
“Sorry ya vin, kalo dady bikin lo gak nyaman?” kalimat itu diteriakan Shafira di boncengan Malvin. Ia berpegangan pada pinggiran jaket Malvin, seperti naik ojek.
“It’s okey,” Malvin sedikit melambatkan laju motornya agar suara angin tidak terlalu menghalangi perbincangan mereka. Kaca helmnya ia buka agar suaranya lebih jelas.
“Sangat wajar, setiap ayah mencemaskan anaknya. Gue juga akan melakukan hal yang sama pada adik-adik gue.” Imbuhnya.
Ya, memiliki dua adik perempuan remaja beranjak dewasa kecemasan yang Sigit rasakan tidak beda jauh dengan kecemasan Malvin terhadap adik-adiknya. Sangat bisa ia maklumi.
“Dady emang dingin sih tapi sebenernya baik juga.” Shafira berusaha menerangkan.
“Iya, pada dasarnya setiap orang itu dan setiap ayah adalah cinta pertama anak perempuannya.”
Shafira hanya tersenyum mendengar ucapan Malvin. Sigit memang cinta pertamanya sebagai seorang anak perempuan, tapi laki-laki berbahu lebar di depannya ini adalah cinta pertamanya sebagai remaja. Hanya saja, tidak menemui akhir yang indah.
Dari spion kiri Malvin memperhatikan Shafira yang tersenyum di belakangnya. Tubuhnya tegak seperti menjaga jarak darinya. Malvin menepikan motornya sejenak,
“Kenapa vin?” Shafira yang berada di boncengan ragu untuk tetap duduk atau turun.
“Gak apa-apa.” Malvin melepas tas punggung yang menutupi dadanya lantas membalik tasnya dan menempatkannya di punggungnya. “Lo bisa pegangan ke tas gue biar lebih nyaman.” Imbuhnya seraya menoleh Shafira.
Seperti ia tahu kalau Shafira tidak nyaman dengan posisi duduk yang harus menjaga jarak agar tidak menempel.
“Oh ya, makasih vin.” Akhirnya Shafira memindahkan tangannya berpegangan pada tali tas Malvin dengan tubuh tidak terlalu tegak. Paling tidak punggungnya tidak pegal karena bisa bersandar pada punggung Malvin yang terhalang tas.
Ini yang selalu membuat setiap wanita merasa terhormat diperlakukan oleh Malvin. Ia tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan cara yang sederhana namun memiliki arti. Andai ia masih sangat menggilai Malvin seperti dulu, mungkin jantungnya akan berdebar sangat kencang seperti saat pertama ia bertemu Malvin.
Tapi kali ini, tunggu, mengapa ia malah justru merasa sangat tenang? Ketenangan yang belum pernah ia rasakan saat ia berada di dekat seorang laki-laki. Malvin menjaganya dengan cara yang tidak biasa dan terasa istimewa.
“Itu kan tempatnya?” suara Malvin menghentikan pikiran Shafira tentang laki-laki bertubuh tegap di depannya.
“I-iya vin.” Bingung sendiri dengan pikiran dan perasaannnya saat ini sampai tidak fokus.
“Kayaknya udah pada mulai, gak telat kan kita fir?” Malvin menoleh, kaca helm yang tidak di tutupnya membuat pandangan Shafira tegak lurus pada sepasang mata elang yang menatapnya.
“Hah?” sejenak tertegun. Suara Malvin yang selama 4 tahun ini sering di dengarnya lewat sambungan telepon atau video untuk membahas musik, seperti melodi yang sangat familiar di kepalanya.
Dulu, jangankan punya keberanian untuk mengirimi pesan atau menelpon, niat untuk menyapa saja harus ia kumpulkan beberapa jam sebelumnya. Tapi saat di Inggris, suara Malvin seolah menjadi temannya yang paling setia. Menemaninya saat sendirian, kadang hingga ia tertidur.
“Fir? Hey!” Malvin menjentikkan jarinya di depan Shafira.
“Hah, iya gimana?” baru kali ini jantungnya hampir jatuh ke dasar perut. Aarrgghh rasanya kaget dan ngilu, seperti asam lambungnya langsung naik.
“Kayaknya kita telat, tuh!” Malvin menunjuk dengan sudut matanya ke arah halaman gallery yang tampak ramai. Seorang anak kecil asyik berlarian memainkan kembang api di tangannya. Sepertinya itu Ghea, anak kecil berambut panjang yang sangat manis pernah Shafira lihat di akun media sosial Ellen.
“Gak apa-apa. Yang penting udah dateng. Gak bakal di hukum juga kali pak guru.” timpalnya enteng padahal hatinya mencelos melihat Reza yang asyik tertawa dengan Ghea dan Ellen.
Masuk ke gerbang lalu memarkir motornya di halaman dan memperhatikan Shafira yang tampak ragu untuk mendekat dan malah memegangi tali helmnya.
“Kenapa, susah?” tanya Malvin.
“Hem? Em enggak kok.” Segera Shafira melepas helmnya lantas berusaha tersenyum seraya memandangi kehangatan di depan sana. Apa ia memang harus datang atau cukup terdiam di sini?
“Dek!!” terlambat, Reza sudah lebih dulu melihatnya. Laki-laki itu berlari menghampiri Shafira dengan wajahnya yang ceria penuh kebahagiaan.
“Kok baru dateng sih?” Reza mengambil helm dari tangan Shafira dan menaruhnya di stang motor Malvin.
“I-Iya, tadi habis latian dulu sama temen-temen sampe gak kerasa.” Shafira menoleh Malvin.
“Vin, maksih ya udah nganterin fira. Yuk gabung!” Reza menepuk bahu Malvin dan mengajaknya bergabung. Sementara satu tangannya menggenggam tangan Shafira untuk ia tarik.
Shafira hanya memandangi tangannya yang di tarik Reza dengan perasaan tidak menentu.
“Fira, tante kira kamu gak bakalan dateng… Kok malem banget?” Nita langsung menyambutnya dan mencium pipi Shafira kiri dan kanan.
“Iya, sorry tante, aku terlambat.” Di lepaskannya tangan Reza yang menggenggamnya. Ia sadar, Ellen yang berjalan mendekat melihat apa yang Reza lakukan terhadapnya.
“Ya udah ayok makan, tadi kita makan duluan soalnya ghea ngerengek laper.” tawar Nita dengan ramah.
Bisa terlihat keakraban Nita dengan calon cucu sambungnya. Lalu, bukankah ini yang Shafira harapkan, tapi kenapa perasaannya malah tidak nyaman?
“Oh iya tante, gak apa-apa. Tadi fira juga udah banyak jajan sama temen-temen.” Ia melirik Malvin agar tidak protes. Jangan sampai Malvin bilang kalau mereka sengaja belum makan karena akan makan di gallery.
“Oh gitu, ya udah tuh tante udah sediain cemilan, kata reza itu makanan favorit kamu. Ada bakso bakar sama kentang goreng.”
“Iya tante, makasih.” Makanan itu memang favoritnya Shafira tapi kali ini ia tidak berselera.
“Hay fir,” sambut Ellen. Ia merangkul Shafira dan berbisik, “Makasih kejutannya.”
Shafira hanya mengangguk. Sepertinya apa yang ia rencanakan memang berhasil.
Malvin memandangi wajah Shafira yang tersenyum namun tidak terlihat senang. Kemana perginya Shafira yang beberapa jam lalu begitu antusias dan ceria?
“Oh iya, kenalin, ini ghea. Ghea, ayo salim sama kak fira.” Mendekatkan putrinya agar berkenalan dengan Shafira.
“Hay, kak. Pasti kakak ini kak fira yang suaranya bagus itu ya? Benar kan bunda?” tanya anak berlesung pipi tersebut. Ellen terangguk sebagai respon.
“Haaayy… Kamu pasti ghea yang suka jago main biola, betul?” Shafira berusaha mencairkan suasana hatinya. Ia sudah memutuskan untuk masuk ke lingkungan ini maka ia memang harus berbaur.
“Iya kak. Om reza yang ngajarin.” Mereka sama-sama menoleh Reza yang berdiri di belakang Ghea dan merangkul pinggang Ellen dengan nyaman.
Entah mengapa Shafira jadi menelan salivanya kasar-kasar. Perutnya mual dan perasaannya mulai tidak terkendali.
“Oh ya? Nanti kita duet ya.”
“Okey kak. Sekarang kakak mau gak main kembang api sama aku?” Ghea menunjukkan beberapa kembang api di tangannya.
“Mau dong! Yuk vin, gabung!” ajak Shafira. Malvin mengangguk sepakat. “Aku tinggal dulu ya kak, tante,..” pamitnya pada Reza, Ellen dan Nita.
“Iya, nitip ghea yaa fir.” Pesan Ellen.
“Okey.” Shafira mengacungkan ibu jarinya sebagai respon.
Malvin menyalakan satu dan memandangi percikannya seperti tengah mengingat kenangan di masa lalu. Dimana kebahagiaan itu cukup dengan melihat nyala kembang bersama orang terkasihnya setahun sekali. Tapi setelah beranjak dewasa rasanya kebahagiaan itu mulai terasa mahal.
Di tempatnya, sambil memegangi kembang api, perhatian Shafira tertuju pada Ellen dan Reza yang asyik berbincang. Mereka tertawa-tawa bahagia, sesekali Reza mengusap pucuk kepala Ellen lalu menciumnya. Hal yang sama yang kerap Reza lakukan padanya saat mereka tengah bercanda.
Yang berbeda adalah, cara Reza dan Ellen saling bertatapan. Ada kehangatan yang tidak Shafira dapatkan seperti yang didapatkan Ellen. Reza tanpa sungkan mengusap wajah Ellen dengan lembut membuat wajah wanita cantik itu merona seraya mengulum senyumnya. Entah apa yang dikatakan Reza seraya mendekatkan wajahnya pada Ellen dan kepala keduanya menyatu beberapa saat.
“Kak fira, yang kak fira udah mati kembang apinya, ini ganti yang baru.” Ujar Ghea yang duduk di sampingnya.
Shafira tidak menanggapi. Pandangannya masih tertuju pada sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Ada rasa perih menyayat di hatinya tapi tidak lantas membuat Shafira memalingkan pandangannya dari Reza dan Ellen.
“Kak fira, ini udah nyala.” Ujar Ghea. Anak itu mengambil tangkai kembang api yang sudah padam dari tangan Shafira dan menempatkan yang baru. Siapa sangka, Shafira malah menyentuh bagian tengahnya yang sedang menyala.
“AWH!” dengus Shafira saat ia menggenggam bagian kembang api yang merah menyala.
“Fir, lo gak apa-apa?” Malvin segera melempar kembang apinya dan memeriksa telapak tangan Shafira yang memerah.
“Gak apa-apa.” Aku Shafira walau telapak tangannya terasa sakit, panas dan perih. Hanya saja tidak sesakit melihat Reza yang begitu dekat dengan Ellen.
“BUNDA!! Kak fira,” teriak Ghea memanggil Ellen. Ia panik melihat Shafira yang kesakitan karena kembang api yang ia berikan.
“ASTAGA!!” Reza segera berlari menghampiri saat menyadari Shafira yang kesakitan memegangi tangannya.
“Kamu kenapa dek?” Reza segera meraih tangan Shafira dan melihat telapak tangannya yang merah dengan luka bakar.
“Gak apa-apa kak.” Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
“Gak apa-apa apanya, ini tangan kamu merah gini.” Seru Reza, panik.
“AKU BILANG AKU GAK APA-APA!!!” teriak Shafira seraya mengibaskan tangan Reza.
Ia menatap Reza dengan matanya yang basah. Telapak tangannya seperti kebas dan tidak merasakan apapun, berganti hatinya yang perih merasakan sakit.
Orang-orang di hadapan Shafira tampak terperangah mendengar seruan Shafira yang menyimpan kemarahan.
“BISA GAK SIH KAK REZA BERHENTI BAIK SAMA AKU?!"
"AKU KESEL, AKU MARAH DAN AKU BENCI KARENA SEKARANG AKU HARUS BERSIAP UNTUK KEHILANGAN SEMUA ITU!!!” lanjut Shafira dengan air mata berurai.
“Dek, apa maksud kamu?” Reza segera mendekat, berusaha meraih lengan Shafira namun gadis itu memilih mundur menjauh.
Ia tidak ingin lagi melihat Reza, rasa marahnya masih sangat besar. Entah marah pada Reza, pada Ellen atau pada dirinya sendiri.
Masing-masing terdiam, berusaha memahami apa yang Shafira katakan. Sampai kemudian Shafira tersadar dari perkataan yang seharusnya tidak ia katakan dan membuat Ellen melengos kesal. Ia sadar, ia telah membuat masalah baru. Masalah yang dimulai dari kesalahpahamannya mengartikan perhatian Reza selama ini.
“Maaf,” lirihnya. Tanpa menunggu lama, ia memilih pergi dari hadapan orang-orang di sekitarnya.
“FIRA!” panggil Reza, namun Shafira mengabaikannya. Ia memilih melanjutkan langkahnya yang kemudian di susul Malvin.
Shafira benar-benar pergi, naik ke atas motor Malvin yang kemudian melaju pergi.
Untuk beberapa saat Reza mematung di tempatnya, mencoba memahami apa yang Shafira katakan dan alasan kemarahan Shafira hingga ia menangis. Tentu bukan hanya karena tangannya yang sakit kena kembang api.
Reza menghembuskan nafasnya kasar, saat ia menoleh dan bertemu pandang dengan Ellen, berganti Ellen yang menghindar lalu pergi.
“Len, tunggu!” panggil Reza.
Ellen menghentikan langkahnya namun tidak berbalik. Rasanya ia paham benar apa yang dirasakan Shafira saat ini. Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan saat Reza mengejar Disa dan membuat ia salah paham dengan semua sikap Reza.
“Aku bisa menjelaskannya.” Lirih Reza.
Ellen tersenyum kelu, “Menjelaskan, apa yang bisa kamu jelaskan?” tanya Ellen.
Reza lebih dulu mendekat dan meraih tangan Ellen, namun Ellen mengibaskannya dan berbalik menatap Reza dengan kecewa.
“Apa kamu belum sadar dengan apa yang kamu lakukan selama ini za?” pertanyaan Ellen terdengar penuh penekanan, seperti kata-kata itu ditujukan untuk menamparnya agar ia tersadar.
“Aku minta maaf.” Ya, ia hanya bisa minta maaf karena semua kesalahpahaman ini.
Ellen tersenyum samar, lantas memalingkan wajahnya dari Reza. Ia menghela nafasnya dalam-dalam namun kemudian air matanya tetap menetes.
“Kamu tau za, aku sangat menghargai sikap baik kamu terhadap siapapun terlebih itu seorang wanita. Kamu beralasan kalau wanita itu ada untuk di lindungi, disayangi dan di jaga, aku sangat setuju dengan itu.”
“Tapi kamu harus tau, ada batas dimana kamu harus bisa membedakan kamu melakukan hal tersebut pada siapa dan seperti apa. Pada wanita yang kamu inginkan karena kamu mencintainya atau hanya pada wanita yang ingin kamu jaga tanpa membuatnya merasakan perasaan yang tidak seharusnya.”
“4 tahun, kita sepakat untuk memikirkan semua itu selama 4 tahun ini. Aku tidak melarang kamu pergi dan memberi kamu ruang seluas-luasnya untuk memahami perasaan kamu sendiri sama aku.”
“Tapi sepertinya, kamu melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan padaku, terhadap Shafira. Kamu melewati batas itu karena memang kamu tidak bisa menahannya. Kamu selalu ingin membuktikan kalau seorang Casanova seperti kamu bisa membuat hati perempuan manapun bertekuk lutut dengan semua yang kamu lakukan.”
“Apa kamu puas dengan yang terjadi sekarang?”
“Kamu tidak hanya membuat perasaan shafira samar, tetapi perasaan kita pun begitu. Bisakah kita melanjutkan hubungan kita dengan perasaan samar seperti ini?” tandas Ellen, dengan air mata yang ikut menetes. Di tatapnya mata Reza dengan penuh kekecewaan.
Semua unek-unek yang ia tahan selama ini akhirnya ia tumpah begitu saja. Baginya, Reza tidak pernah berubah karena ia memang tidak ingin berubah.
“Len, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku,”
“Ssstt…” Ellen menempatkan telunjuknya di bibir Reza. “Jangan katakan apapun.” Jedanya.
“Sebaiknya kamu pikirkan terlebih dahulu semuanya matang-matang.”
“Kamu harus ingat, empat tahun yang kita janjikan, bukan mengharuskan kamu memilihku. Kamu laki-laki bebas dan tidak terikat komitmen apapun denganku.”
“Untuk saat ini, sepertinya kamu perlu waktu memikirkan semuanya dan akupun perlu waktu untuk meyakinkan kembali hatiku. Hem?” Ellen mengusap pipi Reza dengan sayang.
Rasa bahagia yang semula membuncah kini berubah menjadi balon udara yang perlahan berkurang tekanan udaranya menuju kosong. Ya kosong, seperti semua keyakinan Ellen saat ini hilang dengan hancurnya perasaan Shafira.
Bisakah hubungan ini bertahan?
******