Marry The Heir

Marry The Heir
Rasa bersalah



Tenggelam dalam dunia sendiri, dimana hanya ada pikiran kita yang menari dengan waktu yang merambat cepat menjadi kondisi yang dialami Disa saat ini. Hanya ada ia dan detik yang dilalui dalam ketenangan tanpa ada sayup suara yang terdengar.


Menikah dengan waktu, seperti itu istilah yang Disa gunakan saat ia terhanyut dalam dunianya yang dipenuhi imajinasi dan fokus yang satu, tidak teralihkan untuk memikirkan hal lain.


Ia asyik bermain dengan helaian kain yang ia balutkan pada manekinnya dan di lekatkan dengan jarum pentul yang ia tusukkan di titik-titik tertentu untuk mengunci kain tersebut dan membuat siluete dari desain yang ia ciptakan.


Desain looks formal dan non formal tidak terlalu sulit karena pada dasarnya kain yang digunakanpun cukup bersahabat untuk ia bentuk. Untuk looks ini Disa sudah sampai memotong kain menjadi bagian-bagian kecil sesuai pola yang ia inginkan.


Berbekal ukuran yang di kirimkan oleh assisten Clara, Disa mulai bisa membayangkan bagaimana proporsi tubuh Clara. Anggap saja mis-nya satu sampai dua senti dari ukuran yang biasa ia lakukan pada baju yang akan ia buat. Itu batas toleransi ia membuat pola dan masih ada kesempatan untuk memperbaikinya saat fitting terakhir nanti.


Berbeda dengan looks yang ketiga. Batas toleransi harus di buat seminim mungkin, karena proses perbaikan harus di buat sekecil mungkin. Ia membayangkan bagaimana jika seorang dewi Yunani mengenakan gaunnya yang terlalu longgar atau justru terlalu ketat. Nilai seninya hilang dan ini beresiko menjadi sebuah kegagalan.


Tidak ada pilihan lain, sebelum kain di potong, Disa mengirimkan foto konsep baju yang sudah ia lekatkan pada manekin, pada Clara. Ia memberi beberapa catatan kemungkinan kekurangan dari gaun yang ia buat jika ukurannya tidak pas.


“Gue liat dulu.” begitu balasan Clara.


Ya baiklah, sang model memang harus melihatnya dulu dan menunggu jawaban Clara tidak lantas membuang waktu Disa percuma. Ada hal lain yang harus ia kerjakan. Membuat pola desainnya menjadi 3 dimensi. Walau ia tidak pandai dalam desain grafis, tapi kenapa tidak di coba.


Ia hanya ingin melihat, seperti apa bentuk dari sayap yang akan ia lukis nanti saat di bentangkan secara virtual.


Huft, banyak sekali peer pekerjaan Disa yang menunggu. Tidak ada waktu yang ia buang sia-sia. Untuk makan saja ia memilih petugas hotel untuk mengantarnya. Rasanya begitu enggan untuk keluar dari kamar saat imajinasinya memuncak. Satu aktivitas yang tidak terduga akan membuat imajinasi dan fokusnya hilang dan sulit lagi untuk mengumpulkannya.


Tantangan dalam pekerjaan yang memerlukan imajinasi adalah, saat ide terkumpul, namun tidak ada mood, semua tidak akan berjalan. Pun sebaliknya, saat sedang sangat mood tapi ide nihil, itupun tidak jadi apa-apa selain hanya melamun membayangkan bagaimana seharusnya ide itu ia buat. Kali ini Disa memiliki keduanya dan ia tidak akan melepaskannya.


Dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa di kompromikan. Ia tidak akan kembali maka harus sepintar mungkin ia menggunakannya.


Satu minggu? Apakah bisa ia mewujudkan gaun ini?


Waktu di pergunakan maksimal tidak hanya oleh Disa. Ada Damar yang asyik membuat banyak vlog dengan cerita yang bervariasi. Ia tidak pelit untuk membagikan ilmunya sehingga banyak penonton yang menyukai karyanya.


“Jangan sampe kelakuan kalian kayak gue waktu SMA, corat coret gak jelas sampe di panggil guru BK. Jadi mending lo pada salurin bakat dengan cara yang bener.” Begitu pesan Damar di beberapa video yang ia bagikan.


Semakin lama semakin hebat saja ia menggunakan kosakata yang kadang asing di dengar Disa. Pembicaraannya mulai mengalir tidak stuck dan janggal seperti video-video awal. Begini seharusnya sebuah proses. Walau sedikit tapi ada progress.


Di tempat lain, ada Kean yang sedang bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya. Ia pergi ke beberapa pabrik dan melakukan inspeksi langsung terhadap proses produksi kain. Ia pergi bersama Roy dan selalu diikuti oleh direktur produksi.


Satu orang yang selalu Kean cari yaitu manager produksi di setiap pabrik. Ia bertanya langsung proses produksi yang dilakukan di tiap pabrik. Setelah ada masalah dengan salah satu pimpinan anak perusahaan, Kean semakin gencar melihat kondisi anak perusahaan di bawahnya. Rasa pedulinya terhadap perusahaan mulai tumbuh tepatnya rasa peduli pada orang-orang yang terlibat.


Ia jadi ingat saat Disa menyemangatinya terkait masalah perusahaan. Awalnya ia blank saat tiba-tiba harus memimpin perusahaan. Tapi ucapan Disa kala itu seperti men-trigger dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih.


“Tuan muda, seperti singa yang buas. Yang bisa memimpin dengan cara yang bijaksana.”


“Tempat anda bukan di dasar kawah, melainkan di tempat tertinggi gedung ini.”


Kalimat itu yang selalu Kean ingat dengan jelas. Sekarang ia paham, mengapa Disa mengatakan hal tersebut. Dari tempatnya memimpin saat ini, ia mulai bisa melihat beriak yang terjadi di bawah sana. Kondisi pabrik-pabrik, para buruh hingga para investor dan importir.


Benar adanya kalau banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang ia pimpin.


Tidak munafik, setiap perusahaan tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Tapi lagi ia sadar, ia tidak boleh mengambil hak sekecil apapun dari orang-orang yang bekerja keras untuk perusahaannya. Karena para pekerja itulah perusahaannya bisa berkembang hingga sekarang. Maka, ia ingin semua berjalan sesuai dengan apa yang seharusnya. Dan tanpa sadar, Kean masuk semakin dalam pada pusaran yang sebelumnya sangat ia benci.


Benar yang Disa katakan, terkadang orang-orang bisa jatuh cinta pada sebuah proses yang indah dan Kean merasakannya.


Namun, ada satu orang yang masih belum bisa fokus dengan pikirannya. Adalah Reza yang saat ini masih mengetik surat pengunduran diri di meja kerjanya. Ia berusaha menyusun kalimat yang tepat agar bisa di mengerti oleh rektor kampusnya. Keputusannya sudah bulat untuk berhenti mengajar di kampus walau sebenarnya masih ada hal yang mengganjal.


“Bunda, bunda.”


Suara anak kecil terdengar jelas di telinga Reza. Tidak lama terlihat seorang anak yang masuk ke ruang dosen. Ia masih mengenakan baju seragam sekolah TKnya dengan tas punggung berbentuk beruang yang ia pikul di punggungnya. Di tangannya ada ice cream cone yang tengah ia nikmati hingga hampir habis setengahnya. Wajahnya sedikit belepotan kena sisa Ice cream.


“Ghea, masuk nak.” Sambut Reza saat mengenali gadis yang mematung di mulut pintu.


“Bundamu masih di kelas, mungkin setengah jam lagi selesai. Nunggu di sini sama om.” Reza segera menghampiri, namun Ghea malah mengkerut seperti menghindar.


“Aku nunggu di luar aja.” Sahut anak kecil itu yang meninggalkan Reza dan duduk di bangku yang ada di luar ruang Dosen.


Reza mengikuti, ada apa dengan gadis ini, kenapa malah menghindar? Biasanya saat melihat Reza ada di meja kerjanya, ia akan langsung duduk di kursi hadap Reza dan minta Reza untuk memainkan gitarnya. Tapi kali ini tidak.


Melihat ke luar ruang dosen dan Ghea tampak melamun memandangi es krim di tangannya. Noda coklat di pipinya sudah mengering tapi wajahnya tidak terlihat ceria. Padahal makanan manis ini adalah favoritnya.


“Ghea,.” Reza duduk di samping Ghea dan gadis itu hanya menoleh lantas kembali menunduk.


“Kita nunggu di dalem aja yuk. Om punya permen, om janji gak bilang sama bunda ghea.” Bujuk Reza. Melihat anak kecil ini duduk sendirian di luar rasanya tidak tega apalagi kelas Ellen masih cukup lama.


“Nggak usah om, ghea di sini aja nunggu bunda. Nanti bunda marah.” Takut-takut ia melihat pada Reza.


“Marah kenapa? Om janji gak akan bilang kalo ghea mau permen. Asal jangan banyak-banyak.” Lagi Reza membujuk. Cukup lama tidak bertemu, gadis ini jadi sedikit tertutup dan menarik diri, tidak ceria seperti biasanya.


“Nggak om, ghea udah gak suka permen. Kata bunda nanti gigi ghea sakit dan bolong-bolong. Lagian kata bunda, ghea gak boleh gangguin om. Nanti om jadi repot.” Lirih gadis itu, sedih.


“Astaga,..” seperti ada kepalan yang menghujam taju pedang-pedangan di dada Reza saat mendengar ucapan Ghea.


Ia jadi memikirkan lagi ucapannya pada Ellen tempo hari. Ia memang meminta Ellen untuk menjaga jarak darinya tapi bukan berarti Ghea pun harus di samakan. Ghea tidak berhak dilibatkan dalam masalah mereka. Tapi sepertinya pikiran Ellen berbeda.


Kalau di pikir lagi, apa mungkin ia terlalu kasar pada Ellen dulu hingga wanita itu benar-benar menjauh darinya?


Ya, belakangan ini Ellen memang sangat menarik diri menjauh dari Reza. Mereka sudah tidak pernah lagi berbincang santai, tertawa cekikikan menertawakan hal kecil namun membuat mereka merasa lepas. Ellen sosok orang yang asyik di ajak bicara untuk hal apapun. Seperti mereka memiliki frekuensi dan pikiran yang sama.


Kali ini semuanya berbeda. Saat tidak sengaja bertemupun Ellen lebih memilih menghindar padahal bukan seperti ini yang Reza inginkan. Ia dan Ellen benar-benar terhalang jarak yang sangat jauh, mereka seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal.


Lalu, apakah Ghea pun harus di libatkan?


Reza menghela nafasnya kasar. Harusnya tidak begini keadaannya.


“Ghea, om gak pernah ngerasa di repotin kok sama ghea. Bunda juga gak akan marah kalau kita seperti dulu. Om janji. Kan kita masih berteman kan?” Reza menunjukkan jari kelingkingnya pada Ghea, kebiasaan yang selalu mereka lakukan saat membuat kesepakatan semisal saat Ghea tidak boleh menggunakan alat make up Ellen.


Ghea memandangi Reza dengan penuh keraguan. Di benaknya masih tergambar jelas bagaimana Ellen mengingatkannya agar tidak mengganggu Reza. Tapi pikiran polosnya mengatakan kalau Reza tidak merasa di repotkan dan akhirnya ia mentautkan jari kelingkingnya dengan Reza.


“Anak pinter. Yuk kita masuk.” Ajak reza seraya memegangi tangan Ghea. Gadis itu dengan senang hati mengikuti Reza dan sesekali melonjak kegirangan khas anak kecil.


“Ghea tunggu di sini sebentar ya, om ambilin tissue basah dulu.”


“Iya om!” sahut gadis itu seraya mengayun-ayunkan kakinya yang jatuh dari lantai. Cepat sekali moodnya berubah.


Sesekali bibirnya bergumam, membunyikan suara notasi piano yang kerap di pelajari Ghea dari Reza dulu. Reza jadi tersenyum memandangi anak itu, sudah sangat lama ia tidak mengajarinya bermain piano. Tepatnya setelah permasalahannya dengan Ellen berbuntut kasus hukum.


“Sini om bersihin dulu. Supaya nanti kalo bunda liat ghea, udah cantik lagi.” Reza berjongkok di hadapan Ghea, menggunakan selembar tissue untuk membersihkan pipi bulat dan bibir mungilnya.


“Hihihihi geli.” Ghea cekikikan saat Reza dengan sengaja mengusap hidungnya yang bangir padahal tidak ada noda coklat di sana.


“Ghea masih belajar piano?” tanya Reza penasaran. Ia masih ingat bagaimana antusiasme Ghea memainkan tuts hitam putih itu.


“Masih om. Bunda ngasih ghea guru les, ibu windi. Tapi galak banget. Iihhh!!!” anak itu bergidik takut saat bayangan wajah guru lesnya muncul di benaknya.


“Kok takut? Ghea kan anak pemberani. Mungkin bu windi bukan galak tapi tegas. Itu supaya ghea lebih serius belajarnya.” Hibur Reza yang selesai membersihkan wajah Ghea.


Bibir mungil itu mengerucut kesal, tidak setuju dengan ucapan Reza. Tangannya tersilang di depan dada, gaya marahnya sangat mirip Ellen.


“Ih tapi aku kesel. Bu windi gak seru. Kalo aku ada yang salah, pasti melotot. Mending belajar sama om reza, seru. Bisa ketawa-tawa.” Gadis kecil ini mulai kembali terbuka. Menceritakan perasaan tidak nyamannya selama ini.


“Kalo ghea mau belajar lagi sama om, om gak ada masalah kok.” Reza merapikan helaian poni Ghea yang berantakan seraya menatap lekat wajah sendu itu.


“Kata bunda gak boleh. Om reza banyak kerjaan. Om reza juga katanya mau pergi ke inggris ya buat belajar musik lagi. Ghea juga pengen.” Ungkap gadis itu tiba-tiba.


Sepertinya Ellen banyak bercerita tentang dirinya pada Ghea. Ya, ia memang berencana untuk pergi ke Inggris melanjutkan studinya. Awalnya hanya keinginan tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya ia bisa pergi. 2 tahun, cukup untuk menetralisir perasaannya yang selama ini berkecambuk.


“Nanti kalau udah besar kan ghea juga bisa sekolah di inggris. Tapi untuk sekarang, ghea harus belajar yang rajin. Nurut sama bunda dan jadi anak solehahnya bunda. Hem?” pesan yang sama yang kerap di ucapkan Ellen pada putrinya.


“Iya om, ghea janji. Ghea akan giat belajar, nurut sama bunda supaya bunda tambah sayang sama ghea dan gak sering marah-marah.” Anak kecil itu tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang ompong sebagian.


“Anak pinter.” Reza mengusap pucuk kepala Ghea dengan lembut. “Nih permennya, hadiah dari om karena ghea jadi anak yang pinter.” Menyodorkan sebutir permen pada Ghea.


“Asyiikkkk… Yeaayyy!!!” ia mengangkat permennya tinggi-tinggi. Terlihat sekali kalau ia sangat senang.


“Makasih om!” ia langsung membuka bungkus permennya dan memakannya.


“Sama-sama.”


“Oh iya om, ghea belajar karate loh di sekolah. Kata mba di rumah, ghea harus jadi anak yang kuat supaya bisa jagain bunda. Biar ayah gak ganggu bunda lagi.” Ujar anak itu tiba-tiba. Membuat sudut hati Reza meringis mendengarnya.


“Emang ayah masih gangguin ghea sama bunda?” Reza jadi penasaran. Padahal laki-laki itu sudah berjanji tidak akan menggangu Ellen lagi.


“Iya om. Ayah suka tiba-tiba datang ke rumah, dorong pintu keras-keras sampai bunda jatoh. Terus narik rambut bunda. Bunda udah bilang ampun tapi malah di pukul sama ayah. Ghea takut om.” Wajah ceria itu kembali sendu.


“Ghea, sayang.” Reza segera memeluk gadis kecil itu.


“Ghea jangan takut, kalo ayah kayak gitu, ghea telpon polisi aja atau telpon om.” Hibur Reza.


“Iya om, tapi,”


“GHEA!!!” sebuah suara keras menghentak jantung Ghea dan Reza. Mereka kompak menoleh pada sumber suara yang tidak lain adalah Ellen.


“Bunda?” Ghea segera melepaskan pelukannya dari Reza.


“Sini kamu!” Ellen menarik paksa tangan Ghea.


“Aduh, sakit bunda..” keluh Ghea yang meringis.


“Kamu lupa apa yang bunda bilang? Kamu mulai gak nurut sama bunda?” cerocos Ellen mengomeli putrinya. Melihat kedekatan Ghea dan Reza, ia jadi hilang kendali.


“Len, tunggu. Ghea gak salah.” Reza segera menjeda. Ia melihat jelas kemarahan di mata Ellen.


“Kamu mau apalagi za?! Kamu kan udah bilang kita gak usah ada hubungan apa-apa lagi. Ngapain kamu masih ngajak ngomong ghea?” Hardik Ellen dengan kesal.


Matanya membulat dan merah menatap Reza. Seperti ingatan dari kata-kata yang menyakitkan di lontarkan Reza kembali terngiang di telinganya.


“Len, ghea gak ada hubungannya sama ini. Dia masih,”


“ADA! Ghea anakku. Kamu jangan lupa itu!” teriak Ellen.


Mendengar teriakan Ellen, Ghea segera mengibaskan tangannya. Ia berlari kepojokan dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Terlihat wajahnya yang ketakutan.


“Tapi kamu gak perlu sekasar itu sama ghea. Dia masih kecil.” Reza tidak mau kalah.


“Oh, apa maksud kamu sekarang? Kamu mau menunjukkan kamu peduli sama ghea terus nanti kalo ada masalah kamu nyalahin aku lagi? Gitu?!” matanya menyalak, tidak terima dengan ucapan Reza.


Reza terlalu plin plan, beberapa waktu lalu Reza sendiri yang mengatakan agar mereka mengurus masalah masing-masing tapi kali ini malah bersikap sok peduli.


“Len, aku tau perkataan dan sikap aku belakangan ini mungkin nyakitin kamu. Tapi, bukan berarti aku benar-benar berniat memutuskan tali silaturahmi. Hanya saja,”


“Udah lah za. Aku males denger omongan kamu.” Ellen langsung menyela.


“Pada intinya, aku juga udah gak mau ganggu kamu. Jadi, kamu juga gak perlu peduli pada apapun yang terjadi sama aku dan Ghea. Aku dan ghea, bisa ngurus hidup kami sendiri.” Tegas Ellen tidak ingin ambil pusing. Toh pada intinya ini juga bukan yang Reza inginkan? Menjauh dari hidup Ellen dan Ghea agar tiak menjadi masalah untuknya.


“Ya ampun, ghea kenapa?” tiba-tiba suara Berlian terdengar di mulut pintu.


Ellen dan Reza langsung menoleh dan terlihat Ghea yang sedang ketakutan bersembunyi di pojokan. Karena asyik berdebat mereka sampai lupa dengan Ghea.


“Ghea!” seru Ellen dengan cepat. Ia menghampiri Ghea dan segera memeluknya.


“Sayang, maafin bunda. Bunda gak maksud bikin ghea takut.” Ujarnya penuh sesal.


Tubuh Ghea gemetaran. Tidak menangis tidak juga bicara, hanya tubuhnya saja yang tegang dan gemetar. Di usapnya kepala Ghea dengan pelan lantas d kecupnya dengan lembut. Ellen sadar, ini kesalahannya. Sejak melihat Darwin bersikap kasar padanya, Ghea jadi sering ketakutan seperti ini.


“Bu ellen, maaf kalo saya ikut campur. Cuma, tidak baik kalau bu ellen berdebat di depan anak kecil.” Berlian berusaha mengingatkan. Ia menatap Ghea penuh khawatir lantas beralih menatap Reza yang tampak bingung.


Reza segera menghampiri, ia tidak menyangka Ghea yang tadi ceria ternyata menyimpan trauma yang mendalam.


“I-iya bu. Tadi saya lepas kendali. Ghea maafin bunda nak, bunda janji gak marah lagi gak nangis lagi hem.” Suara Ellen terdengar lirih dan bergetar, seperti menyimpan tangis.


“Ghea, maafin om ya. Om sama bunda ghea gak bermaksud teriak di depan ghea.” Reza ikut menimpali. Rasa bersalah yang sama di rasakan Reza melihat Ghea seperti ini.


Ghea hanya terpaku, kemudian terisak seraya memeluk Ellen dengan erat. “Ghea takut bunda.” Lirihnya.


“Iya nak. Takut itu tidak apa-apa tapi bunda janji gak akan terjadi apa-apa sama ghea dan bunda, hem.” Tubuh Ellen semakin erat memeluk Ghea. Ia sudah tidak memperdulikan lagi kehadiran Reza di dekatnya.


Ia tidak ingin berdebat lagi dengan laki-laki ini yang akan membuat Ghea semakin takut.


Akhirnya Reza hanya terpekur memandangi Ellen dan Ghea tanpa satu katapun. Rasa bersalah atas apa yang ia ucapkan dan lakukan pada Ellen beberapa waktu lalu kembali muncul di benaknya.


“Astaga, apa yang sudah aku lakukan?”


****