
“Claire!” sebuah panggilan menjeda langkah Clara saat sudah berada di basement hotel. Ia hafal benar dengan suara besar itu yang sudah pasti milik Marcel.
Dengan malas Clara berbalik. Untuk apa lagi laki-laki ini menemuinya, padahal hubungan di antara mereka sudah selesai.
Clara berbalik dengan anggun, jika sudah tidak ada hubungan apapun, maka ia harus bersikap biasa saja. Tidak perlu ada drama menghindar. Toh cara tercepat untuk move on adalah dengan membuat dirinya muak dengan laki-laki di hadapannya, seperti yang saat ini ia rasakan.
“Kenapa? Ada perlu sesuatu? Saya sedang terburu-buru.” Clara melepas kacamata hitam yang sedari tadi menutupi mata bulatnya.
Sejak kedatangan Marcel ke ballroom, perasaan Clara memang berkecambuk. Banyak hal yang ia rasakan. Marah, kesal, kecewa, benci namun masih ada rindu, masih ada harapan jika Marcel menghampirinya dan mengatakan kalau laki-laki ini menyesal.
Gila memang, ia masih mengharapkan laki-laki ini berubah padahal dengan jelas Clara melihat, siapa yang ada di mata Marcel saat ini. Ia mengenal benar siapa Marcel. Laki-laki itu bukan seorang yang mudah tersentuh dengan hal sentimental. Ia sadari, cara Marcel menatap Disa seperti wanita itu hanya satu-satunya di dunia ini.
Saat melihat Disa, ia berharap wanita itu akan bertanya hubungannya dengan Kean setelah banyaknya gossip tentang mereka berseliweran di televisi. Ia sudah menyiapkan jawaban yang akan membuat dada Disa panas dan konsentrasinya berantakan, tapi wanita itu tidak menyinggung hal itu sedikitpun.
Entah perasaannya sudah berubah pada Kean atau ia pun sudah beralih pada Marcel. Nyatanya, gadis polos itu tidak bisa ia tebak dengan mudah isi pemikirannya. Aneh, ya sangat aneh untuk seukuran gadis yang polos.
Lalu, untuk apa sekarang Marcel menghampirinya?
“Kamu apa kabar?” Marcel melangkahkan kakinya mendekat pada Clara. Wajahnya terlihat tenang, tidak seperti yang sering Clara lihat.
Sepanjang acara, ia sadar sesekali Clara memperhatikannya, namun ia tahan untuk tidak berreaksi. Saat break pun, ia memperhatikan Clara yang hanya melamun di balkon hotel seraya menghisap sepuntung rokok dengan minuman beralkohol di tangannya. Kebiasaannya tidak berubah, saat perasaannya tidak menentu, itulah yang dilakukan Clara.
“Baik, seperti yang kamu lihat.” Ia tersenyum sinis pada Marcel, pertanyaan tidak penting menurutnya.
“Tunggu, apa kamu pikir aku akan terpuruk setelah kamu pergi? Haha, jangan bermimpi. Kamu pergi aku tidak menyesal sedikitpun. Lagi pula, sebentar lagi aku akan menikahi keponakanmu dan memanggilmu, om.” Imbuh Clara dengan senyuman mengejek.
“Oh ya? Tapi, beberapa waktu lalu kean menemuiku dan mengatakan tidak ingin menikahimu. Mungkin dia lebih suka memanggilmu tante dari pada istri.” Balas Marcel dengan santai. Terlihat senyuman tipis di bibirnya yang membuat tangan Clara mengepal kesal dengan banyak kemarahan.
“Brengsek!” dengus Clara.
Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun saat mendengar kalimat Marcel. Ia pikir, pertemuan mereka akan membawa kebaikan ternyata hanya berbuntut kemarahan.
“Ngomong-ngomong, terima kasih. Karena tidak menghambat gadis itu dengan alasan masalah pribadi kita.” Tutur Marcel kemudian. Kalimat yang tidak pernah ingin Clara dengar untuk alasan apapun.
“Waw! Ternyata tidak hanya tante arini yang kegirangan ngeliat pelayan itu masuk ke babak berikutnya. Iparnya pun merasakan hal yang sama. Selamat ya, karena wanitamu masuk ke tiga besar dan akan berpartner denganku. Selamat datang di neraka.” bisik Clara dengan penuh penekanan.
Bibirnya dengan mudah mengucapkan kalimat itu namun matanya yang merah, susah payah menahan air mata yang hampir menetes.
“Wanitaku?” Marcel mengernyitkan dahinya, mendengar penggalan kalimat Clara.
“Ya, tentu siapa lagi. Dengan jelas aku melihat bagaimana kamu begitu terpesona saat pelayan itu mendeskripsikan karyanya. Kamu bahkan tidak berkedip sedikitpun. Apa kamu sebangga itu?” gertak Clara yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Sedari tadi ia ingin marah, ingin mengupat atau memaki siapapun. Tapi baru kali ini ia merasa memiliki kesempatan yang pas.
“Kamu cemburu?” Marcel berdiri tepat di hadapan Clara, berusaha menyentuh wajah gadis itu yang terlihat merah karena marah.
“NGGAK!” serunya seraya memalingkan wajah dari Marcel. Satu butir air matanya menetes lantas ia usap dengan kasar.
Ia tidak pernah menyangka kalau akan sesakit ini melihat Marcel memuja wanita lain. Melihat Marcel memperhatikan wanita lain, apalagi saat Marcel mengagumi wanita lain, kenapa sesak sekali? Apa usahanya untuk melupakan Marcel telah gagal?
“Claire, aku memang terpukau oleh gadis itu.” Kalimat itu menjadi awalan yang pedih untuk di dengar Clara.
“CUKUP! Aku tidak perlu tau!” Clara menutup kedua telinganya dengan kedua tangan yang gemetaran. Matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi, buliran air mata berikutnya lolos menetes tanpa bisa ia tahan.
Marcel tersenyum tipis, meraih tangan Clara untuk ia turunkan. Cukup kuat untuk bertahan tapi tetap tidak lebih kuat dari usaha Marcel. Ia ingin Clara mendengar apa yang ia katakan.
Tangan Clara mengepal dengan kuat, Marcel menggenggamnya erat, hingga sulit ia lepaskan. Akhirnya ia hanya membuang pandangan ke arah lain dan bersiap mengendalikan hatinya agar tidak semakin hancur mendengar kalimat Marcel berikutnya. Walau ia tahu, ia selalu menjadi pecundang saat berbicara tentang hati.
“Aku di buat terkesiap oleh kalimat yang di ucapkan gadis itu.” Lagi air mata Clara menetes tanpa bisa di tahan. Hey, ini sakit tahu!
“Namun, bukan pesona dia yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa, melainkan seseorang yang dia deskripsikan dengan sangat indah.” Marcel menyentuh wajah Clara membuat gadis itu sedikit terperanjat.
Melihat wajah Clara sedekat ini, membuat ia sadar kalau kalimat Disa itu benar.
“Aku bodoh, karena aku tidak menyadari kalau aku pernah memiliki seorang wanita yang begitu indah.
Aku bodoh karena aku lari seperti pengecut alih-alih mempertahankan wanita yang memenuhi duniaku menjadi lebih berwarna. Aku juga bodoh karena malah berhenti berjuang di saat seharusnya aku meyakinkan kamu kalau kamu satu-satunya yang aku cinta.”
“Gadis itu menyadarkanku betapa aku sangat menyesal melepaskan kamu.
Gadis itu menyadarkanku kalau aku pernah memiliki kesempatan untuk mempunyai hal indah dalam hidupku yang tidak bisa aku tukar dengan apapun.
Dan gadis itu menyadarkanku, aku patut berbangga pernah mencintai wanita yang begitu indah ini.”
Kalimat Marcel seperti rangkaian melodi yang tidak pernah Clara sangka akan ia dengar. Baru kali ini ia mendengar kata-kata yang begitu manis dari mulut Marcel. Marcel tipe laki-laki yang mengungkapkan perasaannya dengan sentuhan dan tatapan. Bukan laki-laki yang pandai berkata-kata hingga membuat Clara luluh. Tapi kali ini?
“Pernah?” ia mengutip satu kata yang diucapkan Marcel.
“Pernah dan selalu.” Tegas Marcel.
“Kamu selalu menjadi pusat duniaku Claire. Tidak pernah ada yang berubah walau banyak wanita yang pernah aku temui termasuk gadis itu.”
“Sudahi cemburumu. Aku hanya mengagumi gadis itu tapi dia tidak pernah menempati tempat terindah dalam hatiku. You still the one and always be the one.” Diusapnya pipi Clara dengan lembut membuat gadis itu terengah menahan tangisnya yang siap meledak.
Clara tercenung, menatap wajah Marcel yang sangat di rindukannya. Apa ini benar? Apa yang ia dengar ini tidak salah? Marcel kembali mendekat dan ternyata perasaannya terhadap Clara tidak pernah berubah. Apa yang salah selama ini, apa kecemburuannya atau rasa cintanya yang terlalu besar.
Clara tidak menjawab. Ia lebih memilih mendekat pada Marcel, menatap lekat wajah Marcel dengan air mata yang berurai. Lantas, ia mengecup bibir yang begitu manis mengatakan semuanya. Hatinya luluh, perasaannya yang bercampur aduk mulai larut menjadi debaran kencang yang selalu ia coba redam.
Marcel tidak tinggal diam. Ia membalas kecupan manis Clara dengan ***** an kuat. Menghisap dan menyesap bibir tipis itu hingga Clara terengah nyaris kehabisan nafas.
Tidak ada lagi yang perlu mereka katakan karena ternyata semuanya jelas. Perasaan mereka masih sama, tidak ada yang berubah.
******
Disa masih berdiri mematung saat keluar dari lift, menatap tidak percaya laki-laki yang berdiri di loby dan tengah menunggunya. Dari bahunya yang tegap, ia yakin benar kalau laki-laki yang beberapa waktu lalu menelponnya dan memintanya turun adalah tuan mudanya.
Kean berdiri membelakangi Disa, masih mengenakan pakaian kerjanya, hanya saja jasnya sudah tidak ia kenakan. Di tangannya ia memegangi paperbag kecil yang entah berisi apa.
Sementara Disa, sudah dengan kaos pendek dan celana panjang bermotif bunga yang biasa ia kenakan untuk tidur. Begitu mendapat telpon kalau tuan mudanya menunggu di loby, ia segera turun tanpa mengganti bajunya apalagi merias wajahnya.
Rambutnya di cepol asal dengan beberapa helai rambut yang tidak terikat. Jauh dari kesan rapi semisal mengepang rambutnya seperti biasa. Ia tidak memikirkan hal itu, yang ia tahu saat itu, ia harus bergegas turun untuk menemui Kean yang menunggunya di loby hotel.
“Tuan,” panggil Disa dengan ragu.
Sungguh, melihat punggung Kean saja dadanya langsung berdebar sangat kencang. Antar senang dan takut tiba-tiba tuan mudanya menemuinya.
Laki-laki tampan itu berbalik, membuat Disa harus menghela nafasnya dalam saat melihatnya tersenyum. Seperti ada desiran angin sejuk yang menerpa wajahnya hingga ia bisa menghela nafas lega saat melihat laki-laki ini baik-baik saja.
Beberapa saat saja ia terpesona oleh sosok yang berdiri menatapnya hingga ia kembali sadar, perasaan seperti inilah yang seharusnya ia buang.
“Maaf, karena membuat anda menunggu.” Imbuhnya kemudian.
Disa memperhatikan Kean yang sepertinya baru pulang dari kantor padahal sudah hampir jam 12 malam. Wajahnya yang terlihat lelah, tidak bisa ia sembunyikan walau ia tutupi dengan senyum tipisnya yang selalu membuat berdebar.
Laki-laki itu mendekat, mengajak Disa untuk duduk di salah satu sudut sofa tempat para tamu hotel biasanya menunggu.
Duduk berhadapan dengan sedikit canggung, ini pertama kalinya ia bertemu lagi dengan Kean setelah beberapa hari keluar dari rumahnya. Agak sedikit kikuk, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
“Maaf karena membangunkanmu.” Lirih Kean seraya menaruh papebag di hadapan mereka.
“Saya belum tidur tuan.” Aku Disa seraya menyelipkan anak rambut yang beterbangan tertiup hembusan angin dari jendela yang terbuka. Sedikit bergidik karena ternyata AC di loby juga cukup kencang berhembus dan meniup tengkuknya. Harusnya tadi ia memakai baju hangat agar tidak kedinginan.
“Syukurlah.” Kean menghela nafas lega, ia masih memandangi wajah manis yang kemerahan saat bertemu pandang dengannya.
“Kamu pernah bilang, saya masih boleh menemuimu dan bertanya kabarmu. Apa kamu tidak keberatan saya datang seperti ini?” melihat Disa yang terpaku, ia jadi berfikir mungkin Disa tidak nyaman dengan kedatangannya.
Entah Disa harus mengiyakan atau tidak pertanyaan Kean. Di satu sisi ia senang bisa melihat langsung wajah tuan mudanya namun di sisi lain, ia tahu mungkin ini sebuah kesalahan. Kean adalah calon suami orang lain yang tidak boleh sembarangan ia temui. Terlebih, ia masih belum terbiasa untuk meredam perasaannya saat bertemu Kean.
Ini menyiksa sekaligus menyenangkan di waktu yang bersamaan. Tapi ingat, ini hanya sekedar menyenangkan, bukan menenangkan. Semakin sering mereka bertemu, mungkin akan kembali membuat tuan besarnya marah dan bisa melakukan apa saja. Hal ini lah yang membuatnya tidak akan tenang.
Disa menggeleng pelan. “Tidak tuan. Hanya saja, saya diharuskan fokus pada apa yang sedang saya kerjakan sekarang.”
Kean terangguk paham, seperti biasa Disa berusaha menghindar dengan cara yang halus.
“Apa Claire mempersulitmu?” tiba-tiba saja pertanyaan itu di lontarkan Kean. Disa yang semula tertunduk, sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Kean lantas kembali memandangi jemarinya yang saling tertaut karena gugup.
“Tidak tuan. Mba clara bisa bersikap professional dan saya bisa menerima itu.” akunya dengan sejujurnya.
Walau menghadapi Clara itu bukan hal yang mudah tapi tidak lantas membuatnya menyerah. Clara masih bisa bersikap professional seperti menegaskan kalau model cantik itu sangat mencintai pekerjaannya dan tidak ingin mencoreng citra baiknya hanya karena masalah pribadi yang ada di antara mereka. Jika sikapnya yang sedikit ketus, tentu harus Disa terima. Tidak akan ada wanita yang mau calon suaminya mencemaskan wanita lain. Sangat bisa di pahami.
Lagi Kean terangguk, pikiran wanita ini begitu sederhana namun dewasa menurutnya. Apa yang Disa katakan, bukan karena wanita ini terlalu naif dan menerima setiap perlakuan Clara namun karena ia bisa menempatkan bagaimana seharusnya ia bersikap. Sangat matang. Dan sikap Disa yang sedikit menghindar karena ia tahu, tidak seharusnya ia menemui Kean semudah ini.
“Ini sedikit hadiah untukmu.” Mendorong paper bag itu mendekat ke arah Disa. “Saya harap, dia bisa menemanimu bekerja.”
“Terima kasih tuan.” Ia tersenyum tipis, menatap Kean sejenak sebelum kembali menunduk.
“Hem. Saya permisi dulu. Selamat malam.”
Kean beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Disa tapi tidak sekarang tidak pada kondisi seperti ini.
“Selamat malam tuan. Hati-hati di jalan.”
Kean tersenyum mendengar kalimat itu. Ia baru tahu rasanya saat kalimat sederhana seperti selamat malam dan hati-hati di jalan itu menjadi sebuah bentuk perhatian yang besar saat tidak bisa dengan mudah ia dengar dari Disa.
Dulu, setiap waktu Disa menyapanya. Selamat pagi, siang dan malam. Kata-kata yang terasa sangat biasa karena setiap orang bisa dengan mudah mengatakannya. Tapi kali ini, kata-kata tersebut menjadi begitu mahal untuk ia dengar.
Kean memilih untuk pergi, ia tidak ingin membuat Disa semakin canggung. Setelah Kean berlalu, barulah Disa mengangkat kepalanya memandangi punggung Kean yang semakin lama semakin menjauh. Hah, kenapa rasanya sedikit sakit di dada?
Kembali ke kamarnya, Disa menggunakan lift. Ia mengintip paper bag yang ada di tangannya. Sedikit mengintip hadiah apa yang diberikan Kean, sampai kemudian ia penasaran dan mengeluarkannya.
Sebuah cangkir keramik dengan gambar matahari yang tersenyum dan tulisan “Good luck” di bawahnya. Tuan mudanya seperti tengah menyemangatinya. Disa tersenyum sendiri, kenapa baru di saat sekarang tuan mudanya memberi perhatian yang manis.
Aahh, bikin meleyot saja.
******