Marry The Heir

Marry The Heir
Dreamsketch



Suara Tv terdengar riuh saat Disa tiba di rumahnya. Adalah Meri yang sedang asyik melihat tayangan gossip yang beberapa hari ini tidak di tontonnya. Ia tampak menikmati beragam headline gossip yang di absen oleh sepasang host terkenal itu.


Berada terus di kamar tentu sangat membosankan dan ini adalah salah satu hiburan yang biasa Meri lakukan seperti kebanyakan wanita lainnya.


“Kamu udah pulang?” tanya Meri saat mendengar langkah kaki Disa.


“Iya tan. Disa beli buah. Tante mau jus apa mau buah potongnya aja?”


Di tangannya, Disa membawa apel, jeruk sunkist dan buah naga, masing-masing satu kilo yang di beli Disa di toko buah dekat rumahnya. Katanya tiga buah-buahan ini cocok untuk mengobati gejala hemiplegia yang di derita Meri.


“Buah potong aja.” Sahut Meri tanpa mengalihkan pandangannya dari gossip yang dilihatnya. Seperti tidak ingin rugi karena melewatkan satu scene saja.


Disa segera mengupas buah-buahan dan memotongnya lalu menatanya di atas piring. Tidak lupa menaruh garpu untuk di pakai Meri.


“Silakan tan.” Menaruh sepiring buah itu di hadapan Meri.


“Kamu duduk di sini, kita makan sama-sama.” Meri menepuk tempat di sampingnya dan Disa hanya menurut.


“Bu, aku minta ya!” satu potong buah langsung di santap Damar yang baru selesai mandi.


Tumben sekali anak ini mandi apalagi keramas. Biasanya tampilannya kumel seharian tidak mempedulikan bau oli yang masih menempel di tubuhnya.


“Iya makan aja.” Damar memang kesayangan Meri, wanita ini rela berbagi makanan yang tidak terlalu banyak dengan putranya.


Beberapa potong buah masuk ke mulutnya, “Manis juga!” suapan terakhir adalah apel. Mengunyahnya dengan nikmat baru ia beranjak untuk mengambil minum.


“Lagian, nikah ama bocah. Tampang masih pengen main gitu harusnya jangan di ajak main di ranjang. Mana ngerti mereka tanggung jawab jaga anak. Bikin anaknya sih pinter.” Meri mengomentari salah satu gossip tentang perceraian seorang pasangan muda selebritis.


Cukup menarik sepertinya hingga tantenya berkomentar.


“Ibu jangan kebanyakan nonton gossip itu tuh gak bagus buat kesehatan ibu. Lagian ngapain coba ngepoin masalah hidup mereka. Itu bisa bikin tensi darah ibu naik lagi.” Damar yang mengingatkan sekali lalu meneguk air minumnya.


Setiap hari tayangan gossip selalu di nanti Meri seperti tidak ingin terlewat satu artispun. Padahal menurutnya apa serunya menyimak masalah orang lain yang terkadang hanya settingan untuk meningkatkan popularitas.


“Ya gimana lagi, ibu juga pengen hiduran mar.” elak Meri yang kembali mengunyah apelnya. Ada kebanggan tersendiri saat ia bergossip dengan ibu-ibu sebayanya dan obrolan mereka nyambung, membicarakan masalah artis yang sama.


“Boleh hiburan tapi jangan nonton gossip. Mending nonton drakor tuh sama disa. Biar sama-sama ngehaluin oppa korea. Katanya itu bikin dopamine naik, jadi ibu bisa seneng terus. Ngayal terus!” menunjuk Disa dengan matanya.


Eh ini anak entah memberi alternative solusi apa meledek Disa yang menyukai drama korea.


“Emang iya sa?” Meri terpancing. Ia menatap Disa dengan penasaran.


“Hehehehe.. Iya sih tan. Cowok korea banyak yang ganteng sama romantis tapi so cool gitu. Bikin gemes pokoknya.” Jadi ingat salah satu aktor korea yang menjadi idola Disa saat ini, Ji chang wook. Siapa coba yang tidak terpesona lihat salah satu ciptaan tuhan itu?


“Gak usah nyindir gue lah.” Celetuk Damar tiba-tiba saat mendengar ciri-ciri oppa korea yang di sebutkan Disa.


“Yee!!” seru Meri dan Disa bersamaan. Geli juga mendengar celetukan Damar yang terlalu percaya diri.


Damar hanya terkekeh melihat ekspresi kesal sekaligus menggemaskan dari dua wanita di hadapannya. Tumben mereka kompak.


“Ya udah, kamu beliin tante kaset dvd-nya. Tante mau nyoba nonton. Siapa tau jadi cepet sembuh.” Semangat Meri cukup besar, entah untuk sembuh entah untuk melihat oppa-oppa korea.


“Iya, nanti disa cariin ya tan.” Senang juga bisa sedikit menghibur Meri.


“Kabar selanjutnya, datang dari seorang model cantik yang sedang naik daun. Ada yang tau gak nih?” ujar host wanita yang memantik rasa penasaran Disa dan Meri hingga memperhatikan tayangan gossip ini.


“Tau dong! Siapa lagi kalau bukan si cantik clara davina.” Sahut host pria yang kemudian berpose layaknya model. Di layar televisi langsung menampilkan wajah cantik Clara.


“Kabarnya, dia akan segera melepas masa lajangnya dengan seorang pengusaha sukses.”


“Dan kabarnya lagi, mereka bersahabat sejak kecil. Uuunncchhh.. Mende sah lagi nih, menikah dengan sahabat.” Mereka saling bersahutan menebar gossip dengan ekspresi gemas.


Wajah Disa yang semula ceria, kini berubah murung. Sudah bisa ia tebak, siapa yang mereka maksud. Ia tidak pernah menyangka kalau gossip ini yang akan di dengarnya. Atau lebih tepatnya tidak menyangka kalau tuan mudanyapun akan menjadi bahan gossip.


Ia memang nyaris tidak pernah menonton acara di televisi apalagi gossip sehingga tidak cukup tahu, info selebritas apa yang saat ini sedang ramai diperbincangkan.


Namun, mendengar gossip ini, kenapa perasaannya jadi tidak nyaman ya?


“Kalian tuh cepet banget yaa kalo gossip kayak gini.” Wawancara dengan Clara langsung di tampilkan. Wanita cantik itu terlihat mempesona saat di wawancarai di sebuah event yang ia hadiri.


“Udah pastilah saya mau nikah. Mana ada yang mau melajang seumur hidup.” Imbuhnya dengan senyum yang mengundang takjub.


“Terus kapan rencananya akan go public?”


“Nantilah. Saya up secepatnya.” Clara memang jagonya memantik rasa penasaran dan Disa salah satu yang termakan oleh rasa penasaran itu.


Melihat Disa yang hanya terpaku melihat acara gossip itu, membuat Damar sadar kalau tidak seharusnya Disa melihatnya.


Clara meninggalkan awak media yang penuh dengan rasa penasaran serta meninggalkan salah satu penonton dengan perasaan tidak karuan dan hati yang retak.


Tiba-tiba saja Damar melempar helm bogo ke samping Disa membuat gadis itu terperanjat.


“Lo apaan sih?!” kesal juga rasanya melihat tingkah Damar yang kadang menyebalkan seperti ini.


“Bangun! Temenin gue nyari kaset korea.” Sahutnya asal.


Disa mendelik kesal. Damar seperti mendapat alasan untuk mengajaknya pergi padahal sedang tidak ingin. Mendengar gossip yang kemungkinan besar tentang Kean, sudah merusak good mood yang seharian ia buat. Rasanya ia ingin pergi ke kamar dan menangis di sana.


“Ayok sa! Daripada gabut di rumah. Nanti kita nonton bareng.” Meri yang tidak tahu apa-apa malah mengamini ajakan Damar.


“Iya tan.” Akhirnya Disa menurut walau dengan wajah tertekuk.


"Pake jaket!" melempar satu jaket pada Disa dan ia mengenakan miliknya.


Entah kemana Damar akan membawanya. Melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan yang tidak terlalu ramai. Tumben ada jalan seperti ini di Jakarta. Kebiasaan Damar bersafari ternyata cukup bermanfaat, hingga ia mengetahui jalan-jalan tikus untuk menghindari kemacetan.


Disa duduk dengan kaku, menjaga jarak dari Damar. Selain dengan Kean, ia pun harus menjaga jaraknya dengan Damar. Ia tidak ingin keadaan yang mulai terkendali berubah menjadi mengancam.


“Lo pegangan sa. Kejengkang baru tau rasa lo!” seru Damar melawan kerasnya suara angin.


“Berisik lo!” timpal Disa.


Ia memilih mengeluarkan tangannya dari saku hoodie lalu merasakan hembusan angin yang ada di sekitarnya. Sudah sangat lama ia tidak duduk di boncengan Damar dan melakukan hal semacam ini. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya hingga matanya memincing karena perih teriup angin.


Damar melambatkan laju kuda besinya. Sudah pasti Disa tidak akan mau berpegangan seperti dulu. Kedekatan mereka berbatas agar tidak memberi perasaan lebih. Dan Damar memahami hal itu.


Membelokkan motornya ke sebuah tempat yang Disa pun mengenalinya. Bangunan tua dengan dinding berwarna abu dan di hiasi coretan graffiti milik Damar. Beberapa sudut sudah di tumbuhi tanaman merambat seolah menegaskan kalau sudah cukup lama tidak ada yang datang ke sini.


Disa turun lebih dulu saat Damar menghentikan laju motornya. Ia berjalan menghampiri tembok tinggi itu namun dengan cepat Damar menarik hoodienya hingga nyaris lehernya tercekik.


“Helm lo bego!” sengitnya. Membuat Disa yang nyaris merepet kesal akhirnya membulatkan mulutnya. Iya juga, kenapa helm nya masih ia pakai.


“Tumben helmnya gak bau!” ledeknya saat ia mengembalikan helm milik Damar.


Damar hanya mencibirkan bibirnya meledek ucapan Disa. Disa tersenyum samar, menyebalkan sekali kelakuan sahabatnya.


Berjalan di depan Damar, memperhatikan dinding yang di penuhi coretan milik Damar. Dulu mereka sering datang ke tempat ini terutama saat perasaannya tidak karuan. Disa mengusap satu bagian dinding tempat lukisannya dulu di buat. Pertama kali ia menggunakan pilox seperti yang biasa Damar lakukan.


“Lo gak ternak ular kan di sini?” melihat lingkungan sekitar yang di tumbuhi rerumputan, Disa jadi berfikir kalau mungkin ada hewan melata itu di sekitar sini.


Damar tidak menjawab, ia memilih menaburkan garam mengelilingi tempat mereka dan mencabut rerumputan yang sudah cukup tinggi agar tidak menghalangi mereka.


“Lo gak usah dengerin gossip tadi. Mungkin aja gosipnya gak bener.” Ujar Damar tiba-tiba.


Rupanya alasan ia mengajak Disa keluar adalah untuk menenangkan pikiran dan hati Disa.


“Udah kadung kedengeran lah. Mana ada sekeras itu gak kedengeran.” Timpal Disa, masih memandangi lukisan miliknya. Dulu ia membuat lukisan gunung ini setelah pulang kemping.


“Ya kalo gitu jangan lo pikirin. Jangan bikin otak lo cape sendiri.”


Disa tersenyum tipis. Perhatian Damar belakangan cukup manis sangat berbeda dengan Damar yang dulu selalu mengacuhkannya.


Ia terduduk di bangku, melihat dinding di hadapannya secara keseluruhan.


“Gue udah selesai berfikir dan sekarang lagi menata pikiran gue. Bahkan nyaris selesai.” Ujarnya ringan. Masih ada beban yang di tahannya namun tidak sebesar dulu.


“Cepet banget lo move on!” ikut duduk di samping Disa dan memandangi lukisan mereka. Rasanya baru kemarin ia mengajak Disa bolos dan malah menggambar di sini.


Disa menghela nafas dalam. Sepertinya tidak masalah kalau ia mulai bercerita pada Damar sebagai sahabatnya.


“Gue udah terbiasa terluka dan di tinggalkan mong. Hati gue udah mulai kebal. Bekas luka yang gue punya, udah jadi obat buat gue supaya gak terluka terlalu dalam."


"Lagi pula, gue udah mulai terbiasa untuk gak naruh harapan terlalu besar pada hal manis yang ada di depan mata. Gue harus selalu menyiapkan hati gue untuk kemungkinan terburuk yang bakal gue alami.” Tuturnya dengan tenang.


Ternyata benar, banyak mendapatkan luka membuat seseorang bisa lebih terbiasa menghadapi rasa sakitnya. Seperti yang dialami Disa.


“Ya bagus, tapi jangan sampe lo mati rasa.” Damar memberikan satu pilok pada Disa untuk ia gunakan corat coret. Beruntung tas ranselnya cukup besar sehingga bisa memuat banyak benda.


“Ya kali gue mati rasa. Gue cuma membiasakan diri untuk mengikhlaskan apa yang harus gue lepasin. Bagian gue adalah berusaha walau terkadang sangat sulit melawan harapan tapi, bukan berarti gue harus ikut mati saat harapan itu mulai padam.”


“Masih banyak hal lain yang harus gue lakuin.” Tegasnya dengan penuh keyakinan.


Damar terpaku sejenak, menatap disa dari samping. Setiap pemikiran dan sikap Disa selalu membuatnya tertawan. Ia merasa, Disa adalah wanita yang kuat dalam versi yang berbeda dari ibunya. Ya pada dasarnya setiap orang memiliki kekuatan sendiri. Hanya saja, kekuatan yang di miliki Disa selalu menjadi magnet yang kuat untuk menariknya mendekat dan terjatuh di kakinya.


“Mau ngelukis?” tanya Damar akhirnya. Lebih baik ia menyudahi obrolan ini sebelum ia terpesona lebih dalam pada Disa.


Disa hanya terangguk. Perasaannya memang selalu terasa lebih baik saat ini menggoreskan kuas atau menyemprotkan pilox.


Mengecat satu bagian dinding untuk Disa melukis lantas membiarkannya mengering sampai siap untuk di lukis.


“Mong, belakangan gue mulai mikir. Mungkin gak sih kalo kita itu orang-orang yang gak bisa bekerja di bawah tangan orang lain?” tanyanya tiba-tiba.


Pengalaman harus meninggalkan pekerjaan atau melihat Damar yang diberhentikan secara sepihak, membuat Disa memikirkan hal itu.


“Maksud lo?” Damar mengernyitkan dahinya berusaha mencerna ucapan Disa.


“Ya maksud gue bukan berarti kita gak bisa kerja. Tapi, kita bisa kerja dengan cara kita sendiri tanpa harus berada di bawah tekanan orang lain.”


“Seperti inspirasi, kita menikmati apa yang kita lakukan dan membiarkan dia berkembang tanpa harus menentukan ujungnya seperti apa.”


“Lo punya bakat begini,” menunjuk Grafiti Damar. “Lo bisa kerja berdasarkan inspirasi ini. Misal, lo fotoin, lo bikin vlog atau apalah. Gue yakin, peminat lo bakal banyak dan itu bisa jadi sumber pendapatan lo tanpa harus kerja di bawah perintah orang. Gimana?”


Disa menatap Damar penuh harap.


Sahabatnya itu ikut memandangi lukisannya di dinding. Benar juga, untuk menghasilkan uang tidak melulu kita harus bekerja di bawah tangan orang lain. Tidak akan ada istilah di pecat secara sepihak yang membuat perasaannya ngilu dan merasa di remehkan.


“Kenapa gak kita coba?!” sahut Damar.


Ia mengecat tipis semua permukaan dinding. Anggap saja ini sebagai lembaran baru mereka. Mereka akan melukis mimpi mereka di sini. Membuatnya menjadi kenyataan atas usaha mereka sendiri.


Berdiri di atas kaki sendiri itu perlu tekad dan keinginan untuk melakukannya. Maka kita mulai sekarang.


*****