh… Memangnya menurut mas apa yang aku rencanakan? Aku hanya ingin mengeratkan kembali hubungan keluarga kita. Apa salahnya?!” jawabnya enteng.


“HAHAHAHAHA….” Sigit tertawa lebar mendengar jawaban Marcel yang terdengar ironis. Marcel yang semula terdiam pun ikut tertawa.


“Jangan berbohong!” gertak Sigit kemudian. Seketika tawa Marcel ikut terhenti. Sigit meraih kerah baju Marcel lantas mencengkramnya dengan erat. “Saya tau kamu tidak sebaik itu!” kalimat Sigit terdengar pelan namun penuh penekanan.


Melihat ekspresi Sigit, Marcel hanya memperlihatkan sunggingan senyum sarkasnya. Ia memegang tangan Sigit yang mencengkram bajunya dan berusaha melepaskannya. “Kalau begitu, mari kita bicara baik-baik. Sepertinya, kursi ini cukup nyaman untuk kita duduki.” Timpalnya kemudian.


Sigit mengibaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Marcel lantas kembali duduk di tempatnya.


“Katakan!” titahnya saat melihat Marcel yang sudah terduduk seraya merapikan kerah bajunya.


“Mas tau, mas memiliki lebih banyak hal di banding yang aku punya.” Marcel memulai kalimatnya yang di kemas dengan manis.


“Mas punya dua istri, dua anak dan tentunya satu adik yang paling baik sepertiku.”


“Sementara aku, aku kesepian. Tidak ada salahnya bukan kalau aku memberikan penawaran, ya sejenis kesepakatan dengan mas.” Marcel memperlihatkan wajahnya yang di buat sesedih mungkin.


Mendengar kalimat Marcel, Sigit hanya berdecik. Ia sudah bisa membaca arah pembicaraan adik semata wayangnya.


“Anak perusahaan mana yang kamu mau?” tanyanya dingin. Negosiasi dengan Marcel tidak akan jauh dari melulu masalah uang dan pembagian harta yang menurutnya tidak pernah adil. Dua anak perusahaan yang di pegangnya, tidak lantas membuat adiknya merasa cukup dengan apa yang di milikinya.


“Cckckck, no! Bukan anak perusahaan yang aku minta. Aku hanya meminta ini,” Marcel menyodorkan ponselnya yang menampilkan sesuatu di layar ponselnya.


“Jangan licik kamu!” timpal Sigit dengan amarah yang mulai tersulut.


Marcel hanya terkekeh mendengar jawaban sang kakak. Sudah bisa ia tebak kalau negosiasi dengan sang kakak akan cukup sulit. Ia beranjak dari tempat duduknya, lantas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


“Tidak masalah kalau mas tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan. Hanya saja, aku perlu mengingatkan kalau Hiroshima dan Nagasaki hancur karena kesepakatan kedua belah pihak tidak tercapai. Tolong, ingat itu baik-baik.” Ancamnya dengan penuh keyakinan.


Mata Sigit tampak membulat mendengar kalimat Marcel. Kali ini dengan berani Marcel menantang dan mengancamnya. Sepertinya Marcel bersungguh-sungguh dengan yang ia minta.


Dalam beberapa saat Marcel berlalu dengan senyuman sarkas yang ia tinggalkan untuk sang kakak. Ia bersiap menyambut genderang perang yang sudah di tabuh Sigit.


"Tunggu saja." umpatnya dalam hati.


*****