Marry The Heir

Marry The Heir
Sedikit melemah



POV Kean


Malam hanyalah sebuah sebutan untuk sebuah perubahan kondisi dimana warna langit terlihat lebih gelap dan tidak ada cahaya matahari. Sisanya, sama seperti siang, aku masih bisa berada di jalanan menuju rumah utama bersama wanita yang aku sebut istriku, Disa.


Beberapa saat lalu, tiba-tiba Disa mengajakku untuk pulang ke rumah utama. Sebenarnya aku tidak setuju karena bagiku tidak ada gunanya pulang ke sini dan menemui papah. Tapi, besarnya harapan Disa agar kami pulang akhirnya aku menurutinya.


Setelah sholat isya, tiba-tiba saja Disa sudah duduk di belakangku. Aku sangat senang karena saat aku menoleh yang pertama aku lihat adalah wajahnya yang polos dan cantik. Aku akui, dengan atau tanpa make up istriku tetap yang tercantik.


Ada perasaan yang tidak biasa saat tiba-tiba ia meraih tanganku dan mengecupnya. Ada ketenangan yang aku rasakan saat aku melihatnya dekat di sisiku. Sikapnya yang hormat terhadapku membuatku merasa memiliki kebanggan sebagai seorang laki-laki. Mungkin ini perasaan yang selalu di banggakan bang Nasep kepadaku setiap menyuruhku mencari pasangan hidup.


Katanya, harga diri seorang laki-laki bertambah setelah menikah karena bahunya bertambah kuat untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Benarkah?


Satu hal yang pasti aku rasakan saat ini terhadap Disa, aku mencintainya, sangat mencintainya lebih dari sebelum aku menikahinya.


Ku perhatikan bibirnya yang tersenyum, membuat hatiku berdesir. Namun jika kuperhatikan lebih dalam, aku merasa kalau ada kegelisahan yang ia coba sembunyikan di balik senyumnya yang manis.


Aku bisa membacanya karena Disa bukan seseorang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Riak di air mukanya bisa aku lihat dengan jelas.


“Ada yang kamu pikirkan?” tanyaku, membuat mata sendu itu langsung menatapku kaget. Mungkin dia pikir aku bisa membaca pikirannya.


Hah, dia pikir aku mentalist seperti Deddy Corbuzier apa?


Tapi jujur, semakin lama aku semakin mengenali setiap perubahan ekspresi Disa. Apa karena hati kami sudah menyatu? Hahahha.. Bisa juga otakku berpikir seperti itu.


Bukan, itu karena kami mulai memperdulikan apa yang dirasakan satu sama lain dan berusaha menyelaminya.


“A, boleh aku mengatakan sesuatu?” dengan hati-hati ia berucap, seperti sangat takut aku tidak menyukai apa yang akan ia utarakan.


Benar bukan, ada yang ingin ia bicarakan denganku. Sepertinya serius?


“Hem, katakan.” Ku katakan dengan tegas. Aku ingin membiasakan komunikasi yang terbuka antara aku dan Disa.


Dia tersenyum lantas menghela nafasnya dalam seperti sesuatu yang akan ia katakan adalah sesuatu yang berat.


“Hey, jangan membuatku penasaran.” Aku berujar dalam hati dan berusaha setia menunggu apa yang akan dia katakan kemudian.


Apa mungkin ini tentang rasa sesalnya karena membiarkan Shafira masuk ke kamar pengantin kami dan membuatku marah? Ataukah tentang ia yang sedang menstruasi?


Jujur, aku tidak marah. Mengapa ia harus setakut ini?


“A, hari ini aku merasa kalau ini hari terbaik dalam hidupku.”


Ku lihat dia tersenyum, tapi binar matanya sendu. Apa terlalu terharu atau karena ada hal lain? Masih ku simak.


“Aku merasa beruntung karena menikah dengan laki-laki yang mencintaiku dan aku juga mencintainya.”


Tentu saja, hanya ada satu wanita beruntung yang bisa menjadi istriku, hehe…


Hidungku sampai hampir terbang mendengar kata-katanya. Manis sekali ucapannya.


Ku perhatikan tangannya tampak gemetaran dengan jemari saling tertaut satu sama lain.


Hey, ada apa ini? Jangan membuatku takut. Ku genggam tangannya dan ku lihat ia memandangi tangannya yang ku genggam erat. Ia tersenyum dan aku merasakan ketenangan melihatnya. Benarkah ia sebahagia itu hanya karena aku memegang tangannya?


“Yang terjadi tadi, semuanya tampak sempurna. Dekorasi gedung yang mewah, tamu-tamu terhormat yang hadir, bunga-bunga yang mewangi di seisi ruangan, keluarga yang bahagia melihat kita menikah, makanan yang enak disajikan khusus untuk menjamu mereka dan tentu saja tawa mereka yang hadir yang membuatku merasa begitu beruntung hari ini.”


"Aku merasa aku lebih beruntung dari cinderella."


Ya aku tahu, mamah memang pandai mengkonsep sebuah acara dan aku pun merasakan hal yang sama. Tapi kenapa ia malah terlihat sedih?


“Sampai kemudian aku melihat foto-foto di hp fira. Potret kebahagian kita dengan banyak orang.”


“Tiba-tiba saja, aku sadar pernikahan kita tidak sesempurna pikiranku di awal. Ada yang kurang dan aku menyadarinya.”


“Kenapa, apa ada hal yang membuatmu tidak nyaman?” aku langsung berreaksi. Aku tidak suka melihat wajah istriku yang berubah sedih.


“Iya a.” jawabnya tegas.


Aku mengernyitkan dahiku, berusaha memahami jawaban pendek namun penuh keyakinan itu.


“Kita menyelesaikan hari ini dengan bahagia tapi kita melupakan seseorang yang seharusnya ikut memberikan restu untuk kita. Tuan besar,” suaranya tercekat dengan buliran air mata yang tiba-tiba berkumpul di sudut matanya.


“Jangan di bahas sa, ketidakhadiran papah bukan sesuatu kecacatan dalam pernikahan kita.”


Aku langsung menjegal kalimatnya. Tidak suka dengan pikirannya yang terlalu polos.


“Tapi itu berpengaruh terhadap pernikahan kita a.” Disa mengeratkan genggaman tangannya, menegaskan kalau pikirannya tidak salah.


“Tidak. Tidak ada pengaruhnya sama sekali. Ada atau tidak ada papah, pernikahan kita tetap berjalan bukan?”


“Dan seperti yang kamu katakan tadi, kamu merasa ini adalah hari terbaik dalam hidup kamu, begitupun aku."


"Jadi berhenti memikirkan laki-laki tua itu.” kekesalanku selalu muncul saat Disa menyebut papah dalam perbincangan intim kami.


Papah selalu menjadi petir yang muncul di siang bolong, memberiku kejutan tidak menyenangkan, rasa takut, marah dan perasaan tidak nyaman lainnya.


“Papah,” lirih Disa, menatap wajahku yang mulai ku sadari berubah kesal.


“Hari ini pula, seseorang yang aa bilang laki-laki tua itu resmi menjadi papahku bukan?” dia menatapku lekat, dengan bibir bergetar menahan tangis.


Hey, kenapa harus semelow ini?


Aku ingin mengatakan ya, tapi aku tidak menyukainya. Mengapa Disa harus mencemaskan seseorang yang aku anggap sudah tidak ada? Papah bahkan entah sedang berada di alam mana, aku tidak peduli.


“A, hari ini kita mengundang banyak orang. Menyambut mereka dengan suasana hangat dengan harapan mereka memberi kita restu untuk pernikahan kita."


"Tapi kita nyaris lupa kalau salah satu restu yang lebih penting adalah restu dari papah.”


Dia tidak mendengarku. Seperti menyalahkan kemarahanku pada papah. Okey, posisi papah menang kali ini.


“Sa, kamu tahu papah seperti apa. Bagaimana dia ingin memisahkan kita dan bagaimana dia membuatku,” aku menjeda kalimatku yang nyaris kebablasan. Ada yang harus aku tahan.


“Membuat aa apa?” dia bertanya lirih dengan tatapan sendu penuh perasaan. Dia belum sepenuhnya mengenalku dan memahami sedalam apa kebencianku pada papah.


Aku tidak bisa menjawab. Ku palingkan wajahku dari Disa, kali ini saja jangan menatapku atau aku akan merasa bersalah.


“A,”


Ia menggeser tubuhnya mendekat padaku, membuat lutut kami saling bertemu.


Jangan sekarang sa, aku sedang sangat kesal.


“Kita emang gak tau apa yang papah pikirkan dan apa yang papah rasakan dalam tidurnya. Tapi papah masih ada.”


Kalimat Disa seperti sebuah tamparan yang membuatku sadar pada kenyataan sebenarnya yang selalu ingin aku ingkari.


“Aa ingat kan waktu kita ke bandung dan aa datang ke makam orang tuaku untuk minta restu mereka?”


Dia mulai membalik keadaan, membuatku merasa terpojok.


“Orang tuaku sudah tidak ada dan aa masih meminta izin mereka untu meminangku."


"Sementara papah, papah masih ada. Kita lebih wajib meminta restunya.”


“Tapi,”


“A, aku tidak peduli jika dalam kondisi saat ini pun papah tidak merestui kita."


"Tapi bagiku, aku wajib menemuinya dan meminta restunya.”


Suara Disa terdengar bergetar namun penuh ketegasan. Aku tidak habis pikir dengan apa yang ada dia pikirkan.


“Aa membuatku mendapatkan kehormatan sebagai istri, tolong bawa aku menemui papah dan beri aku kehormatan sebagai menantunya.”


Satu butir air mata menetas dari matanya yang bening. Hatiku seperti tertohok melihat tatapan penuh harap yang Disa tunjukkan untukku.


Astaga, kenapa aku tidak bisa berkutik? Tolong jangan seperti ini sa, ini menyesakkanku.


Sekarang aku tahu, mengapa Disa memulai pembicaraan dengan manis karena ia tahu akan tidak akan semudah itu mengabulkan permintaannya. Ia seperti tahu sebesar apa luka yang papah berikan dalam hidupku hingga aku merasa kalau papah memang sudah lama mati. Selama ini, aku hanya berdebat dengan sisa arogansi yang dia tinggalkan.


Aku tidak menyahuti. Aku sadar ini kelemahanku, yaitu melihat dia memohon dengan tatapan sendu.


Ku pilih untuk memeluk tubuhnya dan mengecup dahinya dengan penuh kasih. Kenapa dia selalu terlalu tulus dan terlalu bersungguh-sungguh?


Dan membuatku tidak bisa menolaknya.


Untuk alasan itulah saat ini kami dalam perjalanan menuju rumah utama. Aku kalah, Disa menang.


*****


POV Author


Belum cukup larut saat Kean dan Disa tiba di rumah utama. Kinar yang membukakan pintu tampak tercengang melihat kedatangan Kean dan Disa yang tiba-tiba di malam seharusnya mereka hanya berduaan di dalam kamar.


“Selamat malam tuan dan nona muda.” Sapa Kinar yang kemudian tersadar dari lamunannya. Membungkuk sopan untuk beberapa saat.


Untuk pertama kalinya ia memanggil Disa dengan panggilan nona muda, tidak ada kecanggungan sama sekali seperti ia telah terbiasa.


“Selamat malam bu. Maaf dateng malem-malem.” Sahut Disa.


Jadi tidak enak saat melihat wajah lelah Kinar yang berusaha tersenyum di hadapannya.


Kinar hanya tersenyum sementara Kean menarik tangan Disa agar mengikutinya. Tidak memberi jeda untuk berlama-lama.


“Saya tinggal sebentar.” Ujar Disa pelan. Ia melebarkan langkah kakinya mengikuti langkah Kean yang panjang.


Kinar hanya terangguk, memandangi sejenak punggung Disa dan Kean yang semakin lama semakin menjauh lalu tidak terlihat lagi.


Dahinya sedikit berkerut melihat kedatangan pasangan pengantin baru di malam hari begini. Bukankah seharusnya mereka ada di hotel?


Ah sudahlah, batin Kinar, menepis pikirannya sendiri.


Di ujung anak tangga, Kean melepaskan genggaman tangannya dari Disa.


“Masuklah.” Ujarnya tanpa menoleh pada Disa.


“Aa gak ikut?” berusah melihat wajah Kean tapi Kean seperti menghindar.


“Kalau sudah selesai, cari aku di kamar.” Jawaban itu yang kemudian Disa dengar dari mulut Kean.


Suaminya masih terlalu enggan untuk sekedar melihat keadaan Sigit yang di tempatkan di ruang kerjanya yang di ubah menjadi ruang perawatan khusus.


Untuk beberapa saat Disa terpaku, memandangi pintu tinggi menjulang di hadapannya. Padahal ia sangat ingin Kean ada di sampingnya, masuk ke dalam ruangan di balik pintu yang dulu Sigit tutup setelah mengusirnya keluar. Katanya, Disa tidak layak untuk masuk ke ruangan ini.


Tapi setiap orang perlu waktu. Seperti halnya Kean yang tidak bisa ia paksa untuk menemaninya.


Dengan segenap keberanian, Disa mengetuk pintu kamar yang hanya di huni Sigit. Suara monitor dan detikan jam yang kemudian menyambutnya dari dalam ruangan. Sigit benar-benar sendirian.


Memberanikan dirinya untuk mendekat pada tuan besar yang saat ini sudah resmi menjadi ayah mertuanya.


“Assalamu ‘alaikum pah.” Lirih Disa. Rasanya tidak terlalu lancang bukan ia menggunakan kata “Papah” sebagai panggilan pada tuan besarnya?


Seperti biasa, Sigit tidak merespon sedikitpun. Masih terbaring tanpa ada gerakan sedikitpun walau hanya dari jentikan jarinya. Matanya sedikit terbuka, seperti ingin tetap melihat dimana ia berada saat ini.


Disa meraih tangan Sigit lantas menyalami dan mengecupnya seperti seorang anak pada ayahnya.


“Maaf, karena disa dateng malam-malam. Disa bermaksud menyapa papah.”


Jantungnya berdebar kencang hanya karena menyebut kata itu berulang kali.


Terduduk di kursi samping tempat tidur Sigit, berusaha tersenyum walau rasa canggung itu sangat kuat. Membayangkan jika Sigit terbangun, nyalinya tidak akan sebesar ini. Tapi ia sudah berusaha untuk mendekat pada laki-laki yang mulai sekarang tidak bisa ia abaikan.


Sebesar Kean membenci Sigit, sebesar itu pula Disa berusaha agar ia tetap bisa bersikap netral di posisinya. Bukan tidak memahami rasa sakit Kean tapi ia tidak bisa membiarkan rasa benci di hati Kean bertambah. Maka perlahan, ia yang sedikit melemah.


“Gimana kabar papah hari ini?” Disa mengambil selembar tissue yang ia usapkan pelan ke dahi Sigit yang berkerut tegas dan di penuhi titik-titik keringat.


Di saat tertidur pun Sigit masih seperti berpikir. Entah apa yang ada di alam bawah sadarnya, apa tetap berpikir atau hanya tertidur lelap tanpa bermimpi sedikitpun.


“Pah, hari ini disa resmi menikah dengan aa. Disa harap, papah gak terlalu membenci disa karena menerima pinangan aa di saat seperti ini.”


“Disa juga berharap, papah segera bangun dan memberikan restu dan do’a papah untuk disa dan aa.” Disa kemudian menatap Sigit laman.


Selama Sigit dalam kondisi vegetative, memang tidak banyak orang yang masuk ke ruangan ini.


Kalau bukan karma, anggap saja ini tanam tuai. Dimana Sigit yang terbiasa mengabaikan orang-orang di sekitarnya dan menganggap dirinya paling penting, tidak membutuhkan siapapun, kali ini seperti semua berbalik padanya.


Setiap orang di rumah ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada komunikasi yang di bangun seperti yang di sarankan dokter tempo hari. Hanya sesekali Sigit di temani Marwan atau Kinar dan Arini atau perawat yang menjaganya, sisanya, ia sendirian.


Tanpa bermaksud mengabaikan, tapi laki-laki paruh baya ini memang terabaikan.


“Pah, di pesta tadi, beberapa orang menanyakan kabar papah. Mereka mendo’akan papah segera sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan kami.”


“Maaf kalau kedengerannya kami sedikit egois.”


“Tapi disa bisa melihat, mamah dan aa masih menyimpan kesedihan dan kecemasannya untuk papah."


"Mereka memperdulikan papah sehingga memilih merawat papah di rumah.”


“Mulai sekarang, disa pun akan belajar merawat papah. Melakukan yang terbaik yang disa bisa."


"Jadi, jangan merasa sendiri lagi.”


Disa berbicara sendiri dengan sedikit terbata-bata.


Dulu, waktunya sangat singkat untuk memanggil seseorang sebagai ayahnya. Kali ini ia seperti mendapat kesempatan kedua untuk merasakan kembali memanggil papah dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya.


“Papah istirahat lagi ya, maaf disa ganggu malam-malam. Selamat malam pah.”


Menarikkan selimut sedikit lebih tinggi hingga ke tengah dada Sigit. Ruangan ini cukup dingin dan mungkin selimut ini bisa membantu Sigit mengurangi rasa dinginnya.


Cukup bagi Disa untuk menemui Sigit saat ini. Rasa sesak di dadanya perlahan berkurang berganti kelegaan. Satu ketakutan telah ia lewati dan ia berani mendekat pada Sigit. Ini sebuah proses, dan ia akan menjalani proses berikutnya dengan lebih baik.


Kembali ke kamar Kean, ia mendapati suaminya telah tertidur pulas. Disa baru tahu kalau Kean suka tidur telungkup.


Menurut ahli spesialis tidur, jika seseorang tidur dengan posisi tengkurap berarti ia termasuk pribadi yang sedikit tertutup. Meskipun tidak baik untuk pernapasan, posisi tidur ini juga menggambarkan ia sebagai orang yang tabah.


Dengan tidur telungkup seseorang merasa tertutup dan terlindungi seperti kura-kura dengan tempurungnya.


Ya, seperti itulah Kean. Laki-laki yang tidak pandai mengungkapkan perasaannya terkecuali pada seseorang yang sudah sangat ia percaya.


Jadi ingat, waktu Kean begitu sulit mengungkapkan perasaannya pada Disa. Kebiasaannya yang curi-curi pandang namun seolah acuh. Memanipulasi rasa pedulinya dengan tingkah yang menyebalkan. Penuh kewaspadaan dan over protective saat merasa sesuatu miliknya diperhatikan orang lain.


Namun di balik itu, ia pribadi yang hangat. Ia gigih mengejar apa yang ingin ia dapatkan. Ia pun tabah dan kuat menerima semua yang terjadi padanya di masa lalu. Jika ada sisa luka, sikap tertutupnya ini yang ia gunakan untuk melindungi perasaannya. Orang-orang tidak akan percaya kalau laki-laki ini bisa bersikap sangat manis.


“Terima kasih a,” Ungkap Disa saat menatap wajah Kean yang sedikit menoleh ke arahnya.


“Makasih karena aa udah mau ngajak aku ke rumah ini.” mengusap helaian anak rambut di pelipis Kean.


“Lain kali, kita temui papah sama-sama. Mungkin awalnya akan sulit tapi, seperti aku, aa pun pasti bisa melewati batas sulit itu.”


Bukan hal mudah saat ia memutuskan untuk menghampiri Sigit. Namun, ia berfikir, saat ia menikah dengan Kean, maka bukan hanya Kean yang menjadi bagian hidupnya melainkan seluruh keluarganya. Maka ia harus melemah. Menurunkan egonya dan mengikis rasa sakit yang pernah ia rasakan, mengubahnya menjadi rasa kasih.


Sulit, tapi perlahan pasti bisa.


“Jangan terlalu marah sama papah. Saat ini ia sendirian, memerlukan aa dan memerlukan kita semua. Hem,” lirih Disa.


Entah Kean mendengarnya atau tidak, ia pun tidak yakin kalau ucapannya masuk ke otak Kean dan menyusup ke alam bawah sadarnya. Yang jelas, ia sedang berusaha. Katanya sebagian yang kita bicarakan dengan orang yang sedang tertidur pulas sekalipun, bisa di respon oleh otak.


Berharap saja semoga respon Kean baik terhadap pembicaraannya.


Puas berbicara dengan Kean, Disa ikut membaringkan tubuhnya di samping Kean. Setelah bertemu permukaan Kasur yang empuk, ia baru sadar kalau tubuhnya sangat Lelah. Tidur menyamping menghadap Kean lalu berdo’a tidak hanya untuknya tapi juga untuk Kean.


Di ujung senyumnya, Disa mulai memejamkan mata. Menenangkan setiap saraf di tubuhnya. Ya, saatnya istirahat. Selamat malam.


*****