Marry The Heir

Marry The Heir
Kenapa harus dia?



POV KEAN


Aku masih mengerjapkan mata beberapa kali saat mencium wangi masakan yang menusuk hidung. Aku yakin ada seseorang yang sedang memasak di bawah, mungkin pelayan itu.


Wangi masakan yang begitu menggoda membuat perutku berbunyi nyaring, minta di isi.


Sudah jam 6 sore dan Aku baru sadar kalau aku sudah tidur selama lebih dari 3 jam.


Siang tadi, setelah makan siang, aku mengurungkan niat untuk kembali ke kantor dan memilih mandi lalu meneruskan pekerjaan di tempat tidur.


Setelah beberapa minggu ini aku habiskan dengan bekerja tanpa libur, rasanya tubuh butuh istirahat. Makan siang dengan menu yang enak di tambah badan yang segar setelah mandi, membuat rasa kantuk itu datang tanpa bisa di tahan.


Aku tertidur begitu saja dengan laptop yang masih menyala.


Wangi makanan terasa semakin kuat dan mulai mengundang salivaku untuk ku telan kasar. Aku cuci muka sebentar lalu memilih turun ke lantai satu. Tapi dalam perjalanan, aku mendengar suara gaduh redam itu menjadi hening seketika.


Semula aku mendengar suara kuali dan spatula yang saling beradu tapi semakin lama semakin senyap. Mungkin pelayan itu sadar aku turun.


Saat aku tiba di bawah, suasana benar-benar sepi. Hanya ada masakan di atas meja yang masih mengepulkan asapnya. Aku mendekat namun tiba-tiba saja,


“BUK!"


"Mau apa kamu hah? Ngapain di rumah tuan muda saya hah?” teriak seorang wanita yang tiba-tiba memukulku dengan gagang sapu. Ia terus memukulkan gagang sapunya padaku hingga aku terpaksa mundur beberapa langkah.


“AW sakit! Hey sakit!” gertakku dengan keras.


Wanita itu terlihat sangat kaget bahkan tangannya gemetaran tapi tidak membuat dia menurunkan tangannya. Sepertinya ia mau tetap siaga.


Lihat, siapa ini. Apa wanita 50 tahun itu semuda ini?


Tunggu, rasanya aku mengenal wajah oval dengan bingkai alis tipis namun rapi ini. Sepertinya tidak ia berikan penghitam atau sulaman yang biasa di lakukan wanita zaman sekarang.


Sepertinya, aku ingat. Ini wanita yang sama yang aku sebut wanita barbar tepung terigu.


“Masih mau mukul?!” teriak ku  seraya menarik sapu di tangan wanita itu dengan kuat. Sial, aku terlalu kuat menarik sapunya hingga membuat wanita ini ikut tertarik dan menghantam dadaku.


"BUG!"


Kami terjatuh di atas sofa. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali ia bahkan mengendus bau tubuhku. Aarrghh sangat risih!


“APA?!” lagi-lagi aku meneriakinya, berusaha menyadarkan wanita ini dari lamunannya.


Buru-buru dia bangkit dan melempar sapunya ke sembarang arah. Ia pun merapikan rambutnya yang berantakan. Dia tidak berani menatapku hanya menunduk dengan kedua tangan yang meremas celemeknya.


Dia gugup.


Sepertinya dia mulai sadar siapa aku.


“Ma- maaf tuan muda. Saya tidak sengaja.” suaranya yang kecil dan gemetar nyaris tidak terdengar olehku.


Aku tidak menimpali, aku lebih memilih pergi ke meja makan dan melihat masakan apa yang dia buat.


“Kamu masih menganggap saya orang berengsek hah?” tanyaku seraya menarik satu kursi untuk aku duduki.


“Ti-tidak tuan.” buru-buru dia mengambilkan piring dan menaruhnya di hadapanku.


“Berapa usiamu?” aku masih bertanya sementara tanganku mencomot satu buncis untuk aku cicip.


Aneh, selera makanku tidak hilang padahal aku sangat kesal. Mungkin karena wangi masakan yang membuat nafsu makanku lebih kuat dari emosiku.


“Du-dua puluh tahun tuan.” dia terlihat takut-takut membuatku tersenyum sarkas. Kesempatan untuk mengerjai.


“Sebelumnya kamu mengataiku brengsek, tapi siapa sangka aku mempekerjakan seorang pembohong di rumahku.” aku sedikit sinis dan enggan meneruskan makanku. Aku masih ingin melihat kata-kata apa yang dilontarkan wanita yang biasa berbicara dengan EYD sesuai KBBI saat berkirim pesan atau meninggalkan catatan untukku.


“Maaf tuan, saya tidak bermaksud membohongi anda. Jari saya salah menekan tombol harusnya angka 2 tapi malah angka di bawahnya.” terang wanita itu dengan hati-hati. Dia bahkan tidak berani menatapku.


“Oh ya?” aku mulai penasaran. Seperti apa jawaban wanita ini selanjutnya.


Dia terlihat mengambil sesuatu dari saku bajunya, baju pelayan yang biasa di pakai di rumah utama.


“Benar tuan. Anda bisa melihat tombol angka 2 dan angka 5 yang berdekatan. Saya salah menekan angka sehingga jadi 50.”


Dia mempraktekan apa yang dia katakan sambil menunjukkan ponsel kecil yang dia gunakan. Layarnya masih hitam putih dan tulisannya pun nyaris pupus, tidak terlihat. Sepertinya wanita di hadapanku hidup di zaman yang berbeda dari era sekarang.


Lihat saja, wajah yang polos tanpa riasan. Bibirnya yang sedikit kering tapi masih merah muda. Rambutnya yang dikepang lalu di sanggul kecil dan dikunci dengan sebuah jepitan berwarna hitam. Kolot sekali.


Rupanya seperti ini cara Kinar mengatur penampilan para pelayan.


Yang berbeda dari wanita ini saat ini adalah Dia tidak lagi menatapku dengan mata menyalak. Wajahnya sedikit kemerahan dengan raut gugup. Dia bahkan tidak berani menatap mataku terkecuali saat kami sama-sama terjatuh tadi.


“Kamu bisa mengklarifikasinya, kenapa masih tetap berbohong?” pertanyaanku kali ini tidak cepat ia timpali.


Seperti ada rasa sesal yang ia simpan.


“Lagi pula, ngapain kamu bekerja di rumah saya? Apa kamu berubah pikiran soal tawaran untuk pengganti kerugian yang kamu alami waktu itu?”


“Em tidak tuan. Mohon maaf tidak seperti itu.”


Cepat juga dia menyahuti pertanyaan kedua. Tapi bibirnya kembali mengatup, mungkin otak kecilnya sedang memikirkan alasan apa yang akan dia buat.


“Saya hanya mencari kerja dan ternyata saya bekerja di keluarga tuan.” begitu akunya.


“Hey, tatap mata lawan bicaramu saat sedang berbicara! Kamu tidak menghargai saya?” Masih ingin memancing. Aku masih ragu ke mana perginya wanita yang berani menantangku beberapa hari lalu.


“Ma-maaf tuan.” Dia menatapku sekitar 3 detik lalu kembali menunduk.


“Dulu kamu, menatap saya dengan berani.” aku berdiri dan menghampiri wanita di hadapanku. Berjalan ke belakangnya tapi dia tidak menoleh. “Kamu bahkan memanggil saya brengsek dan menyumpahi saya kalau saya akan impoten. Apa kamu masih orang yang sama?” aku sedikit berbisik di belakangnya dan ia tampak bergidik, membuat senyum samarku sedikit melengkung.


“Saya, meminta maaf atas kejadian tempo hari.” Dia menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. Mudah sekali bibir itu mengucapkan maaf padahal aku tidak membutuhkannya.


“Saat itu saya memang mengatakan kata-kata yang tidak pantas. Dan saya berani menatap tuan karena saat itu tuan adalah orang asing, sehingga tidak perlu ada keraguan saat saya ingin menyampaikan kata-kata saya di luar kendali sekalipun. Namun saya sadar saat itu saya salah.”


Dia tertunduk lesu. Bagiku dia terlalu berbeda dari yang aku lihat sebelumnya.


“Apa saat ini kamu sedang bermain drama di hadapan saya karena takut saya pecat?” Aku berdiri di hadapannya dengan tangan tersilang di depan dada. Aku memang sedang menantang untuk melihat lagi amarahnya.


“Tidak tuan.” menatap lagi 3 detik lalu kembali menunduk. “Saat ini saya hanya memposisikan diri saya pada tempat seharusnya.” begitu akunya.


“Apa kamu masih menunggu permintaan maaf saya?”


Dia menggeleng. “Saya tidak sedang menunggu apa pun. Meminta maaf dan memaafkan, itu hak tuan. Saya tidak berhak menuntut apa pun karena itu berhubungan dengan hati masing-masing. Dan saya pun sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi.”


Okey, jawabannya aku terima. Terdengar cukup tulus dan lebih dari itu, dia tidak lagi memaksa untuk meminta maaf.


“Maaf,” aku menjeda kalimatku.


“Hah?” Dia mengangkat kepalanya dengan wajah melongo.


“Saya meminta maaf. Apa sudah cukup?” aku meneruskan kalimatku. Ternyata tanpa di paksa, kata itu begitu mudah meluncur dari mulutku.


Dia mengangguk dengan segaris senyum. “Sangat cukup tuan.” timpalnya.


“Okey, siapkan makan untuk saya siska.”


“Disa tuan. Nama saya paradisa sandhya, tuan bisa memanggil saya disa.” dia langsung mengklarifikasi namanya.


Sebenarnya aku masih ingat namanya, hanya saja iseng ingin melihat responnya.


“Apa saya juga harus tau tanggal lahir kamu?”


“Tidak tuan, itu tidak penting. Lebih penting bagi tuan untuk mengisi perut karena sudah cukup larut.”


Sepertinya aku harus mengucapkan selamat pada Kinar karena memilih pelayan yang cukup ada otaknya. Bermulut manis juga. Semoga saja di belakang sana dia tidak menggerutu.


Tangannya dengan cepat menyiapkan piring dan membuka semua penutup lauk yang dia masak.


“Silakan tuan.” dia menyodorkan sepasang sendok dan garpu lalu segelas air.


Aku mulai menikmati makan malamku. Yang paling aku suka adalah tumisnya yang tidak terlalu banyak minyak dan air. Bumbunya juga pas, tanpa ada banyak bawang seperti sebelumnya. Sepertinya dia belajar dengan cepat apa yang aku suka dan tidak.


Satu piring nasi beserta lauknya sudah tandas dan berpindah ke dalam perutku. Selama aku makan, dia masih berdiri di tempatnya seraya menunduk. Aku ingin bersendawa karena kekenyangan tapi rasanya sangat gengsi. Nanti saja kalau dia sudah pulang, aku bersendawa sepuasnya.


“Buatkan saya kopi dengan satu sendok gula dan bawa ke ruang baca.” perintahku sebelum beranjak dari tempat duduk.


“Baik tuan.” cepat dan patuh, begitu ciri khas responnya.


Aku segera pergi menuju ruang baca sambil sesekali melihat pesan laporan yang di kirimkan para stafku. Selalu berita yang kurang menyenangkan yang aku terima, entah sampai kapan masalah perusahaan ini bisa aku selesaikan.


Di ruang baca, aku memilih untuk duduk di atas sofa sambil membaca kembali buku yang aku bawa dari amerika. Buku manajemen bisnis yang sudah beberapa kali aku baca dan isinya tetap sama. Yang berubah hanya cara pandangku membaca isi buku ber-hard cover ini.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki menaiki anak tangga yang disusul dengan suara ketukan di pintu.


“Saya disa tuan, membawakan anda kopi.” begitu suara mendayu yang aku dengar dari balik pintu.


“Hem, masuklah.”


Daun pintu terbuka, dia masuk dengan langkah hati-hati. Aku hanya melirik dari sudut mataku dan dia sedikit celingukan, bingung menempatkan di mana kopi yang dia buat.


“Taruh di atas meja. Setelah ini kamu boleh pulang.”


Suaraku membuatnya menghela nafas lega.


“Baik tuan.” begitu sahutannya. “Saya permisi tuan. Selamat beristirahat.” imbuhnya yang mengangguk sopan.


Aku tidak tertarik merespon basa-basi itu. Hanya isyarat tangan yang aku tunjukkan sebagai respon.


Dia keluar dari ruang bacaku dan menutup pintu dengan pelan. Ku taruh buku yang baru satu lembar aku baca, rasanya aku lebih tertarik untuk mencicipi kopi buatan wanita bernama Disa itu.


Satu seruputan, rasa pahit dan manis yang bercampur itu membasahi tenggorokanku. Panasnya pas dan membuat adrenalinku cukup meningkat. Aku memilih keluar ruang baca dan berpindah ke balkon samping.


Memandangi cahaya lampu taman yang menyala redup dan dikelilingi serangga yang beterbangan di sekitarnya. Tidak lama, terlihat seorang wanita yang menggunakan sepeda melintasi taman. Mungkin itu Disa.


Gila, selarut ini dia pulang dengan sepeda. Tapi, apa peduliku. Aku sudah menggajinya dengan lumayan besar, bukankah dia bisa memilih untuk memakai taksi?


Tidak perlu aku pikirkan. Aku nikmati lagi saja secangkir kopi hitam di tanganku.


*****


POV DISA


Rasa terkejutku masih belum hilang saat mengingat ternyata tuan muda yang menjadi majikanku adalah laki-laki menyebalkan yang aku temui beberapa waktu lalu.


Dari sekian banyak orang kaya di negara ini, kenapa harus dia?


Kenapa harus laki-laki menyebalkan itu yang menjadi majikanku dan kembali menatapku dengan rendah?


Eh tunggu, dia menatapku biasa saja. Tidak seperti waktu itu.


Tadi, Dia berdiri dengan gagah, menatapku dengan rasa terkejut yang sepertinya sama dengan ku. Dan lagi, dia mengenakan baju yang aku setrika tempo hari.


Penampilannya tidak sekacau saat kami bertemu sebelumnya tapi dari suaranya yang berat dan dalam, rasanya aku tidak asing dengan suara tersebut.


Katakan saja terlalu banyak orang yang sering membentakku, sehingga suara seperti itu terasa familiar di telingaku.


Di antara kayuhan pedal sepedaku, aku masih berfikir bagaimana bisa semua itu terlalu kebetulan. Selama aku berada di hadapan tuan muda bernama Kean tersebut aku menahan diriku. Dia terus memancing amarah dan kekesalanku, beruntung emosiku masih terkendali dengan menghela nafas dalam.


Saat ini aku sadar, tampan, kaya, mapan, dari keluarga terpandang dan seorang pewaris group perusahaan besar, sepertinya cukup memberikan alasan mengapa sikapnya begitu arogan. Walaupun itu bukan suatu pembenaran. Tapi ya, itu bukan kapasitasku untuk menilai.


Kilatan lampu mobil membuatku harus menyudahi lamunanku dan memfokuskan diri berlomba di samping kendaraan beroda dua lainnya terlebih kendaraan beroda empat. Aku sudah harus sampai dan mengistirahatkan tubuhku.


Entah aku harus meneruskan pekerjaan ini atau tidak, tapi seperti kata Tina, kita mainkan saja peran kita lalu pulang dan kembali mengenakan daster dan sesekali berpakaian seksi.


Kalimat Tina seperti mantra baru untukku. Penguat tekad saat nyaliku mulai kendur. Terlebih, aku membutuhkan pekerjaan ini. Ada perut yang harus aku isi dan ada kebutuhan yang aku penuhi.


Lagi, alasan kebutuhan membuatku harus bertahan. Sebentar saja, sampai waktunya tiba aku bertahan tanpa harus terikat secara emosional dengan keluarga kaya raya ini.


*****