
Pagi ini suasana sarapan di warnai dengan kejutan. Kinar datang membawa sarapan bubur yang menjadi favorit Arini. Sepertinya bubur mulai menjadi menu wajib sarapan mereka. Aroma bubur yang wangi, teksturnya yang tidak terlalu encer juga topingnya yang banyak, memang mengundang selera. Arini selalu lahap saat makan dengan bubur yang di beli Kinar di dekat rumah.
Hal yang mengejutkan lainnya adalah adanya seorang gadis yang ikut masuk ke rumah Kean. Ia berdiri di belakang Kinar dan tampak ragu untuk masuk. Entah ini kejutan yang menyenangkan atau tidak yang jelas, suasana rumah mulai berubah tegang.
“Selamat pagi nyonya. Hari ini nona muda, ikut.” Kinar terlihat ragu. Ia menatap Arini dan Shafira bergantian.
“Pagi tante.” Ucapnya seraya melangkah sejajar dengan Kinar. Ia berusaha menujukkan senyumnya yang paling manis saat berhadapan dengan Arini.
Tidak ada yang merespon. Semua orang terpaku dengan keterkejutannya masing-masing. Atmosfer ruangan yang hangat berubah tegang setelah kedatangan Shafira. Ia menatap Kean dan Arini bergantian. Wajah keduanya tanpa ekspresi membuat Shafira mulai merasa salah telah datang ke rumah ini.
Ia menghela nafas dalam seraya mengepalkan tangannya dan berusaha bertahan. Ada perasaan yang coba di tahannya. Ini niat baiknya untuk datang menemui Arini, maka ia tidak boleh berbalik. Sekali lalu ia menoleh Disa yang ada di dapur dan memberinya senyum tipis. Membuat ia seolah mendapat kekuatan baru.
“Apa fira boleh gabung?” tanyanya dengan ragu.
“Hem.” Hanya itu respon Arini. Ia masih tidak menyangka kalau anak kecil ini berani datang menemuinya dan berbicara dengannya.
Shafira berusaha tenang, ia menghampiri Arini dan duduk di salah satu kursi meja makan. Ia berusaha tersenyum saat tatapan Arini dan Kean tertuju padanya.
Duduk dengan ragu dan perasaan yang masih berkecambuk sungguh tidak nyaman bagi Shafira. Tapi ia sudah berniat untuk menghadapi fase Ini. Ia tidak ingin menghindar seperti seorang pengecut atau abai seperti tidak tahu apa-apa.
“Maaf kalau kehadiran fira membuat suasana di sini jadi tidak nyaman.” Shafira memulai kalimatnya dengan diiringi senyum yang ia buat semanis mungkin. Tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kegundahannya.
“Tadi pagi, fira liat bu kinar keluar rumah. Katanya mau beli bubur yang deket rumah. Fira pikir apa salahnya kalau fira ikut dan sarapan bersama tante juga abang. Di rumah fira sarapan sendiri.” Shafira menelan salivanya kasar-kasar saat tenggorokannya terasa mulai tercekat.
Jantungnya masih sangat berloncatan merasakan tatapan dingin Arini dan Kean. Otaknya terasa buntu memikirkan kalimat apalagi yang harus ia ucapkan.
“Tante tidak keberatan kan fira ikut gabung?” ia menatap Arini dengan sendu. Manik coklatnya terlihat redup seperti tengah mengumpulkan titi-titik air mata di sudut matanya.
Arini tampak menghela nafas. Ia berusaha tersenyum walau lengkungan bibirnya hanya samar saja. “Tidak masalah. Kinar, siapakan sarapannya. Ini sudah terlalu siang.” Titahnya kemudian.
“Ba-baik nyonya.”
Disa membawakan beberapa mangkuk dan Kinar mulai menata sarapan mereka. Tangannya kelihatan gemetaran. Ia tahu situasinya sangat tidak nyaman. Hal yang ia takutkan adalah sesuatu yang buruk terjadi pada nyonya besarnya.
Mereka memulai sarapan dengan perasaan canggung. Mengaduk-aduk bubur bukan karena masih terasa panas tapi memikirkan bahan pembicaraan agar suasana mencair.
“Nak, nanti mamah mau ke gallery tante nita sama disa. Kamu nyusul ya, kita makan siang di sana.” Arini yang menemukan bahan pembicaraan lebih dulu. Ia pun ingin mengakhiri kecanggungan yang sama.
“Iya mah. Pagi ini kean nemuin klien di luar, nanti kean nyusul mamah.” Kean mengamini usaha sang ibu untuk membuat suasana tetap nyaman. Sementara Shafira masih memainkan bubur di hadapannya dengan perasaan tidak menentu.
“Kata tante nita, Yayasan yang dia Kelola mau ada charity. Mamah juga di ajak datang tapi mamah masih gak yakin apa bisa gabung sama mereka atau nggak. Mamah gak terlalu percaya diri.” Akunya kemudian.
Kean meraih tangan Arini yang ada di atas meja lantas menggenggamnya. “Kalau mamah gak merasa nyaman, mamah bisa bilang sama tante nita. Kean yakin tante nita ngerti.” Menepuk-nepuk punggung tangan Arini untuk menenangkannya.
Shafira yang melihat pemandangan di hadapannya, tersenyum simpul. Benar adanya kabar dari para pelayan kalau Kean sangat menyayangi ibunya. Dari cara bicaranya dan tatapan matanya dan tentu saja perlakuan Kean pada Wanita di sampingnya.
Shafira tersenyum kelu. Ada rasa iri yang tiba-tiba masuk ke hatinya. Dalam kondisi seperti ini mereka bisa saling menguatkan berbanding terbalik dengan ia yang selalu sendirian tanpa ada seseorang yang ia harapkan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Bulir air mata menetes dengan sendirinya, rasanya sangat sedih.
“Apa buburnya tidak enak nona?” Kinar yang menyadari keterpakuan Shafira yang hanya memainkan sarapannya.
Shafira hanya menggeleng seraya mengusap bulir air matanya.
“Tante, apa fira boleh bicara?” ia memberanikan diri menatap Arini yang terlihat terkejut.
“Tidak pernah ada yang melarang.” Sahutnya dingin.
Shafira beranjak dari tempatnya, memundurkan kursi yang ia tempati lantas melakukan hal yang tidak terduga. Ia bertekuk lutut di hadapan Arini.
“Hey, apa yang kamu lakukan?” tidak hanya Arini yang terkejut, melainkan seisi rumah.
Shafira hanya tertunduk, tanpa berani mengangkat wajahnya. Rasanya ia terlalu malu.
“Fira mau minta maaf tante.” Ujarnya dengan suara sedikit gemetar.
“Minta maaf untuk apa? Duduklah di atas.” Timpal Arini yang merasa tidak nyaman.
Shafira menggeleng dengan buliran air mata yang kembali menetes lantas ia usap dengan kasar. “Fira minta maaf kalau karena kehadiran fira dan mamih di keluarga tante, sudah membuat semuanya menjadi berantakan. Fira minta maaf tante.” Ia tersedu. Sungguh menyesali apa yang terjadi.
Semalam, saat tiba-tiba Liana datang ke kamarnya akhirnya Shafira mendapat semua penjelasan yang ia inginkan. Tentang bagaimana keluarga yang ia tinggali, bagaimana kesalahan yang Liana buat dan tentu saja kebuntuan Liana untuk menyelesaikan masalah ini.
Arini yang melihat Shafira tersedu tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak menyangka gadis muda ini memiliki maksud tersendiri atas kedatangannya ke rumah ini.
Melihat shafira yang bersimpuh, membuat ia kembali mengingat saat Liana datang ke kamarnya dan melakukan hal yang sama.
“Saya minta maaf mba, untuk semua kesalahan saya.” ujarnya mengawali kalimat.
Arini mengenal benar siapa Liana. Seorang wanita cerdas dari keluarga sederhana yang bekerja secara professional pada suaminya. Sejak pertama Liana datang dan memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris Sigit, Arini sudah menyukai gadis itu.
Pembawaannya yang tenang, cara bicaranya yang tertata, pikirannya yang terbuka dan keceriaannya membuat Liana merasa memiliki teman.
Hubungan pernikahan Arini dan Sigit memang tidak di landasi perasaan yang kuat antar suami istri seperti yang di alami banyak orang. Kehadiran Liana kala itu, telah banyak membantunya. Dari Liana ia mengetahui kebiasaan Sigit saat di kantor. Apa yang ia sukai dan tidak ia sukai. Minuman apa yang selalu menemani suaminya saat berfikir serius, hingga hal pribadi lainnya yang bahkan ia sebagai istrinya pun tidak tahu.
Tapi seiring berjalannya waktu, sikap professional Liana mulai terkikis. Liana tidak lagi memperlakukan Sigit sebagai atasannya melainkan sebagai laki-laki. Banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama, mulai menimbulkan perasaan yang tidak seharusnya. Mereka sering pergi ke luar kota untuk alasan pekerjaan. Memenuhi undangan klien saat ada acara. Dan tentu saja, Liana lah yang mendampinginya.
Kehadiran Arini hanya sebatas pelengkap kalau Sigit seorang pengusaha sukses dengan sebuah keluarga yang bahagia dan memiliki seorang putra yang cerdas. Tapi nyatanya tidak. Semua hanya sebuah citra yang ingin di bangun suaminya.
Kepergian Arini karena kecelakaan beberapa tahun lalu, seolah menjadi momentum bagi Liana untuk mengukuhkan perasaannya. Mereka sama-sama wanita dan Arini bisa merasakan perhatian Liana yang mulai berubah subjektif pada suaminya.
“Mas sigit itu tipe suami ideal dan mba arini beruntung memiliki suami seperti mas sigit.” Ujar Liana kala itu.
Dari kalimatnya, Arini menangkap kekaguman yang di selipkan Liana pada suaminya. Ia tidak lagi bercerita banyak tentang apa yang dilakukan Sigit di kantor. Dan seiring berjalannya waktu, Liana tidak pernah lagi menghubunginya. Komunikasi mereka benar-benar terputus.
Hingga beberapa tahun kemudian ia baru tahu kalau Sigit sudah menikah dengan Liana.
Dalam rasa sakitnya, Arini benar-benar merasa di buang. Liana yang sangat ia percaya nyatanya tidak bisa di pegang kata-katanya. Sebisa mungkin ia menyembunyikan semuanya dari Kean. Ia tidak mau Kean semakin membenci ayahnya. Hingga akhirnya Kean melihat sendiri apa yang terjadi di rumah yang selama puluhan tahun ia tinggalkan.
“Aku tahu, aku salah mba. Tidak seharusnya aku memiliki perasaan seperti itu pada mas sigit. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku gak bisa pergi dari laki-laki yang aku cintai.” Lirih Liana seraya terisak di hadapan Arini.
Setelah sekian lama, akhirnya ia mengungkapkan perasaannya pada Sigit.
“Setelah mba arini pergi, semuanya semakin berantakan. Mas gisit menikahiku hanya karena merasa bersalah. Dia tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku seperti yang mba arini kira. Tidak pernah mba.” Tangis Liana semakin pecah. Perasaan yang ia simpan berhaun-tahun akhirnya ia ungkapkan.
Pada akhirnya, ia dan Liana berada pada perasaan yang sama. Tidak pernah di cintai Sigit dan hanya sebagai pelengkap hidup Sigit yang seolah sempurna.
“Saya tidak pernah menyalahkan kamu karena memiliki perasaan pada mas sigit. Tapi, kamu wanita yang cerdas, wanita yang mandiri. Harusnya kamu tahu, mencintai suami saya tidak bisa dijadikan alasan untuk kamu menghianati kepercayaan saya.”
“Kamu seorang wanita liana. Kamu bisa merasakan seperti apa perasaan saya bukan? Lantas kenapa kamu malah bertahan? Kenapa kamu malah meneruskan perasaan kamu dan memaksa memiliki mas sigit?”
Sudah setengah jalan perasaan Sigit untuknya. Sigit yang mulai memperhatikannya, sedikit peduli dan Arini merasa usahanya tidak sia-sia. Tapi kemudian semuanya berakhir karena kecelakaan itu. Entah memang Sigit mengharapkan kesembuhannya hingga ia memberikan pengobatan yang sangat mahal di negara orang atau hanya ingin menjauhkan Arini karena pada dasarnya perhatian Sigit hanya sebatas rasa tanggung jawab. Yang jelas, perasaannya untuk Sigit tidak pernah berubah.
Mendengar pertanyaan Arini, Liana hanya tertunduk tidak berani menjawab sepatah katapun. Seperti Shafira yang saat ini hanya tersedu di hadapannya.
“Ibu mu memang bersalah. Dia menghianati kepercayan saya. Tapi saya tidak pernah merasa kalau kamu adalah awal dari masalah ini.”
“Tidak ada seorang anak pun yang memiliki kewajiban untuk menanggung kesalahan orang tuanya. Termasuk kamu.”
“Bangunlah.” Tandas Arini kemudian.
Bukannya beranjak, Shafira malah makin terisak. Ia semakin malu dan tidak berani menghadapi Arini.
Arini memberi isyarat pada Kinar untuk membantu Shafira bangun dan dengan segera Kinar menghampiri nona mudanya.
“Mari nona.” Mengajak Shafira bangkit. Namun shafira menepis tangannya.
“Kalau aku bukan awal masalah ini, bisakah tante arini kembali ke rumah itu?”
“Rumah itu seharusnya menjadi rumah untuk tante dan abang. Aku merasa seperti pencuri, mengambil sesuatu yang bukan seharusnya milikku. Aku mohon tante, pulanglah.” Shafira menatap Arini nanar. Ia mengatakan kalimatnya dengan penuh kesungguhan. Ia merasa harus mengembalikan semuanya pada posisi semula.
Arini hanya tersenyum tipis. Banyak alasan yang membuat ia harus mempertimbangkan permintaan gadis di hadapannya.
****