Marry The Heir

Marry The Heir
Malam yang indah untuk di lewati bersama



Disa masih senyum-senyum sendiri di samping Kean yang fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepulang dari rumah utama. Mereka memang tidak menginap karena ingin menikmati waktu berdua.


"Kalo nginep di sini di gangguin bocah ingusan mulu." protes Kean saat Arini memintanya untuk menginap.


Shafira langsung mengerucutkan bibirnya karena ia tahu kalau sindiran itu di tujukan untuknya.


"Baru aku puji abang tadi keren banget eh sekarang udah nyebelin lagi aja." dengusnya saat Disa memeluknya untuk pamit pulang.


Kean hanya melengos, tidak memperdulikan protesan adik sambungnya.


"Bukannya kamu punya temen cowok banyak? Ajak aja mereka ngobrol. Siapa itu, park siapa itu." ledek Kean, menyebut salah satu marga aktor Korea yang pernah di sebut Shafira.


"Gak seru kalo nontonnya gak sama teteh."


"Nanti kan teteh ke sini lagi." Disa mengusap pipi shafira dengan lembut.


"Jangan!" Kean sampai berbalik mendengar istrinya akan menonton drama korea dengan adiknya.


"Awas kalau kamu berani ngajak dia nonton drama korea." ancam Kean pada Shafira.


"Dih! Takut banget teteh ngehaluin oppa-oppa ganteng! Makanya romantis dikit." balas Shafira sambil menjulurkan lidahnya.


Dan inilah yang terjadi sekarang. Tangannya tidak pernah melepas genggaman tangan Disa sejak mereka keluar dari rumah utama. Mungkin ia sedang mencoba romantis pada istrinya.


Kean yang memperhatikannya dari spion tengah, sesekali ikut tersenyum melihat rona merah di pipi istrinya.


“Kamu seneng banget kayaknya?” di kecupnya tangan Disa untuk kesekian kalinya membuat gadis itu menyudahi lamunan di benaknya.


“Hem, iya aku seneng banget.” Aku Disa.


Ia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman pada sandaran jok lantas menatap suaminya dengan lekat.


“Aku ngerasa baru aja kita memenangkan sebuah peperangan besar. Peperangan melawan rasa takut dan ragu.”


Kean jadi menoleh dan memberikan senyumnya pada Disa. Ia pun merasakan hal yang sama. Seperti seluruh beban berat yang ada di pundaknya terangkat begitu saja.


“Terima kasih karena mau menemaniku sampai akhir.” Timpalnya. Lagi, ia mengecup tangan Disa dengan penuh perasaan.


“Aku bahagia, karena aku menjadi alasan aa untuk berani dan bangkit. Aku bener-bener gak bisa jabarin kayak gimana perasaan aku sekarang.”


“Seperti tuhan sudah memberikan 1% dari seluruh kebahagiaan umat manusia buat aku.”


“Terima kasih a, untuk membuatku tidak merasa berjuang sendiri untuk hubungan kita.” Diusapnya pipi Kean dengan lembut dan penuh perasaan.


“Akulah yang seharusnya berterima kasih.”


“Kamu udah ngasih aku keberanian untuk keluar dari rasa takut dan berani berharap sesuatu yang lebih indah. Dan ternyata aku mendapatkannya.” Sejenak Kean menatap Disa dengan laman, sebelum harus kembali melihat jalanan yang cukup ramai.


Disa tidak lagi berkata-kata. Ia menyadarkan kepalanya di bahu Kean, sambil mengusap kepalan tangan mereka dengan ibu jarinya.


“Aku mau cepet nyampe. Aa fokus dulu nyetir.” Lirihnya, menatap nyala lampu yang sesekali menerangi mereka saat berpapasan dan membuatnya memincingkan mata. Bagaimana Kean bisa tahan dengan nyala lampu yang terkadang sangat terang dari arah berlawanan.


“Hem.” Kean benar-benar menginjak pedal gasnya. Di saat seperti ini skill-nya sebagai pembalap benar-benar berguna.


Tidak butuh waktu lama hingga mereka tiba di town house. Rumah yang dulunya hanya sebagai tempat untuk menepi, menghindar dari rasa marah dan menghela nafas dari sesaknya keadaan yang harus di hadapi, menjadi salah satu tujuan mereka untuk pulang.


Rumah, bukan tentang sebuah tempat yang akan mereka tuju melainkan dengan siapa kelak mereka berada di dalamnya.


“AWH!” Disa tersentak saat tiba-tiba Kean menggendong tubuhnya.


“Aa kenapa ngagetin aja sih!” dengusnya kesal.


“Hahahhaa… Maaf."


"Aku cuma gak mau liat kamu jalan. Pasti tadi capek kan aku ajak jalan cepet?” dikecupnya dahi Disa dengan lembut. Lihat, dia sudah mulai berusaha menyaingi oppa-oppa Korea.


“Iya, kakiku sampe gemeter. Satu langkah aa setara dengan dua langkah kakiku.” Ia menatap wajah suaminya yang berada di atasnya. Melihat senyumnya yang selalu terkembang, menjadi candu tersendiri bagi Disa.


“Lain kali, aku yang akan mengikuti langkah kamu.” Tegasnya.


Disa tersenym kecil, hampir tidak percaya kalau yang mengatakan ini adalah Kean.


Tiba di depan pintu, Disa membukakan pintu untuk mereka, membuat Kean bebas melenggang masuk.


“Okey, aku udah bisa turun. Aku mau nyiapin air mandi buat aa.” Ia menepuk-nepuk lengan Kean agar menurunkannya.


“Nanti aja turunnya di atas.” Kean melanjutkan langkahnya menuju kamar di lantai 2.


“A, aku berat loh. Naik tangga sambil gendong aku lumayan capek tau.”


“Badan kamu kecil, gak ada berat-beratnya.”


“BOHONG!” Disa berdecik kesal.


“Gak kira-kira bilang aku kecil.” Memperhatikan otot tangan Kean yang menegang jelas kalau ia cukup berat.


"Biasanya cewek suka di bilang gak berat apalagi langsing."


“Lagipula, berat itu hanya perkara pikiran. Akan terasa berat kalau kita berpikir itu berat dan akan terasa ringan kalau berpikir itu ringan.” Bisa saja tuan muda ini beralasan. Intinya ia tidak mau menurunkan Disa.


“Iya iya, teori aa menang. Taklimat siapa itu?” ledek Disa.


“Dari Kean malik hardjoyo, suaminya paradisa sandhya.” Sahut Kean dengan bangga.


Disa hanya tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Tangannya kembali membuka pintu kamar Kean. Di tepian tempat tidur Disa di turunkan.


“Terima kasih suami. Berapa ini biaya angkutnya?” masih saja Disa menggodanya.


“Biaya angkut?” Kean mengernyitkan dahinya. Disa terangguk pelan.


Kean mulai tersenyum jahil, seperti baru saja muncul ide bagaimana cara ia meminta bayaran. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Disa membuat jarak mereka sangat dekat.


“Aku minta bayaran dengan cara lain bisa?” bisiknya.


Wajah Disa langsung memerah mendapat tatapan sedekat ini. Sepertinya ucapannya tadi malah jadi boomerang untuknya. Ia lupa kalau yang ia hadapi seorang Kean.


“Bisa. Tapi mandi dulu.” Disa menahan bahu Kean agar tidak semakin mendekat.


Kean tersenyum senang. “Kamu kebiasaan, mancing aku tapi langsung ngehindar, gak bertanggung jawab.” Dicubitnya hidung Disa dengan gemas.


“Ish, bukan gitu. Aa masih keringetan tau!” ia segera menggeser tubuhnya, menjauh dari Kean sebelum Kean melakukan hal lain.


“Perasaan tadi kamu gak protes.” Kean jadi menciumi tubuhnya sendiri yang memang masih berkeringat. Cukup asam baunya.


Ia menyiapkan air mandi untuk suaminya, handuk juga baju ganti. Sementara Kean memperhatikannya dari pintu kamar mandi.


“Silakan, aa mandi dulu.” mengangguk takjim sebelum melewati Kean yang berdiri menghalanginya.


Tiba-tiba saja tangan kokoh Kean menjeda langkahnya, menahannya di mulut pintu.


“Kenapa kamu juga gak mandi lagi? Kan tadi kena keringet aku.” Ia tidak berniat membiarkan Disa lolos dari hadapannya.


“Giliranku nanti. Aa duluan aja.” Disa menurunkan tangan suaminya yang mengalangi jalannya.


“Ini udah malem, jangan lama-lama di kamar mandinya, nanti masuk angin.” Imbuhnya sekali lalu menjauh dari Kean. Acuh sekali sikapnya, seolah tidak mengerti maksud Kean.


Kean hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Istrinya selalu pandai mematahkan kalimatnya.


“Jangan, kemana-mana. Aku gak lama.” Pesan Kean sebelum masuk ke kamar mandi.


“Baiq suamik.” Lagi Disa mengangguk dengan senyum tipis yang ia tunjukkan.


Kean menggeram gemas dalam hatinya. Ingin rasanya ia menarik Disa ikut masuk ke kamar mandi tapi tidak kali ini. Ini sudah terlalu malam.


“Gak lama”-nya Kean itu setara dengan beres-beres rumah, ngepel sampai memasak. Hahaha.. Begitulah kebiasaan suaminya yang hobi berlama-lama di kamar mandi.


Sambil menunggu Kean, Disa menghangatkan makan malam mereka juga mandi agar tubuhnya lebih segar. Setelah semuanya selesai barulah terlihat Kean turun.


“Kamu udah mandi?” tanyanya saat melihat Disa sudah berganti baju.


“Udah dong. Sini a, kita makan dulu.” ia menarik tangan Kean untuk duduk di hadapannya.


Kean menurut saja. Perutnya memang sudah keroncongan karena seharian ini tidak di isi dengan benar.


“Mau makan sama lauk yang mana?” Disa bersiap dengan piring di tangannya.


“Udang yang ini.” Tunjuk Kean pada makanan favoritnya.


“Sama ini juga.” Tidak lupa ia meminta tumis sayuran.


“Nasinya dikit aja, nanti perut aku buncit.” Protesnya saat Disa menyendokkan nasi cukup banyak.


“Gak apa-apa, nanti kan jadi pakmil, gemoy, hehehe…”


“Jangan sa, kalo aku gemuk nanti keliatan kayak arca, tinggi gede.” Kean memperagakan jika tubuhnya melebar dan membulat.


“Hahahaha… Gak apa-apa, aku jadi punya tempat bersandar yang nyaman.” Disa masih tidak mau kalah.


Akhirnya mereka makan dalam suasana yang hangat. Saling melempar candaan satu sama lain. Kebiasaan yang belum pernah ada sebelumnya. Mungkin, ini lah awal mulanya kehangatan dalam keluarga singa.


*****


Perut kenyang, kantuk pun datang.


Perasaan itu yang Kean rasakan saat ini. Ia terbaring di atas tempat tidur sementara Disa duduk di sampingnya, asyik mengoleskan gel pereda nyeri untuk jari-jari tangannya yang merah dan kebiruan.


Ya, bekas menghantam samsak tadi baru sekarang rasa sakitnya terasa.


“Aa sparing sama bang nasep juga?” tanya Disa saat melihat ada memar di sudut bibir suaminya. Dengan telaten ia memberi obat tetes pada bekas luka suaminya.


“Iya, ternyata dia udah gak sepayah dulu.” Kean masih mengingat bagaimana Nasep menghantamkan tinjunya saat ia lengah karena konsentrasinya yang menurun.


“Emang aa gak pake head gear sama mouth guard?” masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan suaminya. Bertarung tanpa pengaman.


“Aku kan gak niat tanding, Cuma sparing biasa aja. Gak nyangka juga bakal kena jotos.” Kilah Kean.


Usapan lembut Disa di tangan dan bibirnya membuat ia sangat nyaman hingga rasa kantuk pun tiba.


“Jangan di biasain kayak gitu. Kalo judulnya ada lawan, mending pake pelindung."


"Gimana coba kalo gigi aa rontok. Nanti jadi kakek-kakek ganteng.” Sempat-sempatnya Disa membayangkan kalau gigi putih suaminya rontok semua. Dan jadi kakek-kakek ganteng? Imajinasi macam apa itu.


Kean hanya tersenyum sambil memandangi Disa. Ia suka dengan Disa yang banyak berceloteh. Setiap Gerakan bibirnya, ekspresi gemasnya, membuat Kean ketagihan untuk terus memandanginya. Ada saja sumber bahasan yang membuat Kean tertarik untuk memperhatikannya.


Wanita seperti ini yang ia butuhkan. Teman bicara yang menyenangkan untuk membahas banyak hal. Mulai dari hal yang serius tentang pekerjaan, motivator yang handal dan tentu saja teman bercanda yang receh. Baginya, ini lebih intim dari sekedar hubungan badan. Karena semua orang bisa bersetubuh tapi tidak semua orang bisa berkomunikasi terbuka apalagi satu frekuensi seperti ia dan Disa.


Dalam benaknya, saat tua nanti, teman bicara yang menyenangkan yang kita butuhkan untuk menghabiskan waktu bersama tanpa rasa bosan.


“Okey, done!” seru Disa setelah menempelkan potongan plester di sudut bibir Kean.


“Udah selesai?” Kean sampai tidak percaya kalau Disa selesai merawat luka-lukanya. Tidak sedikitpun terasa sakit.


“Udah. Besok pagi kita ganti lagi plesternya. Biar lukanya cepet sembuh kalo bersih terus.” Memasukkan kembali beberapa obat ke dalam kotak P3K.


Kean mengambil kotak itu dan menaruhnya di atas meja. “Kemarilah.” Ia menarik tangan Disa untuk berbaring di sampingnya.


Disa menurut saja, ia berbaring miring menghadap suaminya.


Tangan Kean mulai beranjak mengusap pipi Disa yang selalu kemerahan saat mereka berpandangan.


“Terima kasih untuk semuanya.” Lirihnya, seraya mengusap lembut pipi Disa dengan ibu jarinya.


“Hem, kembali kasih.” Balas Disa.


Kean hanya tersenyum, ada berjuta perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan saat Disa ada di sampingnya. Ia menarik tubuh Disa ke dalam pelukannya, menyelimutinya hingga ke batas dada lantas mendekapnya dengan erat.


“Aku ngantuk.” Gumamnya yang masih bisa di dengar Disa.


Yang dilakukan Disa benar-benar membuatnya nyaman hingga rasa lelahnya seperti berkumpul dan minta di tuntaskan dengan tidur.


Disa menengadahkan kepalanya. Menatap wajah Kean yang ada di atasnya. Matanya sudah setengah tertutup walau tangannya belum berhenti bergerak mengusap punggung Disa.


“Aa tidurlah. Besok kita bangun dengan perasaan yang lebih bahagia dan bersyukur.” Timpal Disa.


“Hem, selamat malam sayang. Mimpi indah. I love you.” Dikecupnya pucuk kepala Disa dengan lembut.


“Selamat malam.” Balas Disa.


Rasanya ia bisa bernafas lega setelah hari berat yang ia lewati bersama Kean. Ada banyak air mata dan kemarahan hari ini namun semuanya seperti terbayar lunas di hari yang sama. Tidak ada lagi perasaan mengganjal dan ragu yang selama ini memenuhi hatinya.


Disa membalas pelukan Kean. Membenamkan wajahnya di dada Kean, tempat jantungnya yang selalu berdegup kencang seirama dengan detak jantung Disa. Perlahan ia ikut memejamkan matanya. Mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


Malam ini sungguh malam yang indah di banding malam lainnya dan ia patut bersyukur karena melewatinya bersama Kean.


*****