
“Jangan kamu janjikan apa-apa. Saya akan melihatnya dulu.”
Kalimat itu samar-samar Disa dengar saat ia masuk ke kamarnya. Kean sudah mandi, masih menggunakan handuk dan sedang bertelepon dengan seseorang dan pembicaraannya terdengar serius.
Disa menyimak saja seraya menyiapkan baju untuk suaminya.
“Saya belum tau, kalau nanti pihak luar nanya, kamu bilang aja masih dalam peninjauan. Selain itu, tolong kirim berkas tentang perusahaan itu ke email saya.”
“Tidak perlu, saya akan pergi sendiri. Kamu siapkan saja tiket keberangkatan saya, flight pagi ini.”
Sampai pada kalimat ini, Disa mengerti sepertinya Kean akan bepergian. Kalau sudah dengan menggunakan pesawat, tentu bukan jarak yang dekat.
“Iya, boleh. Nanti kamu jelasin ke buyer untuk hal itu.” tandas Kean sekali lalu mengakhiri panggilannya.
Saat ia berbalik, terlihat Disa yang tersenyum memandangnya seraya memegangi baju Kean di hanger. Kean mengguyar rambutnya kasar, seperti menyesalkan pembicaraannya di dengar Disa. Perlahan menghampiri Disa dengan wajahnya yang serius.
“Ada yang terjadi a?” terlihat benar perubahan wajah suaminya yang serius dan bingung.
“Hem. Aku harus ke luar kota, ada yang harus aku urus.” Di ambilnya baju yang ada di tangan Disa dan ia taruh di atas tempat tidur.
Mengenakan kaos singlet dan kemeja yang kemudian ia kancingkan.
“Untuk berapa hari? Aa mau aku siapin apa aja?” sudah bersiap di depan lemari.
Ini pengalaman pertamanya mendapati sang suami harus dinas luar, masih belum tahu apa yang harus ia siapkan.
Kean terduduk malas di tepi tempat tidur, membuka ponselnya sebentar dan membaca pesan yang dikirimkan seseorang.
“4 hari. Dua stel baju formal, sisanya baju santai.”
Lama, pikir Disa. Ia akan sendirian di kamar ini selama 4 hari ke depan. Tidak terbayang seperti apa nanti sepinya.
“Iya. Kalau boleh tau, aa mau kemana? Biar aku sesuaikan pakaian yang mau aa bawa, siapa tau kan udaranya panas atau dingin.”
“Jogja.” Kean menatap Disa laman. Tidak ada protes dari istrinya tapi malah semakin menambah rasa tidak tenangnya meninggalkan Disa.
“Kamu bisa tinggal di town house kalau mau.” Ini tawaran paling baik menurutnya.
“Gak pa-pa, aku di sini aja. Kan ada mamah, fira dan aku juga bisa jagain papah.”
Disa menghampiri Kean dan duduk di sampingnya. Suaminya butuh di tenangkan.
“Aa yang fokus aja di sana, supaya urusannya cepet selesai jadi aa bisa cepet pulang.”
“Semangat yaa, setiap masalah pasti akan ketemu jalan keluarnya.” Ia mengusap lengan Kean memberi semangat.
Lihat senyumnya yang polos, membuat Kean ingin memeluknya.
Di raihnya tubuh Disa lantas ia peluk. Kean menempatkan kepalanya di bahu Disa yang kemudian di usap Disa dengan lembut.
“Suami aku mah hebat, masalah apapun pasti bisa di selesaikan. Semangaatt yaaa…”
Kean hanya tersenyum. Disa selalu bisa memberinya dukungan yang memang sedang ia perlukan. Sayangnya, yang ia rasa berat saat ini adalah bukan masalah perusahaan melainkan masalah perasaannya terhadap Disa.
Andai dia mengerti.
Beberapa menit saja, Kean merasakan satu sisi hatinya tenang namun di sisi lainnya tidak karuan. Ia melepaskan pelukannya lantas menatap Disa laman. Di usapnya pipi Disa dengan lembut.
“Mau siap-siap sekarang?” tanya Disa. Ia ingat benar kalau suaminya harus berangkat dengan segera.
Kean terangguk pelan.
“Okey, aku siapin dulu semuanya. Aa pake baju dulu soalnya mamah ngajak kita sarapan bareng. Gak pa-pa kan?” berpindah pada lemari dan mulai memilihkan baju untuk suaminya.
“Iya.” Sahut Kean pendek, tidak terlalu bersemangat.
Sambil mengenakan pakaiannya, Kean memperhatikan Disa yang asyik mengemas pakaiannya ke dalam sebuah koper. Semua di tata dengan rapi agar mudah di cari. Saat Disa menolehnya, ia segera mengalihkan pandangan pada cermin besar yang ada di hadapannya. Kali ini, ia tidak siap melihat mata Disa yang menatapnya terlalu hangat. Rasa bersalahnya masih besar.
Selesai mengemas semuanya, Kean dan Disa sama-sama turun menuju meja makan. Sudah ada Arini, Liana dan Shafira di kursi masing-masing.
“Loh, mau kemana ini?” Arini tampak kaget saat melihat Kean membawa sebuah koper di tangannya.
Disa menoleh Kean, menunggu suaminya sendiri yang menjawab. Laki-laki itu menarikkan satu kursi untuk tempat Disa duduk lantas ikut duduk di sampingnya.
“Ada perjalanan bisnis selama 4 hari.” Sahut Kean pendek. Ia mengambil selembar roti yang kemudian ia olesi dengan butter.
“Teteh ikut?” di sambung pertanyaan Shafira.
“Nggak, aa aja.” Berusaha tersenyum saat memberi jawaban. Disa berharap ia bisa terlihat baik-baik saja.
“Kenapa gak ajak disa? Biar dia juga tahu seperti apa pekerjaan suaminya. Lagian kasian masa pengantin baru kamu tinggal-tinggal.”
Shafira terangguk sepakat dengan apa yang di katakan Arini.
“Iya, nanti teteh bete sendirian di kamar. Eh tapi, kalo abang gak ada aku kan bisa ngajak teteh main keluar. Mau gak teh?”
“Heh, jangan macam-macam kamu!” Kean yang menyahuti dengan garang membuat nyali anak itu menciut.
Satu sudut hati Shafira tersenyum karena berhasil memancing beriak cemas kakaknya.
“Kamu mau ke mana emang nak? Ajak aja disa, kan seru pergi ke luar kota berdua. Kamu mau kan sa?” sulit kalau Arini sudah bertanya dengan setengah memaksa.
“Aa mau kejogja mah, ada urusan bisnis. Disa gak mau ganggu aa. Disa di rumah aja.” Ada baiknya ia yang menetralisir keadaan.
“Iya, kean juga gak bisa nemenin disa kalo disa ikut. Bakal sering kean tinggal-tinggal. Lebih kasian nantinya.”
“Wah kalo jogja sih gak masalah. Ajak aja disa tinggal di peternakan kita. Sambil nunggu kamu, dia bisa sambil ngelukis dan liat-liat sekitar sana. Gak akan bosen dia.” Gayung bersambut saat ide itu begitu cepat muncul di kepala Arini.
Disa dan Kean saling menoleh, belum bisa menyimpulkan.
“Sa, kamu tau kan kalau suami kamu ini gak bisa ngurus dirinya sendiri? Pasti kerepotan kalau pergi sendiri. Apa kamu tega membiarkan kean di sana kebingungan sendiri?”
Mengingatkan Disa pada salah satu kelemahan Kean, sulit mengatur kebutuhannya. Terlebih suaminya akan fokus bekerja, bisa Disa bayangkan mungkin Kean akan lupa hal-hal penting untuk dirinya sendri, semisal makan.
Arini memang pintar memberi Disa alasan untuk ikut, dengan memancing kecemasan menantunya.
“Jadi, gak ada salahnya kamu ikut, sambil melihat dunia luar juga.”
“Jogja itu menyenangkan loh.”
“Kamu mau ikut?” tanya Kean kemudian. Sekuat apapun ia menolak, akan ada kalimat paksaan berikutnya dari Arini.
“Mamah akan minta pak Marwan beliin tiketnya. Kamu,”
“Kean minta roy aja mah.” Jeda Kean dengan cepat. Benar bukan, Arini akan langsung bertindak saat ia masih berpikir.
“Okey!” sahut Arini girang. Ia menyuapkan makanannya dengan tenang. Kali ini, Arini menang.
"Ciee honeymoon..." ledek Shafira dengan senyum isengnya.
Kean membalasnya dengan tatapan tajam yang langsung membuat gadis itu kembali fokus dengan sarapannya.
Disa mulai menyiapkan pakaiannya. Hanya beberapa potong saja karena ia akan tinggal di rumah milik keluarga mereka. Katanya ini sebuah peternakan dengan sebuah rumah yang biasa mereka tempati saat liburan. Disa bahkan baru tahu kalau keluarga ini pernah liburan bersama.
Sebelum berangkat, Disa sempatkan untuk menemui Sigit. Ia ingin berpamitan pada ayah mertuanya.
“Pah, disa pergi dulu yaaa. Nggak lama kok, cuma 4 hari aja.”
“Aa ada urusan di luar kota dan disa akan nemenin aa.”
“Do’ain disa sama aa ya, semoga urusan kami selesai dengan cepat.”
“Papah jangan lupa makan yang banyak, perutnya jangan kembung lagi. Nanti disa bawain oleh-oleh buat papah."
"Assalamu’alaikum pah…” Disa mencium tangan Sigit sebelum pergi.
Kean yang berdiri di luar kamar, bisa mendengar apa yang diucapkan istrinya. Sedekat ini sekarang hubungan yang di buat Disa dengan ayahnya.
Dan ia, malah semakin jauh. Sangat jauh, karena ada banyak kemarahan yang menghalanginya untuk mendekat.
******
Perjalanan singkat dilalui Disa dan Kean. Selama di dalam pesawat Kean masih sibuk membaca dokumen yang ada di tangannya. Dahinya tidak henti berkerut dan mereka tidak berbincang sama sekali. Seperti masalah yang dihadapinya cukup berat hingga raut wajahnya selalu kaku.
Hampir satu jam setengah waktu mereka habiskan dalam suasana hening. Baru saat akan landing Kean kembali memasukkan dokumen yang dibacanya pada tas laptop yang ia bawa.
“Sa, nanti kita akan ke peternakan dulu. Kamu tunggu di sana, aku pulang mungkin agak malam.” Kalimat itu yang diucapkan Kean sebelum mereka turun dari pesawat.
“Aa mau ketemuan di mana sama rekan bisnisnya?”
“Aku nunggu kabar dari mereka. Yang jelas tidak di perusahaannya.” Tegas Kean.
“Yuk!” ia mengulurkan tangannya mengajak Disa beranjak.
Masih ada perhatian yang Kean sisipkan di antara keseriusannya terhadap pekerjaan.
Dengan senang hati Disa menerima uluran tangan itu. mereka turun dari pesawat, menuju tempat pengambilan barang. Saat tiba di area penjemputan, seseorang mengangkat tangannya dan tersenyum saat melihat kedatangan mereka.
“Wah selamat datang tuan. Selamat datang kembali di jogja.” Sambut laki-laki ramah yang menyalami Kean.
“Terima kasih. Perkenalkan, ini istri saya, paradisa.” Kean pun memperkenalkan Disa pada laki-laki tersebut.
“Oh iya, saya mendengar banyak dari nyonya. Selamat datang di jogja nona muda. Perkenalkan saya Kemal.” Laki-laki itu pun mengulurkan tangannya pada Disa.
“Terima kasih mas Kemal, salam kenal.” Sahut Disa. Mereka berjabat tangan singkat.
“Baik, silakan tuan ini kunci mobilnya. Saya akan mengawal tuan dari depan.” Menyodorkan kunci mobil pada Kean.
Rupanya, suaminya sudah menyiapkan banyak hal saat tadi sebelum keberangkatan ia sibuk dengan benda pipihnya.
“Terima kasih. Kami akan ke peternakan terlebih dahulu.”
“Baik tuan. Ibu saya sudah menyiapkan makanan special untuk tuan dan nona muda.” Timpal Kemal dengan semangat.
Bisa Disa tarik garis kesimpulan, Kemal adalah orang kepercayaan keluarga Hardjoyo yang menjaga peternakan mereka.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, mereka menuju sebuah peternakan di pinggiran kota Yogyakarta. Udara yang berbeda di rasakan Disa saat menurukan kaca jendela. Sepanjang jalan yang tampak menarik pandangan matanya, berbeda dengan Jakarta.
Ini untuk pertama kalinya bagi Disa menginjakan kakinya di jogja. Suasana yang akrab langsung terasa saat mereka melihat interaksi orang-orang di sekitarnya.
“A, di sini banyak pembatik kan ya?” ia hanya tahu itu dari cerita orang-orang.
“Iya. Ibunya Kemal juga seorang pembatik, rumahnya tidak terlalu jauh dari peternakan.”
“Oh ya? Aku boleh ke sana kan?” Disa dengan antusiasnya yang tinggi.
“Iya. Selama aku pergi, kamu akan di temani bu retno. Kemal juga punya adik yang seumuran kamu kalo gak salah.”
“Aa kenal baik sama mereka?”
“Hem, mereka masih kerabat jauh mamah.”
“Ooo pantesan. Mas kemalnya juga ramah banget ya?”
Mendengar kalimat Disa yang ini, Kean langsung melirik tajam. Tidak suka saat Disa memberi penilaian pada laki-laki lain.
“Maksudku, dia sodara yang baik.” Cepat-cepat Disa mengklarifikasi kalimatnya sendiri.
Haduuhh itu lirikannya, seperti bersiap mengeluarkan pedang yang akan ia hunuskan pada laki-laki manapun yang di puji Disa.
“Kamu sama bu retno aja, gak perlu banyak ngobrol sama Kemal. Dia udah punya istri.” Sinis Kean.
Nah kan, belum apa-apa sudah ada peringatan lebih lanjut.
“Iya a.” hanya bisa patuh sebelum negara api menyerang.
Kadang Disa bingung dengan sikap Kean. Di satu waktu suaminya ini terlihat acuh tapi di waktu lain sangat over protective. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Kean, kenapa sulit sekali di tebak. Kenapa ia merasa seperti sedang di tarik ulur?
Pada titik ini, Disa harus membenarkan yang dikatakan Mery sebelum ia memutuskan menikah. Kalau pernikahan itu, bukan ujung dari sebuah perasaan cinta. Tapi, gerbang awal untuk mencintai pasangan kita.
Dalam sebuah pernikahan, kita akan terus belajar memahami pasangan kita yang sampai kapanpun sebenarnya akan tetap menjadi orang asing. Yang bertahanlah yang kemudian akan menemukan kebahagiaan walau itu bukan akhir segalanya.
Maka tidak salah kalau saat menikah orang-orang akan mengucapkan “Selamat menempuh hidup baru.” Ya, semuanya serba baru. Baru tahu kekurangannya, baru tahu kelebihannya dan baru tahu cara memahami serta mencintai seutuhnya.
Inilah hidup yang baru, dengan rasa di cemburui yang tidak terlalu baru, hehehe...
*****