
Menjelang tidur kebiasaan Naka masih sama. Ia akan bercerita tentang apa yang dilakukannya siang ini bersama orang-orang di rumah. Sudah menjadi kebiasaan bercerita sebelum tidur agar kelak putranya terbiasa bercerita tentang apapun pada Disa. Ia ingin selalu menjadi orang pertama yang mendengar kabar dari anaknya.
Dan kali ini Naka bercerita tentang main bola bersama kakeknya.
“I have 4 goals mama and I win yeaayyy.” Naka bercerita seru tentang permainan bolanya dengan sang kakek.
“Waw you’re great baby..” Disa mencium Naka dengan gemas saat melihat matanya yang mirip Kean membulat saking senangnya.
“Ya. Grandpa said, besok Grandpa akan mengalahkanku. But no, I’m sure aku akan jadi penenangnya mama.” Naka dengan cara bicaranya yang gado-gado.
“Penenang?” Disa sedikit mengutip kata yang diucapkan Naka yang terdengar janggal.
“Ya mama. Kata onty tina, aku penenangnya.” Sahut Naka dengan bangga.
“Wait, do you mean winner?” Disa mencoba meluruskan.
“Ya! Winner, penenang. Am ia wrong?” Naka jadi bertanya karena Disa seperti bingung. Anak kecil ini memang peka dengan perubahan ekspresi orang lain.
“O, hahhahaa…. It’s pemenang not penenang okey.” Disa terkekeh sambil mencium Naka. Melihat wajahnya yang bingung, terlihat sangat menggemaskan.
Naka hanya melongo sambil berusaha mencerna ucapan Disa.
“So, what is penenang mama?” rasa penasarannya masih cukup tinggi membahas kata yang kata Disa salah.
“Penenang is, when you’re crying and then I hug you, me as penenang. Because you will be fine, relax and not scare anymore.”
“Oh I got it. Nenek Kinar is penenang. When I felt down, she hug me so tight and she say, tuan muda kuwat, jangan menangis. But grandma say, don't give up naka, you're strong! They are penenang, aren't they mama?” Terang Naka dengan menggebu-gebu.
“Yes. Kurang lebih seperti itu.” Disa jadi tersenyum membayangkan penuturan Naka. Ternyata Kinar tidak hanya menyayangi suaminya dan menganggapnya sebagai anak sendiri, ia pun mulai bisa menyayangi Naka.
“Gimana dengan grandma dan grandpa. Apa yang kamu lakukan dengan mereka?”
“Sangat seru mama. Grandma shouting on the sidelines, semangat naka, bangun jagoan.” Seru Naka dengan gaya yang menerupai Arini. “And then grandpa ask me to kick the ball mama. Yeaayyy I got the goal more.” Tangannya mengepal ke udara seperti ia masih merasakan euphoria kemenangannya tadi siang.
“Good job naka!” Disa mencium pucuk kepala Naka dengan sayang. Ia tidak menyangka, Naka yang biasanya hanya berdua dengannya selama di Paris ternyata bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru dan orang-orang baru. Mungkin karena ia terbiasa melakukan panggilan video dengan kakek neneknya sehingga tidak asing untuknya.
“Mama, I'm happy to be here.” Ungkapnya dengan penuh kesungguhan.
“I know.” Disa memeluk putranya dengan erat.
“Time to go sleep, let's pray.” Disa membawa tangan Naka menengadah.
“Okey!” anak kecil berbulu mata lentik itu mulai memejamkan matanya.
“Allah, thanks for today. Alhamdulillah…”
“Bismika Allahumma Ahya Wabismika Amut, aamiin…” di usapkannya tangan kecilnya ke wajah.
“Aamiin..” Disa ikut mengamini.
“Tidurlah nakanya mama.” Satu kecupan di berikan Disa cukup lama disertai do'a yang ia ucapkan dari lubuk hatinya agar putranya tidur lelap dan bermimpi indah.
“I love you mama.” Naka balas mengecup pipi Disa membuat Disa tersenyum haru. Benar adanya, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Naka yang manis adalah buah dari cara ia dan Kean memperlakukannya dengan manis.
“Love you more.” Balas Disa.
Naka yang terbiasa tidur menyamping sambil memeluk guling mulai membalik tubuhnya dan Disa mengusap punggungnya dengan lembut. Kebiasaan yang harus ia lakukan sebelum Naka terlelap. Menunggu Naka tidur pulas, Disa ikut berbaring sambil memeluk putranya yang tambah tinggi. Semua rasa lelah hari ini, hilang begitu saja setelah melihat anaknya tumbuh dengan baik dan di terima oleh lingkungannya. Disa sangat bersyukur karena Naka bukan lagi pelengkap untuk keluarganya melainkan fondasi yang kuat untuk keluarga ini.
Tidak menunggu lama sampai Naka benar-benar terlelap. Disa beranjak dari tempatnya, menyelimuti Naka hingga ke batas perut lantas mengecup kembali kepalanya dengan sayang.
“Mimpi yang indah nakanya mama.” Lirih Disa seraya tersenyum.
Mematikan lampu kamar Naka dan hanya menyisakan pijar lampu tidur yang remang-remang. Naka memang sudah terbiasa tidur sendiri karena Disa ingin putranya menjadi anak yang mandiri. Lantas ia menutup pintu perlahan agar Naka tidak terbangun.
Kembali ke kamar, Disa belum melihat keberadaan Kean di atas tempat tidur. Setelah makan malam, Sigit mengatakan kalau ada yang ingin ia bicarakan dengan suaminya, mungkin belum selesai. Akhirnya Disa memilih duduk di depan meja riasnya dan membuka buku catatan untuk mengerjakan sesuatu.
Satu hal yang kembali muncul di benaknya adalah biaya operasional butik yang mulai menipis. Ia mengecek rekeningnya juga melihat baju yang saat ini ada di butik. Ada 6 baju yang belum terjual.
“Apa aku jual aja ya beberapa koleksiku?” gumam Disa saat mengingat kurangnya modal untuk membayar jasa para model nanti.
“Bismillah, aku jual aja.” Gumamnya dengan tekad penuh.
Akhirnya, ia mulai memposting baju tersebut di website resmi yang di buatkan Mila beberapa waktu lalu. Ia juga menyebarkan tautan di akun media sosialnya agar lebih cepat diketahui orang.
“#dressbyparadisasandhya.” Ia menyertakan tagar tersebut di captionnya.
Setelah memposting iklan tersebut, Disa menghela nafasnya dalam sambil berdo’a semoga orang-orang yang melihat postingannya ada yang bersedia membeli.
“De, kenapa gak bilang aja sama tuan muda kalo kita kekurangan modal? Aku yakin tuan muda juga tuan besar mau ngebantuin.” Pertanyaan Mila siang tadi kembali terngiang di telinga Disa.
Dan Disa hanya terdiam, tidak menjawabnya. Ia tidak yakin untuk memberitahukan kondisi keuangan butik pada suaminya apalagi ayah mertuanya. Ia berpikir kalau selama ini ia sudah terlalu banyak membebani suami dan keluarganya. Bukan secara material tapi secara emosional.
Fokus mengejar pendidikannya selama lebih dari 2 tahun dan meninggalkan keluarga tentu membuat dampak emosional bagi keluarganya. Walau Kean tidak protes karena harus menjalani hubungan jarak jauh dan ia yang mengalah untuk menemui Disa, nyatanya perasaan bersalah itu masih terasa jelas di hati Disa.
Ia tidak bisa meminta lebih pada suaminya walau ia tahu baik Kean ataupun Sigit dan Arini tidak akan keberatan kalau ia meminta bantuan.
Hanya saja, ia ingin terbiasa dengan apa yang ia hadapi sekarang, bertanggung jawab pada pilihannya dan sebisa mungkin menyelesaikan masalahnya sendiri. Kalau sedikit-sedikit meminta bantuan, ia takut mentalnya akan terbiasa menjadi mental peminta. Dan itu bukan Disa selama ini. Berdo’a saja semoga ada jalan keluarnya.
“Cup!” satu kecupan di leher Disa membuat Disa membuka matanya yang semula terpejam.
“Aa?” terlihat kalau Disa sangat kaget melihat suaminya yang tiba-tiba ada di belakangnya.
“Lagi ngapain sayang?” Kean memeluk Disa dari belakang lantas mengecup pundaknya beberapa kali.
Buru-buru Disa menutup buku catatannya yang mematikan layar ipadnya.
“Nggak lagi ngapa-ngapain. Cuma lagi ngecek progress pembuatan baju aja.” Di taruhnya buku dan ipad di dalam laci meja riasnya. Cukup memikirkan tentang kerjaan, ini waktunya untuk mengurus suaminya.
“Ada yang perlu aku bantu?” tawar Kean yang memijat punggung Disa. Ia memperhatikan wajah istrinya yang terlihat lelah dari pantulan cermin.
“Aa bisa bantuin masang manik-manik?” Disa menepuk tangan suaminya yang sedang memijat bahunya dengan lembut. Seperti pijatan Kean telah mengisi kembali semangatnya.
“Kalau melepas baju, aku ahlinya.” Ia duduk di samping Disa, menarik tali baju tidur Disa yang hanya seukuran kelingking Naka lantas mengecup bahunya, mendekat ke ceruk leher Disa dan menyesap wanginya.
“Iya, aa mahir banget kalo soal itu.” Disa mengusap kepala suaminya yang asyik tertunduk di ceruk lehernya memberi kecupan dengan sedikit gigitan gemas untuk memberi tanda kemerahan.
“Aa gimana di kantor, lancar?” Disa balik bertanya, mencoba tetap fokus pada perbincangan mereka walau tangan Kean sudah bergriliya kesana kemari.
“Urusan di kantor aman, tapi sepertinya aku harus mengingatkan seseorang dengan janjinya.” Bisik Kean lantas mencium daun telinga Disa hingga sang empunya bergidik merasakan aliran listrik yang di berikan Kean.
“Okey-okey, gak usah main sindir-sindiran.” Disa sedikit menarik tubuhnya menjauh namun dengan cepat Kean merangkulnya.
“Naka udah tidur kan?” diusapnya leher Disa lantas ia ciumi. Sepertinya ia belum selesai dengan hobinya ini.
“Udah. Tapi,”
“Biasakan untuk menepati janji sebelum aku menagihnya.” Lanjut Kean dengan nafas menderu menerpa wajah Disa.
“Akan aku tepati.” Di tangkupnya wajah Kean dengan kedua tangan lantas ia usap lembut. Netra beningnya menatap lekat wajah sang suami yang berada di atasnya.
“I love you…” lirih Disa.
“Love you more.” Dengan segera Kean menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Perlahan satu per satu pakaian mereka beterbangan memenuhi lantai. Yang terjadi berikutnya,
“Tolong berhenti berpikir.” Bisik Kean diantara nyala lampu yang mulai meredup.
*****
“Okey, podcastnya tayang minggu depan aja, minggu ini vlog game 3D dulu aja.” Damar berbicara lewat sambungan telepon dengan seseorang.
“Ya, okey. Gue juga belum bahas tentang pengrajin vas, kita temuin dulu pengrajinnya setelah dapet izin baru kita bikin vlog-nya. “
“Okey, thanks.”
Begitu perbincangan singkat yang di dengar Eko dari sudut ruangan. Ia tengah menunggu sahabatnya selesai bertelepon sebelum menunjukkan ponselnya pada Damar.
“Udah?” tanya Eko saat sahabatnya berbalik.
“Udah, minggu depan kita ketemu pengrajin keramik. Kayaknya lo bener deh kalo kita mesti beli peredam bising buat editing.” Damar duduk di hadapan Eko sambil mengikat rambut gondrongnya.
Selama 4 tahun ini Damar menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Membuat vlog, podcast dan sebagainya tentang seni dan hobi para laki-laki. Segala seluk beluk dunia seni ia bahas dalam vlog atau podcastnya dan Damar semakin terkenal di dunia maya. Penghasilannya pun sangat cukup untuk ia membangun sebuah mini studio tempat ia bekerja bersama timnya. Benar adanya kalau bersungguh-sungguh pasti ada jalannya.
Di tambah, penampilan Damar yang cool dan good looking seperti menjadi magnet untuk menarik subcribernya yang didominasi oleh kaum hawa.
Sayangnya hingga saat ini semua pekerjaan yang dilakukan Damar seolah hanya bentuk pelarian dari pikiran dan perasaannya.
“Lo kenapa?” tanya Damar saat melihat Eko yang hanya terdiam sambil tersenyum. Asyik sendiri dengan ponselnya.
Eko menunjukkan layar ponselnya pada Damar, “Disa pulang.” Ujarnya ringan.
Damar hanya tersenyum samar, lantas ia berbalik membelakangi Eko, lebih memilih melanjutkan pekerjaannya mengedit video.
“Lo gak terkejut kayaknya? Apa lo udah tau?” Eko berpindah duduk di samping Damar dan mencoba mengintip ekspresi sahabatnya.
“Kenapa harus terkejut? Keluarganya kan ada di sini. Udah pastilah dia bakalan pulang” Sahut Damar terdengar enteng
“Bacot lo!” dengus Eko. Ia tersenyum seolah menertawakan cara Damar menghindari pembicaraan tentang Disa. Damar pikir Eko tidak tahu kalau setiap waktu Damar menunggu update story Disa di akun media sosialnya.
“Dia udah ngabarin ibu kemaren.” Kilah Damar.
“Ohh… Gue dong yang telat?” Eko balik bertanya.
Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Damar saat ini.
“Dia nawarin baju rancangannya, apa mungkin dia lagi butuh duit?” imbuh Eko sambil memandangi baju-baju yang di upload Disa. Janggal memang, karena baru kali ini Disa memposting baju buatannya padahal setau Eko, Disa membuat baju by request.
“Tapi, baju yang dia bikin kan emang buat di jual ya? Lagian lakinya kan tajir, gak mungkin dia butuh duit.” Lagi Eko berbicara sendiri.
Damar langsung berhenti menggerakkan mousepad-nya, seperti ia tengah berpikir. Ia mengecek ponselnya sendiri dan benar saja Disa sedang memposting baju yang dijualnya.
“Lo pikir disa suka minta-minta?” decik Damar. Seperti mengenal benar sahabatnya.
Mata Eko langsung membulat melihat layar ponselnya. “Gila, lo nge-repost postingannya disa? Hahahha.. Lo emang sedikit bicara banyak bekerja. Sayang lo keduluan pangeran bermobil mewah, kalo gak keduluan udah ada cerita sahabatku adalah istriku. Eh istriku adalah sahabatku. Eh gimana sih?” Eko sibuk sendiri.
Damar tidak merespon sedikitpun. Ia lebih memilih pergi meninggalkan Eko yang bingung sendiri apa kata sahabat dulu atau istri dulu yang cocok di taruh di depan.
“Eh lo mau kemana bro?” Eko baru tersadar saat suara mesin motor Damar menyala. Damar sudah duduk di atas kuda besinya lengkap dengan helm bogo dan jaket kulitnya.
“Heh, move on lo! Dia udah punya anak, mirip lagi sama lakinya. Itu artinya disa cinta banget sama lakinya!” seru Eko dari dalam studio.
Damar tidak menyahuti, ia lebih memilih menarik pedal gasnya dan motorpun melaju membelah jalanan.
Tidak tentu arah, itu yang Damar rasakan sekarang. Saat kemarin Mery memberi tahu kalau Disa sudah pulang tapi meminta maaf karena belum sempat menemui Mery, perasaan Damar langsung tidak karuan.
Lebih dari 3 tahun tidak bertatap muka dengan Disa, tidak pernah mengirim pesan atau menerima pesan dari Disa membuat komunikasinya benar-benar terputus. Terakhir kali ia bertemu Disa adalah ketika mengunjungi Disa yang melahirkan di rumah sakit.
Masih teringat jelas wajah Disa yang pucat dengan pakaian pasien rumah sakit juga gelang pasien yang melingkar di tangan kirinya. Katanya sahabatnya ini berjuang lebih dari 4 jam menahan nyeri hebat saat melahirkan putra pertama mereka.
"Perut lo masih sakit?" tanya Damar saat melihat Disa yang sedikit meringis saat bergerak.
"Lumayan, masih bisa gue tahan." membenarkan posisi bayi yang di gendongnya dan ia pandangi dengan penuh kasih.
"Lo harus cepet sembuh biar bisa ngurus anak lo." Damar memilih duduk bersandar pada jendela ruangan yang sengaja terbuka agar ada udara segar yang masuk.
"Hem, pastilah. Gue gak betah lama-lama di sini, pengen cepet pulang." Disa memang selalu membenci berada di rumah sakit.
"Iya, jangan lama-lama, mending istirahat di rumah aja." pesannya seraya menghampiri Disa.
"Kalo gitu, gue pulang dulu, lo istirahat supaya cepet pulih. Jangan lupa makan yang banyak." Melihat Disa yang pucat rasanya tidak tega.
"Thanks mong." senyuman Disa masih sama, hanya artinya saja yang sekarang berbeda.
“Mong, sebelum lo pulang tolong panggilin suami gue yaa.. Gue gak mau di tinggal sendirian di ruangan.” Kalimat itu menjadi permintaan terakhir yang diucapkaan Disa sebelum ia pergi.
“Lo udah jadi ibu tapi masih penakut. Lo harus berani sa, dunia di luar sana lebih luas dari ruangan ini kalo lo takut di ruangan sekecil ini, apa lo bisa ngehadepin dunia luar?” tanyanya kala itu.
“Resek lo! Ini kan karena di rumah sakit aja makanya gue takut.” Timpal Disa dengan kesal.
“Ya udah, gue pamit yaa.. Nanti gue panggilin laki lo.” Damar berdiri di samping Disa yang tengah menggendong bayinya.
Di tatapnya wajah mungil Kean junior dengan bibirnya yang merah dan seperti tersenyum.
“Selamat menjadi ibu. Inget lo harus berani dan kuat, bukan cuma buat lo tapi juga buat anak lo.” Pesan Damar. Ia mengusap kepala Disa yang terangguk lantas mengecup pucuk kepalanya dengan penuh perasaan. Anggap saja ini kecupan perpisahan.
Disa tidak menimpali, ia hanya mematung dengan wajahnya yang terkejut. Seperti Disa tidak pernah menyangka kalau Damar akan melakukan hal ini. Dan sejak hari itu, tidak pernah sekalipun Disa menghubunginya dan Damar tidak pernah memiliki keberanian untuk menghubungi Disa. Hingga 3 tahun berjalan tanpa terasa dan Damar hanya bisa menyesal.
Andai ia tidak terbawa perasaan, mungkin Disa tidak akan menjaga jarak sejauh ini.
Eko benar, saat ini Disa sudah memiliki keluarga yang lengkap dan tentu ia sangat bahagia. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah ikut membuat jarak dan berhenti berharap.
Di balik pagar tinggi kediaman Hardjoyo saat ini Damar berada. Ia memandangi bangunan kokoh yang sebagian besar lampunya sudah redup. Mungkin Disa sedang berada di salah satu ruangan, saling berpelukan dengan orang terkasihnya sementara ia masih sendirian di luar dan kedinginan.
“Lo tau sa, walaupun kita udah gak pernah saling berkirim pesan lo harus tau kalo gue tetep sayang sama lo. Jangan tanya sampai kapan, karena gue gak pernah bisa memikirkan cara untuk mengakhiri perasaan ini.” Batin Damar.
Cinta pertama itu memang selalu lebih lama bertahan dalam hati entah itu rasa bahagianya, rasa kecewanya atau perasaan lain yang tidak bisa Damar urai. Terkadang, tidak hanya cinta yang tumbuh di hati satu pihak hingga keduanya tidak bisa menyatu. Ada juga perpisahan yang tidak bisa di terima oleh salah satu pihak dan memilih untuk menyimpannya sendiri.
Tentang Damar, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untu mengakhiri semuanya. Berharap saja semoga waktu itu tidak terlalu lama lagi.
*****