Marry The Heir

Marry The Heir
Melewati malam penuh pertanyaan



Terbaring lemah di atas tempat tidur dengan mata yang sayu dan bengkak.


Semalaman Shafira tidak bisa tidur. Otaknya terus berputar memikirkan apa yang terjadi antara ia dengan Reza, membuatnya terus terjaga.


"Dek, kamu dimana?"


"De, kok gak jawab telpon aku?"


"Dek, minta waktunya bentar, kita perlu bicara." dan banyak pesan lainnya yang dikirimkan Reza semalam namun tidak satupun Shafira balas. Panggilan teleponpun ia abaikan begitu saja. Bagi Shafira, mengabaikan Reza adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini.


Semalam, setelah dari tempat Reza, ia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia meminta Malvin untuk membawanya pergi kemana pun asalkan bukan pulang. Ia masih ingin menenangkan dirinya dan menumpahkan semua kemarahannya. Terlebih ia belum siap jika harus pulang dan mendapat pertanyaan dari orang rumah saat melihat kondisinya.


Malvin membawanya ke sebuah taman dengan danau buatan di hadapan mereka. Shafira berdiri di tepian danau bersandar pada pagar pembatas. Pikirannya kosong dan ia masih menangisi apa yang terjadi padanya.


Satu per satu kenangan ia dan Reza selama 4 tahun berputar di kepalanya. Seperti kaset rusak yang tidak berhenti berputar. Bagaimana cara Reza memperlakukannya dengan manis, membuat Shafira merasa menjadi prioritas dan Reza yang selalu melindungi Shafira dari hal apapun, menempatkan Reza sebagai satu-satunya laki-laki yang mengisi memori di otaknya dengan hal indah.


“Dek, kamu harus selalu ada di dekat aku. Jangan jauh-jauh supaya aku bisa selalu memastikan kalau kamu baik-baik aja.” Ucap Reza suatu waktu.


Semuanya benar-benar terjadi. Selama 4 tahun, Reza menjaganya dengan baik tanpa merasa kekurangan satu apapun. Reza bisa menjadi seorang kakak, seorang teman cerita yang asyik, pasangan duet yang menyenangkan dan sobat becanda receh yang membuat Shafira tidak pernah merasa kesepian.


Selama di Inggris, Shafira merasa kalau semua yang Reza lakukan adalah hal yang biasa tidak berarti apapun. Tapi saat mereka pulang dan Reza mempertemukannya dengan Ellen, perlahan kenangan manis itu menjadi hal yang menakutkan. Takut jika semua yang ia lewati mulai tidak berarti apa-apa padahal ia masih sangat ingin Reza ada di sampingnya.


Bodoh, harusnya saat Reza mengatakan kalau ia akan menjadi kakak yang baik untuknya, perasaan dan pikiran Shafira hanya sebatas itu saja tanpa perlu ada perasaan lain. Namun Reza terlalu membuatnya nyaman hingga saat Reza menjauh, rasa kehilangan itu benar-benar terasa.


Membayangkan Reza Bersama Ellen, bersatu dalam perasaan yang di sebut cinta, membuat hati Shafira hancur. Benarkah perhatian Reza selama ini hanya sebatas perhatian seorang kakak? Kenapa terlalu terasa istimewa untuk di anggap bukan sesuatu yang lebih?


“Fir,” suara Malvin membuyarkan lamunan Shafira tentang Reza. Air mata yang membasahi wajahnya itu ia usap dengan lengannya.


“Minum dulu.” Menyodorkan sebotol air mineral pada Shafira.


“Thanks vin,” memalukan rasanya terlihat hancur seperti ini di hadapan Malvin.


Malvin hanya terangguk, memandangi kilauan riak air danau yang tenang saat terkena cahaya lampu. Ia ikut meneguk minuman di tangannya, perasaannya pun perlu di tenangkan.


“Lo mau duduk di sana?” tawar Malvin pada undakan anak tangga yang tidak jauh dari mereka.


“Hem.” Shafira terangguk setuju. Membiarkan Malvin berjalan lebih dulu dan ia mengikutinya.


Mereka terduduk di anak tangga dengan pemandangan air danau yang tenang namun menghanyutkan. Di balik matanya yang sembab, tatapan Shafira terlihat kosong. Rasanya hati Malvin ikut mencelos. Terasa benar rasa kecewa yang Shafira rasakan.


“Lo belum makan, makan dulu.” Ia memberikan sebungkus roti isi selai blueberry pada Shafira. Seingat Malvin ini selai kesukaan Shafira.


“Thanks vin. Sorry, gue udah bikin lo juga kelaperan.” Mengambil roti yang di berikan Malvin dan berusaha membuka plastiknya.


“Gue, bantu.” Ujar Malvin saat melihat tangan Shafira yang luka dan gemetar, kesulitan membuka plastik roti.


“Gue payah ya vin?” tanya Shafira saat Malvin memberikan kembali rotinya.


“Nggak juga. Tangan lo lagi luka, wajar tenaga lo berkurang karena fokus energi lo sekarang ke luka itu.” Sahut Malvin.


Ia menggigit roti miliknya lebih dulu sementara Shafira masih memandangi roti di tangannya. Satu gigitan kecil ia ambil dan kembali ia tersedu. Malvin yang duduk di sampingnya memberikan selembar tissue yang ia beli di minimarket lantas menepuk-nepuk punggung Shafira dengan pelan.


Ia tidak menoleh sedikitpun, membiarkan Shafira dengan tangisnya tanpa perlu merasa di kasihani.


Sambil berurai air mata Shafira memakan rotinya. Sesekali ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya tapi seperti air mata itu belum mau berhenti menetes. Malvin tidak beranjak sedikitpun, setia menemani Shafira hingga perasaannya membaik.


Suapan terakhir di kunyah Shafira. Perlahan air matanya berhenti menetes. Makan sambil menangis itu tidak menyenangkan tapi mengisi perut saat sedih itu cukup membantu.


“Makasih vin, lo gak ninggalin gue.” Lirih Shafira pada akhirnya. Ia memandangi Malvin yang kini menyandarkan tubuh dengan badan tertopang tangan yang ia taruh di anak tangga yang lebih tinggi.


“Gue udah janji sama bokap lo kalo gue bakal jaga lo malam ini.” Timpal Malvin enteng. Meneguk kembali minumnya untuk meloloskan roti di tenggorokannya agar masuk ke dalam perut.


Setelah cukup mengisi perutnya, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong keresek di dekatnya.


“Tangan lo,” ia mengulurkan tangannya meminta tangan Shafira yang terluka.


Shafira memberikan tangannya pada Malvin, menepatkan tangannya di atas telapak tangan Malvin yang lebih lebar.


“Gue baik-baik aja.” Tegasnya saat Malvin memperhatikan luka merah yang mulai memiliki gelembung air. Pasti terasa panas dan perih.


“Perasaan lo mungkin udah baik-baik aja, tapi luka ini perlu di obati biar gak infeksi.” Malvin bersikeras.


Ia mengambil cairan Nacl yang ia taruh di kasa lalu ia kompreskan pada luka Shafira beberapa saat. Shafira sedikit menarik tangannya saat rasa dingin cairan itu membuat lukanya terasa perih. Malvin berusaha menahan tangan Shafira dan melanjutkan merawat luka Shafira.


Setelah mengompres luka beberapa saat, ia membubuhkan salep anti biotik luka bakar. Shafira meringis kesakitan. Malvin menoleh sebentar, memperhatikan wajah Shafira yang meringis sebelum kembali fokus pada lukanya.


“Gue perban dulu takutnya kulit yang ngegelembungnya pecah. Tapi di rumah lo buka perbannya supaya cepet kering.” Terang Malvin yang mulai membalut luka Shafira dengan kasa tipis.


Shafira yang memperhatikan Malvin dari tempatnya. “Sorry, udah bikin lo repot. Gue tau, gue kacau banget.” Lirih Shafira dengan penuh sesal.


“Tapi perasaan lo udah lebih baik kan?” tanya Malvin yang selesai mengobati tangan Shafira dan menaruhnya dengan hati-hati di atas paha Shafira.


“Hem, jauh lebih baik.” Shafira memperhatikan tangannya yang sudah di perban dengan rapi oleh Malvin.


Keduanya kembali terdiam, memandangi langit malam yang hanya di hiasi beberapa bintang saja.


“Gue memalukan ya vin?” tanya Shafira tanpa menoleh pada Malvin. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menatap Malvin yang mencemaskannya.


“Tidak ada yang memalukan dari sebuah pengakuan akan perasaan kita. Ya paling tidak, lo bukan pengecut.” Hibur Malvin.


Shafira jadi tersenyum mendengar jawaban Malvin. “Lo pernah mengakui perasaan suka sama seseorang gak vin?” iseng Shafira bertanya. Selama ini tidak pernah terdengar kalau Malvin mendekati seorang wanita apalagi curhat tentang seorang gadis.


“Saat ini lo yang lebih butuh di dengarkan, bukan gue.” Cara menghindar yang apik dilakukan Malvin.


“Lo licik. Lo tau banyak hal tentang gue, tapi gue gak tau apapun tentang lo.” Shafira bercedik sebal, membuat Malvin menolehnya lantas tersenyum.


“Gak ada yang menarik tentang gue.” Jawab Malvin singkat.


“Pertanyaan gue apa lo pernah suka sama seseorang atau nggak, bukan menarik atau tidaknya cerita lo.” Protes Shafira.


Lagi Malvin hanya tersenyum, Shafira memang selalu menjadi lawan debat yang sulit dikalahkan.


“Gue gak seberani lo, mengakui perasaan gue.” Kali ini Malvin menoleh Shafira, meneguk minumannya di hadapan Shafira, seolah rasa hausnya tiba-tiba hadir saat melihat sepasang mata merah dan sembab yang menatapnya penuh tanya.


“Secret admirer, lo gak cocok untuk itu. Lo jujur pun gue yakin gak bakal di tolak apalagi kecewa kayak gue. Setiap cewek yang dapet perhatian lo, pasti jadi cewek yang paling beruntung.” Tebak Shafira.


“Hahahaha.. sok tau!” Malvin hanya tertawa samar. Ia beranjak dari tempatnya dan berdiri sambil bersidekap. “Hal itu gak berlaku kalau cewek itu gak punya perasaan sama gue atau dia lebih dulu suka sama orang lain.” Imbuh Malvin dengan pandangan lurus ke depan sana. Entah titik mana yang di perhatikannya.


“Gue kenal sama cewek itu?” Selidik Shafira.


Malvin hanya mengedikan bahunya. Sekalinya ia menoleh, “Udah terlalu malem, kita pulang.” Ajaknya.


Ia berjalan lebih dulu di hadapan Shafira menuju motornya. Shafira hanya tercenung, benarkah ada wanita bodoh yang menolak Malvin?


“Dek… Ini teteh. Boleh teteh masuk?” suara ketukan dipintu di susul oleh suara Disa.


Mata sayu itu mengerjap dan lamunan tentang Malvinpun hilang. “Masuk teh.” Suara Shafira terdengar serak. Ia beranjak dari tempat tidurnya, memilih duduk bersandar sambil memeluk bantal.


Tidak lama pintu kamar terbuka. Adalah Disa yang tersenyum menyapanya dengan wajah cemas yang tidak bisa di sembunyikan.


“Boleh teteh buka gordennya? Langit hari ini cerah banget.” Kamar Shafira yang gelap dan hanya di terangi lampu tidur di sudut kamarnya membuat kamar luas ini terasa pengap. Penuh aura kesedihan dan kesepian.


“Hem.” Sahutnya, lemah.


Disa membuka satu per satu gorden kamar Shafira. Membuka jendela lebar-lebar agar udara segar masuk ke kamarnya. Matahari sudah cukup tinggi dan menerangi kamar Shafira membuat gadis cantik itu memincingkan matanya saat cahaya matahari terasa menyilaukannya.


“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Disa, seraya mendekat menghampiri sang adik. Wajahnya  yang pucat dengan kedua mata sembab.


Ia menggeleng. “Aku terluka teh.” Ia menujukkan tangannya yang di perban pada Disa dengan bibir yang menipis bergetar menahan tangis. Entah mengapa, walau ia sudah merasa cukup kuat tapi saat ada seseorang yang bertanya kabarnya, kesedihan itu kembali datang.


“Ssttt... It’s okey.” Disa merangkul sang adik dan memeluknya dengan erat. Shafira tidak lagi terisak karena tenaganya sudah habis terkuras semalam. Kali ini hanya air matanya yang menetes.


Disa tahu, sakit di tangan shafira mungkin tidak seberapa, tapi rasa remuk di dadanya cukup membuatnya hancur.


“Aku udah bikin kesalahan besar teh, aku udah ngerusak semuanya. Harusnya aku gak ngelakuin hal bodoh karena perasaan yang tidak seharusnya aku rasain.” Suara Shafira tersengau-sengau, tertahan.


“Harusnya aku lebih bisa menahan diri. Tidak perlu membuat masalah dengan mengatakan semuanya di hadapan orang lain.” Imbuhnya, yang menyembunyikan wajahnya di dada Disa. Apa yang ia katakan semalam menjadi penyesalan tersendiri bagi Shafira. Dan hanya pada Disa ia berani mengakuinya.


Disa mengusap punggung Shafira dengan lembut. Saat ini Shafira hanya butuh di dengarkan dan di temani agar tidak merasa sendiri.


“Aku bodoh, karena mengartikan perhatian kak reza sebagai sesuatu yang istimewa. Padahal sejak dulu, aku hanya seorang adik buat dia.” lanjutnya.


Mengulang salah satu pesan yang di kirim Reza, penegasan kalau Shafira akan selalu menjadi adiknya dan ia akan selalu menyayanginya.


Entah ia harus sedih atau senang dengan pesan-pesan penuh perhatian yang masih di kirim Reza. Yang jelas, Ia sangat malu dengan kesalahpahaman ini. Mungkin ini alasan Reza pagi ini datang untuk menemuinya dan ia menolaknya. Hingga akhirnya Reza memilih menemui Kean dan Disa.


“Fir,” lirih Disa. ia sedikit merenggangkan pelukannya lantas menatap Shafira yang tertunduk lesu. Di tangkupnya satu sisi wajah Shafira yang kemudian ia usap dengan lembut.


“Boleh teteh bicara?” berusaha menatap mata Shafira yang merah dan berair. Gadis itu terangguk pelan. Di tatapnya wajah Disa yang tersenyum, berusaha menguatkannya.


“Setiap orang bisa tersentuh oleh sebuah perhatian yang diberikan orang lain dan itu tidak salah. Kalaupun perhatian itu membuat kamu merasa nyaman dan merasa di pedulikan oleh orang tersebut, hingga kamu merasa telah jatuh cinta pada semua yang dia berikan, itu hal yang sangat wajar. Kita tidak pernah bisa mengatur hati kita jatuh cinta pada siapa dan dengan cara yang seperti apa.”


“Hanya saja, tidak semua hal yang kita berikan pada orang lain, wajib berbalas dengan hal yang sama. Terlebih itu rasa cinta.”


Shafira mulai mengangkat wajahnya, menatap sendu netra bening milik sang kakak.


“Kenapa perasaan ini harus ada sekarang teh? Di saat aku justru berharap kak reza bahagia dengan wanita yang dia cintai. Kenapa aku harus ada di antara mereka?” Shafira meremas tangan Disa, seperti butuh pegangan untuk mengusir kagalauannya.


“Mungkin karena kamu baru sadar kalau selama ini kamu sangat nyaman dengan dia. Saat kalian berjarak, kamu baru sadar kalau ada yang kurang. Kebiasaan ada seseorang di dekat kamu. Kebiasaan di perhatikan. Kebiasaan di temani dan kebiasaan di jadikan prioritas.”


Shafira tercenung. Benar yang Disa katakan, keberadaan Reza seperti menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Reza memberikan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun.


“Aku harus gimana sekarang teh? Aku gak mau ngerasain perasaan kayak gini. Aku seperti baru kehilangan sesuatu dan aku ingin kembali merebutnya. Tapi di sisi lain, aku gak mau nyakitin siapapun. Aku gak mau menjadi seseorang yang hadir bukan di tempat yang seharusnya.”


“Aku gak mau jadi bayang-bayang dalam hubungan kak reza sama kak ellen. Aku gak mau di anggap jahat kayak mamih. Tapi aku gak bisa menahan perasaan ini. Dada aku kayak mau pecah saat mengingat cara kak reza natap kak ellen penuh perasaan, tatapan yang aku harap itu tertuju buat aku.” Shafira kembali terisak. Buliran air mata berjatuhan di telapak tangannya yang terbungkus perban.


Melihat apa yang terjadi pada dirinya, ia seperti melihat apa yang dialami Liana dulu. Harapan yang besar untuk berada di dekat orang yang ia cinta namun di waktu yang bersamaan, keberadaannya tidak seharusnya ada. Dan ini sangat menyulitkannya.


“Fir,” Disa mengeratkan genggamannya pada tangan Shafira satunya.


“Kamu tidak perlu melawan perasaan itu. Keinginan kamu untuk tidak masuk ke dalam hubungan kak reza dan kak ellen, adalah alasan kuat untuk kamu tidak semakin jatuh terpuruk.”


“Kamu hanya perlu waktu untuk terbiasa. Seperti halnya kamu terbiasa dengan keberadaan kak reza selama 4 tahun ini, kamu pun bisa memberi hati kamu waktu untuk terbiasa tanpa kak reza. Aku tau itu sulit tapi meneruskan perasaan yang tidak seharusnya, hanya akan membuat kamu tambah sakit. Aku yakin, kamu akan lebih bahagia setelah kamu bisa berdamai dengan perasaan kamu sendiri dan melepaskan kebiasaan itu. Hem?” tandas Disa.


Shafira hanya tertunduk lesu. Hatinya masih sangat bergejolak. Pikirannya masih sangat dipenuhi dengan semua ingatan tentang semua perhatian Reza. Tapi Disa benar, meneruskan perasaan yang tidak seharusnya hanya akan membuat ia semakin sakit.


“Apa aku bisa teh?” lirih Shafira seraya mengusap air matanya dengan kasar.


“Bisa. Kamu seorang gadis yang memiliki hati yang luas. Teteh sangat yakin kalau kamu pasti bisa terbiasa dengan keadaan yang baru. Tanpa perhatian reza sekaligus tanpa merasa bersalah pada wanita lain.” Tegas Disa menyemangati.


Perlahan Shafira terangguk pelan. Terlalu fokus pada perasaannya terhadap Reza, membuat Shafira lupa kalau ia punya seorang kakak yang bisa ia ajak bicara. Di peluknya Disa dengan erat, sungguh ia sangat bersyukur karena Disa selalu ada di saat ia membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.


“Makasih teh.” Lirihnya kemudian.


“Sama-sama. Keep strong aunty fila...” tepukan semangat di punggung Shafira seperti suntikan energi baru yang Disa berikan pada sang adik.


Gadis itu terangguk, lantas melepaskan pelukannya. Setelah berbicara dengan Disa, perasaannya jauh lebih lega.


“Ngomong-ngomong, siapa nih yang pasang perban manis gini? Di bikin simpul pita segala.” Disa mengalihkan perhatiannya pada perban yang membungkus tangan Shafira.


“Malvin,” lirih Shafira yang ikut memandangi perban di tangannya.


“Wah, dia pinter juga bikin simpul gini.” Goda Disa.


“Aku juga gak nyangka manusia kaku kayak malvin bisa bikin simpul seperti ini.” Shafira tersenyum tipis mengingat bagaimana Malvin merawat lukanya semalam.


Disa ikut tersenyum. Sepertinya, sedikit demi sedikit ia bisa mengalihkan pikiran Shafira. Berdo’a saja semoga adiknya ini bisa segera beranjak dari rasa sakitnya.


*****