Marry The Heir

Marry The Heir
Bahagia yang menular



Menurut Nicholas Christakis, seorang praktisi psikologi dan sosiologi dari Harvard University, kebahagiaan itu seperti flu yang menular dan menyebar dari satu orang ke orang lain. Terbukti kalau kita hidup dengan orang-orang yang bahagia, kita juga akan terbawa bahagia. Itulah mengapa begitu penting memilih lingkungan yang tepat agar merasa secure dan bahagia karena salah satu hal yang berpengaruh besar pada kebahagiaan kita adalah lingkungan yang kita pilih.


Seperti yang di rasakan Arini saat ini. Ia banyak memegangi pipinya yang sepertinya berusaha tertawa lebar tapi saraf-saraf di otot wajahnya belum bisa berfungsi maksimal. Di hadapannya ada Nita yang sedari tadi melempar lelucon cerita masa muda mereka yang sangat seru.


Mulai dari cerita Nita saat menyatakan cinta pada seorang laki-laki yang dikenalnya melalui sosial media dan ternyata tidak setampan foto profilnya sampai pengalaman ia buang angin saat kencan pertama dengan almarhum suaminya. Ternyata masa mudanya cukup berkesan. Mereka seperti tengah bernostalgia.


Disa ikut tertawa menyimak pembicaraan Nita dan Arini.


“Kamu tau rin, mas pras itu OCD. Dia gak suka sama hal menjijikan dan kotor. Waktu aku buang angin dan di denger sama dia, hampir aja kencan kami gagal. Tapi ya beruntungnya dia gak sampe illfeel.” Celotehnya dengan dibarengi tawa yang renyah.


“Mas pras jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, gak mungkin lah dia cepet banget illfeel.” Arini menimpali, ikut berusaha tertawa.


“Em iya sih…” Tawa Nita mulai terhenti dan berubah menjadi senyum kelu. Matanya yang bulat berkedip pelan seperti tengah mengulang ingatannya di masa lalu.


“Aku 8 tahun pacaran sama mas pras. 14 tahun menikah tapi rasanya baru sekejap mata. Sejak ada anak pertama sampe terakhir reza, semua berlalu begitu cepat.” Wajah Nita mulai sendu. Ia berusaha tersenyum tapi hatinya masih sangat sedih kalau mengingat kepergian suaminya yang dirasa terlalu cepat.


Arini mengusap bahu sahabatnya, berusaha menyemangati Nita. “22 tahun bukan waktu yang sebentar. Kamu punya banyak kenangan untuk kamu ingat dan membuat mas pras terasa masih hidup. Paling tidak di hati dan pikiran kamu.” Tutur Arini. Ia ingat benar bagaimana romantisme Nita dan suaminya yang kerap membuat banyak orang merasa iri.


“Ya, tentu. Mas pras selalu hidup di sini rin.” Tunjuk Nita pada dada kirinya. Arini mengangguk mengamini.


“Duh kok malah jadi melow gini ya. Udah ah, kita lanjutin lagi masaknya.” Imbuh Nita seraya menghela nafasnya dalam. Ia berusaha mengusir perasaan sedih yang sesekali masih sering mampir saat mengingat kenangan bersama suaminya.


Di  dapur saat ini mereka berada, menyiapkan makanan untuk makan siang dan membuat beberapa dessert yang mudah di buat. Nita yang memikirkan ide menunya dan Disa yang eksekusi semua petunjuk Nita, mana yang harus di masak lebih dulu. Sementara Arini, hadir sebagai penyemangat.


“Reza belum selesai ya ngobrolnya?” tanya Nita tiba-tiba.


Disa mengintip sedikit Reza yang masih berbincang dengan seorang wanita yang tak lain adalah Ellen.


“Belum bu.” Sahutnya.


“Emang dia siapa?” Arini ikut penasaran karena sudah hampir 2 jam mereka berbincang serius sambil memandangi laptop yang menyala di depan mereka. Ada beberapa berkas juga yang tertumpuk di sekitar mereka.


“Ellen, temennya sama-sama dosen.” sahutnya malas.


“Belakangan ini sering banget dia ke sini. Kadang sama anaknya yang perempuan.” Wajah Nita sedikit kesal, saat mengingat seperti apa keadaan di galery yang berubah menjadi terlalu bising. Ia seperti tidak rela kalau putranya sering di kunjungi.


Mendengar perkataan Nita tentang Ellen, membuat Disa ikut memperhatikan wanita cantik berkaca mata itu. Penampilannya yang smart memang sangat cocok dengan title nya sebagai seorang dosen.


“Emang dia ngapain? Bukan sekedar temen kali sama reza.” Kalimat Arini membuat Disa benar-benar menunggu jawaban Nita.


“Nggak lah. Dia ke sini karena banyak minta tolong ini itu. Sebelumnya, ngecek laptopnya yang trouble lah. Sekali waktu ngabahas bahan rapat di kampus lah tapi seringnya bawa anaknya belajar piano, katanya pengen jadi pianis kayak reza.” Nita menunjukkan ekspresi tidak sukanya lengkap dengan decikan di ujung kalimat.


“Tapi aku yakin, mereka cuma berteman. Lagi pula reza cuma bersikap baik aja sama dia.” Imbuhnya seraya melirik Disa dan tersenyum.


Disa ikut tersenyum tipis, tidak tahu juga ia harus berbicara apa.


“Sa, tolong ambilin jamur di kulkas. Kita tumis buat tambahan.” Kali ini perintah itu yang di tujukan pada Disa.


“Baik bu.” Disa segera menuju kulkas yang berada di ujung dapur. Mencari bahan yang di maksud Nita sampai akhirnya ia mendengar sayup-sayup perbincangan Nita dengan Arini.


“Perempuan itu lagi bermasalah kayaknya sama suaminya. Mau cerai gitu. Aku jadi was-was dia sering ke sini. Takutnya reza kebawa-bawa di masalah mereka. Kan nggak banget." Terdengar jelas kegelisahan seoang ibu yang tidak ingin anaknya terlibat dalam masalah. Mungkin itu yang membuat Nita menujukkan ekspresi tidak sukanya pada Ellen.


"Kabarnya dia seorang selingkuhan. Ngeri kan?” Nita berusaha berbisik pada Arini tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh Disa.


Di tangannya Disa memegangi jamur yang masih ada dalam kotaknya dan tertutup plastik wrapping. Untuk saat ini sepertinya ia menunggu saja sampai pembicaraan Nita selesai. Karena Nita tidak ingin pembicaraannya di dengar Disa.


“Ya kamu hati-hati lah, jangan lupa ingetin reza. Bilang apa adanya kalo kamu gak terlalu suka. Toh buat kebaikan dia juga.” Timpal Arini masih ikut berbisik.


“Iya nanti aku mau ngomong baik-baik sama reza. Gak enak juga ada perempuan yang terus-terusan bolak-balik ke rumah ini sementara masalah perempuan itu cukup banyak.” Nita dengan tekadnya yang sudah bulat.


Saat perbincangan mereka sudah berakhir, barulah Disa menghampiri Nita. “Ini bu, jamurnya. Mau di masak seperti apa?”


“Oh ya, di tumis aja. Ini jamur kesukaan reza.” Timpal Nita.


Disa menurut saja. Ia mulai menyiapkan bumbu dan menumis jamur sebagai menu terakhir. Setelah itu menempatkannya di piring dan menatanya dengan cantik.


“Okey, masakannya udah mateng semua. Sa, tolong kasih tau reza yaaa kalo masakannya udah mateng. Biar ellen juga cepet pulang.” sinis Nita kemudian. Sepertinya ia tidak sabar untuk menyuruh Ellen pergi.


“Baik bu.” Hanya bisa menurut walau ia sendiri bingung harus berbicara seperti apa. Apa yang akan ia katakan agar tidak menyinggung Ellen.


Menghampiri Reza yang berada di ruang tengah bersama Ellen, mereka masih terlihat serius berbincang. Rasanya tidak enak kalau tiba-tiba datang, menjeda obrolan mereka. Disa memilih untuk diam dulu di dekat pintu sambil mencuri dengar apa yang mereka bicarakan dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul. Serasa jadi orang yang tidak punya etika karena beberapa kali ia harus diam-diam mencuri dengar obrolan orang lain agar tidak menyinggung mereka.


"Ayolah otak, jangan ikut berfikir masalah mereka." Disa mengingatkan dirinya sendiri.


“Kamu udah yakin mau menggugat suami kamu?” tanya Reza yang membuat Ellen tampak berfikir. Rupanya perbincangan kali ini memang tentang rumah tangga Ellen yang membuat Nita was-was. Cukup beralasan karena kalau salah langkah, Reza bisa di anggap menjadi sumber masalahnya.


Wanita cantik itu melepas kacamatanya dan menekan sudut matanya yang sudah lelah. Ia masih terlihat gamang, menimbang antara meneruskan rencananya atau tidak.


“Aku udah gak punya tempat lagi za dan gak punya hak apa-apa lagi atas suamiku. Kenapa aku harus bertahan?” sahut Ellen lesu. Terdengar putus asa dan sedih di waktu bersamaan.


“Aku memang ingin mengakhiri hubungan toxic ini. Tapi aku juga masih memikirkan perasaan ghea. Aku gak mau dia kehilangan sosok ayahnya yang sangat dia sayangi."


"Tapi aku juga udah lelah terus-terusan di serang terror sama istrinya mas Darwin.” Ellen menangkup wajahnya dengan kedua tangan, kemudian mengguyar rambutnya dengan kasar. Nafasnya terdengar berat seperti ada ribuaan beban yang di taruh di pundaknya.


Disa memperhatikan cara Reza menatap Ellen, penuh perhatian. Nyaris tidak ada bedanya dengan yang Reza lakukan padanya. Mungkin Reza memang baik pada semua orang. Ia memperlakukan semua wanita sama. Lantas, mengapa ia harus merasa kalau perhatian Reza belakangan ini terasa special? Apa arti pesan sapaan setiap pagi dan ucapan mimpi indah sebelum tidur yang di kirim Reza? Atau mungkin hanya ia sendiri yang terlalu percaya diri hingga merasa semuanya begitu istimewa?


Disa urung menghampiri Reza. Ia lebih memilih menyandar di dinding dan memikirkan seperti apa cara ia menghampiri Reza nanti.


“Walau pun kamu pisah sama mantan suami kamu, bukan berarti ghea akan kehilangan kasih sayang ayahnya bukan?" perbincangan mereka berlanjut.


"Suami kamu masih bisa memberikan perhatian yang sama buat ghea. Gak akan ada yang berubah dari hubungan seorang ayah dan anaknya.”


“Mereka satu aliran darah yang sama.” Reza berusaha menenangkan Ellen. “Yang terpenting, kamu  yakin dengan pilihan kamu dan kamu pastikan setelah ini, kamu akan bahagia. Karena itu yang terpenting untuk kesehatan mental Ghea.” Tandas Reza dengan bijak.


Ellen hanya terangguk mendengar kalimat Reza. Wanita itu menghela nafasnya dalam kemudian bisa tersenyum lega. Keduanya saling bertatapan, seperti tengah saling memberi dan menerima perhatian satu sama lain.


“Makasih za makasih banyak.” Tukas Ellen kemudian.


Reza hanya tersenyum, kemudian kembali fokus pada laptop di hadapannya.


“Reza masih belum selesai?” suara Nita menyadarkan Disa dari lamunannya.


“Oh, itu bu,” Disa segera menegakkan tubuhnya yang semula bersandar lemah. Kebingungan menjelaskan apa yang ia dengar.


“Masih belum pulang juga rupanya.” Sambung Nita yang akhirnya lebih dulu menghampiri Ellen.


Apa boleh buat, Disa pun terpaksa keluar dari persembunyiannya.


“Wah, masih ngobrol yaa… Masih banyak kerjaannya?” kalimat Nita lebih terdengar sebagai sindiran.


“Oh tante.” Dengan cepat Ellen berdiri, sepertinya ia sangat terkejut.


Nita hanya tersenyum sinis saat merespon Ellen, membuat suasana terasa tidak nyaman.


“Kami mau makan siang, kamu mau sekalian gabung?” fix, ini sindiran.


Disa memperhatikan ekspresi Reza yang terlihat tidak enak. Seperti dirinya, Reza pun takut menyinggung Ellen.


“Mah,..” Reza menghampiri Nita dengan perasaan tidak nyaman. Ia meraih tangan Nita tapi sepertinya Nita tidak bergeming.


“Oh tidak usah tante. Saya sudah hampir selesai kok.” Ellen bisa merasakan aura tidak suka dari nita. Bibirnya yang tersenyum sinis dan matanya yang menatap tajam, menunjukkan jelas ketidaksukaannya pada Ellen.


“Len, kamu bisa tinggal untuk makan siang dulu kok. Mamah pasti masak makanan enak. Iya kan mah?” Reza berusaha menetralisir keadaan.


Nita hanya mengendikkan bahunya seraya memandangi barang-barang Ellen yang masih terserak di atas meja, seperti memintanya untuk segera merapihkan semuanya.


Beruntung seseorang datang dan memecah ketegangan mereka.


“Siang tan.” Sapa Kean. Ia terlihat bingung meliat wajah-wajah tegang orang-orang di hadapannya. Ia melirik Disa dan Disa hanya tersenyum.


“Siang nak, masuklah.” Sahut Nita kemudian.


“Iya tan.” Ya sudah memang sebaiknya ia pergi saja. Baru melangkah dua langkah, ia melirik disa. “Kamu ninggalin mamah sendirian?” tanyanya dengan tegas.


“Oh, saya…” yang di tanya malah tergagap. Bingung antara harus tetap di sini atau ikut Kean masuk.


Kean memberi isyarat agar Disa masuk dan rasanya ini langkah yang tepat.


“Bu, saya masuk duluan.” Pamitnya pada Nita.


“Iya sa.” Sahut Nita dengan nada suara yang berbeda dari saat ia berbicara pada Ellen.


Disa hanya mengangguk sebelum ia pamit meninggalkan orang-orang di ruang tamu. Ia berjalan cepat menyusul tuan mudanya hingga setengah berlari.


“Jangan biasakan melibatkan diri dalam urusan orang lain.” Bisik Kean dengan penuh penekanan. Sebenarnya ia sudah lama berada di depan pintu tapi orang-orang tidak menyadarinya. Dan saat semuanya terlihat tegang, baru lah ia masuk untuk mengalihkan perhatian mereka.


“Ma-maaf tuan.” Sahut Disa.


Kean hanya menggeleng, tidak habis pikir dengan gadis yang selalu ada di tengah-tengah konflik orang lain.


******