Marry The Heir

Marry The Heir
Makan siang rasa tak biasa



Kesibukan di kampus tidak seperti biasanya. Tidak ada hilir mudik mahasiswa yang berarti karena Mahasiwa yang ke kampus tidak terlalu banyak kecuali mereka yang sedang perbaikan nilai atau mengikuti semester pendek.


Tapi tidak dengan para dosen. Beberapa di antara mereka masih harus ke kampus untuk mengisi kelas semester pendek, memberikan ujian remidial atau memeriksa tugas untuk menambah nilai mahasiswa mereka.


Seperti yang di lakukan Reza. Saat ini ia tengah memeriksa tugas beberapa mahasiswanya yang mendapat nilai pas-pasan. Ia memang lebih suka memberi tugas untuk perbaikan nilai di banding mengadakan ujian remidial. Baginya itu lebih menjelaskan letak ketidakpahaman mahasiswanya.


Di ruang dosen saat ini hanya ada Reza dan Berlian yang sibuk di mejanya masing-masing.


“Bunda, aku gak mau Latihan. Teman-temanku menyebalkan.” Suara seorang anak perempuan terdengar jelas dari luar ruangan dosen.


Reza dan Berlian kompak menoleh ke arah datangnya suara dan tidak lama terlihat ada seorang gadis kecil berjalan cepat masuk ke ruang dosen di susul seorang dosen wanita yang tidak lain adalah Ellen.


“Ghea, kamu udah absen 2 pertemuan nak. Kamu akan tertinggal dari teman-teman kamu.” Timpalnya. “Oh maaf, saya pikir,” suara Ellen segera melemah saat melihat Berlian dan Reza yang ternyata ada di ruang Dosen.


“Wah kirain siapa, ternyata seksi mom, bu ellen.” Sambut Berlian dengan senyuman ramahnya.


“Iya bu. Saya pikir dosen-dosen sedang di kelas. Maaf kalau tadi suara kami sedikit mengganggu.” Wajah Ellen sedikit memerah karena malu. “Ghea, salim sama om dan tante.” Titahnya kemudian pada gadis kecil itu.


Anak bernama Ghea itu langsung menghampiri Berlian dan mengulurkan tangannya. “Hay tante, aku ghea. Anaknya bunda ellen.” Ujarnya, layaknya orang dewasa.


“Ya ampun, lucu banget sih. Pinter lagi. Hay anak pinter, saya tante bebe.” Sahut Berlian yang menyambut uluran tangan Ghea.


Gadis itu tampak tersenyum, memperlihatkan barisan dua gigi ompongnya.


“Salim juga sama om-nya.” Ujar Ellen kemudian.


Ia menaruh tasnya di meja dan mengangguk saat Reza menolehnya.


“Hay om, aku ghea. Om siapa?” tanya gadis itu.


“Hay cantik, saya Reza.” Sahut Reza seraya tersenyum melihat tingkah lucu gadis kecil di hadapannya.


“Om temen bunda juga?” masih menjabat tangan Reza.


“Yups! Dan kamu pasti putri kecilnya.”


“Wow, bunda om ini tau aku. Apa kalian teman dekat?” gadis kecil itu dengan gaya sok dewasa bertanya pada Ellen.


“Kami sama-sama dosen ghea. Tentu kami teman.” Sahut Ellen diplomatis.


Ia melirik Reza ragu-ragu dan Reza hanya terangguk.


Ghea duduk di kursi hadap Reza, lalu menarik kursinya sedikit mendekat pada Reza.


“Bundaku gak punya banyak temen, tolong temani dia ya om.” Bisik anak berusia 5 tahun tersebut.


Reza hanya tersenyum mendengar permintaan Ghea. “Tapi om gak yakin dia mau berteman dengan om.” Sedikit melirik Ellen yang tampak canggung.


“Tenang, dia akan luluh dengan sendirinya.” Timpalnya lagi.


Reza ikut terkekeh mendengar kalimat Ghea. Sepertinya anak sekarang memiliki pemikiran yang jauh dari usianya.


“Om reza, apa itu gitar punya om reza?” menunjuk sebuah gitar yang ada di belakang Reza.


“Oh iya. Kamu mau memainkannya?” mengambilkan gitar yang di tunjuk Ghea.


“Ghea, jangan ganggu om-nya. Om reza masih kerja nak.” Suara Ellen yang terdengar. Sepertinya ia yang merasa tidak enak karena putrinya yang mulai sok akrab.


“Sebentar saja bunda.” Rengeknya dengan wajah cemberut.


Saat Ellen hendak menimpali, Reza menyahuti lebih dulu.


“Tidak apa-apa bu ellen, saya tidak merasa terganggu dengan kedatangan ghea. Mungkin dia juga akan suka musik. Benar ghea?”


“Hem!” Ghea mengangguk dengan yakin.


“Ghea, om reza itu dosen musik. Dia hebat banget main pianonya.” Berlian ikut menyambung.


“Oh ya?” mata sipit Ghea segera membulat.


Reza hanya mengangguk dengan senyum terkulum.


“Aku mau belajar musik. Om reza mau mengajariku?”


“Tentu, kenapa tidak.” Reza mengambil gitarnya dan mulai memainkan sebuah melodi yang indah. Ghea di buat terkesirap di hadapannya.


Tanpa sadar, Ellen ikut mengamati dari tempatnya dengan senyum tersimpul. Ternyata secepat itu Ghea beradaptasi dengan orang baru.


“Bu ellen,” suara Berlian menyadarkan Ellen dari rasa terkesiapnya.


“I-iya bu.” Dengan cepat ia sadar.


“Saya, punya undangan pembukaan sebuah rumah model. Bu ellen mau ikut?” menunjukkan sebuah undangan eksklusif yang ia punya.


“Oh ya? Rumah model milik siapa?” sepertinya Ellen tertarik.


“Clara Davina. Dia baru pulang dari amerika dan buka rumah model. Ada fashion show sama charity dari baju-baju yang pernah dia tampilkan. Mungkin bu ellen mau ke sana?”


“Em, ya. Tapi saya harus menemani ghea.” Ujarnya seraya menatap Ghea yang asyik melihat Reza memetik senar gitarnya.


Berlian ikut memperhatikan Reza dan Ghea. “Tapi sesekali, bu ellen perlu loh untuk menyenangkan diri sendiri. Seorang anak akan bahagia kalau ibunya pun bahagia, hem?” ujarnya seraya menepuk bahu Ellen.


Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal tersebut. Sejak Berlian mengenal Ellen beberapa bulan silam, sedikit banyak ia tahu apa yang dialami rekan kerjaanya.


Mulai dari drama perpisahan dengan suaminya yang belum selesai, perebutan hak asuh anak, terror dari istri pertama suaminya dan tentu saja Ghea yang memerlukan perhatiannya lebih. Sebagai seorang wanita, sedikit banyak Berlian bisa merasakan apa yang Ellen rasakan.


Terlihat Ellen menghela nafasnya dalam. Yang dikatakan Berlian memang benar adanya. Entah sejak kapan ia mengabaikan kebahagiaannya sendiri dan terus terjebak dalam pusaran rutinitas permasalahan pribadinya. Terkadang ia memang ingin terlepas dari semuanya tapi rasanya semuanya terlalu sulit. Ia memiliki kewajiban untuk menghadapinya, bukan mengingkarinya.


“Gimana?” Berlian kembali bertanya.


“Saya bicakan dulu dengan ghea ya bu.” Sahutnya.


Berlian hanya mengangguk mendengar jawaban Ellen.


“Bunda mau kemana?” tanya Ghea saat mendengar namanya di sebut.


Ia beralih menghampiri ibunya dan duduk di atas pangkuannya.


“Tante bebe, ngajak bundanya ghea pergi jalan sebentar. Kira-kira, boleh gak ya?” Berlian yang menerangkan.


Wajah polos Ghea menatap Ellen dengan sendu. Ellen hanya tersenyum lantas mengusap pipi putrinya.


“Boleh kok tan. Emang mau pergi kemana?” tanyanya penasaran.


“Ke acara fashion show.” Sahut Berlian yang menunjukkan undangan untuk 2 orang.


“Oh iya, pak reza pernah tinggal di amerika. Mungkin saja beliau kenal sama salah satu model ini.” Memperlihatkan undangan bersampul wajah model itu pada Reza.


Reza terangguk dengan senyum simpul. “Claire, saya cukup mengenalnya.” Begitu sahutan Reza.


“Oh ya?” Berlian cukup terkejut dengan jawaban Reza.


“Kami pernah bersekolah di satu sekolah yang sama. Saya, sahabat saya dan Claire.” Begitu Reza biasa memanggilnya.


“Wah, ternyata dunia memang sempit. Kemana pun perginya, ketemunya dengan orang yang kita kenal lagi. Sepertinya pak reza cukup mengenalnya ya?” Berlian masih dengan rasa penasarannya.


“Ya mungkin karena pada saat di sana kami sama-sama merasa satu tanah kelahiran jadi bisa di bilang cukup akrab.”


“Apa pak reza juga dateng ke acaranya?”


“Nggak bu, mamah saya dan adik sepupu saya yang ke sana. Kebetulan adik sepupu saya juga sedang belajar modeling dan ikut mengisi acaranya.”


“Wah iya… Jadi gimana bu ellen, jadi ikut?”


“Em, saya kabari lagi nanti ya bu.” Tandas Ellen seraya mengusap kepala Ghea dan mengecupnya.


*****


Di jam istirahat Disa sudah datang seperti biasanya. Membawa makan siang dan menyajikannya di atas meja. Walau semuanya sudah terhidang, Kean masih anteng di tempatnya dengan dahi berkerut dan tangan yang belum lepas berkas yang ia baca.


“Roy, minta manajer produksi untuk membuat laporan neraca peningkatan produksi kita dalam 3 bulan terakhir dan saya tunggu laporannya jam 3 sore nanti.” Menutup berkas dan memberikannya pada Roy.


“Baik tuan.” Roy menyambutnya dengan senang hati.


“Pastikan bagian kerjasama sudah membuat telaahan untuk Kerjasama kita yang baru.” Titahnya lagi.


“Sudah tuan. Mereka akan mengirim telaahannya sore ini.” Roy melihat jamnya untuk memastikan janji mereka tidak meleset.


“Hem. Urus semuanya dengan cepat. Kita harus secepatnya tau kemampuan kita, supaya bisa memastikan proyek ke depannya akan lanjut atau tidak.” Tandasnya sebelum beranjak dari tempat duduknya dan melepas jasnya.


“Baik tuan.” Sahut Roy yang selalu sigap.


Sebelum pamit, ia menoleh Disa lalu berjalan menghampirinya dan sedikit berbisik. Kean yang sedang berada di wastafel tampak memperhatikan perbincangan singkat dua pegawainya yang di akhiri dengan anggukan dan senyum dari Disa.


Tak lama berselang, Roy pun keluar dari ruangan. Saat Kean menghampiri, Disa segera kembali ke mode wajah tenangnya.


Duduk di sofa namun sudut matanya masih melirik Disa sesekali.


“Silakan tuan.” Disa mendekatkan sebuah piring yang sudah ia siapkan.


“Kalian terlihat akrab.” Ujar Kean menggantung.


“Ya?” Disa mengangkat wajahnya, membuat pandangan keduanya bertemu.


Ia hanya tersenyum samar melihat ekspresi Disa yang kebingungan lantas memalingkan wajahnya.


Tidak lama, ponsel Disa berdering dan wajahnya berubah tegang. Entah ia harus menjawabnya atau tidak.


“Jawab saja.” Ujar Kean yang mulai memilih makanan yang akan di makannya.


“Baik tuan.” Dengan takut-takut ia mengambil ponselnya dari dalam saku. “Iya kak?” bisiknya menjawab panggilan tersebut. Ia sedikit memalingkan wajahnya dari Kean dengan tangan yang menutup sebagian mulutnya.


Tapi mendengar kata “Kak,” membuat telinga Kean meruncing dan bersiaga untuk mendengarkan.


“Di ruangan tuan muda. Tuan muda sedang makan siang.” Lanjutnya lagi.


Dan tiba-tiba saja pintu ruangan Kean terbuka. “Wah, dateng tepat waktu nih gue.” Adalah Reza yang muncul dari balik pintu dan mengakhiri panggilan telponnya.


“Oh, masuk bro.” Kean berusaha untuk tidak terlihat terkejut. Dalam hatinya, tidak cukup bertemu diam-diam di luar setiap hari dan kali ini sepertinya Reza tidak sabar untuk menunggu Disa menyelesaikan pekerjaannya. Hingga ia menyusulnya ke ruangan kerjanya.


“Thanks bro!” sahutnya ringan. “Hay sa.” Mengusap kepala Disa saat ia masuk dan duduk di salah satu sudut sofa.


Kean langsung meneguk minumannya melihat apa yang dilakukan Reza di hadapannya.


“Makan bro?” tawar Kean basa basi.


“Wah sayang banget gue udah makan tadi. Tau gitu gue gak makan di luar tadi. Enak nih pasti.” Tunjuknya pada salah satu menu.


“Makan aja.” Ajak Kean.


“Kenyang bro. Tapi, suapin dikit dong sa.” Ujarnya seraya mengedipkan matanya.


“Hah?” ia tampak bingung. Reza kembali menunjuk makanan tersebut dan beralih menunjuk mulutnya.


Disa tampak tersipu dengan wajah tegang. Kean melihat benar perubahan ekspresi Disa yang menurutnya mengesalkan. Disa mengambil sendoknya dengan ragu, tapi saat ia akan menyendok, gerakan tangan Kean lebih cepat.


“Nih, buka mulut lo.” Ujarnya seraya mengasongkan sesendok makanan ke hadapan Reza.


“Hap!” Reza langsung menyantapnya.


“Em,, enak. Tumben lo mau nyuapin gue. Dulu aja gue sakit, boro-boro lo mau nyuapin gue bubur.” Ledek Reza dengan senyum mengejek.


Kean hanya terkekeh, tentu saja ia lebih memilih menyuapi Reza di banding membiarkan Disa menyuapi sahabatnya.


Disa mengurungkan niatnya untuk menyuapi Reza. Walaupun tidak menunjukkan wajah kecewanya, tapi Kean bisa membayangkan bagaimana senangnya perasaan Disa jika ia bisa menyuapi sahabatnya. Dan itu membuatnya kesal.


“Gue cuma mampir sebentar, mau ngingetin disa buat acara besok. Jadi kan lo izinin?” setelah menelan makanannya, Reza menyampaikan maksud kedatangannya.


“Oh acara besok?” ternyata cepat juga dari senin ke sabtu. Dan itu berarti besok ia harus memberi Disa izin untuk pergi ke pameran bersama Reza. “Boleh.” Imbuhnya dengan semangat yang berlebih.


“Hahaha.. Lo emang bos yang baik.” Reza terlihat sangat senang dan Disa tersipu di tempatnya.


“Ya, lo tau gue gimana.”  Sahut Kean lemah. Ia kembali melirik Disa yang masih tersenyum. Ia bisa membayangkan betapa bahagianya Disa saat ini. Dan jujur, itu mengganggu pikirannya.


Hah, terkadang ia merasa jadi orang yang jahat karena begitu iri melihat apa yang terjadi di depan matanya.


“Ya udah gue balik dulu. Sa, sampe ketemu besok ya.” Lagi Reza mengusap kepala Disa, membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


Ia pun merangkul Kean dan Kean berusaha terlihat biasa melihat sikap sahabatnya.


Sepeninggal Reza, ruangan kerja itu terasa begitu sunyi. Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu. Entah mengapa, masakan Disa kali ini tidak terasa enak seperti biasanya. Ada sedikit mual yang dirasakan Kean.


Kira-kira, kurang apa masakan Disa?


****