
POV KEAN:
Aku masih begitu terkejut saat tiba-tiba mendapat pelukan dari anak kecil yang ada di hadapanku. Setelah selesai bernyanyi, tiba-tiba dia turun lalu berlari ke arahku dan memelukku dengan erat. Tangannya melingkar kuat di pinggangku dengan wajah yang ia benamkan di dadaku.
Ia terisak, menangis dengan lirih hingga membuatku bingung.
Astaga dia bahkan membuang ingusnya di bajuku, menjijikan sekali. Aku bisa merasakan bajuku yang mulai basah karena air matanya.
Sejak ia berlari dari panggung dan menghampiriku, orang-orang kontan memandang ke arah kami dengan wajah penuh haru. Apa-apaan ini, mereka bahkan mengambil beberapa foto kami dan merekam video dengan ponselnya. Dan kenapa dia harus menangis seperti ini?
Ku lirik Disa yang berdiri di sampingku, dia malah ikut menangis. Ayolah, aku butuh bantuan untuk melepaskan pelukan anak kecil ini yang semakin lama semakin erat. Aku harus berbuat apa?
“Makasih abang udah datang. Makasih udah bersedia liat penampilan fira.” Suaranya terdengar tersendat-sendat bercampur dengan tangis.
“Sroookk!!” ada tarikan ingus juga yang ia usap dengan punggung tangannya.
Aku melihat ke sekelilingku dan orang-orang mulai saling berbisik.
“Ya ampun ternyata kakaknya, saya kira pacarnya. Jadi ikut terharu.” Ujar seorang ibu berponi mirip keong mas yang ikut menyusut air matanya dengan tissue. Air matanya berubah hitam dan riasannya mulai luntur setelah kena air mata dan sapuan tissue beberapa kali.
Apanya yang mengharukan, ini menjijikan!
“Apa pun alasan abang datang ke sini, yang jelas fira berterima kasih. Makasih bang.” Lagi-lagi berbicara dengan campuran air mata.
Apapun alasannya? Memangnya dia pikir apa alasanku datang ke sini?
Aku hanya menghela nafas dalam, benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Saya denger itu tuh anaknya sigit hardjoyo, nih yang ada di berita gossip.” Masih saja suara ibu itu terdengar di telingaku.
Dia menunjukkan layar ponselnya pada ibu berkalung panjang yang ada di sampingnya. Benar-benar para sosialita.
“Oh iyaaa… Katanya mereka gak akur, tapi ini?” bingung juga si ibu satunya saat melihat anak kecil ini memelukku sambil menangis.
Ya sudah, ku mainkan saja peranku, agar mereka diam. Ku balas pelukan anak kecil ini dan ku tepuk-tepuk punggungnya dengan kaku. Argh, aku tidak terbiasa. Tapi demi mereka diam, aku harus memainkan peran ini. Keluargaku boleh berantakan tapi bukan hak mereka yang tidak tahu apa-apa untuk menghakimi kami.
Beberapa orang di tampak terkejut melihat apa yang aku lakukan. Tidak terkecuali gadis yang berdiri di sampingku. Saat menolehnya, dia sedang tersenyum sambil mengusap air matanya. Sesenang itu dia rupanya.
Masih teringat saat semalam, tiba-tiba dia menemuiku di kamar. Wajahnya yang terlihat tegang dan gugup, bicaranya pun bisik-bisik.
“Ada apa?” tanyaku saat dia bilang ingin berbicara hal penting denganku. Dia bahkan berani memintaku untuk berbicara di tempat yang sepi. Entah sepenting apa yang ingin dia bicarakan.
“Tuan, bisakah besok siang saya izin keluar sebentar? Sekitar 2 jam saja.” dia bertanya ragu-ragu sambil memperhatikan perubahan ekspresi wajahku.
Kenapa setakut ini saat dia meminta izinku sementara saat berbicara dengan Reza ekspresi wajahnya sangat ceria. Menyebalkan.
“Kamu mau kemana?” baiklah, sebagai majikan yang baik aku berusaha menurunkan intonasi suaraku. Mungkin dia akan lebih bebas untuk berbicara.
“Em, besok non fira tampil nyanyi solo di acara amal sekolahnya. Beliau sempat mengundang saya untuk hadir. Apakah saya boleh ke sana sebentar tuan?” kadang aku gemas melihat dia yang gugup saat berbicara denganku, jadi ingin menggodanya.
“Kenapa kamu harus hadir?” aku masih mau tahu jawabannya. Biasanya agak bijak.
“Karena saya ingin menyemangati non fira.” Jawabnya dengan mantap, salah satu yang aku suka, ketegasannya.
“Saya tahu sulitnya melewati rasa takut seorang diri. Saya hanya berfikir, mungkin saja kehadiran saya bisa sedikit memberinya semangat. Apa boleh tuan?” dia menatapku dengan lekat, seperti sangat menunggu jawabanku.
Ku hembuskan nafasku perlahan seraya menurunkan tangan yang semula tersilang di depan dada. Di pikir-pikir kasian juga karena caraku berbicara membuat dia merasa terintimidasi.
“Apa boleh tuan?” lagi dia bertanya. Tidak sabar juga rupanya.
“Dua jam, hanya dua jam.” Jawabku akhirnya. Sesekali tidak apalah memberi dia izin untuk melakukan apa yang dia mau.
“Benerkah tuan?!” eh masih tidak percaya juga.
“Hem!”
“YES!” dia berseru saat jawabanku terdengar meyakinkan. Dengan cepat senyumnya terbit. “Terima kasih tuan, terima kasih banyak.” Imbuhnya dengan binar mata bahagia. Ternyata sesederhana ini membuat gadis di hadapanku memperihatkan ekspresi bahagianya yang cantik.
Cantik? Tunggu, sejak kapan dia terlihat cantik?
Aku menggaruk dahiku sendiri yang sebenarnya tidak gatal saat pikiran itu melintas di benakku.
“Oh iya tuan, saya membuatku sesuatu untuk tuan. Sebentar saya ambilkan.”
Dia langsung pergi begitu aku mengizinkannya. Sikap macam apa ini?
Sudahlah, lebih baik aku pergi ke meja kerjaku yang berada di sebelah kamar Disa. Ada beberapa hal yang harus aku periksa.
Tapi tidak sampai 5 menit, ku dengar lagi derap langkah kaki Disa yang cukup cepat menaiki anak tangga.
“Taraaaaaa…..” ujarnya saat ia memperlihatkan seloyang Pizza yang baru matang. Wanginya sangat enak, mungkin dari topingnya yang di penuhi daging, sausage, paprika juga keju. Wah kalau di jual, bisa rugi ini.
“Apa ini?” aku pura-pura acuh saja, masih ingin menggodanya karena dia tiba-tiba pergi.
“Ini saya buatkan pizza untuk tuan. Masih hangat. Di coba ya tuan.” Dia menaruh satu potongan Pizza di atas piring kecil untukku.
“Apa ini? Gratifikasi?” sidirku, pura-pura ogah.
“Hehehehehe… Mungkin terkesan seperti itu. Tapi sebenarnya mau tuan mengizinkan saya atau tidak, saya sudah membuat ini special untuk tuan.” Cerocosnya dengan wajah ceria. Perempuan memang begini kalau ada maunya, pasti berusaha bersikap manis.
Tapi tunggu, Special dia bilang? Haha aku ingin tertawa. Kenapa tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang dan rasanya suasana ruangan mulai panas. Padahal aku sudah menyalakan AC. Apa ada muatan sihir dari kalimat yang dia katakan?
“Selamat menikmati tuan.” Ujarnya seraya mengambil kembali baki yang tadi ia bawa. Ia meninggalkan Pizza ukuran besar di hadapanku.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anehnya.
Sikapnya membuatku melunak dan untuk itulah aku berada di sini. Aku pulang dari kantor dan menjemputnya untuk datang ke tempat ini. Dia sangat senang, sepanjang perjalanan terus berbicara seperti radio butut. Ya suaranya sih tidak terlalu cempreng juga hanya saja pembicaraan yang random dan ngalor ngidul tidak jelas yang membuatnya terdengar seperti suara radio. Seperti dia sedang mengungkapkan rasa bahagianya karena aku ikut.
Jika ditanya alasannya, entahlah. Aku hanya tidak ingin dia keluar rumah sendirian menuju tempat yang mungkin tidak aman untuknya.
Tiba di sekolah, aku mendapat pesan dari Roy. “Tuan, media semakin gila memperbincangkan skandal tuan besar.” Dia bahkan mengirim beberapa link berita.
“Nama dan foto tuan juga nona muda mulai tersebar dengan headline berita yang tidak menyenangkan.” Imbuhnya.
Aku membaca selintas berita online yang di kirim Roy. Cukup membuatku kesal tapi aku rasa, aku bisa memperbaikinya.
Dan saat ini, kilatan kamera ponsel dan rekaman video masih mengarah kepadaku dan anak kecil ini. Aku yakin sebentar lagi berita tentang kami akan naik. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampui. Inilah yang aku lakukan sekarang.
Selesai acara di aula, anak kecil ini membawaku dan Disa menghampiri teman-temannya di sebuah ruangan. Tidak ada yang aku kenal, selain anak laki-laki yang tempo hari aku temui di café.
“Hay gais… Ini abang aku, abang kean.” dengan bangga dia memperkenalkanku pada teman-temannya.
“Waaahhh ganteng banget fir. Lebih ganteng aslinya daripada di foto.” Bisik seorang gadis berkacamata yang masih bisa aku dengar.
“Hehehehe… Lo gak liat gue juga cantik?” Narsis juga nih anak.
“Kalau ini, pacarnya abang ya?” anak bermata empat itu melirik Disa. Hahaha aku ingin tertawa melihat ekspresi wajah Disa yang kaget.
“Em, enggak. Saya..”dia gelagapan, semakin lucu.
“Oh ini mba disa. Sahabat sekaligus kakak-ku.” Anak kecil di hadapanku yang menjelaskan.
Kakak sekaligus kakak? Dia pikir dia punya berapa kakak? Bukannya hanya aku?
Ku lirik Disa yang takut-takut menolehku lantas tertunduk. Wajahnya sedikit merah, entah untuk alasan apa.
“Hay mba disa…” sapa anak bermata 4 itu yang diikuti teman-temannya. “Hay abang…” lalu menyapaku.
Aku dan Disa sama-sama tersenyum.
“Ayok kita foto dulu. Anak-anak padus sama abangnya fira dan mba disa.” Hasut salah satu anak.
“Oh tidak usah, saya yang ambilkan foto aja.” Disa berusaha menolak saat harus berdiri di sampingku. Memangnya kenapa?
“Tenang kak, kita pake tripod aja.” Anak laki-laki itu yang mengatur letak kamera. Pengertian juga rupanya.
Hahahah rasakan, dia tidak bisa lagi menolak. Ia celingukan ragu karena berdiri di sampingku. Lantas dia sedikit bergeser dan menjauh.
Enak saja, dengan cepat ku tarik tangannya agar kembali ke sampingku. Rupanya dia cukup kaget, wajahnya melongo saat menatapku dan “CEKREK!” moment ini berhasil di abadikan.
Akhirnya, ada foto yang mengabadikan ekspersi wajahnya yang tidak terkontrol. Lucu juga, fotonya akan aku simpan di dalam dompet, untuk menjadi pawang dari uang dan kartu debitku agar tidak sembarangan pergi.
****
Keceriaan Shafira berlanjut bersama teman-temannya, sementara Disa dan Kean berjalan keluar dari ruangan tersebut. Di luar ruangan Disa melihat ke sekelilingnya yang sangat asing tapi membuatnya penasaran.
Bangunan sekolah yang modern dengan desain yang artistic membuat rasa penasaran Disa muncul untuk sekedar menikmati pemandangan yang baru pertama di lihatnya. Antara satu ruangan dengan ruangan lainnya memiliki warna cat yang berbeda di bagian dalam, sehingga kesannya lebih hidup. Sementara saat di lihat dari luar, begitu kokoh dan smart. Seperti sekolah-sekolah di luar negri.
Dan yang lebih membuat Disa penasaran adalah seperti apa kantinnya.
“Tuan, apakah anda lapar?” tanya Disa memecah keheningan.
“Hanya sedikit haus, karena terlalu panas.” Melepas jasnya kemudian ia pegangi. Udara memang cukup terik saat berada di luar ruangan. Cahaya matahari masih bebas masuk di antara kokohnya bangunan sekolah yang menjulang.
“Tuan mau ke kantin?” pura-pura menawarkan, padahal ia sendiri yang penasaran ingin melihat kantinnya.
“Hem.” Hanya itu sahutan Kean.
Mereka berjalan bersisihan menuju kantin sambil memperhatikan lingkungan sekolah yang terasa menyenangkan. Beberapa tahun lalu, ia pun masih memakai seragam putih abu dan saat mengingatnya cukup membuatnya rindu.
Benar kata Chrisye, masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah.
“Tuan, seperti apa sekolah tuan di luar negri?” pertanyaan random kembali di tanyakan Disa.
Kean tampak berfikir, tidak ada kesan yang begitu kuat dalam ingatannya. Hanya sebatas rutinitas belajar dan seringnya pergi nongkrong dengan teman-temannya.
“Em biasa saja.” Akunya. Ia tidak terlalu menikmati saat ia sekolah SMA dulu.
“Apa di sana juga ada kegiatan ekskul atau apa ya di sebutnya?” tampak berfikir.
“Sama, di sana juga ada kegiatan ekskul. Tapi yang saya tahu hanya kelompok ilmiah remaja dan pecinta alam.”
“Apa ada pramuka, paskibra atau PMR gitu tuan?”
Pertanyaan Disa membuat Kean mengernyitkan dahinya, entahlah apa ada ekskul seperti itu di sekolahnya dulu.
“Entahlah! Saya anak yang nakal saat SMA. Lebih banyak bolos dan main bersama teman-teman saya. Mungkin ada. Memang kamu ikut ekskul apa?” berbalik ia yang penasaran dengan Disa.
“Saya ikut paskibra. Pernah jadi pengibar di kabupaten. Padahal saya sangat ingin menjadi pengibar di Gedung negara, ketemu sama pak presiden dan menerima bendera langsung dari beliau.” Disa mengingat cita-citanya saat itu.
“Pantas saja kakimu seperti kesebelasan.” Ledek Kean spontan.
“Hahhahaha… memang iya tuan.” Disa tertawa geli.
“Damong juga dulu bilang seperti itu. Katanya saya itu, atas keibuan bawah kesebelasan.” Mengingat ledekan Damar, kali ini membuat Disa tertawa. Padahal dulu ia sangat kesal saat Damar meledeknya.
“Damong?” ternyata bukan ledekannya yang di tangkap Kean.
“Oh iya.” Disa menghentikan tawanya. “Damong itu panggilan dari saya untuk kakak sepupu saya, damar.” Mencoba menjelaskan tapi air muka Kean malah kesal.
Rasanya ia tidak suka saat mendengar Disa menyebut nama laki-laki lain dengan ekspresi semacam itu.
“Terus dia memanggilmu apa?” penasaran juga, jangan-jangan itu panggilan kesayangan.
“Sandy.” Aku disa dengan cepat. “Dia memberi saya nama Sandy di ponselnya. Katanya teman-temannya suka iseng ngecek hp-nya. Jadi sengaja di beri nama sandy supaya mereka tidak tau kalau itu nomor hp saya.” terangnya dengan senyum terkembang.
Harus Disa akui, selalu ada hal yang menarik saat ia mengingat Damar. Tapi bagi kean, penyematan nama itu semacam cara Damar untuk melindungi Disa atau agar tidak ada laki-laki lain yang mendekatinya. Posesif juga, pikirnya.
Kantin sudah di depan mata. Tidak terlalu ramai karena sebagian besar siswa sudah pulang setelah acara Charity.
“Kita duduk di sana tuan?” Disa menunjuk salah satu bangku di bawah pohon.
“Hem.” Kean mengikuti saja langkah kaki Disa hingga mereka duduk berhadapan.
“Tuan mau minum apa?” matanya masih berkeliling melihat sekitaran kantin, sementara Kean masih memandangi Disa dengan banyak pertanyaan.
Gadis ini telah membuatnya mulai banyak bicara. Bisa merasakan kesal dan senang di waktu bersamaan. Lebih dari itu, selalu ada ketenangan saat Disa berada di dekatnya. Perlahan, mengapa terlalu banyak hal yang ingin ia tahu dari gadis asing ini?
“Anda mau soda tuan?” wajah senyum Disa berubah kaget saat ia menoleh dan ternyata Kean sedang memandanginya.
Kean membuang pandangannya ke arah lain, ia tidak mau membuat suasana menjadi canggung.
“Apa saja.” Sahutnya.
“Baik, sebentar tuan. Saya pesan dulu.” Disa beranjak dari tempatnya meninggalkan Kean yang masih terdiam dengan pikirannya.
Timbul rasa penasaran saat ia melihat ponsel Disa yang tergeletak di atas meja. Diam-diam ia mengambil ponsel Disa lantas menghubunginya. Ia ingin tahu nama apa yang Disa gunakan untuk menyimpan nomor ponselnya.
Satu deringan membuat ponsel Disa menyala dan menampilkan namanya. Sebuah tulisan dalam bahasa korea yang justru muncul. Sedikit mengernyitkan dahinya, ia mencoba menebak nama apa yang di tulis Disa.
“Ini apa sih artinya?” dengusnya kesal. Ia mengambil ballpoint dari dalam sakunya lantas menuliskan huruf korea tersebut di tangannya. “Harus jelas, supaya bisa aku pindai.” Gumamnya sendiri. Berdo’a saja semoga tulisannya tidak terhapus oleh keringat.
“Iya bang, mie-nya lengkap aja.” Suara Disa terdengar cukup lantang.
Dengan segera Kean menaruh kembali ponsel Disa di tempatnya semula. Sambil merapikan kemeja dan rambutnya ia berpura-pura tidak melakukan apapun.
“Silakan tuan.” Disa menyodorkan segelas teh manis dingin dalam gelas yang besar. Titik-titik air yang mengembun membuat minuman itu terlihat sangat menyegarkan.
Dengan segera Kean meneguk minumannya dan berakhir dengan “Aahh…” dahaganya terhapus sudah.
Disa tersenyum sendiri melihat tingkah tuan mudanya. Ternyata ia benar-benar haus.
Tidak lama, mas kantin datang membawakan dua mangkuk mie lengkap dengan telur dan sebotol sauce.
“Kita makan mie, sa?” Kean cukup terkejut.
“Apa tuan ingin makanan yang lain? Ada soto juga atau ayam goreng.” Merasa bersalah karena sepertinya Kean tidak suka dengan pilihan makanannya. Yang ia tahu mie dan pasta adalah favorit tuan mudanya.
“Tidak perlu. Ini saja.” Sahutnya pendek.
“Baik tuan.” Memperhatikan Kean yang mulai mengaduk mie nya dan menambahkan sedikit sauce. “Apa tuan tahu keanehan dari semangkuk mie?” tanya Disa tiba-tiba.
“Apa?!” sudah mau masuk ke mulut itu sesendok mie, dan tidak jadi. Ia ingin mendengar dulu keanehan apa yang di maksud Disa.
“Mie selalu terasa lebih enak kalau dibuatkan oleh mas penjualnya. Beda sama yang kita bikin sendiri.” Bisiknya yang kemudian terkekeh.
“Oh ya?” penasaran juga rupanya.
“Hem, silakan tuan coba.” Sahut Disa dengan yakin.
Tanpa menunggu lama Kean segera menyantap mie-nya. Memang terasa enak. Baru kali ini ia makan dengan bar-bar. Biasanya harus dingin dulu baru di makan supaya tidak merusak giginya. Tapi kali ini, makan makanan panas-panas malah terasa lebih enak. Memang magic.
Oh iya, kira-kira apa arti nama Kean di ponsel Disa?
****