
Nada tunggu telpon terus memanggil nomor yang sedari tadi Kean hubungi namun tidak juga di jawab. Ia mencoba menghubungi nomor lain, namun tidak aktif. Akhirnya Kean menghubungi seseorang yang pasti tidak akan menolak panggilannya.
Adalah Farid, asisten Marcel yang saat ini ia hubungi. Sulit sekali menghubungi sang paman yang sedang sangat ingin ia temui.
Mendekat pada musuh, mungkin ini yang sedang Kean lakukan. Lebih tepatnya usaha membujuk musuh. Rasanya sulit karena Marcel seperti sedang menghilang dari muka bumi dan tidak meninggalkan jejak.
“Selamat siang tuan muda.” Suara tegas itu langsung menyapa Kean dengan sopan.
“Siang. Farid, apa om marcel ada di tempat?”
“Oh tuan besar,” laki-laki itu memberi jeda pada kalimatnya seperti tengah mencari alasan.
“Farid, saya hanya ingin bertemu untuk masalah pribadi, bukan pekerjaan.” Kean menembakkan langsung tujuan pembicaraannya. Ia yakin kalau Farid berfikir Kean mencari pamannya untuk mempermasalahkan ketidakhadiran Marcel beberapa hari ini.
“Em, maaf tuan. Tuan besar kedua saat ini sedang berada di singapura. Beliau ada urusan di sana.” Akhirnya Farid terbuka., walau taku-takut.
Sebagai pucuk pimpinan di group perusahaan Hardjoyo, memberi ketakutan tersendiri pada Farid saat harus melaporkan keberadaan atasannya pada Kean.
“Kirimi saya alamatnya, sekarang.”
“Baik tuan.”
Kean langsung mengakhiri panggilannya. Ia menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa, tidak banyak hanya ada satu tas laptop yang ia isi dengan beberapa dokumen.
Keluar dari kamarnya, Ia mengambil sesuatu dari meja kerjanya. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Disa yang baru keluar dari kamarnya. Melihat Kean yang seperti mencari sesuatu, Disa ikut memperhatikan.
“Ada yang perlu saya bantu tuan?”
“Tidak ada sa,” sahutnya pendek.
Kean memberikan senyum tipisnya pada Disa namun gadis itu tidak berreaksi. Seperti ada banyak beban yang membuat air mukanya sulit menunjukkan keceriaan seperti biasanya.
“Baik, saya permisi.” Disa memilih pergi. Untuk saat ini ia sedang tidak ingin memikirkan hal yang membuat hatinya jadi bergejolak saat melihat Kean.
“Disa, tunggu.” Kean segera menahan tangan Disa yang membuat langkah gadis itu terhenti.
Disa menghela nafas dalam, berusaha mengusir pikiran kacau di kepalanya. Ia mengeset pikirannya dan membayangkan saat ini ia sedang bekerja dan harus melayani tuan mudanya dengan baik. Ia mencoba memasang senyum seperti biasanya walau ternyata malah terlihat seperti joker. Bibirnya tersenyum namun matanya tidak berbinar.
“Iya tuan.” Disa berbalik, berusaha terlihat baik-baik saja. Sebentar saja ia menahan perasaannya sebelum mendapat waktu yang cukup untuk menata hatinya.
Perasaan Kean tidak kalah kacau. Tidak hanya menyesal karena membuat gadisnya bingung tapi ada rasa takut yang belum selesai ia atasi. Ia takut jika ia tidak bisa menghadapi Sigit dan gagal melindungi Disa. Maka satu per satu cara ia lakukan, setahap demi setahap dengan tenang. Ia berusaha untuk tidak terpengaruh oleh keadaan seperti saat ia berbicara dengan Sigit dan Brata.
Harus ia akui, karena terlalu tergesa-gesa untuk menentang Sigit, ia malah gagal memberi pemahaman pada Brata hingga berujung perjodohan itu tetap berjalan, dengan atau tanpa persetujuan Kean.
Ya, itu kebodohannya dan membuat Kean harus memperbaiki semuanya dari awal. Maka kali ini, ia harus lebih hati-hati.
“Aku akan pergi sebentar. Tolong tetap di rumah bersama mamah. Setelah itu, kita akan bicara. Bisakah kamu menunggu?” Kean meraih tangan Disa yang coba ia genggam. Hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya Disa melepaskannya.
“Silakan, berhati-hatilah di jalan.” Suaranya di buat tenang meski tanpa memberi senyuman yang biasa ia tunjukkan pada Kean.
Kean terangguk paham. Ia bisa memahami seperti apa gemuruh di pikiran Disa. Sikap menghindarnya sangat wajar. Mungkin Ia pun perlu memberi Disa waktu sebelum ia mengajaknya untuk berbicara baik-baik.
“Aku pergi.” Di raihnya tangan Disa lantas ia mendaratkan sebuah kecupan di dahi Disa. Hanya beberapa detik saja sebelum pergi dari hadapan Disa tanpa menunggu respon apapun. Baginya, ia harus bergegas, menyelesaikan satu per satu masalahnya.
Di tempatnya, Disa hanya terpaku tanpa berkata apapun. Melihat Kean pergi dan memikirkan apa yang baru pria itu lakukan, tiba-tiba saja pertahanan yang ia buat beberapa saat lalu, runtuh begitu saja. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kesedihan di dadanya. Tidaak munafik, ia merasakan kekecewaan karena harus mendengar kabar seperti ini dari orang lain, bukan Kean sendiri. Jika Clara tidak datang dan mengatakan semuanya, mungkin ia hanya akan menjadi wanita bodoh yang berada di tengah-tengah sebuah hubungan yang tidak seharusnya ia masuki.
Disa menyesal namun Ia hanya bisa terisak seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Suaranya lirih, nyaris tidak terdengar. Hanya bahunya yang kemudian bergetar tanpa bisa ia kendalikan.
Ia sadar, kekecewaan ini adalah buah dari pengharapan yang tidak seharusnya. Ia sadar, semuanya yang terjadi saat ini adalah akibat dari ia melanggar batas yang ia buat sendiri. Satu hal yang ia tahu, perasaannya untuk Kean terlalu kuat untuk ia tolak. Tapi kenapa harus berujung sesakit ini?
Tangis Disa masih belum berhenti. Semakin kuat namun coba ia redam dengan mengigit bibirnya kelu. Untuk beberapa saat Disa hanya ingin seperti ini. Menumpahkan kesedihannya melalui air mata. Semoga setelah ini ia lebih bisa berfikir jernih.
****
Hampir 2 jam perjalanan Jakarta singapura terasa begitu panjang bagi Kean. Ia seperti menghabiskan setengah perjalanan umurnya hanya untuk bisa menemui Marcel.
Berbekal alamat yang dikirimkan Farid padanya, membawa Kean pada sebuah apartemen mewah di Avenue South Residence, Singapura. Hunian garis depan dekat Greater Southern Waterfront ini menjadi tempat yang di tinggali Marcel selama satu minggu terakhir.
Ia mendelegasikan semua urusan perusahaan pada asistennya Farid dan ia memilih untuk menenangkan dirinya di tempat ini. Ia bahkan menonaktifkan nomor ponselnya selama di Indonesia dan menggunakan nomor baru selama di singapura. Ia menghindari semua panggilan dan lebih memilih menepi dari kesibukannya di perusahaan.
Tiba di apartemen mewah tersebut, ternyata Marcel tidak di tempat. Menurut pengelola apartemen, Marcel pulang ke apartemen ini hanya pada dini hari dan pergi lagi tengah hari. Seperti itu kebiasaan yang ia lakukan sehari-harinya.
Rupanya, ia telah kembali pada kehidupannya selama menjadi model. Lebih dari 4 tahun ia meninggalkan kebiasaan itu, tepatnya saat ini mencoba peruntungan yang lebih baik untuk menghadapi Brata. Tapi kali ini, seperti tujuannya telah hilang. Tidak ada lagi usaha yang ia lakukan dan memilih kembali ke kehidupannya yang penuh dengan hingar bingar dunia malam.
Setelah setengah mati memaksa Farid hingga mengancamnya mengeluarkan laki-laki berkacamata itu, akhirnya Farid mau memberikan nomor hp Marcel. Sesekali ia memang perlu menunjukkan kekuasaannya untuk memaksa seseorang memberikan apa yang ia mau. Tepat seperti yang selalu Sigit lakukan untuk mengendalikannya.
Di studio itu Marcel melakukan lagi pekerjaan yang lama ia tinggalkan. Berpose di depan kamera dengan cahaya lampu sorot terang yang menerangi sosoknya yang tampan berbalut celana jeans dan kemeja polos yang sengaja tidak ia kancingkan, hingga mempertontonkan barisan otot perutnya yang seksi. Di sampingnya ada seorang gadis yang menyandarkan tubuhnya pada Marcel dan sama-sama berpose. Beberapa gambar di ambil, memamerkan kepiawaiannya berpose di depan kamera lengkap dengan ekpresinya yang mahal.
Inilah hidup Marcel yang sesuangguhnya. Hidup yang sempat ia tinggalkan demi menjadi laki-laki yang lebih layak untuk wanita yang ia cintai. Tapi kali ini ia kembali pada kehidupannya yang lama, kehidupan yang membuatnya merasa benar-benar hidup karena melakukan apa yang ia cintai tanpa sebuah paksaan.
Di tempatnya, Kean masih memandangi sang paman yang hanya terpaut usia beberapa tahun saja. Laki-laki itu terlihat begitu menikmati apa yang ia lakukan, tanpa merasa tertekan tanpa merasa terpaksa. Mungkin seperti ini harusnya ia menikmati hidup. Hanya saja, ia tidak memiliki keberanian yang sama besar seperti Marcel, hanya sekedar untuk meraih cinta-citanya.
“Okeeyy, thank you. It’s good enough.” Seru seorang laki-laki yang mengakhiri sesi pemotretan kali ini.
"Wow, cool!" Mereka bersorak seperti merayakan kesuksesan pekerjaan ini.
“Lo keren seperti biasanya, kita ketemu lagi lusa. Untuk pemotretan iklan salah satu brand papan seluncur. Jangan lupa.” Laki-laki yang sama menepuk bahu Marcel seperti mengingatkan.
Marcel memang masih bekerja tanpa manager. Ia mengurus semuanya sendiri. Ia belum mempercayai siapapun untuk mengurusi masalah pekerjaannya di dunia yang baru ia pijak lagi. Mungkin inilah yang membuat kehidupan di dunia modelingnya belum teratur.
“Ya, Palawan beach jam 3 sore.” Sahut Marcel dengan yakin.
Laki-laki itu pun berlalu setelah mengacungkan ibu jarinya pada Marcel. Terlihat jelas senyum Marcel yang terkembang, tidak terlihat tanda-tanda ia lelah setelah seharian bekerja.
“Ada apa kamu nyari saya? masalah perusahaan?”
Marcel langsung merubah ekspresi wajahnya saat menghampiri Kean. Ia sudah menduga, kalau suatu hari keponakannya akan bereaksi pada apa yang ia lakukan terhadap perusahaannya. Tapi ia tidak menyangka kalau Kean harus sampai datang sendiri hanya untuk menyeretnya kembali masuk ke perusahaan.
“Ada yang perlu kita bicarakan.” Sahut Kean tenang. Ia sudah mulai terbiasa melihat sikap pamannya yang tidak pernah bersahabat.
“Anggap saja saya cuti, paling tidak selama satu bulan kamu bisa mencari penganti saya untuk sementara.” Ujarnya santai. Ia meraih botol air minum di atas meja dan meneguknya hingga hampir tandas.
“Saya datang bukan untuk membahas masalah perusahaan.” Kalimat Kean terdengar tegas.
Marcel hanya melirik dan menuntaskan minumnya hingga tegukan terakhir.
“Lalu, apa yang membuat seorang pewaris keluarga hardjoyo sampai kemari untuk mencari hamba?” Marcel tersenyum sarkas. Kalimatnya jelas mengandung sindiran pedas untuk keponakannya.
Kean tidak menimpali, ia lebih memilih mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja.
Marcel memperhatikan apa yang di taruh keponakannya, surat-surat tentang perusahaan.
“Om bisa meneruskan perusahaan yang om mau, bahkan perusahaan induk asal kita sepakat satu hal.” Kean memulai negosiasinya. Ia tidak ingin lagi berbasa-basi atau tawar menawar hal yang tidak penting.
“WAW! Mimpi apa saya semalam sampai bisa melihat dokumen rahasia milik Hardjoyo group secara langsung?” matanya membulat seketika, seperti melihat harta karun yang selama ini ia gali dan tertumpuk tanah ratusan kilo.
Dokumen ini yang selalu ingin ia dapatkan dari kakaknya Sigit namun Sigit bersikeras untk menyembunyikannya.
“Om bisa memiliki semua ini, asalkan penuhi satu permintaan saya.” Kean menatap Marcel penuh keyakinan. Ia tahu benar keinginan pria di hadapannya.
“Sebuah penawaran. Baiklah, sepertinya ada hal mahal yang harus saya tebus?” ia tersenyum tipis melihat keseriusan Kean.
“Ya. Bantu saya untuk menghentikan perjodohan,”
“HAHAHAHAHA…” Marcel langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat keponakannya. “Apa saya tidak salah dengar? Hahahaha…” terlalu lucu pikir Marcel, permintaan yang di minta Kean. Hanya membatalkan sebuah perjodohan dan Kean berani membayar mahal untuk itu. Terlalu bodoh.
“Saya tidak sedang bercanda. Karena wanita yang akan dijodohkan dengan saya adalah Claire.” sambung Kean dengan mantap.
Dengan cepat air muka Marcel berubah. Menjadi dingin dan menarik jarak dari Kean.
“Saya minta bantuan om karena saya yakin om akan membantu saya. Om tidak akan membiarkan saya menikahi claire.” Kean menunjukkan keyakinannya kalau Marcel tidak akan mau membiarkan Clara menikah dengannya.
“Saya tidak tertarik.” Sahut Marcel dengan dingin.
Ia mendorong dokumen itu menjauh darinya, seolah memang tidak menginginkan penawaran Kean yang sangat menggiurkan.
“Tapi om,” Kean tidak menyangka kalau Marcel akan menolaknya.
Marcel beranjak dari tempatnya, membelakangi Kean dengan perasaan yang tidak menentu. Ada helaan nafas berat yang dihelanya dalam-dalam.
“Pergilah. Saya sudah tidak peduli pada pilihan clara ataupun brata.” Lirihnya. Ia berusaha terlihat acuh dan tenang di waktu bersamaan tapi dari caranya menghindar, berkebalikan dengan apa yang katakan.
Kean masih berusaha memahami, apa benar yang dikatakan Clara kalau hati Marcel telah beralih? Tapi mengapa tidak sekalipun ia melihat Marcel berusaha mendekati Disa?
Apa yang terjadi dengan laki-laki ini?
*******