Marry The Heir

Marry The Heir
Mengatur strategi permainan



POV Kean


Hari pertama yang terasa berat tanpa melihat Disa di sekitarku. Seharian di kantor tapi tidak ada hal produktif yang aku lakukan. Hanya duduk termenung di kursi kerja seraya memandang ke luar jendela besar melihat keramaian jalanan ibu kota.


"Didalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu."


Lirik lagu itu benar adanya. Ku pikir itu hanya ungkapan berlebihan dari seorang laki-laki yang tidak seharusnya membuatnya terlihat lemah. Tapi aku salah, perasaan itu ada dan aku benar-benar merasakannya.


Kosong, seperti itu perasaanku saat ini.


16 jam yang sulit aku lewati. Saat terbangun, yang pertama aku pikirkan adalah Disa. Apa Disa baik-baik saja? Apa dia pernah memikirkanku? Apa yang dia lakukan sekarang?


Sampai akhirnya aku mengiriminya pesan.


“Kamu sarapan apa?” pertanyaan sederhana namun memuat kekhawatiran di dalamnya. Atau mungkin inilah caraku berbasa-basi. Perutku lapar tapi tidak ada selera. Membayangkan Disa makan apa, mungkin bisa membangkitkan seleraku.


Tidak disangka dia membalasnya. “Selamat pagi tuan. Saya sedang sarapan singkong goreng dan teh manis. Tuan sudah sarapan?”


Hah, hatiku jadi berbunga-bunga membaca pesan Disa. Padahal dulu ku pikir apa artinya berkirim pesan dengan seseorang yang selalu ada di dekat kita. Asal melihatnya ada di jangkauan pandangan kita itu sudah lebih dari cukup. Tapi kali ini, aku harus berterima kasih pada penemu aplikasi chat. Dengan hal semacam ini aku bisa tahu kabar orang yang ku rindukan.


Pagi tadi akhirnya aku bisa sarapan dengan membayangkan singkong goreng dan Disa yang ada di hadapanku.


Dan hingga malam ini, pesan Disa masih aku pandangi. Jika aku mengiriminya lagi pesan, apa dia akan membalasku?


Pikiran itu yang kemudian muncul di benakku. Kami sedang mencoba terbiasa untuk menjalani hidup masing-masing. Mungkin saja kali ini ia akan menghindar demi menjaga hatinya.


“Sudah makan malam?” Hahahaha jangan tertawa karena pertanyaanku melulu tentang makan.


Bukan tanpa alasan aku bertanya jadwal makannya, mengingat Dia yang selalu lahap saat makan, membuatku yang semula pilih-pilih makanan menjadi mulai terbiasa makan makanan apapun asalkan Disa yang memasaknya.


“Selamat malam tuan. Sudah tuan. Apa tuan sudah makan?”


Yes! Dia membalas pesanku. Dia masih tidak menghindar dariku. Apa dia juga belum siap melupakanku?


“Sudah. Kamu sedang apa?” seperti ABG, aku mulai suka berkirim pesan. Menunggu balasan pesan dengan perasaan berdebar sampai kemudian bunga sakura terasa bermekaran di sekelilingku saat ternyata yang di tunggu datang.


Aku tahu, ini terlambat. Harusnya dulu aku lebih sering melakukan hal ini. Mengiriminya pesan cinta atau sesekali mengiriminya puisi yang bisa aku dapatkan secara online. Biasanya tulisan berisi kegombalan lebih mudah di cari karena banyak peminatnya. Walaupun aku tidak bisa berkata-kata manis seperti itu, ya itu sedikit usahaku dengan meng-copy paste penggalan tulisan orang.


Hah, aku memang tidak berbakat membuat tulisan-tulisan semacam itu.


Mulai hari ini, ponsel yang semula hanya untuk melakukan panggilan dan mengecek pekerjaan, kini fungsinya bertambah dengan berkirim pesan. Hanya ada satu nomor di kotak pesanku yaitu nomor Disa.


Cukup lama ia tidak menjawab, membuat perasaanku tidak karuan. Aku cek lagi kotak masuk, khawatir sudah ada balasan tapi tidak ada notifikasi, eh tetap saja tidak ada pesan masuk. Pesanku belum di baca juga.


“Hey, kamu dimana?” aku berbicara pada foto profil Disa. Foto yang terlihat aesthethic walau hanya memperlihatkan tangannya yang sedang memegang kuas lukis. Tangan itu yang sangat suka aku genggam.


3 menit berlalu terasa seperti 3 abad. Tidak bisa seperti ini, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Ku cek lokasi ia terakhir, masih di tempat yang sama. Aku zoom dan ternyata ini rumah tempat ia tinggal.


Tidak ada pilihan, segera ku ambil kunci mobilku dan jas yang tersampir di kursi. Aku berjalan dengan cepat keluar dari ruang kerja. Aku harus menemuinya langsung walau aku tahu ini akan memperlambat proses move on kami.


“Selamat malam tuan. Anda akan pulang sekarang?” ternyata Roy belum pulang juga.


Entah dia berniat menemaniku atau ada pekerjaan yang sedang ia selesaikan karena seharian ini aku memang tidak cukup produktif. Beban kerjanya pasti bertambah.


“Hem. Kamu pulanglah.” Titahku yang kemudian di angguki Roy.


Ku lajukan mobilku menuju arah yang sudah aku pastikan. Toko itu sudah di depan mata dan aku memarkirkan mobilku di sana. Tempat yang sama seperti tempat saat aku terakhir mengantar Disa pulang.


Ku nyalakan lagi aplikasi untuk melacak keberadaan Disa. Benar, hanya 300 meter saja. Ku ikuti panah hijau di layar ponselku, semakin lama semakin mendekat pada lokasi dan gila, jantungku berdegub sangat kencang.


Dari jarak yang dekat, aku melihat sebuah rumah bercat hijau muda. Ada dua sepeda di depannya. Aku yakin, disanalah Disa tinggal.


Tidak jauh dari tempatku berdiri, ada sebuah warung kopi yang cukup sepi. Seorang laki-laki tua yang berjualan di sana.


“Kopinya den?” sapa laki-laki itu saat aku mendekat.


“Iya pak 1.” Tidak ada salahnya aku memesan segelas kopi untuk menemaniku menghabiskan waktu.


“Silakan den, sebelah sini.” Laki-laki itu menaruh kopi di sebuah meja.


Aku segera menghampiri dan duduk di bangku itu. Tanpa sengaja, aku melihat jendela yang terbuka lurus dengan tempatku duduk. Apa mungkin itu kamar Disa?


Aku jadi penasaran. Kalau sehari-hari ia di kamarnya, mungkin orang-orang bisa melihat Disa dari sini apalagi laki-laki. Aarrghh aku jadi tidak rela membayangkan orang lain memperhatikan Disa diam-diam.


Ku ambil gelas kopiku dan ku hirup wanginya yang cukup bisa aku nikmati. Kopi instan memang memiliki wangi tersendiri di banding kopi alami.


Astaga! Hampir saja kopiku tumpah, saat aku lihat bayangan seorang gadis terduduk menghadap jendela.


Disa, ya itu Disa. Dia masih mengenakan mukenanya dan sekarang aku tahu alasan Disa belum membalas pesanku.


Tring! Sebuah pesan masuk dan segera aku periksa. Ternyata pengirimnya Disa. Senyumku langsung terbit dan lupa dengan kopiku.


“Maaf baru saya balas tuan. Saya baru selesai mengetik pesan untuk anda.” Begitu bunyi balasannya.


Hahhahaa ya iyalah orang pesannya baru aku terima. Kadang gemas juga baca pesan dari Disa apalagi sambil memperhatikannya begini.


Tunggu, Dia tidak memberi balasan lebih, bertanya kabarku misal. Ya aku harap dia bertanya kabarku. Aku akan katakan kalau seharian ini aku merindukannya.


Tapi, tidak ada pesan lanjutan. Disa masih meresponku tapi tidak memberi perhatian lebih. Mungkin ini caranya membuat kami terbiasa hanya sebagai teman tanpa melibatkan hati kami dengan perhatian yang tidak seharusnya.


Ku pandangi dia dari kejauhan. Aku masih bisa tersenyum karena bisa melihat wajahnya yang cantik. Ku ambil fotonya, inilah penampilan terbaik Disa yang membuat hatiku tenang.


“Pak, apa orang-orang sering duduk di sini?” aku bertanya serius pada penjual kopi, khawatir tidak hanya aku yang memandangi Disa dengan penuh takjub.


“Nggak ada den. Orang-orang senengnya duduk di pos situ.” Menunjuk sebuah pos ronda yang semi permanen. "Diem di situ mah agak bau got jadi orang-orang males." imbuhnya.


Lah terus kenapa dia menyuruhku duduk di sini? Apa aku pantas berdekatan dengan bau got?


Tapi pada akhirnya Aku bisa menghela nafas lega. Karena tidak ada orang lain yang tahu kalau dari sini bisa terlihat pemandangan indah yang menenangkan.


“Tidak pak, saya di sini saja. Pak, bisa tolong pastikan tidak akan ada yang duduk di sini selain saya? Saya bersedia membayar sewa untuk bangku ini.”


Pertanyaanku mungkin sedikit aneh tapi aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mau kelak ada orang yang memperhatikan Disa dari sini.


Pak tua itu memperlihatkanku dari atas hingga bawah seperti sedang menilai penampilan dan membayangkan isi dompetku.


"Bener aden mau bayar bangku ini?" matanya langsung membulat senang. Aku hanya terangguk, tidak apa-apa mengeluarkan sedikit uang untuk membayar tempat ini.


"10 juta, gimana?" gila, penawarannya langsung tinggi, seperti bisa menebak kalau aku bersedia membayar berapapun.


"Ada rekening pak? Saya transfer." langsung aku sepakati sebelum penawaran naik.


"Ada. Sebentar den." langsung ia menyodorkan buku tabungan yang di simpannnya dalam laci. Aku tidak ambil pusing, langsung ku transfer dan terdengar bunyi pesan notifikasi di ponselnya.


"Alhamdulillah, mimpi apa saya semalam. Makasih den." matanya langsung berbinar. "Saya janji gak akan ada yang duduk di sana selain aden selama saya hidup." ia berjanji dengan sungguh-sungguh.


"Bener ya pak." sahutku memastikan.


"Pasti den." semangat sekali bapak ini.


Akan ku pegang kata-katanya, lihat saja kalau dia berani berbohong.


Mungkin ini hal tergabut yang aku lakukan tapi cukup memberiku ketenangan.


Dan saat ini aku hanya ingin terdiam di sini. Ya, beberapa saat aku akan duduk di sini. Menikmati secangkir kopi seraya memandangi Disa dari kejauhan. Bau got? Akh aku tidak peduli. Semuanya serba indah kalau yang pandangi adalah objek yang tepat.


“Hey, aku merindukanmu.”


******


“Disa pergi?” Reza bertanya tidak percaya saat Kean bilang Disa sudah tidak bekerja lagi di sini.


“Hem.” Biarkan saja dia mengecek semua ruangan, Kean tetap melanjutkan permainannya menghajar tim lawan.


Pergi ke dapur, membuka pintu ruang linen lalu ke kamar Disa. Masih belum percaya rupanya kalau Disa benar-benar pergi. Setelah memastikan semua ruangan kosong, barulah ia kembali duduk di samping Kean.


Kean menyodorkan satu stick PS pada Reza. Sudah sangat lama mereka tidak tanding. Persaingannya memperebutkan Disa sudah selesai dan kali ini mereka memperebutkan siapa yang lebih unggul dalam permainan virtual.


“Dia pergi atas kemauan dia sendiri?” masih sempat Reza bertanya saat memilihh 11 anggota timnya untuk menghadapi Kean.


“Lo pikir gue ngusir dia?” timpal Kean dengan sinis. Kesal juga terus di tanya tentang Disa.


“Ya enggak lah.” Reza melirik sahabatnya yang mulai kasar menekan stick PS nya. “Terus hubungan lo?” takut-takut ia bertanya.


“Lo mau maen apa mau gossip?!” suara Kean lebih sinis. Sampai di sini Reza paham apa yang terjadi pada sahabatnya.


Alasan Kean memintanya datangpun sepertinya karena sahabatnya merasa kesepian.


“Tumben lo gak ngambil MU?” Reza mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ini lebih baik.


“Lagi gak tertarik.” Sahutnya enteng. Ia memilih pemain yang tidak biasanya ia ambil, mungkin ingin mencoba sensasi baru mengendalikan pemain yang tidak biasanya.


“Gimana urusan lo?” berganti Kean yang bertanya. Sudah pasti ini tentang kasus hukumnya.


Reza menghela nafas dalam saat mengingat masalahnya. Ada sesal yang tersisa saat ia mengingat apa yang terjadi akhir-akhir ini.


“Gue mungkin bakal berhenti dari kampus dan fokus ngurus galeri.” sahutnya lemah.


Setelah membuat kericuhan di kampus, ia tidak yakin masih bisa meneruskan pekerjaannya. Pihak kampus sebenarnya sudah memahami apa yang dihadapi Reza namun ia tidak bisa terus  membuat salah paham yang sama karena bekerja dengan Ellen di tempat yang sama.


Lagi pula, ia tidak mau membuat Ellen merasa tidak nyaman dengan keberadaannya.


“Kenapa gak nerusin perusahaan bokap lo?” pancing Kean.


Reza tertawa kecil mendengar pertanyaan sahabatnya. “Kalo lo gak mau nerusin perusahaan karena emang gak mau, kalo gue gak nerusin perusahan karena gue gak mampu. Ada kakak-kakak gue yang lebih mampu meneruskan peninggalan papah.”


“Lo kan belum nyoba.” Kali ini perhatian Kean beralih pada sahabatnya. Sejak kapan sahabatnya jadi pesimis begini?


“Gak perlu gue coba. Otak gue gak masuk kalo harus ngurusin orang dan terget perusahaan. Gak kayak lo yang gak mau padahal brilian.” timpalnya dengan senyum samar. Walau Kean mencoba mengingkarinya, bakat pebisnis di darahnya mengalir deras. Buktinya banyak kerjasama yang goal setelah ia mulai bergabung di perusahaan milik ayahnya. Hardjoyo group menjadi semakin besar, itu bukti kalau sahabatnya bukan hanya sekedar beruntung lahir dengan sendok emas, tapi ia memang bisa menggunakannya.


“Oh iya, lo pernah berfikir gak kalo lo bisa mimpin perusahaan dengan cara lo sendiri?”


“Maksud lo?” Kean menghentikan permainannya. Ia fokus menyimak pernyataan sahabatnya.


Reza ikut menaruh stick-nya. Pembicaraannya dengan Kean bisa lebih berfaedah dari sekedar mengatur arah joystick.


“Ya maksud gue, bokap lo kan selalu bisa ngendaliin lo karena dia ngerasa berkuasa lebih dari lo.”


“Semua orang patuh sama perintah dia, termasuk om Marwan. Dia udah kaya kebo yang di cocok hidungnya tau gak. Mau salah mau bener tetep di turutin.”


“Kenapa gak lo balik aja jadi lo yang lebih berkuasa dari bokap lo? Lo kuasain semuanya sampe bokap lo ngerasa kalah dan lo memiliki kendali yang lebih besar terhadap perusahaan termasuk orang-orangnya.”


“Gue yakin, orang superlative kayak bokap lo bakal takut juga kalo lo lebih kuat dari dia.” Terang Reza panjang lebar.


Kean tampak tercenung memikirkan ide Reza. Membandingkan dengan prinsipnya.


“Tapi itu berarti gue ngikutin maunya bokap dan gue gak mau itu.” Timpal Kean malas. Ini seperti jebakan batman untuknya.


Sejak Sigit semena-mena terhadapnya dan Arini, membangkang dari keinginan Sigit adalah satu-satunya yang ingin ia lakukan. Jika ia benar-benar masuk ke dalam perusahaan itu secara total, maka Sigit lah yang menang.


“Ya iya kalo lo main ngikut aja maunya bokap lo. Ini kan gue bilang lo harus lebih berkuasa dari bokap lo. Jadi, bokap lo yang bakal ada di bawah kendali lo dan gak semena-mena lagi.” sahut Reza dengan acuh.


Kean tidak merespon Reza, ia hanya menatap wajah sahabatnya dengan pikiran yang berputar di kepalannya. Ia butuh waktu untuk berfikir dan menata pikirannya sendiri. Beberapa saat sampai ia membuat keputusan yang tepat.


******