
2 minggu, menjadi waktu yang padat merayap dan membuat was-was bagi Disa dan tim. selama dua minggu itu, Disa fokus dengan produksi pakaian yang ia desain. Bolak balik ke rumah produksi rekanannya untuk melihat sejauh mana progress pembuatan baju dengan jumlah ribuan tersebut.
Tingginya antusiasme pelanggan baik pelanggan baru atau pun lama membuat Disa harus berpikir keras jangan sampai ada yang kurang dari kualitas baju yang di buatnya.
“Kak, titik krusialnya itu adalah jangan sampe motif gak sesuai dengan yang aku bikin. Walaupun ini bukan baju batik tapi baju yang aku desain ada konsepnya dan jangan sampe keluar dari konsep itu.” Disa menegaskan keinginannya pada Mila saat mereka mengecek kedatangan barang kloter pertama.
“Siap! Tapi kayaknya quality control mereka juga bagus dek. Liat aja jahitannya, emang gak kaleng-kaleng vendor pilihan tuan muda.” Puji Mila seraya memperhatikan beberapa baju yang mulai mereka packing.
“Iya, jahitannya apik.” Disa membolak balik baju di tangannya dan memperhatikan motif yang sudah ia buat. Benar-benar sesuai dengan ekspektasinya.
“Teliti banget ya mereka, aku suka. Berasa aku sendiri yang jahit.” Imbuh Disa.
Ia memasangkan beberapa baju di manekinnya dan memandangi dari kejauhan. Lantas ia tersenyum sendiri. Ada rasa bangga dan bahagia yang menyeruak dalam dadanya.
“Yang order pasti udah gak sabar nunggu dek.” Mila ikut berdiri di samping Disa dan memandangi manekin yang mengelilingi mereka.
“Hem,, aku harap mereka bisa suka sama baju bikinan aku.” Disa jadi tertegun.
Dulu, setiap kali melewati sebuah toko baju dan melihat baju yang di pajang di dalam etalase kaca, Disa hanya bisa berharap untuk menyentuhnya. Jika mungkin, ia ingin mencobanya walau belum tentu bisa membelinya. Ia sadari pakaian tidak pernah menjadi prioritasnya karena sudah menemukan uang yang cukup untuk makan dan sekolah saja merupakan sebuah keberuntungan baginya.
Memakai baju yang cantik dan nyaman hanya menjadi lamunannya sambil berharap suatu hari lamunan itu menjadi nyata. Tapi siapa sangka, yang terjadi sekarang lebih dari itu. Ia tidak hanya bisa memakai baju yang indah yang dulu hanya ada di imajinasinya. Melainkan ia bisa membuat mimpi banyak orang tercapai, untuk memakai baju yang indah. Hidup memang tidak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, seperti halnya yang Disa alami saat ini.
“Dek, kalau baju yang sekarang selesai, apa kita akan membuka PO kedua?” tanya Mila tiba-tiba. Melihat antusiasme para pembeli, sepertinya membuat baju yang serupa dalam jumlah lebih besar akan memberi mereka keuntungan.
“Nggak kak. Aku mau ngasih kesan exclusive sama baju yang pelanggan beli. Aku juga udah punya beberapa desain yang nanti mau aku bikin. Tapi sebelumnya, aku mau memenuhi satu mimpi aku dulu.”
“Oh ya, mimpi apa?” Mila jadi penasaran.
“Em nanti aku kasih tau." Diambilnya selembar kartu nama dari dalam dompetnya.
"Sekarang tolong bantu aku untuk menghubungi pengurus panti ini. Tanyakan ada berapa anak yang berulang tahun di bulan ini. Nanti aku kasih list beberapa pertanyaan untuk kak mila konfirmasi.” Terang Disa seraya menyodorkan sebuah kartu nama.
Mila memandangi kartu nama itu dengan dahi sedikit terkerut.
“Ow okey.” Sahutnya walau masih belum paham apa yang Disa inginkan.
“Oh iya, ini aku sama anak-anak mau mulai packing ya baju yang udah jadi. Sambil nunggu baju lainnya dateng.”
“Boleh kak. Aku nerusin pekerjaanku dulu. Makasih yaaa.” Di tepuknya bahu Mila sebelum Disa pergi menuju ruangannya.
“Sama-sama.” Timpal Mila.
Disa pun berlalu pergi dan perlahan pintu ruang kerja tertutup.
“Kuy! Gaskeun!” seru Mila pada teman-temannya. Mereka sudah bersiap untuk menge-pack baju-baju pesanan pembeli.
“Siap kak.” Sahut armada Mila, kompak.
*****
Berada di ruang kerjanya seorang diri, Disa mulai tenggelam dalam imajinasinya. Buku sketsa menjadi teman setianya untuk membuat beberapa desain. Saat imajinasinya tengah penuh, ia memang lebih suka menyendiri agar fokus pada apa yang di kerjakannya.
Beberapa gambar ia buat. Baju untuk konsumen dan tentu saja baju untuk anak panti. Ada sekitar 4 baju yang harus ia desain. Tiga baju anak perempuan dan 1 baju anak laki-laki. Mereka adalah anak-anak yang berulang tahun di bulan ini.
Seperti janji Disa dulu, ia ingin membuat anak-anak yang kurang beruntung bisa merasakan paling tidak satu kali saja melewati ulang tahunnya dengan pakaian yang ia desain. Dan saat ini ia memulai janji itu.
Memandangi foto satu per satu anak dan tangannya mulai lincah bergerak membuat desain hingga pola. Bibirnya tersenyum tipis membayangkan saat anak-anak ini memakai baju yang di buatnya.
Tiga anak perempuan itu di desainkan gaun sementara anak laki-laki di buatkan kemeja dan celana. Ya ide untuk anak perempuan memang selalu banyak di pikirannya sementara untuk anak laki-laki kadang ia harus berpikir keras agar menemukan desain yang eksklusif.
“Tok-tok-tok.” Suara ketukan di pintu menjeda beberapa saat lamunan Disa.
“Masuk.” Sambutnya.
Tidak lama pintu terbuka dan tampaklah wajah cantik Clara yang tersenyum padanya.
“Hay. Ganggu gak nih gue?” tanya Clara sungkan. Mengingat assistant Disa mengatakan kalau nona mudanya sedang sibuk membuat desain.
“Aku ada waktu kok. Gimana, ada yang bisa aku bantu?” membalas pelukan Clara sebagai ungkapan kerinduan.
Clara hanya tersenyum, lantas ia menunjukkan punggung tangannya pada Disa.
“Astaga! Are you serius Claire?” seru Disa saat ia melihat Clara yang menunjukkan punggung tangannya yang tersemat sebuah cincin. Tunggu, ini tangan kanan kan?
“Wait, kamu nikah tanpa ngabarin aku?” Disa memegangi tangan kanan Clara tempat cincin itu tersemat.
Clara mengulum senyum seraya mengangguk. Lihat wajahnya yang berbinar bahagia.
“Kok bisa?!” antara terkejut dan senang.
“Hahaahhaha… Bisa lah!!!" serunya dengan tawa bahagia.
"Gue juga gak nyangka kalo bokap tiba-tiba nyuruh gue nikah pas gue sama marcel lagi liburan bareng bokap. Niat gue cuma mau ngasih kejutan kalo marcel ngelamar gue depan bokap, eh malah langsung nyuruh akad hari itu juga.” Terang Clara.
Ia jadi mengingat saat Marcel yang ketar-ketir harus menyiapkan semuanya dalam satu hari sementara mereka dalam posisi berlibur.
“Gak apa-apa nikah siri dulu, papah gak mau ngeliat kalian nempel-nempel dan di liat banyak orang padahal belum ada ikatan resmi. Gitu kata bokap.” Clara bercerita dengan polos.
“Ya allah…. Alhamdulillah… Yang baik memang harus di segerakan. Selamat yaa claire….” Disa kembali memeluk Clara dengan perasaan bahagia yang ikut membuncah.
“Thanks sa. Tapi gue gagal deh pake baju lo di hari penting gue.” Clara sedikit mengkerut kecewa.
“Loh ya nggak apa-apa. Kan bakalan ada acara resepsi dan nikah resminya kan?” Disa memandangi Clara dengan perhatian penuh.
“Iya sih. Dua minggu lagi. Tapi tetep aja, hari pertama marcel menjabat tangan bokap gue, ngucapin akad dan resmi sebagai suami gue, gue cuma pake simple dress yang lo buat waktu di paris. Padahal gue pengen banget pake kebaya.” Keluh Clara. Ini pernikahan impiannya sejak dulu. Memakai kebaya yang diwariskan ibunya dan di sempurnakan oleh Disa.
“Hahahhaa.. It’s okey. Yang penting kan udah di halalalin duluan. Itu yang terpenting dari hubungan dua orang yang saling cinta.” Hibur Disa.
"Iya sih. Alhamdulillah..." Akhirnya Clara tersenyum juga. Ia mengusap wajahnya penuh syukur.
“Duduk lah. Kita bahas kamu mau pake baju yang konsep gimana?” Disa menarik kursinya mendekat di samping Clara.
“Okey.” Clara mulai menghela nafas panjang, menyiapkan imajinasi yang selama ini ada di benaknya. Konsep penikahan dan seperti apa ia ingin terlhat di hari bahagianya itu.
“Classic Romance. Ya, gue sama marcel sepakat buat ngambil tema Classic Romance.” Ujar Clara dengan yakin.
“Oo okey..” Disa sedikit tercenung. Mulai berpikir seperti apa baju yang akan ia buat untuk menyempurnakan penampilan Clara saat menjadi ratu sehari.
Clara tidak sabar menunggu, ide brilian apa yang akan di buat Disa.
Beberapa saat berpikir dan Disa mulai menggoreskan pensilnya di atas buku sketsa. Sebuah gaun pernikahan yang bagian bawahnya lurus dengan sedikit ekor menjuntai membentuk siluete tubuh Clara yang indah. Cepat sekali tangannya bergerak sambil sesekali menoleh Clara sebagai sumber inspirasinya. Bagian tangan ia buat polos dan fokusnya di bagian punggung dan bawah tubuhnya yang merupakan kebanggan Clara.
“Tema gaunnya, broken white and light grey, gimana?” Disa mulai memberi detail dan sedikit penjelasan pada gambar buatannya.
“WAAWWW!!!!” Clara mengambil buku sketsa dan memandangi desain yang Disa buat.
“I love it sa.” serunya. Matanya sampai berkaca-kaca membayangkan seperti apa bentuk baju ini saat nanti ia kenakan.
“Sykurlah kalo kamu suka.” Ungkap Disa.
Clara hanya mengangguk dengan air mata yang berkumpul di sudut matanya. Di peluknya Disa dengan erat.
“Akhirnya gue bakal married dan pake baju buatan lo. Sumpah desain ini gue banget. Makasih sa.” Ungkapnya dengan bersungguh-sungguh.
“Sama-sama claire. I’m happy for you.” Balas Disa. Ia menepuk-nepuk punggung Clara dan ungkapan kebahagiaan yang ikut ia rasakan.
Melihat seseorang yang menjadi bagian dalam hidup kita mendapat kebahagiaan, rasanya sangat menyenangkan. Hah, Clara finally…
****