Marry The Heir

Marry The Heir
Ikhlas tersulit



POV Disa


Deburan ombak terus menyapaku, memberi basah pada kedua kakiku yang tanpa alas. Aku masih terduduk di bangku tepi pantai yang dulu selalu aku datangi saat aku merasa tidak baik-baik saja.


Maka kali ini pun sama, aku sedang tidak baik-baik saja.


Di sampingku ada sebuah tas ransel yang berisi barang-barang pribadi yang aku ambil dari rumah utama.


Beberapa waktu lalu, bu Kinar menelponku, katanya ada yang ingin ia bicarakan. Aku tahu, masalahku dengan tuan mudalah yang akan menjadi bahan pembicaraan kami.


Berbeda dari biasanya, Bu Kinar terlihat lebih baik memperlakukanku. Kami berbicara di pavilion tempatnya tinggal, hanya kami berdua bahkan cicakpun tidak berani menguping.


“Bagaimana kabarmu?” pertanyaan sederhana itu menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab.


“Baik.” Tidak sesimple itu jawabannya karena aku memang tidak sedang baik-baik saja. Aku yakin, bu Kinar melihat wajahku yang kuyu dan mataku yang sembab setelah semalaman menangis.


Ia meraih tanganku, menggenggamnya dengan hangat. Tangan kami masih aku pandangi dengan penuh rasa haru. Semanis ini wanita ber-title tegas memperlakukanku. Tidak ada gurat kemarahan yang sudah aku bayangkan sejak saat ia mengirimiku pesan untuk datang.


“Kamu tahu sa, saat kita berpisah dengan orang yang kita sayangi, tidak hanya hati kita yang luka tapi juga hatinya.” Ada senyum kelu yang ia tunjukkan saat mengatakan kalimat itu. Seolah ia tahu benar perasaanku saat ini.


“Cara terbaik mengobati lukamu adalah dengan melepaskan sepenuhnya harapan yang kamu buat.”


“Entah kamu atau tuan muda yang berkorban tapi saya yakin kalian melakukannya karena kalian memang sanggup.” Bu Kinar menebak dengan benar perasaan kami.


Aku sadar, tuan muda bersedia melepaskanku bukan karena ia tidak mau berjuang untukku. Ia ingin melindungiku dan berusaha menghormati keputusan yang aku buat. Sebijak itu laki-laki yang selalu hidup dalam hatiku.


“Jangan terlalu lama bertahan dalam rasa sakit, jika untuk melupakan rasa sakit itu kamu harus pergi, maka pergilah. Sembuhkan lukamu dan beri dia waktu untuk mengering. Kelak kamu akan lebih kuat.”


Kalimat bu Kinar seperti petuah yang tidak bisa aku bantah. Hanya bisa aku akui kebenarannya dan sedikit demi sedikit menguatkan hatiku. Ternyata seperti ini rasanya saat bu Kinar sudah mulai banyak bicara alih-alih hanya memberi perintah.


Menenangkan dan membuat pikiranku terbuka.


“Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang pelayan, hanya pikiran orang-orang saja yang terlalu sempit.”


“Kamu, “ Bu Kinar semakin mengeratkan genggaman tangannya saat melihat air mataku yang lolos menetes.


“Punya kesempatan untuk menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Di luar tembok tinggi rumah ini, kamu lebih bisa menjadi sesuatu. Sudahi rasa sakitmu, buat itu jadi kekuatan. Saya yakin, kamu bisa melewati ini semua.”


Akhirnya aku tersedu, terisak dengan tangis yang tidak lagi aku tahan. Bu Kinar memelukku, sangat erat seolah ia tengah mengalirkan energinya untukku.


Dia benar, aku berhak untuk lebih bahagia. Jika caranya adalah dengan pergi, maka kenapa aku harus terpuruk di sini. Sesekali aku perlu beranjak untuk mengobati lukaku.


Bu Kinar membantuku membuat pilihan dan pilihan itu akhirnya aku ambil.


Keluar dari gerbang belakang dan ku tatap lagi rumah megah yang selama ini menjadi tempatku mengais rejeki. Walau tidak membuatku kaya tapi paling tidak bisa membuatku bertahan hidup.


Banyak hal yang aku pelajari dari pengisi rumah ini. Pentingnya kepedulian satu sama lain antar anggota keluarga menjadi pengalaman yang paling besar yang aku dapat. Aku berterima kasih untuk itu.


Ku hela nafasku dan berbalik untuk melanjutkan langkah keluar dari rumah ini. Tas ransel masih aku genggam erat seraya menyusut air mata yang menetes untuk terahir kalinya.


“Disa!” terdengar suara teriakan dari belakang sana. Aku mengenal suara itu.


Tidak lama ku dengar suara langkah kaki yang berlarian menghampiriku.


“Sa, kamu mau pergi?” tiga temanku berdiri menghadang langkah pendekku.


Nina yang mellow langsung menangis saat melihat mataku yang merah dan basah.


Aku hanya terangguk, belum kuat untuk mengeluarkan kata-kata.


“Kenapa tiba-tiba sih? Bu Kinar marah?” Tina yang dewasa menggenggam tanganku dengan erat. Mereka memang tidak tahu apa-apa atau mungkin pura-pura tidak tahu demi menghargai perasaanku.


Aku menggeleng dengan segaris senyum yang berusaha aku tunjukkan.


“Kamu bikin kesalahan apa sih sampe di suruh pergi dan gak boleh pamit sama kita?” Ini si ketus Wita yang bertanya. Cara bicaranya yang lugas, sudah bisa aku terima dan kelak aku akan merindukan tatapan sinis nan keponya.


“Ish! Kamu ngomong apa sih!” Nina menyikutnya, dan aku hanya bisa tersenyum.


Tidak ada yang bisa aku jelaskan. Mereka tidak berkewajiban untuk memikirkan masalahku, mungkin karena itu juga bu Kinar melarangku untuk pamit.


“Kamu mau pulang ke bandung?” Tina menatapku lekat, memberi kekuatan untukku tidak tertunduk lesu.


“Mungkin.” Jawabku pendek, sudah mulai bisa mengendalikan perasaanku hingga suaraku tidak lagi bergetar. Ku tatap lekat satu per satu wajah yang ada dihadapanku. Aku yakin, aku akan sangat merindukan mereka.


“Saaa,, aku bakalan kangen sama kamu. Kamu jangan lupain aku yaa…” Nina merengek di bahuku. Bahu kananku sudah basah oleh air matanya.


“Iya, aku pasti bakal inget sama kamu. Kamu yang akur yaa sama wita.” Aku bergantian memandangi dua wajah polos di hadapanku.


Beberapa bulan bersama-sama, bercanda tawa hingga menghalukan oppa korea, menjadi kenangan yang tidak bisa dengan mudah aku lupakan. Mereka telah menjadi bagian dari hidupku, suara tawa mereka akan selalu aku ingat.


Dan saat ini, Ku hela nafasku dalam, menghirup udara pantai yang dingin dan menerbangkan helaian anak rambutku.


Aku tahu, ia akan menjadi awal baru yang cukup sulit. Melupakan itu tidak segampang menghapus cat lukisan yang melumuri tanganku. Akan ada luka yang ikut serta harus aku obati.


“Jangan terluka disa, ini cara terbaik yang bisa kamu lakukan.” Untuk kesekian lakinya aku mengulang kalimat itu, meneguhkan hatiku kalau yang ku ambil adalah keputusan yang paling benar.


“Semua akan baik-baik saja.” Aku berusaha tersenyum, seolah telah meninggalkan beban di pundakku dan membuat langkah baru setelah membangkitkan paksa jiwaku yang terpuruk.


Hanya beberapa detik saja, sampai kemudian bulir bening itu kembali membasahi pipiku. Semua kisah lama itu terus berlalu lalang di pelupuk mataku meski telah aku buat terpejam. Seperti kaset rusak yang terus berputar tanpa jeda. Sungguh, aku merasakan sesak yang sangat saat ini.


Sesakit inikah perasaan yang jatuh tidak pada tempatnya? Perasaan yang tidak diinginkan namun malah membuatnya jadi begitu dalam, hingga saat aku tinggalkan seperti sebagian hatiku kosong. Iya, perasaan ini tidak seharusnya aku pupuk sejak awal jika aku tahu saat membuangnya akan sesakit ini.


Air mataku mulai mengering, bukan karena aku memaksanya untuk berhenti atau karena rasa sakit itu telah sembuh. Tapi karena matakupun sudah mulai menyerah untuk menangisi rasa sakit ini. Tapi paling tidak, dadaku sedikit lebih lega.


“Tuhan, jika ini yang terbaik untukku, beri aku kekuatan untuk melewatinya. Walau membutuhkan air mata yang deras untuk membersihkan lukaku.” Hanya kalimat itu yang kemudian aku gumamkan untuk memantapkan hati ada pilihanku.


*****


Menjelang malam, Disa baru pulang ke rumah. Cukup ragu untuk melangkah masuk saat melihat Arini dan Kean sedang berada di ruang keluarga dan menonton sebuah film action barat. Jason statham yang sedang berlaga melawan banyak penjahat yang mencoba melukainya.


“Sa, udah pulang? Gimana kabar tantemu?” suara Arini yang menyapa lebih dulu saat melihat kedatangan Disa.


Disa memang meminta izin untuk pergi menengok Meri setelah Kinar memintanya datang ke rumah utama.


“Sudah lebih baik nyonya. Tidak terlalu sesak.” Sahutnya.


Ia masih memegangi tas ransel di tangannya. Keraguannya masih cukup besar untuk sekedar mengatakan keputusannya pada Arini. Namun kembali ia ingatkan dirinya sendiri kalau apa yang ia lakukan adalah keputusan terbaik yang harus ia ambil.


“Nyonya, bolehkah saya bicara sesuatu?” setelah meyakinkan hatinya, ia memutuskan untuk mengatakan apa yang sudah ia susun di kepalanya.


“Boleh, kemarilah.” Arini menepuk tempat di dekatnya untuk Disa duduk.


Dengan ragu Disa duduk, sedikit melirik Kean yang tampak sibuk dengan ipadnya.


“Katakan, ada apa?” suara Arini membuat Disa memfokuskan kembali pikirannya pada apa yang sudah ia rencanakan.


Wanita itu menatap Disa dengan lekat, berusaha membaca pikiran gadis yang tampak ragu dengan apa yang akan ia katakan.


Sedikit melirik Kean dan tuan mudanya mulai berhenti mengusap ipad yang sedari tadi ia gunakan untuk mengalihkan pikirannya.


"Saya bersyukur pernah berada di rumah ini. Bertemu dengan nyonya, tuan muda dan yang lainnya. Tapi,”


Disa menghela nafasnya dalam. Kean yang tertunduk lesu mulai menyimak apa yang akan Disa katakan.


“Sepertinya, saya tidak bisa lagi bekerja di sini nyonya.” Suaranya terdengar parau. Takut-takut ia membalas tatapan Arini yang tengah memandanginya.


“Saya izin, untuk berhenti bekerja di sini.” Kalimatnya ia buat lebih tegas walau ada sesak yang coba di tahannya.


Arini tercenung, memandangi Disa yang kemudian tertunduk. “Disa,“ diraihnya tangan Disa yang kemudian ia genggam dengan erat.


Matanya sudah tampak berkaca-kaca dan beberapa kali Disa menghela nafasnya dalam untuk mengusir sesuatu yang berjogol di dalam hatinya.


“Saya tidak akan bertanya alasan kamu pergi. Saya hanya ingin bertanya, apa kamu yakin dengan pilihanmu?” pertanyaan Arini membuat Disa mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Ia memandangi tangannya yang di genggam Arini, sangat hangat dan lembut.


“Iya nyonya.” Nafasnya mulai tercekat. Ternyata sangat sulit mengatakan hal seperti ini dalam suasana hati yang tidak menentu.


“Saya, merasa sangat beruntung mengenal nyonya. Selama di sini, mungkin saya banyak melakukan kesalahan. Saya mohon maaf untuk itu.”


“Hey, disa.” Arini menarik tubuh Disa untuk ia peluk. Diusapnya punggung Disa dengan lembut membuat air mata yang susah payah ia tahan akhirnya menetes.


Kean yang duduk di samping Arini, memandang kedua Wanita itu sejenak sebelum akhirnya memilih beranjak dan berdiri, bersandar pada dinding seraya memandangi taman di luar sana yang sepi. Hatinya tidak karuan mendengar Disa memutuskan untuk pergi. Ia pikir, Disa hanya ingin mengakhiri hubungan mereka saja tapi ternyata lebih dari itu ia memilih untuk pergi.


“Kamu tidak pernah membuat kesalahan apapun. Sayalah yang seharusnya bersyukur karena pernah bertemu denganmu.” Dilepaskannya pelukan yang semula erat dan memandangi Disa yang tengah mengusap air matanya.


“Saya tidak akan menghalangi. Kamu boleh pergi dan kapanpun bisa kembali.” Diusapnya air mata Disa yang berderai semakin deras.


“Terima kasih nyonya.” Lirihnya kemudian.


Arini hanya terangguk, lantas tersenyum tipis memandangi gadis dihadapannya.


“NGGAK! Mba disa gak boleh pergi!” seru sebuah suara dari arah pintu.


Adalah Shafira yang tiba-tiba datang dan menghampiri Disa.


Beberapa saat lalu, tanpa sengaja Shafira mendengar perbincangan para pelayan yang sedang berkumpul di kamar Tina. Nina tidak henti menangis, melihat barang-barang yang di tinggalkan Disa untuknya. Seragam baru yang belum sempat mereka pakai karena Disa keburu pergi.


Mereka begitu murung seperti baru kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempatnya berbagi.


Disa bukan pelayan bagi Shafira. Ia adalah teman bercerita dan seorang kakak yang bisa melindungi dan menguatkannya saat ia merasa sendiri dan di tinggalkan.


Jika sekarang Disa pergi, apa yang akan terjadi dengannya?


“Non fira?” Disa cukup terkejut melihat Shafira yang datang dengan kemarahan yang menyala di matanya.


“Kenapa tante ngizinin mba disa pergi hah? Dan abang, kenapa abang diem aja liat mba disa mau pergi?” suaranya terdengar bergetar dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.


Kean dan Arini hanya bisa terpaku, memandangi Shafira yang terengah menahan emosinya.


“Apa salah mba disa sampe mba disa harus pergi hah?!” Shafira meneruskan kalimatnya.


Setelah Kinar tidak bisa memberinya jawaban, maka ia memilih bertanya langsung pada Kean dan Arini.


“Non fira, semuanya tidak seperti yang non fira pikirkan.” Disa segera menghampiri Shafira dan berusaha meraih tangannya.


Namun dengan cepat Shafira mengibaskannya. “Fira benci sama mba disa." serunya dengan emosi yang bertambah.


"Mba disa gag lupa kan kalo mba disa pernah janji gak akan ninggalin fira untuk alasan apapun?” pertanyaan itu yang kemudian di lontarkan Shafira dengan lugas, seperti tengah menagih janji Disa tempo hari.


Benar, ia memang pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Shafira kecuali Shafira sendirilah yang memintanya pergi.


“Kenapa? Mba disa lupa?!” gertaknya.


“FIRA!” seru Kean. Ia tidak terima Shafira membentak Disa di hadapannya.


“APA?!”


“Abang mau marah sama fira?" Berganti Kean yang mendapat murkanya Shafira.


"Harusnya fira yang marah sama abang karena abang cuma berdiri kayak orang bego dan biarin mba disa pergi!” Shafira tidak kalah menyalak. Suaranya terdengar serak di ujung kalimat bersamaan dengan tangisnya yang pecah.


“Selama ini, fira cuma punya mba disa. Seseorang yang membuat fira merasa mendapat perhatian dan kasih sayang.”


“Sementara abang, apa abang lupa kalau selama ini abang mengabaikan fira dan berharap kalau fira tidak pernah ada di dunia ini?!” Shafira menatap Kean dengan tajam.


Kean tidak menimpali. Shafira benar, cukup lama ia abai pada sang adik yang tidak pernah ia duga kehadirannya.


Semua terdiam, hanya nafas berat yang kemudian terdengar sulit untuk di hela. Shafira menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis sesegukan di hadapan Disa membuat hati Disa tidak karuan.


“Non fira.” Disa berusaha mendekat. Meraih bahu Shafira yang kemudian ia rangkul dengan erat. Disa tidak menyangka kalau orang tersulit yang harus ia hadapi saat pergi bukanlah Kean melainkan gadis cantik ini.


“Non fira harus tau, walau pun saya pergi, bukan berarti hubungan kita terputus.” Suara Disa tersengal-sengal. Ternyata sangat sulit berbicara sambil menahan tangis.


“Non fira bisa menghubungi saya kapan saja. Mau bercerita apapun akan saya dengarkan. Waktu saya luang untuk non fira.” kalimat penghibur itu yang kemudian ia janjikan pada nona mudanya.


“Non fira pernah bilang, kalau non fira selalu memimpikan memiliki orang-orang yang peduli dengan non fira. Apa non fira sadar, kalau mereka ada di dekat non fira? Non fira hanya perlu membuat kesempatan yang sama seperti yang non fira lakukan pada saya.” Di usapnya punggung Shafira yang mulai melorot namun tangisnya malah semakin menjadi.


Ia memeluk Disa dengan erat seperti enggan untuk terpisah.


Disa menggigit bibirnya yang bergetar menahan tangis lalu menengadahkan wajahnya untuk menghalau air matanya yang nyaris menetes. Ia bisa merasakan kekosongan yang mungkin akan di rasakan Shafira karena ia pun merasakannya. Gadis dingin yang belakangan ini mulai ceria, banyak bercerita hal remeh temeh yang terjadi di sekolahnya hingga cerita cita-citanya menjadi seorang penyanyi. Inilah sisi lain dari Shafira yang tidak banyak orang-orang tahu.


Untuk yang tidak mengenalnya Shafira adalah gadis yang dingin dan jutek namun saat sudah mengenalnya, ia pribadi yang menyenangkan dan hangat. Seperti yang selama ini ia tampilkan di hadapan Disa.


“Tapi nanti fira kangen sama mba disa.” Gadis itu mulai merengek tanpa mau melepaskan pelukannya.


“Saya juga akan merindukan non fira. Kita bisa bertemu di mana pun dan kapanpun. Saya bersedia mendengarkan non fira nyanyi atau memberikan pendapat pada lagu-lagu yang kelak non fira ciptakan. Jadi, jangan lagi merasa di tinggalkan. Hem?”


Perlahan Shafira melepaskan pelukannya. Wajahnya yang putih terlihat kemerahan dan sembab. Diusapnya sisa air mata di pipi Shafira dengan lembut oleh Disa seraya memberinya senyuman tipis. Ia akan sangat merindukan gadis yang hampir tiap malam menelponnya untuk curhat atau sekedar ingin di temani mengerjakan tugas. Kadang kala tidak ada pembicaraan, hanya perlu panggilannya terhubung agar ia tidak merasa sendirian.


“Fira sayang sama mba disa.” Lirihnya parau. Ia mengusap air matanya dengan kasar, lucu sekali.


Disa mengangguk pelan dengan air mata tertahan. Manis sekali ucapan Shafira saat sesuatu yang mahal itu ia dengar.


“Begitupun saya. Jangan bersedih lagi ya. Tolong maafkan saya kalau selama ini saya membuat kesalahan.”


“No. mba disa gak pernah membuat kesalahan apapun. Nggak pernah.” Tegasnya.


Disa hanya tersenyum samar. Ia sangat bersyukur akhirnya bisa membuat Shafira menerima kalau ia tetap harus pergi.


Satu pelukan hangat kembali Disa berikan sebagai sebuah perpisahan pada Shafira. Arini memandangi Disa dengan sendu, walau sulit ia tetap harus membiarkan Disa pergi. Menunggu hingga ia bisa kembali dalam kondisi yang lebih baik


******